Pada hari ini sekitar pukul 13.00 teman2 dari Aliansi Kebebasan Beragama, yang terdiri dari ICRP, NIM, Wahid Institue dan sekitar 50 oraganisasi lainnya, berkumpul di belakang stasiun gambir dekat pintu masuk Monas. Kami yang berjumlah sekitar 100 orang mulai berjalan memasuki Monas – dari arah gerbang Gambir, untuk berkumpul dalam rangka aksi damai / apel akbar memperingati hari lahirnya Pancasila. Tidak sampai 5 menit setelah kami berkumpul, kami langsung diserang oleh massa FPI yang jumlahnya ratusan orang, menggunakan batu, bambu dan pentungan. Perlu diketahui bahwa batu yang digunakan bukan batu-batu kecil yang terdapat di sekitar Monas, tetapi batu-batu besar yang jelas-jelas telah dipersiapkan sebelumnya, demikian pula dengan senjata-senjata lainnya. Aksi kekerasan ini benar-benar dilakukan secara membabi buta, mereka tidak segan-segan menyerang perempuan, orang tua, bahkan ada beberapa anak kecil yang dipukuli dan sengaja dibenturkan ke tembok. Kami semua dari aliansi tidak memberikan perlawanan apapun, namun mereka tetap menyerang. Akhirnya ada beberapa polisi yang datang membantu kami, tetapi korban terlanjur terjadi. Beberapa teman dari aliansi mengalami luka sobek di kepala dan memar-memar yang cukup parah, antara lain Joehanes (sekretaris NIM), Imdad (sekretaris ICRP), Nino (humas NIM), dll. Melalui aksi kekerasan ini, FPI jelas telah membuktikan jati dirinya. Mereka benar-benar telah mempermalukan nama Islam, mereka sama sekali tidak berhak mengaku mewakili Islam.
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.24.4/1476 - Release Date: 5/31/2008 12:25 PM
Memilukan hati karena kekerasan terjadi tepat pada peringatan hari
lahirnya Pancasila 1 Juni dan di jantung kota Jakarta -- ibukota negara,
Monumen Nasional. Seakan-akan datang peringatan bahwa setiap sila
Pancasila dapat dilanggar oleh sekelompok orang dengan kekerasan. Dan,
tampaknya aparat negara, yakni kepolisian diwakili Kapolres Metro
Jakarta Pusat Kombes Pol Heru Winarko, tidak berdaya di hadapan massa
yang melakukan aksi kekerasan dengan pertimbangan tidak mau memperkeruh
suasana. (DetikNews 1 Juni 2008)
Padahal korban yang berjatuhan, bukan saja, orang-orang muda, tapi juga
perempuan dan orang-orang tua. Begitu juga Direktur Eksekutif
International Centre for Islam and Pluralism (ICIP) Syafii Anwar,
Direktur Eksekutif Wahid Institute Ahmad Suaedy, Kyai Maman Imanulhaq
(Pesantren Al-Nizan, Jatiwaringin), ataupun wartawan.
Memang selama ini adalah kesalahan kita karena diam seribu bahasa ketika
sesama kita dizalimi, dan disakiti. Dan peristiwa hari ini adalah
secercik bagi rasa dari penderitaan semua korban tindak kekerasan atas
nama agama di Indonesia. Semoga peristiwa ini dapat membuka mata hati
kita bahwa tidak enak diperlakukan tidak adil dan tidak layak sebagai
seorang warga negara Indonesia.
Semoga juga peristiwa ini dapat membuka aparat negara bahwa juridiksi
ketertiban dan keamanan tidak lagi berada di tangan mereka, tapi di
tangan sekelompok orang yang merasa berhak untuk melakukan tindak
kekerasan kepada orang lain tanpa harus menjalani hukuman dari negara
demi pertimbangan tertentu
Semoga pemerintah Indonesia, terutama Presiden dan Wapres terbuka
matanya bahwa ternyata ada lho sekelompok masyarakat yang tidak membalas
kekerasan dengan kekerasan, dan itu bisa lho terjadi di Indonesia.
Indonesia Jaya
joehanes