You do not have permission to delete messages in this group
Copy link
Report message
Show original message
Either email addresses are anonymous for this group or you need the view member email addresses permission to view the original message
to
Oleh ; Mario Teguh Bussiness Efectiveness
Consultant
SIAPKAH MENGHADAPI KEHILANGAN
Bila kita siap
MENDAPATKAN, sudahkan kita juga siap untuk KEHILANGAN ? Memang, ada
beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah, menangis, protes
pada takdir, hingga bunuh diri. Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh
ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam
pudar ? Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The Healing Stories karya
GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.
Alkisah, seorang
lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa
putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya
morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan
barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan
pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan
pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang
rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini,
dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan,
yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan
sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia
membungkuk dan mengambilnya. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah
penyok-penyok, " gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke
sebuah bank.
"Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang
kuno," kata teller itu memberi saran.. Lelaki itupun mengikuti anjuran si
teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai
koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai
memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika
melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral.
Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah
berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.
Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan
beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang
pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul
lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan
pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar
kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin
itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih
lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia
menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu.
Dia pun segera membawanya pulang.. Di tengah perjalanan dia melewati
perumahan baru. Seorang wa nita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok
keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang
indah. Si wa nita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki
itu nampak ragu-ragu, si wa nita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar.
Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak
pulang. Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang
ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar.
Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati,
merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan
berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi ? Engkau baik
saja kan ? Apa yang diambil oleh perampok tadi ? Lelaki itu mengangkat
bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang
kutemukan tadi pagi".
Note :
Memang, ada beragam cara menyikapi
kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan
sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN TUHAN. Benar kata orang bijak, manusia tak
memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah
memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ?
Have a positive day !
Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan
stress adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Kita akan menjadi
lebih damai bila yang kita pikirkan adalah jalan keluar masalah
.