Salam semua
Selamat Idul Adha
Selamat Natal
Selamat Tahun Baru
Selamat juga bagi punya yang baru atau yang baru punya momongan.
Selamat juga bagi yang punya kesibukan positif di akhir tahun (ada yang di Bali, Makassar dan entah di mana lagi)
Saya baru tiba dari JKT kemarin siang, dan baru sekarang bisa online. Saya dan teman2 dari dari Aceh mendapat kabar lulus seleksi 1 hari menjelang keberangkatan. So, tidak sempat membuka email, apalagi mengirim email.
Setiba di JKT jam 1 malam langsung check-in di Paragon. Jadi tidak ketemu siapapun, kecuali sempat mengintip beberapa nama yang bakal hadir besok pagi dalam ToMT.
Paginya, saya sempat bertanya pada Organizer kenapa ada (beberapa nama) yang tidak hadir. Mereka yang saya tanyakan adalah yang saya pikir aktif (indikatornya info dari Mil-19 kita). Tapi menurut Organizer, ada aturan dan persyaratan tertentu yang hanya diketahui oleh Penyeleksi apakah seseorang akan dipanggil atau tidak ke
ToMT.
Mengenai sms gelap, saya juga agak gelap infonya. Barulah dari email pak Haryono saya tahu persis bunyinya. Saya pikir itu bukan kerjaan level pak Haryono untuk buang2 waktu kesitu. Saya pikir juga isinya hanya luapan perasaan semata, belum provokatif (maaf kalo analisa saya kurang cermat). Buat kita, kekompakan dan saling mendukung dalam meningkatkan kapasitas bangsa Indonesia (khususnya kita mulai dari tim kita dulu).
Tidak berarti bahwa yang hadir di ToMT adalah lebih hebat, kecuali hanya selangkah lebih awal dalam mendapat informasi. Status yang hadir hingga (bisa jadi) 2 tahun mendatang tetap Trainer. Kecuali ada hal2 tertentu yang mendorong akselerasi ke arah Master Trainer. Peluang sama saja bagi yang hadir di gelombang awal atau berikutnya. Lihat saja kami di Aceh, setelah 3 tahun SIYB berjalan, telah lahir 40 Trainer sangat aktif (dari 80 trainer). Tapi kami hanya 3 orang mendapatkan jatah ke Paragon. Sulit juga menjelaskan pada 37 orang
lainnya mengapa hanya kami yang lolos.
Saya pikir juga (setelah mendapat keterangan dari pak Susantha) saat ini kita harus berbenah untuk benar-benar menguasai semua standarisasi SIYB Program. Karena jika tidak, maka program ini akan mati dengan sendirinya. Jadi bukan karena ILO, tapi trainer lah yang menentukan.
Maaf kawan2, saya terlalu banyak bicara. Maklum, jarang2 bisa nulis panjang

Saya stop dulu, takut silap bicara. Tapi saya berharap suatu waktu kita bisa ketemu lagi. Aceh juga menanti kehadiran kawan. Trims buat sebagian besar kawan2 yang sudah pernah berkunjung (bahkan tinggal) di Aceh.
Salam kami sekeluarga dari Tanah Rencong
Mussanurvan (ivan)
nining farida <ning...@yahoo.com> schrieb: