Sholat dalam Islam mempunyai kedudukan yang tidak disamai oleh ibadah-ibadah lainnya. Ia merupakan tiangnya agama ini. Yang tentunya tidaklah akan berdiri tegak kecuali dengan adanya tiang tersebut. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan:
"Pondasi (segala) urusan adalah Islam, dan tiangnya (Islam) adalah sholat, sedangkan yang meninggikan martabatnya adalah jihad fi sabilillah." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
- Tanya Jawab dg Ustadzh
Assalamuallaikum Wr Wb...
Tanya: Ustadzh, kalau ditanya mana yang lebih baik, muslim yang taat
ibadahnya tapi tidak baik akhlaknya, atau yang kurang taat tapi berakhlak
baik, mana yang Anda pilih?
Dulu saya selalu menjawab soal ini dengan cara mengelak. Saya katakan, yang
baik ialah yang salat dan akhlaknya bagus. Tapi jawaban itu tidak jujur,
karena pilihannya hanya dua: (a) salatnya baik, tapi berakhlak buruk; (b)
salatnya buruk, tapi akhlaknya baik. Jadi tidak ada pilihan (c) yang salat
dan akhlaknya baik di situ. Kalau jawaban berkelit itu saya berikan dalam
ujian, jelas saya tidak lulus, karena memang tidak ada dalam kategori.
Karena itu, sekarang saya akan menjawab: lebih baik yang akhlaknya bagus
sekalipun salatnya buruk, ketimbang salatnya bagus tapi akhlaknya buruk.
Dalilnya: satu, karena sebaik apapun salat kita akan terhapus pahalanya
oleh akhlak yang buruk. Haji juga begitu. Sekalipun ia dijalankan
sebaik-baiknya, malah mungkin setiap tahun, kalau di dalam pelaksanaannya
ada rafats, fusûq, dan jidâl, hajinya tidak sah. "Faman faradla fî hinnal h
ajja falâ rafatsa walâ fusûqa walâ jidâla fil hajj," Itu dalil Alqur'annya.
Dalam ayat lain juga disebutkan, kalau sedekah kita disusul dengan ucapan
yang menyakiti hati, maka sedekahnya akan batal. Dalam Alqur'an
diterangkan, "La tutbi'û shadaqâtikum bil manni wal 'adzâ", atau jangan
kamu batalkan sedekahmu dengan menggerutu dan menyakiti hati orang yang
menerima.
Alqur'an juga mengatakan, kalau orang menyakiti sesama manusia akan
dilaknat Allah di dunia dan akhirat. Dalam surah al-Ahzâb: 56 dikatakan,
"Innalladzîna yu'dzûnalLâh wa rasûlah la`anahumulLâhu fid dunyâ wal
âkhirah, wa 'a`adda lahum adzâban mubîna. Wallladzîna yu'dzûnal mu'minîna
wal mu'minâti bighairi mâ iktasabû faqad ihtamalû buhtânan wa itsman
mubîna". Intinya, mereka yang menyakiti orang lain itu sedang menghapus
seluruh amalnya.
Sebuah hadis qudsi juga mengatakan: "Ya Ahmad, katakan kepada orang-orang
yang zalim itu agar tidak masuk rumah di antara rumahmu, karena sudah
menjadi kewajiban bagi-Ku untuk menyebut orang yang menyebut namamu. Dan
kalau seseorang menyakiti orang lain dan menyebut namamu, Aku akan menyebut
namanya juga". Dan di situ diterangkan, "wa dzikrî iyyâhu 'an al`anahu"
(zikirku padanya adalah: Aku melaknat dia). Jadi, setiap kali orang salat,
tapi akhlaknya buruk, suka menyakiti orang lain, maka setiap kali dia
menyebut "Allahu akbar" dalam salat, Allah justru melaknatnya. Artinya,
salatnya hanya berfungsi untuk mengumpulkan laknat Allah. Jadi, betapa
kasihan orang yang salatnya baik tapi akhlaknya buruk, karena seluruh
ibadah salatnya gugur.
Satu lagi nilai paling penting yang perlu disampaikan di bulan puasa ini
adalah hadis yang termuat di kitab Ihyâ `Ulûmiddîn. Saat itu, kepada
Rasulullah dilaporkan bahwa "Inna fulânah tashûmun nahâra wa taqûmul lailâ
walâkin tu'dzî jirânaha bilisâniha" (ada seorang yang rajin puasa siang dan
salat malam, tapi suka menyakiti tetangga dengan lidahnya). Apa kata
Rasulullah? "Hiyâ fin nâr" (dia di neraka). Kesimpulan saya: lebih bagus
yang akhlaknya baik tapi salatnya jelek, ketimbang salatnya baik tapi
akhlaknya jelek.
Tanya: Bagaimana kalau ada yang mengatakan itu karena salatnya memang tidak
benar. Kalau salatnya sudah benar, semua akan benar?
Kita memang pernah mendengar hadis bahwa "yang pertama kali diperiksa dari
seorang hamba di akhirat kelak adalah salatnya". Artinya, "Ídza shaluhat,
shaluha sâ'iru `amalih, wa idzâ fasadat, fasada sa'iru `amalih," (kalau
beres salatnya, bereslah seluruh amalnya, dan jika rusak, rusaklah seluruh
amalnya). Hadis ini bisa diartikan bahwa kalau seseorang menjalankan salat
dengan baik, pastilah akhlaknya akan baik. Tapi tadi kita berhadapan dengan
pertanyaan yang contradictio in terminis; "salatnya baik, tapi akhlaknya
buruk". Karena itu, ada yang menjawab hal itu tidak mungkin. Sebab kalau
salatnya baik, pasti akhlaknya akan baik.
Tapi, sayang kriteria salat yang baik itu sangat fiqhiyyah atau berbau
fikih. Artinya, tetap saja bergantung pada mazhab yang mana. Menurut mazhab
Syafii, salat yang baik adalah dengan qunut. Tapi menurut Hanbali, salat
yang baik tanpa qunut, kecuali pada saat perang. Dan begitulah seterusnya.
Artinya, ada asumsi kalau salat itu sesuai dengan mazhab tertentu, barulah
ia dikatakan baik.
Saya pernah menemukan beberapa kitab yang berjudul Shalatun Nabi. Waktu
saya baca, ternyata salat ala mazhab Hanafi. Saya beli lagi buku dengan
judul yang sama; ternyata salat menurut mazhab Hanbali. Orang Syiah juga
punya buku tuntunan salat ala Syiah. Judulnya juga senada, Shalatun Nabi.
Jadi, apa yang disebut salat yang paling sesuai contoh Nabi itu, dan dengan
itu menjadi salat yang paling baik, juga bergantung pada mazhab tertentu.
Yang kedua, dalam kenyataan sosial di masyarakat, kita tak jarang menemukan
orang yang rajin dan khusuk salat, rajin haji, tapi juga khusyuk korupsi.
Nah, apakah hadis itu salah dan Rasulullah keliru? Saya yakin, Rasulullah
tidak salah. Yang salah adalah penafsiran kita terhadap hadis itu. Karena
itu, tafsiran saya ialah: ukuran baik-buruknya salat bukan pada standar
mazhab, tapi dilihat dari ukuran akhlaknya di tengah masyarakat. Kata
Rasulullah, "Idzâ shaluhat, shaluha sâ'iru `amalih".
Jadi, kalau ingin tahu baiknya salat seseorang, lihatlah amalnya di
masyarakat. Kalau amalnya baik, itu berarti salatnya baik, tidak peduli apa
mazhabnya. Jadi, test case-nya tetap di masyarakat. Kalau saya datang ke
sebuah kampung dan bertemu seseorang yang akhlaknya bagus, tapi kebetulan
fikihnya berbeda dengan saya, saya akan tetap menghormati dan mencium
tangannya. Orang-orang yang dermawan akan saya cium tangannya, tidak peduli
dari mazhab, bahkan agama apa pun. Tapi soal ini jangan dikomentari
macam-macam; seperti ada maksudnya.
Sekarang tesis saya yang terakhir, bukan yang terbaru: hablun minalLâh atau
hubungan baik dengan Tuhan itu diukur dari hubungan baik dengan sesama
manusia (hablun minan nâs). Jangan ada yang merasa sudah takwa pada Allah
hanya karena ibadahnya baik. Tapi, lihatlah apa kontribusi dia bagi
kemanusiaan. Alqur'an sendiri mengatakan bahwa orang-orang yang
membanggakan ritus-ritus agama tapi tidak ada buktinya dalam kehidupan
bermasyarakat—misalnya tetap sombong, suka menindas, dan tidak punya empati
pada penderitaan orang—mereka dianggap pendusta agama. Ayatnya: "Ara'aital
ladzî yukaddzibu bid dîn, fadzâlikal ladzî yadu`ul yatîm…" (Tahukah Engkau
siapa para pendusta agama? Mereka adalah orang yang tidak peduli pada anak
yatim…, Red).
Jadi, hablun minalLâh juga akan rusak kalau hablun minan nâs kita rusak.
Tapi jika hablun minan nâs seseorang baik, itu berarti hablun minalLâh-nya
juga baik. Jadi ukuran hablun minalLâh adalah hablun minan nâs agar
ukurannya bisa kita lihat. Sebab, ukuran hablun minalLâh itu tidak bisa
kita lihat; bagaimana sih tali yang merentang kepada Allah itu?! Kalau tali
yang merentang di antara sesama manusia, kita akan bisa melihatnya, dan
ukurannya cukup banyak.