Asal Mula nama "Indonesia"

2 views
Skip to first unread message

joehanes

unread,
Sep 21, 2007, 11:55:47 PM9/21/07
to National Integration Movement
Dari Milis Sahabat Museum

Asal Mula nama "Indonesia"
PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama.

Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai *Nan-hai*
(Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai
kepulauan ini *
Dwipantara* (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata
Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang).

Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan
pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke
*Suwarnadwipa* (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di
Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita *Jaza'ir al-Jawi* (Kepulauan
Jawa). Nama
Latin untuk kemenyan adalah *benzoe*, berasal dari bahasa Arab *luban
jawi*(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyandari
batang pohon *S
tyrax sumatrana* yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra.

Sampai hari ini jemaah **** kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh
orang
Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. "Samathrah,
Sholibis,
Sundah, kulluh
Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)" kata seorang pedagang
di
Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa
yang
pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari
Arab,
Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas
antara
Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan
mereka
sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia
Belakang".
Sedangkan tanah air kita memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (*Indische
Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien*) atau "Hindia Timur"
*(Oost
Indie, East Indies, Indes Orientales)* . Nama lain yang juga dipakai
adalah
"Kepulauan Melayu" (*Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel
Malais*).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang
digunakan adalah *Nederlandsch- Indie* (Hindia Belanda), sedangkan
pemerintah
pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah *To-Indo* (Hindia Timur).
Eduard
Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli,
pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan
tanah air
kita, yaitu *Insulinde*, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa
Latin
*insula* berarti pulau). Tetapi rupanya nama *Insulinde* ini kurang
populer.
Bagi orang Bandung, *Insulinde* mungkin cuma dikenal sebagai nama toko
buku
yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950),
yang
kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik
Multatuli),
memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung
unsur
kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang
telah
tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari
Pararaton,
naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad
ke-19
lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas
Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan
Setiabudi jauh
berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa
Majapahit
Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara
dalam
bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari
*Jawadwipa*( Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa
dari
Gajah Mada, *"Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" *(Jika
telah
kalah
pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).

Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi
jahiliyah
itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu
asli
antara,
maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua
benua
dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara
yang
modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi
populer
penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan
wilayah
tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa
dan
negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana
gerangan
nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan,
*Journal
of the Indian Archipelago and Eastern Asia* (JIAEA), yang dikelola
oleh
James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih
sarjana
hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang
ahli
etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865),
menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel
*On
the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-
Polynesian
Nations*. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba
saatnya bagi
penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama
khas (*a
distinctive name*), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu
dengan
penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama:
*Indunesia*atau
*Malayunesia* (*nesos* dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada
halaman 71
artikelnya itu tertulis: *... the inhabitants of the Indian
Archipelago or
Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or
Malayunesians.
*

Earl sendiri menyatakan memilih nama *Malayunesia* (Kepulauan Melayu)
daripada *Indunesia* (Kepulauan Hindia), sebab *Malayunesia* sangat
tepat
untuk ras Melayu, sedangkan *Indunesia* bisa juga digunakan untuk
Ceylon
(Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah
bahasa
Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl
memang
menggunakan istilah *Malayunesia* dan tidak memakai istilah
*Indunesia*.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson
Logan
menulis artikel *The Ethnology of the Indian Archipelago. * Pada awal
tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan
tanah
air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan
membingungkan.
Logan memungut nama *Indunesia* yang dibuang Earl, dan huruf u
digantinya
dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah
Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak
pada
halaman 254 dalam tulisan Logan: *Mr. Earl suggests the ethnographical
term
Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the
purely
geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the
Indian Islands or the Indian Archipelago. *

Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari
bahwa di
kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah
penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia"
dalam
tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini
menyebar di
kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884
guru
besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian
(1826-1905)
menerbitkan buku *Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel*
sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika
mengembara ke
tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang
memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga
sempat timbul
anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang
tidak
benar itu, antara lain tercantum dalam *Encyclopedie van
Nederlandsch- Indie*tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah
"Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia"
adalah
Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri
Belanda
tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama
*Indonesische
Pers-bureau. *

Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah
dalam
etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan
kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya
memiliki
makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan
kemerdekaan!
Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap
pemakaian
kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa
*Handels
Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar
dan
mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan
nama
*Indische Vereeniging* ) berubah nama menjadi *Indonesische
Vereeniging*
atau
Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama
menjadi
Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang
akan
datang (*de toekomstige vrije Indonesische staat*) mustahil disebut
"Hindia
Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan
dengan India yang asli.

Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (*een
politiek
doel*), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di
masa
depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (*Indonesier* )
akan
berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. "

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan *Indonesische Studie
Club*pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia
berganti
nama
menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 *Jong
Islamieten Bond* membentuk kepanduan *Nationaal Indonesische
Padvinderij*
(Natipij) . Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula
menggunakan
nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama
tanah
air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia
tanggal
28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota *Volksraad* (Dewan Rakyat;
DPR
zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan
Sutardjo
Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama
"Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch- Indie".
Tetapi
Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke
tangan
Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda"
untuk
selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat
Allah
Yang Maha Kuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Salam,
~Vie

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages