Oleh cinta, yang pahit jadi manis semua Oleh cinta, tembaga menjelma
emas-permata Oleh cinta, endapan apa saja jadi anggur semata Oleh cinta, yang mati jadi bernyawa Oleh cinta, raja pun jadi hamba (Rumi dalam Matsnawi) Dan tak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.” Dalam ayat Al-Quran di atas, dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa bentuk hubungan antara manusia dan Dia adalah hubungan ’ibadah, yakni penghambaan manusia terhadap Tuhan. Sepintas, memang hubungan manusia dan Tuhan sudah selayaknya dikuasai oleh ketakutan budak terhadap kekuasaan mutlak Tuannya. Tapi, jika sampai di sini penafsiran kita, bagaimana menjelaskan ayat-ayat dalam Al-Quran yang di dalamnya Allah sendiri mengungkapkan bentuk hubungan antara manusia dan Tuhan yang didasarkan pada cinta (hubb atau mahabbah)? Lihatlah, misalnya Al-Quran, surat Al-Baqarah, ayat 216:
”Adapun orang-orang yang beriman itu sangat dalam kecintaannya kepada Allah.” Dan bukankah orang tidak bisa segera mengidentikkan ketakutan dan cinta? Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini, mari kita mulai dengan mengutip ucapan-populer Imam ’Ali bin Abi Thalib ini : ”Ada orang yang beribadah kepada Allah karena takut neraka-Nya. Inilah ibadahnya seorang hamba (budak). Ada pula yang beribadah kepada-Nya karena mengharapkan surga-Nya. Inilah ibadah seorang pedagang. Tapi (yang terbaik) adalah orang yang beribadah kepada Allah karena cintanya kepada Allah.” Tampak dari ucapan Imam ’Ali ini bahwa ibadah – meski arti-langsungnya memang adalah penghambaan – memiliki beberapa makna. Ia tak mesti identik dengan ketakutan, tak juga sekadar perdagangan serba rasional belaka. Ibadah, dalam
manifestasi-puncaknya, justru diidentikkan dengan cinta. Nah, bagaimana penjelasannya? Kata ’abd dalam bahasa Arab memang memiliki berbagai makna yang, meski tak pelak memiliki kaitan, tak selalu sama. Yang paling umum tentu ”budak” atau ”hamba-sahaya”. Juga ”penyembah”. Sebagai ilustrasi, kalimat syahadat yang menjadi pernyataan keimanan setiap orang muslim, yakni : La ilaha illa ‘l-Lah (Tiada ilah selain Allah), biasa difahami sebagai : Laa ma’buda illam ‘l-Laah (Tiada sesembahan kecuali Allah). Makna lain dari kata ’abd adalah ”pemuja Merujuk padanan bahasa-Inggrisnya, yakni to worship, kiranya juga membantu memahami makna
ini dengan lebih baik, mengingat kata ini dapat diterjemahkan baik sebagai menyembah maupun memuja. Bahkan juga mengidolakan, menjadikan idola. (Ingat juga bahwa kata ”idola” berasal dari kata idol, yang bermakna sesuatu yang disembah, berhala). Nah, selain bermakna ”penyembah” dan ”pemuja”, kata ’ibadah memiliki juga makna pencinta. Itu sebabnya, kata ber-gender feminin dari ma’bud – yakni ma’budah – berarti perempuan yang dipuja atau dicinta. Tampak dari berbagai makna di atas, bahwa ibadah – yang memiliki akar kata yang sama dengan ’abd – dapat diartikan sebagai pemujaan berdasar cinta. Kiranya pemberian arti ini mudah diterima mengingat kenyataan bahwa orang yang mencinta begitu butuh kepada orang yang
dicintainya sehingga ia siap melakukan apa saja yang menyenangkan orang yang dicintainya. Persis sebagaimana sikap seorang budak kepada tuannya, seperti penyembah kepada yang disembahnya. Orang yang mencinta memang, praktis, menyembah (menghamba) kepada orang yang dicintainya. Kesimpulannya, mengingat Al-Quran menggunakan kedua-dua bentuk hubungan manusia dan Tuhan, yakni hubungan penyembahan atau penghambaan dan hubungan berdasar cinta, maka tak ada kemungkinan lain kecuali kita harus memahami istilah penghambaan sebagai kecintaan yang mendorong orang yang mencinta untuk melakukan apa saja yang dapat menyenangkan atau menimbulkan kerelaan (keridhaan) yang dicintainya. Menarik dan mencerahkan sekali, dalam konteks ini, untuk membaca penjelasan Imam al-Qusyairi dalamRisalah-nya – salah satu kitab rujukan paling penting dan paling
awal dalam sejarah tasawuf – mengenai persoalan ibadah dan hubungannya dengan cinta dan pemujaan. Dalam kitabnya itu, Imam al-Qusyairi membedakan antara ’ibadah (penyembahan), ’ubudiyah (penghambaan), dan ’ubudah (pemujaan) – meski ketiganya berasal dari akar kata yang sama, a-b-d. ’Ubudiyah, menurut al-Qusyairi lebih tinggi dari ’ibadah, dan ’ubudah lebih tinggi dari ’ubudiyah. ’Ibadah adalah praktik orang awam, ’ubudiyahadalah praktik orang khusus (khawwash), dan ’ubudah adalah praktik elit (khawwash al-khawwash). Dia juga berkata ’ibadah adalah bagi orang yang memiliki ’ilmul yaqin (keyakinan berdasar pengetahuan),’ubudiyah adalah bagi yang memiliki ’aynul yaqin (keyakinan berdasar penglihatan
langsung), dan’ubudah adalah bagi yang memiliki haqqul yaqin(keyakinan sejati). Dalam penjelasanyang selanjutnya, dia menyebut ’ubudah sebagai hasil penyaksian Allah oleh manusia yang telah mencapai maqam(tataran) tertinggi. Di bagian lain dalam buku yang sama, Imam al-Qusyairi mengutip sebuah hadist – yang memang populer dalam khazanah tasawuf – yang menunjukkan bahwa puncak ibadah adalah cinta Allah: ”Seorang hamba mendekat kepadaku dengan menyelenggarakan ibadah-ibadah yang Aku wajibkan atasnya. Kemudian ia terus mendekat kepadaku dengan (menambah ibadahnya) dengan berbagai amalan sunnah, hingga Aku Mencintainya...” Akhirnya, kembali kepada penafsiran ’ibadah sebagai pemujaan penuh cinta, kiranya
hal ini sejalan belaka dengan kenyataan bahwa Allah Swt. adalah Zat yang sifat-sifat keindaha-Nya (jamaliyah) – yang menimbulkan kecintaan makhluk-Nya – mendominasi sifat-sifat kedahsyatan-Nya (jalaliyah) –yang menimbulkan ketakutan makhluk kepada-Nya. (Lihat artikel kedua penulis dalam rubrik ini juga, ”Islam Agama Cinta”, Madina, no. 1, Januari 2008). Inilah dua aspek dari satu zat Tuhan yang sama, sebagaimana ”penyembahan” dan ”pemujaan” mewakili dua bentuk hubungan Tuhan-manusia. ”Penyembahan” berkorespondensi dengan sifat jalaliyah Tuhan, sementara ”pemujaan” dengan sifatjamaliyah-nya. Dan, bukannya bertentangan, ketakutan baru bermakna jika ia dilandasi cinta. Kata Sang Maulana, yang mengaku mencintai kedua-duanya, kedahsyatan sesungguhnya adalah bagian keindahan, ketakutan sejatinya bagian dari kecintaan:
Ketika
(cinta) si pembawa air Berteriak dengan suara guntur Gurun pun dipenuhi tetumbuhan segera (Rumi dalam Diwan) * |