Perjalanan

13 views
Skip to first unread message

Ismoedijanto

unread,
Aug 25, 2011, 6:45:49 AM8/25/11
to mut...@googlegroups.com
Pada saat kita lahir, mulailah kita menjalani kehidupan. Perjalanan ini satu arah, tidak mungkin kembali, tidak mungkin kembali muda. Arah perjalanan juga hanya ke Gusti Allah semata. Kecuali kalau kita minta nyleot ke arah lain. Teman perjalanan kita adalah amal kita yg mewujud. Kalau amal buruk ya teman kita sangar2 dan bau bacin, kalau amal baik ya teman nya penuh senyum dan bau wangi. Karena itu kerjakanlah semuanya dengan tulus agar jalan kita terang dan teman nya semuanya ok. Selamat mudik, semoga semuanya lancar......
Ismoedijanto

Teddy

unread,
Aug 25, 2011, 11:22:22 AM8/25/11
to Mutiara Email
"Urip kuwi namung mampir ngombe tok"
Prof. Teddy Ontoseno
+62-818-322-205

Sent from my BlackBerry® smartphone
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "MUTIARA" Google
Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke mut...@googlegroups.com
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke
mutiara-u...@googlegroups.com
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.co.id/group/mutiara?hl=id

gemb...@yahoo.com

unread,
Aug 26, 2011, 7:49:11 PM8/26/11
to mut...@googlegroups.com
(‎​آمِّي) amien ....

-----Original Message-----
From: "Ismoedijanto" <is...@indosat.net.id>
Sender: mut...@googlegroups.com
Date: Thu, 25 Aug 2011 10:45:49
To: <mut...@googlegroups.com>
Reply-To: mut...@googlegroups.com
Subject: [MUTIARA] Perjalanan

Bondan

unread,
Aug 26, 2011, 8:32:16 PM8/26/11
to mut...@googlegroups.com
Mudik..? Pada saatnya tidak bisa dimajukan dan tidak pula diundurkan.
Semoga kita semua khusnul khatimah pada saatnya!
Terimakasih pencerahannya Prof. Ismoe.

Sent biidznillah by BondanBerry with love.

image.jpeg

Ismoedijanto

unread,
Aug 27, 2011, 5:06:27 PM8/27/11
to mut...@googlegroups.com
Ya mas Bondan. Semoga selalu dalam keadaan chusnul khotimah. Namun bukan berarti perjalanan telah berhenti. Hanya ganti propinsi-ganti pulau-ganti benua.
Ismoedijanto

-----Original Message-----
From: "Ismoedijanto" <is...@indosat.net.id>
Sender: mut...@googlegroups.com
Date: Thu, 25 Aug 2011 10:45:49
To: <mut...@googlegroups.com>
Reply-To: mut...@googlegroups.com
Subject: [MUTIARA] Perjalanan

Bondan Satria

unread,
Oct 22, 2011, 5:40:47 PM10/22/11
to mutiara, Wita Saraswati, Sri Widiastuti, Siti Farida Almansur, Taatputra, Imam Susilo, Munir Rulanam, Annang Girimoelyo, Anang Widianto, Emma Nur Rochmah
Antara Penghambaan dan Pemujaan





Oleh cinta, yang pahit jadi manis semua
Oleh cinta, tembaga menjelma emas-permata
Oleh cinta, endapan apa saja jadi anggur semata
Oleh cinta, yang mati jadi bernyawa
Oleh cinta, raja pun jadi hamba
(Rumi dalam Matsnawi)


Dan tak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.” Dalam ayat  Al-Quran di atas, dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa bentuk hubungan antara manusia dan Dia adalah hubung­an ’ibadah, yakni penghambaan manusia terhadap Tuhan. Sepintas, memang hubungan manusia dan Tuhan sudah selayaknya dikuasai oleh ketakutan budak terhadap kekuasaan mutlak Tuannya. Tapi, jika sampai di sini penafsiran kita, bagaimana menjelaskan ayat-ayat dalam Al-Quran yang di dalamnya Allah sendiri mengungkapkan bentuk hubungan antara manusia dan Tuhan yang didasarkan pada cinta (hubb atau mahabbah)? Lihatlah, misalnya Al-Quran, surat Al-Baqarah, ayat 216:

”Adapun orang-orang yang beriman itu sangat dalam kecintaannya kepada Allah.”
Dan bukankah orang tidak bisa segera mengidentikkan ketakutan dan cinta?

Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini, mari kita mulai dengan mengutip ucapan-populer Imam ’Ali bin Abi Thalib ini :

”Ada orang yang beribadah kepada Allah karena takut neraka-Nya. Inilah ibadahnya seorang hamba (budak). Ada pula yang beribadah kepada-Nya karena mengharapkan surga-Nya. Inilah ibadah seorang pedagang. Tapi (yang terbaik) adalah orang yang beribadah kepada Allah karena cintanya kepada Allah.”
Tampak dari ucapan Imam ’Ali ini bahwa ibadah – meski arti-langsungnya memang adalah penghambaan – memi­liki­ beberapa makna. Ia tak mesti identik dengan ketakutan, tak juga sekadar perdagangan serba rasional belaka. Ibadah, dalam manifestasi-puncaknya, justru diidentikkan dengan cinta. Nah, bagaimana penjelasannya?

Kata ’abd dalam bahasa Arab memang memiliki berbagai makna yang, meski tak pelak memiliki kaitan, tak selalu sama. Yang paling umum tentu ”budak” atau ”hamba-sahaya”. Juga  ”penyembah”. Sebagai ilustrasi, kalimat syahadat yang menjadi pernyataan keimanan setiap orang muslim, yakni :

La ilaha illa ‘l-Lah (Tiada ilah selain Allah), biasa difahami sebagai :

Laa ma’buda illam ‘l-Laah (Tiada sesembahan kecuali Allah).

Makna lain dari kata ’abd adalah  ”pemuja Merujuk padanan bahasa-Inggrisnya, yakni to worship, kiranya juga membantu memahami makna ini dengan­ lebih baik, mengingat kata ini dapat diterjemahkan baik sebagai menyembah maupun memuja. Bahkan juga mengidolakan, menjadikan idola. (Ingat juga bahwa kata ”idola” berasal dari kata idol, yang bermakna sesuatu yang disembah, berhala). Nah, selain bermakna ”penyembah” dan ”pemuja”, kata ’ibadah memiliki juga makna pen­cinta. Itu sebabnya, kata ber-gender feminin dari ma’bud – yakni ma’budah – berarti perempuan yang dipuja atau dicinta.

Tampak dari berbagai makna di atas, bahwa ibadah – yang memiliki akar kata yang sama dengan ’abd – dapat diartikan sebagai pemujaan berdasar cinta.

Kiranya pemberian arti ini mudah diterima mengingat kenyataan bahwa orang yang mencinta begitu butuh kepada­ orang yang dicintainya sehingga ia siap melakukan apa saja yang menyenangkan orang yang dicintainya. Persis sebagaimana sikap seorang budak kepada tuannya, seperti penyembah kepada yang disembahnya. Orang yang mencinta memang, praktis, menyembah (menghamba) kepada orang yang dicintainya.

Kesimpulannya, mengingat  Al-Quran menggunakan kedua-dua bentuk hubung­an manusia dan Tuhan, yakni hubungan penyembahan atau penghambaan dan hubungan berdasar cinta, maka tak ada kemungkinan lain kecuali kita harus memahami istilah penghambaan sebagai kecintaan yang mendorong orang yang mencinta untuk melakukan apa saja yang dapat menyenangkan atau menimbulkan kerelaan (keridhaan) yang dicintainya.

Menarik dan mencerahkan sekali, dalam konteks ini, untuk membaca penjelasan Imam al-Qusyairi dalamRisalah-nya – salah satu kitab rujukan paling penting dan paling awal dalam sejarah tasawuf – mengenai persoalan ibadah dan hubungannya dengan cinta dan pemujaan. Dalam kitabnya itu, Imam al-Qusyairi membedakan antara ’ibadah (penyembahan), ’ubudiyah (penghambaan), dan ’ubudah (pemujaan) – meski ketiganya berasal dari akar kata yang sama, a-b-d’Ubudiyah, menurut al-Qusyairi lebih tinggi dari ’ibadah, dan ’ubudah lebih tinggi dari ’ubudiyah’Ibadah adalah praktik orang awam, ’ubudiyahadalah praktik orang khusus (khawwash), dan ’ubudah adalah praktik elit (khawwash al-khawwash). Dia juga berkata ’ibadah adalah bagi orang yang memiliki ’ilmul yaqin (keyakinan ber­dasar pengetahuan),’ubudiyah adalah bagi yang memiliki ’aynul yaqin (keyakin­an berdasar penglihatan langsung), dan’ubudah adalah bagi yang memiliki haqqul yaqin(keyakinan sejati). Dalam penjelasanyang selanjutnya, dia menyebut ’ubudah sebagai hasil penyaksian Allah oleh manusia yang telah mencapai maqam(tataran) tertinggi.

Di bagian lain dalam buku yang sama, Imam al-Qusyairi mengutip sebuah hadist – yang memang populer dalam khazanah tasawuf – yang menunjukkan bahwa puncak ibadah adalah cinta Allah:

”Seorang hamba mendekat kepadaku dengan menyelenggarakan ibadah-ibadah yang Aku wajibkan atasnya. Kemudian ia terus mendekat kepadaku dengan (menambah ibadahnya) dengan berbagai amalan sunnah, hingga Aku Mencintainya...”

Akhirnya, kembali kepada penafsiran ’ibadah sebagai pemujaan penuh cinta, kiranya hal ini sejalan belaka dengan kenyataan bahwa Allah Swt. adalah Zat yang sifat-sifat keindaha-Nya (jamaliyah) – yang menimbulkan kecintaan makhluk-Nya – mendominasi sifat-sifat kedahsyatan-Nya (jalaliyah) –yang menimbulkan ketakutan makhluk kepada-Nya. (Lihat artikel kedua penulis dalam rubrik ini juga, ”Islam Agama Cinta”, Madina, no. 1, Januari 2008). Inilah dua aspek dari satu zat Tuhan yang sama, sebagaimana ”penyembahan” dan ”pemujaan” mewa­kili dua bentuk hubungan Tuhan-manusia. ”Penyembahan” berkorespondensi denga­n sifat jalaliyah Tuhan, sementara ”pemujaan” dengan sifatjamaliyah-nya.

Dan, bukannya bertentangan, ketakutan baru bermakna jika ia dilandasi cinta. Kata Sang Maulana, yang mengaku men­cintai kedua-duanya, kedahsyatan sesung­guhnya adalah bagian keindahan, ketakut­an sejatinya bagian dari kecintaan:

Ketika (cinta) si pembawa air
Berteriak dengan suara guntur
Gurun pun dipenuhi tetumbuhan segera

(Rumi dalam Diwan) *

DITULIS OLEH HAIDAR BAGIR   
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 4, Tahun 1, April 2008)

Sent bi'idznillah by BondanBerry with love.

Bu Fat

unread,
Oct 22, 2011, 8:08:02 PM10/22/11
to mut...@googlegroups.com
Wah mas Bondan,ati ini jadi adem.memang cinta pada Allah harus diatas segalanya,yang ada didalam hati hanyalah *Allah semata.Suami ato istri dan keluarga cukup dipinggir hati saja.Bukan berarti kita tdk cinta keluarga,tapi kita harus pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya.

dr. Fatiamah Indarso

Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Bondan Satria <bondan...@ymail.com>
Date: Sun, 23 Oct 2011 04:40:47 +0700
Cc: Wita Saraswati<wita_...@yahoo.com>; Sri Widiastuti<widias...@yahoo.com>; Siti Farida Almansur<farid...@yahoo.co.id>; Taatputra<taat...@yahoo.com>; Imam Susilo<imam9...@gmail.com>; Munir Rulanam<mus...@yahoo.com>; Annang Girimoelyo<anna...@yahoo.com>; Anang Widianto<anang_w...@yahoo.com>; Emma Nur Rochmah<drnurr...@gmail.com>
Subject: [MUTIARA] Antara Penghambaan dan Pemujaan

--

renn...@yahoo.co.id

unread,
Oct 22, 2011, 10:13:23 PM10/22/11
to mut...@googlegroups.com
Alhamdulillah, siiip mas Bondan, terimakasih banyak untuk artikel pencerahannya.
Salam: renny-bangun.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


From: "Bu Fat" <fat...@curvelife.com>
Date: Sun, 23 Oct 2011 00:08:02 +0000
Subject: Re: [MUTIARA] Antara Penghambaan dan Pemujaan
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages