Dear all,
Tulisan memang tidak sekedar rangkaian huruf, kata dan kalimat,
hmm.. pasti tidak semua, terutama tulisan yang memiliki jiwa, hati,
and pembaca juga sejatinya penulisnya sangat mampu merasakan itu.
Selanjutnya, apakah akan didayakan atau diabaikan itu beda urusan.
Sabtu kemarin, saya menjadi korban sebuah artikel di Kompas, karena
artikel itulah, kami terdampar dengan indahnya bolak-balik dari
Cikini IV/13 dan TIM dalam kencan yang aduhai.
Kurang lebih pukul 3 sore, meluncur dengan taksi mencari satu alamat
yang tertera di Kompas, "Kita coba cari dari Cikini Raya," kata
abang taxi. Kami mengiyakan sambil celingak-celinguk.. akhirnya
ketemu juga sebuah bangunan imut bernuansa bambu dengan nama
Kikugawa, sebuah resto Jepang yang menurut artikel itu telah berdiri
sejak tahun 1969 dan masih menjaga nuansa Jepang kental.
Penuh kebahagiaan, kami akan segera meloncat dari taxi, tapi mataku
menangkap papan kecil menggantung 'Closed'. "Maaf, kami sudah tutup,
tapi nanti jam 5.30 sore buka lagi sampai jam 9.30," begitu ujar
seseorang yang berjaga di depan. Sepertinya satpam, tapi tidak
berseragam satpam. Maka, TIM menjadi tempat berlabuh menanti jam
buka, berhubung perut keroncongan, bakso pun ludes.
Pukul 5.45 an, kami berjalan kaki ke Cikini IV dengan santai
menikmati kebisingan, JJS euy...
Agak ragu, kami memasuki bangunan itu, di balik dinding hitam, kami
menemukan satu ruang kaca Airlines Japan di sisi kanan, dan kolam
ikan mungil dengan jembatan yang mengantarkan kami ke pintu resto,
tidak sampai satu meter, begitu mungil nan teduh.
Apakah sambutan, atau hipnotis, kami bengong begitu melewati pintu
kaca depan, ruangan memanjang sekitar 8 meter, dengan lebar sekitar
3,5 m. Di samping kiri meja berisi sekitar 4 orang, satu keluarga
sedang menelusuri buku menu. Seorang yang sepertinya manajer resto
itu langsung menyambut dengan 'pengusiran'. "Mohon maaf, penuh
sekali.." Ooops....... tapi perjuangan belum selesai, akhirnya kami
masuk sebagai waiting list dan diminta kembali pukul 7 an. Thanks
God.. ada TIM ..laghie.
Pukul 6.45, kami menelpon resto, memastikan mendapatkan kursi. Kami
kembali melangkah ke Kikugawa. Kali ini, kami harus antri.. sekitar
30 menit, setelah mendapat sapaan manajer tadi, "Maaf, tunggu
sebentar ya, meja sebelah sana hampir selesai." Kami tersenyum...
Marah? Sepertinya tak terlintas, resto ini benar2 menghipnotis.
Nuansa bambu, lighting nan teduh, musik dari alat musik tradisional
Jepang mengalun sayup, 4-5 pelayan wanita usia mungkin di bawah 20
atau 25tahun hilir mudik dengan senyum yang selama ini hampir tidak
pernah kami temui di resto-resto atau waralaba yang menjamur..
mereka tidak berpenampilan ala Jepang seperti resto Jepang di mall,
dengan blazer coklat tanah, rok selutut hitam, make-up segar
yang 'natural', mereka hilir mudik membawa nampan, mencatat pesanan,
juga satu-satunya pria berkemeja putih, berdasi yang menyambut kami.
Berdiri hampir setengah jam sambil menikmati ruangan, di samping
kanan bersekat bambu/dinding dengan interior bambu, ada sekitar 6
meja berisi 5-6 orang tiap meja. Benar-benar resto imut ... kami deg-
deg an juga dengan harganya.. dengan pelayanan kelas tinggi,
rekomendasi Kompas, tapi di Kompas tertulis tidak mahal, wah.. kami
masih sangsi, sushi, sashimi..
Adegan mengantri bertambah seru, ketika ada pengunjung yang dengan
halus ditolak karena penuh, mereka tetap meminta untuk makan di
mobil. Namun sang manajer tetap dengan keramahan menolak, karena
tidak sanggup menjanjikan. Tidak hanya itu, manajer pun menolak pada
pengunjung yang meminta 'take away'. Penolakan yang halus dan penuh
perhitungan.
Akhirnya, kami mendarat juga di kursi rotan sederhana
yang.......alamak, sangat nyaman. Setelah memesan sushi set &
salmon, ternyata berbincang hingga setengah jam tidak terasa, hingga
satu pelayan menghampiri dan memohon maaf karena sushi habis.
Glek... untuk sashimi masih bisa tetapi menunggu 20 menit karena on
the way. Maka, salmon kita minta untuk dihidangkan dulu.
Ketika nasi sushi terhidang untuk meja depan, kami merasa
beruntungnya mereka, sushi terakhir..hiks.. di samping seorang bule
dan perempuan Indonesia asyik menikmati tenpura dan hidangan lain..
ah..
Tiba-tiba seorang bapak di depan kami tertawa, "Wah.. ini
seru..seru, di mana-mana pesanan sepuluh menit keluar, di sini satu
jam, kokinya berapa ya?" Curhat pun terjalin di 'alley' itu, suasana
telah meleburkan resto menjadi perjamuan di sebuah rumah, serasa
bertandang di rumah seseorang.
Ketika salmon itu tersaji, kami semakin tak bisa berkata-kata...
kelezatannya, kesegarannya... saladnya pun bumbu kacang yang ..wah
segar sekali, mirip asinan Bogor, tapi.. asinan itu lewat deh.
Kejutan berikutnya datang dari sashimi.. hmm.. ini pertama kalinya
saya makan sashimi, melihat irisan daging ikan yang merah segar di
atas serutan lobak.. seperti adu nyali, yang terbayang kenangan
makan sushi yang kadang kenyal aneh. Woow.. tak ada sedikit pun
amis, dagingnya sangaaaaaaaaat lembut, seperti puding, wasabi pun
menjadi balutan yang memesona.
Biasanya santapan ikan akan membuat gerah untuk segera menyikat
gigi, tapi... itu sama sekali tidak ada, speechless. Oya, ..harga..
untuk sushi set isi 9 macam, tertera sekitar 30-40rb, bahkan untuk
Ume set yang berisi 5 santapan Jepang terkenal seharga 60 ribu an.
Dengan rasa yang luar biasa nikmat, pelayanan hati, nuansa nyaman
dalam arti sesungguhnya, excellent adalah pujian yang tepat.
Percakapan antar pengunjuang menguak rahasia, tiga meja yang hadir
adalah korban pembaca Kompas Sabtu pagi ..hahahaks...
Sebelum meninggalkan resto itu, kami berbincang dengan manajer, ia
berkali-kali meminta maaf atas pelayanan yang menurutnya kurang
memuaskan tamu. Sontak, kami menepis dengan kepuasan yang sangat
sangat, keenakan masakannya yang benar-benar tak terkatakan. Menurut
sang manajer, pemilik resto ini memang sensitif pada media, hanya
pada tahun 2003 dan kemarin, itu pun karena dalam rangka
Memperingati Hubungan Baik antara Indo-Jepang. Sepertinya malam itu
un sebenarnya telah diantisipasi karena sejak pagi telepon tidak
berhenti berdering, "Padahal kami tidak memberikan nomor telepon
pada wartawan Kompas itu," kata sang manajer.
Resto itu membuat lupa kehidupan kapitalis, yang serba cepat, buru-
buru, tidak enak plus mahal. Hmmm.. seperti yang pernah
kudengar, "Makanan orang kaya itu; indah, sedikit, tidak enak dan
harus mahal".... Sungguh, tidak berlaku di Kikugawa. Bahwa
excellent tidak berarti mahal, tidak berari dingin.
Saya masih terbata menceritakan pengalaman ini, entah apakah
berlebihan, tapi rasanya tidak. Jika ingin menjajal, silahkan ke
Cikini IV/13, .. sebaiknya pesan by phone dulu ke 0213150668. telp
ini saya dapatkan dari kartu nama resto yang bisa anda temukan juga
ketika memasuki ruangan, kemungkinan wartawan Kompas pun mendapatkan
dari itu.
Enjoy it, mungkin kita bersama ketemu di sana, tapi.. jelas sulit
untuk kopdar apalagi untuk FPK hehehe.. karena kapasitas sepertinya
tidak lebih dari 70an. Yang jelas, sepasang suami istri memberikan
kartu nama dengan tawa berderai dan berucap 'Telp saya kalau mau
makan di sini lagi, kami gabung "
Oya, Minggu dan hari libur nasional tutup.
Tengkyu Kompas,
Arigato Gozaimas Kikugawa,
... akhirnya menemukan juga satu resto yang menyajikan kenikmatan
dengan balutan hati.
Salam,Pipit