"It would be a blessing if each person could be blind and deaf for a
few days during his grown-up live. It would make them see and appreciate
their ability to experience the joy of sound"
Inilah kalimat yang pernah diucapkan Helen Keller, seseorang yang
menderita buta-tuli semenjak umur 19 bulan, diduga akibat meningitis
atau demam scarlet.
Namun siapa sangka, dengan segala kekurangannya, dia memiliki semangat
hidup yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang legendaris.
Dengan segala keterbatasannya, ia mampu memberikan motivasi dan
semangat hidup kepada mereka yang memiliki keterbatasan pula, seperti
cacat, buta dan tuli. Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti dirinya
mampu menjalani kehidupan seperti manusia normal lainnya, meski itu
teramat sulit dilakukan.
Hingga saat ini sudah ratusan hingga ribuan orang (bahkan termasuk di
Indonesia) telah mendapatkan manafaat bantuan melalui yayasan
tuna-netranya.
Helen Keller merupakan orang yang dapat mengambil "hikmah" dari sebuah
"musibah", menjadikan kebutaan dan ketuliaannya sebagai "tipping point"
(titik lenting) untuk bangkit menggunakan potensinya, melambung melebihi
kebanyakan manusia normal lainnya.
Tentu kita tidak perlu menjadi buta dan tuli terlebih dahulu (seperti
ungkapan Helen Keller), atau menunggu datangnya "musibah" untuk dapat
lebih menghargai dan mensyukuri segala nikmat-karunia yang Allah
berikan, agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi kehidupan
manusia lainnya.
Teringat pada pesan Nabi SAW lelaki teladan itu, bagaimana memanfaatkan
dan mensyukuri potensi diri. Ingat 5 hal, sebelum datang 5 hal yang
lain: sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, lapang sebelum sempit, kaya
sebelum miskin, dan hidup sebelum mati.
Selamat menapaki sisa usia, tidak harus menjadi legendaris, menjadi
yang terbaik di mata Allah sudah cukup, yang paling bermanfaat bagi
sesama.
Fay.
*ditulis untuk "mutiaraku", Sidoarjo 31 Desember 2011.
Sent from my