Jurnal Ulkus Diabetik

0 views
Skip to first unread message

Kusi Bertoldo

unread,
Aug 5, 2024, 4:59:52 AM8/5/24
to motermautsik
Ulkuskaki diabetikum merupakan luka terbuka pada permukaan kulit yang disebabkan adanya makroangiopati sehingga terjadi vaskuler insufisiensi dan neuropati. Ulkus diabetikum terjadi akibat kerusakan saraf dan pembuluh darah karena kadar gula darah yang tidak terkontrol untuk kondisi yang sudah parah, kerusakan saraf bisa meluas hingga ketulang sehingga bisa menyebabkan amputasi. Penderita ulkus diabetikum Di RSUD Drs.H.Abu Hanifah Bangka Tengah juga mengalami peningkatan selama 3 tahun terakhir.Tahun (2021) sebanyak 178 yang mengalami diabetes melitus dan sebanyak 31 orang yang menderita ulkus diabetikum, yaitu sebanyak 25 % pada perempuan, sebanyak 75% pada laki-laki). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Ulkus Diabetikum Pada Penderita Diabetes Melitus Di RSUD Drs.H.Abu Hanifah Bangka TengahTahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan uji chi square dengan hasil berupa analisa bivariate. Populasi dalam penelitian ini responden yang menderita diabetes melitus dengan ulkus diabetikum dan responden yang menderita diabetes melitus tanpa ulkus diabetikum di poli bedah, ruang rawat inap Asoka, dan anggrek di RSUD Drs.H.Abu Hanifah Bangka Tengah Tahun 2021 yaitu sebanyak 178 pasien. Besaran sampel pada penelitian ini adalah 53 responden yang dipilih dengan kriteria inklusi dan eksklusi, waktu penelitian pada 11 Desember- 3 Januari tahun 2022. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan , nilai ρ value (0,009), lama menderita didapatkan nilai ρ value (0,009), obesitas ρ value (0,001), yang bermakna ada hubungan dengan kejadian Ulkus diabetikum. Saran dalam penelitian ini adalah supaya pelayanan kesehatan lebih meningkatkan dalam memberi informasi tentang factor penyebab kejadian ulkus diabetikum pada penderita diabetes melitus

Edriani, A. (2017). Hubungan Faktor Sosial Ekonomi dan Faktor yang Tidak Bisa Dimodifikasi terhadap Diabetes Melitus pada Lansia dan Prelansia di Kelurahan Depok Jaya, Depok, Jawa Barat pada Tahun 2012. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Gizi Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.


Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit tidak menular dengan banyak kondisi yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi salah satunya ulkus diabetik. Ulkus diabetik yang sudah parah merupakan faktor utama terjadinya amputasi pada organ tubuh. Oleh karena itu penderita DM harus memiliki pemahaman yang memadai untuk mencegah terjadinya komplikasi ulkus diabetik.


Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan penderita DM tentang pencegahan komplikasi ulkus diabetik di Puskesmas II Denpasar Barat. Berdasarkan hasil pretest dari 22 responden memiliki pengetahuan rendah tentang cara pencegahan ulkus diabetik yaitu sebesar 72,7%. Sedangkan hasil posttest, menunjukkan lebih dari setengah responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi yaitu 54,5 %. Setelah diberikan penyuluhan dapat disimpulkan bahwa pengetahuan penderita DM tentang pencegahan ulkus diabetik mengalami peningkatan. Kedepannya pihak puskesmas harus secara aktif memberikan penyuluhan terkait pencegahan ulkus diabetes.


Komplikasi ulkus diabetikum paling ditakuti oleh penderita DM karena perawatan yang lama serta biaya 3 kali lebih banyak dibandingkan tanpa ulkus diabetikum.Sebagian besar kejadian ulkus diabetik akan berakhir dengan amputasi dan akan mengakibatkan dampak negatif terhadap kelangsungan hidup penderita DM. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan pengetahuan perawatan kaki diabetik terhadap status ulkus diabetik. Design Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional Variabel penelitian ini ada dua yaitu pengetahuan perawatan kaki diabetik dan status ulkus diabetik. Populasi penelitan ini yaitu seluruh pasien dengan diabetes mellitus yang mengalami komplikasi ulkus diabetik di Ruang Ranu RSUD Grati sebanyak 32 orang. Sampel diambil dengan teknik random sampling sebanyak 32 responden. Data dikumpulkan dengan instrumen kuesioner. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1-28 Mei 2018. Analisa data dengan menggunakan uji koefisien kontingensi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar mempunyai pengetahuan kurang sebanyak 23 responden (71,9%). Hasil uji koefisien kontingesti menunjukkan nilai ρ = 0,000, α = 0,05 sehingga ρ Pendahuluan: Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan atas dasar peningkatan angka kejadian diabetes mellitus (DM) pada Kota Jambi Khususnya di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang IV Sipin Jambi. Meningkatnya angka penderita diabetes mellitus ini, maka meningkatnya resiko kejadian komplikasi. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah meningkatnya angka kejadian komplikasi akibat diabetes mellitus yaitu dengan pengendalian kadar glukosa darah dan pemeriksaan Ankle Brakhial Indeks (ABI). Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan peserta tentang pengendalian kadar glukosa darah & pemeriksaan ABI serta peserta dapat mengikuti pemeriksaan kadar glukosa darah dan ABI hingga selesai.


Hasil: 77,14% peserta dapat menjelaskan kembali tentang mengendalikan kadar glukosa darah dan pemeriksaan ABI serta sebagian besar peserta memiliki kadar glukosa darah dan nilai ABI normal.


Kesimpulan: Terjadi peningkatan pengetahuan peserta tentang manajemen pengendalian kadar glukosa darah dan pemeriksaan ABI serta terlaksananya pencegahan ulkus diabetik melalui pemeriksaan kadar glukosa darah & ABI.


Rahmaningsih, Baiq Yuni and , Nur Hidayat, and, I. N. N. . (2016). Hubungan antara Nilai Ankle Brachial Index dengan Kejadian Diabetic Foot Ulcer pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta Rahmaningsih,. Universitas Muhammadiyah Surakarta.


Jurnal Pengabdian Masyarakat dalam Kesehatan requires a formal written declaration and transfer of copyright from the author(s) for each article published. We, therefore, ask you to complete and return this form, retaining a copy for your own records. Your cooperation is essential and appreciated. Any delay will result in a delay in publication.


Pendahuluan: Salah satu komplikasi Diabetes Melitus(DM) yaitu, Ulkus Diabetikum. Ulkus diabetikum adalah luka yang membutuhkan perawatan khusus, penatalaksanaan untuk mengatasi luka ulkus diabetic, yaitu dengan metode modern dressing. Tujuan dari penelitian ini, yaitu mengetahui pengaruh modern dressingterhadap skor penyembuhan luka ulkus diabetikum. Metode:Quasi eksperimen, pre-testdan post-testtanpa menggunakan kelompok kontrol. Total sampling teknik digunakan dalam penelitian inidengan jumlah 18 pasien. Analisis data dilakukan dengan uji parametrik yaitu paired t-test. Hasil:Adanya perbedaan signifikan dengan p value0,000 dalam rerata skor penyembuhan luka ulkus diabetikum sebelum dan sesudah diberikan modern dressing. Penelitian ini ditemukan perbaikan luka ulkus diabetikum dengan perawatan luka Modern dressing. Simpulan:Modern dressingini mampu menurunkan skor penyembuhan luka ulkus diabetikum. Intervensi ini dapat direkomendasikan untuk pasien ulkus diabetikum.


Ulkus diabetik merupakan komplikasi diabetes yang berkaitan dengan morbiditas, yang disebabkan oleh adanya makrovaskuler (kerusakan pembuluh darah kecil). Tujuan umum penelitian ini untuk mengetahui gambaran depresi dan harga diri rendah pada pasien ulkus diabetik di praktik mandiri kota Makassar. Desain penelitian digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Pengambilan sampling yang digunakan yaitu non probability sampling yang dimana tehnik yang digunakan adalah purposive sampling. Responden yang didapatkan berjumlah 30 responden. Analisis yang digunakan analisis univariat dan bivariat untuk melihat gambaran depresi dan harga diri rendah pada pasien ulkus diabetik. Karakteristik pasien ulkus diabetik yang mengalami depresi di praktik mandiri ETN Centre dan Isam cahaya holistic care kota Makassar adalah berumur 46-55 tahun, jenis kelamin perempuan, sudah menikah, pendidikan terakhir SD, ibu rumah tangga dan mengalami ulkus diabetik selama


Abstract: A diabetic foot ulcer is a common and fearful chronic complication of diabetes mellitus often resulting in amputation, and even death. A diabetic foot ulcer can be prevented by early screening and education in high risk individuals, and the management of underlying conditions such as neuropathy, peripheral arterial disease, and deformity. The prevalence of diabetic foot ulcer patients is 4-10% of the general population, with a higher prevalence in elderly people. Around 14-24 % of diabetic foot ulcer patients need amputations with a recurrence rate of 50% after three years. The main pathogenesis of diabetic foot ulcer is neuropathy and peripheral arterial disease (PAD). PAD contributes to diabetic foot ulcers in 50% of cases; however, it rarely stands alone. Other factors such as smoking, hypertension, and hyperlipidemia may contribute, too. In addition, PAD reduces the access of oxygen and antibiotics to the ulcers. Management of diabetic foot ulcers includes treatment of ischemia by promoting tissue perfusion, debridement for removing necrotic tissues, wound treatment for creating moist wound healing, off-loading the affected foot, surgery intervention, management of the co-morbidities and infections, and prevention of wound recurrences. Other adjuvant modalities include hyperbaric oxygen treatment, GCSF, growth factors, and bioengineered tissues.


Abstrak: Ulkus kaki diabetes (UKD) merupakan salah satu komplikasi kronik diabetes melitus yang sering dijumpai dan ditakuti oleh karena pengelolaannya sering mengecewakan dan berakhir dengan amputasi, bahkan kematian. UKD dapat dicegah dengan melakukan skrining dini serta edukasi pada kelompok berisiko tinggi, dan penanganan penyebab dasar seperti neuropati, penyakit artei perifer dan deformitas. Prevalensi pasien UKD berkisar 4-10% dari populasi umumnya, dengan prevalensi yang lebih tinggi pada manula. Sekitar 14-24% pasien UKD memerlukan amputasi dengan rekurensi 50 % setelah tiga tahun. Patogenesis utama UKD yaitu neuropati dan penyakit arteri perifer (PAP). PAP berkontribusi 50% pada pasien UKD, tetapi hal ini jarang dijumpai tunggal. Terdapat faktor-faktor lain yang turut berperan seperti merokok, hipertensi dan hiperlipidemia. Selain itu PAP menurunkan akses oksigen dan antibiotik ke dalam ulkus. Penatalaksanaan UKD meliputi penanganan iskemia dengan meningkatkan perfusi jaringan, debridemen untuk mengeluarkan jaringan nekrotik, perawatan luka untuk menghasilkan moist wound healing, off-loading kaki yang terkena, intervensi bedah, pananganan komorbiditas dan infeksi, serta pencegahan rekurensi luka. Terapi ajuvan meliputi terapi oksigen hiperbarik, pemberian granulocyte colony stimulating factors (GCSF), growth factors dan bioengineerd tissues.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages