Download Film The Sultan 2 Indonesia Full Movie

0 views
Skip to first unread message
Message has been deleted

Vladimir Stringfield

unread,
Jul 17, 2024, 5:10:47 PM7/17/24
to mindplyfberrods

Film dengan genre drama kolosal ini akan menampilkan tokoh Sultan Agung yang dikenal ambisius dan pemberani karena keputusannya menyerang VOC di Batavia. Selepas kepergian ayahnya, Panembahan Hanyokrowati, Raden Mas Rangsang yang saat itu masih remaja langsung menyandang gelar Sultan Agung Hanyakrukusuma. Tentu saja ini bukan perkara mudah baginya mengingat di usia yang masih dini, ia sudah harus mengemban tanggung jawab besar.

Download Film The Sultan 2 Indonesia Full Movie


Download Zip --->>> https://shoxet.com/2yLSx6



Sultan Agung yang diperankan oleh Ario Bayu mengalami berbagai pergolakan batin. Cintanya dengan Lembayung ( Putri Marino) harus kandas karena ia telah dijodohkan dengan perempuan ningrat yang diperankan oleh Anindya Kusuma Putri. Selain itu, Sultan Agung juga harus bisa menyatukan para adipati di Jawa yang tercerai berai karena politik dan adu domba VOC.

Awal mula kepemimpinannya, semua berjalan lancar sampai suatu hari Sultan Agung mengetahui VOC ingkar janji dengan membangun kantor dagang di Batavia. Tanpa pandang bulu, Sultan Agung langsung mengibarkan bendera perang. Ia berjuang hingga titik darah penghabisan dan menghadapi berbagai pengkhianatan saat bertarung.Demi memberantas VOC, ia tidak peduli jika harus menyeberang ke tanah Sunda dan Batavia yang jauhnya ribuan kilometer. Misinya saat itu sangat sederhana, yakni meruntuhkan benteng VOC dan membunuh Presiden VOC saat itu, Jan Pieterszoon Coen. Lantas bisakah ia memenuhi ambisinya?Bagi kamu yang penasaran dengan kisah Sultan Agung dan perjuangannya membebaskan Batavia dari cengkraman penjajah Belanda, film SULTAN AGUNG sudah bisa ditonton di bioskop kesayangan mulai tanggal 23 Agustus 2018. So, jangan sampai ketinggalan ya!

Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Agung (1613 - 1645), adalah raja Mataram yang telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Di bawah kekuasaannya, Mataram menjadi salah satu kerajaan terbesar di Jawa, hingga Nusantara saat itu.Di masa kepemimpinannya, Belanda dengan pusat dagang VOC telah masuk ke wilayah Indonesia. Sang sultan sempat diajak kerja sama oleh Belanda. Ia sempat menolak, tapi akhirnya pernah bekerja sama hingga akhirnya Belanda dianggap melakukan kecurangan. Sultan Agung juga yang membangun makam kerajaan untuk raja-raja Jawa, Imogiri. Pada 1645, merasa ajalnya telah dekat, Sultan Agung membangun pusat pemakaman Kesultanan Mataram.

SULTAN AGUNG digarap tidak semata untuk tontonan saja. Lewat film ini diharapkan nilai-nilai perjuangan yang tertuang di dalam kisah Sultan Agung tersampaikan kepada penonton.Dari official trailernya yang sudah dirilis, SULTAN AGUNG bakal secara kronologis menceritakan masa remaja Sultan Agung, kedekatannya dengan sosok perempuan dalam hidupnya, hingga ia naik tahta dan harus memimpin perang demi rakyat.Sudah Baca?

  • Wiro Sableng: Melirik Popularitas Sang Pendekar Cengar-Cengir
  • Tunggu Dua Tahun, 'UDAH PUTUSIN AJA!' Akhirnya Siap Rilis di Bioskop
  • Terkuak! Hannah Al Rashid Rupanya Sosok yang Tak Mudah Percaya Diri
  • Senewen Indro Warkop Akting Jadi Alien, Bikin Tora Sudiro Sering Ulang Adegan
  • Main Film Hollywood, Iko Uwais Batasi Adegan Telanjang dan Ciuman

IVOOX.id, Jakarta - Setelah menikah dan dikaruniai dua anak, aktivitas Tina Astari di ranah hiburan memang tak seaktif sebelum menikah. Di tahun ini, Tina memiliki rencana untuk berada di belakang layar dengan menjadi produser dan membuat satu film bergenre Biopik.

Artis yang aktif di dunia hiburan sejak membintangi sinetron "Darah Gudang" (2002) ini membocorkan film yang akan dibuatnya itu mengangkat kisah salah satu sosok pendiri bangsa, yakni Sultan Hamid II dari Pontianak. Yang ingin dikisahkan di film itu, salah satunya adalah cerita dibalik lahirnya lambang Garuda sebagai lambang negara yang lahir dari imajinasi Sultan Hamid II.

Tina mengatakan meski orang tahu lambang Garuda sebagai lambang negara, namun tak banyak yang tahu siapa pembuatnya. Ini kan pengetahuan sejarah kita ya. Perlu diketahui oleh anak-anak sekarang. Jangankan anak, orang dewasa aja banyak yang lupa siapa pembuat lambang negara. Makanya aku sama suami aku yang kebetulan orang Kalimantan Barat, ingin mengangkat kisah beliau. Supaya orang sekarang tahu siapa sosok dibalik lambang negara kita," jelas Tina.

Untungnya, untuk mencari tahu seperti apa kisah hidup samg sultan, Tina mendapat dukungan penuh oleh pihak keluarga kerajaan di Kalimantan Barat. Tina pun sudah mulai mencari tahu sosok Sultan Hamid untuk menambah wawasannya untuk film tersebut.

Kalau dari kerajaan sangat mendukung. Aku juga mencari tahu sosok beliau, aku buka banyak literatur. Ternyata, beliau sosok lelaki yang tampan dan flamboyan semasa hidupnya. Oh ternyata beliau ganteng ya. Sosoknya flamboyan lagi," beber Tina.

Sejauh ini, Tina masih terus melakukan persiapan untuk filmnya itu. Soal siapa yang bakal memerankan tokoh Sultan Hamid II, Tina masih melakukan penelitian dan belum menemukan sosok yang tepat. (luthfi ardi)

Jujur saja, saya datang ke bioskop untuk menonton film ini sambil menenteng kecurigaan awal. Sudah tertanam di benak saya satu prasangka kuat dan segepok kekecewaan terkait kualitas riset sejarah Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta, film terbaru Hanung Bramantyo.

Prasangka itu muncul karena beberapa hari sebelumnya beredar sebuah 'kritik' yang viral di media sosial. Di situ disebutkan kecerobohan Hanung karena menghadirkan pasukan Mataram dalam performa semi-primitif, semata mengandalkan senjata-senjata tradisional untuk menyerang benteng VOC di Batavia.

Sementara itu, dalam berbagai literatur sejarah, jelas disebutkan bahwa Mataram menyerang dengan senjata-senjata api pula, mulai senjata genggam hingga meriam. Teknologi senjata api sudah diakses oleh kerajaan-kerajaan Nusantara pada masa itu.

Maka, saya pun menanti-nanti adegan penyerangan Mataram. Dan, aduh..., ternyata apa yang sangka-sangka dan saya baca dari unggahan viral itu tak lebih dari penilaian gegabah yang cuma berbekal tayangan trailler!

Ya, senjata api dan meriam-meriam besar ditampilkan sebagai alutsista wajib wadyabala Mataram dalam film Sultan Agung. Dari situlah saya memutuskan bertahan mengikuti film berdurasi 2,5 jam ini hingga tuntas, baru kemudian mengoceh tentangnya.

Cerita dimulai dengan kisah Mas Rangsang (Marthino Lio) yang belajar di Padepokan Jejeran, berguru kepada Kiai Jejer (Deddy Sutomo). Di situ ia berjumpa dengan cinta masa remajanya, Lembayung (Putri Marino).

Mas Rangsang pun dihadapkan pada situasi tak bisa menolak ketika Ki Juru Mertani (Landung Simatupang) menunjukkan realitas pahit yang dihadapi Mataram apabila kekuasaan Mataram dilanjutkan ke tangan Pangeran Martopuro.

Maka, Mas Rangsang pun naik takhta, dengan nama Susuhunan Hanyokrokusumo (gelar sultan baru didapatkan pada masa-masa akhir kekuasaannya). Pemegang kekuasaan baru itu langsung dihadapkan pada tantangan, yakni munculnya orang-orang Kompeni VOC yang semakin merajalela. Dari situlah Susuhunan Hanyokrokusumo (Ario Bayu) memutuskan menyerang Batavia dengan mengerahkan segenap bala tentara Mataram berikut rakyat jelata yang terkena wajib militer.

Dari pelajaran sejarah di sekolah saja kita tahu bahwa dua gelombang penyerbuan pada bulan Agustus dan Oktober 1628 itu menemui kegagalan. Selama berbulan-bulan proses itu pula, digambarkan terjadi perdebatan, keragu-raguan, juga pengkhianatan, yang cukup mempengaruhi keyakinan Susuhunan akan makna aksi penyerangan atas Batavia.

Tumenggung Notoprojo (Lukman Sardi) muncul sebagai sosok sentral dari penyebar keragu-raguan itu. Ia tokoh yang mempertanyakan misi Susuhunan atas penyerbuan: demi ego atau demi rakyat Mataram? Jika demi rakyat, hasilnya justru penderitaan dan bencana kematian.

Namun, di sela-sela kegalauannya, Susuhunan tetap teguh. Ia berkukuh bahwa gerakan tetap harus dilanjutkan, karena aksi itu bukanlah demi tujuan jangka pendek saja, melainkan demi kebanggaan anak-cucu hingga ratusan tahun mendatang.

Dari keseluruhan cerita, entah kenapa bagian yang paling membekas di kepala saya setelah keluar dari gedung bioskop bukanlah adegan-adegan penyerbuan ke Benteng Hollandia, melainkan wajah Lembayung muda. Buat saya, kisah percintaan berikut kisah patah hati antara Mas Rangsang dan Lembayung adalah bagian tercantik dari keseluruhan film itu. Apakah ini terjadi semata karena saya ini spesies lelaki cengeng, atau karena Hanung memang paling ahli dalam membuat adegan-adegan percintaan?

Saya rasa, jawaban kedualah yang benar. Lembayung memang sosok fiktif, ia tak ada dalam catatan sejarah. Jika yang diacu adalah tokoh historis salah satu istri Sultan Agung dari Jejeran, ia tentulah gadis yang belakangan bergelar Ratu Kilen, putri Kiai Jejer alias guru Mas Rangsang sendiri. Namun ini bukan. Lembayung adalah anak lurah setempat, sosok yang terlalu jauh kastanya di bawah keluarga kedaton, sehingga penobatan Mas Rangsang sebagai Susuhunan Hanyokrokusumo berarti tamatnya kisah cinta Mas Rangsang dan Lembayung.

Harus saya akui, meski Lembayung sosok fiktif, kisah cinta dan kisah patah hati kedua anak muda itu menyelamatkan banyak hal dari film ini. Ia tidak tampak sebagai kisah menye-menye yang terlalu dibuat-buat, penuh kejutan tak bermutu, lalu berakhir dengan "mereka bahagia selamanya". Saya kasih nilai delapan untuk Hanung pada bagian ini.

Pada fase setelah pergantian takhta, permainan watak Ario Bayu cukup memukau. Dengan karakter wajah dan posturnya, anak muda satu itu betul-betul sempurna memerankan sosok raja yang paling perkasa dalam sejarah Mataram. Kehadirannya nyaris persis dengan imajinasi saya sejak kecil ketika dihadapkan pada beberapa serpih gambar Sultan Agung di buku terbitan Balai Pustaka. Karakter suaranya yang kokoh, tusukan dari sorot matanya, dan gestur tubuhnya membuat saya bersyukur bahwa akhirnya Hanung tidak mengambil jurus 'Reza Rahardian lagi Reza Rahardian lagi'.

Sayang, bagian menarik, yakni perang batin Susuhunan yang ragu antara melanjutkan penyerbuan atau menghentikannya demi keselamatan rakyat Mataram, kurang kuat digambarkan. Itu aneh, dan menjadikan sosok si Raja Mataram kehilangan sisi manusiawinya, yang sebelumnya sudah ditampilkan dengan sempurna pada fase sebelum naik takhta. Karakter sebagai raja memang mantap, namun karakter sebagai manusia terasa minimalis.

7fc3f7cf58
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages