[R@ntau-Net] Kawin se Suku Marak .

245 views
Skip to first unread message

zul amri

unread,
Sep 11, 2006, 12:40:42 AM9/11/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Senin, 11-September-2006, 03:27:13

Padang, Padek—Semakin banyaknya perkawinan dalam satu suku saat ini memprihatinkan banyak pihak, terutama bundo kanduang. Kondisi itu dinilai, mencerminkan kurangnya tanggung jawab orangtua dalam memperkenalkan adat dan budaya Minang ke anak.

”Kawin satu suku ini sangat banyak kita temui di dalam kehidupan masyarakat. Hendaknya orangtua ketika melihat anaknya dekat dengan seseorang, maka ditanya terlebih dahulu sukunya apa. Ini dilakukan agar terhindar dari kawin sesuku,” kata Ketua Bundo Kanduang Padang Timur Kartini disela-sela Seminar Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) di aula Akper Ranah Minang Sabtu (9/9).

Tidak hanya itu, orang Minang yang sifatnya perantau serta mempunyai anak dan cucu dirantau juga harus ada tanggungjawab moral dalam memberitahu dan mengingatkan anak akan suku yan melekat di dalam dirinya.

Seminar dengan tema ”Kabek dapek dibukak, buhua jan sampai goyah” menandakan juga walau era globalisasi semakin modern dan kemajuan zaman tidak dapat dihindari, tetapi jangan sampai adat dan budaya Minang goyah terhadap modernisasi tersebut.

Kartini mengakui kalau bukan hanya puti bungsu (generasi muda-red) saja yang tidak mengenal adat Minang, tetapi bundo kandung juga banyak yang tidak paham dan mengerti tentang adat Minang itu sendiri.

”Kita mengakui kalau banyak juga bundo kanduang yang tidak paham akan adat Minang itu sendiri. Sebab itulah kita ingin menyamakan langkah dan persepsi tentang hal ini untuk dibawa dan diajarkan ke anak dan lingkungan,” ucap ibu empat orang anak ini.

Seminar yang diselenggarakan satu hari penuh ini dihadiri oleh bundo kanduang dari semua kecamatan yang ada di Kota Padang.

Selain itu, lanjutnya, pakaian orang Minang dahulu yang disebut ”baju basiba” seperti baju kurung longgar serta tidak menampakkan lekuk tubuh, saat ini ucapnya lagi disosialisasikan bundo kanduang Kecamatan Padang Timur untuk dipakai sehari-harinya dan juga dalam menghadiri berbagai acara.

Sementara itu Camat Padang Timur Yalmasril mengaku kagum akan kegiatan yang diselenggarakan oleh para bundo kanduang yang ada di lingkungannya. ”Bundo kanduang yang ada di Padang Timur ini selalu aktif dalam membuat kegiatan yang sangat bermanfaat bagi generasi muda yang saat ini memang sudah hampir tidak tahu akan adat dan budayanya sendiri seperti bagaimana bersikap, berpakaian, dan lainnya,” katanya.

Sebab itu ia berharap agar dalam kegiatan inmuncul pemikiran-pemikiran bernas yang mampu mengangkat dan mengembalikan adat budaya minang yang sudah hampir hilang dan terbenam. (nen)


---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Yanurmal

unread,
Sep 11, 2006, 2:14:40 AM9/11/06
to pal...@minang.rantaunet.org, tiph...@yahoogroups.com
Assalamualaikum wr.wb.

Saya ingin mengomentari berita Padek ini.

Saya memang bukan ahli tentang adat minangkabau tetapi saya dibesarkan
dilingkungan adat minangkabau yang menyebabkan sedikit2 saya bisa
mengenal adat mingangkabau.

Terutama "ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH".
Oleh orang tua2 yang ada disekitar saya dibesarkan, kata2 diatas
berarti kira2 begini "ADAT BERLANDASKAN AGAMA, AGAMA BERDASARKAN
KITABULLAH". Yang terjemahannya adalah "semua hukum adat mengacu ke
hukum agama (islam)". Semua aturan adat akan diselarasakan dengan
ketetuan Allah sebagai pedoman utama dalam menajalankan adat.

Perkawinan sasuku memang masih tabu (menurut hukum adat) di ranah
minang. Tetapi kalau kita mengacu ke ketentuan Allah, tidak semua yang
tergolong sasuku (yang dilarang adat) yang juga dilarang agama.

Bagaimana dengan bagian sasuku yang diperbolehkan oleh Allah?
Dalam hal ini apakah "adat melakukan pembangkangan terhadap syarak,
atau orang minang yang tidak mengerti azas hukum adatnya?"

Apapun jawabanya, yang pasti orang mingakabau mempunyai dasar agama
yang lebih baik dibanding tetangganya karena azas hukum adat minang
mengacu ke agama, sehingga terbentuklah pribadi2 "buya" dalam setiap
diri masayarakat minang (dulu).

Lalu kenapa masih ada yang menjalankan hukum yang bertentangan dengan
hukum Allah?

Itulah anehnya, ternyata adat minang itu sekuler, bukan basandi
syarak. Dengan kerasnya pemuka-pemuka adat "mendominasikan hukum2 adat
walapun bertentangan dengan hukum agama" (maaf, saya yakin tidak semua
pemuka adat begitu).

Seharusnya disaat itu terjadi kita "harus" meninggalkan adat dan
menegakkan agama Allah. Buat apa mengikuti adat jika mengakibatkan
kita masuk neraka?

Saya sangat mendukung mereka yang melakukan perkawinan sasuku yang
tidak bertentangan dengan hukum Allah. Itu adalah momen untuk
memperlihatkan bahwa adat minang memang mengacu ke hukum agama.

Dosa besar membuat hukum yang bertentangan dengan hukum Allah.
Untuk orang tua, jika anda melarang perkawinan anak karena alasan
adat, maka terimalah hukum allah nantinya. ITU PASTI. Tetapi jika anda
melarang perkawinan anak anda karena keburukan agama calon menantu
anda, maka anda dijalan Allah.

Janganlah anda menjadi "pemikir-pemikir bernas" yang mengembalikan
adat jahiliyah. Jadilah pemikir bernas yang mengangkat adat jahilyah
menjadi adat masa kini dan masa depan dibawah hukum Allah. Kita
tertinggal jauh dengan aceh yang sudah menyatakan dengan
terang-terangan pengakuan hukum Allah atas mereka tanpa meninggalkan
'keacehan' mereka.

Bagaimana dengan adat mingakabau dengan hukum Allah? ALLAHUAKBAR,
itulah ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH.

Demikian buah pemikiran saya, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.
Jangan ragu untuk menyalahkan saya jika memang saya salah.

Wassalamualakum wr.wb.
Yanurmal

indra catri

unread,
Sep 11, 2006, 10:22:25 AM9/11/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamualaikum wr.wb.

Bapak2, Ibu2, Dunsana Kasadonyo.

Tadi pagi ambo pun takajuik saat mambaco berita di Padek dengan judul KAWIN SE SUKU MARAK. Tapuranggah sabanta kenapa bisa terjadi?

Selama ini peristiwa kawin sasuku sedapatnya dihindari. Tapi bukan berarti tidak mungkin sama sekali. Ada aturan atau peluang-peluang yang diberikan oleh adat untuk dapat melangsungkan "kawin sasuku" sepanjang itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sayangnya aturan itu tidak digariskan secara jelas dan tertulis agar dapat dipahami oleh banyak kalangan sehingga kawin sasuku selalu dipersepsi sebagai terlarang.

Namun setelah difikirkan lebih jauh nampaknya batasan kawi n sasuku tersebut bisa jadi mempersempit ruang gerak bagi seseorang untuk mendapatkan jodoh dan membina rumah tangga secara baik dan wajar. Sebagi contoh, salingka nagari dan kaum bolahlah ditabukan tapi apakah tetap dilarang seorang gadis keturunan suku jambak dari Lubuaksikapiang (Pasaman) yang ibunya dilahirkan dan dibesarkan di Pekanbaru kawin dengan seorang seorang perjaka suku Jambak yang berasal dari Muarolabuah (Solok Selatan) yang ibunya dilahirkan dan besarkan di Jakarta. Persoalannya tentunya tidak menjadi sederhana.

Contoh lain, di Kanagarian Koto Tinggi (Baso-Agam) pada beberapa tempat laki-laki dari suku Pisang Gadang bisa sajo kawin dengan perempuan dari suku Pisang Laweh tapi di beberapa tempat justru tidak diperbolehkan kareno dikaitkan dengan ranji nenek moyang dan sako dan pusako mereka.Tapi dari suku Malayu dengan beberapa pecahannya seperti Melayu Kubang Ameh dan Melayu Bawah Lasuang justru tidak diperbolehkan. Di kota Padang, malahan antoro suku Melayu dan Guci menyatakan diri "sababan" dan tentunya menghindari kawin antar sesama. Tapi apakah memang seharusnya demikian.

Bagi komunitas suku Melayu (kebetulan ambo pangulu suku malayu) mulai merasakan kalau kawin terlarang antar sesuku diluar batas nagari mutlak patuhi maka lama kelamaan akan sulit untuk tidak dilangar. Bagaimanapun penduduk akan bertambah banyak dan rantau akan semakin meluas maka akan semakin sulit bagi kami untuk tidak mengizinkan anak kamanakan dari Baso (sekali lagi contoh) untuk kawin dengan anak kamanakan suku melayu dari Sijunjuang, Tanjuang Pinang, Tanah Datar, Solok, Lubuak Basuang, Talu dan belahan bumi lainnya.

Kesimpulanya, perlu pemikiran yang lebih mendalam tentang batasan larangan kawin sasuku di masa datang. Perlu aturan yang lebih jelas, terukur, dan dimaklumi banyak pihak agar`konflik dan fitnah yang mungkin ditimbulkan akibar dari kawin sasuku bisa direduksi. Artinya tidak cukup dengan hanya membisikan ketelingga anak kemenakan kita bahwa kawin sasuku tidak boleh karena pada sisi yang lain ajaran agama kita mengajarkan bahwa semua wanita Islam dan Ahli Kitab halal bagi lelaki Islam kecuali...... Nan kanduang (Nenek, Ibu, saudara, mak uo, etek, sepupu), istri orang,.... dan seterusnya.

Mari kita kembangkan wacana ini untuk mendapatkan kebenaran yang lebih hakiki. Talantuang kanaik tasinggung katurun rila jo maaf ambo mintak.

Wassalam, Indra Catri Dt.Malako Nan Putiah

Wassalamualakum wr.wb.
Yanurmal



---------------------------------
Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out.

indra catri

unread,
Sep 11, 2006, 10:22:19 AM9/11/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamualaikum wr.wb.

Bapak2, Ibu2, Dunsana Kasadonyo.

Tadi pagi ambo pun takajuik saat mambaco berita di Padek dengan judul KAWIN SE SUKU MARAK. Tapuranggah sabanta kenapa bisa terjadi?

Selama ini peristiwa kawin sasuku sedapatnya dihindari. Tapi bukan berarti tidak mungkin sama sekali. Ada aturan atau peluang-peluang yang diberikan oleh adat untuk dapat melangsungkan "kawin sasuku" sepanjang itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sayangnya aturan itu tidak digariskan secara jelas dan tertulis agar dapat dipahami oleh banyak kalangan sehingga kawin sasuku selalu dipersepsi sebagai terlarang.

Namun setelah difikirkan lebih jauh nampaknya batasan kawi n sasuku tersebut bisa jadi mempersempit ruang gerak bagi seseorang untuk mendapatkan jodoh dan membina rumah tangga secara baik dan wajar. Sebagi contoh, salingka nagari dan kaum bolahlah ditabukan tapi apakah tetap dilarang seorang gadis keturunan suku jambak dari Lubuaksikapiang (Pasaman) yang ibunya dilahirkan dan dibesarkan di Pekanbaru kawin dengan seorang seorang perjaka suku Jambak yang berasal dari Muarolabuah (Solok Selatan) yang ibunya dilahirkan dan besarkan di Jakarta. Persoalannya tentunya tidak menjadi sederhana.

Contoh lain, di Kanagarian Koto Tinggi (Baso-Agam) pada beberapa tempat laki-laki dari suku Pisang Gadang bisa sajo kawin dengan perempuan dari suku Pisang Laweh tapi di beberapa tempat justru tidak diperbolehkan kareno dikaitkan dengan ranji nenek moyang dan sako dan pusako mereka.Tapi dari suku Malayu dengan beberapa pecahannya seperti Melayu Kubang Ameh dan Melayu Bawah Lasuang justru tidak diperbolehkan. Di kota Padang, malahan antoro suku Melayu dan Guci menyatakan diri "sababan" dan tentunya menghindari kawin antar sesama. Tapi apakah memang seharusnya demikian.

Bagi komunitas suku Melayu (kebetulan ambo pangulu suku malayu) mulai merasakan kalau kawin terlarang antar sesuku diluar batas nagari mutlak patuhi maka lama kelamaan akan sulit untuk tidak dilangar. Bagaimanapun penduduk akan bertambah banyak dan rantau akan semakin meluas maka akan semakin sulit bagi kami untuk tidak mengizinkan anak kamanakan dari Baso (sekali lagi contoh) untuk kawin dengan anak kamanakan suku melayu dari Sijunjuang, Tanjuang Pinang, Tanah Datar, Solok, Lubuak Basuang, Talu dan belahan bumi lainnya.

Kesimpulanya, perlu pemikiran yang lebih mendalam tentang batasan larangan kawin sasuku di masa datang. Perlu aturan yang lebih jelas, terukur, dan dimaklumi banyak pihak agar`konflik dan fitnah yang mungkin ditimbulkan akibar dari kawin sasuku bisa direduksi. Artinya tidak cukup dengan hanya membisikan ketelingga anak kemenakan kita bahwa kawin sasuku tidak boleh karena pada sisi yang lain ajaran agama kita mengajarkan bahwa semua wanita Islam dan Ahli Kitab halal bagi lelaki Islam kecuali...... Nan kanduang (Nenek, Ibu, saudara, mak uo, etek, sepupu), istri orang,.... dan seterusnya.

Mari kita kembangkan wacana ini untuk mendapatkan kebenaran yang lebih hakiki. Talantuang kanaik tasinggung katurun rila jo maaf ambo mintak.

Wassalam, Indra Catri Dt.Malako Nan Putiah

Wassalamualakum wr.wb.
Yanurmal



---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

Razi, Muhammad

unread,
Sep 11, 2006, 8:29:24 PM9/11/06
to pal...@minang.rantaunet.org, su...@yahoogroups.com, ba...@yahoogroups.com, Kurniady, Herry
Menarik sekali artikel nan dikirm dek Pak Zul Amri.. Ko...

Judul Kawin se-Suku Marak.. Sangat mengandung perhatian dan 'dalam' makna. Terutama setelah diskusi tentang harta pusaka beberapa waktu lalu. Sinkronisasi ABS-SBK perlu ditelisik lagi.
Sakali ko.. Ambo mancubo manyampaikan dalam bahaso tulisan.. Bahaso Indonesia sajo.

1. Sumber Al-Qur'an tercantum informasi tentang mereka-mereka yang haram untuk dinikahi.. Semua pesan dilihat dari sisi pihak laki-laki, karena disebutkan bahwa haram bagi laki-laki untuk menikahi 'wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu (ibu tiri), ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara (Annisa: 22-23)

2. Dari ilmu genetika.. Mendukung apa yang dijadikan Allah fitrah manusia. Gen atau penurun sifat yang melekat pada setiap individu memiliki pasangan-pasangan yang dilanjutkan kepada janin (keturunan). Gen yang dominanlah yang akan muncul sebagai ciri-ciri keturunannya. Faktor dominan dalam gen lebih banyak pada laki-laki.
Ada pengaruh negatif bila bertemu kembali (baca: kawin) gen-gen yang dari sumber yang dekat, bisa jadi sifat-sifat yang tadinya buruk muncul jadi dominan.

3. Nuansa Minangkabau disebutlah dengan Suku yang melalui jalur keturunan Ibunya. Berlanjutlah bahwa ciri-ciri komunitas Minang dan asalnya diambil dari Ibunya. Sementara kedudukan bako (keluarga Ayah) memang 'besar' tapi tidak terlalu nampak dipandangan saya. (mungkin eksplorasinya kurang dalam, contoh kurang banyak, dan interaksipun kurang, ditambah lagi pengetahuan yang saya miliki belum banyak).
Kembali ke masalah, perkawinan sesuku 'ditetapkan' secara bahasa hukum informal (hukum adat) adalah tidak boleh dan akan dipertentangkan (sebagai pengganti bahasa/kata-kata: 'haram'). Apalagi bila ranjinya dapat ditelusuri dalam keluarga ibu.

Jikalau demikian adanya, ada 'pengharaman' atau hukum non Al-Qur'an dalam komunitas Minang ini karena pernikahan sesuku. Apakah ini tambahan atau 'memang demikian adanya' atau 'sudah dari sononya begitu'???

Analisis:
1. Bagaimana Allah akan melihat hal ini sebagai interaksi 'hablum minannaas'??? Secara hukumah, urusan muamalah antar manusia tidaklah banyak diatur dalam Al-Qur'an... Karena itulah Allah memberikan payungnya saja. Lain hal dengan yang jelas tertulis dalam Al-Qur'an seperti An-nisa: 22-23 di atas/
2. Bagaimana pula ABS-SBK tentang perkawinan sesuku ini dikatakan 'sejalan' dengan hukum Allah dalam Al-Qur'an??

Na'udzubillah bilamana disebut dengan 'menambahkan hukum lain selain Al-Qur'an' yang dikenal sebagai BID'AH.

Wallahu'alaam bish shawaab. Hanya kepada Allah kita berlindung dan memohon pertolongan untuk tegaknya Syariah Allah di bumi Minangkabau.

Muhammad Razi
31 tahun - Duri, Riau

Tambahan/ilustrasi:
Saya dipindahkan ke Indonesia untuk alasan pendidikan yang kurang memadai di luar negeri (tahun 1989). Melanjutkan studi secara formal selama hampir 5 tahun di Bukittinggi (SMP kls3 dan SMA) dilanjutkan setahun di UNAND. Setelah itu ganti perguruan tinggi di Bandung.
Domisili saat itu bersama saudara dari Ibu saya yang notabene anak-anak beliau(sepupu saya) adalah bukan muhrim bagi saya. Lebih-lebih lagi masa itu usia sedang akil balig. Luar biasa effect yang diberikan oleh masalah 'persukuan' di negeri tempat Ibu saya di Ranah Minang, tepatnya Jambu Air, Bukittinggi.
Saya ditakdirkan Allah lahir dari Ibu saya di Cairo, Mesir dan ikut bersama Ayah saya pindah ke Riyadh, Saudi Arabia.
Masa kecil berinteraksi dengan berbagai komunitas, adat, bahasa dan agama.

-----Original Message-----
From: palanta...@minang.rantaunet.org [mailto:palanta...@minang.rantaunet.org] On Behalf Of zul amri
Sent: Monday, September 11, 2006 11:41
To: pal...@minang.rantaunet.org
Subject: [R@ntau-Net] Kawin se Suku Marak .

Senin, 11-September-2006, 03:27:13

Padang, Padek-Semakin banyaknya perkawinan dalam satu suku saat ini memprihatinkan banyak pihak, terutama bundo kanduang. Kondisi itu dinilai, mencerminkan kurangnya tanggung jawab orangtua dalam memperkenalkan adat dan budaya Minang ke anak.

Munir, Irwan (irwanm)

unread,
Sep 11, 2006, 9:49:17 PM9/11/06
to pal...@minang.rantaunet.org, tiph...@yahoogroups.com
SyukurAlhamdulillah, saya sangat setuju dengan pemikiran ini, padek dan hal ini juga sudah pernah sebelumnya pada tahun 1985-1986 saya diskusikan dengan seorang pemuka adat khusus masalah kedudukan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah ini (Di syarak mangato di adaik mamakai) yang dihubungkan dengan kawin sasuku ini.
Kebetulan saya ketemu dengan pemuka adaik yang moderat saat itu dan beliau juga berpendapat yang sama dengan wacana ini.
Didalam hukum agama sebenarnya sudah ada aturan siapa saja yang tidak boleh dikawini, dari sedarah sampai ke saudara sesusuan, yang mana kalau adat basandi ke Agama/syarak, maka seharusnya hal ini mengikuti aturan agama (manuruik alua jo patuik bukannyo manuruik nan patuik kadialua)

Salam
St Rj Bungsu 46

Assalamualaikum wr.wb.

Wassalamualakum wr.wb.
Yanurmal

Muhammad Dafiq Saib

unread,
Sep 11, 2006, 10:45:27 PM9/11/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Mungkin dek pandai ulama manyampaian kaji saisuak,
mako kawin sasukuko indak saketek juo jadi masalah di
kampuang kami di Balai Gurah IV Angkek Canduang do.
Mungkin sampai kalua dari Balai Gurah sakalipun. Bukan
kini, tapi sajak 'saisuak'. Ambo urang Koto, mamak
ambo kawin jo urang Koto, di kampuang nan samo di Koto
Tuo Balai Gurah. Bahkan inyiak-inyiak kami kawin
antaro Koto jo Koto tanpa masalah. Katiko kami
maetong-etong ranji, basuo bahaso nenek Iko nenek Itu,
nan urang Koto juo di kampuang kami, ba bako ka kami.

Nan indak ado dikarajoan urang hanyolah kawin jo
dunsanak saparuik / sapayuang.

Wassalamu'alaikum,

Lembang Alam


St. Lembang Alam

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Sep 11, 2006, 10:48:11 PM9/11/06
to pal...@minang.rantaunet.org, tiph...@yahoogroups.com

-----Original Message-----
From: palanta...@minang.rantaunet.org
[mailto:palanta...@minang.rantaunet.org] On Behalf Of Yanurmal
Sent: Monday, September 11, 2006 1:15 PM
To: pal...@minang.rantaunet.org
Cc: tiph...@yahoogroups.com
Subject: Re: [R@ntau-Net] Kawin se Suku Marak .

Assalamualaikum wr.wb.

Lalu kenapa masih ada yang menjalankan hukum yang bertentangan dengan
hukum Allah?

Itulah anehnya, ternyata adat minang itu sekuler, bukan basandi syarak.
Dengan kerasnya pemuka-pemuka adat "mendominasikan hukum2 adat walapun
bertentangan dengan hukum agama" (maaf, saya yakin tidak semua pemuka
adat begitu).

Seharusnya disaat itu terjadi kita "harus" meninggalkan adat dan
menegakkan agama Allah. Buat apa mengikuti adat jika mengakibatkan kita
masuk neraka?

Saya sangat mendukung mereka yang melakukan perkawinan sasuku yang tidak
bertentangan dengan hukum Allah. Itu adalah momen untuk memperlihatkan
bahwa adat minang memang mengacu ke hukum agama.

________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
__________


He...he... Lah bakisa pulo angin tampaknyo.............

Kawin sa-suku pulo nan manjadi ota tampaknyo.....

Untuak kampuang ambo, kawin sa-suku iko. Nan indak buliah kalau, inyo
dibawah Datuak/Penghulu yang samo ( Sapayuang).
Tapi kalau Panghulunyo lah babeda lai dibuliahkan,walau asanyo dari
kanagarian yang samo. Apolai kalau asanyo lah babeda Kabupaten ,indak
masalah kalau ingin menikah. Karano inyo kan badunsanaknyo lah samo jo,
samo samo cucu dek Adam jo Hawa sajo tampaknyo he.....he....

Misalnyo dari kami suku Sikumbang. Anak buah Datuak Putiah buliah kawin
jo anak buah Datuak Sati, walau samo-samo punyo suku Sikumbang.

Tapi kalau samo-samo anak buah Datuak Sati iyo indak buliah. Karano
susah juo beko manantukan ma nan bako, ma nan mamak dek anak nan ka
lahia .

Kalau kito iduik ba-kampuang rasonyo barek juo untuak kawin, bagi urang
nan sapayuang atau saparuik ko. Sabab dalam kondisi sahari-hari dalam
segala kegiatan kita memang merasa saudara dekat. Sa-nasib sa
pananggungan, kok barek samo dipikua, kok ringan samo di jinjiang.

Jadi karena eratnya hubungan sehari-hari agak mustahil juga bisa jatuh
cintrong. Kecuali kalau dia ketemu sudah besar....dan diperantauan
lagi. Mungkin hal ini bisa tercipta....akibatnya keluarga akan
menanggung resikonya. Kalau indak capek mamintehnyo...

Dek karano itu kalau nan sapayuang itu nekat juo kawin, sanksinyo
dibuang sapanjang adat.

Kok kayo, kayo se lah surang, rang kampuang indak ka ma mintak.
Kok pandai, pandai se lah surang, rang kampuang indak ka batanyo.

Jadi disisihkan, indak dibao ba iyo... ba tido.....

Tampaknyo keluarga itu memakluminyo, akibatnyo indak talok manjajakkan
kaki dikampuang lai. ( ado dikampuang ambo kini nan sarupo itu).

Itulah kondisi dikampuang kami. Jadi indak ta lalu tagang,tapi masih
ado border-line nyo

Salam ...
St RA

Z Chaniago

unread,
Sep 11, 2006, 11:10:14 PM9/11/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum WW

Mak Lembang....., dek adat babuhua sintak ...syarak babuhua mati.....mako
adat mangalah dek syarak

Di suku Malayu di Maninjau.... ado pembaruan nan ambo raso cukuik
elegan....untuak masalah insidentil...
sacaro prinsip adat kawin sasuku di kanagarian Maninjau indak buliah, tetapi
mekanisme nyo adolah jikok lah sampai nikah antaro duo kamanakan sa suku,
dan si pelaku lah manjalankan hukuman adat, maka kapado si pelaku nan
laki-laki di duduakkan posisinyo......di jalehkan di hadapan urang sakaum
baraso ... dima wakatu duduaknyo sabagai urang sumando...dan di ma wakatu
duduaknyo sabagai mamak.....sahinggo ado masonyo dalam masalah pariuak
ketek/pariuak gadang...si pelaku 'terpaksa' tidak di ikutsertakan....walau
secara hakikat inyo mamak...tetapi secara aktual inyo hanyo urang
sumando.....

......sekadar berbagi.......

Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================

>From: Muhammad Dafiq Saib <stlemba...@yahoo.com>
>
>Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
>
>Mungkin dek pandai ulama manyampaian kaji saisuak,
>mako kawin sasukuko indak saketek juo jadi masalah di
>kampuang kami di Balai Gurah IV Angkek Canduang do.
>Mungkin sampai kalua dari Balai Gurah sakalipun. Bukan
>kini, tapi sajak 'saisuak'. Ambo urang Koto, mamak
>ambo kawin jo urang Koto, di kampuang nan samo di Koto
>Tuo Balai Gurah. Bahkan inyiak-inyiak kami kawin
>antaro Koto jo Koto tanpa masalah. Katiko kami
>maetong-etong ranji, basuo bahaso nenek Iko nenek Itu,
>nan urang Koto juo di kampuang kami, ba bako ka kami.
>
>Nan indak ado dikarajoan urang hanyolah kawin jo
>dunsanak saparuik / sapayuang.
>
>Wassalamu'alaikum,
>
>Lembang Alam

--------------------------------------------------------------

Amrizal

unread,
Sep 12, 2006, 12:12:55 AM9/12/06
to pal...@minang.rantaunet.org
'Alaikumsalam wr.wb.

Lain padang lain bilalang,
Kalau dikampuang ambo lai ado juo kawin sasuku, tapi ado
syaratnyo.Cubo ambo uraikan sagetek.

Dikampuang ambo dalam suku nan samo ado pembagian manuruik kalompok
pangulunyo yaitu;

1. Sapariuak.
2. Saparuik.
3. Sakaum.
4. Sanagari.

Dahulunyo suku iko cuman ado sabanyak 7, dek masyarakat alah
bakambang juo mangko tajadilah pamekaran suku tasabuik. Contoh suku
KOTO, Dulu suku Koto iko ciek pangulunyo. Dek ado pemekaran karano
bermacam alasan tajadilah manjadi 28 suku koto jo 28
pangulunyo.Nampaknyo iko ado sagetek didikan bulando dulu untuak mamacah
balah, tapi kini malah dilestarikan oleh babarapo oknum pangulu. Karano
ado pangulu baru ado proyek baru jo warisan nan dipabarui.

Baiklah dipasingkek carito, umpamonyo suku Koto dari sapariok
manjadi saparuik, dari saparuik manjadi sakaum.

Suku koto nan ciek pangulunyo umpamonyo Dt.Majo Indo dinamokan
Sapariuak.
Panggabuangan 3 sampai 5 suku koto (3 datuak sampai 5 datuak) dari nenek
moyang nan samo dinamokan saparuik.
Panggabungan saluruh suku koto (28 suku, 28 datuak) di nagari padang
tarok dinamokan sakaum.
Panggabungan saluruh suku di nagari padang tarok banamo sanagari (7
suku).

Jadi kawin sasuku hanyo buliah antaro nan sapariuak ,anataro nan
saparuik. Husus kalo ado kawin sasuku dalam sapariuak, mangko inyo
dihukum sacaro adat yaitu hukum buang ka desa nan namuah manarimonyo.

Damikianlah kaunikan sarato kaanehan dikampuang ambo, kecek nan tuo-tuo
baliau mamakai kalarasan "PISANG SIKALEK-KALEK HUTAN" aaratinyo BODI
CANIAGO INYO BUKAN, KOTO PILIANG INYO INDAK (Aneh).

Basambuang.

Wassalam,
Tuangku Batuah Nan Sati (buliah pakai on).


-----Original Message-----
From: palanta...@minang.rantaunet.org
[mailto:palanta...@minang.rantaunet.org] On Behalf Of Z Chaniago
Sent: Tuesday, September 12, 2006 10:10 AM
To: pal...@minang.rantaunet.org
Subject: Re: [R@ntau-Net] Kawin se Suku Marak .

Amrizal

unread,
Sep 12, 2006, 12:27:15 AM9/12/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Ma'af,

Dek mamakai bendi plat merah, agak tagageh sagetek. Ado nan harus
dikoreksi sagetek, yaitu lupo manulihkan kato TIDAK. Tarimo kasih.

Jadi kawin sasuku hanyo TIDAK buliah antaro nan sapariuak ,antaro nan
saparuik. Khusus kalo ado kawin sasuku dalam sapariuak, mangko inyo


dihukum sacaro adat yaitu hukum buang ka desa nan namuah manarimonyo.

Wassalam,
Tk.Batuah NS.

'Alaikumsalam wr.wb.

Jadi kawin sasuku hanyo TIDAK buliah antaro nan sapariuak
,antaro nan saparuik. Khusus kalo ado kawin sasuku dalam sapariuak,

Datuk Endang

unread,
Sep 12, 2006, 4:27:30 AM9/12/06
to pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Dunsanak ysh,
Untuk komunitas nagari yang cukup besar, pada tahun 1989 kami pernah memusyawarahkan hal ini dalam kerapatan adat. Memang ada usulan untuk mengembangkan suku yang ada, dari 4 menjadi 15, mengikuti jalur datuk ninik. Namun setelah diperiksa kasus tahun 1972-1989 (17 tahun) ada sekitar 15 kasus, atau rata-rata 1 kasus 1 tahun, sehingga diputuskan waktu itu bahwa fenomena ini belum cukup besar untuk mengubah adat yang ada.
Dengan demikian 'perkawinan sesuku' masih merupakan 'pelanggaran adat'', dan hukumnya adalah 'dibuang sepanjang adat'.
Mengenai syahnya perkawinan, tentunya syah menurut hukum Islam.
Wassalam,

-datuk endang

Basambuang.

Assalamu'alaikum WW

......sekadar berbagi.......

---------------------------------
All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster.

Z Chaniago

unread,
Sep 12, 2006, 4:51:53 AM9/12/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum WW

Angku Dt Endang yang dimuliakan.....
satu pertanyoan ... salaruik salamo nangko... minimal dari bukti 15 pasangan
dari tahun 1972-1989 tersebut, apakah dapek hukuman nan samo ? Dan apakah
ado mekanisme 'pengampunan hukuman "dibuang sapanjang adat"'......., minimal
apo nan tajadi di Sulik Aia sajo....

Ciek lai Angku Dt, mohon bukan petatah petitih-nyo....

Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com

======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================

>From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>


>
>Dunsanak ysh,
> Untuk komunitas nagari yang cukup besar, pada tahun 1989 kami pernah
>memusyawarahkan hal ini dalam kerapatan adat. Memang ada usulan untuk
>mengembangkan suku yang ada, dari 4 menjadi 15, mengikuti jalur datuk
>ninik. Namun setelah diperiksa kasus tahun 1972-1989 (17 tahun) ada sekitar
>15 kasus, atau rata-rata 1 kasus 1 tahun, sehingga diputuskan waktu itu
>bahwa fenomena ini belum cukup besar untuk mengubah adat yang ada.
> Dengan demikian 'perkawinan sesuku' masih merupakan 'pelanggaran adat'',
>dan hukumnya adalah 'dibuang sepanjang adat'.
> Mengenai syahnya perkawinan, tentunya syah menurut hukum Islam.
> Wassalam,
>
> -datuk endang

--------------------------------------------------------------

des netri

unread,
Sep 12, 2006, 9:52:36 AM9/12/06
to pal...@minang.rantaunet.org
maaf ambo manyemba saketek apo sanak banamo muhamad dafiq nan dulu alumni smp 3 tanjung alam, kalau iyo iyo mungkin akan panjang carito, salamm

dessy moskow

Wassalamu'alaikum,

Lembang Alam


St. Lembang Alam



---------------------------------
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.

Muhammad Dafiq Saib

unread,
Sep 12, 2006, 10:31:00 AM9/12/06
to pal...@minang.rantaunet.org

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Singkek sajo kajawabno, iyo. Ambo si M. Dafiq, sarupo itu baimbau dulu, di
SMP 3 Tanjung Alam.
Tapi iyo indak takana di ambo Des Netri ko do.

Wassalamu'alaikum,

Lembang Alam

>From: des netri <dessy_...@yahoo.com>
>Reply-To: pal...@minang.rantaunet.org
>To: pal...@minang.rantaunet.org
>Subject: Re: [R@ntau-Net] Kawin se Suku Marak .

>Date: Tue, 12 Sep 2006 06:52:36 -0700 (PDT)
>
>maaf ambo manyemba saketek apo sanak banamo muhamad dafiq nan dulu alumni
>smp 3 tanjung alam, kalau iyo iyo mungkin akan panjang carito, salamm
>
> dessy moskow
>

_________________________________________________________________
Don't just search. Find. Check out the new MSN Search!
http://search.msn.click-url.com/go/onm00200636ave/direct/01/

Anzori

unread,
Sep 12, 2006, 8:31:35 PM9/12/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum WW

Kawin sasuku atau kawin sa nagari bukan contoh asimilasi masyarakat yang bagus di Sumbar. Ini contoh maliek dunia 'salebar daun kelor'. Seharusnya asimilasi masyarakat yang bagus adalah kawin antar nagari, kecamatan, kabupaten dsb. Karena ini akan merubah pola pikir individu dan masyakarat. Contoh di suatu nagari yang masyarakatnya mayritas menjual emas. Umumnya mereka kawin berkawin jo samo-samo tukang ameh. Ini adalah pola tradisional yang tidak mengembangkan pola pikir. Apolagi bagi masyarakat nagari tertutup seperti Suit Air, dan beberap nagari di Kab,.Agam kalau laki-laki nyo kawin ke luar dianggap tidak "loyal" kepada nagari. Ini adalah pola pikir yang salah.
Barangkali Kabupaten Pariaman nan labiah moderat
Maka marakanlah perkawinan antar nagri, kecamatan , kabupaten. Tugas ninik mamaklah iko. Kalau ambo alah mamparaktekan, karano bini ambo urang Sicincin Pariaman.

Z Chaniago <palai_...@hotmail.com> wrote:
Assalamu'alaikum WW

Angku Dt Endang yang dimuliakan.....
satu pertanyoan ... salaruik salamo nangko... minimal dari bukti 15 pasangan
dari tahun 1972-1989 tersebut, apakah dapek hukuman nan samo ? Dan apakah
ado mekanisme 'pengampunan hukuman "dibuang sapanjang adat"'......., minimal
apo nan tajadi di Sulik Aia sajo....

Ciek lai Angku Dt, mohon bukan petatah petitih-nyo....

Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================
>From: Datuk Endang
>

Zorion_Anas se,mm,ckm,cidd,cf
http://minangmaimbau.blogspot.com
http://zorionanas.blogspot.com
anz...@yahoo.com, zor...@yahoo.com, zor...@gmail.com, anzo...@gmail.com
Cel. No. : 0816.85.79.39

---------------------------------
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.

proto_melayu

unread,
Sep 12, 2006, 10:39:22 PM9/12/06
to pal...@minang.rantaunet.org

Assalamualikum Mamak, dan dunsanak sadonyoh

Sato pulo ambo ciek, satantang masalah larangan kawin sasuku ko memang
mengundang banyak polemik tarutamo masyarakaik rantau nan peduli dan
kritis terhadap Adat di Ranahminang. Namun sabalun kito mancukia dan
mainok anuangkan masalah apopun dalam adat itu kito harus menyadari
bahwa "adat salingka nagari" jadi sangat terbuka kemungkinan setiap
nagari itu berbeda beda

Dan dinagari ambo sungai rimbang 50 Kota kawin sasuku iko juo
dilarang namun harus kito pahami bahwa pelarangan kawin sasuku di tiok
nagari itu babeda..ado nan malarang saparuik ado nan sajurai dan ado
nan sanagari..contoh dinagari ambo ado nan malarang kawin antaro
pitopang dan Jambak ..samantaro di nagari lain mambuliahkan..itulah
fenomena keragaman nan ado di Ranah kito.

Lalu apo hukuman nan biaso di timpokan kabakeh nan malangga peraturan
adik iko ? nan biasonyo adolah mambayia dando ka mamak yaitu barupo
kambiang atau tagantuang kesepakatan. Apabila kemenakan tersebut tidak
mau mambayia mangko baru dijatuhkan hukuman yang labiah barek yaitu
dibuang sapanjang adaik. Jadi indak langsuang sajo doh dibuang dari
adaik…lalu apokah ado mekanisme pengampunan katiko kamanakan alah
dibuang dari adat ? ado ! anyo musti mamabyia dando itu tadi.kalau
alah tabayia inyo buliah ditarimo baliak..

Jadi adaik ko sabanyo indak kaku babagi doh.. " kok tagang bajelo
jelo, kok kandua badantiang dantiang" artinyo sangat fleksible namun
tetap tegas..jan pulo dibaliak "tagang badantiang2 kok kandua bajelo2"
karano sangai beda artinyo..

Pelarangan iko adolah kesepakatan Penghulu pemangku adat di nagari
tersebut (adat Nan Diadatkan) jadi iko babuhua sintak..kalau
kesepakatan itu sudah dirasa tidak cocok lagi dengan kemajuan zaman
boleh sajo kito ubah dan sistem adaik Minang sangai memungkinkan untuk
itu "Sakali ayia lalu sakali tapian barubah"..walau kabaa tapian itu
barubahnyo nan ayia tatap akan lalu ka hilia ( kodrat alam/ sunnatulloh)

Sesungguhnyo alangkah labiah eloknyo kito pahami dulu adaik ko sa
samporano2nyo..sudah itu kalau ado nan ndak sasuai jaman baru kito
ubah..jan sampai kito hanyo mangarati adaik ko kuliknyo sajo alah
baniaik manggantiannyo jo nan lain..sesungguhnyo kalau kito menyelami
adaik minangkabau banyak sekali falsafah hidup yang sangat
tinggi…Isnya Alloh

Baitu sajo dulu

Wassalam

Benni Inayatullah/25 th
Masyarakat Pencinta Adat dan BUdaya Minangkabau

--- In Rant...@yahoogroups.com, "Z Chaniago" <palai_rinuak@...> wrote:
>
> Assalamu'alaikum WW
>
> Angku Dt Endang yang dimuliakan.....
> satu pertanyoan ... salaruik salamo nangko... minimal dari bukti 15
pasangan
> dari tahun 1972-1989 tersebut, apakah dapek hukuman nan samo ? Dan
apakah
> ado mekanisme 'pengampunan hukuman "dibuang sapanjang adat"'.......,
minimal
> apo nan tajadi di Sulik Aia sajo....
>
> Ciek lai Angku Dt, mohon bukan petatah petitih-nyo....
>
> Wassalam
> Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
> ======================================================================
> Alam Takambang Jadi Guru
> ======================================================================

> >From: Datuk Endang <datuk_endang@...>

Datuk Endang

unread,
Sep 13, 2006, 5:54:42 AM9/13/06
to pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Sanak Palai Rinuak ysh,
Saya kurang tahu bagaimana pelaksanaan terhadap kasus-kasus yang sudah berlangsung. Namun dari contoh cukup lama berselang untuk kasus berbeda, dalam dibuang sepanjang adat, ybs diarak hingga ke batas nagari diiringi oleh tetabuhan. Karena inti hukum adat adalah menjalani alua jo patuik, sehingga norma sosial dan etika sangat dihargai. Bilamana telah sampai di perbatasan, ybs biasanya tahu diri untuk kemana akan melangkah.
Saat ini karena zaman sudah berbeda, bila ybs kembali balik ke rumah, belum ada sesuatu kekuatan adat untuk mengusir keberadaannya. Ybs sudah pasti tidak dibawa baiyo batido dalam setiap perundingan keluarga, dan hukum sosial seperti ini 'dulu' memiliki makna yang sangat tinggi di dalam masyarakat.
Sebenarnya saat ini kami Pengurus KAN sedang merapikan suatu ketentuan hukum pidana adat termasuk hukum acaranya. Cukup sering dilakukan diskusi termasuk dengan kaum intelektual untuk mematangkan materi ini. Insya Allah dalam waktu dekat akan ada persidangan peradilan adat pertama di Sulit Air, setelah kurang lebih 1 abad peradilan adat ini hilang di bumi Minangkabau.
Termasuk masalah jenis-jenis keputusan adat, kemarin sempat dirumuskan 4 jenis keputusan, yaitu: dibuang sepanjang adat, membayar denda, menyerahkan permasalahan ke peradilan negeri, dan satu lagi saya lupa. Mungkin jenis-jenis keputusan ini akan berkembang lagi, dan disesuaikan dengan jenis-jenis pelanggaran yang dilakukan.
Demikian sementara waktu. Wassalam.

-datuk endang

Z Chaniago <palai_...@hotmail.com> wrote:
Assalamu'alaikum WW

Angku Dt Endang yang dimuliakan.....
satu pertanyoan ... salaruik salamo nangko... minimal dari bukti 15 pasangan
dari tahun 1972-1989 tersebut, apakah dapek hukuman nan samo ? Dan apakah
ado mekanisme 'pengampunan hukuman "dibuang sapanjang adat"'......., minimal
apo nan tajadi di Sulik Aia sajo....

Ciek lai Angku Dt, mohon bukan petatah petitih-nyo....

Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com

---------------------------------
All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster.

Tasril Moeis

unread,
Sep 13, 2006, 6:54:25 AM9/13/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Mak Datuak Endang yth,
Menarik juo tantang alah akan di muloi no peradilan adat di nagari awak ko.
Nan jadi pertanyaan ambo nan awam bana tantang hukum adat ko,
1. apo alah ado hukum adat nan tertulis dan alah di sosialisasikan ka
masyarakat. Iko untuak ma indakan penafsiran nan ba macam2. Hukum nan alah
tertulis pun kini bisa di multi tafsirkan urang apo lai nan indak tertulis.
2. Nan bisa manjadi panuntuik jo hakim no sia pulo lah ko kiro2. Dan nan
tatuntuik buliah ndak mempertahankan diri atau punyo pengacara.
3. hukum adat nan batantangan jo hukum agamo dan negara baa pulo caro no.
Kawin sasuku mungkin tamasuak di siko.

Sagitu sen dulu pertanyaan no mak Datuak Endang.

Wassalam
Tan Ameh


----- Original Message -----
From: "Datuk Endang" <datuk_...@yahoo.com>
To: <pal...@minang.rantaunet.org>
Cc: <suli...@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, September 13, 2006 4:54 PM
Subject: Re: [R@ntau-Net] Kawin se Suku Marak .

Ahmad Ridha

unread,
Sep 13, 2006, 9:00:24 AM9/13/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalaamu 'alaikum,

Dari tanggapan-tanggapan yang muncul, ado beberapa poin seputar
larangan kawin sasuku (dalam pelbagai versi):

- kesesuaian jo zaman
- norma sosial dan etika
- kerepotan mengenai posisi dalam suku jika terjadi

Nah, pertanyaannyo, kok kito babaliak ka semboyan Adaik Basandi
Syara', Syara' basandi Kitabullah:

- apo iyo buliahnyo kawin sasuku dalam Islam tu kurang sasuai jo
zamannyo urang Minang?
- apo iyo buliahnyo kawin sasuku dalam Islam tu kurang sasuai jo norma
sosial dan etika?
- apo iyo demi "kemudahan" adaik maka hukum Islam tu paralu diubah?

Bagi ambo jawek katigonyo adalah "tidak" dek daftar mahram (nan indak
buliah dinikahi selama-lamanya) tu turunnyo dari Allah Ta'ala
sadangkan larangan kawin
sasuku tu buatan manusia sajo.

Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaikum,
--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

proto_melayu

unread,
Sep 13, 2006, 9:41:46 PM9/13/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamualaikum Da Ahmad..

saya banyak sependapat dengan Uda..bantuaknyo Uda labiah banyak
mangarti Agamo dari pado Ambo..ambo nio batanyo Da..bagaimana dalam
hukum Islam ketika orang tua melarang anaknya kawin dengan seorang
pemuda..terlepas dari apakah alasannya si orang tua melarang walaupun
pemuda itu baik dan sebagainya..apakah itu haram atau hak orang
tua..kalau memang diharamkan urang tuo malarang anaknyo kawin jo urang
tertentu maka kita akan mengusahakan agar adat nan diadatkan yaitu
kawin sasuku kita ubah kesepakatannya dengan membolehkan...karena hal
itu sangat mungkin dilakukan

wassalam


Benni

Datuk Endang

unread,
Sep 14, 2006, 10:47:52 AM9/14/06
to pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Dunsanak Tasril ysh,
Sedikit jawaban terhadap pertanyaan berikut :

Tasril Moeis <tasril...@telkom.net> wrote:
Mak Datuak Endang yth,
Menarik juo tantang alah akan di muloi no peradilan adat di nagari awak ko.
Nan jadi pertanyaan ambo nan awam bana tantang hukum adat ko,
1. apo alah ado hukum adat nan tertulis dan alah di sosialisasikan ka
masyarakat. Iko untuak ma indakan penafsiran nan ba macam2. Hukum nan alah
tertulis pun kini bisa di multi tafsirkan urang apo lai nan indak tertulis.

==> Hukum Adat zahirnya adalah tidak tertulis, bersemayam dalam berbagai pituah adat. Alat ukurnya adalah barih balabeh, baukua bajangko, baanggo batanggo, dst. (penjelasan tentang hal ini dapat dilihat dalam tulisan saya di cimbuak.net). Sistem keadilan sesuai alua jo patuik, tuahnya sakato, silangnya sangketo. Dengan demikian, keadilan bersemayam dalam lubuk sanubari setiap anggota masyarakat. Tugas Hakim (Adat) adalah menafsirkan buah keadilan itu.
Dalam kondisi saat ini memang sebaiknya aturan-aturan itu dituliskan. Penulisan sebenarnya telah dimulai pasca Perang Paderi, yaitu yang disebutkan dengan Tambo. Dewasa ini tentu perlu ditafsirkan ulang dan disesuaikan dengan kondisi zaman. Karena itu kami di Kerapatan Adat telah memulai hal itu sejak tahun 1989, dan khusus mengenai peradilan adat adalah sejak tahun 2001. Saat ini sedang disempurnakan semacam KUHP dan KUHAP melalui diskusi-diskusi, dan tentu akan semakin berkembang. Dasarnya adalah Undang-undang nan 20.
Sosialisasi tentunya selalu dilakukan. Beberapa tahun yang lalu sesuai kemampuan kami telah mencetak lebih 300 keputusan Kerapatan, yang diharapkan dapat diperbanyak lebih lanjut, termasuk sosialisasi melalui pembuatan film-film VCD, yang sudah diperbanyak lebih 200 album.
Beberapa bulan yang lalu hal ini sudah disampaikan kepada Pemda Sumbar yang waktu itu diwakili Kabid Pemerintahan Nagari sewaktu acara peresmian organisasi Ninik Mamak se-Jabodetabek, dan juga dihadiri pengurus inti GM. Dalam sambutannya beliau menyambut gembira, dan mengharapkan hal ini dapat menjadi pilot project di Sumatera Barat. Tentunya pemberitahuan tertulis juga telah disampaikan kepada Pemda Kabupaten.



2. Nan bisa manjadi panuntuik jo hakim no sia pulo lah ko kiro2. Dan nan
tatuntuik buliah ndak mempertahankan diri atau punyo pengacara.

==> Dalam ketentuan adat maso saisuak yang disebut penuntut istilah orang kini adalah monti. Dengan demikian seorang monti adalah jabatan profesional yang tidak dijabat secara turun temurun, dan sebaiknya juga tinggal di kampung halaman. Namun dalam format saat ini, kemungkinan jabatan monti sudah tidak diperlukan lagi, karena sifat penuntutan bisa secara langsung oleh pihak yang berperkara. Dalam hal aspek pelanggaran "pidana publik adat", tugas penuntut bisa dilakukan oleh pemangku adat yang ditunjuk oleh Pengurus Kerapatan, mengingat fungsi Ampek Jinih dalam hal pengelolaan nagari sudah beralih kepada Pengurus KAN.
Hakim peradilan/perdamaian adat demikian pula, ditunjuk sebagai pemangku oleh Pengurus KAN sesuai dengan kepatutan.
Sifat Hukum Adat adalah kongkrit, seketika, dan tuntas, maksudnya adalah pelanggaran itu dinilai berdasarkan bukti-bukti; 'sebaiknya' dilaksanakan pada ketika itu juga; dan keputusannya bersifat final. Dengan demikian peradilan adat tidak berlangsung secara bertele-tele dan tidak mewadahi perdebatan. Untuk kasus 'pidana publik adat', dapat saja dihadirkan pembanding/penasehat yang kiranya dapat memberikan pertimbangan yang berbeda.
Namun untuk kasus 'perdata adat' seperti sengketa tanah dll, kiranya tidak diperlukan semacam pengacara, setidaknya untuk kondisi saat ini. Di lain pihak Datuk Andiko untuk setiap pihak yang berperkara dapat juga berfungsi sebagai penasehat hukum.



3. hukum adat nan batantangan jo hukum agamo dan negara baa pulo caro no.
Kawin sasuku mungkin tamasuak di siko.

==> Saya belum melihat satu kasus pun hingga saat ini Hukum Adat yang bertentangan dengan Hukum Agama dan Negara. Kiranya hal ini telah cukup banyak dibahas di dalam milis ini.
Kalau yang dimaksud adalah suatu kasus ternyata dapat dinilai melanggar hukum melalui Hukum Adat, Agama, dan Negara, maka kita akan masuk ke dalam Hukum Perselisihan atau Hukum Antar Sistem Hukum. Hal ini menyangkut kewenangan dan kompetensi mengadili. Bagi yang berpendidikan hukum sebenarnya mengerti masalah ini.
Sistem yang kita gunakan adalah dengan memberikan kebebasan sesuai HAM kepada masing-masing yang berperkara, apakah akan diselesaikan melalui Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, ataukah Peradilan/Perdamaian Adat.
Untuk kasus murni adat, tentunya akan diselesaikan melalui Peradilan Adat, karena sistem peradilan lain belum menjangkau hal tersebut.
Namun dalam Keputusan 2001, kami telah menyepakati untuk kasus pidana umum dengan sanksi lebih 1 tahun akan diprioritaskan untuk diselesaikan melalui Pengadilan Negeri. Sehingga 'pidana publik adat' sebenarnya cenderung kepada mengenai perbuatan kesusilaan dan etika kemasyarakatan.
Kawin sasuku adalah 'persoalan murni adat' dan bukan persoalan agama dan negara, sehingga diselesaikan secara adat, bajanjang naiak batanggo turun.



Sagitu sen dulu pertanyaan no mak Datuak Endang.

Wassalam
Tan Ameh
Baiklah dan terima kasih. Wassalam.

-datuk endang


---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

Z Chaniago

unread,
Sep 14, 2006, 11:29:57 PM9/14/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum Ww...

Tarimokasi Angku Dt Endang Pahlawan......, ambo tunggu kok ado informasi
palangkok-nyo......
nah.....baa di Nagari-nyo Benni...., baa di Sungai Tanang...., baa di tampek
Mak Lembang.......
baa pulo di rantau Mak Tan Ameh.....?? silakan maagiah deskripsi
masing-masing....

.satu lagi Angku Dt Endang Pahlawan yam...perkawinan sa suku di Sulik Aia
masih indak di tarimo adat....., kito ambiak nan ekstreem.....duo sejoli
sacaro sadar inyo sa suku....sacaro sadar saling mencintai...dan sacaro
sadar menikah sacaro Agama dan Negara...dan telah dibuang sapanjang
adat....tetapi masih pulang secara sadar ke rumah yang kebetulan milik
pribadi. Si pelaku secara sadar menerima hukuman adat untuk tidak dibawa ber
iya ber tida dalam keluarga.....
Dalam feeling Angku Dt, apakah masyarakat di Kampung Angku Dt masih menerima
dalam pergaulan sehari-hari ? Dan apakah orang kampung Angku Dt akan
mengintimidasi secara fisik ?

Wassalam


Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com

======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================

>From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>

--------------------------------------------------------------

Hengky

unread,
Sep 15, 2006, 12:11:59 AM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamualaikum wr.wb

Mamak-mamak di palanta yang ambo hormati
Mambaco carito kawin sasuku ko, dengan konsekwensi hukum adat yang di dapek
dek pelakunyo cukuik mambuek ambo gamang. Apokah iyo harus baitu. Mungkinkah
iko sabananyo hanyolah kebiasaan adat masiang2 nagari.
Sabagai contoh, indak usah jauah2 bana.
Ambo basuku sikumbang, urang rumah ambo juo basuku sikumbang. Nan urang gaek
padusi ambo basuku Sikumbang di kanagarian Bukik Batabuah, samantaro urang
gaek padusi urang rumah ambo basuku Sikumbang di kanagarian Pasia. Samo samo
di IV Angkek Canduang kaduonyo. Nan kini alah di pacah jo kec. IV Angkek jo
kec. Canduang. Kalau bako ambo di kanagarian Batu Taba, IV Angkek juo baru.
Sabalun baralek, tantu ambo batanyo dulu ka mamak jo bako ambo, bahaso ambo
jo calon urang rumah ambo ko samo2 urang SIkumbang. Nan kecek baliau urang2
tuo di Bukik Batabuah jo Batu Taba indak masalah doh salamo Sikumbangnyo
indak sapayuang. Kan nagarinyo alah balain tu, baitu kecek baliau baliau ko.

Nan urang rumah ambo tantu alah mangecek pulo jo mamak mamak nyo di Pasia.
Kasimpulannyo samo.Salain itu kabatulan mamak-mamak urang rumah ambo ko, di
Pasia sebagian besar adolah pemuka agamo di nagari Pasia ko. Baitu pulo
mamak ambo jo bako ambo, kebetulan pulo adolah pemuka agamo di nagarinyo
masiang-masiang. Makonyo iyo bajadilah kami samo samo urang SIkumbang. Nan
satau ambo indak ado yang namonyo mambaia dando atau kanai hukum adat ko
doh. Kok bakecekan mamak2 ambo jo mamak urang rumah ambo indak mangarati jo
adat indak mungkin doh. Baliau2 ko urang yang mangarati sangaik jo adaik.
Jadi kesimpulannyo iyo tagantuang jo masiang2 nagari. Ado nan mambuliahan
sapanjang indak sapayuang? (apokah istilah iko batua? ), ado pulo nagari nan
indak mambuliahan.
Sagitu sajo dari ambo.

Wassalam

Hengky Sikumbang St. Bandaro

>-----Original Message-----
>From: palanta...@minang.rantaunet.org [mailto:palanta-
>bou...@minang.rantaunet.org] On Behalf Of Datuk Endang
>Sent: 14 September 2006 21:48
>To: pal...@minang.rantaunet.org
>Cc: suli...@yahoogroups.com
>Subject: Re: [R@ntau-Net] Kawin se Suku Marak -hukum adat
>
>Dunsanak Tasril ysh,
> Sedikit jawaban terhadap pertanyaan berikut :
>

Tasril Moeis

unread,
Sep 15, 2006, 2:12:12 AM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Wa'alaikumsalam Wr. Wb.
Z, sabalun tantang larangan kawin sa suko ko, ancak di caliak dulu asal
usul suku
ko, misal no suku ambo Guci, ado di kampuang Karatau nan ado di kampuang tu
sajak dari buyut ambo (amak dari nenek). Konon carito no buyut ko datang
dari kampuang lain. Nan kami tau suku Guci kami ko ado tigo balahan no di
kampuang lain, kamungkinan no badunsanak buyut. Ado Guci balahan ko di
kampuang no ado pulo suku Guci nan lain, tapi di cubo di urut turunan no
indak bisa di urut lai silsilah no apo pernah ciek turunan, pado hal
sakampuang, tapi punyo niniak mamak jo tanah pusako nan babedo.
Itu baru di kampuang nan badakek an. Tantu suku Guci ko ado ampia di tiok
nagari di ranah Minang awak ko. Apo suku Guci ko dulu ciek asa no sudah itu
manaruko katampaik lain atau urang dulu manantukan suku2 no surang. Sia nan
bisa manjawek.
Ambo caliak pulo suku2 nan lain ampia indak bedo jauah, paliang ado duo di
ateh buyut tadi nan bisa di telusuri, dari ma asa sabalun no ado nan bisa di
telusuri ado pulo nan indak.
Di siko baru timbua pertanyaan, apo memang sado perkawinan sasuku ko indak
buliah. Atau ado pulo aturan lain nan awak indak tau?
Kalau Z sandiri suku no dari maa asa no.

Wassalam
Tan Ameh

--------------------------------------------------------------

Datuk Endang

unread,
Sep 15, 2006, 3:39:00 AM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Sanak Palai Rinuak,
Sampai saat ini sudah ada adat namun limbago belum batuang, bahasa jelasnya: belum ada law enforcement.
Kalau tahu diraso-pareso, hendaknya sadar terhadap segala konsekuensi.
Hukuman fisik ada aturannya, namun adat tidak ditegakkan dengan cara itu.
Wassalam,


-datuk endang

Z Chaniago <palai_...@hotmail.com> wrote:
Assalamu'alaikum Ww...

Tarimokasi Angku Dt Endang Pahlawan......, ambo tunggu kok ado informasi palangkok-nyo......
nah.....baa di Nagari-nyo Benni...., baa di Sungai Tanang...., baa di tampek
Mak Lembang.......
baa pulo di rantau Mak Tan Ameh.....?? silakan maagiah deskripsi
masing-masing....

.satu lagi Angku Dt Endang Pahlawan yam...perkawinan sa suku di Sulik Aia
masih indak di tarimo adat....., kito ambiak nan ekstreem.....duo sejoli
sacaro sadar inyo sa suku....sacaro sadar saling mencintai...dan sacaro
sadar menikah sacaro Agama dan Negara...dan telah dibuang sapanjang
adat....tetapi masih pulang secara sadar ke rumah yang kebetulan milik
pribadi. Si pelaku secara sadar menerima hukuman adat untuk tidak dibawa ber
iya ber tida dalam keluarga.....
Dalam feeling Angku Dt, apakah masyarakat di Kampung Angku Dt masih menerima
dalam pergaulan sehari-hari ? Dan apakah orang kampung Angku Dt akan
mengintimidasi secara fisik ?

Wassalam


Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com


---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.

Datuk Endang

unread,
Sep 15, 2006, 3:53:57 AM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Memang harus 'mengerti' dan 'paham' serta 'mengkaji bertahun-tahun' untuk mengisi adat menuang limbago.
Penerapan hukum adat di masing-masing nagari membutuhkan 'kesadaran umum' dan 'kerelaan dan keberanian untuk menjadi martir' bagi para pemangku adat khususnya. Dan hal ini juga merupakan kaidah generik untuk setiap 'perjuangan' apapun.

-datuk endang

Wassalam

Hengky Sikumbang St. Bandaro


---------------------------------
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.

Tasril Moeis

unread,
Sep 15, 2006, 4:36:16 AM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Mak Datuak Endang yth,
Mungkin nan jadi pertanyaan sanak awak Hengki st. Bandaro ko alun tajawek
lai Mak Datuak.
Kawin sasamo suku Sikumbang tapi lah balainan Datuak jo balain Nagari.
Dan mungkin juo di siko paralu no batasan2 jo pangaratian nan jaleh nama nan
buliah dan nama nan indak buliah manuruik adat indak berdasarkan
penafsiran2 nan babedo di tiok nagari.
Sabaok memang indak mungkin raso no niniak mamak Sikumbang sanak Hengki jo
niniak mamak Sikumbang urang rumah liau nan samo2 pemuka adat jo pemuka
agamo dalam nagari masiang2 ka lampauan dalam masalah iko.
Mudah2 an pamangku adat di nagari awak bisa manyalasaikan karajo barek ko
sabalun ma implementasi kan hukum adat ko ka anak nagari.

Wassalam
Tan Ameh (47 + 11 bl)

----- Original Message -----
From: "Datuk Endang" <datuk_...@yahoo.com>
To: <pal...@minang.rantaunet.org>
Cc: <suli...@yahoogroups.com>

Anzori

unread,
Sep 15, 2006, 4:46:58 AM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Ass.wr.wb.

Kenapa kito menghabiskan energi untuk mendiskusikan masalah kawin sasuku di milis ko, karano masalah kawin sasuko adolah masalah NAFSU yang tidak memiliki dampak mensejahterahkan rakyat, hanya untuk melampiaskan NAFSU dan CINTA 2 anak kamanakan nan MABUAK ASMARA. Alangkah baiknyo kalau milisko kito isi dengan berbagai pengetahuan adat atau masalah sosial yang bisa memperbaiki MUTU manusia Minangkabau. Biarkan sajo nagari-nagai nan MAMBULIAHKAN atau nan MALARANG dengan adat istiadatnyo masiang-masing. Yang penting bagaimana caro kito bisa menyumbangkan pemikiran untuak membangun nagari labiah elok lagi dan memproduktifkan masyarakat nagari. KALAU masalah kawin sasuku nan dibahas INDAK AKAN mempunyai DAMPAK KESEJAHTERAAN masyarakat, mungkin POLIGAMI labiah berdampak sosial dibanding KAWIN SASUKU.
Maaf kalau ado nan tasenggeng.

Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:
Sanak Palai Rinuak,
Sampai saat ini sudah ada adat namun limbago belum batuang, bahasa jelasnya: belum ada law enforcement.
Kalau tahu diraso-pareso, hendaknya sadar terhadap segala konsekuensi.
Hukuman fisik ada aturannya, namun adat tidak ditegakkan dengan cara itu.
Wassalam,

-datuk endang

Z Chaniago
wrote:
Assalamu'alaikum Ww...

Wassalam



---------------------------------
Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out.

Hengky

unread,
Sep 15, 2006, 5:23:50 AM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Apokah kalimaik dengan HURUF BESAR dibawah tamasuak bagian dari BERBAIK
SANGKA mak. Bukankah sacaro agamo kawin sasuku ko HALAL. Dima pulo lataknyo
kalau penilaiannyo hanyo bermodalkan NAFSU
Menikah itu samo haragonyo jo saparo dunia. Satiok urang yang manikah alah
menggenapi separoh DIIN dalam hiduiknyo. Dan nikah bukan hanyo masalah NAFSU
Tapi lillahi taala


hengky


>-----Original Message-----
>From: palanta...@minang.rantaunet.org [mailto:palanta-

>bou...@minang.rantaunet.org] On Behalf Of Anzori
>Sent: 15 September 2006 15:47
>To: pal...@minang.rantaunet.org
>Subject: Re: [R@ntau-Net] Kawin se Suku Marak .
>
>Ass.wr.wb.
>
> Kenapa kito menghabiskan energi untuk mendiskusikan masalah kawin sasuku
>di milis ko, karano masalah kawin sasuko adolah masalah NAFSU yang tidak
>memiliki dampak mensejahterahkan rakyat, hanya untuk melampiaskan NAFSU dan
>CINTA 2 anak kamanakan nan MABUAK ASMARA. Alangkah baiknyo kalau milisko

============================================================================

Datuk Endang

unread,
Sep 15, 2006, 5:16:08 AM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Sanak Tan Ameh dan Hengky ysh,
Maaf saya sebelumnya tidak cermat membaca.
Bila berlainan nagari tentunya diperbolehkan. Hakikat adat salingka nagari dan nagari baampek suku, menyebabkan pertautan kekeluargaan adalah khas untuk nagari tersebut. Namun bila dibawa keluar, Nagari itulah yang menjadi sukunya.
Dalam acara pengisian adat, tentunya Hengky akan didudukkan dalam salah suku yang bukan suku Sikumbang di nagari istri.
Demikian, dan wassalam,

-datuk endang

Tasril Moeis <tasril...@telkom.net> wrote:
Mak Datuak Endang yth,
Mungkin nan jadi pertanyaan sanak awak Hengki st. Bandaro ko alun tajawek
lai Mak Datuak.
Kawin sasamo suku Sikumbang tapi lah balainan Datuak jo balain Nagari.
Dan mungkin juo di siko paralu no batasan2 jo pangaratian nan jaleh nama nan
buliah dan nama nan indak buliah manuruik adat indak berdasarkan
penafsiran2 nan babedo di tiok nagari.
Sabaok memang indak mungkin raso no niniak mamak Sikumbang sanak Hengki jo
niniak mamak Sikumbang urang rumah liau nan samo2 pemuka adat jo pemuka
agamo dalam nagari masiang2 ka lampauan dalam masalah iko.
Mudah2 an pamangku adat di nagari awak bisa manyalasaikan karajo barek ko
sabalun ma implementasi kan hukum adat ko ka anak nagari.

Wassalam
Tan Ameh (47 + 11 bl)

---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

Datuk Endang

unread,
Sep 15, 2006, 5:16:26 AM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Sanak Tan Ameh dan Hengky ysh,
Maaf saya sebelumnya tidak cermat membaca.
Bila berlainan nagari tentunya diperbolehkan. Hakikat adat salingka nagari dan nagari baampek suku, menyebabkan pertautan kekeluargaan adalah khas untuk nagari tersebut. Namun bila dibawa keluar, Nagari itulah yang menjadi sukunya.
Dalam acara pengisian adat, tentunya Hengky akan didudukkan dalam salah suku yang bukan suku Sikumbang di nagari istri.
Demikian, dan wassalam,

-datuk endang

Tasril Moeis <tasril...@telkom.net> wrote:
Mak Datuak Endang yth,
Mungkin nan jadi pertanyaan sanak awak Hengki st. Bandaro ko alun tajawek
lai Mak Datuak.
Kawin sasamo suku Sikumbang tapi lah balainan Datuak jo balain Nagari.
Dan mungkin juo di siko paralu no batasan2 jo pangaratian nan jaleh nama nan
buliah dan nama nan indak buliah manuruik adat indak berdasarkan
penafsiran2 nan babedo di tiok nagari.
Sabaok memang indak mungkin raso no niniak mamak Sikumbang sanak Hengki jo
niniak mamak Sikumbang urang rumah liau nan samo2 pemuka adat jo pemuka
agamo dalam nagari masiang2 ka lampauan dalam masalah iko.
Mudah2 an pamangku adat di nagari awak bisa manyalasaikan karajo barek ko
sabalun ma implementasi kan hukum adat ko ka anak nagari.

Wassalam
Tan Ameh (47 + 11 bl)


---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less.

Z Chaniago

unread,
Sep 15, 2006, 5:25:14 AM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum WW

.. Angku Dt Endang ...., masih belum ada law enforcement ? Apokoh karano
masih dalam proses...ataukah karano kemunduran pemahaman hukum adat itu
sendiri ?.......... mohon indak usah dijawab...terlalu debateable....

Satu pencerahan baru....kalau buliah ambo simpulkan.....di Nagari Sulik
Aia...yang juga adat-nya tidak mengizinkan kawin se suku...., juga
bermasalah dengan law enforcement.

ambo tunggu....informasi dan pencerahan selanjutnya.....jawaban pertanyaan
sabalumnyo

Wassalam

Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com

======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================

>From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
>


>Sanak Palai Rinuak,
> Sampai saat ini sudah ada adat namun limbago belum batuang, bahasa
>jelasnya: belum ada law enforcement.
> Kalau tahu diraso-pareso, hendaknya sadar terhadap segala konsekuensi.
> Hukuman fisik ada aturannya, namun adat tidak ditegakkan dengan cara
>itu.
>Wassalam,
>
> -datuk endang
>
>Z Chaniago <palai_...@hotmail.com> wrote:
> Assalamu'alaikum Ww...
>

>.satu lagi Angku Dt Endang Pahlawan yam...perkawinan sa suku di Sulik Aia
>masih indak di tarimo adat....., kito ambiak nan ekstreem.....duo sejoli
>sacaro sadar inyo sa suku....sacaro sadar saling mencintai...dan sacaro
>sadar menikah sacaro Agama dan Negara...dan telah dibuang sapanjang
>adat....tetapi masih pulang secara sadar ke rumah yang kebetulan milik
>pribadi. Si pelaku secara sadar menerima hukuman adat untuk tidak dibawa
>ber
>iya ber tida dalam keluarga.....
>Dalam feeling Angku Dt, apakah masyarakat di Kampung Angku Dt masih
>menerima
>dalam pergaulan sehari-hari ? Dan apakah orang kampung Angku Dt akan
>mengintimidasi secara fisik ?
>
>Wassalam
>
>
>Wassalam
>Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com

--------------------------------------------------------------

Ahmad Ridha

unread,
Sep 15, 2006, 2:32:15 PM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org
On 9/14/06, proto_melayu <proto_...@yahoo.com> wrote:
> Assalamualaikum Da Ahmad..
>

Wa 'alaikumus salaam warahmatullah Sanak Benni,

> saya banyak sependapat dengan Uda..bantuaknyo Uda labiah banyak
> mangarti Agamo dari pado Ambo..ambo nio batanyo Da..bagaimana dalam
> hukum Islam ketika orang tua melarang anaknya kawin dengan seorang
> pemuda..terlepas dari apakah alasannya si orang tua melarang walaupun
> pemuda itu baik dan sebagainya..apakah itu haram atau hak orang
> tua..kalau memang diharamkan urang tuo malarang anaknyo kawin jo urang
> tertentu maka kita akan mengusahakan agar adat nan diadatkan yaitu
> kawin sasuku kita ubah kesepakatannya dengan membolehkan...karena hal
> itu sangat mungkin dilakukan
>

Lah kito ketahui basamo indak ado larangan kawin sasuku dalam Islam.
Pernikahan dalam Islam bukan pulo sakadar nafsu tapi tamasuak ibadah
yang ado aturan-aturannya seputar wali, walimah, poligyny, talak, dan
rujuk.

Masalah mengharamkan yang halal ko ado di firman Allah Ta'ala (yang artinyo):

"Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya
bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. at-Tahriim 66:1)

Di siko Rasulullah ditegur dek beliau mengharamkan sesuatu untuk
menyenangkan istri-istri beliau. Nah, apakah wali malarang kawin
sasuku supayo urang kampuang sanang?

Kito caliak terkait masalah nikah ko. Ado ayat nan melarang wali
menghalangi urang nan ka rujuk ka suaminyo.

"Apabila kamu menalak istri-istrimu, lalu habis idahnya, maka
janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal
suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara
yang makruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman
di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu
dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS.
al-Baqarah 2:232)

Ayat ko turun tentang saudara sahabat Ma'qil bin Yasar radhiallahu'anhu:

"Aku pernah menikahkan saudariku dengan seorang pria, kemudian pada
suatu saat ia menceraikannya, hingga ketika masa iddahnya telah
berlalu, ia datang untuk melamarnya kembali, maka sayapun berkata
kepadanya: Aku pernah menikahkanmu (dengannya), aku pernah pasrahkan
dia kepadamu, dan aku pernah memuliakanmu dengannya, kemudian engkau
ceria dia, dan sekarang engkau datang melamarnya kembali?! Tidak,
sungguh demi Allah, selama-lamanya ia tidak akan pernah menjadi
istrimu lagi. Padahal dia adalah pria yang baik, dan saudariku juga
ingin untuk kembali membina pernikahan dengannya, maka Allah
menurunkan firman-Nya berikut ini: maka janganlah kamu (para wali)
menghalangi mereka (Mendengar ayat ini) aku-pun berkata: Sekarang juga
saya akan aku laksanakan wahai Rasulullah. Perawi kisah ini
menuturkan: Kemudian ia-pun menikahkan saudarinya kepada mantan
suaminya tersebut. (HR. al-Bukhari)

Nan patuik jadi pengingat masalah melarang nikah ko ado sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam (yang artinya):

"Bila telah datang (untuk melamar) kepada kalian seorang lelaki yang
kalian ridhai agama dan perangainya (akhlaqnya), maka nikahkanlah dia,
bila kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi
dan kerusakan yang merajalela." (HR. at-Tirmidzy, Sa'id bin Mansur,
at-Thabrany, al-Baihaqy dan dihasankan oleh al-Albany)

Perhatikanlah bagian "niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan
kerusakan yang merajalela". Baa kok misalnyo ado urang sasuku nan
rancak ugamonyo datang maminang? Apo ka ditolak? Kito diskusi tentang
apo sebabnyo kito tatingga, banyak kemiskinan, banyak pengangguran,
nah iko ado salah satu sumber penyebab potensialnyo.

Ado pulo sebab nan lain. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam
bersabda (yang artinya):

"Bila kamu telah jual beli dengan sistem 'inah, dan mengikuti
ekor-ekor sapi, puas dengan pertanian, serta kalian tinggalkan jihad,
niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian dan tidak akan
melepaskan kehinaan tersebut hingga kalian kembali pada ajaran agama
kalian" (HR. Abu Dawud).

Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Ahmad Ridha

unread,
Sep 15, 2006, 5:09:51 PM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org
On 9/14/06, Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:

> Kawin sasuku adalah 'persoalan murni adat' dan bukan persoalan agama dan
> negara, sehingga diselesaikan secara adat, bajanjang naiak batanggo turun.
>

Mak Datuak Endang, maaf sabalunnyo; baa pulo ka dikecek-an bahaso
masalah kawin sasuku ko 'persoalan murni adat'. Bukannyo ado konsep
ABS SBK? Jadi subananyo baa hubungan adaik jo ugamo ko? Apo ado
wilayah adaik nan steril ugamo?

Wassalaamu 'alaykum,


--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

--------------------------------------------------------------

Muhammad Dafiq Saib

unread,
Sep 15, 2006, 10:05:48 PM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu

Ado ustad di kampuang kami, nan dituokan dek karano
iyo alah agak tuo pulo umua baliau (80tahun), acok juo
namo baliau tasabuik dek nyiak Sunguik / mak Ngah,
yoitu ustad Nazir Nurdin. Baliauko guru / ustad
masyarakaik di pasakitaran Ampek Angkek, Tilatang
Kamang, Bukiktinggi.

Sakitar sabulan labiah nan lapeh, kami rapek-rapek
ketek di kampuang, dalam rangko mambuek sabuah yayasan
pandidikan nan ka kami tagak-an di kampuang Koto Tuo
Balai Gurah Ampek Angkek Canduang. Dalam rapek itu,
baliau mangecek-an bahaso alhamdulillah, di 'nagari
awak' ko lah baru tagak nan sabana Adaik Basandi
Syarak - Syarak Basandi Kitabullah. Rupono mukasuik
baliau adolah dalam pamahaman ABS - BSK dalam hal
panikahan (kawin sasuku). Karano sarupo ambo kamukoan
sabalunko, iyo indak ado saketek juo masalahno do
urang kawin sasuku ko di nagari kami. Dari data-data
nan basuo sampai kini, cukuik banyak inyiak-inyiak
kami nan kawin jo tetangga sabalah rumah, samo suku
baliau, hanyo sajo bukan sapayuang.

Dan indaklah kami punyo masalah adaik di nagari, indak
daulu indak juo kini.

Timbua tanyo, kok iyo sa'progresif' tu bana urang di
nagari Balai Gurah tu 'sapanjang adaik' lai ado nan
mangarajoan kawin dalam kakarabatan sapayuang? Alun
ado basuo lai doh.

Ado kawan ambo batanyo untuak hal nan tarakhir ko.
Antah mukasuikno nak mamanciang-manciang bagai
antahlah. Kok nyampang basuo nan sarupo itu di anak
kamanakan angku, dima ka tagak angku? tanyono.

Ambo jawek, ambo ka tagak di syarak. Kalau buliah jano
syarak, ka ambo pabiyaan. Jadi posisi ambo dalam hal
sarupo itu, indak ka mamfasilitasi ataupun
maanjua-anjuakan supayo di antaro kamanakan saliang
katuju mangatujui, tapi kok tumbuah, ambo indak barani
malarang.

Wassalamu'alaikum,

Lembang Alam

St. Lembang Alam

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

--------------------------------------------------------------

Datuk Endang

unread,
Sep 15, 2006, 10:41:45 PM9/15/06
to pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Sanak Ahmad Ridha ysh,
Sebenarnya jawabannya singkat saja: bahwa permasalahan ini tidak dapat diselesaikan melalui peradilan umum dan peradilan agama.

Namun saya ingin memberikan wawasan sedikit terutama dengan masalah ABSSBK, kebetulan sekarang ada waktu yang agak lapang. Di awal milenium ini saya memperhatikan muncul jargon politik baru di Sumatera Barat, yang kebetulan diangkat dari falsafah adat. Jargon ini semula dimaksudkan untuk kepentingan politik dalam pilkada, yaitu untuk menguji dan menunjukkan kemampuan serta wawasan seseorang terutama dalam memahami permasalahan kemasyarakatan. Sebenarnya ini baik saja.

Saya sudah memperhatikan dan mendengar banyak tokoh masyarakat dan politik bicara dalam berbagai kesempatan mengenai hal ini, namun kesan yang saya tangkap adalah biasa-biasa saja, tidak ada hal yang baru. Termasuk juga dari berbagai ceramah para ulama dan para ahli adat.

Bilamana Pak Saaf ingin mewacanakan hal ini kembali dalam media yang lebih luas, silahkan saja, dan sejak semula saya juga mendukung. Namun kalau kita ingin menjadikan itu sebagai ‘alat ukur’, hal ini perlu pertimbangan dan pemikiran mendasar terlebih dahulu. Saya selama ini mengajak melalui kajian esensial dan fundamental terhadap falsafah tersebut, supaya kita ‘mengerti’ dan ‘memahami’ falsafah tersebut. Di antaranya melalui kajian sejarah, pandangan hidup orang dulu, eksternalitas, peta mental, pola pikir modern, dlsb. Dengan demikian tidak semata dilihat dari satu sudut pandang saja.

Ternyata dalam beberapa bulan ini saya memperhatikan bahwa cara pandang orang Minang itu tidak sama mengenai hal ini. Selanjutnya, belum ada suatu bukti atau argumen logis bahwa adat itu merupakan turunan langsung dan merupakan subordinat dari agama, sebagaimana secara harfiah kita tangkap dari falsafah itu. Hal ini sebenarnya telah saya sampaikan kepada Pak Saaf beberapa bulan lalu: bahwa adat dan agama itu tidak berada dalam tataran yang dapat diperbandingkan. Dan kalau dapat saya tambahkan sekarang ini: kemungkinan ada yang salah terhadap peta mental dan pola pikir kita, seakan-akan sesuatu itu bernilai linier. Hal ini terutama diakibatkan faktor-faktor eksternalitas.

Bila diperhatikan catatan saya dari Jepang dulu, sebenarnya hal ini telah saya ungkapkan. Orang Jepang itu bisa mensinergikan kemampuan 3 bahasa tulisan, dan secara inharmonia pregressio maju dalam budaya, keyakinan, adat, teknologi, dan kemodernan. Sebenarnya dibandingkan dengan suku bangsa lain, orang Minang memiliki keunggulan ini dan ‘sedikit’ tipikal Jepang. Cara berpikirnya ‘seharusnya’ lateral, tidak linier. Peta mentalnya ‘dapat membagi’ dan tidak sinkritik.

Dari kisah Perang Paderi seharusnya kita dapat mengambil pelajaran, bagaimana orang Minang harus bersikap. Kita melihat contoh yang sudah, dan mencari tuah yang menang. Mari kita perhatikan dan kaji apa yang terjadi setelah itu. Apa yang berubah dan apa yang tetap bertahan. Nan tumbuah bak bijo digaro, nan tumbuah bak duri disiang. Namun pasang surut selalu ada sebagaimana disinyalir oleh banyak ahli. Sudah menjadi tugas kita para intelektual untuk senantiasa menggali dan mempertahankan nilai-nilai fundamental tersebut.

Saya bukan ahli agama, namun coba menyampaikan suatu penilaian terhadap pemahaman keagamaan. Bahwa risalah Rasulullah itu sungguh begitu murni dan menjadi ‘’rahmat’ untuk sekalian alam’. Begitupun tafsiran untuk orang yang berbahasa Arab pun bisa berbeda, karena, untuk sementara waktu saya sebutkan, peta mental dan pola pikir yang berbeda. Tugas setiap muslim, dengan berbagai tingkat pemahaman, untuk ‘mencapai’ tingkat ketaqwaan. Namun jangan terpaku dengan nash itu sendiri, tapi tangkaplah ‘intinya’, karena itu ditujukan secara ‘universal’. Pada akhirnya kemampuan menangkap hal itu serta keikhlasan kita melakukan, ‘hanya’ Allah-lah yang berhak menilai.

Untuk bahasa masyarakat saya menggunakan istilah, dalamilah agama dengan iman, dan pelajarilah adat dengan budi. Bagi orang Jawa hal ini mungkin ditangkap secara sinkritisme, namun bagi orang Minang ‘seharusnya’ hal ini ditangkap secara terbagi. Sewaktu diskusi berdua dengan Dt. Perpatih memang keluar keluhan beliau, seakan-akan kita ini dianggap sebagai kejawen. Wallahu alam bissawab. Kiranya penjelasan di atas dapat menjawab.

Aturan adat tidak jauh bedanya dengan saat ini kita menjalani hidup bermasyarakat di dalam kota. Misalnya kalau mengendarai kendaraan harus di sebelah kiri, kalau masuk kantor harus jam 8 pagi, terkadang memiliki bos bukan seorang muslim, dst. Apakah kalau kita harus mematuhi itu berarti menyalahi ajaran Islam? Karenanya adat semata mengatur tata cara hidup berkeluarga dan bermasyarakat, yang sedemikian rupa sudah dibentuk oleh urang tuo-tuo dulu, tiada lain mengharapkan agar sampai kepada kita-kita saat ini dapat hidup lebih teratur dalam ikatan kekeluargaan yang kuat.

Kembali ke contoh Paderi, bila diperhatikan bahwa niat gerakan itu dulunya tidaklah untuk mewujudkan daulah Islamiyah. Paderi hanya ‘mengkoreksi’ beberapa tata cara adat yang tidak bersesuaian. Tidak mengubah sistem matrilineal, tidak mendirikan sistem pemerintahan baru di setiap negeri, tidak mengubah sistem adat, tidak membatalkan sistem kepenghuluan kaum, dst. Memang Paderi sebatas ‘menanamkan’ dan mengukuhkan Tuan Kadi dan Imam Masjid di setiap negeri, dan malah dalam sistem adat dimasukkan sebagai Jurai. Pada akhirnya ‘terarah’ pada pengIslaman daerah utara dan penghadangan imprealisme. Dari hal ini seharusnya banyak yang kita pelajari, untuk membenahi kembali pola pikir dan peta mental kita.

Sudah menjadi tugas para ulama untuk mensyiarkan agama, dan tentunya tugas para penghulu untuk membina dan menjaga anak kemenakan. Saya pikir selama ini hal tersebut sudah berjalan dengan baik di Minangkabau. Bilamana ada yang kurang, saling tukuak-manukuak, bilai-mambilai; sesuai dengan amanah Al-Ashr: saling ingat mengingatkan dalam ‘kebaikan’ dan ‘kesabaran’.

Kembali ke masalah perkawinan dalam suku, sudah demikian aturannya yang tertuang warih bajawek pusako batolong salamo nan ko. Saya sudah menyampaikan penjelasan tentang upaya memecahkan hal tersebut sebelumnya. Hingga saat ini itulah yang terbaik bagi masyarakat kita. Secara Hukum Islam itu adalah sah, namun hukum adat melarang. Saya berprasangka baik terhadap ketentuan adat itu, semata-mata nenek moyang kita menghendaki adanya wawasan nagari dan suku bagi kita serta terjalinnya hubungan harmonis di dalam nagari.

Demikian dan wassalam.

-datuk endang


Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote: On 9/14/06, Datuk Endang wrote:

> Kawin sasuku adalah 'persoalan murni adat' dan bukan persoalan agama dan
> negara, sehingga diselesaikan secara adat, bajanjang naiak batanggo turun.
>

Mak Datuak Endang, maaf sabalunnyo; baa pulo ka dikecek-an bahaso
masalah kawin sasuku ko 'persoalan murni adat'. Bukannyo ado konsep
ABS SBK? Jadi subananyo baa hubungan adaik jo ugamo ko? Apo ado
wilayah adaik nan steril ugamo?

Wassalaamu 'alaykum,
--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

---------------------------------
All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster.

Sjamsir Sjarif

unread,
Sep 16, 2006, 1:39:32 AM9/16/06
to Lapau, biaro
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dek angku Lembang lah mangatangahkan contoh nan adak dakek di Ampek Angkek,
kok buliah ambo maimbau Angku Elthaf nan sadang duduak di suduik nan
mandanga elok-elok topik ko. Baa tu Angku Elthaf, alah koh tibo masonyo
mangatangahkan contoh nan dakek sunduik-basunduik tipak di awak? Kok alah,
barangkali lasuah juo dikatangahkan di Lapau sabagai oral history nan dapek
kito kunyah-kunyah basamo.

Salam,
--MakNgah

>1646 [R@ntau-Net] ABS BSK Re: Kawin se Suku Marak -hukum adat
>From: Muhammad Dafiq Saib
>Date: Fri, Sep 15 2006 7:05 pm
>Email: Muhammad Dafiq Saib <stlembang_a...@yahoo.com>

Saafroedin BAHAR

unread,
Sep 16, 2006, 2:01:41 AM9/16/06
to pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Assalamualaikum w.w. Ananda Dt Endang dan Ahmad Ridha,

Ajakan Ananda Dt Endang untuk lebih dalam lagi menggali filsafat adat Minangkabau saya kira baik sekali. Langkah ke arah itu kan sudah dimulai oleh Prof. Nasroen. Kalau boleh saya mengusulkan, saya harapkan Ananda Dt Endang dapat mulai menuliskan dan menerbitkan temuan-temuan beliau, bukan saja oleh karena Ananda Dt Endang yang mulai mengajak kita semua untuk mendalaminya, tetapi juga oleh karena kelihatannya sudah ada butir-butirnya yang dapat beliau sajikan secara sistematis kepada publik Minangkabau. Bisa disampaikan secara bersambung dalam atau melalui palanta.minang ini. Jika selesai, hal itu akan merupakan sumbangan subtansial, bukan hanya kepada suku bangsa Minangkabau, tetapi juga untuk seluruh bangsa Indonesia yang bermasyarakat majemuk ini.

Perhatian saya secara pribadi terbatas pada upaya untuk mengakhiri ambiguitas dan ambivalensi antara adat dan agama dalam 'ABS SBK' yang sudah kita sepakati (?) sebagai jati diri Minangkabau, khususnya dalam hukum kekerabatan dan hukum waris, yang menurut penglihatan saya telah ikut menyebabkan gejala psikosomatik orang Minangkabau yang [dahulu] pernah dinamakan sebagai 'Padangitis' atau 'Minangitis'.

Secara pribadi saya pernah mengalami betapa tidak nyamannya hidup dalam suatu masyarakat yang sistem nilainya ambigu dan ambivalen, khususnya sewaktu Ayah saya mengatakan kepada saya (!) bahwa beliau termasuk 'orang punah' karena adik beliau semata wayang juga hanya mempunyai seorang anak, laki-laki lagi. Seluruhnya itu sudah saya tuliskan secara lengkap tahun 2004, disertai dengan saran-saran seperlunya, yang tentunya bisa diterima bisa juga tidak. Keinginan untuk diakhirinya ambiguitas dan ambivalensi itu saya rujuk pada demikian banyak kritik yang sudah disampaikan oleh demikian banyak tokoh terdahulu, dimulai dalam abad ke 19 oleh Syech Achmad Chatib al Minangkabauwi. Sekarang timbul lagi suatu aspek lain dari masalah ABS SBK ini, yaitu soal kawin sesuku. Jadi, mari kita selesaikan masalah ini secara tuntas, sejak dari tingkat filsafat, sistem nilai, serta kelembagaan sosialnya, supaya kita beserta anak keturunan kita bisa hidup lebih nyaman dari yang sudah-sudah.

Sekian dahulu khabar dari saya,

Wassalam,
Saafroedin Bahar (7o th kurang).


----- Original Message ----
From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
To: pal...@minang.rantaunet.org
Cc: suli...@yahoogroups.com

Sent: Saturday, September 16, 2006 9:41:45 AM
Subject: Re: [R@ntau-Net] Kawin se Suku Marak -hukum adat


Sanak Ahmad Ridha ysh,
Sebenarnya jawabannya singkat saja: bahwa permasalahan ini tidak dapat diselesaikan melalui peradilan umum dan peradilan agama.

Namun saya ingin memberikan wawasan sedikit terutama dengan masalah ABSSBK, kebetulan sekarang ada waktu yang agak lapang. Di awal milenium ini saya memperhatikan muncul jargon politik baru di Sumatera Barat, yang kebetulan diangkat dari falsafah adat. Jargon ini semula dimaksudkan untuk kepentingan politik dalam pilkada, yaitu untuk menguji dan menunjukkan kemampuan serta wawasan seseorang terutama dalam memahami permasalahan kemasyarakatan. Sebenarnya ini baik saja.

Saya sudah memperhatikan dan mendengar banyak tokoh masyarakat dan politik bicara dalam berbagai kesempatan mengenai hal ini, namun kesan yang saya tangkap adalah biasa-biasa saja, tidak ada hal yang baru. Termasuk juga dari berbagai ceramah para ulama dan para ahli adat.

Bilamana Pak Saaf ingin mewacanakan hal ini kembali dalam media yang lebih luas, silahkan saja, dan sejak semula saya juga mendukung. Namun kalau kita ingin menjadikan itu sebagai alat ukur, hal ini perlu pertimbangan dan pemikiran mendasar terlebih dahulu. Saya selama ini mengajak melalui kajian esensial dan fundamental terhadap falsafah tersebut, supaya kita mengerti dan memahami falsafah tersebut. Di antaranya melalui kajian sejarah, pandangan hidup orang dulu, eksternalitas, peta mental, pola pikir modern, dlsb. Dengan demikian tidak semata dilihat dari satu sudut pandang saja.



Ternyata dalam beberapa bulan ini saya memperhatikan bahwa cara pandang orang Minang itu tidak sama mengenai hal ini. Selanjutnya, belum ada suatu bukti atau argumen logis bahwa adat itu merupakan turunan langsung dan merupakan subordinat dari agama, sebagaimana secara harfiah kita tangkap dari falsafah itu. Hal ini sebenarnya telah saya sampaikan kepada Pak Saaf beberapa bulan lalu: bahwa adat dan agama itu tidak berada dalam tataran yang dapat diperbandingkan. Dan kalau dapat saya tambahkan sekarang ini: kemungkinan ada yang salah terhadap peta mental dan pola pikir kita, seakan-akan sesuatu itu bernilai linier. Hal ini terutama diakibatkan faktor-faktor eksternalitas.

---- saya potong di sini ----

chaidir latief

unread,
Sep 17, 2006, 10:37:04 PM9/17/06
to Saafroedin BAHAR, pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
pakSyaf yang baik

Ambo alah manyampaikanm di melis ko bahwa kini sedang dibahas PERDA tentang NAGARI Apakah nan mangalabiek ngalabiak membicarokan adat membicara kan Ranah indak ado nan tertarik membarikan sumbangan pikiran ke PERDA itu Apo pandangan urang Rantau sebaiknya nan paralu dimasuakanke Perda itu

Kalau iko dapek disusun oleh rang dapua Rantau Net Rasonyo akan merupokan sumbangan nyato

Ch N Latief Dt Bandaro 78

proto_melayu

unread,
Sep 18, 2006, 4:22:57 AM9/18/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Tarimo kasih sanak Ridha...penjelasannya sangat bagus..sehingga saya
dapat menyimpulkan bahwa larangan kawin sesuku ini tidak bertentangan
dengan Islam namun hanya sedikit menyimpang dari anjuran Islam
...dalam adat setahu saya tidak diharamkan kawin sesuku namun hanya
dilarang (haram dalam agama adalah dosa )dan kalau melanggar
kesepakatan/larangan adat (adat nan diadatkan) maka di berikan denda
dan sesudah itu kehidupan berjalan seperti biasa lagi...jadi intinya
adalah kesepakatan saja..bukan harga mati (buhul mati) melainkan
kesepakatan yang bisa ditinjau kembali / fleksible..jadi masalahnya
gak serumit yang kita bayangkan..

kalau saya salah mohon di luruskan..

wassalam

Benni


--- In Rant...@yahoogroups.com, "Ahmad Ridha" <ahmad.ridha@...> wrote:
>

Anzori

unread,
Sep 18, 2006, 4:50:31 AM9/18/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalmualaikum wr.wb.

Terimakasih sanak Ridha yang telah mengirimkan email ka ambo. Paliang tidak kito saling berbagi nalar dalam membahas suatu permasalahan.
Dalam menghayati al-qur'an ambo labih suko strijk kepada makna, contoh :

> "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya
> bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha
> Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. at-Tahriim 66:1)

Ayat ini maksudnya adalah kesenangkan kepada istri (yang sudha menjadi istri), bukan kesenangan MENCARI ISTRI. Jadi jangan dicampuradukkan antara KESENANGAN MENCARI CALON ISTRI dengan MEMBERIKAN KESENANGAN KEPADA ISTRI. Jauh beda maknanya.



>
> "Apabila kamu menalak istri-istrimu, lalu habis idahnya, maka
> janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal
> suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara
> yang makruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman
> di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu
> dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS.
> al-Baqarah 2:232)
>

Ini adalah untuk para JANDA, bukan untuk clon mempelai pria. Kawin SASUKU lebih ditonjolkan ARAHANNYA kepada pihak LAKI_LAKI, bukan wanita, karena laki-laki adalah yang lebih MEMUTUSKAN, dibanding pihak wanita. Jadi kutipan ayatnya pun menurut saya tidak tepat.

> "Aku pernah menikahkan saudariku dengan seorang pria, kemudian pada
> suatu saat ia menceraikannya, hingga ketika masa iddahnya telah
> berlalu, ia datang untuk melamarnya kembali, maka sayapun berkata
> kepadanya: Aku pernah menikahkanmu (dengannya), aku pernah pasrahkan
> dia kepadamu, dan aku pernah memuliakanmu dengannya, kemudian engkau
> ceria dia, dan sekarang engkau datang melamarnya kembali?! Tidak,
> sungguh demi Allah, selama-lamanya ia tidak akan pernah menjadi
> istrimu lagi. Padahal dia adalah pria yang baik, dan saudariku juga
> ingin untuk kembali membina pernikahan dengannya, maka Allah
> menurunkan firman-Nya berikut ini: maka janganlah kamu (para wali)
> menghalangi mereka (Mendengar ayat ini) aku-pun berkata: Sekarang juga
> saya akan aku laksanakan wahai Rasulullah. Perawi kisah ini
> menuturkan: Kemudian ia-pun menikahkan saudarinya kepada mantan
> suaminya tersebut. (HR. al-Bukhari)

Hadist ini tidak menjelaskan soal hubungan antar pria dan wanita yang nikah tersebut apakah bersaudara dekat atau jauh. Jadi menurut saya hadist ini lebih menonjolkan sisi hukum bahwa orang yang sudah ditalaq bisa dinikahi lagi.

Bebeberapa kelemahan bila kita melihat nikah antara Saudara dekat
1. Anak yang dilahirkan bisa cacat, apalagi kalau ada gen yang sudah temurun dari nenek moyang mereka.
2. Masyarakat suku tersebut tidak berkembang , karena masih berasal dari moyang yang sama

Al-Qur'an sudah mengatakan : Aku (ALLAH) jadikan kamu bersuku-suku, berkaum, berbangsa agar saling mengenal sesamamu.

Saling mengenal di sini adalah agar bersilaturrahmi dan membina hubungan, apakah itu hubungan persaudaraan atau hubungan yang lebih dekat lagi, misalnya hubungan perkawinan dsb. Memang pada akhirnya JODOH itu adalah TAQDIR ALLAH. Maka untuk itulah kita harus selalu berserah diri kepada ALLAH dengan mengharap RIDHONYA.
Wassalamualaikum.


proto_melayu <proto_...@yahoo.com> wrote:
Tarimo kasih sanak Ridha...penjelasannya sangat bagus..sehingga saya
dapat menyimpulkan bahwa larangan kawin sesuku ini tidak bertentangan
dengan Islam namun hanya sedikit menyimpang dari anjuran Islam
...dalam adat setahu saya tidak diharamkan kawin sesuku namun hanya
dilarang (haram dalam agama adalah dosa )dan kalau melanggar
kesepakatan/larangan adat (adat nan diadatkan) maka di berikan denda
dan sesudah itu kehidupan berjalan seperti biasa lagi...jadi intinya
adalah kesepakatan saja..bukan harga mati (buhul mati) melainkan
kesepakatan yang bisa ditinjau kembali / fleksible..jadi masalahnya
gak serumit yang kita bayangkan..

kalau saya salah mohon di luruskan..

wassalam

Benni


--- In Rant...@yahoogroups.com, "Ahmad Ridha" wrote:
>
> On 9/14/06, proto_melayu


---------------------------------
All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster.

Saafroedin BAHAR

unread,
Sep 18, 2006, 1:35:09 PM9/18/06
to chaidir latief, pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Pak Chaidir dan para Dunsanak sa palanta,

Ambo alah mambaco draft revisi Perda Provinsi tentang Nagari itu, yang intinyo adolah untuak manyasuaikan Perda lamo jo UU Nomor 32 Tahun 2004 nan baru. Kesan ambo Perda itu manyatukan nagari sabagai masyarakat hukum adat jo nagari sabagai tingkat pemerintahan paling bawah. Karapatan Adat Nagari marupokan salah satu unsur dari perangkat Nagari, disampiang perangkat Nagari nan lain. Jadi babeda jo di Bali dimano kaduonyo dipisahkan dan ado bidang kompetensi masiang-masiang.

Dari segi ambo nan penting adolah bahaso eksistensinyo diatur jo Perda Kabupaten, dan ado katantuan tantang bateh-bateh wilayah. Untuak malaksanakan itu sajo akan mamakan banyak wakatu, karano ado kl 600 nagari di Sumatera Barat..

Nan manarik adolah bahaso para perantau dari suatu nagari bisa juo ikuik dalam pamilihan di tingkek nagari. Kalau iko batua-batua talaksana, ambo khawatir Dunsanak Wisran Hadi akan bangih, karano dalam tulisan baliau kan urang rantau indak ado tampeknyo dalam adat. Jadi nampaknyo sadar atau indak sadar, nampaknyo adat itu barubah taruih.

Wassalam,
Saafroedin Bahar.


----- Original Message ----
From: chaidir latief <chaidir...@yahoo.com>
To: Saafroedin BAHAR <sbaha...@yahoo.com>; pal...@minang.rantaunet.org
Cc: suli...@yahoogroups.com
Sent: Monday, September 18, 2006 9:37:04 AM
Subject: Re: [R@ntau-Net] Mendalami Filsafat Adat Minangkabau

pakSyaf yang baik

Ambo alah manyampaikanm di melis ko bahwa kini sedang dibahas PERDA tentang NAGARI Apakah nan mangalabiek ngalabiak membicarokan adat membicara kan Ranah indak ado nan tertarik membarikan sumbangan pikiran ke PERDA itu Apo pandangan urang Rantau sebaiknya nan paralu dimasuakanke Perda itu

Kalau iko dapek disusun oleh rang dapua Rantau Net Rasonyo akan merupokan sumbangan nyato

Ch N Latief Dt Bandaro 78

mardia_n

unread,
Sep 18, 2006, 4:10:48 PM9/18/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalaamu 'alaikum.

Dunsanak sakalian,

Ambo bukanlah pakar agamo, tapi ambo raso amat penting dan kritikal
(crucial) bahawa adat awak ko bapandangan samo jo agamo. Indak
buliah hiduik ko ado duo pegangan yang berbeza. Satahu ambo, indak
ado istilah "'sedikit' menyimpang dari agamo". Samada samo jo agamo
atau indak sin-nyo.

Ini juo memudahkan tarutamo pado yang mudo-mudo, bia jaleh pegangan
hiduik dan arah tujunyo. Samugo urang awak diberkati dan dirahmati
dunia dan akhirat.

Wassalaam,
mardia (43)
www.bakerette-cafe.com

--- In Rant...@yahoogroups.com, "proto_melayu" <proto_melayu@...>
wrote:


>
> Tarimo kasih sanak Ridha...penjelasannya sangat bagus..sehingga
saya
> dapat menyimpulkan bahwa larangan kawin sesuku ini tidak
bertentangan
> dengan Islam namun hanya sedikit menyimpang dari anjuran Islam
> ...dalam adat setahu saya tidak diharamkan kawin sesuku namun hanya
> dilarang (haram dalam agama adalah dosa )dan kalau melanggar
> kesepakatan/larangan adat (adat nan diadatkan) maka di berikan
denda
> dan sesudah itu kehidupan berjalan seperti biasa lagi...jadi
intinya
> adalah kesepakatan saja..bukan harga mati (buhul mati) melainkan
> kesepakatan yang bisa ditinjau kembali / fleksible..jadi masalahnya
> gak serumit yang kita bayangkan..
>
> kalau saya salah mohon di luruskan..
>
> wassalam
>
> Benni
>
>
> --- In Rant...@yahoogroups.com, "Ahmad Ridha" <ahmad.ridha@>

wrote:

proto_melayu

unread,
Sep 19, 2006, 9:48:40 PM9/19/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Waalaikumsalam Uni...

Nyo baiko uni..ambo bukan pulo ahli dalam Ugamo hanyo memahami sekedar
untuak ambo sajo..sabalum ko kan ambo lah batanyo apokah haram orang
tua melarang anaknya kawin dengan seseorang walaupun orang itu
baik..namun dari jawaban saudara Ahmad ternyata tidak ditemukan hal
itu makonyo ambo bakesimpulan kawin sasuku iko tidak lah haram dan
berarti dibolehkan karano sesuatu nan tidak haram itu adolah boleh
atau halal baitu ushul fiqihnyo...

Nan ado didalam Al quran adolah anjuran agar mamiliah pasangan nan
sholeh dan sebagainyo..manuruik ambo anjuran iko agak lungga hukumnyo
buliah kito lakukan dan buliah pulo kito piliah nan lain karano bukan
kewajiban nan mandatangkan dosa katiko indak dilakukan...ibaraik jalan
ka pasa misalnyo ado duo jalan kasinan, ciek jalan kakiri nan data2
sajo dan capek sampai dan oleh agamo dianjurkan liwaik jalan iko, ado
pulo jalan nan lain ka kanan nan ado pandakian dan babelok belok
sahinggo lambek sampai kapasanyo..misal jalan iko nan ditampuah dek
adaik..apokah iko badoso ? manuruik ambo indak..karano tujuannyo samo

jadi pamahaman samantaro ambo baitu uni...mohon diluruihkan kok
nyampang indak batua..

salam

--- In Rant...@yahoogroups.com, "mardia_n" <mardia_n@...> wrote:
>
> Assalaamu 'alaikum.
>
> Dunsanak sakalian,
>
> Ambo bukanlah pakar agamo, tapi ambo raso amat penting dan kritikal
> (crucial) bahawa adat awak ko bapandangan samo jo agamo. Indak
> buliah hiduik ko ado duo pegangan yang berbeza. Satahu ambo, indak
> ado istilah "'sedikit' menyimpang dari agamo". Samada samo jo agamo
> atau indak sin-nyo.
>
> Ini juo memudahkan tarutamo pado yang mudo-mudo, bia jaleh pegangan
> hiduik dan arah tujunyo. Samugo urang awak diberkati dan dirahmati
> dunia dan akhirat.
>
> Wassalaam,
> mardia (43)
> www.bakerette-cafe.com
>
>

ardi ardi

unread,
Sep 20, 2006, 3:33:14 AM9/20/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum ww

alah duo minggu labiah masalah kawin sasuku nangko
awak bukak. ado nan mambuliahkan ado nan managahkan,
mangharamkan sacaro adaik.

Sacaro agamo iyo indak basuo dasar no nan mangharamkan
kawin sasuku, tapi di adaik - dulu - kok tajadi, iyo
di dando atau dibuang

Mungkin
dalam adaik, pelarangan kawin sasuku iko dulu
ditatapkan dek karano awak alun banyak dan alun
bakambang lai, wallahu a'lam

sabananyo ado hikmah dibaliak kawin ndak sapasukuan
(mungkin dalam hadis nabi ikolah nan diterjemahkan
"urang jauah") diantarono
1. manambah dunsanak jo hubungan silaturrahmi
2. memperbaiki genetik keturunan
(mungkin iko hasil dari urang tuo nan daulu, alam
takambang jadi guru), sacaro biologi balakangan
tabukti bahaso urang kawin masih karabat dakek, ado
kecenderungan diantaro anak-anak mangalami cacat
fisik atau mental
3. manambah wawasan, dll

A. St Rky Mulia (40,3)
Bogor

--- proto_melayu <proto_...@yahoo.com> wrote:

> Waalaikumsalam Uni...
>
> Nyo baiko uni..ambo bukan pulo ahli dalam Ugamo
> hanyo memahami sekedar
> untuak ambo sajo..sabalum ko kan ambo lah batanyo
> apokah haram orang
> tua melarang anaknya kawin dengan seseorang walaupun
> orang itu
> baik..namun dari jawaban saudara Ahmad ternyata
> tidak ditemukan hal
> itu makonyo ambo bakesimpulan kawin sasuku iko tidak
> lah haram
>

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

--------------------------------------------------------------

Anzori

unread,
Sep 20, 2006, 5:36:21 AM9/20/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum ww
Ambo raso topik ko ala cukuik untuak dibahas panjang lebar. Perkawinan bukan cuma masalah halal atau haram, seperti kato dusanak ardi ardi, alam takambang jadi guru. Kalau dulu dusanak nan lain mengutip sagalo macam ayat jo hadist, tapi indak tapek, mako nan paralu kito pikirkan bukan "buliah atau indak buliahnyo", tapi manga ninik mamak dulu malarang, apo rahasio dibaliak itu. Itu lah nan paralu kito kaji sacaro ilmiah, karano ado aspek pembelajarannya. Kalau cuma "buliah"nyo nan kito tonjolkan, aratinya, kito hanyo maliek aspek halal-nyo sajo tapi indak mangkaji lai manga bisa halal. Tapi kalau kito kaji aspek "haram"nyo manuruik adaik, awak bisa baraja disitu jo pertanyaan kenapa?...kenapa?... kenapa? samo jo mangkaji manga makan babi haram? kalau makan sapi jo unto halal, indak paralu dikaji lai. Manga minum bir, wiski haram? Kalau minum aie halal indak paralu dikaji lai.
Itulah adek nan basandi syarak syarak basandi kitabullah. Belajarlah kepada alam semesta dengan berpikir, karena berpikir kita terhindar dari penyakit ingatan. Wassalam

--- proto_melayu
wrote:

> Waalaikumsalam Uni...
>
> Nyo baiko uni..ambo bukan pulo ahli dalam Ugamo
> hanyo memahami sekedar
> untuak ambo sajo..sabalum ko kan ambo lah batanyo
> apokah haram orang
> tua melarang anaknya kawin dengan seseorang walaupun
> orang itu
> baik..namun dari jawaban saudara Ahmad ternyata
> tidak ditemukan hal
> itu makonyo ambo bakesimpulan kawin sasuku iko tidak
> lah haram
>
> --- In Rant...@yahoogroups.com, "mardia_n"



---------------------------------
Get your email and more, right on the new Yahoo.com

Yanurmal

unread,
Sep 20, 2006, 6:38:54 AM9/20/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Wah ternyata ganti judul, threadnya jadi putus.

On 9/20/06, proto_melayu <proto_...@yahoo.com> wrote:
> Waalaikumsalam Uni...
>
> Nyo baiko uni..ambo bukan pulo ahli dalam Ugamo hanyo memahami sekedar
> untuak ambo sajo..sabalum ko kan ambo lah batanyo apokah haram orang
> tua melarang anaknya kawin dengan seseorang walaupun orang itu
> baik..namun dari jawaban saudara Ahmad ternyata tidak ditemukan hal
> itu makonyo ambo bakesimpulan kawin sasuku iko tidak lah haram dan
> berarti dibolehkan karano sesuatu nan tidak haram itu adolah boleh
> atau halal baitu ushul fiqihnyo...

Jan lansuang ambiak putusan semudah itu. Kalau memang belum terjawab,
carilah jawabannya di tempat lain. Salah2 resikonya azab neraka
nantinya. Cukupkan ilmu tantang itu baru setelah itu ambiak
kesimpulan.

>
> Nan ado didalam Al quran adolah anjuran agar mamiliah pasangan nan
> sholeh dan sebagainyo..manuruik ambo anjuran iko agak lungga hukumnyo
> buliah kito lakukan dan buliah pulo kito piliah nan lain karano bukan
> kewajiban nan mandatangkan dosa katiko indak dilakukan...ibaraik jalan
> ka pasa misalnyo ado duo jalan kasinan, ciek jalan kakiri nan data2
> sajo dan capek sampai dan oleh agamo dianjurkan liwaik jalan iko, ado
> pulo jalan nan lain ka kanan nan ado pandakian dan babelok belok
> sahinggo lambek sampai kapasanyo..misal jalan iko nan ditampuah dek
> adaik..apokah iko badoso ? manuruik ambo indak..karano tujuannyo samo
>
> jadi pamahaman samantaro ambo baitu uni...mohon diluruihkan kok
> nyampang indak batua..

Coba dicermati lagi, apakah betul 'dianjurkan' atau 'disuruh'.

Salam,
Yanurmal

Yanurmal

unread,
Sep 20, 2006, 6:50:46 AM9/20/06
to pal...@minang.rantaunet.org
On 9/20/06, ardi ardi <arad...@yahoo.com> wrote:
> Assalamu'alaikum ww

Waalaikumsalam wr.wb.

> alah duo minggu labiah masalah kawin sasuku nangko
> awak bukak. ado nan mambuliahkan ado nan managahkan,
> mangharamkan sacaro adaik.
>
> Sacaro agamo iyo indak basuo dasar no nan mangharamkan
> kawin sasuku, tapi di adaik - dulu - kok tajadi, iyo
> di dando atau dibuang

Berarti dasarnyo adat tu pasti bukan agamo.
Kalau dasarnyo agamo ndak mungkin diharamkan diadat.

> Mungkin
> dalam adaik, pelarangan kawin sasuku iko dulu
> ditatapkan dek karano awak alun banyak dan alun
> bakambang lai, wallahu a'lam
>
> sabananyo ado hikmah dibaliak kawin ndak sapasukuan
> (mungkin dalam hadis nabi ikolah nan diterjemahkan
> "urang jauah") diantarono
> 1. manambah dunsanak jo hubungan silaturrahmi
> 2. memperbaiki genetik keturunan
> (mungkin iko hasil dari urang tuo nan daulu, alam
> takambang jadi guru), sacaro biologi balakangan
> tabukti bahaso urang kawin masih karabat dakek, ado
> kecenderungan diantaro anak-anak mangalami cacat
> fisik atau mental
> 3. manambah wawasan, dll

Batua pak, kebaikan ateh perkawinan balain suku tu ado, jaleh dan
Rasulpun pernah manyampaikannyo. Tapi beliau indak pernah
melarang/mengharamkan perkawainan sasuku tsb. Jadi, jan karano dasar
iko awak jadi mengharamkannyo atau mambeuknyo jadi abu-abu. Hitam
putiahnyo jaleh.

Wassalamualaikum wr.wb.
Yanurmal

Ahmad Ridha

unread,
Sep 20, 2006, 9:25:37 AM9/20/06
to pal...@minang.rantaunet.org
On 9/18/06, Anzori <anz...@yahoo.com> wrote:
> Assalmualaikum wr.wb.
>

Wa 'alaikumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,

* Maaf terputus lama; saya kira sudah terkirim ternyata masih di Drafts *

> Dalam menghayati al-qur'an ambo labih suko strijk kepada makna, contoh :
> > "Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya
> > bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha
> > Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. at-Tahriim 66:1)
>
> Ayat ini maksudnya adalah kesenangkan kepada istri (yang sudha menjadi
> istri), bukan kesenangan MENCARI ISTRI. Jadi jangan dicampuradukkan antara
> KESENANGAN MENCARI CALON ISTRI dengan MEMBERIKAN
> KESENANGAN KEPADA ISTRI. Jauh beda maknanya.
>

Saya setuju bahwa memang ayat Al-Qur'an harus dipahami sesuai dengan
apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Hal ini dapat kita ketahui
dengan melihat pemahaman di masa Rasulullah dan para shahabat beliau.

Dalam masalah ini, silakan dilihat lagi ayatnya dan e-mail saya, Pak
Anzori. Pesan utama ayat itu adalah teguran "Hai Nabi, mengapa kamu
mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu". Bagian "kamu
mencari kesenangan hati istri-istrimu?" adalah teguran yang terkait
dengan sebab turunnya ayat itu.

Sebab turunnya ayat itu disebutkan dalam Shahih al-Bukhari yang
dikisahkan oleh 'Aisyah radhiallahu 'anha.

Secara ringkas ceritanya begini. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Sallam suka tinggal lama di rumah salah satu istrinya dan minum madu
(beliau menyukai madu). 'Aisyah merasa cemburu dan merencanakan tipuan
dengan istri beliau lainnya. Caranya dengan mengatakan bahwa ada bau
kurang enak pada beliau (karena madu itu). Setelah rencana itu
dilaksanakan, Rasulullah pun tidak lagi meminum madu itu. Lalu
turunlah ayat tersebut.

Di sini kejadiannya adalah Rasulullah mengharamkan sesuatu bagi
dirinya padahal hal itu dihalalkan Allah Ta'ala. Namun Allah pun
menegur beliau dengan ayat tersebut.

Lantas bagaimana pula manusia akan membuat aturan yang mengharamkan
sesuatu yang dihalalkan Allah, tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi
bagi seluruh kaum? Tentulah lebih besar urusannya dari sebab turunnya
ayat itu.

Terlebih, masalah yang diharamkan dalam sebab turunnya ayat itu adalah
madu. Sedangkan yang kita bicarakan di sini adalah masalah pernikahan
yang lebih besar lagi.

Jadi memang tidak ada hubungannya dengan "kesenangan mencari calon
istri". Tidak pula saya menghubung-hubungkannya.

Yang menjadi pokok permasalahan di sini adalah apakah pantas melarang
kawin sasuku (dengan berbagai versinya) secara mutlak padahal
dihalalkan oleh Allah? Islam telah mengatur hal-hal untuk
dipertimbangkan dalam memilih calon istri atau suami.

Jika kita ingin strict dengan makna, silakan Pak Anzori lihat daftar
perempuan yang diharamkan untuk dinikahi dalam Al-Qur'an dan
as-Sunnah. Apakah perempuan sesuku (baik sapayuang, atau lainnya)
termasuk di dalamnya?

> Ini adalah untuk para JANDA, bukan untuk clon mempelai pria. Kawin SASUKU
> lebih ditonjolkan ARAHANNYA kepada pihak LAKI_LAKI, bukan wanita, karena
> laki-laki adalah yang lebih MEMUTUSKAN, dibanding pihak wanita. Jadi kutipan
> ayatnya pun menurut saya tidak tepat.
>

Silakan dilihat lagi konteks di e-mail saya. Saya membawakan ayat ini
dan sebab turunnya sebagai contoh teguran Allah terhadap wali yang
melarang sesuatu yang halal (rujuk).

> Hadist ini tidak menjelaskan soal hubungan antar pria dan wanita yang nikah
> tersebut apakah bersaudara dekat atau jauh. Jadi menurut saya hadist ini lebih
> menonjolkan sisi hukum bahwa orang yang sudah ditalaq bisa dinikahi lagi.
>

Dalam Islam memang tidak ada larangan menikah dengan saudara dekat
atau jauh. Sebagai contoh nyata, salah satu istri Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah Zainab binti Jahsy radhiallahu
'ana. Beliau adalah putri dari bibi Rasulullah yang bernama Umaymah
binti Abdul Muthalib bin Hasyim. Jadi Zainab adalah sepupu Rasulullah
dari sisi ayah.

> Bebeberapa kelemahan bila kita melihat nikah antara Saudara dekat
> 1. Anak yang dilahirkan bisa cacat, apalagi kalau ada gen yang sudah temurun
> dari nenek moyang mereka.
> 2. Masyarakat suku tersebut tidak berkembang , karena masih berasal dari
> moyang yang sama
>

Silakan pakar kedokteran dan genetika berbicara di sini. Di sini saya
bukan mempromosikan kawin sesuku atau membatasi agar orang Minang
kawin sesuku saja. Kita lihat bukti nyata saja, dengan adanya larangan
kawin sesuku ini ternyata banyak yang mengeluhkan orang Minang kurang
berkembang.

Pernikahan dalam Islam adalah ibadah. Bahkan dikatakan bahwa laki-laki
yang menikah telah melengkapi separuh agamanya. Apakah kita akan
membuat aturan yang mempersulit ibadah itu?

> Saling mengenal di sini adalah agar bersilaturrahmi dan membina hubungan,
> apakah itu hubungan persaudaraan atau hubungan yang lebih dekat lagi,
> misalnya hubungan perkawinan dsb. Memang pada akhirnya JODOH itu adalah
> TAQDIR ALLAH. Maka untuk itulah kita harus selalu berserah diri kepada
> ALLAH dengan mengharap RIDHONYA.
>

Setuju. Silakan lihat teladan pada rumah tangga Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa Sallam. Telah saya berikan contoh istri beliau dari
keluarga dekat. Beliau juga menikah dengan Shafiyah radhiallahu 'anha
dari Bani Israil. Tidaklah beliau melarang kawin sesuku atau tidak
sesuku.

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. al-Ahzab
33:21)

Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Semoga bermanfaat.

Datuk Endang

unread,
Sep 20, 2006, 10:03:35 PM9/20/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Dunsanak Ahmad Ridha ysh,
Sedikit menjawab pertanyaan anda, namun tiada maksud untuk membangun perdebatan. Mudah-mudahan sebagai bahan kita bersama untuk introspeksi dan dapat lebih memahami.

Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote:
On 9/18/06, Anzori wrote:

Lantas bagaimana pula manusia akan membuat aturan yang mengharamkan
sesuatu yang dihalalkan Allah, tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi
bagi seluruh kaum? Tentulah lebih besar urusannya dari sebab turunnya
ayat itu.

=> Bila manusia membuat aturan "haram", tentulah tidak boleh. Aturan adat hanya "melarang" perkawinan sepersukuan.



Yang menjadi pokok permasalahan di sini adalah apakah pantas melarang
kawin sasuku (dengan berbagai versinya) secara mutlak padahal
dihalalkan oleh Allah? Islam telah mengatur hal-hal untuk
dipertimbangkan dalam memilih calon istri atau suami.

=> Saya tidak menemukan ketentuan 'mutlak' (dalam tafsiran Hukum Islam) di dalam ketentuan adat; juga tidak menemukan ketentuan halal di dalam Hukum Islam mengenai boleh kawin sesuku.



Jika kita ingin strict dengan makna, silakan Pak Anzori lihat daftar
perempuan yang diharamkan untuk dinikahi dalam Al-Qur'an dan
as-Sunnah. Apakah perempuan sesuku (baik sapayuang, atau lainnya)
termasuk di dalamnya?

=> Daftar tersebut juga tidak ada dalam daftar halal.



Pernikahan dalam Islam adalah ibadah. Bahkan dikatakan bahwa laki-laki
yang menikah telah melengkapi separuh agamanya. Apakah kita akan
membuat aturan yang mempersulit ibadah itu?

=> Aksioma hendaknya kontekstual.



Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Semoga bermanfaat.

Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

=> Demikian pula hendaknya. Wassalam.
-datuk endang


---------------------------------
All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster.

Z Chaniago

unread,
Sep 20, 2006, 10:46:29 PM9/20/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum WW

Batanyo pulo ambo saketek Angku Dt Endang Pahlawan yam.
Angku Dt mangatokan "Aturan adat hanya "melarang" perkawinan sepersukuan"
... tetapi ada hukuman dalam aturan adat jika larangan itu diabaikan.

Bisakah diambil pandangan seperti ini " Adat melarang perkawinan sepersukuan
tetapi resiko tanggung sendiri " ? dengan contoh jika terjadi perkawinan
sepersukuan toh law enforcement adat 'bermasalah' dan diabaikan saja
sehingga resiko lain...misalnya genetika dll tanggung sendiri....

Wassalam

Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================

>From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>>
> => Bila manusia membuat aturan "haram", tentulah tidak boleh. Aturan
>adat hanya "melarang" perkawinan sepersukuan.
>

> => Saya tidak menemukan ketentuan 'mutlak' (dalam tafsiran Hukum Islam)
>di dalam ketentuan adat; juga tidak menemukan ketentuan halal di dalam
>Hukum Islam mengenai boleh kawin sesuku.
>

> => Daftar tersebut juga tidak ada dalam daftar halal.
>
>

> => Aksioma hendaknya kontekstual.


>
>
>=> Demikian pula hendaknya. Wassalam.
>-datuk endang

--------------------------------------------------------------

Anzori

unread,
Sep 20, 2006, 11:50:52 PM9/20/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum WW
dalam menganalisa mengenai "kawin sasuku" kita tidak bisa melihat dari pola pikir "partial", yaitu hanya mengkaitkan dengan persoalan "haram", "halal", "boleh" atau "tidak boleh". Cara berpikirnya harus holistik (menyeluruh).
Tidak semua yang halal harus dikerjakan. Kalau semua yang haram dilarang itu artinya adalah Undang-Undang. Kalau sesuatu tidak dilarang pada satu tempat dan dilarang ditempat lain, itu adalah "kebijakan". Contoh: seorang anak ingin mneikah dengan pemuda pilihannya, tapi orang tua tidak setuju. Padahal kawin dengan pemuda itu jelas "halal", tapi orang tua sudah punya pilihan sendiri buat anaknya. Itupun "halal". Si gadis tidak setuju dengan pilihan orang tua, kemudian kawin lari. Di sini anda ingin menilai "halal"nya kawin lari atau "haramnya" melawan kehendak orang tua?

Konsekuensinya, si anak tidak mendapat restu. Kemudian ternyata si anak dicerai sama si pemuda pilihan dan kembali keorang tua.
Di sini anda ingin mempertahankan "halal"nya tindakan atau anda ingin meniali konsukensi dari tindakan?
Jadi kalau kita berpikir holistik, jangan cuma mengkaji masalah halal atau haram. Itulah yang membuat mundur ummat Islam karena cara berpikir tidak holistik, hanya melihat dari sisi hukum "halal" atau "haram" semata, padahal Al-Qur'an dan Hadits adalah samudara ilmu yang tidak hanya mengupas masalah "halal" atau "haram", tapi lebih menonjolkan "rahmatillah alamiin."

Saya hanya prihatin dengan sikap berpikir partial yang hanya mengupas 1+1 =2, padahal 1+1 lebih dari 2, 3 bahkan 4.
Wassalam,

Wassalam


---------------------------------
Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1¢/min.

Tasril Moeis

unread,
Sep 21, 2006, 12:23:59 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Mak Datuak Endang yth,
Dek persoalan ko muncul baliak, ambo lampirkan baliak jawaban Mak Datuak
tantang persoalan sanak awak Hengki Sikumbang.
Isu ko mungkin bisa di paketek sasuai jo jawaban Mak Datuak tadi kawin sa
suku nan di larang kalau sa kampuang. Kalau lah balain kampuang indak jadi
persoalan sabaok kampuang tadi lah nan manjadi suku.
Ambo pun tadi no ber anggapan bahwa larangan kawin sa suku ko indak buliah
samo sakali kalau namo suku no samo, dek karano indak ado keterangan
lanjutan.

Wassalam
Tan Ameh

----- Original Message -----
From: "Datuk Endang" <datuk_...@yahoo.com>
To: <pal...@minang.rantaunet.org>
Cc: <suli...@yahoogroups.com>
Sent: Friday, September 15, 2006 4:16 PM
Subject: Re: [R@ntau-Net] Kawin se Suku Marak -hukum adat

Sanak Tan Ameh dan Hengky ysh,
Maaf saya sebelumnya tidak cermat membaca.
Bila berlainan nagari tentunya diperbolehkan. Hakikat adat salingka nagari
dan nagari baampek suku, menyebabkan pertautan kekeluargaan adalah khas
untuk nagari tersebut. Namun bila dibawa keluar, Nagari itulah yang menjadi
sukunya.
Dalam acara pengisian adat, tentunya Hengky akan didudukkan dalam salah
suku yang bukan suku Sikumbang di nagari istri.
Demikian, dan wassalam,

-datuk endang


Anzori

unread,
Sep 21, 2006, 12:50:51 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Manga indak di Bukittinggi ? Tanyato Pajabaik Payakumbuah labiah kreatif

Kehadiran Unand Kampus Payakumbuh Disambut Baik

PAYAKUMBUH, METRO - Rencana Unand Padang untuk membuka Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Pertanian di Kota Payakumbuh mulai tahun akademi 2006 ini, disambut baik pengurus Dewan Pendidikan Kota Payakumbuh serta para pemerhati pendidikan.

Saking bersemangatnya, pelbagai pihak menerima kehadiran lembaga pendidikan tinggi (PT) tersebut, sampai-sampai ke luar ucapan “kurang laweh tapak tangan, jo niru kito tampuang”. Mereka berharap, tahun ini Unand Kampus Payakumbuh itu sudah bisa menerima mahasiswa baru.

Kepala Bappeda Kota Payakumbuh, Dr Adrimas ketika ditemui POSMETRO, Selasa (4/7) mengatakan, Unand Kampus Payakumbuh berencana akan membuka 3 fakultas. Yakni Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Fakutas Pertanian. Namun yang segera direalisir adalah Fakultas Pertanian. Bahkan, direncanakan pada September mendatang sudah mulai menerima pendaftaran mahasiswa baru.

Dia mengatakan, sesuai hasil musyawarah segenap pihak terkait, Fakultas Pertanian pada Unand Kampus Payakumbuh akan bercokol di komplek bangunan Unand di Kubu Gadang. Sedangkan untuk Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi, direncanakan akan memanfaatkan sebuah gedung di Limbukan, Payakumbuh Barat.

Salah seorang pengurus Dewan pendidikan Kota Payakumbuh, H Choedri yang dijumpai di tempat terpisah, menyatakan dukungannya terhadap kehadiran Unand Kampus Payakumbuh. “Saya sangat mendukung keinginan rektor Unand Padang membuka Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian di Kota Payakumbuh. Diharapkan tahun ini sudah menerima mahasiswa baru,” kata Choedri.

Tiga fakultas yang akan dibuka di Payakumbuh itu, tambah Choedri, sudah sesuai dengan keinginan masyarakat luas. Malahan, yang sangat tepat dibuka adalah Fakultas Pertanian. Karena, iklim dan struktur tanah di kota ini sangat cocok buat pertanian.

Nada yang sama juga dilontarkan pengurus Dewan Pendidikan Kota Payakumbuh lainnya, N Datuk Baro Sati dan Hasan Basri Sy SPd. Kedua tokoh pendidikan ini mengakui, keseriusan Pemko merangkul Unand membuka ketiga fakultas tersebut di Payakumbuh, merupakan suatu langkah maju yang perlu diacungkan jempol serta disyukuri seluruh masyarakat.

Harapan Datuk Baro Sati dan Hasan Basri, kalau tahun ini paling tidak Unand sudah mulai membuka Fakultas Pertanian, mudah-mudahan tahun depan diikuti dengan fakultas lainnya. Bahkan Datuk Baro Sati mengatakan, Unand lebih berpotensi dan berprospek membuka Fakultas Pertanian di Payakumbuh. Sebab, dalam sejarahnya Fakultas Pertanian Unand yang ada di Padang sekarang, berasal dari Payakumbuh. Karena itu, wajar saja warga Payakumbuh ingin mengembalikan sejarah itu kembali.

Dukungan juga mengalir dari tokoh masyarakat. Yanhar Chatib, seorang tokoh masyarakat dari nagari Koto Nan Ompek, Payakumbuh Barat, menyebutkan kehadiran Unand Kampus Payakumbuh harus disambut baik. Demikian juga Ketua PGRI Payakumbuh, Maharnis Zul SPd. Menurut mereka, kehadiran Unand Kampus Payakumbuh, secara ekonomi akan membantu orangtua mahasiswa. Para orangtua tidak perlu lagi mengeluarkan biaya terlalu besar, untuk melanjutkan pendidikan putera-puteri mereka ke daerah lain. (sas)



---------------------------------
All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster.

ardi ardi

unread,
Sep 21, 2006, 1:08:14 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum

Mak datuak Endang nan ambo hormati jo adi dunsanak di
palanta, ambo batanyo ciek 'perkawinan - badunsanak
apak" sacaro adaik jo syara'

Ado kasus duo urang laki-laki badunsanak kanduang
(saapak jo sa amak). Masiang-masiang punyo anak nan
surang ado anak padusi nan surang lai ado anak
laki-laki.
Tapi malang ndak dapek ditulak mujua ndak dapek
diraiah, nan punyo anak laki-laki, indak sampai umua
manggadangkan anak baliau ko, lalu diasuahlah dek
dunsanak laki-lakino.
Alah baabih hari baetong bulan, tahun-tahunpun alah
batuka, tanyato anak dunsanak laki-laki baliau ko
saling manyukoi jo anak padusino.
Lalu dinikahkankanlah kaduo anak ko, dan kini alah
punyo anak umua labiah sagetek 6 tahun
Baa pulo duduak persolan nangko dalam pandangan adaik

Sagitu dulu dari ambo Mak

Wassalam
A. St. Rky. Mulia (40,3)
Bogor


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

--------------------------------------------------------------

Datuk Endang

unread,
Sep 21, 2006, 1:10:33 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Dunsanak Palai Rinuak ysh,
Bila yang dihadapi hanya hukum buatan manusia, kenapa mesti takut dan resah?

Mengenai resiko, saya sampaikan sebuah contoh saja. Mengendarai kendaraan di "jalur kanan" adalah tidak melanggar Hukum Islam, dan dalam sebuah analogi lain seharusnya malah "dianjurkan". Namun cobalah melakukannya di bukan negara2 Commonwealth, mudah2anlah tidak ada polisi atau kendaraan lain yang menghadang di muka.

Wassalam,

-datuk endang

Z Chaniago <palai_...@hotmail.com> wrote:
Assalamu'alaikum WW

Batanyo pulo ambo saketek Angku Dt Endang Pahlawan yam.
Angku Dt mangatokan "Aturan adat hanya "melarang" perkawinan sepersukuan"
... tetapi ada hukuman dalam aturan adat jika larangan itu diabaikan.

Bisakah diambil pandangan seperti ini " Adat melarang perkawinan sepersukuan
tetapi resiko tanggung sendiri " ? dengan contoh jika terjadi perkawinan
sepersukuan toh law enforcement adat 'bermasalah' dan diabaikan saja
sehingga resiko lain...misalnya genetika dll tanggung sendiri....

Wassalam

Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================


>From: Datuk Endang >
> => Bila manusia membuat aturan "haram", tentulah tidak boleh. Aturan
>adat hanya "melarang" perkawinan sepersukuan.
>
> => Saya tidak menemukan ketentuan 'mutlak' (dalam tafsiran Hukum Islam)
>di dalam ketentuan adat; juga tidak menemukan ketentuan halal di dalam
>Hukum Islam mengenai boleh kawin sesuku.
>
> => Daftar tersebut juga tidak ada dalam daftar halal.
>
>
> => Aksioma hendaknya kontekstual.
>
>
>=> Demikian pula hendaknya. Wassalam.
>-datuk endang


---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less.

proto_melayu

unread,
Sep 21, 2006, 1:32:10 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
--- In Rant...@yahoogroups.com, Yanurmal <yanurmal@...> wrote:

>
> On 9/20/06, ardi ardi <aradinov@...> wrote:
> > Assalamu'alaikum ww
>
> Waalaikumsalam wr.wb.
>
> > alah duo minggu labiah masalah kawin sasuku nangko
> > awak bukak. ado nan mambuliahkan ado nan managahkan,
> > mangharamkan sacaro adaik.
> >
> > Sacaro agamo iyo indak basuo dasar no nan mangharamkan
> > kawin sasuku, tapi di adaik - dulu - kok tajadi, iyo
> > di dando atau dibuang
>
> Berarti dasarnyo adat tu pasti bukan agamo.
> Kalau dasarnyo agamo ndak mungkin diharamkan diadat.

Proto: koreksi stek..kito mambicarokan kawin sasuku nan jadi bagian
dari adaik MInangkabau nan babhua sintak..kawin sasuku ko hanyo
sedikit dari sebegitu banyak norma Adat MInangkabau jadi jan
digeneralisir..


> > Mungkin
> > dalam adaik, pelarangan kawin sasuku iko dulu
> > ditatapkan dek karano awak alun banyak dan alun
> > bakambang lai, wallahu a'lam
> >
> > sabananyo ado hikmah dibaliak kawin ndak sapasukuan
> > (mungkin dalam hadis nabi ikolah nan diterjemahkan
> > "urang jauah") diantarono
> > 1. manambah dunsanak jo hubungan silaturrahmi
> > 2. memperbaiki genetik keturunan
> > (mungkin iko hasil dari urang tuo nan daulu, alam
> > takambang jadi guru), sacaro biologi balakangan
> > tabukti bahaso urang kawin masih karabat dakek, ado
> > kecenderungan diantaro anak-anak mangalami cacat
> > fisik atau mental
> > 3. manambah wawasan, dll
>
> Batua pak, kebaikan ateh perkawinan balain suku tu ado, jaleh dan
> Rasulpun pernah manyampaikannyo. Tapi beliau indak pernah
> melarang/mengharamkan perkawainan sasuku tsb. Jadi, jan karano dasar
> iko awak jadi mengharamkannyo atau mambeuknyo jadi abu-abu. Hitam
> putiahnyo jaleh.


Proto:
Cubo dikaji baliak adaik kawin sasuku koh..bukanlah pengharaman tapi
pelarangan kalau masih bisa dilarang. kalau tidak bisa masih ada jalan
lain yaitu membayar denda....kalau pengharaman lah lain kaji
tuh..badoso ujuangnyo kalau dilangga..lah samo lo jo agamo tuh..mohon
masalah iko di pilah pilah...samo jo negara malarang poligami terhadap
PNS nyo..Rasulullah kan ndak malarang doh...nan adaik ko kan aturan
masyarakaik nan disepakati..dan iko sangaik fleksibel jadi bukan
masalah halal dan haram..

salam

proto_melayu

unread,
Sep 21, 2006, 1:35:42 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Kesimpulan ambo ambiak dari diskusi kito disiko Da..alah mancaliak Al
Quran jo Hadist bagai..kama kadicari selain dari sinan lai ? kalau
memang ndak tatulih kawin sasuku di duo sumber hukum Islam
tuh..Rasululloh manyuruah kito ba Ijtihad..dan indak ado nan mambarek
an disiko doh..kok salah pun Ijtihad kito masih dapek pahalo..bukan
baitu ?

--- In Rant...@yahoogroups.com, Yanurmal <yanurmal@...> wrote:
>

> Wah ternyata ganti judul, threadnya jadi putus.
>

> On 9/20/06, proto_melayu <proto_melayu@...> wrote:

>
> Jan lansuang ambiak putusan semudah itu. Kalau memang belum terjawab,
> carilah jawabannya di tempat lain. Salah2 resikonya azab neraka
> nantinya. Cukupkan ilmu tantang itu baru setelah itu ambiak
> kesimpulan.
>
> >

>

Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Sep 21, 2006, 1:38:04 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org

Dalam masalah ko, ado pandapek nan pernah ambo danga :

Sacaro adat indak ado masalah. Buliah tajadi pernikahan
Kalau menurut syarak, si laki-laki buliah jadi wali siperempuan, tapi
bisa pulo jadi suaminyo.

Betulkah ituuuuu........

Salam StRA

Assalamu'alaikum

--------------------------------------------------------------

ardi ardi

unread,
Sep 21, 2006, 1:41:23 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org

Dalam syara' sajauh nan ambo tau, saudara laki-laki
sepupu tamasuak wali nikah, nan dalam urutanno urutan
ka salapan


--- "Rasyid, Taufiq (taufiqr)" <tau...@chevron.com>
wrote:

Anzori

unread,
Sep 21, 2006, 2:00:59 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Dalam Psychology hal semacam itu disabuik "Perkawinan Sedarah" (incest). Kawin seperti itu termasuk sebagai "penyimpangan" yang juga tidak dianjurkan oleh agama (barangkali ahli agamo bisa memberikan ayat-ayatnya). Perkawinan incest itulah yang banyak menyebabkan keterbelakangan mental dan cacat dari bayi yang dilahirkan.

"Rasyid, Taufiq (taufiqr)" <tau...@chevron.com> wrote:

Betulkah ituuuuu........

Salam StRA

Assalamu'alaikum

Zorion_Anas se,mm,ckm,cidd,cf
http://minangmaimbau.blogspot.com
http://zorionanas.blogspot.com
anz...@yahoo.com, zor...@yahoo.com, zor...@gmail.com, anzo...@gmail.com
Cel. No. : 0816.85.79.39

---------------------------------
Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out.

Z Chaniago

unread,
Sep 21, 2006, 2:35:30 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum WW

Ok ambo sasuai jo jawaban Angku Dt " Bila yang dihadapi hanya hukum buatan

manusia, kenapa mesti takut dan resah? "

Nah apakah bisa diartikan ' pelarangan adat dalam hal kawin sapasukuan' cuma
bullshit ??
karena toh mau dilanggar, tidak ada law enforcement yang mengikat ?

Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://www.maninjau.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================

>From: Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com>
>
>Dunsanak Palai Rinuak ysh,
> Bila yang dihadapi hanya hukum buatan manusia, kenapa mesti takut dan
>resah?
>
> Mengenai resiko, saya sampaikan sebuah contoh saja. Mengendarai
>kendaraan di "jalur kanan" adalah tidak melanggar Hukum Islam, dan dalam
>sebuah analogi lain seharusnya malah "dianjurkan". Namun cobalah
>melakukannya di bukan negara2 Commonwealth, mudah2anlah tidak ada polisi
>atau kendaraan lain yang menghadang di muka.
>
> Wassalam,
>
> -datuk endang

--------------------------------------------------------------

proto_melayu

unread,
Sep 21, 2006, 2:51:18 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Waalaikumsalam

Mooh manyela...law enforcement tuh definisinyo nan jaleh apo sih Da Chan ?

thanks

Rehza

unread,
Sep 21, 2006, 12:20:09 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Kontradiksi antara paragaraf awal dengan isi komentar sangat terasa.
Pokok pikiran awal yg menyatakan tak mencari perdebatan justru
dijungkir balikan oleh komentar2 singkat yg semangatnya cuma
menyangkal. jika berpijak pada lapisan paling dangkal saja yg muncul
dari postingan sdr ridha ysh, tentu akan banyak sekali kata2 sanggahan
yang bisa dilepaskan. namun andai ada keiklasan utk pergi lebih dalam,
maka apa yg disampaikan sdr ridha ysh sungguh bermakna sederhana bhw
semestinya hal2 yg dianjurkan agama haruslah diperkuat oleh adat.
bukan sebaliknya. atau sekedar mencari pembenaran2 dangkal pada
lapisan kata-kata belaka. atau sekedar unjuk taring? tak ada yg tau
masalah ini selain pemilik hati.


"ada jejak kesombongan dalam jiwa2 yg merasa sedang tunduk. sungguh
kerendahan hati hanya ada dalam kesombongan kecil2an yg muncul dalam
ke khilafan. sedangkan keangkuhan besar terbungkus rapi dalam kosmetik
kata-kata"

salam hormat
Rehzavinas

--- In Rant...@yahoogroups.com, Datuk Endang <datuk_endang@...> wrote:
>
> Dunsanak Ahmad Ridha ysh,
> Sedikit menjawab pertanyaan anda, namun tiada maksud untuk
membangun perdebatan. Mudah-mudahan sebagai bahan kita bersama untuk
introspeksi dan dapat lebih memahami.
>

nada bening

unread,
Sep 21, 2006, 1:05:44 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Kalau ambo mendukung langkah diversivikasi kampus Unand ko ka Ranah Pikumbuah. Baa kok indak di Bukiktinggi?

Dunsanak tantu alah tau bahaso di Pikumbuah ko memang nagari elok, "aianyo janiah ikannyo jinak." Indak ikannyo sajo nan jinak, gadih-gadih Pikumbuah pun lai jinak pulo.

Tapi selain itu, pembukaan kampus Unand di Pikumbuah akan memiliki beberapa keuntuangan:

1. Biaya iduik indak satinggi di Padang.
2. Iklim nan bersahabat, indak saangek di Padang.
3. Lebih dekat ke areal pertanian nyata (indak spt di FP di Padang nan jauah panggang dari api)

dan berbagai keuntuangan lainnya.
Jadi sasuai bana ambo jo niniak mamak nan lain. Kok kurang laweh tapak tangan, jo nyiru kami tampuangkan :)

Wassalam,
St. Pamenan

Anzori <anz...@yahoo.com> wrote:
Manga indak di Bukittinggi ? Tanyato Pajabaik Payakumbuah labiah kreatif

Kehadiran Unand Kampus Payakumbuh Disambut Baik


PAYAKUMBUH, METRO - Rencana Unand Padang untuk membuka Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Pertanian di Kota Payakumbuh mulai tahun akademi 2006 ini, disambut baik pengurus Dewan Pendidikan Kota Payakumbuh serta para pemerhati pendidikan.

Saking bersemangatnya, pelbagai pihak menerima kehadiran lembaga pendidikan tinggi (PT) tersebut, sampai-sampai ke luar ucapan “kurang laweh tapak tangan, jo niru kito tampuang”. Mereka berharap, tahun ini Unand Kampus Payakumbuh itu sudah bisa menerima mahasiswa baru.

Kepala Bappeda Kota Payakumbuh, Dr Adrimas ketika ditemui POSMETRO, Selasa (4/7) mengatakan, Unand Kampus Payakumbuh berencana akan membuka 3 fakultas. Yakni Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Fakutas Pertanian. Namun yang segera direalisir adalah Fakultas Pertanian. Bahkan, direncanakan pada September mendatang sudah mulai menerima pendaftaran mahasiswa baru.

Dia mengatakan, sesuai hasil musyawarah segenap pihak terkait, Fakultas Pertanian pada Unand Kampus Payakumbuh akan bercokol di komplek bangunan Unand di Kubu Gadang. Sedangkan untuk Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi, direncanakan akan memanfaatkan sebuah gedung di Limbukan, Payakumbuh Barat.

Salah seorang pengurus Dewan pendidikan Kota Payakumbuh, H Choedri yang dijumpai di tempat terpisah, menyatakan dukungannya terhadap kehadiran Unand Kampus Payakumbuh. “Saya sangat mendukung keinginan rektor Unand Padang membuka Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian di Kota Payakumbuh. Diharapkan tahun ini sudah menerima mahasiswa baru,” kata Choedri.

Tiga fakultas yang akan dibuka di Payakumbuh itu, tambah Choedri, sudah sesuai dengan keinginan masyarakat luas. Malahan, yang sangat tepat dibuka adalah Fakultas Pertanian. Karena, iklim dan struktur tanah di kota ini sangat cocok buat pertanian.

Nada yang sama juga dilontarkan pengurus Dewan Pendidikan Kota Payakumbuh lainnya, N Datuk Baro Sati dan Hasan Basri Sy SPd. Kedua tokoh pendidikan ini mengakui, keseriusan Pemko merangkul Unand membuka ketiga fakultas tersebut di Payakumbuh, merupakan suatu langkah maju yang perlu diacungkan jempol serta disyukuri seluruh masyarakat.

Harapan Datuk Baro Sati dan Hasan Basri, kalau tahun ini paling tidak Unand sudah mulai membuka Fakultas Pertanian, mudah-mudahan tahun depan diikuti dengan fakultas lainnya. Bahkan Datuk Baro Sati mengatakan, Unand lebih berpotensi dan berprospek membuka Fakultas Pertanian di Payakumbuh. Sebab, dalam sejarahnya Fakultas Pertanian Unand yang ada di Padang sekarang, berasal dari Payakumbuh. Karena itu, wajar saja warga Payakumbuh ingin mengembalikan sejarah itu kembali.

Dukungan juga mengalir dari tokoh masyarakat. Yanhar Chatib, seorang tokoh masyarakat dari nagari Koto Nan Ompek, Payakumbuh Barat, menyebutkan kehadiran Unand Kampus Payakumbuh harus disambut baik. Demikian juga Ketua PGRI Payakumbuh, Maharnis Zul SPd. Menurut mereka, kehadiran Unand Kampus Payakumbuh, secara ekonomi akan membantu orangtua mahasiswa. Para orangtua tidak perlu lagi mengeluarkan biaya terlalu besar, untuk melanjutkan pendidikan putera-puteri mereka ke daerah lain. (sas)


---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

Tasril Moeis

unread,
Sep 21, 2006, 6:13:17 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Metro Realitas di Metro TV siang ko mengupas tentang pariwisata di Pulau
Karimun.
Memanfaat gencarnya Pemda Karimun untuak menggalang pariwisata manca negara
untuak meningkat kan PAD nyo, ternyata di manfaatkan oleh cukong2 dengan
mengadakan promosi "Paket Pariwisata komplet' untuak turis dari Singapur
dengan biaya nan jauah labiah murah dari pado ka Batam.
Hasil nya tiok akhir pekan turis Singapur nan datang ka Karimun sabana rami,
tapi nan aneh turis ko ampia sado no laki2, rupo no "Paket Pariwisata
Komplet" ko iyo sabana komplet. Rupo no antah di sadari atau indak oleh
Pemda Karimun lah puluhan kompleks nan indak si nonoh ko di sinan, sabu2,
ectasy dll pun jadi barang gampang untuak di cari.

Wassalam
Tan Ameh

Amrizal

unread,
Sep 21, 2006, 6:30:20 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
'Alaikumsalam, wr.wb.

Lansuang sajo ambo cubo manjawab, kok ado nan kurang tapek mohon
bapak-bapak di RN iko mangoreksinyo.

Kalau manuruik syara' anak iko adolah batalian darah, baarti
haram hukumnyo nikah kawin bagi anak-anak dari duo urang laki-laki
tasabuik.

Dalam syarak ado ...... macam nan haram dikawini;

1. Ibu kandung.
2. Bapak kandung.
3. Saudara Kandung.
4. Istri dari bapak kandung.
5. Suami dari ibu kandung.
6. Bapak dari bapak.
7. Kakek dari bapak.
8. Sepupu dari garis bapak.
9. Cucu dari garis bapak.
10. Sepasusuan.
11. Saudara laki-laki dari bapak.
12. Dua orang bersaudara kandung (masih hidup).
13. .......... Mohon ditambahkan.


Sacaro adaik ambo raso kasamonyo tu (indak buliah)."Syarak
mangato adaik mamakai", mukasuiknyo apo nan dikatokan syarak harus
dipakai samo adaik."Syarak mandaki, adaik manurun", mukasuiknyo adaik
dibawah syarak posisinyo.


Mungkin ado mamak-mamak kito di RN nan bisa manjalehkan panjang leba,
tarimo kasih.

Wassalam,
Tk.Batuah.

Assalamu'alaikum

--------------------------------------------------------------

Amrizal

unread,
Sep 21, 2006, 7:02:07 AM9/21/06
to anz...@yahoo.com, pal...@minang.rantaunet.org
Memang sarancaknyo di B.Tinngi , karano cikal bakal UNAND itu adolah
Universitas ADITIWARMAN nan di AMPUAH (BASO) nan pernah diresmikan oleh
bung HATTA.

Tk.batuah.

-----Original Message-----
From: palanta...@minang.rantaunet.org
[mailto:palanta...@minang.rantaunet.org] On Behalf Of Anzori
Sent: Thursday, September 21, 2006 11:51 AM
To: pal...@minang.rantaunet.org
Subject: [R@ntau-Net] Kampus Unand di Payakumbuah, Manga indak di
Bukittinggi nan ka di Palaweh?

Manga indak di Bukittinggi ? Tanyato Pajabaik Payakumbuah labiah kreatif

Kehadiran Unand Kampus Payakumbuh Disambut Baik

PAYAKUMBUH, METRO - Rencana Unand Padang untuk membuka Fakultas
Hukum, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Pertanian di Kota Payakumbuh mulai
tahun akademi 2006 ini, disambut baik pengurus Dewan Pendidikan Kota
Payakumbuh serta para pemerhati pendidikan.

Tasril Moeis

unread,
Sep 21, 2006, 9:35:03 AM9/21/06
to anz...@yahoo.com, pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Mudah2 an sen rencana penambahan kampus Unand ko alah terpadu jo rencana
Gubernur untuak mengurangi pengangguran sasuai jo topik:
[R@ntau-Net] Penganggur 265.370 Orang;Gubernur: Beban Berat Bagi Sumbar


Nan mangecek kan 113.000 adolah lulusan SLTA,
Tapi setelah di baco baliak ado rencana PemProv Sumbar untuak manjadikan
prosentase 40% SLTA dan 60% Sekolah Kejuruan nan siap pakai nampak no indak
rencana terpadu nan iko ko.
Mungkin iko paralu di tanyo kan ka UNAND apo alah ado kordinasi jo PemProv.
Sayang juo kalau program ko indak sinkron, ciek ka ilia ciek ka mudiak,
duo2 tujuan indak tacapai.

Wassalam
Tan Ameh
----- Original Message -----

From: "Anzori" <anz...@yahoo.com>
To: <pal...@minang.rantaunet.org>
Sent: Thursday, September 21, 2006 11:50 AM
Subject: [R@ntau-Net] Kampus Unand di Payakumbuah,Manga indak di Bukittinggi
nan ka di Palaweh?

Manga indak di Bukittinggi ? Tanyato Pajabaik Payakumbuah labiah kreatif

Kehadiran Unand Kampus Payakumbuh Disambut Baik


PAYAKUMBUH, METRO - Rencana Unand Padang untuk membuka Fakultas Hukum,
Fakultas Ekonomi dan Fakultas Pertanian di Kota Payakumbuh mulai tahun
akademi 2006 ini, disambut baik pengurus Dewan Pendidikan Kota Payakumbuh
serta para pemerhati pendidikan.

Saking bersemangatnya, pelbagai pihak menerima kehadiran lembaga pendidikan
tinggi (PT) tersebut, sampai-sampai ke luar ucapan "kurang laweh tapak
tangan, jo niru kito tampuang". Mereka berharap, tahun ini Unand Kampus
Payakumbuh itu sudah bisa menerima mahasiswa baru.

Kepala Bappeda Kota Payakumbuh, Dr Adrimas ketika ditemui POSMETRO, Selasa
(4/7) mengatakan, Unand Kampus Payakumbuh berencana akan membuka 3 fakultas.
Yakni Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi dan Fakutas Pertanian. Namun yang
segera direalisir adalah Fakultas Pertanian. Bahkan, direncanakan pada
September mendatang sudah mulai menerima pendaftaran mahasiswa baru.

--------------------------------------------------------------

Ahmad Ridha

unread,
Sep 21, 2006, 10:38:39 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
On 9/21/06, Amrizal <amr...@chevron.com> wrote:
>
> 'Alaikumsalam, wr.wb.

Wa 'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,


Dalam syarak ado ...... macam nan haram dikawini;

Lebih mudahnya yang disusun adalah daftar perempuan yang haram dinikahi.
Daftarnya ada dalam surat an-Nisaa' ayat 23, yakni:

1. ibu-ibumu (naik terus ke nenek dan seterusnya)
2. anak-anakmu yang perempuan (turun terus ke cucu)
3. saudara-saudaramu yang perempuan
3. anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ataupun perempuan
4. ibu susu
5. ibu mertua
6. anak tiri yang ibunya telah "dicampuri"
7. menantu
8. menghimpunkan dua perempuan bersaudara
9. perempuan bersuami


5. Suami dari ibu kandung.

Jika yang dimaksud adalah bapak tiri maka si anak menjadi mahram (haram
selama-lamanya) jika si bapak tiri telah "bercampur" dengan ibunya. Namun
jika belum maka anak itu halal jika telah bercerai dengan ibunya.


8. Sepupu dari garis bapak.

Setahu saya, tidak ada larangan menikah dengan sepupu baik dari garis bapak
atau pun ibu. Bukti nyatanya adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam
menikahi Zainab binti Jahsy radhiallahu 'anhu yang ibunya adalah bibi
Rasulullah (anak dari Abdul Muththalib).

Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,


--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Sjamsir Sjarif

unread,
Sep 21, 2006, 11:21:18 AM9/21/06
to Lapau, biaro
Kampuih Fakultas Pertanian (FP) memang usalinyo di Kota Payakumbuh
(dibuka tahun 1954) sadangkan Fakultas Fedoktoran (FK) di Bukittinggi
(rasonyo dalam wakatu nan samo). Tapi kalau kini, baiak di Bukittinggi
maupun di Payokumbuah, kalau ka mambukak kampuih baru sarancaknyo indak di
Kota Payokumbuah doh. Indak ado tompek lai doh. Bawolah ka Lua. Daerah
Padang Mangateh di lereng Gunuang Sago adolah tampek nan ideal.Dahulu
sabalun PRRI daerah tu memang alah proyek dari FP juo dengan ladang
laboratoriumnyo di Sikabu jo Padang Manggateh.

Di Payokumbuah sasudah mardeka 1950an sekolah menengah tingkat atas nan
tatuo adolah Sekolah Guru-A Negeri Payokumbuh, dibukak tahun ajaran
1952-52. Duo tahun kamudian diresmikan pulo FP 1954-55. Banyak kenangan
ambo ka maso itu. Kami adolah angkatan muda yang disayangi masyarakat
Payakumbuah waktu itu baiak dari keramahtamahan masyarakat maupun ekonomi.
Kami sadonyo baikatan dinas, uang masuak untuak rang pasa Payokumbuah.

Kok buliah ambo batanyo, pabilo Universitas ADITIWARMAN nan di AMPUAH
(BASO) nan pernah diresmikan oleh bung HATTA? Apokoh ado Universitas tu
kini? Satahu ambo nan di Ampuah, Baso, tu adolah Fakultas Kedokteran Unand
nan sabagian gaduang-gaduangnyo lah dibangun sabalun PRRI. Tapi sasudah
PRRI sado pandidikan tinggi dipindahkan ka Padang. Kampuih PTPG (Perguruan
Tinggi Pendidikan Guru) di Bukik Gombak Batusangka (cakalbakal FKIP Unand
-> IKIP Padang -> UNP kini) sarato Kampuih FK Baso ditinggakan barantakan
baitu sajo... Sadonyo lah main padang-padangan sajak itu tamasuak
Ibupropinsi nan tadinyo juo di Bukittinggi.

Kok ado nan ka mambukak Kampus Universitas Modern internasisonal ambo
mamimpikan adonyo Kampus Universitas Khatulistiwa (Equatorial University)
nan lataknyo di Garih Khatulistiwa, na lataknyo daerah Bonjol atau di
daerah Mahek atau diantaronyo di Daerah Kapua Sambilan. Sagalonyo di sinan
langkok dengan parumahan-parumahan Guru dan Mahasiswa sarato
Pagawai-pagawainyo dan masyarakatnyo ado dalam Kota Khatulistiwa tu. Di
tangah-tangah Kampuih Gadang tu ado Jalan Gadang Luruih malintang arah
Timur Barat (nan kalau tanggal-tangal 21 Maret dan 23 September dapek kito
caliak titik Timur matoari tabik dan titiak Barat matoari tabanam diujuang
jalan tu). Mainstreet tu marupokan sabagian kecil dari Garis Khatulistiwa
dan ditangah-tangah kampuih tu di simpang ampeknyo didirikan Tugu
Khatulistiwa sabagai salah satu monumen nan akan dikenal sabagai salah satu
monumen Eaquator nan terkenal di Planet Earth ko. Kampuih tu akan manjadi
kampuih gadang nan laweh daerahnyo panuah dengan sagalo macam pusek ilmu
pangatahun dan bakarajo arek dengan negara-negara di dunia. Kampusnyo
dilangkoki jo alat-alat Teknologi Informasi nan mutakhir... Itu mimpi ambo
... Kok tajadi nanti muloi diirintis dibukak kiro-kiro 50 atau saratuih
tahun lai indak baa bagai doh ... Amiin.

Salam,
--MakNgah


>Re: [R@ntau-Net] Kampus Unand di Payakumbuah, Manga indak di Bukittinggi
>nan ka di Palaweh?
>Thu Sep 21, 2006 11:02 am
>"Amrizal" <amripg@...>
>amripg@...


>Memang sarancaknyo di B.Tinngi , karano cikal bakal UNAND itu adolah
>Universitas ADITIWARMAN nan di AMPUAH (BASO) nan pernah diresmikan oleh
>bung HATTA.
>
>Tk.batuah.
>
>-----Original Message-----

Ahmad Ridha

unread,
Sep 21, 2006, 11:22:59 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
On 9/21/06, proto_melayu <proto_...@yahoo.com> wrote:
>
> Kesimpulan ambo ambiak dari diskusi kito disiko Da..alah mancaliak Al
> Quran jo Hadist bagai..kama kadicari selain dari sinan lai ? kalau
> memang ndak tatulih kawin sasuku di duo sumber hukum Islam
> tuh..Rasululloh manyuruah kito ba Ijtihad..dan indak ado nan mambarek
> an disiko doh..kok salah pun Ijtihad kito masih dapek pahalo..bukan
> baitu ?


Nan dapek pahalo tu kok nan baijtihad berhak baijtihad dan pakai metode nan
batua (walau kesimpulannyo salah). Jadi indak mungkin ijtihad tu mambuek
keputusan nan batentangan samo al-Qur'an jo hadits nan diketahui dek inyo.
Kok indak pakai ilmu atau metodenyo kaliru, bukan pahalo nan didapek tapi
justru ancaman.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya):

"Hakim itu ada tiga macam: dua di neraka dan satu di surga. Seorang hakim
yang memutuskan perkara dengan selain kebenaran, dan ia tahu hal tersebut;
maka dia di neraka. Seorang hakim yang tidak berilmu sehingga menghancurkan
hak-hak manusia maka dia di neraka. Seorang hakim yang memutuskan perkara
dengan kebenaran maka dia di surga." (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh
Syaikh al-Albani).

Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaykum,


--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Amrizal

unread,
Sep 21, 2006, 11:24:54 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Tarimo kasih pak Ahmad Ridha alah mampajaleh uraian ambo,

8. Sepupu dari garis bapak.

Sepupu dari garis bapak, nan ambo mukasuik iyolah saudara sepupu
(anak-anak dari duo urang bapak nan baradiak kakak).Baarti anak tasabuik
satu kakek (satali darah).

-----Original Message-----
From: palanta...@minang.rantaunet.org
[mailto:palanta...@minang.rantaunet.org] On Behalf Of Ahmad Ridha
Sent: Thursday, September 21, 2006 9:39 PM
To: pal...@minang.rantaunet.org
Subject: Re: [R@ntau-Net] Kawin - badunsanak apak ???

On 9/21/06, Amrizal <amr...@chevron.com> wrote:
>
> 'Alaikumsalam, wr.wb.

Wa 'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,


Dalam syarak ado ...... macam nan haram dikawini;

Lebih mudahnya yang disusun adalah daftar perempuan yang haram dinikahi.
Daftarnya ada dalam surat an-Nisaa' ayat 23, yakni:

1. ibu-ibumu (naik terus ke nenek dan seterusnya) 2. anak-anakmu yang
perempuan (turun terus ke cucu) 3. saudara-saudaramu yang perempuan 3.
anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ataupun perempuan 4. ibu susu
5. ibu mertua 6. anak tiri yang ibunya telah "dicampuri"
7. menantu
8. menghimpunkan dua perempuan bersaudara 9. perempuan bersuami


5. Suami dari ibu kandung.

Jika yang dimaksud adalah bapak tiri maka si anak menjadi mahram (haram
selama-lamanya) jika si bapak tiri telah "bercampur" dengan ibunya.
Namun jika belum maka anak itu halal jika telah bercerai dengan ibunya.


8. Sepupu dari garis bapak.

Setahu saya, tidak ada larangan menikah dengan sepupu baik dari garis

bapak atau pun ibu. Bukti nyatanya adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa Sallam menikahi Zainab binti Jahsy radhiallahu 'anhu yang ibunya


adalah bibi Rasulullah (anak dari Abdul Muththalib).

Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,

Ahmad Ridha

unread,
Sep 21, 2006, 11:44:22 AM9/21/06
to anz...@yahoo.com, pal...@minang.rantaunet.org
On 9/21/06, Anzori <anz...@yahoo.com> wrote:
>
> Dalam Psychology hal semacam itu disabuik "Perkawinan Sedarah" (incest).
> Kawin seperti itu termasuk sebagai "penyimpangan" yang juga tidak dianjurkan
> oleh agama (barangkali ahli agamo bisa memberikan ayat-ayatnya). Perkawinan
> incest itulah yang banyak menyebabkan keterbelakangan mental dan cacat dari
> bayi yang dilahirkan.

Pak Anzori, bagaimana dengan pernikahan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Sallam dengan Zainab binti Jahsy radhiallahu 'anha? Tentulah mereka paling
jauh dari yang namanya penyimpangan.

Pemaknaan "incest" mungkin lebih ke domain antropologi karena kadang
tergantung pada masyarakatnya. Di budaya barat dan Arab jahiliyah menikahi
istri anak angkat dianggap incest sehingga penikahan Rasulullah itu sering
dijadikan bahan untuk mencela Islam. Padahal justru pernikahan itu menjadi
pembatal keyakinan jahiliyah itu.

Oh iya, contoh lain kawin sesuku (silakan ahli adat menilai apakah sapayuang
atau jenis lainnya) adalah pernikahan 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu,
sepupu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dengan Fathimah radhiallahu
'anha, putri Rasulullah sendiri.

Repotnya dengan anggapan sepupu adalah mahram maka lupalah para anak gadis
menutup aurat mereka di hadapan para sepupu mereka. Jadinya adat yang dikira
membawa manfaat justru membawa mudharat. Allahul musta'aan.

Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaikum,


--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Amrizal

unread,
Sep 21, 2006, 11:50:42 AM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Iyo pak Sjamsir.

Dulunyo Cikal bakal UNAND (bukan Fakultasnyo) memang direncanakan nan di Ampuah tasabuik.Luas lahannyo labiah kurang ± 15 hektar, kini masih ado (diisi samo dept.Peternakan, SMP, SMA,kepolisian, APDN, dll.).

Namonyo dulu Universitas "ADITIWARMAN" karano banyak nan indak manyasuai jo namo iko batuka jo Universitas "Minang Kabau atau "Minang Raya" .Sabok dalam dokumennyo duo namo iko nampak dicoret jo pena. Dulunyo memang F.Kedokteran, Kimia, MIPA derencanakan di Ampuah. Fk. Peternakan, Pertanian di Payo Kumbuah. Fk Agama dan Budaya di Batu Sangka.Mangko tajadilah SEGI TIGA EMAS.Pakambangan nagari nan saimbang.

Dek nagari alah bagolak ndak tahu sababnyo lah dibao se ka Padang (mungkin urang-urang nan di Padang cadiak).Atau mamak kito dulu lengah.
Kalo manuruik pak Hatta, Ampuah cocok bana untuak tampek pandidikan karano,

1.Sajuak.(dingin kapalo mahasiswa/I dinyo).
2. Hijau (sawah jo bukik bakuliliang).
3. Ditangah tampeknyo (sagi tigo ameh).
4. Lalu lintas lancar.
5. Aia cukuik.
6.Sayua jo bareh murah disiko.

Wassalam,
Tk.batuah.

-----Original Message-----
From: palanta...@minang.rantaunet.org [mailto:palanta...@minang.rantaunet.org] On Behalf Of Sjamsir Sjarif
Sent: Thursday, September 21, 2006 10:21 PM
To: Lapau
Cc: biaro
Subject: [R@ntau-Net] Kampus Unand di Payakumbuah, Manga indak di Bukittinggi nan ka di Palaweh?

Kok buliah ambo batanyo, pabilo Universitas ADITIWARMAN nan di AMPUAH
(BASO) nan pernah diresmikan oleh bung HATTA? Apokoh ado Universitas tu kini? Satahu ambo nan di Ampuah, Baso, tu adolah Fakultas Kedokteran Unand nan sabagian gaduang-gaduangnyo lah dibangun sabalun PRRI. Tapi sasudah PRRI sado pandidikan tinggi dipindahkan ka Padang. Kampuih PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) di Bukik Gombak Batusangka (cakalbakal FKIP Unand
-> IKIP Padang -> UNP kini) sarato Kampuih FK Baso ditinggakan

-> barantakan


baitu sajo... Sadonyo lah main padang-padangan sajak itu tamasuak Ibupropinsi nan tadinyo juo di Bukittinggi.

Salam,
--MakNgah


>Re: [R@ntau-Net] Kampus Unand di Payakumbuah, Manga indak di
>Bukittinggi nan ka di Palaweh?
>Thu Sep 21, 2006 11:02 am
>"Amrizal" <amripg@...>
>amripg@...
>Memang sarancaknyo di B.Tinngi , karano cikal bakal UNAND itu adolah
>Universitas ADITIWARMAN nan di AMPUAH (BASO) nan pernah diresmikan oleh
>bung HATTA.
>
>Tk.batuah.
>

--------------------------------------------------------------

Ahmad Ridha

unread,
Sep 21, 2006, 12:02:28 PM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
On 9/21/06, Amrizal <amr...@chevron.com> wrote:


> 8. Sepupu dari garis bapak.
>
> Sepupu dari garis bapak, nan ambo mukasuik iyolah saudara sepupu
> (anak-anak dari duo urang bapak nan baradiak kakak).Baarti anak tasabuik
> satu kakek (satali darah).

Nah, apo ado dasarnyo nan malarang pernikahan taka itu, Pak? Karena satu
kakek tu kan indak cuma masalah dari jalur bapak sajo. 'Ali bin Abi Thalib
samo Fathimah radhiallahu 'anhuma kan samo-samo keturunan 'Abdul Muthtalib
dari jalur bapak ('Ali itu sebagai cucu, Fathimah sebagai cicit).

Wassalaamu 'alaikum,

Datuk Endang

unread,
Sep 21, 2006, 12:52:09 PM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Sanak Ahmad Ridha ysh,
Bila contoh di bawah ingin dinilai secara adat, tentunya harus dipelajari dulu adat Arab dan sistem nilainya pada masa itu.
Bila dinilai dengan adat Minang, tentunya diperbolehkan, malah dianjurkan karena mengikat hubungan sadunsanak babako ...:)

Wassalam,
-datuk endang

Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote:
Oh iya, contoh lain kawin sesuku (silakan ahli adat menilai apakah sapayuang
atau jenis lainnya) adalah pernikahan 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu,
sepupu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dengan Fathimah radhiallahu
'anha, putri Rasulullah sendiri.

Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaikum,
--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

Ahmad Ridha

unread,
Sep 21, 2006, 1:26:03 PM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
On 9/21/06, Datuk Endang <datuk_...@yahoo.com> wrote:
>
> Sanak Ahmad Ridha ysh,
> Bila contoh di bawah ingin dinilai secara adat, tentunya harus dipelajari
> dulu adat Arab dan sistem nilainya pada masa itu.
> Bila dinilai dengan adat Minang, tentunya diperbolehkan, malah dianjurkan
> karena mengikat hubungan sadunsanak babako ...:

Karena dari jalur bapak ya, Mak. Mungkin dapat dilakukan analisa keluarga
Rasulullah dan para shahabat beliau dengan adat Minang untuk realisasi wujud
ABS-SBK. Jadinya jelas di adat Minang mana yang sesuai, mana yang
meyelisihi, mana yang tidak apa-apa diukur dengan syara'.

--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

Ahmad Ridha

unread,
Sep 21, 2006, 2:29:33 PM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Oh iya, Mak. Kalau begitu masalah genetika tidak bisa dijadikan alasan
ya untuk larangan kawin sesuku. Karena ternyata tidak mencakup yang
sebenarnya setara secara genetika (CMIIW).

Sebenarnya alasan kesehatan yang darurat bisa menjadi alasan untuk
mencegah pernikahan misalnya jika keduanya menikah maka tidak dapat
memiliki bayi yang sehat. Kalau tidak salah termasuk masalah ini
adalah masalah rhesus darah ya? Nah, ini justru sering terjadi pada
pernikahan beda ras. Jadi bukan semata masalah suku (dalam berbagai
bentuknya).

Perlu ditekankan lagi bahwa di sini saya bukan menganjurkan atau
mengharuskan kawin sesuku. Namun sepatutnya larangan pernikahan itu
dengan alasan yang jelas. Sudah pernah saya sampaikan larangan bagi
wali menolak lamaran laki-laki yang shalih. Kalau ada alasan yang
syar'i ya mau sesuku atau tidak ya itu hak wali, bahkan bisa saja
wajib wali menolak kalau si laki-laki buruk agamanya.

Juga jika dikatakan alasannya adalah agar suku berkembang, tentunya
hari ini lebih kurang perlu larangan itu karena orang sudah banyak
merantau. Sehingga motivasi untuk menikah dengan orang sesuku mungkin
berkurang.

Kalau dikatakan bahwa larangan adat berbeda dengan haram dalam agama,
mengapalah hukumannya sampai dibuang sepanjang adat? Kalau harus
membayar denda, bukankah hukum dasar harta seorang muslim itu haram
diambil?

Kalau dianalogikan hukum adat dengan aturan lalu lintas dan aturan
kerja tentulah kurang tepat. Aturan lalu lintas jelas manfaatnya dan
ditentukan oleh pemerintah yang dalam Islam memang harus dipatuhi
selama bukan perintah bermaksiat. Sedangkan aturan kerja terkait
perjanjian kerja. Namun perjanjian kerja tetap saja tidak boleh
menyelisihi aturan agama misalnya yang muslimah tidak boleh pakai
jilbab atau semacamnya.

Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaikum,

Datuk Endang

unread,
Sep 21, 2006, 9:49:11 PM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org, suli...@yahoogroups.com
Adik Ahmad Ridha ysh, kalau tidak salah saya bisa menggunakan istilah ini.
Dalam diskusi selama ini, saya dapat memahami dan menghargai berbagai pandangan. Hanya satu hal yang dirasakan kurang simpatik, yaitu belum apa-apa kita sudah memasang target di awal dan di tengah kajian, sehingga apa pun cara berpikir kita harus diarahkan ke hal tersebut. Metode uji hipotesis seperti ini saya rasa kurang tepat dalam suatu kajian social engineering. Dan juga bukanlah sikap ilmiah yang baik.
Seperti, kaji ABSSBK tidak dimaksudkan untuk menggali falsafah sosial yang ada, tetapi lebih mendudukkan adat sebagai sub-ordinat agama. Kaji kawin sesuku dan waris ulayat berpretensi mengaburkan pondasi sistem adat, dst. Deliberasi seperti ini siapa tahu menganiaya diri kita sendiri, atau malah mendeliberasi nilai-nilai keIslaman itu sendiri.

Bilamana dimaksudkan adalah syiar, gunakanlah metode dakwah secara baik. Dalam tingkat pemahaman masyarakat modern pada saat ini, hindari metode perbandingan dan perbanyak metode hikmah.

Saya belum berargumentasi tentang genetika, namun memang pertimbangan adat tidaklah dari itu. Sementara yang saya tangkap, perkawinan antar suku adalah untuk mengikat hubungan kekeluargaan secara lebih erat. Konsep dasarnya adalah ‘persemendaan’, yang merupakan ‘konsep asli’ orang Sumatera, dan juga merupakan konsep asli ‘sistem kekerabatan’ di Nusantara. Saya baru menemukan hal ini juga berlangsung pada suku Karo dan Batak, atau mungkin pada jalur-jalur pegunungan Bukit Barisan. Jadi selain aspek proto-Melayu, juga perlu perhatian aspek geografis.

Mengenai sanksi adat, menunjukkan sistem nilai itu merupakan suatu sistem hukum. Adat merupakan buah kebiasaan masyarakat berbilang zaman, disusun untuk mendambakan keteraturan. Bila ingin dipelajari dan dinilai, saat ini tersedia banyak buku mengenai adat dan hukum itu. Atau kalau tinggal di Jakarta, bisa menghubungi saya kapan pun.

Demikianlah, dan wassalam.

-datuk endang


Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote: Oh iya, Mak. Kalau begitu masalah genetika tidak bisa dijadikan alasan


---------------------------------
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business.

proto_melayu

unread,
Sep 21, 2006, 10:01:43 PM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org

BUkik TInggi kan sibuk bacakak baru jo Agam jadi lah kalah langkah
dari pikumbuah...hahahaha

proto_melayu

unread,
Sep 21, 2006, 10:12:16 PM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org

O baitu..yo kurang lemu ambo tantang iko..jadi baa ko Uda Ridha
tegasnyo Haram atau Halal budaya larangan kawin sasuku ko manuruik
Syarak? ancaklah disarahkan kapado ahlinyo..dan tantunyo dalil
dalilnyo sasuai...dan tantu batangguang jawab dunia akhirat jo
keputusannyo itu...kan baitu Da Ridha ?

salam

--- In Rant...@yahoogroups.com, "Ahmad Ridha" <ahmad.ridha@...> wrote:

Ahmad Ridha

unread,
Sep 21, 2006, 10:23:57 PM9/21/06
to pal...@minang.rantaunet.org
On 9/22/06, proto_melayu <proto_...@yahoo.com> wrote:
>
> O baitu..yo kurang lemu ambo tantang iko..jadi baa ko Uda Ridha
> tegasnyo Haram atau Halal budaya larangan kawin sasuku ko manuruik
> Syarak? ancaklah disarahkan kapado ahlinyo..dan tantunyo dalil
> dalilnyo sasuai...dan tantu batangguang jawab dunia akhirat jo
> keputusannyo itu...kan baitu Da Ridha ?
>

Mungkin ado nan bisa menjelaskan larangan adat kawin sesuku ini secara
detail dan jujur. Kok ado beko ambo cubo titip ka kawan nan kuliah di
Madinah atau Makkah supayo ditanyoan ka ulama. Supayo jaleh
keterangan dari ahli ilmu. Jan sampai kito marusak hak-hak manusia lo.

Arnoldison

unread,
Sep 22, 2006, 1:09:05 PM9/22/06
to pal...@minang.rantaunet.org

Manuruik ambo, memang indak ado dalam agamo larangan kawin
sasuku, tapi kok dibaliek apokah ado larangan agamo tentang
mambuek aturan larangan kawin sasuku ?.

Tantu kito tidak bisa capek manjawok dengan mangatokan itu namonyo
manambah-nambah ajaran agamo (bid'ah).
Manuruik kaidah usul fiqh bila indak ado larangan dalam agamo
bararti bulieh.

Hukum adaik nan basumber dari akal budi manusia iyo indak samo
maqamnyo dengan hukum Allah S.W.T
Larangan dalam adaik bisa bersifat sementara, tapi larangan dalam
agama berhukum tetap.

Dimano lataknyo kito bisa mangatokan bahwa sesuatu bidah,
(menambah atau mengurangi ajaran agama ) apabilo
aturan nan kito buek itu kito sajajarkan dengan aturan agamo,
atau kito samokan kedudukannya dengan hukum yang diturunkan oleh
Allah SWT.

Umar bin khattab pernah melarang laki-laki Islam menikah jo
padusi ahli kitab, ketika salah seorang sahabat bertanya tentang
keharaman perkawinan tersebut, Umar menjawab hal tersebut memang
tidak ada keharaman dalam Al Quran tetapi melihat dampak
negatifnya pada masa itu , bahwa banyak wanita-wanti muslimah dan
janda yang kehilangan suaminya dimedan perang yang sendirian.

Jadi ambo cenderung maliek persoalan tersebut dari makosuik dan
tujuan dibuek peraturan larangan kawin sasuku itu.
Kecuali wahyu Allah, indak ado nan indak bisa berubah.


Pertanyaannyo apokah makosuik dan tujuan urang-urang tuo kito
dulu malarang kawain sasuku ?
Apokah masih relevan larangan tersebut sampai kiniko ? Sejauh
mano bisa diterapkan dan masih bermanfaat ?

Dengan mengetahui makosuik dan tujuan dari urang-urang tuo kito
dahulu barulah bisa menilai, karano urang-urang tuo kito telah
membuek aturan itu tentu dengan makosuik berfaedah berdasar
pemikiran beliau-beliau nan maliek situasi dan kondisi pado maso
itu. Kalau urang-urang tuo kito hiduik pada zaman kiniko mungkin
lain pulo peraturan nan dibuek.

Setelah mengetahui manfaat dan mudharat itulah baru bisa kita
tarik pandangan agamanya.

Arnoldison

Ahmad Ridha

unread,
Sep 22, 2006, 12:02:53 AM9/22/06
to Arnoldison, pal...@minang.rantaunet.org
On 9/22/06, Arnoldison <arn...@spij.co.id> wrote:
>
>
> Manuruik ambo, memang indak ado dalam agamo larangan kawin
> sasuku, tapi kok dibaliek apokah ado larangan agamo tentang
> mambuek aturan larangan kawin sasuku ?.
>

Ado, yakni larangan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah (QS. 66.1) (SOL).

--
Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)

--------------------------------------------------------------

Anzori

unread,
Sep 22, 2006, 3:21:09 AM9/22/06
to pal...@minang.rantaunet.org
Sekali persepsi pengertian "melarang" dan " mengharamkan"
Mengharamkan hanya HAK ALLAH bukan HAK MANUSIA
Adat hanya MELARANG bukan MENGHARAMKAN.
Melarang yang HALAL bukanlah MENGHARAMKAN
Melarang sifatnya "conditional" tidak permanen. Sama dengan Undang-Undang. apa yang dilarang oleh undang-undang tahun ini bisa merubah tahun depan. Apakah kita akan mengatakan semua yang dilarang undang-undang diharamkan? Sungguh naif kalau jalan pikiran seperti itu.
Kawin sasuku DILARANG oleh aturan ADAT tertentu, walalupun itu HALAL.
Coba saja nada menyeberang dijalan tidak pada zebra cross, DILARANG oleh UNDANG-UNDANG, walaupun nyebrang tersebut HALAL.
Bisa saja kawin sasuku pada ssat tertentu dilarang kemudian 100 tahun kemudian dibolehkan, bukan masalah haram halalnya yang dikaji, tapi mudharat dan manfaatnya yang harus dibahas.
Kalau segala sesuatu kita kaji atas dasar HALAL dan HARAM, maka memang ummat Islam tidak akan pernah kuat, lemah terus seperti sekarang, gak bakal mampu melawan para kafir wal kafirun wa zionis

Ingat dulu MUI tidak berani mengharamkan bunga, padahal jelas-jelas itu haram, kenapa baru sekarang mereka berani mengatakan bunga bank itu haram. Nah kalau hal begini yang kita bahas itu namanya kaum yang berfikir.

Kalau hala ldan ahram kawin sasuku yang kita bahas, bilo buyuang akan cadiak.

Ahmad Ridha <ahmad...@gmail.com> wrote:


---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

Amrizal

unread,
Sep 22, 2006, 7:47:33 AM9/22/06
to pal...@minang.rantaunet.org, anz...@yahoo.com
Ma'af salah alamat,

Rancananyo untuak mamak Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad
Hamim, ee tatulih ka mamak Anzori. Ma'af yo mamak Anzori, hari ka masuak
puaso bagai.

Wass,
Tk.Batuah.

-----Original Message-----
From: Amrizal
Sent: Friday, September 22, 2006 6:10 PM
To: 'anz...@yahoo.com'; 'pal...@minang.rantaunet.org'
Subject: RE: [R@ntau-Net] R@ntau-Net] Kawin - badunsanak apak ???

Assalamu'alaikum wr.wb.

Mamak Anzori,

Apo mahram itu samo jo batilanjang manuruik mamak Anzori?.

Manuruik ambo goeh kiro-kiro :mahram iolah urang nan haram dinikahi,
kalau basentuhan indak bata wuduak awak dinyo.

Ciek lai,Ambo iyo kurang jaleh pulo apo itu sepupu?

Apo sepupu iko baiko kiro-kiro.

1.Ado duo Urang anak nan apaknyo baradiak kakak (nan baradiak kakak ko
laki-laki kaduonyo).
2.Ado duo Urang anak nan apaknyo baradiak kakak (nan baradiak kakak ko
padusi ciek, laki-laki ciek).

3.Ado duo Urang anak nan ibunyo baradiak kakak (nan baradiak kakak ko
padusi kaduonyo).
4.Ado duo Urang anak nan ibunyo baradiak kakak (nan baradiak kakak ko
padusi ciek, laki-laki ciek).

Untuak no. 1 , anak ko indak buliah nikah kawin sacaro agamo.
Untuak no .2 , anak iko buliah nikah kawin sacaro agamo jo
sacaro adat(pulang ka anak mamak namonyo, atau pulang kabako).

Untuak no. 3, anak iko indak buliah nikah kawin sacaro
adat(dunsanak namonyo tu, sasuku/sapariuak).
Untuak no. 4, anak iko buliah kawin samo jo no.2 (anak mamak,
pulang kabako).

Baa kiro-kiro, lai batua ndak pandapek iko. Mohon pencerahan dari mamak
nan salingka palanta, tarimo kasih.

Wass,
Tk.Batuah.


-----Original Message-----
From: palanta...@minang.rantaunet.org
[mailto:palanta...@minang.rantaunet.org] On Behalf Of Anzori
Sent: Friday, September 22, 2006 9:04 AM
To: pal...@minang.rantaunet.org

Subject: [R@ntau-Net] R@ntau-Net] Kawin - badunsanak apak ???



Repotnya dengan anggapan sepupu adalah mahram maka lupalah para anak
gadis menutup aurat mereka di hadapan para sepupu mereka. Jadinya adat
yang dikira membawa manfaat justru membawa mudharat. Allahul musta'aan.

Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Allahu Ta'ala a'lam.

Wassalaamu 'alaikum,

ardi ardi

unread,
Sep 22, 2006, 12:19:42 PM9/22/06
to pal...@minang.rantaunet.org
>8. Sepupu dari garis bapak.

>Setahu saya, tidak ada larangan menikah dengan
>sepupu baik dari garis bapak atau pun ibu. Bukti
>nyatanya adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
>Sallam menikahi Zainab binti Jahsy radhiallahu 'anhu
>yang ibunya adalah bibi Rasulullah (anak dari Abdul
>Muththalib).

>Allahu Ta'ala a'lam.

>Wassalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,


>Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l.
1400 H/1980 M)

Wassalamu'alaikum

Dunsanak Ridha, dalam hal Rasul menikahi Zainab, nan
putri bibi rasul, mako disiko awak mancaliak, walaupun
anak bibi Rasul tapi dicaliak dari nasab, indak
sanasab lai jo Abdul Muthallib. Bukankah nasab itu
berdasarkan keturunan laki-laki, jadi indak jadi
masalah, kalau nabi manikahi anak bibi, lain kalo
manikahi anak paman (saudara laki-laki dari ayah)
sarupo kasus nan ambo katangahkan.

Menarik juo, nan dijadikan argumen den urang tuo nan
manikahkan anakno jo anak dunsanak laki-lakino ko
adolah kisah pernikahan Ali dan Fathimah.

Kalo awak caliak sacaro istilah adaik minang, Ali ko
mamak dek Fathimah. Jadi dalam hal ko mamak kawin jo
kamanakan. Dek ado contohno dalam syarak bantuak
nangko, tantu indak ado masalah.

Tapi kalo dibaok ka adaik .... ?


Wassalam
A St. Rky Mulia (40,3)
Bogor

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

--------------------------------------------------------------

indra catri

unread,
Sep 22, 2006, 12:18:26 PM9/22/06
to pal...@minang.rantaunet.org

Uda... Tasril Moeis Yth

Baru tahu uda baru.
Patuik lah si I picayo bana ka uda.
Kalau nak mancaliak bana, pai lah ka salah satu kota di kepulauan Riau tu hari sabtu atau akad... bisa manyarengah-nyarengeh awak di no. Persoalan nan mantun lah nan ditakuikan kalau marembes ka nagari awak.

Maaf yo Mando.

Wassalam
Tan Ameh


---------------------------------
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.

Rasyid, Taufiq (taufiqr)

unread,
Sep 25, 2006, 12:22:07 AM9/25/06
to pal...@minang.rantaunet.org

Paket komplet parawisata iko untuak apo sajo ??
Kalau urang bule mengenal : Sun, Sand and Sex. Untuk Karimun jo Batam
nan dikaja Apek-Apek tuo, cuma nan katigo sajo.

Kalau dari Batam demi menggenjot Pariwisata ko, tampak biaya Ferry
Sing-BTM v.v labiah murah dari BTM-Sing v.v. Apolai biaya kamar hotel
paket dari Singapur juo labiah murah dari pado untuak urang Domestic.

-----Original Message-----
From: palanta...@minang.rantaunet.org
[mailto:palanta...@minang.rantaunet.org] On Behalf Of indra catri
Sent: Friday, September 22, 2006 11:18 PM
To: pal...@minang.rantaunet.org

Tasril Moeis

unread,
Sep 30, 2006, 11:20:35 AM9/30/06
to indra catri, pal...@minang.rantaunet.org
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
In, sabana padek bana "mando" no.
Lah banyak urang batanyo nama no pejabat Sumbar nan ado di Rantau net ko.
Acok2 lah mancogok di siko nak tabukak pulo diskusi, sia atu ado nan bisa di
konkritkan untuak kampuang awak.

Ka Karimun memang alun pernah li, tapi kalau ka Batam lai acok

Wassalam
Tasril Moeis st. Tan Ameh

----- Original Message -----
From: "indra catri" <indra...@yahoo.com>
To: <pal...@minang.rantaunet.org>
Sent: Friday, September 22, 2006 11:18 PM
Subject: Re: [R@ntau-Net] Pariwisata Karimun di Metro Realitas


>
>

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages