Oleh oleh catatan kajian bersama Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc (sesi hari Ahad, 5 April 2015)..
POTRET KELUARGA BAHAGIA
Fitrah manusia ketika menginginkan sesuatu adalah ingin mendapatkan apa yang diinginkannya tersebut dengan CEPAT. Ketika seseorang menginginkan mobil, dia ingin mendapatkan/ memiliki mobil tersebut dengan CEPAT; begitu juga ketika seseorang menginginkan rumah, dia ingin memiliki rumah tersebut dengan CEPAT.
Ironisnya, tidak demikian dalam hal kebahagiaan. Semua orang menginginkan kebahagiaan, namun anehnya tidak semua orang (baca: sangat sedikit) yang ingin segera mendapatkan dan menikmati kebahagiaan tersebut. Bahkan banyak diantara manusia yang tidak mengetahui hakikat kebahagiaan. Hingga akhirnya, merekapun mencari dan memburu kebahagiaan itu dengan cara yang keliru dan ditempat yang keliru.
Ada yang mencari kebahagiaan dengan memburu kedudukan/ kekuasaan. Karena mengira bahwa kebahagiaan itu adalah dengan tingginya kedudukan dan kekuasaan.
Ada juga yang mencari kebahagiaan dengan memburu harta, karena mengira bahwa kebahagiaan itu adalah dengan banyaknya harta. Padahal Allah berfirman dalam QS At-Taubah 55:
فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
Artinya:
"Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir."
Ingatlah.
Kalaulah kebahagiaan itu dengan tingginya kedudukan dan kekuasaan, tentu harusnya Fir'aun lah yang lebih bahagia dari Nabi Musa 'alaihis salam. Dan kalaulah kebahagiaan itu dengan banyaknya harta, tentu harusnya Qorun lah manusia yang paling bahagia dimuka bumi ini. Tapi kenyataannya tidak demikian bukan??? Lihatlah akhir kehidupan Fir'aun dan Qorun.
Kaum muslimin dan muslimat...
Kebahagiaan rumah tangga itu harus dibangun dengan kunci kunci kebahagiaan yang diberikan oleh Allah Ta'ala:
1. Kunci Pertama: Membangun Rumah Tangga Dengan Iman, yakni kembali kepada Allah Ta'ala.
Allah berfirman dalam QS An Nahl:97 yang artinya:
" Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan BERIMAN, maka pasti akan Kami berikan kepadanya KEHIDUPAN YANG BAIK dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Allah juga berfirman dalam QS Thaha:124 yang artinya:
" Dan siapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sungguh, dia akan menjalani KEHIDUPAN YANG SEMPIT, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan BUTA."
Mungkin ada yang berkata: orang2 kaya (yang jauh dari agama dan bahkan kafir) nampaknya hidup bahagia. Keluar dari mobil mewah sambil ketawa ketawa. Kalaupun mobil itu bisa membawa bahagia, maka seorang kaya yang ingin mencari kebahagiaan, mereka pun tidak akan duduk diam di dalam mobil, dan keluar dari mobil membawa rasa bahagia itu.
Ketahuilah, bahwa yang mereka alami atau mereka lakukan itu hanya sandiwara, mereka itu tidak bahagia meskipun mereka banyak tertawa. Bahagia itu tidak diukur dengan banyaknya tertawa. Bayangkan sekiranya ada orang yang tertawa selama 24 jam dalam sehari semalam...(smile...).
Allah menjanjikan bahwa kita akan menjalani kehidupan yang baik dan masuk surga kalau kita beriman dan bertaqwa. Dan sebaliknya kita akan mendapatkan kehidupan yang sempit kalau kita jauh dari agama. Ini adalah sebuah kepastian. Siapakah yang lebih benar perkataannya selain Allah. Siapa lagi yang kita percaya kalau bukan Allah, Rabbul 'alamiin....
2. Kunci Kedua: Mendekat dan Berdzikir Kepada Allah (tidak bisa dipisahkan dari kunci yang pertama).
Musuh utama dalam keluarga adalah syaithan. Syaithan sangat berambisi merusak rumah tangga. Karena kalau rumah tangga sudah rusak, anak-anak pun besar kemungkinan akan rusak, anakpun besar kemungkinan akan mendapatkan pasangan yang rusak, hingga melahirkan keturunan yang rusak. Prestasi yang paling dibanggakan syaithan adalah manakala mereka berhasil merusak rumah tangga dan berpisah.
Marilah kita renungkan sebuah hadits yang terdapat dalam shahih muslim dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا، قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ ” قَالَ الْأَعْمَشُ: أُرَاهُ قَالَ: «فَيَلْتَزِمُهُ»
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu dia menyebarkan bala tentaranya.Tentara yang paling dekat kepadanya adalah yang paling besar fitnahnya. Salah seorang dari mereka datang kepada Iblis seraya berkata: “Aku telah melakukan ini dan itu”, Iblis menjawab: ”Kamu tidak melakukan apa-apa”, Lalu datang lagi yang lain kepadanya seraya berkata: “Aku tidak berhenti menggoda seorang lelaki sehingga aku memisahkan antara dia dengan istrinya”, Maka Iblis mendekatkan tentara ini kepadanya dan berkata: “bagus kamu”, Al-A’masy berkata : “maka iblispun memeluknya”. [HR Muslim no. 2813]
Cara yang paling efektif untuk menghadapi syaithan adalah dengan minta perlindungan dari Allah dengan memperbanyak dzikir. As-Sunnah telah menjelaskan cara menjaga diri dari setan ketika masuk rumah, berhubungan suami istri, makan, marah dan dalam setiap perkara yang butuh adanya penjagaan dari setan, agar setan tidak menyertainya dalam keluarganya, rumahnya dan anak-anaknya, maka seseorang perlu menjaga dirinya dengan dzikir-dzikir yang mubarokah, dengan al-Qur’an al-Kariim dan do'a & dzikir yang diajarkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, serta dengan menjaga ketaatan dan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
3. Kunci Ketiga: Setiap Pihak (Suami dan Istri) Agar Memainkan Perannya Masing-Masing.
Dalam hadits shahih yang diriwiyatkan oleh Thirmidzi dan Ibnu Majah, Nabi bersabda: "Sebaik baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik diantara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku."
Kenapa muamalah dengan keluarga/istri dijadikan sebagai barometer kebaikan? Karena wanita adalah makhluk yang lemah di hadapan laki-laki. Jika seseorang bisa menguasai dirinya dalam bermuamalah dengan orang yang lemah, maka itulah penampakan akhlaknya yang sesungguhnya. Kalau bersikap baik kepada pejabat tinggi maka itu adalah hal yang biasa.
Nah, penjelasan lebih rinci tentang kunci ketiga dan kunci keempat, serta materi lainnya dapat disimak langsung pada rekaman kajiannya; insyaa Allah lebih mantab dan tambah barokah.
Semoga kita bertemu kembali pada pengajian berikutnya yang insyaaAllah direncanakan pada minggu ke 4 bulan Mei 2015.