Bondan
unread,Nov 7, 2012, 11:16:58 PM11/7/12Sign in to reply to author
Sign in to forward
You do not have permission to delete messages in this group
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to Mutiara Milis
Lebih baik mana Sufi melarat atau kaya raya? - Hikayat Ibrahim ibn Adham
Begini ceritanya...
Alkisah pada abad ke 8 ada pertemuan 2 orang sufi besar. Yang pertama adalah Ibrahim bin Adham (718-782M) dan muridnya Syaqiq Al-Balkh (?-810M). 2 orang sufi ini sangat berbeda dalam menempuh jalan sufi nya. Ibrahim bin Adham meninggalkan semua pernak-pernik dunia dan memilih, menyendiri di hutan dan berkelana dari suatu tempat ke tempat yang lain. Hidupnya sangat-sangat miskin.
Syaqiq Al-Balkh kebalikannya, Ia begitu sangat kaya raya. Kudanya adalah kuda terbaik, setiap ia pergi kantongnya selalu penuh dengan emas.
Dan merekapun bertemu. Ibrahim bin Adham berucap kepada Syaqiq Al Balkh. “Hai Hamba dunia, yang selalu membawa dunia kemanapun engkau pergi!”
Syaqiq kemudian tersenyum. Ia sama sama sekali tidak tersinggung. Lalu merekapun di suatu kesempatan saling berdialog.
“Wahai guru, ceritakanlah sesuatu yang membuatmu besar dan mulia seperti sekarang ini” Tanya Syaqiq.
“Dahulu , aku adalah penguasa yang kaya raya, lalu saat kami pergi berburu, seseorang dari tentaraku berhasil memanah seekor burung. Sehingga patah kedua sayapnya.., lalu aku mendekati burung yang terkapar dan berkata ‘ “Wahai burung yang malang, rupanya ajalmu sudah dekat, kau tak lagi bisa terbang dan mencari makan” ‘
Kemudian, disaat aku mulai meninggalkan burung kecil itu, datanglah burung yang besar. Ia mencengkram burung kecil itu, lalu membawanya ke sebuah danau. Kuamati setiap gerak geriknya. Tidak berhenti sampai disitu, datang lagi burung besar yang membawakan ulat dan serangga sehingga burung kecil ini bisa makan. Perlahan burung kecil ini mulai kuat dan dapat kembali lagi terbang!
Dari sini aku belajar bahwa bila Allah tidak menakdirkan burung itu mati kelaparan, maka burung kecil itu tidak akan mati karena Allah menjamin rizkinya. Apalagi manusia yang diberi akal untuk selalu menyembah-Nya. Pastilah akan memberiku rezeki dimanapun aku berada.
Setelah itu kuputuskan untuk meninggalkan seluruh kekuasaan dan harta-bendaku, kutinggalkan pula keluargaku untuk sepenuhnya mengabdi kepada-Nya. Berkeliling dan beribadah dari satu tempat ke tempat yang lain”.
Sambil manggut-manggut. Syaqiq Al-Balkh lalu bertanya kepada gurunya “Wahai gurunda, mengapa Anda memilih untuk menjadi burung yang lemah dan menunggu untuk disuapi? Mengapa tidak menjadi burung besar yang melindungi dan merawat burung yang kecil?”
Tersentak dengan perkataan muridnya, Ia baru menyadari bahwa jalan sufinya selama ini salah. Ia pun bekerja kembali, bercocok tanam dengan murid-muridnya dan kemudian membagi-bagikannya hingga ke Syiria.
Kawan, bagaimanapun tangan diatas itu jauh lebih baik, Jika kita melihat sahabat-sahabat Nabi SAW, Utsman bin Affan, Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf, semuanya kaya raya dan mereka menafkahkan hartanya di Jalan Allah.
Ust. Sumardi lalu menambahkan. “Miskin itu dosa! Karena kita tidak memaksimalkan potensi yang ada pada kita. Tidak menyukuri nikmat akal, fisik, mental yang telah diberikan Allah. Kita memilih untuk miskin!”
So, mudah-mudahan kita tidak terjebak dalam egoisme spiritual .. Seperti doanya Abu bakar As-Shiddiq “Ya Allah jadikanlah dunia di tanganku tapi tidak di hatiku” Milikilah harta sebanyak mungkin, gunakan di jalan-Nya akan tetapi jangan engkau terlalu mencintainya sehingga mengundang murka dari-Nya.
Wassalamualaikum.
Diedit edit tanpa mengubah arti dari tulisan Astu Anindya Jati / @astu_MD.
(disarikan dari program syiar pagi ELVICTOR FM Surabaya oleh Ust. Sumardi Erlambang Rahimahullah)
________________________________________
Sent biidznillah with love by BndanBerry.