Assalamu’ alaikum Wr Wb,
Yth. Kaum Muslimin dan Muslimat yang dirahmati dan diberkahi Allah SWT dimanapun itu berada dimuka bumi ini,
Alhamdulilah wa syukuri-LLah,dengan karunia dan kasih sayang Allah SWT, dengan izin dan ridho-Nya kembali dapat dituliskan serial ke-37, dalam kajian serial "Gazful Fikri" bersambung, "Islam versus Sekularisme" .
Kali ini kajian akan membahas tentang bahaya sekularisme di Indonesia, dengan dampak dasyatnya dalam kerusakan hidup Multidimensi, dikaji oleh ulama besar Indonesia almarhum KH.DR.Moh.Natsir, yang ditulis sebelum dan sesudah kemerdekaan,bahkan sampai akhir hayatnya beliau tetap istiqomah dan kosisten melakukan perlawanan sistimatis dan profesional terhadap bahaya dan dampak negatip muldimensi paham Sekularisme. Kajian beliau disertakan bersama dengan pandangan menarik dari Singa Podium Masyumi almarhum KH.Isa Anshory (ayah almarhum Endang Saifuddin Anshari MA, Penulis buku terkenal "Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan Sejarah Konsensus Nasional, antara Nasionalis Islami dan Nasionalis "Sekular", tentang Dasar Negara RI 1945-1959") tentang bahaya Sekularisme dalam kasus di Turki oleh Kamal Attaturk . Bahkan karena pidato fenomental tersebut Buya HAMKA dalam forum yang sama tersebut (diruang Sidang Konstituente pada tanggal 13 November 1957, setelah mendengar pidato DR.Moh.Natsir di Majelis Konstituente) menuliskan sebuah Puisi Perjuangan yang juga disertakan dalam tulisan ini.
Marilah kita awali kajian kali ini dengan pertanyaan introspektip serius : Sejak sebelum kemerdekaan NKRI 1945 sampai dewasa ini : “Berhasilkah Sekularisme dan Sekularisasi di Indonesia ?” Jawabnya, tidak! Bahkan boleh dikatakan itu adalah “Sebuah Eksperimen Gagal”.
Karenanya, sangat menarik apa yang dinyatakan oleh Prof. Hamka, ketika ditanya : Bagaimana pendapatnya tentang gagasan bahwa modernisme haruslah ditegakkan atas paham sekulerisme? Diakhir jawaban, beliau menyindir dengan mengatakan : Dan kalau ada orang atau golongan yang menganjurkan modernisasi yang isinya bermaksud westernisasi, atau modernisasi bermaksud sekulerisme, orang itu adalah “burung gagak” yang telah terlepas dari masyarakat kaumnya. “Duduk diatas singgasana gading, terpesona pada budaya barat dan hendak mengatur dari atas” (Hamka, Dari Hati Ke Hati, Pustaka Panjimas Jakarta, Tahun 2002, P 271).
Tamsil Hamka dengan burung gagak ini sungguh dalam dan tepat, sebab bagi beliau, “Menurut dongeng burung gagak itu dahulu hidup seperti ayam, berjalan baik-baik di atas tanah. Tetapi gagak ingin sekali hidup meniru burung yang dapat terbang di udara. Akhirnya terlepaslah dia dari masyarakat ayam, tetapi tidak diterima dalam masyarakat burung. Akan kembali hidup sebagai ayam, kandang sudah lama hilang. Akan hidup sebagai burung, sarang tidak ada. Sebab itu diantara segala burung, gagaklah yang tidak ada kandang dan tidak ada sarang. Dan berjalannya di ataspun tidak tenang dan kakinya tidak dapat menetap”.
Sebagimana halnya dengan prediksi Hamka, Amien Rais pun pernah meramalkan hal ini. Karena baginya, di Amerika Latin saja yang tidak memiliki tradisi keagamaan yang kuat seperti di dunia muslim (meskipun disana katolik yang dominan), ia tidak menghasilkan apa-apa bahkan lenyap dimakan waktu. Apalagi kalau di sebuah Negara muslim terbesar seperti Indonesia yang memiliki kultur dan tradisi yang kuat memegang agama. (Amin Rais, Islam dan Pembaharuan; ensiklopedi masalah-masalah, Rajawali Jakarta, Halaman Pengantar).
Memang hingga saat ini perdebatan tentang sekularisme dan sekularisasi masih kerap terjadi dan saling berbenturan di kalangan intelektual Muslim bukan hanya di Indonesia tapi juga konteks dunia. Sehingga muncul kelompok-kelompok yang secara bertentangan. Ada yang menentang keras karena negara tidak bisa dipisahkan dari agama, ada juga yang mengupayakan sekularisme sebagai suatu paham yang sesungguhnya yang menurut mereka jika prinsip-prinsip sekularisme diterapkan secara benar justru melindungi kebebasan menjalankan keyakinan agama, berlaku adil terhadap agama-agama dan menyetarakan agama-agama dalam konteks masyarakat dan negara.
Usaha untuk mensekularkan Indonesia sudah nampak nyata di kalangan intelektual Islam yang berhaluan liberal.
Gagasan itu mulai diwacanakan secara terbuka oleh Nurcholis Madjid pada suatu diskusi yang diadakan tanggal 12 Januari 1970 di Jakarta. Dalam suatu makalah yang berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Sejak itu ide sekular mulai banyak di lontarkan hangga saat ini. Diantara yang sering melontarkan ide sekularisasi di Indonesia adalah Luthfi As-Syaukani, Mun’im A. Sirry, Hamid Basyaib,Ulil Abshar Abdala, dll.( Adnin Armas,MA, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal, Gema Insani, Jakarata, P. 15).
Namun sekularisasi yang berkembang di Indonesia saat ini tidak lebih dari sebuah eksperimen yang gagal ditanamkan untuk menjadi ideologi masyarakat secara umum. Mungkin untuk kalangan tertentu atau sebagai wacana kampus, dia menunjukkan hasil yang siginifikan. Tetapi sebagai pandangan hidup masyarakat muslim Indonesia, itu hanya mimpi di siang bolong.
Kalaupun terlihat berhasil, itu hanyalah opini media massa yang terlalu over dalam membesar-besarkan berita. Buktinya, hingga saat ini tidak ada perubahan pandangan masyarakat muslim secara umum terhadap keyakinan dan agama mereka. Tidak seperti yang pernah terjadi di Turki era Kamal Attartuk misalnya, yang sampai menjadikan sekulerisme sebagai identitas Negara itu. Itupun sekarang sudah mulai goyah dengan kembalinya kesadaran banyak elit politik Turki tentang pentingnya agama dalam hidup dan kehidupan (M. Arfan Muammar, Majukah Islam Dengan Menjadi Sekuler?, CIOS, 2007, P 66 – 67).
Di Indonesia, harapan para pembawa panji sekularisasi mengalami jalan buntu. Keputusan Pemerintah tentang Ahmadiyah, Penangkapan Lia Eden, Penangkapan beberapa pemimpin aliran sesat, gagalnya ide pembubaran Departemen Agama, dll merupakan bukti nyata akan tidak goyahnya negara kita dari serangan para Intelektual Liberal.
Masyarakat, khususnya yang diperkotaan semakin menyadari pentingnya tuntunan agama, dan itu dapat kita lihat dengan mata telanjang. Pengajian banyak yang bermunculan dikampus-kampus, perusahaan bahkan instansi-instansi strategis pemerintahan. Begitu pula makin populernya kajian tentang ekonomi Islam dan lainnya, yang makin menampakkan corak baru keagamaan masyarakat, tetapi yang jelas bukan sekulerisasi.
Sejarah juga membuktikan keberhasilan para pejuang muslim bangsa ini yang mengusir paham komunisme dari bumi Indonesia adalah bukti empiris paling dekat yang bisa kita jadikan sebagai tolok ukur. Padahal, seperti yang kita maklumi bersama, komunisme dikampanyekan bukan hanya dengan propaganda kata-kata melalui media massa, surat kabar dan semisalnya, tetapi juga dengan hasutan, kekerasan fisik, kekejaman dan sebagainya yang akhirnya hanya menjadi setetes dari sejarah kelam bangsa Indonesia.
Meskipun, kalau dilihat dari program-program yang ditawarkan, dana yang dikeluarkan hingga NGO-NGO luar negeri yang mensponsori sekulerisasi di Indonesia, sangatlah luar biasa. Namun, realitanya semua itu tidak memperoleh “pasaran”. Lebih-lebih dikalangan masyarakat awam yang secara batin terikat kuat dengan doktrin agama.
Faktor-faktor terpenting yang dianggap sebagai penghalang utama sekulerisasi sehingga menjadikannya mandeg dan stagnan di Indonesia, karena kekokohan lembaga-lembaga keagamaan, khususnya Pondok Pesantren di bawah asuhan para Kyai, Ustaz dan semisalnya. Kondisi Indonesia tidak jauh berbeda dengan Mesir. Meskipun masyarakat kedua-dua Negara ini cenderung cepat menerima dan terpengaruh dengan budaya luar berupa hiburan dan semisalnya, tetapi masalah agama belum tentu. Di Mesir, upaya itu gagal secara makro, meskipun ada yang terpengaruh tetapi sangat relatif. Begitu pula yang terjadi di Indonesia. Mesir kuat dengan Al-Azharnya, sementara Indonesia kokoh dengan Pondok Pesantren.
Namun, yang diprihatinkan adalah bahwa seringkali karena keawaman pemahaman ilmu umat akan bahaya dan dampaknya dari paham Sekularisme, beserta lemahnyanya pemahaman worldview(pandangan hidup/alam) Islami, jahilnya pemikiran akibat Sekularisasi, Liberalisasi dan Pluralisme Agama, disadari atau tanpa disadari telah menjadi pengikut antek-antek gerakan strategi Gazful fikri Barat atau asing di Indonesia, untuk menghancurkan Islam dan peradaban Islam dimuka bumi ini.
Dalam kaitan ini, Umat hendaknya dapat dicerahkan dengan hadits-hadits akhir zaman seperti : "Orang mencari ilmu Islam dari ahli bid'ah", "Banyaknya Penyeru Kesesatan", dan "Tertolaknya segala paham, atau amalan-amalan yang mengada-ada hal baru dalam masalah agama", seperti yang dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah saw dibawah ini:
Dari Abu Umayyah Al-Jamhi, ujarnya : Rasulullah saw bersabda : "Salah satu tanda kiamat dekat ialah orang mencari ilmu (Islam) dari ahli bid'ah".
Dari Ummul mukminin (ibunda orang-orang Mukmin), 'Aisyah –Radhiyallahu 'anha ia berkata, Rasulullah Saw : "Barangsiapa yang mengada-adakan (bid'ah) sesuatu dalam urusan (dien) ini yang tidak termasuk di dalamnya, hal itu ditolak." Dilaporkan oleh Imam al-Bukhary dan Muslim.
Dalam riwayat Muslim : "Barangsiapa melakukan amalan, tanpa didasari perintah kami, maka ditolak."
"Sesungguhnya Abu Idris Al-Khaulani mendengar Hudzaifah bin Yaman berkata : Rasulullah saw bersabda : "Akan muncul para pengajak ke neraka jahanam. Barang siapa mengabulkan seruannya, akan terjerumus kedalamnya". Saya bertanya : "Wahai Rasulullah , Jelaskan cirinya kepada kami ? Sabdanya : "Mereka adalah kaum dari kalangan kita sendiri. Mereka berbicara dengan bahasa kita". Saya bertanya : "Lalu apa yang Rasulullah perintahkan kepada kami jika kami menemukan hal semacam ini ? Sabdanya : "Hendaklah kamu tetap berada pada barisan umat Islam dan imamnya. Jika tidak ada lagi umat Islam dan imamnya, tinggalkanlah semua firqah (golongan) itu sekalipun engkau harus menggigit akar pohon sampai mati dalam keadaan demikian" (HR.Ibnu Majah, Hadits no.3979).
Olehkarenanya untuk selanjutnya memberikan pencerahan, inspirasi dan masukan yang bermanfaat, agar umat Islam Indonesia dimanapun itu berada, ikut aktip berpartsisipasi (dengan kemampuan dan profesionalisme masing-masing) dalam usaha ikut memberantas sampai akar-akarnya worldview bahaya dan dampak negatip dari paham sekularisme, maka serial ke-37 Islam Versus Sekularisme kali ini diberi judul "Bahaya Sekularisme Menurut Dr.Moh.Natsir dan KH.Isa Anshory” (File winwords-nya dapat dilihat pada lampiran email ini) .
Selamat membaca, semoga sungguh-sungguh dapat bermanfaat bagi kaum Muslimin dan Muslimat dalam rangka ikut berpartsispasi memberantas sampai akar-akarnya, serta dampak bahaya paham Sekularisme di Indonesia pada satu sisinya, dan pada sisi lain dapat mencerahkan pemahaman dan pemikiran Islam yang cemerlang untuk membangun peradaban Islam di-Indonesia berlandaskan pandangan hidup (worldview) dan epistemology tauhidi berasaskan pada Al-Qur'an dan As-Sunnah Rasulullah saw, Amin 3X, Ya Rabbal Alamin.
Wassalamu' alaikum wr wb,
Hamba Allah yang dhoif dan fakir.