Memahami Ilmu Kedokteran Islam

25 views
Skip to first unread message

f...@pediatrik.com

unread,
Dec 7, 2011, 2:32:33 AM12/7/11
to Mutiara, anna...@yahoo.com
Semoga bisa menjadi acuan di tengah maraknya pengobatan tradisional
"kedokteran Islam".
==============================================

MEMAHAMI ILMU KEDOKTERAN ISLAM, Panduan untuk Dokter dan Pemerhati
Thibbun Nabawi

9 January 2011 at 08:20

Di masa Rasulullah hidup, di abad ke 6 Masehi, jelas sekali pengobatan
dengan cara ilmiah belum berkembang. Ilmu kedokteran klinis dan
preventif-rehabilitatif belum ada. Keberadaan berbagai mikro-organisme
seperti virus, bakteri, jamur yang menyebabkan berbagai macam penyakit
infeksi belum diketahui, begitu pula cara penanganan sistematik
terhadap penyakit infeksi yang disebabkannya. Antibiotika yang memiliki
spesifisitas dan sensitivitas untuk melawan infeksi belum difahami.
Jangankan untuk pemahaman sistem imunitas tubuh, bahkan sistem
pencernaan, sistem pernapasan, sistem peredaran darah yang merupakan
komponen besar dalam tubuh manusia saja belumlah dikenal dengan baik.
Umat manusia di masa itu bekerja mengatasi gangguan penyakit hanya
dengan cara ’tradisional setempat’, mengikuti nasehat orang tua, yang
kadang memang juga memberi hasil walau tanpa memahami ’mode of action’
atau mekanisme proses penyembuhannya. Mekanisme kerja pengobatan yang
umumnya dipakai adalah bahwa ”penyakit itu karena adanya gangguan
makhluk halus yang harus diusir dengan jampi-jampi dan ramuan khusus”.
Tentunya simplifikasi dan generalisasi penyakit seperti itu tidak lagi
layak untuk masa kini. Proses pemeriksaan yang sistematis, mulai dengan
anamnesa, pemeriksaan fisik, laboratoris, penegakan diagnosis setelah
mengkaji alternatif, melakukan prognosis, pengobatan dini dan tepat
dosis, tindak lanjut, serta rehabilitasi belumlah berkembang. Begitu
pula tindakan preventif termasuk vaksinasi, menjaga agar tidak terkena
penularan penyakit lewat air atau udara (food & air borne), juga teori
lingkungan yang baik untuk bisa hidup sehat jelas belum ada. Apalagi
teori tentang enzym, hormon, antioksidan, neurotransmiter, dan
semacamnya.
Prinsip dasar kesehatan manusia yang ada di masa kini seperti diuraikan
di atas tentu harus dipelajari melalui proses kajian ilmu kedokteran
yang memakan waktu lama oleh para ahlinya. Tidak semua orang begitu saja
langsung bisa mengerti seluk beluk keterkaitan kompleks interaksi
kesehatan manusia yang seperti itu. Orang tidak boleh semena-mena
mengklaim bisa menyembuhkan orang sakit oleh dasar perkiraan belaka.
Jangan hanya atas dasar kira-kira, didukung oleh motif iktikad baik,
lalu mengobati orang sakit dengan caranya sendiri, termasuk menggunakan
obat atau ramuan yang belum jelas diketahui efek samping jangka pendek
dan jangka panjangnya yang bisa membahayakan kesehatan orang.
Tentunya prinsip-prinsip dasar ilmu kedokteran yang kompleks harusnya
memang menjadi kewajiban manusia dan umat Islam untuk mengembangkannya
dari kurun waktu ke waktu. Tidaklah logis untuk berharap bahwa semua
rahasia-rahasia ilmu kedokteran harus diwahyukan oleh Allah SWT kepada
RasulNya dan menjadi bagian isi al Qur’an padahal Allah SWT telah
memberi keunggulan komponen biologis pada manusia berupa otak yang luar
biasa, indera yang bagus, dan fisik jasmani prima agar dipakai menggali
sendiri rahasia ilmu kedokteran. (Lihat artikel berjudul: ”When
Scientific Findings….”). Dengan pertimbangan itu semua lalu apakah cara
pengobatan di masa Nabi harus diikuti sedemikian kakunya oleh umat masa
kini dengan meninggalkan upaya pengobatan berdasar perkembangan ilmu
kedokteran yang juga merupakan sunnatullah tentang kesehatan? Tentu
tidak begitulah logikanya. Lalu bagaimana prinsip syariat terkait dengan
kewajiban umat Islam agar mengembangkan ilmu Kedokteran dan melakukan
upaya penyembuhan penyakit sesuai pemahaman terhadap sunnatullah
kesehatan melalui kajiannya itu? Mana batas-batas manusia boleh dan bisa
mengembangkan dunia kedokteran, mana yang terlarang agar manusia tidak
terjebak menghancurkan diri mereka sendiri? Di sinilah memang letak
hakekat Ilmu Kedokteran Islam itu!
Suatu ketika Nabi berada di kebun kurma dan menyaksikan petani kurma
menyerbukkan bunga korma jantan ke bunga betinanya. Nabi (mungkin juga
sambil lalu) menanyakan mengapa harus diserbukkan. Petani menangkapnya
sebagai perintah seorang Nabi bahwa tidak perlu menyerbukkan bunga
korma. Berita tersebut juga lalu tersebar dengan cepat ke para petani
lain. Apa yang kemudian terjadi? Panen korma gagal total dan mereka
mengalami paceklik pangan. Mereka lalu menghadap Nabi dan mengeluhkan
hal tersebut. Apa jawab Nabi? Jawaban beliau tentang masalah ini lalu
menjadi hadits yang amat terkenal, yakni: ”ANTUM A’LAMU BI ’UMURI AD
DUNYAAKUM” yang artinya KALIAN LEBIH MENGETAHUI AKAN URUSAN KEDUNIAAN
KALIAN. Setelah itu maka para petani korma kembali menyerbukkan lagi
bunga kormanya, melakukan berbagai teknologi pertanian dan panen pun
kembali melimpah.
Dalam masalah kesehatan Rasulullah pernah menemui kasus seorang sahabat
yang mengalami luka berdarah yang hebat, beliau menanya ke sekitarnya
siapa yang bisa menangani kasus seperti itu, maka majulah dua sahabat
yang akhirnya menangani si sakit. Dari riwayat-riwayat seperti itu jelas
bahwa Rasulullah tidaklah bisa disebut sebagai ’Dokter’ di zamannya yang
cara pengobatan beliau lakukan harus ditiru begitu saja oleh umat dengan
alasan ’mengikuti contoh Rasul’. Untuk ukuran cara pengobatan masa itu
memang banyak diriwiyatkan bahwa Rasulullah pernah menggunakan susu
onta, jintan hitam, minyak zaitun, dan madu sebagai bahan obat, namun
jelas ajaran Islam tidak memerintahkan semua penyakit harus diobati
hanya dengan pilihan-pilihan itu. Bahan-bahan di atas bisa saja memang
memberi manfaat, namun umat Islam masih harus mendalami kemanfaatan
bahan tersebut sesuai prosedur pengujian menurut ilmu-teknologi
Kedokteran terkini, termasuk bagaimana mekanisme kerja bahan tersebut
serta komponen apa dari bahan yang memberi dampak pada kesehatan. Al
Qur’an juga tegas menyatakan bahwa manusia wajib menyerahkan pemecahan
sesuatu masalah itu pada ahlinya, yang tentunya jika terkait bidang
pengobatan adalah kepada para dokter, bukan ’dukun’ atau semacamnya.
Dokter muslim juga tidak boleh meninggalkan cara pengobatan yang
diajarkan Nabi jika masalahnya sudah menyangkut masalah di luar wilayah
ilmu pengetahuan empiris, seperti misalnya doa-doa kesehatan yang
diajarkan Nabi. Namun kaum muslimin juga tidak selayaknya menganggap
bahwa semua penyakit cukup diatasi dengan doa saja karena hal itu tentu
tidak sesuai dengan sunnatullah pengobatan menurut ajaran Islam. Doa
yang berlebihan pun (’keluar dari tuntunan doa Nabi’) juga malah bisa
termasuk dalam kelompok Bid’ah Dhalalah yang diancam siksa neraka karena
sudah mengada-ada dalam masalah ritual.
Di samping prinsip yang dikemukakan di atas para dokter Muslim juga
tidak boleh mengabaikan prinsip syariat Islam lain yang terkait proses
pengobatan, seperti: prinsip mahram, aurat, dan bahan obat yang
diharamkan oleh Allah swt. Adapun terhadap bahan obat-obatan
tradisional, kaum muslimin khususnya dokter dan farmasis (apoteker)
muslim harusnya terus mengembangkan kajian akan substansi bahan obat
tradisional dari dunia manapun, termasuk dari Timur Tengah dan Indonesia
demi memperkaya kemampuan dunia pelayanan kesehatan dan pengembangan
ilmu pengetahuan-teknologi kedokteran. Dokter muslim juga wajib terus
menggunakan prinsip pengetahuan ilmu Kedokteran secara memadai dalam
upaya mengobati orang sakit. Dokter muslim tidak boleh gegabah menangani
penyakit yang dia tidak tahu mekanisme kedokterannya dan juga tidak
boleh spekulatif dalam menggunakan obat-obatan tanpa tahu dosis takaran
yang benar dan efek samping jangka panjang yang akan merugikan pasien.
Pada sisi lain, ada catatan pula bagi para pemberi pelayanan kesehatan
yang BUKAN TENAGA MEDIS, yakni mereka perlu memperhatikan bahwa
mengobati orang sakit itu tidak boleh hanya berbekal niat baik saja
karena jika penanganannya bertentangan dengan ’sunnatullah kedokteran’
tentu akan memberi efek buruk pada orang yang semula akan ditolongnya.
Efek samping obat, apapun bentuk obat itu, apa obat tradisional ataupun
obat kimiawi modern, bisa terjadi dalam jangka pendek (seketika atau
dekat setelah obat dikonsumsi) atau jangka panjang (lama setelah
konsumsi dilakukan). Dokter pun umumnya akan amat waspada terhadap obat
yang diberikan pada pasiennya agar tidak malah memberi beban kesehatan
baru pada orang yang akan ditolongnya karena hadirnya efek samping itu.
Demikian pula harusnya bagi para pemberi pelayanan pengobatan yang bukan
dokter, termasuk mereka yang berupaya meniru cara di masa nabi dalam
mengobati orang. Apakah yakin bahwa susu onta, korma, jintan hitam,
madu, dan semacamnya pasti tidak bisa memberi efek samping? Dari sisi
ilmu kedokteran tidak mustahil bahan-bahan itupun bisa menimbulkan efek
samping. Dalam bidang imunologi misalnya, semua jenis bahan yang
mengandung protein, apalagi yang rantai molekulnya panjang, potensial
memberi efek reaksi alergi jika dikonsumsi berulang. Datangnya efek
alergi bisa pada pemaparan yang baru beberapa kali saja atau bisa datang
efek itu setelah paparan amat sering atau berkali-kali. Jika Nasi
sebagai bahan makanan pokok sehari-hari penduduk Indonesia misalnya bisa
memberi efek alergi pada orang tertentu, maka tidak mustahil bagi korma
atau madu atau sejenisnya bisa pula memberi efek alergi pada penduduk
yang menggunakannya sebagai bahan makanan sehari-hari. Apakah fakta
sunnatullah seperti itu harus dinafikan?
Dalam ajaran Islam ada larangan untuk melakukan suatu perbuatan
tertentu yang manusia bisa mengetahui atau tidak mengetahui hikmah di
dalamnya. Konsumsi babi, bangkai, darah jelas dilarang sebagai bahan
untuk dikonsumsi termasuk sebagai obat sekalipun. Minuman yang bisa
memabukkan juga terlarang sebagai bahan obat minum walau porsinya hanya
sedikit sekali. Merubah pemberian Allah dalam bentuk bangunan tubuh yang
bukan karena tujuan rekonstruksi pasca trauma juga terlarang, seperti
operasi plastik yang bersifat kosmetika seperti mengganti alis, bulu
mata, warna kulit, memancungkan hidung, memperlebar mata, dan
semacamnya.
Manusia masa kini memang sudah banyak yang terjebak melakukan hal-hal
hanya dengan pertimbangan untuk tujuan kepentingan keduniaan belaka dan
melupakan dimensi agama dalam menjalani hidupnya di dunia fana yang
tidak seberapa lamanya itu. Bayi tabung yang menggunakan sperma bukan
dari sperma suami juga terlarang karena setiap keturunan harus melalui
proses pernikahan yang menjadi kewajiban dalam prinsip Islam, bukan
melalui proses perzinahan atau yang kini dilunakkan atau dilembutkan
sebagai perselingkuhan. Pengguguran kehamilan tanpa indikasi
penyelamatan nyawa ibu juga terlarang karena merupakan pembunuhan janin
yang oleh Allah telah diberi ketentuan rentang hidup di dunia, begitu
pula upaya euthanasia, ’membantu menuju proses kematian’ pada penderita
penyakit khronis yang sulit disembuhkan. Banyak hal-hal lagi dalam dunia
kedokteran yang tidak boleh melanggar prinsip tuntunan Islam dalam
bidang pelayanan kesehatan dan inilah yang membedakan Ilmu Kedokteran
Islam dengan Ilmu Kedokteran Sekuler dan Ilmu Kedokteran Tradisional
Kuno.
Media masa harusnya mendukung upaya sosialisasi pengembangan dan
praktek Ilmu Kedokteran Islam seperti yang diuraikan di atas, bukan
malah mensosialisasikan berbagai tayangan pengobatan alternatif yang
landasan ilmu kedokterannya tidak jelas, begitu pula landasan kaedah
syariat Islamnya. Tayangan seperti itu tentu tidak mendidik rakyat
khususnya umat Islam tentang makna dan praktek beragama Islam yang
benar sehingga tentu kontra produktif bagi kemajuan umat dan bangsa
Indonesia. Bukankah media masa berkewajiban membawa misi kebenaran dalam
setiap pemberitaan dan penayangan programnya?

Indonesia, awal Januari 2011
Fuad Amsyari

irwant...@gmail.com

unread,
Dec 11, 2011, 12:35:34 AM12/11/11
to mut...@googlegroups.com
Tks Gus Fay, masih jd pertanyaan saya, mengapa masalah ini akhir2 terjadi?
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "MUTIARA" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke mut...@googlegroups.com
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
mutiara-u...@googlegroups.com
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/mutiara?hl=id

drnurr...@gmail.com

unread,
Dec 11, 2011, 6:06:15 AM12/11/11
to mut...@googlegroups.com
Very inspiring..bagus dok..matur nuwun..

Di kalangan masyarakat beberapa mengklaim terapi ttt lebih " syar ' I " daripada pengobatan modern..


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: f...@pediatrik.com
Sender: mut...@googlegroups.com
Date: Wed, 07 Dec 2011 14:32:33
To: Mutiara<mut...@googlegroups.com>
Reply-To: mut...@googlegroups.com
Cc: <anna...@yahoo.com>
Subject: [MUTIARA] Memahami Ilmu Kedokteran Islam

Bambang Permono

unread,
Dec 11, 2011, 8:27:36 AM12/11/11
to mut...@googlegroups.com
Sejawat semua marilah kita menjalankan profesi kita secara seimbang dan mulailah berfikir holistic,insyaAllah masyarakat puas dengan pelayanan kita.bp.
Prof. Bambang Permono
Sent from my BlackBerry®

-----Original Message-----
From: f...@pediatrik.com
Sender: mut...@googlegroups.com
Date: Wed, 07 Dec 2011 14:32:33
To: Mutiara<mut...@googlegroups.com>
Reply-To: mut...@googlegroups.com
Cc: <anna...@yahoo.com>
Subject: [MUTIARA] Memahami Ilmu Kedokteran Islam

Bu Fat

unread,
Dec 11, 2011, 10:36:53 AM12/11/11
to mut...@googlegroups.com
Ya Prof InsyaAllah kt anggota IDAI jtm dapat melaksanAkan spt apa yg dinasehatkan Prof Bambang. Amin
dr. Fatiamah Indarso

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages