Republika, Selasa, 01 Mei 2007
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=291413&kat_id=19 Ranting di sini hendaklah dibaca sebagai Ranting Muhammadiyah dalam
Kecamatan Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Ada sembilan ranting di kecamatan
itu di bawah koordinasi cabang Sumpur Kudus dengan ketuanya, Asril
Rajulan S.Ag., guru SMA Negeri Sumpur Kudus.
Tamparungo nama salah satu nagari dari delapan nagari yang ada di
kecamatan itu. Di Sumpur Kudus sendiri, ada dua ranting: Sumpur Kudus
dan Calau. Ranting Calau telah punya kantor, sebuah masjid bantuan YAMP
(Yayasan Amalbakti Muslim-Pancasila) yang diresmikan Dr Sulastomo pada
2005, perpustakaan, TK, dan sebuah kamar penginapan untuk tamu.
Sampai 1999, ranting yang pernah ada hanyalah di Silantai dan di Sumpur
Kudus yang semula sebagai bagian dari Muhammadiyah Cabang Lintau dalam
Kabupaten Tanah Datar. Di nagari-nagari lain, Muhammadiyah masih ditolak
sebagai gerakan yang dianggap membahayakan Islam yaitu Islam sebagaimana
yang mereka pahami, yang sarat dengan tradisi yang tidak jelas dalil
agamanya.
Sisa dari penolakan ini masih ada sedikit, tetapi tak berdaya. Ibarat
sisa-sisa laskar Pajang, mereka malah perlu disantuni, jangan dimusuhi.
Mereka masih mempertahankan khutbah Jumat dalam bahasa Arab, sebuah
bahasa yang tidak dipahami khatibnya, apalagi oleh jamaah. Kepada
pengurus Muhammadiyah setempat, saya selalu mengatakan agar cara-cara
dakwah Muhammadiyah tempo doeloe yang serba frontal harus diubah menjadi
cara yang lebih bijak dan persuasif. Biarlah tradisi kelampauan yang
kurang mencerahkan itu bertahan sampai batas waktu tertentu, ia akan
redup dengan sendirinya.
Akibat PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), sebuah
kekuasaan tandingan melawan Jakarta, berpusat di Sumatra Barat, termasuk
di Sumpur Kudus, dan kemudian kalah awal tahun 1960-an setelah beberapa
tahun bergerilya di hutan-hutan, Muhammadiyah tiarap selama hampir 40
tahun di kecamatan itu. Baru tahun 2000 berupaya bangkit kembali dengan
tenaga-tenaga muda, sekalipun pengetahuan tentang Islam dan Muhammadiyah
masih sangat terbatas. Sebagai seorang yang berasal dari kawasan udik
itu, saya turut mendorong agar Muhammadiyah digeliatkan kembali dengan
penekanan kerja-kerja konkret untuk kepentingan masyarakat luas.
Muhammadiyah lahir untuk kepentingan umum. Masalah-masalah khilafiah
yang ketika saya kecil amat menguras energi, dialihkan kepada
kerja-kerja yang langsung dirasakan manfaatnya oleh orang banyak,
seperti pendidikan, silaturahim, panti asuhan, dan kegiatan ekonomi.
Kini Muhammadiyah di kecamatan itu hampir tidak punya saingan.
Tetapi, kendala yang masih perlu diatasi ialah mencari pemimpin yang
punya komitmen tinggi untuk mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat
luas. Maka, pertemuan ranting di Tamparungo yang berlangsung tanggal 15
April 2007 itu adalah dalam rangkaian tujuan besar ini dengan pembicara
utama Ustaz Drs H. Syamsir Roust MA, wakil ketua Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah Sumbar, dosen IAIN Imam Bonjol Padang yang kini sedang
kuliah S3 di kampusnya.
Dalam perjalanan sepanjang 125 km dari Padang, Syamsir sering berceloteh
mengapa pimpinan wilayah meminjamkan kendaraan tua yang boros kepada
rombongan kami, sementara yang lebih baik dan hemat tersedia. Saya
sendiri tidak peduli dengan itu semua, sebab hal ini akan sangat
bergantung kepada kepekaan pimpinan dalam berorganisasi.
Bukankah pimpinan Muhammadiyah tempo doeloe sangat tahan banting, bahkan
dengan berjalan kaki? Syamsir sempat heran mengapa Muhammadiyah tumbuh
dalam hutan, tidak lagi sebagai gejala urban yang selama ini menjadi
kesimpulan para pengamat, dalam negeri dan asing.
Lebih satu jam Syamsir berbicara tentang seluk beluk Muhammadiyah dengan
perhatian besar dari peserta, termasuk hadir wakil bupati Kabupaten
Sawahlunto/Sijunjung (dan memberi sambutan), camat, dan wali nagari
Tamparungo. Tidak kurang dari 300 yang hadir dalam pertemuan ranting
itu, bertempat di SMP Negeri, sebagian besar bukan anggota resmi.
Penggerak utama pertemuan ini adalah Drs Masgamal, ketua ranting dan
guru SMP Negeri di nagari itu. Ranting Tamparungo telah pula merintis
rumah untuk orang miskin di samping kegiatan surau dan silaturahim.
Sebagai kawasan yang serba sederhana, Muhammadiyah harus sabar dan tahan
uji dalam upaya memperbaiki moral masyarakat yang ternyata di tingkat
pedesaan sekalipun tidak sederhana. Pengaruh media elektronik, positif
atau negatif, telah menyeruak jauh sampai ke pelosok yang terpencil.
Untuk menjaga moral masyarakat inilah kiprah Muhammadiyah sangat
dinantikan orang banyak, di samping langsung menangani masalah-masalah
konkret untuk kepentingan semua
============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, Juni 2008.
------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email dengan attachment tidak dianjurkan, sebaiknya melalui jalur pribadi.
- Posting email, DITOLAK atau DIMODERASI oleh system, jika:
1. Email ukuran besar dari >300KB.
2. Email dikirim untuk banyak penerima.
--------------------------------------------------------------
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-config
* Membaca dan Posting email lewat web, bisa melalui mirror mailing list di:
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
http://groups.google.com/group/RantauNet?gvc=2
dengan mendaftarkan juga email anda disini dan kedua mirror diatas.
============================================================