Renungan Ramadhan 1436H, hari ke-8 :
"Ketika Dibukanya Pintu Makrifat"
“Apabila Allah SWT telah membukakan salah satu jalan makrifat (mengenal Allah) bagimu, maka jangan hiraukan mengapa itu terjadi, walaupun amalmu masih sangat sedikit. Allah membukakan pintu itu bagimu hanyalah karena Allah ingin memperkenalkan diri kepadamu. Tidaklah engkau mengerti, bahwa makrifat itu merupakan anugerah-Nya, karuni-Nya kepadamu ? Sedangkan manusia(engkau) mempersembahkan amal-amalmu kepada-Nya? Maka apalah artinya
apa yang manusia(engkau) persembahkan kepada-Nya itu dengan apa yang dianugerahkanoleh Allah kepadamu.”(Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari, Kitab Al-Hikam).
Mengenal Allah Ta’ala merupakan kebutuhan sangat mendasar bagi setiap insan manusia. Hingga manakala Allah telah membukakan pintu (jalan) menuju makrifat-Nya, maka hal itu merupakan anugerah terbesar dalam kehidupan. Jika ditelaah lebih dalam, sesungguhnya, itulah konsekuensi dari adanya fitrah insting keberagamaan dalam diri setiap insan, naluri asli berke-Tuhanan (Tauhid), naluri alami yang akan selalu merasa membutuhkan pertolongan Allah SWT. Karena ia adalah fitrah, maka ia tidak dapat dipisahkan dari manusia, paling hanya tingkatannya yang berbeda saja. Sesekali pada seseorang, panggilan itu sedemikian kuatnya, terang cahayanya melebihi sinar mentari, dan disaat lain pada orang lain, ia dapat melemah, remang dan redup. Namun demikian, sumbernya tidak akan pernah lenyap, akarnya pun mustahil tercabut. Karena “by design” manusia ciptaan Allah akan selalu memiliki naluri beragama, ber-Ketuhanan, yang tidak lain adalah naluri “Tauhid” dan fitrah membutuhkan-Nya. Suatu ketika – paling tidak menjelang ruhnya berpisah dari tubuhnya, fitrah keagamaan itu muncul sedemikan kuat dan jelasnya. Perhatikan dengan cermat firman Allah dibawah ini yang megungkapkan kondisi fitrah manusia yang akan tetap dan tidak berubah :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya : "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,"(QS.Rum, 30 :30)
Dan naluri fitrah berketuhanan meng-Esakan Allah ini (“Tauhid”) sesungguhnya merupakan fitrah yang sudah tertanam sejak manusia masih dalam kandungan janin ibunya. Perhatikan firman Allah dibawah ini :
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Artinya : "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ""Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi"". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: " Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS.Al-Ara’aaf, 7:172).
Namun, karena pengaruh kuat kawan yang buruk, pendidikan mikro-makro, lingkungan budaya lokal dan global bermuatan kapitalisme, sekularisme, komunisme, zionisme dan hedonisme, ketika manusia menjadikan hawa nafsunya yang bermuatan “cinta dunia dan takut mati”(penyakit wahan) sebagai falsafah hidup, idiologi, bahkan berkembang menjadi “Tuhannya”(QS.Al-Jatsiyaah, 45:23:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”),
Maka berlakulah Sunatullah keterpurukan (“istidraj”) kepada manusia dalam bentuk kesombongan, kerakusan yang merasa berkuasa, kuat, dan tidak merasakan perlu dengan bantuan Allah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya kamu sekalian akan rakus terhadap kekuasaan padahal ia akan menjadi penyesalan dihari kiamat. Maka alngkah baiknya penyusu(penguasa didunia yang tidak rakus) dan alangkah jeleknya pemutus susu(kematian)(HR.Bukhari).
Sebaliknya betapapun kuasa dan kuatnya manusia, pasti suatu ketika mengalami ketakutan, kecemasan, dan kebutuhan. Terutama ketika kekuasaan dan kekuatan meninggalkannya, maka mulailah manusia merasa takut, cemas, dan pada saat itu membutuhkan “sesuatu” yang mampu menghilangkan ketakutan dan kecemasan itu. Boleh jadi pada tahap awal ia mencari “sesuatu” pada mahluk, tetapi jika kebutuhannya tidak terpenuhi, pastilah pada akhirnya ia akan mencari dan bertemu dengan kekuatan yang berada diluar alam raya. Itulah Tuhan dengan berbagai nama yang disandang-Nya. Dialah yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan manusia, menutupi kekurangannya, menghilangkan kecemasannya dan sebagainya yang merupakan kebutuhan mahluk. Apa yang dikemukan ini, dikonfirmasikan oleh Al-Qur’an dengan firman-Nya :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاء إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Artinya : “Wahai seluruh manusia, kamu adalah orang-orang yang butuh kepada Allah, dan Allah adalah Maha Kaya(tidak butuh), lagi Maha terpuji (QS.Fathir, 35:15).
يَسْأَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
Artinya : “Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta (butuh)
kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”(QS.Ar-Rahman, 55:29).
Karenanya hayatilah sebagai falsafah hidup muslimin dan mukminin bahwa merasa membutuhkan Allah adalah watak aslimu sebagai manusia. Sedangkan asbab adalah menjadi pengingatmu terhadap apa yang tersembunyi dalam watak aslimu itu. Dan kebutuhan-kebutuhan mendasar pada Allah itu tidak bisa dicampakkan oleh sesuatu diluarnya. Bahkan, sebaik-baik waktu adalah saat-saat dimana engkau menyadari akan kebutuhanmu kepada Allah, dan karenanya engkaupun kembali mengakui akan kerendahan dirimu dihadapan-Nya. Seorang yang arif akan tetap merasa butuh kepada Allah Ta’ala dalam hidupnya, dan apabila ia bersandar kepada selain Allah, niscahya tidak akan pernah tenang, tenteram dan damai. Apabila Allah membuatmu tunduk kepada perintah-Nya secara lahiriyah, dan menyuruhmu menyerah kepada kekuasaan-Nya secara batiniah, maka berarti Allah sungguh telah memberi karunia besar kepadamu.
Karenanya biasakan setiap mendapatkan karunia Allah dalam bentuk apapun, tidak peduli kecil ataupun besar, karunia material ataupun spriritual, lahir atau batin, agar bermuatan ibadah dan mendapatkan ridho dan berkah dan rahmat Allah SWT, biasakan dengan sikap mental “tasyakur nikmat”dan ucapan ilmunya Nabi Sulaiman a.s ketika diberikan karunia berupa ilmu, kekayaan dan kekuasaan yang besar dan melimpah, dengan ucapan syukur “Alhamdulilah”,dilanjutkan ucapan “Hadza min fadli Rabbi” (Ini adalah karunia Allah, lihat firman Allah dalam surah An-Naml ayat 60 dibawah ini :
هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
Artinya : "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya) “(QS. An-Naml, 27:40).
Sebagai sikap yang arif dan bijaksana dalam menghadapi karunia Allah SWT, maka seyogyanya janganlah ketaatanmu kepada Allah membuatmu gembira lantaran engkau merasa mampu melaksanaknnya. Akan tetapi, bergembiralah kepada-Nya lantaran ketaatan itu terjadi karena karunia Allah kepadamu. Katakanlah : “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan :
يَجْمَعُونَ قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا
Artinya : "Katakanlah: ""Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan" (QS.QS.Yunus, 10:58).
Seorang hamba hendaklah merasa gembira atas perbuatan taat yang ia lakukan lantaran mendapatkan karunia dan rahmat dari Allah Ta’ala. Dalam hal ini, harus dibedakan antara kegembiraan yang muncul dari suatu ketaatan yang dianggapnya lahir dari perbuatannya sendiri, dengan kegembiraan yang timbul dari ketaatan yang diyakini sebagai anugerah dari Allah Ta’ala. Kegembiran seperti itulah yang bisa menjejakkan kakinya di maqam perjalanan menuju Allah. Tanda bahwa Allah Ta’ala memberikan “taufiq” kepada seorang hamba adalah apabila sang hamba disibukkan dengan berbuat ketaatan kepada-Nya, dan pada saat yang sama dijauhkan dari sifat "ujub” serta berbangga diri atas amalannya itu. Semua itu dilandasi oleh perasaan dan persepsi bahwa ia belum sempurna melaksanakan amalan tersebut, atau merasa semua amalan tersebut semata-mata merupakan wujud karunia dari Allah bagi dirinya.
Sebaliknya, takutlah dengan sesungguhnya takut, manakala karunia Allah yang selama ini yang diterima, pada saat bersamaan manusia tetap berbuat maksiat kepada-Nya, sebab itu bisa jadi adalah “istidraj” bagimu (lambat laun akan menghancurkanmu) :
يَعْلَمُونَ فَذَرْنِي وَمَن يُكَذِّبُ بِهَذَا الْحَدِيثِ سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا
Artinya : “Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Qur'an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-Qalam, 68:44).
Artinya : “Jika Allah SWT memberikan (kenikmatan dunia) kepada seorang hamba padahal anugerah itu memperkuat kemaksiatannya, maka sebenarnya hal itu aalah merupakan “istidraj”(kearah kebinasan)(HR.Ahmad dan Baihaqi, yang dishahihkan menurut Al-Bani, Shohih al Jami’561).
Akhir kata, renungkan kata hikmah penutup ini, bahwa Sesungguhnya Allah menghindarkan orang-orang yang menuju-Nya dan juga orang-orang yang telah sampai kepada-Nya dari melihat amal mereka dan menyaksikan (syuhud) hal ihwal mereka. Bagi orang-orang yang tengah dalam perjalanan menuju kepada-Nya, itu adalah karena mereka belum benar-benar ikhlas dalam amal mereka. Dan bagi orang-orang yang telah sampai kepada-Nya, adalah karena mereka sibuk menyaksikan-Nya dan dalam ketaatan kepada-Nya, hingga tak ada waktu untuk menengok amal-amal mereka.
Semoga dalam sisa-sisa hidup kita menuju liang kubur, lidah kita, lisan kita selalu sibuk, dimudahkan berzikir, berdoa kepada Allah SWT, maka ketahuilah sesungguhnya Allah hendak memberi kita dengan karunia rahmat-Nya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar ra. Pernah menyampaikan sebuah hadits Nabi saw., “Siapa yang telah mendapat izin untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala, maka berarti telah dibukakan baginya pintu rahmat. Dan Allah lebih menyukai apabila sang hamba yang berdo’a itu meminta ampunan, kemudian memohon agar diselamatkan dalam menjalani kehiduapan didunia ini, hingga akherat kelak.”. Dan diakhiri dengan do’a :
“Ya Allah Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami a’fiat pada jasmani dan rohani, keluasan dan berkah pada rezeki kami, berkat pada usia kami, kemanisan dan indahnya iman & taqwa, anugerahi kami kelezatan ma’rifah, serta penyaksian dengan mata hati kami, sehingga kami mampu mengorbankan jiwa raga dan menyumbangkan semua yang bernilai tanpa mengharap imbalan dan mengarah kepada satu tujuan kecuali demi ridho-Mu, wajah-Mu yang Maha Mulia, wahai Yang Maha Pemberi dan Maha Penyayang. Ya Allah anugerahilah kami dari pasangan hidup kami, anak-anak keturunan sholeh dan sholekhah yang menyejukkan mata kami dan jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertaqwa sampai akhir hayat bernilai khusnul khatimah.
Ya Allah Ya Ghaffar, aku bermohon kepada-Mu kiranya Engkau membersihkan hatiku dari segala noda…kami bermohon kiranya Engkau memenuhi dengan cahaya, anugrahi kepada kami kemampuan untuk berakhlaq dengan nama-Mu, sehingga kami memiliki kecerdasan rohani, intelektual, emosional dan sosial, mampu menutupi aib rekan-rekan kami, membalas kejahatan dengan kebaikan, sehingga kami dapat meraih kemuliaan didunia dan akherat, serta terhindar dari kegelapan dosa lahir dan batin. Ya Allah,hantarkan dan tunjukkan kami kemasa depan yang penuh dengan ilmu, akhlaq, hikmah, jihad dan ukhuwah Islamiyah bermuatan nilai2 taufiq, hidayah, inayah dan maghfirah-Mu ya Allah, Amin.
Wa Shalla Allahu ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa ‘Ala Alihi Washabihi Wa Sallam.