Sun Jan 1, 2012 5:40 pm (PST)
Kepada Yth;
di bawah ini merupakan satu novel panjang yang kedua karya saya, yang menceritakan mengenai kekerasan yang dilakukan rezim Orba terhadap rakyatnya. kisah ini sendiri terinpirasi dari kish kehidupan Abuya Dimyati, Abuya Bustami, Abah Mufassir, Kh. Idham Chalid dan KH. Gusdur.
Name                          : Rully Ferdiansyah
Addres                        : Komp. Pemda, Blok A-8, RT01/RW07, Cinanggung, Kelurahan Kaligandu, Serang-Banten, 42151
Phone Number : (0254)220668/085214274895
Â
Catatan Kecil dari Penulis
Sepanjang yang bisa diketahui, besarnya kebijakan Represif yang dilakukan pemerintahan rezim Orde Baru terhadap umat Muslim terasa begitu kentara, dan motif utama tindakan represif tersebut bukanlah karena didasari sentimen agama, melainkan murni politis, karena keserakahan penguasa. Pada saat itu, penguasa rezim merasa begitu paranoid akan kekuatan Islam yang begitu besar. Islam memiliki kedudukan istimewa di negara republik ini. Di Indonesia, Islam telah menjadi unsur pemersatu keutuhan negara. Namun, karena kedudukan istimewa tersebut, penguasa rezim menjadi begitu paranoid terhadap Islam.
Perasaan paranoid itu akhirnya berevolusi menjadi perasaan Phobia. Perasaan phobia tersebut diaktualisasikan dengan tindakan kekerasan, dan juga tindakan pembatasan akses para ulama dengan cara mengeluarkan kebijaksanaan Perdata Mati bagi para ulama yang berseberangan dengan penguasa rezim; semangat religius dari agama Islam memang sangat ditakuti penguasa rezim, dan mereka tak ingin Islam menjadi kekuatan besar, kekuatan tandingan terhadap rezim Orde Baru. Kendati demikian, buku ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan rasa ketersinggungan pada pihak-pihak tertentu, khususnya pihak militer. Maksud saya untuk menulis buku novel ini, adalah karena ingin mengangkat kenyataan sejarah dengan sejujur-jujurnya, ketika satu tokoh pemuka agama Islam, mendapat perlakuan sewenang-wenang dari penguasa rezim saat itu.
Bisa dikatakan kalau buku Novel ini terinspirasi dari kehidupan para ulama tanah air yang pernah mendapat perlakuan tidak adil dari penguasa rezim. Dengan menghubungkan berbagai pengalaman kisah peristiwa yang berbeda-beda, menyusun kepingan-kepingan gambar cerita menjadi landasan dalam membuat buku Novel ini. Jadi, tidaklah salah kalau tujuan dari penulisan buku Novel ini adalah untuk mengangkat satu lembaran penting dalam sejarah Indonesia yang terjadi belum lama ini, namun jarang sekali ada orang yang berani mengangkatnya.
Saya berhutang budi kepada banyak orang dalam penulisan buku Novel ini: sahabat saya di tempat kerja, kenalan dan orang-orang asing, yang masing-masing telah membantu baik secara jelas ataupun tidak, dan saya berhutang budi pada kedua orang tua saya. Berkat dukungan moral dari mereka maka buku ini bisa selesai.
Â
The Year Of Zero
Â
Bab I: Tentang Masa Transisi
Gumpalan awan-awan putih melayang bergulung-gulung di langit biru yang cerah, berdampingan dengan matahari yang terang, menyilaukan mata. Teriknya sinar matahari sangat terasa di kulitku; seakan terbakar. Musim panas yang menyengat ini memang sudah banyak menyusahkan orang-orang; sudah tujuh bulan hujan belum juga turun di bumi Bontam. Sungguh, cuaca yang panas pada hari ini terasa amat sesuai dengan keadaan hatiku dan hati semua umat Islam di negeri Indonesia. 1973 adalah awal mula dari tahun-tahun penuh penindasan bagi umat Islam di Indonesia pada era rezim pemerintahan Orba (Orde Baru). Sebetulnya, umat Islam di negeri ini memiliki banyak peran penting dalam semua aspek perintisan pembangunan negara ini. Contoh, Serikat Dagang Islam, Muhammadiyah, Nadhalatul Ulama, bahkan embrio cikal bakal TNI pun awal mulanya berasal dari Hizbullah; kami benar-benar telah memberikan segalanya untuk negeri tercinta ini. Cinta kepada tanah air adalah sebagian dari
Iman Islam. Kami berusaha keras dan mengorbankan segalanya untuk menentang penindasan yang dilakukan pihak penjajah asing kepada rakyat Indonesia. Akhirnya, orang Belanda pun kabur ke negerinya berkat perlawanan gigih dari kami, orang Jepang pulang dengan kebanggaan yang hilang; kami rampas.
Adalah satu hal yang tidak bisa disangkal kalau di Indonesia ini, umat Islam merupakan unsur pemersatu bagi keutuhan kesatuan negeri. Namun, begitu banyak sekali tantangan dan ujian yang mesti dihadapi negeri yang baru berumur jagung ini, apalagi ketika paham Komunisme mulai menguasai semua aspek di dalam pemerintahan Soekarno, negara Indonesia telah dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit, dan diambang perpecahan. Kehadiran paham Komunisme di Indonesia benar-benar telah menguji keintegritasan identitas sejati negara beserta seluruh warga negerinya.
Pada saat itu, paham Komunisme telah menimbulkan banyak sekali ketegangan di dalam semua elemen masyarakat; banyak orang yang merasa tidak senang ketika PKI mulai menyebarkan pengaruhnya di tanah air dengan tindakan Agitprop (Agitasi dan Propaganda). Tindakan Agitprop tersebut telah membikin sakit hati banyak pihak, semua orang benar-benar dibuatnya merasa muak, dan tak bisa menahan lagi kesabarannya.
Bom waktu itu akhirnya meledak. Inilah yang sangat kusesalkan hingga hari ini. Banyak orang yang berbahagia dengan runtuhnya Komunisme di Indonesia, saya juga turut bahagia. Runtuhnya Komunisme di tanah air merupakan lahirnya satu era baru yang penuh harapan bagi semua rakyat Indonesia. Semua orang dalam Euphoria, mengharapkan demokrasi dan pemimpin yang adil. Hanya saja ada yang kusesalkan dalam kejadian 1965 itu; apakah Komunisme itu perlu ditumpas ke akar-akarnya? Seperti yang selalu dikatakan Soeharto (Presiden kedua Republik Indonesia) pada tiap kampanyenya. Ini menjadi pertanyaan bagiku. Kenapa harus ke akar-akarnya? Saya takkan membenarkan pembantaian jutaan orang yang kebanyakan itu rakyat kecil, yang tidak tahu apa-apa mengenai Marxisme-Leninisme. Hanya karena mereka berada di tempat dan waktu yang salah, orang-orang yang tidak berdosa itu distigmakan rezim militer sebagai orang Komunisme, dan kemudian dibantai tanpa belas kasih. Kuperkirakan,
pada saat itu sekitar satu juta orang telah musnah dari bumi pertiwi ini. Ini tidak benar! Demi nama Allah yang Maha Adil dan Maha Pengasih, semua tindak pembantaian massal yang terjadi pada tahun 1965 itu tidak benar!
Era baru negeri ini telah dimulai dengan lumuran darah jutaan orang yang tak berdosa, dibunuh oleh saudaranya yang sebangsa dan setanah air. PKI tumpas, menghilang tak ada lagi jejaknya, populasi penduduk Indonesia menjadi berkurang setidak-tidaknya satu juta lebih, dan jumlahnya masih akan bertambah! Indonesia tengah mengalami masa-masa yang kelam, dan seluruh dunia menutup mata.
Pada saat-saat genting seperti itu, datanglah seorang ksatria Angkatan Darat dari dusun Kemusuk, terlihat gagah dengan segala aksesoris kebesaran militernya, seringai senyum nan bijak terlukis di wajahnya, hatinya...? Siapa yang tahu? Akan tetapi ia muncul menjadi pahlawan dan pemimpin di negeri kita pada saat-saat yang kritis. Rakyat sangat mengelu-elukannya bak pahlawan.
Banyak sekali yang diharapkan dari Ksatria Angkatan Darat ini setelah menggantikan paksa Presiden Soekarno. Tak tahunya, siapa yang akan menyangka kalau pemimpin baru kita ini ternyata seorang yang sangat serakah, seorang yang oportunis; selalu menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadinya. Umat Islam yang dahulu membantunya dalam menumpas Komunis, kini ia anggap musuh besar Republik. Islam tak lagi ia rangkul erat-erat, seperti ia amat membutuhkannya saat kejadian tahun 1965. Umat Islam hanya digunakan Soeharto untuk mencuci tangan dari kejahatan militer di tahun 1965.
Setelah puas memanfaatkan kami, Soeharto mengeluarkan kebijakan dzhalim untuk memberantas kebebasan suara aspirasi umat dengan menyederhanakan suara umat Islam ke dalam satu wadah yang mudah dikontrol pemerintah rezim; wadah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Semua cara dilakukan agar bisa mengendalikan dan mematahkan spirit umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas di Indonesia. Tetapi, meski sudah berencana mendirikan PPP, Pemerintah rezim masih tetap juga Phobia dengan umat Islam yang dahulu pernah membantunya. Rezim pemerintahan Orba (Orde Baru) sangat mengkhawatirkan kalau-kalau Islam akan merongrong, mengganggu kestabilitasan pemerintahan rezim; satu bentuk prasangka buruk dari penguasa rezim terhadap kami, umat Islam.
Subhanallah..! Subhanallah..!
Komunisme telah musnah! Kini, giliran umat Islam yang hendak dihancurkan Soeharto. Takkan ada lagi keindahan keberagaman aspirasi suara umat Islam di era rezim Orde Baru. Hilang sudah kebebasan umat Islam untuk beraspirasi. Empat partai Islam seperti; Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Nadhalatul Ulama (PNU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), dan Partai Islam Perti. Keempat-empatnya itu takkan ada lagi. Kini, semuanya dilebur ke dalam tubuh PPP.
Sekarang aku mulai membenci pemerintahan rezim Orde Baru ini; umat Islam sengaja ia hancurkan, agar para penguasa rezim Orde Baru bisa dengan seenaknya menggadaikan aset-aset negara kepada pihak asing. Dan itu.... Subhanallah! Masih juga belum cukup, pemerintah rezim juga sudah merencanakan untuk menjual semua penduduk Indonesia sebagai tenaga kerja murah kepada investor-investor petualang asing yang tak bertanggungjawab.
Astaghfirullahaladzhim..! Malang nian nasib rakyat Indonesia di era rezim Orde Baru ini. Kini, semua rakyat Indonesia tak diberi pilihan di dalam menyampaikan aspirasi mereka. Bagaikan orang yang terbelakang, penduduk Indonesia diberi pilihan tiga warna; apakah memilih warna hijau untuk PPP? Merah untuk PDI (Partai Demokrasi Indonesia)? Ataukah warna kuning untuk Golkar (Golongan Karya)? Begitu sederhana pilihannya! Bagi yang mengaku orang Islam maka pilihannya adalah PPP, bagi yang mengaku nasionalis maka pilihannya adalah PDI, dan terakhir; bagi yang ingin dekat dengan penguasa rezim, maka pilihannya adalah Golkar. Semua orang sepertinya berubah menjadi bodoh ketika ditodong oleh senapan laras panjang dari militer; ketiga warna pilihan itu dengan terpaksa harus diterima oleh segenap rakyat Indonesia.
Keterlaluan! Tapi, diantara semua kebiadaban Soeharto, kebijaksanaan fusi partai Islam inilah yang benar-benar membuatku gusar pada hari ini. Karena hal itulah, sekarang ini aku harus menemui teman baikku, Haji Samlawi yang juga ketua umum Partai Nadhlatul Ulama (PNU) Provinsi Bontam, untuk membicarakan rencana pemerintah yang berkeinginan mendirikan PPP. Bersama-sama dengan santriku yang bernama Qosim, kami berkunjung ke rumah Haji Samlawi dengan menunggang kuda. Qosim mampu menunggang kudanya dengan sangat baik, tapi aku selalu bisa menyusulnya; kudaku masih jauh lebih unggul. Sungguhpun begitu, hatiku masih gelisah; memikirkan kesewenang-wenangan Soeharto terhadap umat Islam. Kegelisahan tersebut masih belum juga hilang di hati saat kuda kami mulai berbelok ke selatan menuju jalan setapak yang sejajar dengan areal pesawahan yang luas, dimana padi-padi mulai menguning di sepanjang jalan. Burung-burung pipit terbang mendahului kami, mencoba mencuri padi
untuk makan siangnya. Di kejauhan ada sederet pohon Mangga yang mengarah ke pagar kayu berwarna hijau. Kebun buah Haji Samlawi sangat rindang nan sejuk di tengah panasnya cuaca. Rumah pondoknya yang sederhana dikelilingi tanaman-tanaman hias seperti; melati, lavender, dan bunga matahari. Rumah pondok Haji Samlawi terasa begitu hangat. Aku segera turun dari kuda begitu tiba di beranda rumah Haji Samlawi, dan kemudian mengikat kuda kami pada sebuah pohon nangka yang berukuran besar, yang terdapat di halaman rumah tersebut. Setelah itu, kami berdua berjalan santai di jalan setapak yang melintasi taman bunga yang indah dan beraneka ragam.
Puncak dari musim kemarau ini bisa terlihat dari pantulan cahaya sinar matahari yang memantul, menyilaukan pada atap genting rumah Haji Samlawi. Mataku terasa sakit saat memandang cahaya pantulan itu. Namun, rasa kelegaan langsung aku dapatkan begitu kami akhirnya tiba di beranda rumah Haji Samlawi yang asri, tertutupi oleh rindangnya pohon mangga cangkokan yang tumbuh tepat di depan teras rumah.
Di depan pintu rumah, aku mengetuk pelan sambil mengucapkan salam dengan sopan. Tak lama kemudian, Haji Samlawi membukakan pintu rumah dari dalam, mempersilakan kami duduk-duduk melepas lelah di beranda depan rumahnya sambil menikmati pemandangan halaman rumahnya yang indah nan rindang. Aku selalu merasa senang untuk datang kemari dan bertemu dengan Haji Samlawi yang selalu ramah. Ia tidak banyak berubah pada saat kupertama kali bergabung ke PNU. Ia masih seorang lelaki tua berumur 57 tahun yang berbadan tegap dengan kepala botak namun tertutupi oleh kopiah haji berwarna putih, janggutnya lebat berwarna putih dan nampak lembut, berwibawa. Sepasang matanya yang memancarkan sinar keteduhan nampak mendominasi wajahnya dan selalu ingin tersenyum. Pakaian koko-nya yang kasar dan sederhana bahkan tidak bisa membuat rendah kedudukan istimewa Haji Samlawi, kesederhanaannya itu telah membuat banyak orang kagum dan hormat padanya.
Suaranya saat bicara terdengar santun dan halus, menambah kesan kewibawaan dari dirinya. Ada nada yang merdu yang membuat orang yang mendengarnya merasa begitu dihargai. Oleh karena itu, tak heran kalau haji Samlawi sangat dicintai oleh umat Islam di Bontam.
“Silahkan duduk,†Haji Samlawi mempersilakan kami duduk di beranda rumahnya.
“Terima kasih, kami benar-benar kepanasan, Hujan masih juga belum turun,†aku menyeka keringat dari keningku dengan lengan bajuku yang panjang; Haji Samlawi terseenyum simpul melihatku yang kelelahan.Â
Perjalanan panjang yang telah kami lalui untuk sampai ke rumah Haji Samlawi telah membuat kami kelelahan dan kehausan, kami segera meminum minuman air putih segar yang dibawakan oleh cucunya Haji Samlawi; Umar Samlawi yang masih kecil, berumur sekitar 10 tahun. Ia begitu ramah dalam menyajikan minuman pada kami. Aku elus-elus kepala Umar dengan penuh kasih sayang. Sebelum Umar pergi meninggalkan kami, aku ucapkan terima kasih kepadanya dengan lembut.
“Aaahh.. betapa menyegarkan..†aku meletakkan gelas ke atas meja. “Saya selalu senang bisa kembali kemari,â€
Haji Samlawi kembali tersenyum simpul saat melihat kelegaan di wajah kami karena rasa dahaga yang telah hilang. Akan tetapi, senyum itu tidak berlangsung lama, raut muka Haji Samlawi langsung terlihat kebingungan, dadanya kembang kempis, menarik nafas dalam-dalam dengan susah payah. Saya yakin kalau usianya yang telah lanjut itu, telah membuat fisik Haji Samlawi menjadi lemah, tak mampu menanggung kedzhaliman pemerintah rezim terhadap dirinya dan semua umat Islam di Propinsi Bontam. Ya..! Rencana pemerintah untuk membubarkan PNU telah membuat hati Haji Samlawi gelisah. Sama halnya seperti diriku, aku bisa menduga-duga kalau Haji Samlawi merasa enggan untuk bergabung dengan PPP.
“Bagaimanakah pendapatmu tentang PPP? Saya sangat berharap jika abah bisa memberikan masukan,†tanya Haji Samlawi padaku, penasaran.
Aku menundukkan kepalaku, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan pelan-pelan. “Aneh betul dengan pemerintah baru kita ini. Dulu, kita membantu Soeharto dalam menumpas Komunisme di negeri ini. Tetapi, sekarang kita ditinggalkan, dan memaksa kita untuk masuk bergabung dengan PPP. Sungguh, saya tidak tahu harus berkata apa. Saya tidak akan mau terlibat dengan politik di dalam pemerintahan Orde Baru. Saya tidak mau ikut bergabung dengan PPP. Kalau tuan Haji dan semua anggota PNU hendak bergabung dengan PPP; maka silahkan saja, saya tiada akan menghalangi dan melarang-larang,â€
“Lalu apa yang akan abah lakukan? Abah Haji adalah wakilku di dalam PNU. Seharusnya abah mengikuti langkahku?â€
“Sahaya memang wakil tuan.. tetapi ini adalah urusan prinsip, urusan hati nurani. Saya bisa menangkap kalau Soeharto ini sudah mulai cenderung otoriter; umat Islam sudah dianggap menjadi musuh besarnya. Saya tak bisa bekerja di bawah penguasa dzhalim yang menindas umat. Saya lebih memilih menjadi guru ngaji di pesantrenku saja sambil mengelola usaha pertanianku demi menjamin kelangsungan hidup keluargaku beserta santri-santriku,â€
“Meskipun Soeharto sudah mulai otoriter, kita harus tetap punya suara di tubuh PPP. Kita harus menjadi wakil penyampai aspirasi umat di tengah pemerintahan otoriter,†Haji Samlawi menatapku lekat-lekat. “Sekarang apakah abah akan membiarkan aku berjuang sendirian, meninggalkanku di saat-saat krisis seperti sekarang?â€
Aku tersenyum dan berempati pada Haji Samlawi. Aku genggam erat-erat tangannya saat menatap wajah Haji Samlawi, dan aku bisa menangkap kemuraman di wajahnya. “Aku tidak akan pernah meninggalkan pak Haji. Aku; Yusuf Hussein takkan pernah meninggalkan temannya ketika sedang membutuhkan, tidak pernah! Aku akan selalu ada jika pak haji membutuhkan. Sungguhpun begitu, aku masih tetap pada pendirianku, aku tidak akan bergabung dengan PPP,â€
 “Kalau begitu abah pun tahu dengan pasti bahwa sikap abah yang non kooperatif itu akan membahayakan keselamatan abah. Saya sangat mengkhawatirkan keadaan abah nanti. Sebaiknya bergabung saja dengan PPP. Di dalam tubuh PPP kita bisa berjuang; memperjuangkan suara umat melalui jalur konstitusi,â€
“Pak haji Samlawi jangan terlalu mengkhawatirkan saya. Saya justru lebih mengkhawatirkan akan murka Allah daripada murka penguasa,†kataku sambil tersenyum ramah, mencoba menghilangkan kekhawatiran Haji Samlawi.
“Saya iri dengan abah. Seandainya saja aku bisa bersikap teguh seperti halnya abah.†Ujar Haji Samlawi, menundukkan pandangannya ke bawah, menetap kosong pada lantai ubin beranda rumahnya. “Baiklah... kalau begitu saya takkan memaksa abah lagi. Muslim yang sejati adalah muslim yang tidak membohongi hati nuraninya. Abah adalah seorang muslim yang jujur,â€
“Pak haji terlalu berlebihan. Justru pak haji-lah yang lebih mulia dibandingkan denganku. Pak haji selalu bersedia memimpin dan membimbing umat ditengah kemunafikan dan kelicikan pemerintahan rezim. Kecintaan pak haji terhadap umat sungguh membuatku kagum, pak haji tidak meninggalkan umat yang hendak digiring paksa untuk masuk ke dalam PPP oleh rezim pemerintah. Tidak seperti saya,†aku menundukkan kepalaku, lalu menggeleng-gelengkannya.
“Haa.. seandainya saja kau di sisiku..†ujarnya. “Tapi, sudahlah.. sekarang kalian pasti lapar, apakah kalian sudah makan? Mari kita makan siang bersama di dalam,†lanjutnya, kemudian bangkit dari tempat duduknya, mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya.
“Tidak.. terima kasih, kami sudah makan bubur ayam sewaktu dalam perjalanan kemari,†kataku.
“Bubur Ayam? Itu bukan sarapan! Kalian harus makan nasi atau ketupat agar kalian bisa disebut sudah sarapan. Mari kita masuk ke dalam, di sini kalian bisa makan opor ayam,†kata Haji Samlawi, menggoda kami.
“Kami sudah kenyang pak haji, tidak baik jika kami memaksakan diri,†kataku.
“Aku akan sangat tersinggung jika abah menolak tawaranku,†Haji Samlawi menatap tajam padaku, akan tetapi ia juga tersenyum simpul kepada diriku; membuatku merasa tidak nyaman. Sepertinya, aku dan Qosim mesti menerima undangan makan bersama dari Haji Samlawi.
Sewaktu kami memasuki ruang makan keluarga Haji Samlawi; ibu Samlawi segera bersalaman dengan kami, lalu ia pun masuk ke dapur dan langsung sibuk dengan panci-panci dan kuali. Umar berderap di belakangnya. Saya merasa salut kepada Haji Samlawi yang tidak berkeberatan untuk merawat Umar sementara ayah dan ibunya sibuk mengelola toko pakaian di pasar. Perilaku Umar sangat sopan, ia begitu menghormati kami; selalu ceria dan tersenyum pada kami. Meski begitu, Umar tidak terlalu banyak bicara, ia sering duduk menyendiri, diam dan tak banyak bersenda gurau seperti umumnya anak-anak yang sebaya dengannya. Haji Samlawi mulai memasuki ruang makan, kemudian melintasi ruangan dapur yang letaknya tak terlalu jauh dengan ruang makan.
“Bagaimana bu? Apakah makanan opor ayamnya sudah bisa disajikan untuk kedua tamu kita?,†tanya Haji Samlawi kepada istrinya.
“Ya.. bantulah aku mengangkat panci opor ini ke meja makan.†Ibu Samlawi langsung mengangkat panci dari atas kompor minyak dan kemudian memberikannya kepada suaminya.
Aku sangat merasa malu karena mendapat pelayanan yang kuanggap agung seperti itu, dan aku tak bisa berdiam diri, aku harus bangkit, segera membantu ibu Samlawi yang sibuk membawakan kami satu panci berisikan ketupat. Namun dia mencegahku.
“Duduklah, biarkan kami yang bekerja,†ujar ibu Samlawi.
“Ibu Samlawi terlalu memanja kami,†aku menarik kursiku kembali dan duduk.
Haji Samlawi berseru dari seberang ruang dapur sambil membawa satu panci berisi sayur opor ayam. “Ayo.. sekarang kita bisa makan!â€
“Wah. kalian berdua terlalu baik kepada kami,†kataku.
“Kata aki; abah haji adalah seorang guru besar yang menguasai ilmu Fiqih, dan hafal kitab kuning. Benarkah itu?†tanya Umar kepadaku.
“Tidak, justru kakekmulah yang sangat menguasai kitab kuning-nya Syaikh Nawawi,â€
“Tapi, menurut kakek; abahlah yang paling terbaik dalam hal Fiqih diantara semua kyai yang ada di Bontam,â€
“Entahlah. Saya selalu merasa kalau diatas langit itu selalu ada langit lagi,†aku tersenyum simpul pada Umar. Aku merasa kagum pada anak ini yang memiliki semangat belajar. Aku saja ketika seumurnya, tak memiliki rasa ingin tahu yang sebesar itu. Saya memperkirakan kalau anak ini akan menjadi kyai besar; semoga saja semangat belajarnya itu selalu menyala-nyala di dalam jiwanya.
“Saya ingin mondok di pesantren abah jikalau saya sudah lulus SD nanti!,†kata Umar.
Ruang makan langsung berubah menjadi ruangan percakapan yang seru. Haji Samlawi membanting tutup panci dan mulai mengangkat kuali yang berisikan sayur opor. Warna air sayur opor yang kekuning-kuningan itu terlihat kental oleh santan. Aroma lezat dari bumbu rempah-rempah yang terdapat pada sayur opor itu benar-benar membuat mabuk kepayang.
“Sudah, jangan bicara lagi, sekarang siap-siap untuk berdoa sebelum makan. Umar, ingat tata krama di meja makan!†kata Haji Samlawi mengingatkan Umar dengan senyum simpul yang menghiasi wajahnya.
Makan siang bersama keluarga Haji Samlawi benar-benar sangat berkesan di hati kami; takkan pernah kulupakan. Kelak, jika Haji Samlawi berkunjung ke rumahku, aku akan jamu dia dengan hidangan dan keramahan yang lebih hebat lagi. Setelah selesai makan siang, aku memuji Umar yang sangat rajin mengumpulkan piring-piring bekas makan kami, dan kemudian berlari membawa piring-piring kotor itu ke tempat cuci piring. Haji Samlawi terlihat bangga akan cucunya itu. dan tentu saja, ia juga bangga akan kemampuan memasak yang dimiliki istrinya. Tak banyak yang kami bicarakan setelah kami selesai makan, kami hanya membicarakan hal-hal yang ringan; tak ada percakapan politik di meja makan, kami semua menjaga etika itu dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya, aku ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama keluarga Haji Samlawi, namun kami harus segera pulang. Istriku akan marah besar jika kami pulang terlambat.
Acara mengobrol bersama dengan keluarga Haji Samlawi ini terpaksa harus kami akhiri; sayang sekali. Aku dan Qosim segera beranjak mendekati Haji Samlawi beserta istrinya dan mulai bersalam-salaman. Di beranda rumah, keluarga Haji Samlawi melepaskan kepergian kami. Aku melambaikan tangan kepada semua anggota keluarga Haji Samlawi dengan rasa penyesalan yang muncul mendadak di hatiku.
Untuk sampai di tempat dimana kuda kami diikat, kami harus berjalan melewati dua pohon Mangga. Desir angin mamiri berhembus menerpa muka kami, ketika kami melepaskan ikatan kuda kami, membuat sorbanku melayang terbang, dan jatuh ke tengah-tengah halaman yang lapang. Qosim segera berlari ke tengah-tengah halaman, mengambil sorbanku, kemudian mengembalikannya padaku.
“Terima kasih,†kataku.
Qosim nampak tak bersemangat. Ia diam, kepalanya tertunduk, tersirat rasa khawatir di wajahnya.
“Abah.. apakah abah benar-benar sudah yakin untuk meninggalkan segala aktivitas di PNU? Tentu, pihak pemerintah akan menganggap langkah abah ini sebagai ancaman stabilitas negara!,†ujarnya, mukanya nampak pucat. “Situasi pada saat ini sedang panas-panasnya,†Qosim menundukkan kepalanya, lalu menggeleng-gelengkannya.
“Tak ada alasan bagi pemerintah untuk merasa khawatir terhadapku. Aku hanyalah seorang lelaki tua yang sudah berumur cukup lanjut; aku sudah lemah. Saya tak habis pikir, dulu Komunis yang dikejar-kejar pemerintah, sekarang kita; umat Islam. Entah salah apa kita terhadap pemerintah, saya tidak mengerti,†aku menggeleng-gelengkan kepalaku, kemudian memegang pundak Qosim dengan lembut. “Tapi.. sudahlah, tak ada yang [erlu dikhawatirkan, lebih baik kita segera pulang ke rumah,â€
**
Setibanya di rumah, aku berpisah dengan Qosim yang harus segera mengajar mengaji kepada murid-murid di pondok pesantrenku yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Pohon-pohon Belimbing yang rindang membuat teduh jalan-jalan setapak di halaman rumahku, aku merasa sangat nyaman berjalan menyusuri halaman depan rumahku. Dedaunan kecil yang berguguran mulai semakin banyak dan hembusan angin menyapu, membuat daun-daun itu beterbangan ke segala arah. Semua masih sama, tapi jaman telah berubah, orang-orang juga mulai banyak yang berubah.
Ketika aku tiba di beranda rumah, aku menemukan adik seperguruanku, Haji Jafar telah menantiku; sudah lama sekali kami tidak bertemu, kunjungannya kali ini telah membuat gembira hatiku. Sambil berjalan menyusuri halaman beranda rumahku, kulihat Haji Jafar dengan peci hajinya, baju koko putihnya yang halus terseterika dengan rapih, dengan sarung mahal bermotifkan kotak-kotak, dan kini ia sedang duduk-duduk santai di kursi kayu yang terdapat di beranda rumah. Kemudian, ia segera bangkit ketika melihatku semakin mendekat. Haji Jafar terlihat tampak antusias sewaktu melihatku yang baru saja datang. Dia memang seorang yang sangat bersemangat, otaknya jenius, ahli dalam segala bidang ilmu keagamaan, semua itu bisa dicapainya karena semangat belajarnya yang tinggi. Usianya masih sangat muda; 39 tahun, berbeda jauh denganku yang sudah berusia 52 tahun. Kami memang sudah tidak lama bertemu, ia segera berlari ke arahku, dan memelukku dengan sangat erat sekali,
melepaskan rasa rindunya.
“Kakak..†ujarnya. “Sudah lama kita tidak bertemu,â€
“Jafar.. bagaimana kabarmu? Darimana saja kamu selama ini?†tanyaku sambil mempersilakan Haji Jafar untuk kembali duduk di beranda rumahku.
“Saya masih di Kota Zheerang, memimpin pengajaran di pesantrenku di sana,â€
“Bagus..bagus,†ujarku sambil mengangguk-nganggukkan kepalaku. “Pekerjaan menjadi ustadz adalah pekerjaan yang mulia, saya bangga padamu,â€
“Benarkah?â€
“Tentu.. sampai sekarang pun aku masih menjadi guru, aku tak berkeinginan menjadi sesuatu yang lain, selain menjadi guru. Begitu besarnya amal ibadah seorang guru,â€
“Tapi, justru aku kemari adalah untuk meminta restu dari kakak. Saya ingin bergabung dengan Golkar. Dulu pada tahun 1965, aku dan kesemua teman-temanku di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) telah berjuang dalam memerangi paham Komunisme yang begitu merasuk ke segala lini di dalam pemerintahan Soekarno; aku sudah banyak mengabdi kepada negeri ini ketika paham Komunisme mulai terasa begitu mengancam keutuhan persatuan negeri ini! Dan sekarang, sudah saatnya bagiku untuk berbuat sesuatu untuk negri ini. Hanya dengan bergabung di Golkar, aku bisa melakukan sesuatu untuk negeri ini.â€
 “Jadi kau berkeinginan untuk masuk ke politik? Bagaimana dengan pesantrenmu? Apakah kau tak hendak mengajar ngaji lagi pada para santri?†tanyaku, penasaran.
“Insya Allah, tugas mengajarku itu sudah bisa saya delegasikan kepada ustadz-ustadz di pesantrenku. Kakak tak perlu risau,â€
Aku kecewa mendengar jawaban adik seperguruanku yang menyiratkan ambisi besar akan kekuasaan. Kepalaku tertunduk kecewa, kemudian bangkit dari tempat dudukku, lalu berdiri mematung sambil berpegangan ke tiang kayu beranda rumahku. Mataku menatap kosong ke arah halaman rumahku yang asri.
“Sesungguhnya saya lebih menyukai kamu menjadi guru ngaji saja. Di dalam tubuh Golkar itu terdapat banyak intrik politik, banyak korupsi yang berpotensi mencemari kemurnian jiwa. Saya tak ingin melihat jiwamu menjadi rusak karena sistem yang bobrok di dalam pemerintahan rezim orde baru ini,†aku menatap Haji Jafar dengan tatapan penuh harap agar dia merubah pikirannya. “Meskipun engkau berkeinginan untuk masuk ke PPP pun, aku takkan menyarankannya,â€
“Tapi kita harus punya suara di dalam parlemen. Saya berkeinginan menjadi wakil aspirasi umat di dalam parlemen, kuharap kakak bisa mendukung secara moriil akan keinginanku ini seperti halnya Kyai Ali Yafie (Seorang kyai besar yang menjabat Rais Aam Nadhalatul Ulama pusat pada masa Orde Baru, dan juga terkenal dekat dengan kekuasaan Orde Baru)  yang sudah mendukungku,â€
“Banyak Kyai yang beralasan seperti alasanmu, dan saya yakin kalau Kyai Ali Yafie juga adalah salah satunya. Sungguh.. apakah kau pikir Soeharto akan mendengar suara kita, suara umat Islam, tidak! Meskipun engkau sudah duduk di partai Golkar!†ujarku, kemudian menggeleng-gelengkan kepalaku. “Itulah mengapa banyak partai-partai di negeri ini telah dihancurkan, kemudian disederhanakan hanya menjadi tiga saja, seharusnya kau bisa mengerti! Sebagai kakak seperguruanmu, saya merasa sangat sayang padamu. Kumohon adikku... janganlah sampai kau terpesona akan kekuasaan,â€
“Kekuasaan? Kakak pikir saya berambisi akan kekuasaan? Sudah puluhan tahun kita berguru kepada perguruan yang sama, tapi inikah penilaian kakak padaku, bahwa aku berambisi akan kekuasaan?
“Jika kakak tak berkeinginan memberikan restu dan dukungan kepadaku, saya takkan memaksa. Dengan atau tanpa dukungan dari kakakpun saya akan maju, bergabung ke dalam Golkar,†kata Haji Jafar, matanya menatap tajam padaku. Ia segera bergegas berjalan, hendak meninggalkanku di beranda rumah.
Aku harus mengejar adik seperguruanku, menyusulnya. Aku tak bisa membiarkan dia pergi meninggalkan rumahku dalam keadaan marah. Aku sangat sadar jika aku telah menyinggung perasaannya. Memang begitulah Haji Jafar, sangatlah sulit untuk tidak membuatnya tersinggung di dalam percakapan bertemakan politik, sementara dirinya adalah orang yang temperamen.
“Tunggu..!†teriakku, sambil menggegaskan jalanku, berlari kecil, mengejar Haji Jafar yang berjalan di tengah-tengah halaman pekarangan rumahku. Teriakanku tak membuatnya berhenti, Haji Jafar tetap melangkah, ia mengacuhkanku. “Tunggu,†lanjutku, lalu segera memegang pundak Haji Jafar.
“Sudahlah..†katanya, setengah berteriak, lalu melemparkan tanganku dari pundaknya. Aku tak mau menyerah, aku berjalan mendekatinya. Akan tetapi, Haji Jafar segera mendorongku hingga aku terjatuh ke tanah, ia tak ingin aku dekati.
“Bisa-bisanya kau katakan aku senang akan kekuasaan. Aku telah berjuang untuk negeri ini, aku sudah berperang melawan Belanda, menumpas Komunisme. Dan sekarang, ketika aku hendak mengabdi pada negeri ini di dalam Parlemen, engkau katakan aku haus kekuasaan?†kata Haji Jafar dengan nada lantang seraya menunjuk mukanya dengan jari telunjuknya, dan menatap tajam padaku yang masih mencoba bangkit.
“Engkau tidak adil, bagaimana denganku? Apakah aku tidak berperan dalam membangun negeri ini...? dengar.. Aku tak berniat menghinamu, sungguh.. tetapi aku melihat bahwa Soeharto itu sudah mulai cenderung otoriter. Saya memperkirakan bahwa kesewenangan-wenangannya itu akan menjadi-jadi dalam beberapa tahun ke depan. Maafkan aku, tidak seharusnya kita seperti ini,†ujarku,.
Haji Jafar diam, sepertinya ia masih mencoba untuk meredakan amarahnya dengan berjalan santai menuju kuda tunggangannya yang diikat tidak jauh dari tempatnya berada, di pohon Belimbing.
“Soeharto itu sangat jahat, percayalah. Kita tak bisa mempercayainya, dan ia pun tak pernah mempercayai kita,†aku berusaha keras untuk meyakinkan Haji Jafar, sementara Haji Jafar terlihat menyibukkan diri dengan membuka ikatan kudanya dan bersiap menaikinya.
“Saya bisa jaga diri, tidak perlu kakak ingatkan lagi. Lebih baik saya segera pulang saja. Assalamualaikum,†kata Haji Jafar, kemudian menaiki kudanya, lalu meninggalkanku.
†Walaikumsalam,†jawabku dengan suara pelan, sedikit berbisik.
Percuma saja, tak ada lagi yang bisa kulakukan. Kepergiannya dari rumahku ini sangat kusesali. Kalau memikirkan Haji Jafar yang kepalanya memang sudah terlalu keras, aku jadi serba salah. Aku segera bangkit, membersihkan debu-debu tanah di pakaianku, dan menatap kepergian adik seperguruanku yang mulai menjauh, dan sedikit demi sedikit menghilang dari pandanganku saat ia keluar dari pintu gerbang rumahku. Aku takkan berusaha lagi untuk menghentikannya.
   Aku tidak akan pernah tunduk kepada rezim Orde Baru untuk selamanya, meskipun itu demi alasan memperjuangkan suara umat di Parlemen, aku tidak peduli! Semua itu hanya kebohongan semata. Seorang diri aku ditinggalkan adik seperguruanku, aku penasaran, apakah ada juga ulama-ulama yang seperti aku? Mengikuti hati nuraninya seperti aku? Perbincanganku dengan Haji Jafar telah merisaukan hatiku. Aku memang tidak menghendaki Haji Jafar menjadi anggota parlemen di Golkar. Aku tidak akan bisa menerima kenyataan jika suatu hari nanti aku menemukan berita mengenai adik seperguruanku itu terlibat kasus korupsi. Tentu Islam akan semakin terpuruk namanya akibat skandal beberapa ulama yang terlibat korupsi. Cukup sudah Islam dijatuhkan kemuliaan namanya oleh rezim Orde Baru! Saya tak rela kalau nama Islam itu jatuh di mata khalayak Internasional, di mata khalayak ramai, hanya karena beberapa ulama yang tidak berkompeten.
Biarlah semua orang berubah, tapi aku takkan berubah. Sekarang ini perjuangan membangun negeri dan umat haruslah dimulai dari dalam diriku, yang berusaha keras untuk bisa memberikan teladan dan contoh yang baik kepada segenap manusia yang hidup di negeri ini. Meski para penguasa di era Orde Baru ini sangat memusuhi Islam dan para ulamanya, tetapi aku harus tetap teguh memegang prinsipku. Aku harus tunjukkan sikap penolakanku kepada mereka dengan tidak berpartisipasi dalam hal apapun yang berbau pemerintahan; suatu bentuk Silent Protest yang akan kulakukan! Kemewahan dan kegemerlapan duniawi yang kini membuat mabuk para penguasa takkan bisa memalingkan aku dari prinsip moral yang aku pegang teguh, lagipula ketenangan hidup di dalam beribadah dan menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama keluarga adalah anugerah terbaik yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Panas hatiku jika memikirkan kesewenang-wenangan penguasa terhadap umat, seperti panasnya matahari yang masih juga dirasa belum berkurang pada siang ini. Tetapi, setidaknya pepohonan buah-buahan yang rindang, dan tumbuh di halaman pekarangan rumahku mampu mengurangi panas hatiku dan panas matahari pada hari yang terik ini. Kulanjutkan langkahku, kembali berjalan menuju beranda rumah. Masuk ke dalam rumah, aku menemukan istri dan putriku tengah duduk-duduk di rumah tamu, sementara hidangan makanan kecil tergeletak di atas meja. Kutemukan mereka berdua yang tampak lemas, tak bersemangat. Dengan duduk terkulai, kepala mereka tertunduk, mata menatap ke bawah, ke lantai ubin berwarna oranye suram nan gelap. Ai, nampaknya mereka berdua telah mencuri dengar percakapanku dengan Haji Jafar, dan mereka belum sempat menyajikan hidangan kepada Haji Jafar. Mereka berdua mengurungkan niat untuk menghidangkan makanan ringan kepada Haji Jafar ketika mereka mendengar
pertengkaranku.
“Kalian berdua terlihat tidak bersemangat, kalian baik-baik saja?†tanyaku kepada istri dan putriku. Kemudian, aku duduk-duduk bersama mereka.
“Apakah yang salah dari kita? Apakah yang salah dari agama kita? Dari tata cara kehidupan kita? Mengapakah kita begitu dibenci oleh pemerintah?†kata istriku.
“Oh.. Mae-ku yang sangat kucinta. Tak ada yang salah dari kita. Tak ada,†aku rangkul erat-erat istriku, Siti Maesaroh; berusaha menenangkannya. “Tidak ada yang membenci kita, mereka hanya takut pada kita, itu saja. Mereka takut karena kita jujur,â€
Mae mengusap matanya yang memerah, lalu membetulkan kerudungnya dari kerutan-kerutan. “Abah pasti haus, Fatimah.. bawakan ayahmu minuman,â€
Fatimah segera membawakanku minuman air putih dengan sopan. Senyumannya yang manis membuatku batinku tenang, inilah harta karunku yang sesungguhnya. †Terima kasih nak!†kataku padanya.
Fatimah hanya tersenyum simpul, kemudian menjauh dariku ketika aku mulai minum. Umurnya baru saja menginjak 20 tahun, usia yang sangat menyenangkan. Baktinya kepada kepada orang tua sangat besar. Pendidikan agama yang telah kuberikan kepadanya telah berhasil setidak-tidaknya membentuk kepribadian yang shalih. Untuk seorang wanita yang rentan dari kejahatan obyek seksual para lelaki hidung belang, hanya budi pekerti saja yang akan melindungi kehormatannya, menaikkan kewibawan martabatnya sebagai wanita. Sebagai putriku yang paling bungsu, Fatimah adalah kebanggaanku.
“Mungkin aku bukanlah seorang suami yang baik, bukan seorang ayah yang sempurna, yang bisa memberikan kemegahan duniawi, kecukupan materi pada kalian berdua. Akan tetapi, aku tak bisa membohongi hati nurani saya, menggadaikan prinsip saya demi mendapatkan kedudukan tinggi dari penguasa rezim. Saya tidak dibesarkan seperti itu, saya tidak dididik seperti itu.
Dari dulu kita hidup berkecukupan hanya berdasarkan keyakinan saja, hanya berdasarkan iman kita saja, tapi kita bisa bertahan! Bahkan kita bisa mengusir penjajah dengan modal iman kita. Sekarang pun kita akan hidup seperti yang lalu-lalu. Apakah kalian akan mendukung abah yang lemah ini? Atau, apakah kalian akan meninggalkan abah?†aku memberikan penawaran kepada Mae dan Fatimah dengan sangat santun.
Mae dan Fatimah segera memelukku erat-erat, mereka berdua menahan rasa haru. Bisa kudengar hembusan nafas yang berat, berhembus ke tengkukku. “Kenapa abah bisa berkata seperti itu. Kami akan selalu bersama abah, susah maupun senang. Bukankah begitu Fatimah?†Mae segera menoleh ke arah putrinya.
“Betul bu! Kemanapun abah berjalan, kami akan akan berada di belakang abah, mendukung apapun yang abah putuskan. Abah adalah pemimpin kami,†kata Fatimah, dengan nada suara yang serak parau.
“Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. terima kasih atas dukungan moral kalian. Sungguh, abah takkan mungkin bisa bertahan bila tanpa ada kalian di belakang abah,†kupeluk kembali mereka berdua erat-erat. Begitu beratnya cobaan yang kurasakan ini. Mulai dari jaman penjajahan hingga jaman kemerdekaan, cobaan terhadap umat Islam seolah tak pernah berhenti. Saya bersyukur kepada Allah yang telah memberikanku satu keluarga yang penuh cinta, dan rasa bakti yang tulus kepadaku.
Sewaktu saya masih belajar Thariqot Qadiriah, ketika itu usiaku masih sangat muda dan masih bujangan, dan pada saat itu pula sempat terlintas dalam benakku bahwa aku ingin menjadi pertapa saja, menyendiri di dalam kekhusyuan beribadah di pengasingan. Namun, keinginanku untuk menjadi pertapa itu terpaksa harus saya batalkan ketika guruku memberikan sebuah saran yang mengubah pandanganku untuk selama-lamanya.
“Setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan,†ia berkata padaku, “Negeri ini membutuhkanmu. Bebaskanlah umat dari penjajah kafir Westerling. Umat Islam sangat membutuhkanmu. Pada saat-saat kritis seperti sekarang, janganlah kau tinggalkan umat Muhammad. Berkhidmatlah untuk kemanusiaan seperti halnya aku. Menikahlah, berkeluargalah seperti halnya aku, karena amal ibadah yang terbesar di sisi Allah itu ada di dalam kemanusiaan bukan di dalam pertapaan,â€
Itulah perkataan wasiatnya yang terakhir yang diberikannya pada saat-saat kelulusanku dari Thariqot Qadiriah. Kami tak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Perang telah memisahkan kami. Guruku meninggal ketika pesantrennya diserang tentara KNIL dalam agresi militer Belanda yang kedua. Pesantrennya dibakar hingga musnah, rata dengan tanah. Segala kitab-kitab keagamaan pun ikut musnah dilalap api. Saya tak pernah mendampingi guruku pada saat-saat terakhirnya, dan aku sangat menyesalinya.
Semenjak itu aku mulai paham akan arti kepedulian kepada sesama. Soeharto adalah mantan KNIL, pantas saja jikalau dia tak memiliki rasa kepedulian kepada umat Islam. Meskipun dia mengaku beragama Islam, tapi itu hanya pengakuan lisan saja. Pemikiran yang keji untuk memanfaatkan umat Islam ketika terjadi kekacauan di tahun 1965, tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, bahwa ada juga orang yang bisa setega itu. Kami tidak bisa mengendus, kami tidak bisa mencurigai perilaku keji ini sebelum-sebelumnya hingga akhirnya saat ini.
Bisakah kami, umat Islam membanggakan diri akan jasa-jasa kami kepada negeri, ketika Soeharto sebagai pemimpin negeri ini, mulai melupakan dan mulai membenci kami. Akhirnya aku menyadari, bahwa Soeharto pun tak jauh bedanya dengan penjajah Belanda yang kafir, bahkan lebih jahat! Patutlah dicurigai rasa kebangsaannya. Mungkin saja dia adalah perpanjangan tangan dari agen intelijen Amerika atau Belanda, siapa tahu! Rasa prasangka baik kami, rasa toleransi kami begitu luas sehingga kami tidak pernah berusaha mencurigai seseorang sampai akhirnya orang itu telah menikam kami dari belakang. Begitulah gambaran umat Islam. Amat mudah memang untuk memfitnah, menghancurkan dan mencerai beraikan umat Islam; Snouck pernah melakukannya, Van der Plast pernah melakukannya, Sneevliet pernah melakukannya sewaktu ia memecah-belah Sarikat Islam. Dan sekarang, apakah Soeharto juga akan melakukannya?
  Anehnya, justru sikap rasa prasangka baik dan sikap jujur itu juga yang membuat kami bertahan, tidak punah seperti halnya suku Indian di Amerika. Waktulah yang akhirnya membantu kami dalam mengungkap kebenaran, meski akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Dari dulu kami hidup dengan bermodalkan keyakinan saja, dan sekarang pun kami akan tetap untuk berusaha hidup berdasarkan keyakinan pada kebenaran Allah. Sikap itulah yang menjadi senjata andalan kami, yang juga menghindarkan kami dari sentimen rasa rasialis dan sikap ketidakadilan seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih pada orang kulit hitam atau bangsa berwarna lainnya yang dianggap Inferior.
Bab 2: Keseharian yang membuahkan makna
Sewaktu jam dinding di rumahku berdentang pada jam tiga pagi, aku terbangun dari tidurku. Pada saat-saat seperti itu ayam-ayam jantan masih belum pula berkokok. Kulihat pemandangan halaman pekarangan rumahku melalui jendela, kemudian kuputuskan untuk turun dari tempat tidurku, sementara Mae masih nyenyak tertidur di sampingku, aku takkan membangunkannya. Hari masih sangat gelap, kulihat jalan setapak berbatu yang lembab dan rerumputan yang basah oleh embun pagi. Begitu aku keluar dari pintu gerbang rumahku dan tiba di mesjid pesantren, kutemukan dua puluh santriku telah berderet, berbaris di kolam besar yang biasa kami gunakan sebagai tempat wudhu. Aku ikut berada di deretan barisan para santriku, mengantri mengambil wudhu.
Selesai berwudhu, aku memimpin para santriku melakukan shalat Tahajjud berjamaah di mesjid. Kegiatan shalat Tahajjud berjamaah ini merupakan kegiatan rutin yang kami lakukan pada tiap malam, kami tak pernah melewatkannya. Sebanyak 11 rakaat kami dirikan di dalam shalat Tahajjud berjamaah, setelahnya, kami melakukan amalan wiridan panjang hingga waktu shalat Shubuh tiba. Tak ada yang pernah berubah, baik ada aku ataupun tidak, akan ada saja yang selalu menggantikan posisiku di dalam memimpin shalat Tahajjud berjamaah ini; biasanya Qosim.
Segalanya terasa begitu cepat, tanpa terasa waktu Shubuh tiba. Bisa kudengar lantunan adzan Shubuh sudah berkumandang, terdengar sayup-sayup di kampung lain. Sudah saatnya bagi kami untuk memulai shalat Shubuh secara berjamaah. Qosim segera bangkit, berdiri di mimbar mesjid, dan mulai mengumandangkan adzan dengan syahdunya. Sewaktu shalat Shubuh hendak didirikan setelah Qosim selesai mengumandangkan Adzan, aku maju sebagai Imam shalat, dan mendirikan shalat Shubuh secara berjamaah dengan amat khusyu. Â
   Selesai shalat Shubuh, kami membaca doa-doa panjang hingga matahari sedikit demi sedikitnya muncul, menerangi kampung Cinanggung. Kulihat jam dinding di mesjid, waktu sudah mulai menunjukkan jam enam pagi. Pada jam enam pagi kami membubarkan diri dari mesjid, kembali melakukan rutinitas kerja. Aku masih dapat merasakan pengaruh shalat dan amalan doa-doa panjang yang baru saja kami lakukan semalam; aku merasa tenang, damai lahir bathin. Jika saja hari ini aku menemukan satu orang yang mencaci-makiku, maka aku akan tersenyum pada orang yang mencaci-makiku; aku harus selalu menempa diriku dengan kesabaran.
Ketika aku sudah keluar dari mesjid, dan berada di halaman pekarangan mesjid pesantren, aku mulai berjalan pulang ke rumah. Tiba di rumahku, aku masuk ke kamarku, dan mulai melepaskan baju koko-ku, peci haji-ku. Saat aku sudah menanggalkan baju dan peci hajiku, aku mulai mengenakan kaos putih dari katun yang biasa digunakan petani. Kemudian aku keluarkan celana panjang berwarna hitam yang terbuat dari bahan katun kasar, kupandangi celana panjang petani itu untuk barang sejenak, kemudian aku tertawa geli ketika aku melihat celana itu; kurasa sudah saatnya bagiku untuk pergi ke sawah.
Matahari sudah makin meninggi dan panas sinar matahari pagi terasa nyaman, hangat di kulitku yang kecoklatan. Di halaman beranda rumahku, kucari-cari cangkul untuk kubawa ke sawah, dan kutemukan cangkul tersebut di sudut kiri rumahku. Sewaktu aku hendak menjinjing cangkul, istriku yang tengah menyiram tanaman hias, menghentikanku.
“Mengapa abah repot-repot mengurus sawah? Bukankah kita sudah memiliki petani penggarap lahan sawah kita?†kata Mae.
“Ya.. tapi aku sangat senang bekerja. Aku senang berada diantara para petani yang bekerja di ladangnya,†aku tersenyum pada istriku, kemudian meninggalkan istriku yang terlihat heran akan sikapku ini.
“Apakah abah sudah membawa bekal makanan?†Mae mengingatkanku.
“Belum, saya terlalu bersemangat jadi lupa deh, ha..ha,†aku tersenyum; menertawakan diriku sendiri.
“Tunggulah dulu, saya akan bawakan makanan untuk abah,â€
Aku menunggu untuk beberapa saat di halaman beranda rumahku, tak lama kemudian kulihat Mae sudah keluar dari dalam rumah, berjalan dengan tergesa-gesa seraya membawakan makanan yang sudah dimasukkan ke dalam rantang.
“Terima kasih,†kataku. Mae diam hanya tersenyum saja mendengar jawabanku. “Assalamualaikum,â€
“Walaikumsalam,†jawabnya.
Ketika berjalan melewati hamparan sawah yang berlumpur, aku mulai mengotori diri dengan mencangkul tanah yang gembur, kemudian menabur benih bibit padi yang akan ditanam. Selain shalat dan membaca amalan wiridan yang panjang, aku selalu merasakan ketenangan bathin setiap kali aku bekerja di ladang, seolah pekerjaanku itu menjadi suatu kegiatan spiritual yang sangat berpotensi untuk mendekatkan diriku kepada Yang Maha Kuasa. Sambil bekerja, kunikmati kesunyian pagi yang membekap suasana sekeliling, yang ada hanya suara angin yang berdesir melewati celah-celah pepohonan bambu. Suasana masih sunyi, para petani penggarap belum pula datang bekerja di ladang karena masih terlalu pagi. Aku berharap para petani bisa datang agak siang, agar aku bisa meresapi kesunyian pagi ini seorang diri tanpa ada gangguan keriuhan dari percakapan tidak penting dari para petani.
Selesai menggarap satu petak sawah, aku beristirahat dan duduk-duduk di pondok peristirahatan bale bambu yang berada di tengah-tengah sawah. Di pondok tersebut, aku menikmati pemandangan keindahan alam persawahan yang asri. Para petani masih belum datang untuk bekerja dan matahari sudah mulai meninggi, aku mulai membuka bekal makanan yang sudah dimasakkan Mae untukku. Makanannya sederhana, hanya Nasi putih dengan sayur Tempe-Tahu saja, namun aku sangat menikmatinya. Sambil menikmati sarapan pagi, aku melihat beberapa kendaraan angkutan mulai dari kereta delman, mobil truk poengangkut hasil bumi, hingga mobil Jeep militer juga ada. Dan perlu kuakiu kalau pemandangan mobil Jeep militer yang melintasi jalan-jalan setapak di pesawahanku adalah satu pemandangan yang ganjil, nampaknya aku harus segera pulang untuk mencari tahu. Tapi, aku harus menundanya saat aku melihat satu mobil truk Pick-up terperosok ke lahan sawah yang berlumpur nan lengket. Salah satu
ban belakang mobil Pick-Up yang terjebak pada lumpur sawah telah membuat mobil itu tak berdaya. Mobil Pick up itu meronta-ronta hendak melepaskan diri, membebaskan diri dari lumpur. Sia-sia saja, ban belakang mobil Pick-Up itu terperosok terlalu dalam, tak mungkin bagi sang supir untuk bisa melepaskan mobilnya dari cengkraman lumpur sawah yang sangat lengket. Dua orang keluar dari mobil Pick-up lalu mulai mendorong mobil mereka dari belakang. Tetap saja mobil itu tak bisa melepaskan diri. Kedua orang itu tak kuat mendorong mobil PickÂup mereka yang terlampau berat karena banyaknya beban angkut hasil bumi yang terdapat di belakang mobil mereka.
Hari mulai terasa panas. Kedua orang itu memanggil-manggilku dari kejauhan, mencoba meminta bantuanku. “Hai petani tua, bisakah kau kemari membantu kami?â€
Aku datangi kedua orang yang malang itu. Memang sangat mustahil bagi mereka untuk bisa membebaskan mobil mereka dari lumpur. Beban yang diangkut mobil itu memang terlampau berat, banyak sekali hasil bumi seperti; pisang, mangga, dan beras, yang diangkut mobil Pick-Up tersebut. Saat aku mendekati kedua orang itu, kulihat peluh keringat membasahi wajah kedua orang itu, mereka berdua amat kelelahan. Kuletakkan cangkulku di tanah, kemudian melepaskan topi petaniku, lalu berjalan menghampiri mereka seraya tersenyum pada mereka berdua. Sungguh lucu, bagaimana mungkin mereka bisa mengharapkan bantuan tenaga dari diriku yang sudah tua renta ini.
“Coba.. biar aku lihat mobil kalian lebih dekat,†kataku, sambil tersenyum ramah.
“Silakan pak,†kata salah seorang dari mereka.
Aku elus-elus bagian belakang mobil, kemudian kututupkan mataku, dalam hatiku kuucapkan doa Al-Ikhlash sepuluh kali dan shalawat Nabi sepuluh kali. Setelah aku selesai berdoa di dalam hati, aku sarankan kepada sang sopir untuk segera menyalakan mesin mobilnya.
“Bagaimana mungkin? Kami sudah menyalakan mesin mobil ini berkali-kali namun tetap saja mobil tak bergerak, tak bisa melepaskan diri,†kata sang Sopir.
“Betul itu, oleh karena itu sekarang kami berdua mendorong mobil ini,†salah seorang teman sang Sopir ikut mempertegas.
“Percaya saja dengan perkataanku. Hidupkan saja mobilnya, pasti mobil kalian akan terbebas,†jawabku dengan santainya.
“Bagaimana pak tua ini, pak tua ini ngawur,†kata sopir, matanya melotot padaku, mukanya menegang, ia mulai terlihat emosi.
“Nyalakan saja mobilnya. Saya berani jamin kalau mobil tuan akan segera terlepas dari lumpur,†kataku dengan ramah, namun meyakinkan.
“Pak tua berani jamin?†sang sopir berkacak pinggang, bergaya jagoan di hadapanku.
“Ya.. saya berani jamin dengan nama Allah Yang Maha Kuasa,â€
“Wah.. bawa-bawa nama Allah segala. Baik kalau begitu, awas kalau pak tua salah,†kata sang sopir seraya mengacungkan kepalan tinjunya kepadaku, suatu isyarat ancaman yang menggelikan.
“Nyalakan saja mobilnya,â€
“Berani sekali kau pak tua. Awas ya.. kalau pak tua salah,†kata temannya sang sopir ikut menyambung.
 Sang sopir beserta temannya kemudian menaiki mobil Pick-Up, duduk di dalamnya, lalu berusaha menyalakan mobilnya. Lumpur-lumpur beterbangan saat mesin mobil mulai dihidupkan, sedikit demi sedikit ban belakang mobil Pick Up  mulai terangkat, dan akhirnya bisa terbebas dari lumpur sawah yang lengket. Mobil itu akhirnya bisa naik ke permukaan jalan, mengangkat dirinya dari kubangan lumpur sawah. Begitu mobil Pick up itu sudah bebas, sang sopir beserta temannya segera keluar dari mobilnya, bergegas berjalan ke arahku, kemudian menundukkan kepalanya berkali-kali di hadapanku sebagai tanda penyesalan.
“Ampun abah.. maafkan kami karena telah meragukan abah, telah bersikap sombong pada abah,†kata sang Sopir.
“Benar bah.. saya juga minta maaf,â€
“Kalian itu sudah keterlaluan dalam memperlakukan manusia yang lebih tua, tak ada tata krama.. Tapi, sudahlah, tak ada yang perlu dimaafkan. Jangan sampai kalian mengulangi sikap kasar kalian kepada siapapun,†aku mengingatkan dengan penuh kelembutan.
“Maaf bah, kami takkan pernah mengulanginya lagi, sungguh,†kata sang sopir.
“Ya,, betul itu bah, kami berjanji takkan mengulanginya lagi,†kata teman sang sopir.
“Berjanjilah kalian dengan nama Allah,â€
“Demi Allah kami berdua takkan pernah bersikap kasar lagi pada orang tua dan kepada siapapun,†kata sang sopir, sementara temannya hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya, memberi isyarat setuju, akur dengan temannya.
“Saya percaya dengan janji kalian. Sekarang pergilah dengan rahmat Allah, kalian sudah bisa membawa pergi mobil kalian.. Alhamdulillah,†kataku, sambil tersenyum ramah.
“Alhamdulillah abah.. kalau begitu kami pamit dulu, Assalamualakum,†kata sang sopir seraya melangkahkan kakinya ke belakang, kemudian mulai berjalan meninggalkanku dengan temannya yang menyusul dari belakang.
“Walaikumsalam.. semoga tiba di tujuan dengan selamat,†kataku, seraya melambaikan tanganku, memberi salam perpisahan.
 Begitu sang sopir dan temannya sudah masuk ke dalam mobil dan mulai menghidupkan mobilnya, sang sopir membunyikan klakson mobilnya.
“Assalamualaikum abah..†temannya sang sopir berseru dari balik jendela mobil, ia melambaikan tangannya padaku. Aku membalasnya dengan senyuman.
Para petani penggarap mulai berdatangan ke ladang sawahku ketika mobil sudah mulai berjalan, dan melewati para petani di jalan-jalan tanah pesawahan. Aku rasa sudah waktunya bagiku untuk pulang, sudah cukup pekerjaanku untuk hari ini, biarlah sisanya para petani penggarap yang meneruskan. Sambil berjalan pulang, aku banyak bertegur sapa dengan para petani penggarap lahan sawahku. Aku sapa mereka semua dengan sangat ramah, dan kuperhatikan para petani pun tersenyum bahagia, merasa gembira dengan teguran sapaku yang ramah.
Terdapat banyak sekali bebatuan besar nan keras terpendam di bawah tanah, dan jalan berbatu itu terdapat di sepanjang jalan setapak menuju rumahku. Kakiku terasa sakit saat menginjak bebatuan itu, namun sebenarnya sangat baik untuk kesehatan tubuhku; bisa menjadi terapi refleksi yang baik untuk kesehatanku. Walaupun sudah bertahun-tahun aku sudah berjalan di jalan setapak yang penuh dengan bebatuan ini, namun tetap saja aku belum terbiasa dengan rasa sakit di kakiku ini. Patut diakui juga kalau bebatuan itulah yang menjadi sumber kesehataanku. Selesai menapaki jalanan terjal penuh bebatuan, di depanku kini terdapat jembatan. Aku melintasi jembatan papan yang melintang di atas saluran irigasi yang mengalir menuju lahan pesawahan. Setelah jembatan, akhirnya aku tiba di pagar depan rumahku.
 Satu mobil Jeep yang sejak semula kucurigai, kini telah terparkir di halaman pekarangan rumahku saat aku baru saja tiba di rumah. Aku dekati mobil itu sambil melihat plat nomer mobil; ternyata mobil dinas dari militer. Aku tidak tahu mobil siapakah itu, namun, melihat dari tipe mobil Jeep yang beratapkan terbuka dengan ban yang yang besar, aku sudah sangat yakin kalau mobil yang kulihat sekarang adalah mobil Jeep dari kemiliteran. Meski begitu, aku masih belum tahu mengenai siapakah orang yang bertamu ke rumahku dnegan membawa mobil Jeep Militer, dan rasa penasaranku akhirnya terjawab sudah, saat aku menemukan seorang tentara berpakaian seragam dinas staff Militer yang berwarna hijau muda dipenuhi dengan atribut aksesoris kemiliteran, tengah bercengkerama dengan istri dan putriku. Betapa hangatnya percakapan yang sedang berlangsung diantara mereka. Aku masih belum tahu siapa tamu yang datang berkunjung, aku hanya bisa melihat punggung yang tegap dan
kekar dari tamuku ini. Benar-benar dibuat pensaran aku ini. Aku segera menaiki lantai kayu beranda rumah, dan menghampiri tamu militerku itu.
Semula aku merasa was-was akan kedatangan tamu militer di rumahku, namun ketika aku mendapati bahwa tamu militer yang berkunjung ke rumahku ini adalah seorang santri lulusan pesantrenku; Baedowi, rasa was-was di hatiku akhirnya lenyap sudah! Baedowi memang terlihat gagah dengan pakaian seragam militer, wajahnya yang tampan dengan hidungnya yang mancung, sementara kumisnya baru mulai tumbuh, tapi dagunya polos, bersih dari janggut. Dengan ketampanan yang dimilikinya, saya yakin kalau semua wanita di desa pasti akan mengejar-ngejar Baedowi, memperebutkannya menjadi suami.
“Baedowi..?†kataku heran, seraya tersenyum; aku memang sudah lama tak berjumpa dengannya, dan perubahan yang dialami Baedowi telah sedikitnya membuatku terkejut.
“Abah.. Assalamualaikum abah.. sudah lama tidak bertemu,†Baedowi segera mencium tanganku berkali-kali, memberikan penghormatan.
“Lihat betapa berubahnya kau sekarang, kini kau terlihat gagah, tampan dan berwibawa,†kutatap lekat-lekat Baedowi, terkejut dengan perkembangannya.
“Sekarang saya sudah dinyatakan sudah lulus dari Akademi Militer, dan mulai hari ini aku sudah resmi ditugaskan di Bontam. Oleh karena itu saya menyempatkan diri untuk mampir kemari,†kata Baedowi, dadanya membusung, mukanya tersenyum bangga.
“Oo..†aku mengangguk-nganggukkan kepala, pelan-pelan. “Aku kira engkau akan menjadi guru ngaji di kampung halamanmu; di Depok. Tetapi, bagaimanapun keadaanmu yang sekarang, aku turut senang untukmu,†lanjutku, tetapi aku tidaklah terlalu bersemangat, hanya menundukkan kepalaku, sinis. Aku hanya basa-basi saja dengan Baedowi
“Abah belum berubah, masih senang bekerja mencangkul di sawah,†kata Baedowi, tersenyum.
“Saya tak bisa diam, saya senang menggerakkan badanku,â€
“Abah.. bukankah hal ini merupakan kabar baik! Baedowi sekarang menjadi Letda (Letnan Muda) di usia yang terbilang muda,†kata Fatimah menyela, dan segera menghampiriku dengan manja. Dari dulu, memang Fatimah selalu mencintai Baedowi, aku sudah lama mencurigainya.
“Entahlah, mengapa kamu bisa menyebutnya kabar baik?†tanyaku secara menyelidik pada Fatimah, namun Fatimah diam saja, mukanya memerah tersipu.
“Saya hendak melamar putri abah.. saya berharap abah bisa merestui dan mengizinkan kami menikah,†kata Baedowi, menatapku lekat-lekat, penuh harap.
Aku tersenyum padanya, kemudian aku menatap kosong ke arah halaman depan rumah, kemudian kembali menatap serius pada Baedowi. “Pencapaianmu dalam kemiliteran mungkin suatu yang bagus menurutmu, menurut pandangan orang umumnya. Tetapi tidak bagiku. Aku selalu mencintaimu, engkau adalah murid kesayanganku. Tetapi jika engkau ingin menikahi putriku maka kamu harus menanggalkan seragammu, melepaskan karir di kemiliteran. Jadilah orang biasa, maka kau bisa menikahi Fatimah,â€
Mata Baedowi membeliak, mukanya tegang, terkejut, seakan tersambar petir saja sewaktu mendengar pernyataanku.
“Abah...†Fatimah mencoba melunakkanku.
“Fatimah masuklah ke dalam bersama ibumu, biarkan kami bercakap-cakap secara pribadi di sini,†kataku.
Mae segera menghampiri Fatimah, menenangkannya, membujuknya untuk masuk ke dalam rumah dengan lembut. “Sudahlah putriku.. biarkan abah bercakap-cakap dengan Kang Baedowi, jangan mengganggunya,â€
“Ibu..†rengek Fatimah, meminta dukungan pada ibunya.
“Sudahlah.. mari kita masuk ke dalam,†kata Mae, kemudian segera merangkul Fatimah erat-erat, lalu pelan-pelan membimbingnya masuk ke dalam rumah.
Tak ada yang bisa dikatakan diantara aku dan Baedowi. Kami berdua hanya bisa menundukkan kepala dan menatap Fatimah yang dibawa masuk ke dalam rumah oleh ibunya.
“Abah tidak bangga terhadap karir militerku?†tanya Letda Baedowi.
“Duduklah dulu.. mari kita minum dulu.. demi Allah saya baru saja tiba dan masih kehausan,†kataku, kemudian duduk-duduk di kursi jati, lalu mengambil gelas kosong yang terdapat di meja, kutuangkan air dari kendi tanah liat ke dalam gelas, dan mulai meminumnya. “Sejujurnya aku lebih menyukaimu menjadi orang biasa, aku tak menghendaki jika engkau terlibat dalam segi apapun di dalam pemerintahan Orde Baru, apalagi Militer!â€
“Tetapi.. bukankah militer yang telah menyelamatkan negeri ini dari Komunisme? Jika bukan karena Jenderal Soeharto pada tahun 1965, entah apa yang akan terjadi pada negeri ini?†kata Letda Baedowi dengan semangat. Meskipun ia sudah duduk, namun Letda Baedowi masih tampak tegang.
“Benarkah?†ujarku, balik bertanya pada Letda Baedowi.
“Ya.. tanpa ada ragu, Militer telah menyelamatkan negeri ini dari Komunisme dan membangun negeri ini dari keterpurukan ekonomi,â€
“Kalau begitu, aku semakin yakin kalau engkau tidaklah pantas menjadi calon suami putri bungsuku.. lebih baik aku nikahkan dia dengan guru ngaji yang ada di pesantrenku,† Â
“Abah..†kata Letda Baedowi, berubah nada suaranya menjadi lembut.
“Maafkan abah.. selama engkau belum menanggalkan seragam militermu engkau tak kuizinkan menikahi putriku,†aku menundukkan kepalaku, dan menggeleng-gelengkannya dengan pelan-pelan.
“Baik kalau begitu, saya takkan meminta lagi,†kata Letda Baedowi seraya bangkit, berdiri tegak layaknya orang melaksanakan apel upacara bendera, sepertinya ia mencoba menjaga harga dirinya untuk tidak mengemis-ngemis terhadapku. “Sebaiknya aku pulang saja. Tapi, seandainya abah berubah pikiran ini kartu namaku. Abah bisa menelponku di kantor Korem (Komando Resort Militer) Bontam,†lanjutnya sambil memberikan kartu namanya padaku.
“Akan aku terima kartu nama ini, meskipun aku takkan pernah merubah pikiranku,â€
Letda Baedowi tersenyum, lalu menjabat tanganku erat-erat. “Abah belum berubah, masih tetap keras kepala. Sekarang lebih baik aku pergi dulu.. Assalamualaikum,†Letda Baedowi segera meninggalkan beranda rumahku, menuruni tangga lantai kayu, kemudian berjalan menuju Mobil Jeep-nya.
“Walaikumsalam,†bisikku.
Matahari bersinar sangat terang dan adzan shalat Dzuhur baru saja dikumandangkan ketika Baedowi memasuki mobilnya, kemudian membawanya keluar dari pintu gerbang rumahku. Aku sangat sadar sepenuhnya bahwa dengan menolak lamaran Letda Baedowi juga tawaran bergabung dengan PPP, aku telah memposisikan diriku sebagai oposisi terhadap pemerintahan rezim Orde Baru. Tapi, aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya, hari ini aku sudah merasa terlalu lelah, kuregangkan badanku dan merasakan kelelahan yang sangat di kakiku, aku melihat ke bawah dan tampak kakiku yang agak kotor oleh lumpur-lumpur sawah yang telah mengering. Lalu, akhirnya aku sadar bahwa aku telah membuat sedih putri bungsuku yang sangat kucintai, aku harus mencoba untuk menghiburnya, menenangkan hatinya.
Aku masuk ke dalam rumahku, mencari keberadaan putriku, dan kutemukan ia tengah menyendiri di halaman belakang rumah. Adzan Dzuhur masih terdengar ketika aku hampiri putriku yang tengah duduk-duduk di bangku panjang. Fatimah terlihat sedih sambil menatap kosong taman-taman bunga di halaman belakang rumah. Ibunya pun tidak berani mendekati putrinya, ia hanya bisa menatap dari dalam dapur rumah, menunggu kesedihan yang dirasakan putrinya itu mereda. Mae menatapku penuh harap saat aku melewatinya. Aku mengerti akan tatapan itu; satu tatapan yang mengharapkan agar aku bisa segera menghibur dan menenangkan Fatimah
“Sudah masuk waktu Dzuhur sekarang, kau ingin shalat berjamaah bersama ayahmu?†tanyaku, sambil menatap ramah dan melemparkan senyuman pada putriku.
“Aku benci ayah..†Fatimah memalingkan mukanya dariku.
“Putriku,†ujarku, kemudian membungkukkan badanku, ikut duduk-duduk bersamanya di bangku panjang, ikut menemaninya dalam memandang keindahan taman di halaman belakang rumah. Aku menarik nafas panjang, lalu memegang pundak Fatimah dengan kasih. “Kau tahu mengapa aku tidak mengijinkanmu menikah dengan seorang perwira militer? Aahh.. sepertinya abah harus jujur padamu. Perlu engkau ketahui bahwa militer sekarang berbeda dengan militer pada saat jaman kemerdekaan. Militer pada jaman kemerdekaan itu rela berkorban untuk negeri, rela berkorban nyawa demi melindungi saudaranya yang sebangsa setanah air.
“Tapi militer sekarang adalah predator, mereka membunuh rakyatnya, saudaranya sendiri demi menumpuk kekayaan, mereka tak ubahnya adalah perampok. Kau tak pernah tahu betapa berdarahnya kejadian pada saat peristiwa tahun 1965. Sekarang aku sangat mengharapkan engkau bisa mengerti keputusan abah. Abah tak ingin kamu sengsara dunia akhirat karena engkau menikahi seorang perwira militer, polisi, politisi, PNS dan segalanya yang berkaitan dengan rezim Orde Baru.
“Dari dulu abah tak pernah memakan uang dari bekerja dengan Orde Baru, sampai sekarang pun abah akan tetap teguh untuk bekerja di luar pemerintahan. Kita bekerja untuk beribadah. Segala bentuk doa, shalat, tafakur kita pada Allah merupakan pekerjaan abah yang sebenarnya, dan aku berharap pekerjaan abah itu menjadi pekerjaan kita,†lanjutku, seraya menatap lekat-lekat Fatimah, kemudian aku menundukkan kepala, dan hening untuk beberapa saat.
“Abah..†ujar Fatimah, memegang tanganku dengan lembut. “Sekarang aku mengerti perasaan abah,â€
“Alhamdulillah..†aku menatap haru pada Fatimah, sangat bersyukur bahwa putriku akhirnya bisa mengerti akan prinsip dan hati nuraniku.
“Abah.. sebenarnya apakah yang terjadi di tahun 1965?†tanya Fatimah.
“Mengerikan, sangat mengerikan sekali. Abah sendiri masih merasa merinding jika mengingatnya. Pada saat itu umat Islam sangat diharapkan negeri ini untuk menjadi umat yang pemaaf, umat yang penuh belas kasih seperti halnya Nabi Muhammad saat memaafkan semua musuh-musuhnya sewaktu menaklukkan Mekkah, dan seperti halnya juga Sultan Salahudin saat memaafkan musuh-musuhnya ketika menaklukkan Yerusalem, sama sekali tak ada pertumpahan darah.
Sejarah telah mencatat itu dengan tinta emas. Memang, orang-orang Komunis pernah mendzhalimi umat Muslim, tapi seharusnya kita tak boleh membalasnya dengan kekerasan lagi. Kekerasan hanya akan membuat kita lebih buruk daripada orang Komunis. Seharusnya kita bisa menahan diri dari dorongan dan propaganda Militer, ketika kita didorong untuk membantu Soeharto dalam membantai saudara-saudara kita se-tanah air, yang telah dicap Komunis. Mereka semua sudah tidak berdaya, tidak memiliki persenjataan, tapi kita tetap pula membantai saudara-saudara kita tanpa belas kasih, tanpa keadilan,†aku menundukkan kepalaku, kemudian menggeleng-gelengkannya dengan perlahan.
“Apakah abah terlibat dalam pembantaian orang-orang Komunis?†tanya Fatimah.
“Alhamdulillah.. tidak. Sewaktu kejadian pembantaian, abah sempat didatangi Haji Jafar yang datang ke pesantren abah dengan puluhan pemuda yang mengenakan baju loreng akan tetapi tak ada satupun dari mereka yang mengenakan sepatu Lars. Mereka semua memakai sandal jepit, aku merasa curiga dengan pemandangan itu. Namun, aku berusaha untuk tidak mempertanyakan itu lebih jauh, dan aku menolak ajakan Haji Jafar yang memintaku ikut membantu militer dalam memburu dan membantai orang-orang Komunisme. Selain itu, aku juga menghimbau kepada semua warga kampung Cinanggung untuk tidak ikut-ikutan dalam aksi balas dendam yang didukung Militer. Sungguh, engkau kau harus tahu, bahwa militer itu sangat kejam. Para penguasa rezim Orde Baru telah memanipulasi sentimen agama demi kepentingannya sendiri agar bisa berkuasa di negeri ini. Saya tak pernah menyetujui tindakan kekerasan pada orang-orang Komunis. Kekerasan itu hanya akan mendorong tumbuhnya sentimen sektarian
dalam masyarakat,†kataku, kemudian memegang daguku dengan tangan kananku, mengelus-elus janggutku.
“Abah..†ujar Fatimah. “Aku sangat bangga pada abah, abah telah membuat Islam menjadi mulia di kampung Cinanggung dengan tidak melibatkan penduduk kampung Cinanggung dalam memburu orang-orang Komunis.. kalau begitu, lebih baik kita segera shalat berjamaah, abah bersihkan diri dulu.. lihat betapa kotornya abah sekarang! Saya bersama ibu akan menunggu di musholla,†Fatimah segera bangkit, terlihat bersemangat.
Aku tersenyum simpul dengan penuh keharuan karena melihat putriku yang begitu dewasa dalam menyikapi peristiwa pada hari ini. “Baik sayangku, abah pergi mandi dulu.â€
Bab 3: Perpisahan Yang Menyedihkan.
Pada akhir musim kemarau, kami semua merasa sangat gembira karena saluran-saluran irigasi yang semula mengering akhirnya bisa kembali teraliri air. Daerah dataran di kampungku ini sangat kaya akan hasil panen, banyak sekali penduduk desa yang bermata pencaharian sebagai petani di kampungku. Kami sangat mencintai kehidupan pedesaan, kami tak pernah berharap untuk hidup di perkotaan, hidup saling berkompetisi dalam meraih segala sesuatu. Begitu banyak kedamaian yang bisa ditemukan di pesantrenku, di rumahku. Juga begitu banyak sambutan yang ramah dari penduduk kampungku, dari santri-santriku, dari aku, dan dari keluargaku, jika ada orang kota yang tertarik untuk berkunjung kemari. Aku takkan pernah menukarnya dengan sesuatu apapun, apalagi ditukar dengan kehidupan politik yang kotor, yang haram.
Saat ini, tak terasa waktu sudah berlalu, sudah 11 tahun saya hidup sebagai petani, hidup sebagai guru agama di pengasingan, bekerja di luar pemerintahan yang dzhalim. Aku benar-benar menikmati kehidupanku sebagai ulama kampung. Fatimah pun akhirnya menikah dengan seorang ustadz madrasah, pernikahan mereka bahagia dengan dikaruniai seorang putra, dan aku pun bahagia melihat kehidupan rumah tangga putriku yang bahagia meski hidup sederhana. Aku merasa sangat bangga terhadap orang-orang kampungku yang masih memiliki spirit untuk mendalami ilmu agama, mengingat setelah sebelumnya di tahun 1965 banyak sekali paham-paham Komunisme yang berusaha mencemari pemikiran dan semangat religius dari orang-orang di kampungku. Sesungguhnya, tak perlu ada yang dikhawatirkan dari ajaran Komunisme, mengingat penduduk di kampungku ini sangat kuat dalam memegang teguh prinsip agamanya. Banyak sekali ulama-ulama besar yang lahir dari kampung Cinanggung. Dan juga, terdapat
banyak sekali pesantren di kampungku, mulai dari yang modern hingga Salafiyah. Sungguh bagai di surga untuk bisa tinggal di tempat dimana para penduduknya sangat religius.
 Aku tahu betul, mungkin dengan kehidupan sederhana yang kupilih ini, aku akan hidup terasing dari perkembangan modernisasi yang begitu pesat; lagipula aku tak pernah mengharapkan bisa terlibat dalam pembangunan modernisasi Indonesia yang kuanggap salah kaprah, karena hanya menguntungkan pihak rezim dan pihak asing. Aku lebih senang menjalani kehidupan seperti ini; kehidupan petani. Aku tak berkeberatan untuk mengerjakan pekerjaan menyiangi padi seperti yang kulakukan sekarang; memang beginilah rutinitasku sehari-hari. Dan sayang sekali; pekerjaanku di sawah kali ini, mesti aku harus hentikan ketika Fatimah datang menyusulku di ladang sawah, dan kemudian memberitahukanku bahwa ada tamu yang kini menantiku di beranda rumah.
Akhirnya, aku harus berpisah dengan teman-teman petaniku, dan kemudian aku dan Fatimah berjalan kaki menuju rumah. Di beranda aku melihat seorang lelaki paruh baya berpenampilan ulama dengan sorban putih yang melingkar di lehernya, peci haji berwarna putih di kepalanya, dan baju koko berwarna merah jambu. Lelaki paruh baya itu berusia sekitar 50 tahun. Dari kejauhan aku tak bisa mengenalinya; mataku memang sudah lemah. Namun ketika aku mendekati tamuku, aku merasa sangat mengenalinya, tamuku ini adalah seorang mantan bendahara PNU Provinsi Bontam; Haji Jakaria yang kini menjabat sebagai ketua PNU Provinsi Bontam sekaligus anggota PPP. Aku langsung menyambutnya dengan ramah begitu ia melihatku.
“Haji Jakaria.? suatu kejutan kau datang kemari,†kataku sambil berjalan menaiki lantai tangga beranda rumahku, menghampiri Haji Jakaria.
“Assalamualaikum abah..â€
“Walaikumsalam, mari.. silakan duduk-duduk. Kau pasti sangat kehausan, sudahkah engkau minum?,â€
“Sudah abah.. tadi putri abah telah membawakanku minuman teh,†katanya, kemudian duduk di kursi kayu. “Saya sangat terkejut melihat Fatimah yang sudah dewasa. Sudah 13 tahun aku tak melihatnya,â€
“Bahkan dia sudah punya anak,â€
“Benarkah? Saya sempat mengira kalau dia masih gadis,â€
“Dia menikah dengan Qosim; muridku yang kini menjadi guru di madrasahku,â€
“Pasangan yang sempurna,â€
Aku tersenyum mendengar keterangan dari Haji Jakaria.
“Maaf abah, saya datang kemari untuk memberitahukan kepada abah bahwa Haji Samlawi sedang sekarat karena sakit ginjal. Kini, ia dirawat di Rumah Sakit Umum Provinsi Bontam, kami sangat mengharapkan kehadiran abah untuk menjenguk Haji Samlawi. Ia selalu menyebut-nyebut nama abah, tampaknya Haji Samlawi sangat merindukan abah dan ingin dijenguk oleh abah,†katanya dengan nada suara yang begitu terburu-buru.
“Haji Samlawi sakit keras?â€
“Betul..!â€
“Kalau begitu.. tunggulah kau sebentar di sini, saya akan ganti pakaian dulu,†aku segera bangkit, lalu langsung masuk ke dalam rumahku.
Di dalam kamarku, aku langsung membuka lemari bajuku, dan memilih-milih baju yang pantas, yang akan kukenakan ke rumah sakit pada hari ini. Maesaroh terlihat serius mengamatiku yang tengah sibuk memilih pakaian dan celana panjang.
“Ada apa suamiku? Kau terlihat begitu panik, begitu tergesa-gesa,†tanya Mae.
“Haji Samlawi sedang sakit keras, ia kini dirawat di rumah sakit umum karena sakit ginjal,â€
“Apa?â€
“Ya..! apakah kamu tahu dimana baju batikku dan celana panjangku yang biasa kupakai untuk keperluan keluar?â€
“Ada di sini, terselip di bagian yang paling bawah,†Mae menghampiriku, lalu mengeluarkan baju batik dan celana panjangku dari tumpukan baju yang paling bawah di dalam lemari; aku pasti telah melawatkan baju dan celana itu dari pengamatanku.
“Ya.. ini dia,†kataku.
“Abah.. apakah keadaan Haji Samlawi baik-baik saja?†tanya Mae.
“Entahlah.. aku belum menjenguknya, nanti aku kabari sepulangnya dari rumah sakit,â€
**
Kami berdua sampai di beranda Rumah Sakit Provinsi Bontam yang megah nan luas. Lalu, mulai memasuki rumah sakit, melintasi jalan-jalan yang berlantaikan tegel kasar berwarna abu-abu, dengan bau-bauan obat yang menusuk hidung, menyebar di udara, hingga akhirnya kami menemukan petunjuk jalan bertuliskan ‘Ruangan Mawar’. Di arah tenggara, kami melihat banyak sekali rombongan orang desa yang tidur di beranda ruangan pasien, menunggui keluarganya yang dirawat. Sedangkan di sebelah selatan tampak sebuah jalan kecil yang bercabang dua, dipayungi oleh pepohonan yang berukuran sedang namun rimbun di kedua sisi jalan itu. Haji Jakaria memberitahuku bahwa Haji Samlawi dirawat di Ruangan Mawar.
“Ayo,†katanya. Aku mengangukkan kepalaku, mengikutinya berjalan menuju ruangan mawar.
Saat memasuki Ruangan Mawar, aku melihat keadaan Haji Samlawi yang terbaring lemah dengan infus yang melilit pergelangan tangannya. Kondisinya amat memprihatinkan, aku menjadi terharu melihat keadaan teman seperjuanganku itu, dan aku merasa seolah-olah akulah yang tengah terbaring lemas di ranjang itu. Aku mencoba untuk mengendalikan diriku agar tidak histeris, kemudian aku mulai menghampiri Haji Samlawi, mengambil kursi plastik berwarna hijau dan mengamati Haji Samlawi yang masih tertidur pulas. Ruangan Mawar ini berada di lantai dua, dan bisa kulihat aliran sungai Bontam yang deras berada di bawah gedung Ruangan Mawar yang terhubung dengan bangunan rumah sakit utama. Suatu pemandangan yang sangat indah dan amat baik untuk kesehatan pasien, aku sangat mengagumi bentuk arsiterktur rumah sakit provinsi ini. Pasti membutuhkan waktu yang lama untuk bisa membangun bangunan penghubung yang berfungsi untuk menghubungkan antara Ruangan Mawar dan bangunan utama.
Tak ada yang bisa kulakukan setibanya di kamar inap Haji Samlawi selain mengamati pemandangan sekitar dan menanti Haji Samlawi terbangun dari tidurnya, hanya itu saja. Aku bangkit, dan berjalan mendekati jendela yang terbuka, mengarah ke timur. Seberkas cahaya jatuh di lantai Ruangan Mawar. Kurasa, sebagus apapun pemandangan yang bisa dilihat dari sini, tetap saja terasa tidak menyenangkan jika kita menjadi pasien yang harus menginap di sini selama berhari-hari. Tak mungkin semua pasien bisa merasa kerasan untuk tinggal di sini, pasti mereka semua lebih senang tinggal di rumah. Terasa seperti kemarin saja saat aku bercakap-cakap dengan Haji Samlawi, membahas peleburan PNU ke dalam tubuh PPP. Terakhir kutemui, Haji Samlawi masih sehat wal afiat. Dan sekarang? Begitu misteriusnya takdir dan qodha Allah terhadap kehidupan manusia, tak ada yang bisa mengetahuinya dengan pasti.
“Abah..†kata Haji Samlawi, terdengar suaranya yang lemah, dan suaranya itu mengagetkanku; ia sudah bangun. Aku segera menoleh, melihat keadaannya, dan tersenyum pada Haji Samlawi.
“Pak Haji sudah bangun?†kataku, kemudian segera menghampiri Haji Samlawi seraya membawa kursi plastik, dan duduk di dekat sisi ranjang, tempat Haji Samlawi berbaring. “Bagaimana keadaan pak haji?â€
“Entahlah.. walaupun dokter sering mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja, tetapi aku tahu kalau dokter telah berbohong padaku. Sebenarnya keadaanku sangat parah, aku mengalami gagal ginjal, mungkin umurku takkan lama lagi,â€
“Jangan berkata begitu. Pak haji harus optimis, keyakinan untuk sembuh adalah obat yang paling mujarab,â€
“Saya sering mendengar itu. Semangat untuk hidup pada saat ini adalah sesuatu yang mahal dan langka. Aku sudah pasrah jika umurku takkan lama lagi,†Haji Samlawi kemudian memejamkan matanya, tampaknya ia sedang menghayati sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“Kalau sudah pasrah.. kenapakah pak Haji terlihat sedih, apakah yang mengganggu pikiran pak haji?â€
“Apakah kau sudah mendengar kabar terbaru dari perkembangan PPP?â€
“Belum..†kataku, menggelengkan kepalaku.
“Aaahh..†hela Haji Samlawi, mengangguk-nganggukkan kepalanya. “Aku sudah hidup terlalu lama di dunia ini. Umurku sudah sangat tua sekali, aku hampir tak bisa mengingat kapankah aku lahir, yang aku ingat adalah aku lahir di jaman penjajahan Belanda. Lihat! kepalaku sudah botak, tak ada lagi rambut yang tersisa, semuanya rontok. Bathinku ini tidak kuat menanggung kenyataan ketika seseorang dari titipan Kamtib (Keamanan dan Ketertiban) memasuki PPP, mencalonkan diri menjadi ketua umum PPP Provinsi, hendak bersaing denganku. Selain itu orang dari titipan Kamtib tersebut hendak merubah asas PPP dengan asas Pancasila. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, kami tidak bisa mengusir orang titipan dari Kamtib itu. Huh,  bukan main Soeharto itu, ia benar-benar telah menindas umat Islam dalam kehidupan bernegara,â€
“Pancasila.. Pemerintah Orde Baru memaksa kita untuk menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas.. ini adalah masalah yang serius,†kataku seraya mengelus-elus janggut putihku yang panjang, berpikir keras, mencari solusi untuk umat.
“Betul.. dan yang lebih buruknya lagi, orang yang menjadi titipan Kamtib itu bernama Jhonaro. Bisakah kau bayangkan jika PPP dipimpin oleh seseorang yang bukan berasal dari pesantren, bukan seorang ulama, bukan seseorang yang memiliki nama seperti nama Kamsani, Asnawi, atau bahkan Kasidin, tapi seseorang Kamtib bernama Jhonaro. Jhonaro.. bisakah kau bayangkan itu? namanya terdengar aneh di telinga kita, jangan-jangan dia seorang non muslim,â€
“Siapakah Jhonaro itu? Mengapakah pemerintah Orde Baru terkesan begitu memaksakan Jhonaro agar bisa menjadi pemimpin di PPP?â€
“Kudengar dia seorang mantan pegawai kejaksaan. Entah apa yang dilakukannya sehingga mendapatkan kepercayaan penguasa rezim, saya merasa jijik untuk membayangkannya.â€
 “Dan sekarang pak haji merasa khawatir jika orang yang bernama Jhonaro itu akan menjadi pemimpin PPP, mengalahkan pak haji, begitu?â€
“Betul, PPP provinsi ini sengaja aku dirikan agar bisa menjadi penyambung aspirasi umat di pemerintahan rezim Orba. Tetapi sekarang, aku melihat niat pemerintah untuk menghancurkan suara kita dengan menyusupkan Jhonaro ke PPP, dan memaksa kita untuk menetapkan Pancasila sebagai asas partai. Sungguh, seandainya saja aku masih muda tentu aku takkan terbaring di sini, dan dengan mudahnya saya akan mengalahkan Jhonaro,†kata Haji Samlawi, kemudian menutupkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
“Ya.. Umat Islam pada saat ini sedang diuji dengan cobaan yang amat berat. Dari jaman penjajahan, jaman komunis, dan sekarang jaman Orde Baru.. begitu banyak fitnah yang dialamatkan pada kita, umat Islam†ujarku, lalu menundukkan kepalaku, dan menutup mataku, membayangkan keperihan hidup sebagai orang Islam di Indonesia. “Pancasila.. mengapa Pemerintah rezim Orde Baru menggunakan Pancasila sebagai alat pemusnahan kebebasan aspirasi kita? Alat penggebuk (Istilah yang dibuat Soeharto dengan artian tindakan kekerasan kepada musuh-musuh politiknya) mereka? Benar-benar tidak menghormati leluhur pendiri bangsa!â€
“Kata Jhonaro, semua organisasi politik dan organisasi massa yang berasaskan Islam di seluruh provinsi telah menetapkan asas Pancasila di dalam tubuh organisasi mereka. Dan sekarang PPP Provinsi Bontam dan orang-orang NU di Provinsi Bontam harus ikut pula menetapkan asas Pancasila di dalam tubuh PPP.â€
“Sejak jaman kolonial, orang-orang Bontam itu sudah dikenal sebagai orang Islam yang fanatik. Pembahasan asas Islam dan Pancasila selalu menjadi masalah serius dan panas bagi orang-orang Bontam, terutama bagi para santri dan para ulama Bontam. Orang-orang Islam Bontam pada umumnya juga resah menghadapi masalah ini, kita semua seakan dihadapkan langsung dengan sikap kebencian pemerintah Orba. Kini mereka hendak memojokkan kita sama halnya ketika mereka memojokkan orang-orang Komunis pada tahun 1965,â€
“Kudengar, minggu depan akan diadakan rapat Munas Alim Ulama di Situbondo, membahas masalah asas tunggal, asas Pancasila ini. Akan dua kubu di dalam rapat Munas besok. Ada kubu Gus Dur yang mentoleransi Pancasila dan ada kubu Tolkhah Mansur yang menolak Pancasila?â€
“Apakah kita mengirim utusan ke Situbondo?â€
“Tadinya sebelum aku jatuh sakit, akulah yang berencana untuk pergi kesana. Tetapi, karena keadaanku begini, maka aku utus muridku ke Situbondo,â€
“Masalah ini benar-benar sensitif, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu keputusan dari rapat Munas Alim Ulama yang dibahas oleh Gus Dur dan Tolkhah Mansur. Kita harus menunggu hasil rapat Munas, apapun keputusannya harus kita terima dengan lapang dada,â€
“Sekarang kau sudah tahu dengan sejelas-jelasnya mengenai keadaan kita, umat Islam. Sekarang apakah kau akan membantuku dalam melawan Jhonaro? Aku sangat berharap kau akan membantuku!â€
“Saya akan membantu pak haji sesuai dengan kesanggupan,â€
“Saya ingin abah menggantikan saya dalam melawan Jhonaro di PPP. Maukah abah menolongku?â€
“Berat sekali permintaan pak haji ini, aku tidak sanggup melakukannya. Sebenarnya saya pun sama tuanya dengan pak haji, hanya lebih muda dua tahun dari pak haji, aku sudah merasa hidup tenang dengan kehidupanku yang sekarang, kehidupan di pedesaan,†kataku seraya menggeleng-gelengkan kepalaku. “Sahaya menyesal bahwa saya harus menolak permintaan pak haji,â€
“Oh.. begitu ya..†ujarnya lembut, tapi suaranya terdengar tanpa harapan. Ia lalu memejamkan kedua matanya. “Umat Islam di Bontam pada saat ini membutuhkan bimbingan dan pengarahan darimu. Di Bontam ini saya tidak melihat satu orang pun yang pantas memimpin umat selain dirimu. Besok mungkin aku sudah mati. Dan kamu akan meninggalkan umat begitu saja? Negara memang tidak membutuhkanmu karena Soeharto yang kurang ajar, tetapi umat Muslim dan seluruh rakyat di Bontam sangat membutuhkanmu. Pikirkanlah itu,â€
“Saya akan memikirkannya,†kataku seraya tersenyum ramah, dan mengelus-elus telapak tangan Haji Samlawi.
“Tapi aku sangat serius mengenai apa yang saya katakan.. aku sangat berharap kau bisa menggantikanku!†ujar Haji Samlawi. Matanya membeliak, semangatnya kembali hidup. “Haji Jakaria.. sebagai Bendahara PPP dan juga sebagai Ketua Umum NU Provinsi Bontam yang baru terpilih, apakah kau bersedia mensukseskan abah menjadi ketua umum PPP Provinsi Bontam? “ Haji Samlawi kemudian menatap Haji Jakaria.
Haji Jakaria yang sedari tadi duduk mematung di sisi kami dan setia mendengarkan percakapan kami, langsung tersenyum. Aku sangat mengerti betul akan arti mimik wajah itu. “Ya..! saya dan kawan-kawan di PPP siap mensukseskan abah haji untuk menjadi ketua umum PPP Provinsi Bontam!â€
 “Sudahlah tuan-tuan, saya benar-benar tak ingin menjalani kehidupan politik,â€
“Kumohon pikirkanlah..†Haji Samlawi memohon.
“Saya akan memikirkannya.. pak haji sekarang istirahat saja, jangan berpikir yang macam-macam,†aku menyilangkan kedua lengan Haji Samlawi di dadanya, lalu menepuknya pelan-pelan; satu tanda kasih sayang.
“Kau akan pergi?†tanya Haji Samlawi.
“Ya.. saya harus pulang menemui keluargaku. Tapi besok saya akan kemari lagi menjenguk pak haji. Saya akan selalu akan kesini untuk mengikuti kabar perkembangan kesehatan pak haji,â€
“Tengoklah aku tiap hari, aku sangat kesepian disini, hanya abah saja yang bisa kuajak bicara mengenai kemaslahatan umat,â€
Aku tersenyum simpul mendengar perkataan Haji Samlawi, tetapi aku juga merasa terharu melihat dirinya yang kesepian dan putus asa. Yang bisa kulakukan untuknya hanya memberi dukungan moral, saya tak bisa membantunya di dalam dunia politik. “Saya pamit dulu pak haji.. Assalamualaikum,â€
“Walaikumsalam,†jawab Haji Samlawi.
Bersama Haji Jakaria, kami pergi meninggalkan Haji Samlawi sendirian di ruangannya, kemudian menuruni lantai tangga menuju pintu keluar di lantai dasar. Dan ketika sudah berada di luar Ruangan Mawar, aku pun berhenti. Lalu mendongakkan kepalaku, menatap langit biru yang cerah, kemudian duduk di bangku panjang, yang biasa dipakai duduk-duduk oleh para keluarga yang menjenguk pasien. Sambil duduk, mataku menatap taman yang terdapat di halaman Ruangan Mawar dengan pandangan yang kosong. Haji Jakaria berusaha untuk memahamiku, ia kemudian ikut duduk di sampingku, tetapi tidak berani bicara, ia hanya diam saja sambil memperhatikanku dengan seksama.
“Sungguh kasihan pak haji, Apakah Haji Samlawi selalu sendirian di rumah sakit ini? Dimanakah kesemua keluarganya?†tanyaku.
“Keluarganya biasa datang kemari pada sore hari, dan pulang pada pagi hari,â€
“Kalau begitu, saya akan menemani pak haji pada siang harinya,†kataku.
“Saya juga akan ikut bersama abah,â€
Aku tersenyum mendengar jawaban dari Haji Jakaria. Pada saat-saat kritis seperti ini, kebersamaan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan. Tetapi, aku masih sulit untuk menerima tawaran dari Haji Jakaria yang menghendaki aku untuk bergabung dengan PPP. Aku masih bingung.
“Rasulullah pernah berkata bahwa ciri seorang muslim itu adalah jujur, jikapun ada orang yang mengaku muslim tetapi berbohong maka orang itu tidaklah pantas disebut sebagai orang muslim. Tidak pantas pula orang itu untuk dishalatkan jenazah dan dimakamkan secara Islami pada kematiannya. Aahh...†ujarku, kemudian mendongakkan kepalaku ke langit, menghela nafas panjang. Lalu kembali menatap Haji Jakaria. “Begitu beratnya untuk menjadi muslim yang jujur di era Orde Baru ini,†ujarku, lalu menundukkan kepalaku, dan menggeleng-gelengkan kepalaku. “Jaka.. menurutmu.. apakah aku harus bergabung dengan PPP, melawan Jhonaro, utusan Kamtib itu?â€
“Menurutku abah harus terjun ke politik. Karena setelah Haji Samlawi, tak ada lagi orang yang pantas menjadi pemimpin umat di Provinsi Bontam selain abah,â€
“Bagaimana denganmu? Engkau telah menjadi muridnya Haji Samlawi sedari kecil, engkau sangat paham betul mengenai situasi sekarang,â€
“Apalah artinya saya bila dibandingkan abah. Ilmu saya masih tidak seberapa,†kata Haji Jakaria, sambil tersenyum simpul.
“Subhanallah..†ujarku seraya menarik nafas dalam-dalam.
Kami tak lagi berkata-kata, kami duduk-duduk saja di dalam kebisuan di ruang tunggu Ruangan Mawar. Pikiranku terlalu sibuk bercakap-cakap dengan hati nuraniku, membuat diriku tak sempat untuk melakukan percakapan ringan kepada Haji Jakaria. Kebekuan suasana itu menjadi tercairkan ketika Umar Samlawi tiba di Ruangan Mawar dan mulai menghampiri kami. Kini, Umar sudah dewasa, rambutnya gondrong, tapi matanya memakai kacamata, dan raut mukanya menyiratkan rasa cemas; tak bisa disembunyikan dariku. Baju almamater berwarna kuning dengan logo kampus UI (Universitas Indonesia) di dada kirinya, yang kini ia kenakan itu, menandakan bahwa ia baru tiba di Bontam dan langsung meluncur ke rumah sakit. Sepertinya Umar tidak mampir dulu ke rumah orang tuanya.
“Abah,†Umar segera mencium tanganku. “Bagaimana keadaan kakek? Apakah dia baik-baik saja?â€
“Kakekmu orang kuat,†aku tersenyum simpul pada Umar.
Muka Umar segera memerah, dan matanya segera bercucuran air mata. Ia kemudian langsung mendekapku erat-erat. “Oo Abah, sungguh aku takut kehilangan kakek,â€
“Janganlah kau terlalu sedih, kakekmu baik-baik saja. Segeralah kau temui dia di dalam,†kataku.
Umar melepaskan pelukannya, lalu ia menatapku dengan tatapan yang berkaca-kaca, kemudian ia menoleh ke arah Haji Jakaria dan menatapnya.
“Kalau begitu saya masuk ke dalam, Assalamualaikum,†Umar segera meninggalkan kami dan mulai memasuki Ruangan Mawar untuk menjenguk kakeknya. Â
**
Setiap pagi aku berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Haji Samlawi dengan ditemani Haji Jakaria. Tetapi, kunjunganku itu tak membuat keadaan Haji Samlawi menjadi lebih baik. Selama tiga hari aku bolak-balik dari rumahku ke rumah sakit, menjenguk Haji Samlawi, dengan harapan kunjunganku itu akan membawa dampak psikologis yang signifikan terhadap kemajuan kesehatan Haji Samlawi. Aku ingin kalau kunjunganku itu bisa menumbuhkan semangat hidup, semangat untuk sembuh di dalam diri Haji Samlawi. Dalam setiap kunjunganku, Haji Samlawi tidak bosan-bosannya menanyakan kesediaan diriku untuk menggantikan kepemimpinannya di PPP; aku masih bimbang untuk menerima tawarannya.
Ooo.. Haji Samlawi, betapa kagumnya diri ini pada dirimu, aku turut bersimpati padamu. Engkau telah mengabdikan seluruh hidupmu untuk kemaslahatan umat di Provinsi Bontam, tanpa pernah memikirkan kepentingan dirimu sendiri. Aku seakan-akan menjadi kecil, menjadi kerdil di hadapan dirimu yang besar. Kebesaran jiwamu telah membuatku menjadi tak berarti apa-apa. Engkau berdiri dan menanggung amanah kemaslahatan umat ketika aku tak hendak menanggung amanah besar nan mulia itu. Sebenarnya, engkau bisa hidup tenang di pedesaan, menghabiskan waktu dengan keluargamu, tetapi engkau tidak melakukannya! Engkau tidak melakukannya.
Sekarang, Haji Samlawi berontak. Ia memaksa pada dokter untuk bisa pulang ke rumah. Haji Samlawi merasa yakin jika penyakit ginjal yang dideritanya itu akan membaik bilamana ia mendapat perawatan di rumah. Dokter akhirnya menyerah terhadap keinginan Haji Samlawi. Menurutku, keinginan Haji Samlawi itu merupakan keinginan yang wajar dan harus dimaklumi oleh dokter. Ketika diperkenankan pulang, aku membantu Haji Samlawi dalam mempersiapkan kepulangannya ke rumahnya.
Di lapangan parkir rumah sakit, sepuluh orang yang terdiri dari anggota NU dan anggota PPP, yang baru saja tiba di rumah sakit dengan niatan menjenguk Haji Samlawi, segera saja berhamburan menghampiri kami yang tengah membawa Haji Samlawi dengan kursi rodanya. Mereka semua membantu kami untuk memasukkan Haji Samlawi ke dalam kereta kuda delman. Provinsi Bontam adalah provinsi yang tertinggal, di Bontam kami belum banyak memiliki mobil angkutan umum, yang banyak tersedia hanya kereta kuda delman saja. Semua anggota PPP dan anggota NU provinsi pun belum ada yang memiliki mobil. Tahun 1983 adalah tahun kegelapan bagi umat Islam di Bontam. Satu-satunya teknologi yang bisa dirasakan rakyat Bontam pada umumnya adalah sepeda motor saja; di tahun 1983 ini, motor sudah mulai bisa dinikmati oleh beberapa orang yang berasal dari kalngan ekonomi menengah ke bawah. Listrik? Sama halnya dengan sepeda motor; Tidak semua rakyat Bontam bisa merasakan kemudahan teknologi
listrik. Kami masih miskin, Propinsi Bontam adalah daerah yang sangat tertinggal. Tapi, kalau memikirkan para pejabat di Jakarta dan para mafia Berkeley yang hidup bergelimang kemewahan dari hasil merampok negeri, aku merasa prihatin, aku merasa sedih, aku merasa marah! Dimanakah rasa kepedulian mereka terhadap rakyatnya?
Astaghfirullahalladzim!
Laknat Allah untuk pemerintah rezim dan para mafia Berkeley!
Kemenangan gemilang PPP provinsi Bontam terhadap Golkar dalam meraih empati rakyat, telah membuat daerah kami menjadi daerah yang sangat tertinggal. Haji Samlawi adalah salah satu diantara puluhan kyai yang terkena penyakit ginjal dan stroke akibat kebijakan perdata mati (Kebijakan pembatasan akses dari pemerintah rezim untuk para tokoh masyarakat, agama juga politik yang dianggap berseberangan dengan rezim) dari pemerintah Orde Baru. Mengenai Infrastruktur? Belum ada jalan beraspal di Provinsi Bontam ini. Memang, perlu diakui ada beberapa jalan beraspal di Provinsi Botam. Tapi, jalan itu hanya terdapat di daerah kawasan Industri yang terhubung ke jalan tol. Sebenarnya, keberadaan daerah industri itu sendiri tidak begitu membuat rakyat Bontam menjadi sejahtera, bahkan hanya bisa mencemari puluhan anak sungai Bontam; ribuan petani tambak menjadi kehilangan mata pencahariannya.
Begitu menyedihkan, dalam pertumbuhan industri yang pesat di Bontam, kami harus hidup dalam kemiskinan. Bisakah dibayangkan pada jaman modern ini, ditambah lagi pada masa-masa kritis seperti sekarang ini, kami harus membawa Haji Samlawi pulang ke rumahnya dengan kendaraan delman. Hatiku makin merasa miris ketika kereta delman kami dengan dikawal dua buah motor Honda CB 100 yang dikendarai oleh Umar dan santrinya Haji Samlawi, harus berpisah dengan kesemua anggota PPP dan NU di rumah sakit, dan kemudian mulai melintasi jalan-jalan tanah, yang terkadang becek karena bekas hujan tadi malam. Jalanan itu tampak kotor oleh bekas air hujan yang menggenangi jalanan. Setelah melewati jalanan yang becek, iring-iringan kami melewati satu pedesaan yang menghadap ke arah sungai dan jajaran perbukitan. Di dasar sungai, penuh dengan taburan kerikil juga bebatuan besar, nampak kering dan memutih di bawah pancaran sinar matahari, dengan air yang perlahan mengalir begitu
jernih serta nampak biru di tiap salurannya. Umar beserta temannya yang membawa motor terpaksa harus mengambil jalan memutar di sawah karena motor mereka tak bisa melintas di sungai. Seorang petani melewati rombongan kami sambil menggiring tujuh ekor kerbaunya menuju sawah. Sang petani dan kerbau-kerbaunya itu akhirnya menjauh dan meninggalkan jalanan menjadi kosong, dan tampak dedaunan saja terlihat berserakan, berjatuhan karena hembusan angin.
Di atas kereta delman, Haji Samlawi berbaring di atas pangkuanku, dan seorang ibu perawat berumuran sekitar 50 tahun, nampak sibuk mengompres kening Haji Samlawi. Ibu perawat itu bernama Halimah, kami baru saja berkenalan di atas kereta delman. Kulihat Halimah nampak khawatir dengan keadaan Haji Samlawi yang mengigau seakan sedang mabuk. Perasaan kecewanya terhadap rezim Orba, telah membuat kondisi kesehatan Haji Samlawi makin parah. Aku berusaha keras menghibur Haji Samlawi, mengelus-elus keningnya, memberikan kasih sayang. Â Â
Haji Samlawi mulai sadar, matanya menatap lekat-lekat padaku seakan menaruh harap yang besar padaku. Aku tersenyum dan balas menatapnya dengan kasih. Sewaktu ia membalas senyum padaku, kulitnya yang pucat menjalar ke tulang pipinya yang kempot karena kekurangan gigi, aku jadi sedih dibuatnya.
Setibanya di halaman rumah Haji Samlawi, hujan turun sangat deras dan kami semua basah kuyup ketika kami berusaha menurunkan Haji Samlawi dari kereta delman, melindunginya dari air hujan. Di beranda rumah Haji Samlawi, cipratan air hujan yang deras membasahi lantai beranda rumah dan angin bertiup kencang. Kami segera masuk ke dalam rumah sambil membawa Haji Samlawi dengan kursi rodanya. Tapi, meskipun kami berusaha keras agar Haji Samlawi tidak basah, tetap saja ia kena basah oleh cipratan-cipratan air hujan. Semua keluarga Haji Samlawi segera menyambut kami dan segera membawa Haji Samlawi ke dalam kamar untuk diganti pakaiannya.
Sampai malam hari aku masih berada di rumah Haji Samlawi. Aku memilih tidak segera pulang karena merasa khawatir akan keadaan Haji Samlawi. Dan sekarang, disinilah aku sedang duduk-duduk di dekat pintu beranda rumah Haji Samlawi, termenung sambil menatap langit malam yang gelap karena tertutup awan mendung. Aku berdiri, berjalan menunju ke tepian beranda rumah dan melihat ke luar sekejap lalu menarik nafas dalam-dalam. Badanku terasa berat, dadaku terasa sesak karena masuk angin. Pengaruh hujan deras tadi sore mulai terasa di badanku, meski aku sudah berganti pakaian. Cuaca terasa sangat dingin menusuk tulang pada malam ini. Ibu Samlawi; Aisyah turut mengamatiku, dan segera menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah. Ya.. rencanaku untuk pulang ke rumah terpaksa harus aku urungkan karena aku merasa tidak enak badan. Â Â
Risih sekali malam ini aku merasa, karena selain Haji Samlawi, aku juga mendapatkan perawatan yang baik dari semua keluarga Haji Samlawi, aku harus berusaha untuk segera pulih. Mereka memberiku obat batuk dan minuman teh hangat dengan ditemani makanan bubur beras yang hangat. Untunglah sakitku ini hanya berlangsung sebentar saja, aku mulai merasa agak baikan ketika aku selesai makan bubur beras, nafsu makanku sudah kembali. Meski kesehatan badanku sudah pulih, aku belum bisa beristirahat tenang, aku belum bisa tidur. Pikiranku masih berkutat dengan tawaran Haji Samlawi mengenai kesediaanku menggantikan kepemimpinannya di PPP. Selain itu aku juga merasa berkewajiban untuk menunggui Haji Samlawi di kamarnya hingga kesehatannya pulih. Di dalam kamarnya, kudengar beberapa kali Haji Samlawi merintih kesakitan sambil mengigau berkata ‘Umat Islam... umat Islam di Bontam’ dalam keadaan tidak sadar. Setelah tersadar, Haji Samlawi menanyakan tasbih padaku
untuk penghibur hatinya, aku berikan tasbihku padanya, dan ia mulai memilin-milin bulir-bulir biji tasbih dengan tangannya, mendekap ke dadanya, mulutnya mulai berkomat-kamit, matanya mulai terpejam.
Sayup-sayup terdengar dari mulut Haji Samlawi mengucapkan kalimat Syahadat berkali-kali, sedikit demi sedikit suara itu memelan hingga akhirnya tak terdengar lagi. Aku segera memeriksa keadaan Haji Samlawi, menguncang-guncang tubuhnya. Kemudian, tubuhnya Haji Samlawi pun ikut lemas semuanya ketika kuguncang-guncangkan, tangannya yang semula mendekap tasbih ke dada, kini jatuh lunglai, lemas dan tasbih pun ikut pula jatuh ke lantai. Aisyah terkejut melihat keadaan suaminya yang masih belum pula terbangun walau sudah dibangunkan berkali-kali olehku. Aku segera memanggil dan mencari Halimah. Kutemukan Halimah sedang tidur di sofa yang terdapat di ruang tengah, tempat para tamu biasa berkumpul, dan ia segera keluar dari kamarnya sambil membetulkan rambutnya yang acak-acakan dengan tergesa-gesa begitu aku beritahu keadaan Haji Samlawi. Di kamar Haji Samlawi, Halimah langsung memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Haji Samlawi, mencari tanda kehidupan.
Baru saja sekitar satu menit Halimah memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Haji Samlawi, raut wajahnya segera berubah menjadi wajah yang menyiratkan tanpa harapan. Kepalanya tertunduk, kemudian segera menatap kami dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Kami semua mengerti isyarat dari Halimah. Aku segera mengucapkan ‘Inna Lillahi Wa Inna Lillahi Roji’un’ dengan berbisik namun terdengar oleh semua orang yang berada di kamar Haji Samlawi. Aisyah segera berlari mendekati Haji Samlawi yang terbaring abadi di ranjangnya, memeluknya, menangisinya. Haji Samlawi telah berpulang ke Rahmatullah.
Sementara Aisyah terlihat sangat sedih memeluk suaminya yang telah meninggal; kulihat Umar berdiri di depan pintu, menatap kosong kakeknya yang telah berpulang. Aku tahu, kesedihan yang dirasakan Umar juga tidak kalah hebatnya dengan kesedihan yang dirasakan Aisyah; hanya saja ia berusaha menahan dirinya untuk tidak histeris. Untuk saat-saat seperti sekarang, aku tak bisa mendekati Umar dan mencoba untuk menghiburnya. Aku hanya bisa menatap Umar untuk sejenak, kemudian aku bangkit dan berjalan keluar meninggalkan kamar. Aku pun merasa sangat sedih dengan kematian Haji Samlawi; aku butuh waktu untuk menyendiri, mencoba merelakan kepergian Haji Samlawi.
Waktu berlalu begitu saja, aku tak menyangka kalau Haji Samlawi harus meninggal, sungguh aku berharap Haji Samlawi bisa hidup lebih lama lagi, namun sepertinya takdir berkata lain. Banyak sekali yang bisa kuingat dari sosok Haji Samlawi. Keberadaan Haji Samlawi selama hidupnya telah membantu banyak bagi kehidupan umat Islam di Bontam, ia telah berjuang keras untuk menjadi penyalur aspirasi umat di Bontam, melawan tirani rezim dengan demokrasi yang penuh kedamaian. Aku sudah merasa sangat bersalah sewaktu mengetahui kondisi umat Islam yang ditindas Orde Baru, dan kini setelah melihat Haji Samlawi meninggal di depan mataku, perasaan bersalahku makin menyiksa batinku. Aku harus memenuhi keinginan terakhir Haji Samlawi. Tidak mungkin aku meninggalkan umat Islam di Bontam.
Aku belum bisa pulang ke rumah untuk saat ini. Begitu Haji Samlawi telah dinyatakan meninggal oleh Halimah, aku membantu sekemampuanku untuk mempersiapkan penguburan Haji Samlawi. Haji Samlawi sudah kuanggap kakak kandungku, betapa hancurnya hatiku saat melihat ia sudah terbaring kaku di tengah rumah, dengan kain kafan yang membungkus seluruh tubuhnya, sementara ratusan orang berebutan untuk memasuki ruangan tengah, berniat melayad, menangisi kepergiannya. Semua orang merasa kehilangan akan sosok Haji Samlawi.
Keesokan harinya, kami mulai menguburkan jenazah Haji Samlawi pada pagi hari. Hujan sudah berhenti sejak kemarin sore, tetapi membuat tanah menjadi lembut, berlumpur. Para penggali kuburan tak perlu banyak mengeluarkan tenaga karena tanah yang mereka gali itu telah menjadi tanah yang empuk, gembur. Aku memperhatikan semua pekerjaan penggalian kuburan itu, seandainya aku masih muda dan tenagaku masih kuat, tentu aku akan membantu pekerjaan para penggali kuburan itu. Ada banyak sekali orang-orang yang menghadiri prosesi penguburan jenazah Haji Samlawi, mencapai ribuan orang. Haji Samlawi memang seorang tokoh ulama besar di Bontam, banyak sekali orang yang mencintainya.
Keadaan Aisyah tampak menyedihkan sewaktu jenazah suaminya mulai dikuburkan, ditutupi dengan tanah. Aku menghampirinya, lalu memegang pundaknya erat-erat, mencoba meringankan kesedihannya. Isak tangisnya membuat jiwaku sedikit terguncang, aku pun sama sedihnya dengan Aisyah, mungkin lebih sedih daripada Aisyah karena aku mengenal Haji Samlawi lebih lama daripada Aisyah. Haji Samlawi sangat beruntung mendapat istri seperti Aisyah yang berjiwa tegar nan teguh seperti batu karang. Benar-benar istri ideal bagi seorang pejuang.
 Haji Samlawi telah mengorbankan nyawanya demi menjadi penyambung lidah umat di tengah kedzhaliman pemerintahan rezim Orde baru. Sekarang bagaimanakah caranya aku memimpin umat Islam di tubuh PPP Provinsi Bontam? Apakah aku juga harus pula mengorbankan nyawaku, memberikan segalanya seperti halnya Haji Samlawi? Rasa egois di jiwaku sangat menentang keras keinginanku untuk menghormati permintaan terakhir Haji Samlawi. Bagaimanapun juga, aku tahu kalau aku mesti bersedia untuk memimpin umat di PPP. Ya.. saya takkan membiarkan umat Islam dipimpin oleh Jhonaro. Kami semua akan melawannya, mengusirnya keluar dari PPP.
Aku tahu kalau aku tak boleh membuang waktu sedari sekarang. Hari itu juga, setelah sebelumnya aku berpamitan pada Aisyah, aku segera menghampiri Haji Jakaria yang tengah berkumpul bersama beberapa tokoh PPP di lokasi penguburan Haji Samlawi. Aku utarakan keinginanku kepada Haji Jakaria dan beberapa tokoh PPP untuk bergabung dengan PPP, mengikuti pencalonan ketua umum PPP Provinsi Bontam. Haji Jakaria dan beberapa temannya di PPP merasa senang mendengar kesediaanku untuk melawan Jhonaro dalam perebutan kursi ketua umum PPP provinsi Bontam. Mereka semua mendukungku.
Setelah 11 tahun hidup di pengasingan, jauh dari keramaian manusia, sekarang aku harus terjun ke dalam dunia politik yang penuh kelicikan dan penuh dengan tipu daya. Tetapi aku takkan pernah memakai cara-cara yang tidak jujur dalam melawan Jhonaro. Keputusanku untuk bergabung dengan PPP adalah final! Hanya saja, yang menjadi masalah adalah, bagaimanakah saya bisa meyakinkan semua keluargaku untuk bisa mendukungku secara moral mengenai keputusanku ini? Mereka semua harus mendukungku, mau tidak mau mereka harus mendukungku. Semua keluargaku harus bisa memahami beban tanggung jawabku terhadap umat. Saya tak mau umat Islam di Bontam menjadi korban manipulasi militer lagi seperti yang pernah terjadi di tahun 1965. Sejarah kelam negeri dan umat Islam tak boleh terulang, meski aku harus berkorban nyawa, aku harus berusaha keras untuk mencegahnya.
Ketika aku mulai meninggalkan acara penguburan Haji Samlawi, para pelayad (Pengunjung yang berniat memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang baru saja meninggal) masih ramai berkumpul mengikuti prosesi penguburan Haji Samlawi. Aku tak bisa mengikuti acara penguburan Haji Samlawi hingga usai. Sudah sehari semalam aku berada di rumah Haji Samlawi. Aku mesti pulang ke keluargaku. Setelah aku berpamitan pada semua keluarga almarhum Haji Samlawi, dan juga kesemua teman-temannya yang juga menjadi teman-temanku, kini aku berjalan sendirian melintasi lapangan pekuburan, dan di tengah jalan aku sudah dijemput oleh Qosim yang baru saja tiba dengan membawa motor Honda CB 100-nya.
Pada saat Qosim memboncengku di motor Honda CB 100-nya, di tengah jalan aku sampaikan padanya mengenai keinginanku untuk terjun ke dalam dunia politik di PPP. Sesaat ia tampak terkejut, tak percaya dengan apa yang didengarnya, namun ia akhirnya mengerti ketika aku jelaskan semuanya mulai dari niat dan motifku untuk melindungi umat Islam dari manipulasi rezim militer, dan yang paling utama: menghormati keinginan terakhir almarhum Haji Samlawi. Bahkan, Qosim pun menawarkan bantuannya sekiranya aku membutuhkan tenaga bantuannya. Aku menghargai tawaran menantuku, dan aku katakan padanya bahwa aku akan meminta bantuannya ketika suatu saat nanti aku memerlukannya.
 Berdua, kami melintasi jalan-jalan setapak yang kadang terjal dan berbatu dengan kecepatan minimum. Walaupun motor dipacu oleh Qosim dengan kecepatan yang lamban, karena mengingat jalanan yang buruk, akan tetapi angin terasa berhembus kencang mengenai wajah kami. Awan mulai mendung dengan sesekali disertai hembusan angin yang bertiup kencang, suatu pertanda akan kembali hujan. Bisa-bisa aku sakit lagi. Pasti aku akan merasa tidak enak badan lagi nanti malam. Sesampainya di halaman rumahku, angin dingin masih terasa menyelimuti kami dalam kegelapan mendung di siang hari. Jarang sekali kami bisa melakukan perjalanan jauh antar kota dengan menggunakan mobil, karena kami memang tidak punya. Untuk orang tua yang seumuranku, sebenarnya aku sudah tidak kuat lagi melakukan perjalanan jauh dengan naik motor, namun beban pekerjaanku sebagai tokoh masyarakat telah menuntutku untuk bisa melakukan mobilitas yang tinggi. Inilah awal mula pergerakanku di era
pemerintahan Rezim Orde Baru. Aku takkan pernah benar-benar akan bisa pensiun dari segala aktivitas kesibukanku, terutama di masa-masa krisis seperti sekarang ini.
 Sekarang, setelah Qosim kembali memarkirkan motornya di pojok kiri halaman rumahku, aku berjalan menuju beranda sambil sesekali memperhatikan kesibukan Qosim yang bersemangat mencuci motor yang kotor akibat cipratan lumpur, yang didapat sepanjang perjalanan pulang. Benar-benar rajin menantuku ini. Setibanya di beranda rumah, Mae dan Fatimah menyambutku. Tak ada rasa gembira dalam hatiku saat aku kembali ke rumahku, ke pelukan keluargaku.
Mae merasa heran melihat keadaanku yang lesu, tidak bersemangat.
“Abah terlihat sedih.. apakah yang terjadi? Bagaimanakah keadaan Haji Samlawi?†Mae menanyaiku. Dia nampak penasaran.
“Umat Islam di Bontam sedang berduka sekarang karena Haji Samlawi baru saja meninggal,â€
“Sudah meninggal?†Mae tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Benar.. dan sekarang saya mendapat amanah dari Haji Samlawi untuk menggantikannya, melaksanakan pekerjaannya di PPP, saya harus menghormati permintaan terakhir almarhum,†jawabku.
“Bukankah abah pernah mengatakan bahwa abah lebih senang hidup dalam pengasingan di pedesaan daripada terjun ke dunia politik?â€
“Betul.. saya pernah mengatakan itu. Tapi, sekarang abah harus kembali terjun ke dunia politik, abah sudah berjanji pada almarhum Haji Samlawi untuk menggantikannya jika ia meninggal,â€
“Bagaimana dengan militer.. pasti rezim Orde Baru takkan membiarkan abah,†kata Fatimah menyela.
“Betul itu.. bagaimana dengan Soeharto?’ Mae ikut menegaskan.
“Kalian jangan khawatir.. justru karena Soeharto-lah saya harus bergabung di PPP. Abah-mu ini merasa berkewajiban untuk melindungi umat Islam di Bontam dari kekejian Soeharto. Abah berharap kalian semua mendukungku! Demi kemaslahatan umat,â€
“Menurut abah, apakah dengan terjunnya abah ke PPP, Soeharto akan sadar dari kejahatannya?†tanya Fatimah.
“Entahlah.. besar kemungkinan dia takkan sadar, dia sudah terlalu banyak membunuh manusia. Abah hanya ingin melayani umat saja, melindungi umat dari manipulasi pemerintah rezim, agar peristiwa pembantaian di tahun 1965 tak terulang kembali,â€
“Istri macam apakah aku ini jika aku tidak mendukung perjuangan suaminya. Aku akan selalu mendukung abah,†kata Mae.
“Fatimah juga,†kata Fatimah.
“Alhamdulillah..†aku memegang pundak istri dan putriku, dan menatap lekat-lekat mereka berdua dengan pandangan yang berkaca-kaca penuh harap, kemudian kuangguk-anggukkan kepalaku dengan perasaan bahagia campur haru.
Bab 4: Tentang Pancasila
Setelah beberapa waktu, kabar yang dinanti-nantikan semua umat Islam di Bontam akhirnya keluar juga. Munas Alim Ulama di Situbondo sudah mengeluarkan keputusan sikap mengenai asas Pancasila. Aku merasa kalau berita hasil rapat munas kemarin sudah dimuat menjadi berita utama pada koran-koran yang terbit hari ini. Kuminta Qosim untuk membeli koran langgananku; Oetoesan Bontam. Aku ingin membaca hasil rapat alim ulama kemarin dari harian Oetoesan Bontam. Ketika aku mulai membacai berita hasil rapat Munas Alim Ulama di harian Oetoesan Bontam, Aku bisa melihat adanya praktek adu domba yang kini tengah diterapkan pemerintah. Dulu, pada tahun 1965 rezim militer telah membuat skenario kejam agar Komunisme dibenturkan dengan agama sehingga mengakibatkan pembantaian orang-orang komunis secara besar-besaran. Hingga kini pembantaian tahun 1965 tersebut belum mau diakui, juga belum hendak dimasukkan ke dalam pelajaran Sejarah oleh pemerintah rezim. Dan sekarang,
pemerintah rezim Orde Baru hendak membenturkan agama dengan Pancasila. Soeharto sudah mulai jijik, merasa alergi terhadap orang beragama khususnya Islam, meski dia sendiri mengaku beragama Islam. Diperlukan pertimbangan yang bijak dalam menyikapi persoalan pelik ini, jangan ada penafsiran yang salah mengenai Pancasila, karena salah-salah akan terjadi pembantaian lagi. Kali ini umat Islam-lah yang dikhawatirkan akan menjadi target pembantaian oleh pemerintah rezim.
Terasa sangat sebentar sekali waktu aku meminta Qosim untuk membawakanku beberapa koran, aku tidak tahu... tetapi mungkin pada kenyataannya sudah sangat lama sekali sewaktu aku terakhir meminta bantuan terhadap Qosim. Kini, tahu-tahunya Qosim sudah kembali, menghadapku di beranda rumah dengan membawa koran langananku. Begitu cepat! Tak perlu repot mencari-cari halaman koran yang memuat berita hasil Munas karena berita itu dimuat di Headline. Di bawah judul ‘Seluruh Ulama akhirnya menyepakati Pancasila sebagai satu-satunya asas yang pantas untuk dijadikan asas bernegara dan berorganisasi’ terdapat foto wajah Gus Dur yang tersenyum lebar kepada semua wartawan di dalam jumpa pers, dan foto tersebut terpasang di halaman Headline dengan ukuran yang cukup besar; luar biasa Gus Dur ini, dalam menyikapi segala permasalahan, ia selalu tersenyum, patut dijadikan contoh!
Meski begitu, perlu juga kuakui kalau aku tak bisa se-riang Gus Dur, kabar keputusan Munas ini benar-benar kabar yang mengejutkan, aku tak bisa membayangkan bagaimana ulama-ulama di Bontam akan menerima kabar ini. Benar-benar melelahkan hatiku ini untuk menghadapi situasi pelik seperti sekarang, badanku terasa lemas ketika aku membaca judul berita tersebut. Aku tak bernafsu untuk membaca keseluruhan berita yang baru saja kubaca. Kuhempaskan tubuhku dengan lunglai pada kursi jati yang terdapat di beranda. Kepalaku tertunduk, merenung mengenai beratnya cobaan Allah bagi umat Islam di Indonesia. Situasi panas tanpa ampun yang dikondisikan rezim Orde Baru pada negeri tercinta ini telah membuatku bingung, belum pernah sebelumnya aku mengalami intrik busuk seperti sekarang kecuali dari orang kafir Belanda dan orang kafir Jepang. Namun aku menyadari sejauh ini bahwa orang Islam pun bisa menjadi kafir kalau ia telah menjadi pembohong besar, pembunuh jutaan jiwa
manusia yang tak berdosa, pengarak kepala-kepala manusia yang dibantainya ke jalan-jalan umum. Inilah rahasia umum penguasa rezim militer negeriku yang mesti aku akui dengan berat hati. Mengakui bahwa negeriku telah mundur kembali ke jaman batu, jaman primitif!
La Illaha Ilallah! La Illaha illallah!
Melihatku yang tertunduk merenung seraya memejamkan mata, Qosim pun hanya bisa membisu dan menatapku dengan iba, ia tak berani mengeluarkan pendapat. Namun Qosim akhirnya ikut pula membaca koran Oetoesan Bontam yang baru saja kubaca. Hanya membaca judulnya saja, kemudian ia segera meletakkan kembali koran tersebut di meja tanpa gairah untuk menghabiskan bacaan keseluruhan berita.
“Apakah yang akan abah lakukan untuk menyikapi keputusan Munas ini?†tanya Qosim, penasaran.
“Harus ada rapat, saya yakin para ulama di Bontam tidak sepenuhnya setuju dengan hasil Munas kemarin, kita harus mengadakan pertemuan intern antar para ulama di Bontam,†kataku.  Â
“Kapankah pertemuannya akan dimulai?â€
“Menurut perkiraanku, sekarang juga.. Sekarang kita harus pergi ke kantor NU Bontam, menunggu para ulama berkumpul, kita tak boleh membiarkan masalah ini berlarut-larut,â€
“Kalau begitu saya akan segera siapkan motor CB antikku,â€
Aku hanya mengangguk-nganggukkan kepalaku seraya menarik nafas panjang.
**
Meski aku adalah seorang kakek-kakek lemah yang sudah diakui banyak orang sebagai tokoh agama yang dituakan, tetapi perlu juga kuakui bahwa aku sendiri adalah seorang penggemar tulisan-tulisannya Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis sastra berkaliber Internasional yang dicap pemerintah rezim sebagai penulis beraliran komunis. Bagiku hal tersebut bukanlah masalah besar. Sebenarnya, peristiwa pembunuhan dan pembuangan yang dialami para intelek dan para penulis komunis ke pulau Buru adalah hal yang sangat disayangkan, suatu kedzhaliman pemerintah terhadap rakyatnya! Saya tak bisa berbuat banyak untuk mereka selain melakukan Silent Protest (diam), tak memberikan komentar. Namun kini, aku tak bisa lagi melaksanakan Silent Protest seperti yang dulu kulakukan, aku harus bergerak demi memperjuangkan hak-hak umat Islam agar mereka tidak mendapatkan nasib serupa seperti orang-orang Komunis. Sudah banyak sekali gejala-gejalanya kalau pemerintah rezim telah
mendzhalimi umat Islam demi melanggengkan kekuasaan, semisalnya; kematian Subchan ZE yang misterius di Mekkah, kebijakan perdata mati bagi para ulama beserta tokoh-tokoh intelektual anak negeri yang dianggap berseberangan dengan pemerintah rezim, dan sekarang masalah Pancasila.
Cukup sudah! Aku takkan banyak-banyak bercakap panjang lebar lagi mengenai sejarah kelam negeri ini pada tahun 1965. Kucukupkan saja sampai disini, dimana aku dan Qosim telah tiba di rumah kontrakan seluas 500 meter yang dijadikan kantor NU Provinsi Bontam. Kami tiba di kantor NU Bontam pada siang hari, ketika shalat Dzuhur teleh selesai kami dirikan di mesjid yang kami lalui di tengah perjalanan. Terdapat banyak sekali kereta kuda delman dan motor-motor honda jenis CB yang diparkirkan di pinggir jalan sewaktu kami tiba di kantor NU Bontam. Selain itu, jalan-jalan di pinggir kantor NU Bontam juga tampak ramai oleh puluhan orang yang memakai sarung, baju koko dan bermacam warna peci dikenakan oleh setiap orang yang berkumpul di kantor NU Bontam. Kesemua orang-orang yang berkerumun, berkumpul di kantor NU itu pada umumnya terdiri dari para ulama yang umumnya memakai peci putih dengan sorban yang melilit di leher, serta janggut putih nan panjang menghiasi
dagunya dengan lebat. Dan terakhir, tak ketinggalan yang ikut meramaikan kerumunan massa adalah para santri yang dibawa oleh gurunya.
Ketika melalui kerumunan massa agar bisa sampai di beranda kantor NU Bontam, kami harus berusaha keras, berhimpitan dengan kerumunan, serasa di lautan manusia. Bukan kerumunan manusia biasa yang tenang seperti di dalam antrian, tetapi kerumunan manusia-manusia yang tengah emosi. Sambil berjalan, aku berusaha untuk menenangkan para ulama dan para santri yang emosi. Namun sia-sia saja! Bisa kulihat Haji Jakaria begitu kewalahan dalam menghadapi kerumunan massa yang meminta penjelasan darinya mengenai Pancasila sebagai asas tunggal. Dalam suasana riuh nan panas membakar emosi massa, Haji Jakaria mendapat serangan kritik habis-habisan dari semua kerumunan massa. Seorang dari kerumunan massa, seorang kyai yang nampak berusia lanjut dan sudah kakek-kakek terlihat sangat marah karena belum bisa mentoleransi Pancasila sebagai asas tunggal di Indonesia. Kepada Haji Jakaria, ulama kakek-kakek itu mengatakan dengan berapi-api penuh emosi bahwa ia tidak setuju,
karena khawatir kalau-kalau asas Pancasila yang dipaksakan rezim pemerintah itu akan menggantikan posisi Al-Qur’an dan Al Hadist.
“Kami tak mau umat Islam di Bontam mengalami seperti apa yang dialami umat Islam di Turki pada jaman Attaturk,†seru sang ulama yang sudah tua renta itu.
Aku merasa kasihan terhadap Haji Jakaria, barulah satu tahun dia terpilih menjadi ketua umum NU provinsi Bontam, kini ia harus menghadapi situasi yang pelik seperti saat-saat ini. Umurnya masih muda, sekitar lima puluh tahunan, pengalaman berorganisasinya masih minim bila dibandingkan dengan saya ataupun dengan almarhum Haji Samlawi. Aku yakin kalau Haji Jakaria tahu betul mengenai kondisi umat Islam yang terkini, tetapi ia tampak tidak begitu bisa mengatasi situasi yang panas. Haji Jakaria terus berbicara memberikan jawaban terhadap setiap pertanyaan yang dilontarkan kerumunan massa tanpa ada arti. Kerumunan massa masih belum merasa puas dengan jawaban yang diberikan Haji Jakaria. Memang mendebarkan, aku harus berbuat sesuatu, aku harus membantu Haji Jakaria!
Aku segera bergegas mendekat, melompat ke atas lantai tangga beranda rumah, menghampiri Haji Jakaria yang nampak lega di wajahnya saat ia melihatku. Aku memegang pundak Haji Jakaria dan tersenyum padanya kemudian kembali menatap menghadap kerumunan massa sambil berteriak-teriak mengatakan ‘tenang semua..tenang’ pada kerumunan massa.Â
Mendadak semua orang diam begitu mendengarku bicara. Selain karena keluasan ilmuku di bidang agama, walau aku tidak membanggakannya, tapi, semua ulama Bontam memang telah mengenal baik diriku sebagai seorang kyai tua yang sudah mengalami tiga jaman; jaman Agresi Militer Belanda, jaman Orde Lama, dan sekarang jaman Orde Baru. Semua orang memang menghormatiku karena kesenioranku, dan aku pun menghormati semua orang yang kini berkumpul di kantor NU ini. Diam dalam kebisuan, menungguku untuk berbicara lebih lanjut.
“Sampai Kiamat, demi Allah.. Pancasila takkan pernah menggantikan kedudukan Al-Qur’an dan Al Hadits di mata kita, umat Islam.. takkan pernah! Selain itu, kita juga takkan membiarkan umat Islam di Bontam mengalami seperti apa yang dialami umat Islam di Turki ataupun di Pattani Thailand. Tapi harap kalian juga bisa memahami situasi, semua ulama yang melakukan Munas kemarin mungkin memiliki Ijtihadnya masing-masing dalam menafsirkan Pancasila..
Dan saya yakin, mereka semua sebenarnya bermaksud baik. Demi kemaslahatan umat Islam juga mereka telah menafsirkan Pancasila sebagai asas yang harus kita rangkul sekarang,†kataku kepada semua ulama yang berkumpul di kantor NU Bontam.
Para hadirin menatap heran padaku, masing-masing dari mereka berbicara dengan sesamanya, mencoba memahami maksud perkataanku, terdengar jelas sekali bisikan-bisikan mereka yang berjumlah puluhan itu. Â
“Aku tahu benar kalau kalian sebenarnya masih meragukan akan hasil Munas Alim Ulama kemarin, saya pun demikian. Saya masih belum bisa menerima keputusan itu sebelum saya mendengarnya langsung dari para ulama yang telah mengikuti Munas kemarin. Oleh karena itu, saya mengusulkan, demi memantapkan hati kita; kita semua harus berkunjung menemui Gus Dur atau KH. Idham Chalid di kantor PBNU Jakarta,†ujarku, berusaha menangkan emosi para ulama Bontam.
Serentak semua orang berteriak mengucapkan ‘Setuju.. kita semua harus ke Jakarta, menemui Gus Dur atau KH. Idham Chalid’ Semua mata hadirin yang berwarna hitam mengkilat berkilau memandang aku, Qosim dan Haji Jakaria di beranda kantor NU dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Memang benar seperti itulah kenyataannya, semua ini hanya bisa dijawab di Jakarta. Suatu jawaban yang kuharapkan bisa memuaskan semua pihak tanpa ada seorang pun yang dirugikan. Tinggal sekarang bagi kami untuk menyiapkan segala kebutuhan perjalanan rombongan ulama Bontam ini ke Jakarta. Kami semua harus berangkat dengan persiapan yang baik dan terencana. Hari ini telah dikukuhkan suatu niat untuk mencari jawaban di Jakarta. Kepada siapa? Kepada musuh-musuh barunya Soeharto, yaitu para ulama-ulama senior di NU dan di semua Ormas Islam lainnya yang telah didzhalimi Soeharto.
Insya Allah.. kami akan mendapatkan jawabannya, kami harus mendapatkan jawabannya!
**
Tidak semua orang bisa ikut dalam perjalanan ke Jakarta, hanya beberapa gelintir orang saja. Telah direncanakan bahwa akan ada 13 orang ulama senior yang akan berangkat bersama ke Jakarta. Ditambah dengan aku dan Qosim maka jumlah total rombongan kami adalah 15 orang. Bus Damri yang kami sewa itu merupakan bus yang besar. Akan tetapi bus yang akan kami naiki itu mesti kami jemput di Terminal Thatutatan pada pagi hari. Dan di terminal Thatutatan inilah aku, Qosim dan seorang supir bus sudah menunggu. Pada hari itu, terminal bus tampak kosong dan gelap di balik hujan rintik-rintik. Hanya terdapat beberapa mobil angkutan umum jenis bemo berukuran kecil dan hanya bisa memuat 10 orang yang kini berderet berbaris di hallte-halte; menunggui penumpang yang takkan ada. Memang karena infrastruktur yang rusak, jenis kendaraan mobil di Provinsi Bontam ini belum begitu populer, hanya sepeda motor dan kereta delman saja yang selalu jadi transportasi andalan antar
kecamatan penduduk Bontam. Tapi saya yakin, suatu hari nanti kereta kuda delman juga akan hilang tergantikan oleh kendaraan mobil. Seperti kendaraan kuda yang sudah sedikit demi sekitnya mulai tergantikan oleh sepeda motor di masa sekarang; 1983.
Penantianku berakhir sewaktu beberapa kereta delman dan beberapa motor honda CB tiba di halaman terminal. Kini, jalan-jalan di terminal Thatutatan tampak ramai dengan banyaknya kereta-kereta delman dan sepeda-sepeda motor tersebut. Suasana sepi di terminal pun menjadi hilang dengan aktivitas para ulama yang turun dari kereta delman, yang masing-masing dari para ulama itu sibuk pula dengan aktivitas menurunkan barang-barang bawaan mereka dari kendaran-kendaraan yang mereka naiki. Bukanlah barang biasa yang dibawa para ulama-ulama Bontam. Mereka semua membawa hasil bumi yang mereka hasilkan di kebun-kebun yang mereka miliki seperti: Pisang, Buah Nangka, Durian, Salak, petai dan masih banyak lagi. Barang-barang yang berat! Dan kesemua-muanya itu akan dibawa ke Jakarta sebagai oleh-oleh dari Bontam untuk diberikan kepada kyai-kyai senior di Jakarta. Aku pun tidak ketinggalan dengan para kyai lainnya, aku juga membawa satu karung buah salak untuk dibawa ke
Jakarta.
Setelah semua barang-barang bawaan para ulama Bontam sudah diturunkan dari kereta delman dan kemudian dinaikkan ke atas bus Damri, kami mulai berpisah dengan para santri-santri kami yang telah jauh-jauh mengantarkan kami ke terminal Thatutatan. Mesin mobil Bus sudah mulai dihidupkan, dan sebentar lagi kami semua akan berangkat menuju daerah yang tidak kami kenal dengan baik, Jakarta. Semua rombongan mulai hening membisu, memejamkan mata, seperti halnya aku juga, mereka semua hening dalam doa di dalam hati. Doa meminta keselamatan pada Allah yang Maha Kuasa agar kiranya Dia memberikan ketenangan dan keselamatan selama perjalanan ke Jakarta.
Kota Jakarta bukanlah kampung halaman yang kami semua harapkan untuk kami jadikan tempat tinggal, hanya saja saat itu suasana jalan raya di Kota Jakarta tengah sepi, tidak ada kemacetan dan terasa sangat enak sekali melihat-lihat seluruh bangunan-bangunan pencakar langit yang bisa kami lihat dari balik jendela mobil bus. Jarang sekali bagi kami untuk bisa memiliki kesempatan melihat kemegahan gedung-gedung di kota Jakarta. Perjalanan menuju kantor NU pusat itu masih lama, dan sang sopir sudah tahu arah-arah jalan menuju kantor NU, yang kami lakukan hanya tinggal menikmati perjalanan kunjungan keliling Jakarta hingga tiba di Kantor NU. Ada satu pemandangan yang membuat kami terkagum-kagum sekaligus merasa ngeri; patung tugu tani. Satu patung berukuran besar seorang petani berotot dan berbadan kekar yang membawa senjata api dengan ditemani gadis desa mengenakan baju kebaya. Semua kyai melihat patung tugu tani itu dengan tatapan kosong, menerawang kengerian
di tahun 1965 kurasa. Ya! Sepertinya semua kyai menjadi terkenang akan peristiwa pembantaian massal pada tahun 1965; satu peristiwa yang membuat kami bergidik ngeri.
Begitu mobil bus yang kami tumpangi telah melewati daerah perkotaan, kini mobil bus kami melaju di atas jembatan layang dengan pemandangan sungai Ciliwung yang airnya menghitam karena tumpukan-tumpukan sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan. Pemukiman-pemukiman kumuh yang berada di sepanjang bantaran sungai Ciliwung membuat miris hati kami semua yang memandangnya dari balik jendela bus. Kota Jakarta ini sudah sangat pasti tidak akan kami harapkan untuk kami jadikan tempat tinggal! Dulu kami menyayangi Jakarta bagai kekasih, tapi sekarang kami membenci Jakarta. Kami membenci pemerintah rezim karena merusak kota ini yang dulu indah.
Begitu banyak pemandangan-pemandangan yang menyedihkan dari kota Jakarta ini yang kami bisa lihat hari ini. Tata kotanya sangat berantakan. Kami takkan pernah ingin kalau Bontam yang kami miliki satu-satunya menjadi seperti Jakarta sekarang ini. Bagaimanakah cara mengatakan bahwa ratusan tahun lalu Jakarta adalah daerah primadona yang pernah menjadi perebutan antar bangsa. Banyak perubahan yang dilakukan oleh tiap bangsa pada tiap jaman terhadap kota Jakarta ini, dan perubahan yang dilakukan pemerintah rezim terhadap kota Jakarta ini adalah yang terburuk. Juga, bagaimanakah cara mengatakan bahwa dulu sungai Ciliwung itu adalah sungai yang amat bersih yang selalu dipakai masyarakat sebagai lalu lintas perairan dalam perdagangan, dalam sosialisasi, bahkan dalam peperangan. Aku tak bisa menemukan kata-kata lain untuk menggambarkan sungai Ciliwung ini selain mengatakan bahwa pembiaran serta perubahan yang dilakukan pemerintah rezim Orde Baru terhadap sungai
Ciliwung ini adalah suatu bentuk kedzhaliman.
Cukup sudah tentang Jakarta! Cukup sudah tentang Komunis! Cukup sudah tentang Ciliwung! Pun seandainya aku menasihati Soeharto mengenai cara membuat tata Kota yang sempurna untuk Jakarta, belum tentu ia akan mendengar, bahkan besar kemungkinan aku akan dipenjara atau lebih buruk lagi, aku akan dibunuh seperti nasibnya orang Komunis.
Astaghfirullahalladzim!
Sudah beberapa jam kami berkeliling kota Jakarta, dan sekarang kami akhirnya di kantor NU pusat. Pangkalan parkir berada di dalam halaman kantor NU yang luas tetapi sederhana dengan dipenuhi pepohonan kamboja yang rindang. Setelah mobil bus sudah diparkirkan, aku dan rombongan ulama-ulama dari Bontam berjalan menyusuri sepanjang jalan setapak menuju beranda kantor NU pusat. Di beranda kantor NU pusat, terlihat 10 orang ulama NU pusat yang terdiri dari bermacam-macam usia, ada yang tampak berusia paruh baya sekitar 46 tahunan hingga yang berusia sangat lanjut, berusia delapan puluh tahunan lebih, yang kesemuanya itu berpakaian batik, berpeci hitam bercelana katun hitam. Mereka semua telah menanti kami di depan beranda kantor. Semua ulama-ulama NU pusat tersebut segera menghampiri rombongan kami, menyambut dengan ramah. Gus Dur termasuk salah seorang diantara kesepuluh Ulama NU pusat yang menerima kami dengan sangat ramah. Sikapnya yang periang, tertawanya
yang lebar, membuat kami merasa sangat nyaman, merasa sangat diterima.
Semua orang-orang NU pusat memang sudah menanti kehadiran kami, janji pertemuan telah dibuat olehku jauh-jauh hari sebelumnya. Akan tetapi, ketika kami menanyakan keberadaan KH. Idham Chalid selaku ketua umum NU pusat, kesepuluh ulama NU pusat tersebut menundukkan kepalanya kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, mengisyaratkan kecewa. Kami tak menginginkan kedatangan kami ke Jakarta menjadi sia-sia, kami harus mendapatkan jawaban mengenai asas Pancasila di Jakarta. Gus Dur menerangkan pada kami bahwa KH. Idham Chalid tengah sakit keras, dan hanya bisa ditemui di rumahnya.
“Pasti ini semua dikarenakan kebijakan perdata mati-nya Soeharto.. banyak para ulama-ulama yang telah jatuh sakit, kesehatannya ambruk karena perdata matinya Soeharto,†kataku pada Gus Dur dan semua ulama-ulama NU Jakarta yang lainnya.
Betapa kejinya Soeharto itu kepada rakyatnya, terutama kepada umat Islam. Kesemua ulama-ulama yang berkumpul sekarang di kantor NU pusat juga tak ada yang bisa membantah perkataanku. Gus Dur pun hanya bisa menundukkan kepalanya, menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah apa pula yang mesti kami lakukan agar kami bisa bertahan di tengah jaman Orde Baru ini. Kami tak mau menggadaikan kejujuran kami demi bisa hidup berdampingan dengan penguasa rezim yang dzhalim; prinsip moral agama kami yang luhur takkan pernah kami kompromikan dengan penguasa!
“Janganlah kalian terlalu mengkhawatirkan keadaan KH. Idham Chalid, dia akan baik-baik saja. Sekarang, mari kita masuk ke dalam kantor, tentu kalian merasa haus setelah melakukan perjalanan jauh ke Jakarta. Mari aku jamu kalian dengan es lilin buatanku.. es lilin Gus Dur,†kata Gus Dur yang dengan sekejap kembali riang. Tetapi aku pun yakin bahwa sebenarnya dia juga merasakan kepedihan yang luar biasa karena penindasan pemerintah rezim.
“Gus Dur berjualan es?†kataku.
“Ya.. saya melakukannya demi mencukupi kebutuhan keluargaku sehari-hari..â€
“Bagus sekali itu, menurutku teori ekonomi kerakyatan itu lebih berguna untuk kemaslahatan umat daripada teori ekonomi: Modal Besar Asing yang selalu digembar-gemborkan para mafia Berkeley,â€
“Ha...ha..Ha.. Betul itu.. betul itu,†Gus Dur tertawa lebar terpingkal-pingkal, mungkin menurutnya ada yang lucu dari perkataanku. “Abah.. betapa diriku ini sangat gembira mendapat kunjungan dari abah yang merupakan seorang ulama besar dari Provinsi Bontam,†lanjutnya, muka riangnya hilang, kemudian menatapku lekat-lekat dengan raut wajah yang menyiratkan keharuan. Aku tersenyum saja melihat keriangan sikap Gus Dur seraya mengangguk-nganggukkan kepalaku. Â
“Oh.. iya kami juga membawa oleh-oleh dari Bontam untuk Gus Dur dan para kyai-kyai di sini,†kataku seraya memberikan satu karung buah salak milikku kepada Gus Dur.
“Apa itu? wah.. hasil bumi ya.. kami sangat susah sekali menemukan yang seperti ini di Jakarta, terima kasih.. terima kasih, kalian semua terlalu baik pada kami,†ujarnya, kemudian menyuruh santri-santrinya untuk mengambil barang-barang hasil bumi bawaan kami. “Sekarang ayo masuk ke dalam kantor, biar kujamu kalian,†lanjutnya.
Pada ruangan rapat kantor NU pusat, kami semua benar-benar disuguhi sajian es lilin buatan Gus Dur, aku sendiri sebenarnya penasaran ingin mencicipi, tapi aku tak bisa melakukannya karena gigiku sudah tak lagi utuh dan kuat untuk menikmati es lilin buatan Gus Dur. Sungguhpun begitu, hampir kesemua ulama rombonganku mengatakan padaku bahwa es lilin buatan Gus Dur sangatlah lezat, dan saya percaya. Jadwal shalat Dzuhur sebentar lagi akan datang menjelang, aku harus segera mengatakan maksud kedatangan rombonganku kepada Gus Dur.
 Lalu, setelah semua teman-teman rombongan ulamaku selesai menikmati es Lilin Gus Dur-nya, menghilangkan rasa dahaga mereka, aku pun segera mengatakan pada Gus Dur bahwa ulama-ulama Bontam belum bisa sepenuhnya menerima asas Pancasila, dan meminta penjelasan dari Gus Dur.
Wajahnya yang riang menjadi menghilang, wajah Gus Dur berubah menjadi serius, berusaha menyimak semua perkataanku, raut mukanya bisa kuibaratkan bagaikan seorang santri yang tengah serius menyimak sesuatu mengenai fenomena peristiwa yang terbenturkan dengan pelajaran-pelajaran kitab Fikih yang pernah dipelajarinya. Sejenak ia membetulkan posisi kacamatanya, kemudian menarik nafas panjang. Tampaknya, Gus Dur sangat menyadari bahwa semua orang yang telah hadir di hadapannya kini, tengah menanti jawabannya. Setelah ia berpikir sejenak, ia kemudian tersenyum, dan mengangguk sopan.
“Untuk alasan yang sangat ekstrem, umat Islam di negeri Indonesia sekarang ini.. belumlah siap untuk melakukan konfrontasi langsung dengan penguasa. Bagaimanapun juga kita harus mendukung pemerintahan rezim yang dzhalim ini dalam hal asas Pancasila, demi mencegah mudharat yang lebih besar terhadap umat Islam di Indonesia, sebagaimana kaidah fikih yang berbunyi ‘Darul Mafasid Muqaddamum ala Jalb al-masalih’(Menolak yang buruk lebih didahulukan ketimbang meraih kemaslahatan)†kata Gus Dur.
“Lalu, apakah Pancasila akan menggantikan kedudukan Al-Qur’an dan Al-Hadits..? kami tidak mau mengakui Pancasila itu diatas Al-Qur’an dan Al Hadits!†kata Haji Jakaria, menyela percakapan kami dengan emosi.
“Tidak.. tidak akan pernah Pancasila itu menggantikan kedudukan Al Qur’an dan Al Hadits di mata kita. Dan memang sebagai organisasi keagamaan (Islam), segala langkah dan gerakannya harus didasarkan pada kaidah agama. Akan tetapi sungguhpun begitu, kita memang harus mengakui Pancasila sebagai asas tunggal dalam berorganisasi dan bernegara karena di sisi lain, NU juga bisa dikatakan sebagai organisasi kemasyarakatan. Kita tidak boleh egois dengan mengandalkan kaidah agama saja. Jika kalian masih ragu akan Pancasila, mari aku berikan pertimbangan-pertimbangan hasil Munas kemarin.
“Diantaranya, pertama: bahwa Pancasila itu dirumuskan oleh para tokoh kemerdekaan, diantaranya adalah KH. Wahid Hasyim; ayahku sendiri. Kedua, bahwa sila-sila dari Pancasila terutama sila pertama, mencerminkan tauhid yang murni menurut pengertian Islam dan tidak bertentangan dengan agama Islam. dan terakhir yang paling penting, yang ketiga: bahwa menjaga keutuhan dan kemurnian penafsiran Pancasila dari penafsiran yang salah oleh penguasa rezim adalah dipandang sangat perlu,â€
Betapa indahnya jawaban dari Gus Dur, kami semua merasa puas dengan jawaban yang diberikanya. Aku bisa melihat kesemua teman-teman ulamaku menjadi tersenyum puas setelah sebelumnya bermuka masam.
“Gus Dur.. jawaban anda sangat memuaskan kami.. jika demikian, maka kami pun akan senang hati melaksanakan amanah keputusan hasil munas alim ulama kemarin. Bukan begitu kawan-kawan,†kataku, seraya menatap kesemua teman-teman ulamaku, mengharapkan persetujuan dari mereka.
“Ya.. akuurr.. kami sepakat dengan Gus Dur..†serentak semua teman-teman ulama mengiyakan setuju, mengangguk-nganggukkan kepala.
“Alhamdulillah..†ujar Gus Dur merasa lega. “Bapak-bapak sekalian, saya baru saja mendapatkan honor dari koran Kompas atas tulisan artikelku yang dimuat kemarin, saya ingin sekali berbagi dengan bapak-bapak sekalian. Maka, tetaplah disini biar aku belikan nasi bungkus untuk bapak-bapak semua, pasti bapak-bapak semua sudah merasa lapar,†lanjut Gus Dur, menawarkan.
“Jangan pak Gus Dur.. kami tidak ingin merepotkan,†kataku.
“Tidak.. saya memaksa, saya ingin tuan-tuan makan nasi bungkus, sekarang saya sedang mendapat rezeki,â€
“Baiklah kalau bapak Gus Dur memaksa,†kataku, aku tak ingin mengecewakan tawaran tuan rumah. Semua teman-teman rombonganku pun sepakat. Kami memang lapar, belum makan semenjak dari Bontam. “Coba jika sekiranya tulisan artikelnya bapak Gus Dur di muat di koran Oetoesan Bontam, honor tulisannya lebih tinggi daripada Kompas,†lanjtku, seraya tersenyum.
“Ha..ha..ha,†Gus Dur tertawa lebar kembali, terpingkal-pingkal. “Baik.. kapan-kapan saya akan mencoba mengirimkan tulisan artikel saya ke koran Oetoesan Bontam,â€
Gus Dur kemudian memanggil salah seorang santrinya, meminta bantuannya agar membeli nasi bungkus untuk kami semua pada warung terdekat. Seraya menunggu nasi bungkus, kami semua bercengkrama dengan penuh keakraban di dalam ruang rapat kantor NU pusat. Suasana kekeluargan terasa hangat di udara sewaktu kami semua berkumpul dan duduk bersama. Gus Dur beserta para pengurus NU pusat yang bersikap sangat sopan pada kami, membuat kecintaan kami pada organisasi ini makin kuat. Kami akan berusaha sepenuh hati untuk mempertahankan organisasi ini dari rongrongan penguasa rezim.
“Saya dengar, Gus Dur adalah seorang ulama yang senang dengan humor dan ketoprak dan hal-hal yang berbau kesenian, bahkan Gus Dur adalah satu-satunya ulama yang tergabung dalam DKJ (Dewan Kesenian Jakarta)†tanyaku.
“Saya memang menyukai semua itu, saya sangat cinta seni budaya,†jawabnya.
“Kalau begitu, saya punya teka-teki untuk bapak Gus Dur..†kataku, mencoba meramaikan suasana.
“Apa itu?†kata Gus Dur, penasaran.
“Mengapakah negeri kita mengalami tahun-tahun kemunduran di era Soeharto?â€
“Kurasa, karena Soeharto yang tak suka baca buku,â€
“Bukan.. melainkan karena istilah Daripada yang selalu digunakan Soeharto dalam tiap pidatonya. Contoh; Daripada susah lebih baik merampok, Daripada tidak nikah lebih baik kawin, dan terakhir; Daripada tidak punya kapal perang sama sekali, lebih baik membeli kapal perang loak yang butut,â€
“Hua..ha..ha.. ya..ya.. Betul itu, betul.. Soeharto memang telah merusak bahasa Indonesia.†ujarnya, tertawa lebar. “Sungguh, abah memang seorang kyai yang jenius,â€
“Gus Dur terlalu berlebihan, justru yang saya dengar; Gus Dur-lah yang dianggap pintar oleh semua tokoh intelektual negeri,â€
“Itu tidak benar, jangan terlalu percaya apa yang dikatakan orang-orang. Tapi, perlu saya akui bahwa perkataan abah mengenai teori ekonomi kerakyatan itu telah menginspirasi saya untuk membuat konsep gerakan ekonomi pesantren.â€
“Ekonomi pesantren?â€
“Ya! Gerakan ekonomi dimana kita para ulama dan para santri harus memanfaatkan besarnya dukungan-dukungan yang diterima kita khususnya dari kalangan Cina pelaku usaha. Abah bisa bayangkan, asimilasi antara Cina dan pribumi, dengan adanya gerakan ekonomi ini, kita akan bisa menopang usaha-usaha yang dilakukan oleh warga NU yang kebanyakan berada di wilayah pedesaan, dengan usaha skala kecil menengah,â€
“Gagasan yang sangat bagus sekali,â€
“Hanya saja...†ujar Gus Dur, kemudian menundukkan kepalanya, semangat yang tadi meluap-luap menjadi sirna. “Pemerintahan rezim pasti akan berusaha keras untuk menghancurkan segala usaha ini. Mereka takkan pernah menginginkan asimilasi ekonomi tersebut, Soeharto begitu paranoid, begitu Phobia terhadap Islam, apalagi kalau ia sudah mendengar kita bersatu dengan orang Cina,†   Â
“Tetapi bukan berarti bapak Gus Dur tidak akan mencobanya. Setidaknya bapak Gus Dur harus mencoba terlebih dahulu. Meskipun kebijakan perdata mati-nya Soeharto itu akan menghalangi usaha Gus Dur, jangan sekalipun gentar karenanya.â€
“Hua..ha.. betul.. betul; presiden pertama kita sangat gila wanita, dan sekarang presiden kedua kita sangat gila harta, entah suatu saat presiden yang berikutnya akan gila apa?â€
“Mungkin gila betulan..!†kataku.
“Hua..ha..ha,†Gus Dur tertawa keras. Terpingkal-pingkal seraya memegang perutnya. Getaran suaranya yang riang gembira membuat semua orang yang hadir ikut merasa senang saat melihat tingkah laku Gus Dur yang mirip Abu Nawas itu.
Memikirkan hal-hal yang menyenangkan, hal-hal yang bersifat humor adalah suatu keperluan yang amat penting di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Dengan humor kami bisa melupakan kepedihan dan kesusahan kami untuk sementara waktu. Meskipun, pada akhirnya kami semua harus kembali ke dunia nyata, kami semua tidak pernah akan bisa melepaskan humor sebagai bagian dari hidup kami, pelepas stress kami. Tentu, humor itu harus kami biasakan agar dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang dirasa pas dan tepat.
Tiap orang-orang Islam, terutama tiap ulama sepuhnya memiliki cara berbeda-beda untuk mengalihkan kesempitan hidupnya di tengah penindasan pemerintahan rezim. Kadang-kadang ada ulama yang memakai dengan cara yang terlihat konyol nan menghibur tetapi sangat mengganggu penguasa seperti Gus Dur. Dan untuk aku? Aku lebih memilih cara Silent Protest; tidak mengakui secara bathin dan lisan terhadap hal-hal yang berbau pemerintahan rezim dengan diam-diam. Meskipun aku tergabung dalam PPP namun hatiku tetap berontak; melakukan Silent Protest terhadap pemerintah.
Makan siang kami akhirnya telah tiba, santri-santrinya Gus Dur segera mengedarkan nasi bungkus kepada rombongan kami. Lalu, setelah masing-masing dari kami dan juga masing-masing dari teman-teman Gus Dur sudah menerima nasi bungkus, kami semua mulai membaca do’a sebelum makan dengan dipimpin Haji Jakaria, kemudian setelah pembacaan doa usai, kami mulai membuka nasi bungkus perlahan-lahan, dan mulai memakannya dengan santai, penuh rasa syukur. Ketika aku menemukan daging rendang yang terdapat pada nasi bungkus milikku, aku sisihkan daging rendang itu ke pinggir, dan hanya memakan nasinya saja yang telah terlumuri oleh sayur kaldu rendang. Gus Dur merasa heran melihat aku yang tidak memakan daging.
“Gigiku sudah tidak kuat lagi untuk mengunyah daging. Sudah lama sekali aku tak memakan daging dan telur,†kataku menjelaskan pada Gus Dur.
“Abah seorang Vegetarian?†tanya Gus Dur.
“Ya.. kurasa, Vegetarian bagiku adalah suatu proses fase yang terjadi secara natural,â€
“Ha..ha.. abah benar-benar bijak, saya pun tidak berani makan daging banyak-banyak, aku hanya bisa bisa makan daging sangat sedikit, telor pun kadang-kadang. Itulah mengapa menu yang kumakan sekarang hanyalah sayur tempe.. jika saja saya tahu abah tidak makan daging tentu akan kupesankan abah menu sayur-sayuran,’
“Tidak apa-apa.. bagiku sayur rendang tanpa daging saja sudah cukup dan tidak berbahaya bagi kesehatanku,â€
“Alhamdulillah.. Alhamdulillah..,†kata Gus Dur seraya mengangguk-nganggukkan kepalanya.
Terasa begitu nikmat suasana siang itu, ramai-ramai makan nasi bungkus ditraktir Gus Dur yang murah hati. Bercanda ria dalam suasana keakraban, penuh kekeluargaan. Dan setelah selesai makan siang, kami mendirikan shalat Dzhuhur berjamaah dengan Gus Dur sebagai imam. Semula Gus Dur merasa enggan menjadi imam Shalat, dia memaksa agar aku yang menjadi imam atau ulama-ulama lainnya yang dari Bontam. Aku menolak tawaran Gus Dur dan menjelaskan padanya bahwa yang pantas menjadi imam shalat adalah tuan rumah, dan orang itu adalah Gus Dur. Lalu, Gus Dur akhirnya bersedia menjadi imam, dan ia menjadi imam shalat yang sangat sempurna di dalam shalat Dzuhur yang kami dirikan dengan berjamaah.
Ketika shalat Dzuhur telah selesai didirikan, kami merasa bahwa sudah waktunya bagi kami untuk pamit dan melanjutkan perjalanan ke Cipete, menjenguk KH. Idham Chalid. Kami semua merasa berat hati dengan perpisahan ini setelah kami mengalami waktu yang menyenangkan di saat rapat, di saat makan siang, di saat shalat. Menyadari bahwa kami harus segera pergi, Gus Dur terdiam, kemudian mengangguk-nganggukkan kepalanya, lalu segera menghampiriku dan memelukku dengan erat bagaikan pelukan ke saudara. Ia tersenyum lebar dam kemudian menjabat tanganku erat-erat. Semua orang saling berpelukan pada saat itu, suatu moment yang mengharukan.
“Jaga diri abah baik-baik, kuharap kita bisa bertemu lagi,†kata Gus Dur.
“Insya Allah,†kataku.
“Insya Allah,†kata Gus Dur, tersenyum, mengangguk-nganggukkan kepalanya.
“Assalamualaikum..†kataku, kemudian berjalan meninggalkan Gus Dur dan rekan-rekannya dengan perlahan-lahan menuju rombongan teman-teman ulamaku.
“Walaikumsalam..†Gus Dur melambai-lambaikan tangannya.
Kami semua harus berpisah dengan perasaan yang sedih. Sekarang, aku bersama dengan rekan-rekan ulamaku lainnya mulai menaiki bus saat bus mulai dinyalakan mesinnya oleh sang sopir. Dari balik jendela, kami bisa melihat Gus Dur dan kesemua teman-temanya melambaikan tangannya pada kami. Kami pun ikut pula melambaikan tangan pada Gus Dur dan kesemua teman-teman ulamanya. Saat bus sudah mulai berjalan keluar dari pintu gerbang kantor NU pusat, aku merasa benar-benar bahagia. Keputusan untuk berkunjung ke Jakarta adalah suatu keputusan yang tepat. Silaturahim ke pengurus-pengurus NU pusat adalah berkah bagi kami, karena kami akhirnya menyadari akan pentingnya persatuan antar umat dalam menghadapi kedzhaliman rezim pemerintah.
Jalan menuju kediaman KH. Idham Chalid itu seakan membentang lurus. Tidak perlu waktu lama bagi sang supir untuk sampai di kediaman KH. Idham Chalid. Rumah KH. Idham Chalid itu sederhana, kami tak bisa memparkirkan mobil bus kami di halaman rumahnya sehingga kami harus memarkir mobil bus di pinggir jalan. Setelah mobil bus sudah diparkirkan, kami mulai berjalan memasuki pintu gerbang rumah KH. Idham Chalid, melintasi halaman depan menuju beranda rumahnya. Segenap keluarga KH. Idham Chalid mulai menyambut kami sangat ramah.
“Assalamualaikum,†ujarku.
Seorang wanita tua, berkerudung putih, segera mempersilakan kami masuk ke dalam rumah dengan sangat ramahnya. Saya bisa menduga kalau wanita tua ini pasti istrinya KH. Idham. “Walaikumsalam.. bapak-bapak ini rombongan ulama dari Bontam ya?â€
“Betul ibu..†kataku.                                                                                  Â
“Silahkan tuan-tuan haji masuk ke dalam rumah. Bapak Idham sudah menanti kalian di kamarnya.†Kata ibu Idham.
“Terima kasih., ibu ini.. istrinya bapak Idham ya..?†tanyaku.
“Betul..â€
“Saya Yusuf Hussein dari Bontam dan ini semua adalah teman-temanku sesama ulama di Bontam,â€
“Abah Yusuf.. suatu kehormatan bagi kami karena mendapat kunjungan dari abah.. saya kira bapak Haji Samlawi yang akan kemari,†kata ibu Idham.
“Bapak Haji Samlawi sudah meninggal dunia karena penyakit komplikasi,†kataku.
“Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun..†ujar istrinya KH. Idham Chalid, menundukkan kepalanya, menyayangkan. “Bapak-bapak semua sebaiknya segera masuk dan menemui bapak Idham.. silahkan masuk ke dalam tuan-tuan,â€
Kami semua tersenyum akan sambutan ramah itu, dan setelah berjabat tangan dengan kesemua anggota keluarganya KH Idham Chalid, kami mulai memasuki ruang tengah rumah, kemudian dengan dibimbing ibu Idham, kami semua memasuki kamar KH. Idham Chalid.
 Saat kami berada di dalam kamarnya KH. Idham Chalid, kami menemukan kondisi KH. Idham Chalid tampak menyedihkan, kami semua merasa tak tega untuk melihatnya. Tubuhnya kurus, mukanya pucat dan bibirnya pecah-pecah. KH. Idham Chalid adalah seorang lelaki tua yang populer karena perjuangannya untuk kemaslahatan umat dari penindasan rezim. Sebisa mungkin, ia berusaha agar umat Islam di Indonesia tidak terjerumus menjadi radikal di tengah penindasan penguasa yang dzhalim. Ia sangat sadar sepenuhnya jika saja umat Islam terjerumus menjadi radikal, maka Pemerintah rezim mendapatkan pembenaran untuk membasmi umat Islam di negeri ini. Dan Soeharto takkan segan-segan untuk melakukannya. Untuk seseorang yang sudah berusia lanjut, beban tanggung jawab kepemimpinan yang dipikulkan pada pundak KH. Idham Chalid itu dirasa amat berat, takkan ada orang normal yang mampu menanggung beban sebesar itu, tetapi KH. Idham Chalid bisa menanggungnya dengan segala keterbatasn
fisiknya, dan sekarang ia pun jatuh sakit.
Suasana di dalam kamar KH. Idham itu terasa hening menindas hati, membuat remuk perasaan. KH. Idham segera bangkit dari tidurnya, menyapa kami dengan ramah ketika ia membuka mata dan menemukan kami sudah berada di sisi ranjangnya. Kami tersenyum, berusaha untuk tidak memperlihatkan kekhawatiran kami di hadapan KH. Idham. Tak dapat aku mengatakan bagaimana besar kekagumanku terhadap KH. Idham Chalid ini. Pembawaannya yang tenang luar biasa meski dirinya tengah sakit keras benar-benar membuat kami semua takjub dan kagum pada KH. Idham. Seandainya saja Soeharto tidak memberlakukan kebijaksanaan perdata mati pada semua orang yang dianggapnya sebagai lawan politik pemerintahannya, tentulah KH. Idham takkan sampai sakit sekeras ini.
“Betapa senangya saya mendapat kunjungan dari ulama-ulama Bontam, jauh-jauh kalian menyempatkan datang kemari, saya merasa sangat tersanjung,†kata KH. Idham Chalid, suaranya terdengar serak, lemah.
“Kamilah yang merasa terhormat,†kataku.
“Saya sudah banyak mendengar mengenai reputasi abah Yusuf, tidak salah kalau abah itu banyak dikenal sebagai orang yang rendah hati,†kata KH. Idham Chalid.
“Saya tidak semulia itu,†kataku, seraya menatap lekat-lekat pada KH. Idham. “Sekarang bagaimana keadaan bapak Kyai? Saya dengar keadaan pak kyai sangat memprihatinkan,â€
“Tidak.. tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai keadaanku, saya hanya terkena sakit demam saja. Besok juga sudah sembuh,â€
“Aminn.. kami semua berharap begitu,†ujarku. “Oh.. iya kami ada oleh-oleh untuk pak kyai, hasil bumi dari kebun-kebun yang kami miliki,†lanjutku, kemudian meletakkan dua plastik hitam berukuran besar berisikan buah jeruk dan buah sawo yang ranum-ranum pada sebuah meja kecil yang terdapat di dekat sisi ranjang KH. Idham.
“Kalian semua terlalu baik pada kami.. terima kasih.. terima kasih,†Kh. Isham tersenyum ramah seraya mengangguk-nganggukkan kepalanya.
“Setidaknya hanya ini saja yang bisa kami berikan,†kataku. Semua kyai Bontam kulihat mengangguk-nganggukkan kepalanya seraya tersenyum sedih.
“Kalian semua pasti kelaparan.. sudahkah kalian makan? Ayo kita makan dulu, biar aku siapkan makanan untuk kalian,†tawar KH. Idham.
“Tidak kami sudah kenyang, kami sudah makan nasi bungkus di kantor NU, Gus Dur telah mentraktir kami,†kataku.
“Aah..†hela KH. Idham Chalid, mengangguk-nganggukkan kepala. “Gus Dur adalah seorang yang baik dan setia kawan; kelak, dia akan menjadi pemimpin yang sangat baik di NU, aku takkan meragukan kualitasnya. Abah tentu tahu mengenai keadaan NU yang diambang perpecahan ini, sudah beberapakali di wacanakan dalam setiap Muktamar bahwa sudah saatnya bagi NU untuk kembali ke Khittah 1926,â€
“Ya.. saya sudah mendengarnya,â€
“Kunjungan kalian yang jauh-jauh dari Bontam kemari telah membuatku sadar, membuatku paham bahwa persatuan adalah lebih baik daripada perpecahan. Soeharto memang sangat mengharapkan kehancuran NU. Politik di era Orde Baru benar-benar sangat membahayakan bagi persatuan umat Islam. Mungkin sudah saatnya bagiku untuk mundur dari NU, dari keramaian. Mulai saat ini aku memutuskan untuk menjalani kehidupan di luar pemerintahan dan di luar NU,â€
“Benarkah? Apakah pak kyai benar-benar sudah mantap dengan keputusan itu?â€
“Ya.. lagipula saya sudah bisa memperkirakan kalau NU itu pada akhirnya akan meninggalkan dunia perpolitikan. Jika NU sudah memutuskan untuk kembali ke Khittah 1926, dan saya yakin pasti. Maka mulai dari sekarang saya pun akan mundur dari NU dan dari pemerintahan. Sudah waktunya bagi saya untuk mengabdikan hidupku dalam kegiatan berdakwah. Aku akan habiskan sisa hidupku untuk mengaji dan mengajar di pesantren,â€
Aku akhirnya paham akan maksud KH. Idham Chalid yang sebenar-benarnya. Saya mendukung akan keputusan KH. Idham Chalid. Saya menundukkan kepalaku, dan mengangguk-nganggukkan kepalaku. “Benar.. mungkin sudah waktunya bagi pak Idham untuk mengundurkan diri dari kepemimpinan di NU, dan kemudian memberikannya kepada Gus Dur,â€
“Tidak lama lagi, mungkin empat hari lagi, empat kyai sepuh dari kubu Situbondo akan datang kemari dan menanyakan kesanggupanku dalam memimpin NU. Saya akan katakan pada mereka mengenai pengunduran diriku ini,†kata KH. Idham seraya menarik nafas panjang. Suaranya terdengar mantap, penuh kepastian.
“Umat akan sangat kehilangan pak Idham,â€
“Umat tidak akan pernah akan kehilangan saya. Aku akan selalu di sini kalau umat Islam membutuhkan bantuanku,â€
Aku tersenyum haru mendengar perkataan KH. Idham yang terdengar tenang nan berwibawa itu. Tanganku terasa panas ketika aku meraba telapak tangan KH. Idham dengan amat erat, mengelus-elusnya seraya menatapnya lekat-lekat. Aku berharap kunjungan kami ini bisa membawa dampak baik bagi kemajuan kesehatannya KH. Idham secara psikologis, meski kunjungan ini singkat. Aku benar-benar sangat berharap kalau persaingan diantara kubu KH. Idham dan kubu Gus Dur di tubuh NU bisa diselesaikan dengan baik, dan setelah mendengar keterangan langsung dari KH. Idham Chalid, sepertinya aku tak perlu merasa khawatir lagi, aku bisa merasa optimis akan harapanku ini.
Karena hari sudah makin sore, dan perjalanan pulang ke Bontam itu sangat jauh, kami akhirnya harus pamit kepada KH. Idham dan semua keluarganya. KH. Idham berusaha bangkit dari duduknya sewaktu aku berusaha bersalaman dengannya, ia mencoba untuk berjalan mengantarkan rombonganku. Aku bisa melihat kekhawatiran dari wajah istri dan segenap keluarga KH. Idham Chalid saat melihat KH. Idham memaksakan diri untuk berjalan.
“Jangan pak Kyai.. lebih baik pak kyai istirahat saja di kamar, pak kyai tidak perlu repot-repot mengantarkan kami ke luar. Biarlah kami keluar dengan dihantarkan keluarga pak kyai,†aku memegang pundak KH. Idham Chalid dengan lembut, tersenyum padanya.
KH. Idham menundukkan kepalanya, kemudian menarik nafas panjang. “Baiklah.. Allah menyertai kalian,â€
Perlahan-lahan aku mulai berdiri, membangkitkan seluruh tubuhku, kemudian kembali bersalaman dengan KH. Idham. “Assalamualaikum..â€
“Walaikumsalam..†katanya seraya menjabat tanganku erat-erat.
Setelah bersalaman, aku mulai berjalan meninggalkan KH. Idham dan berhenti di ruang tamu, menanti kesemua rekan-rekan ulamaku berpamitan dengan KH. Idham dan semua keluarganya untuk beberapa saat. Sekitar lima menit aku menunggu, akhirnya semua rombonganku telah menghampiriku dan kami semua berjalan bersama keluar rumah dengan diantarkan semua keluarganya KH. Idham Chalid. Setibanya di pintu gerbang rumah, kami kembali berpamitan dan bersalaman dengan semua keluarganya KH. Idham Chalid untuk terakhir kalinya. Kuperhatikan, raut wajah semua keluarganya KH. Idham, khususnya istrinya yang merasa begitu gembira mendapat kunjungan kami. Kami pun merasa sangat senang karena telah berkunjung ke Cipete, menjenguk KH. Idham. Bunyi klakson mobil bus telah dibunyikan, tanda kami sudah harus pergi, meninggalkan Cipete. Kami semua akhirnya berbalik melewati pintu gerbang rumah KH. Idham menuju mobil bus yang sudah menanti kami.
Di dalam mobil bus, kuperhatikan sekali lagi suasana di sekeliling rumah KH. Idham; Satu matahari yang mulai tertutupi awan mendung di atas rumah KH. Idham, membuat suasana siang menjadi hening nan syahdu. Kini terlihat sudah dengan sejelas-jelasnya, satu keheningan berhembus dari balik jendela bus, menyelimuti kesendirianku. Miris hati ini sewaktu melihat semua keluarganya KH. Idham yang di berdiri di depan pintu gerbang rumah dengan tangan yang melambai dalam sikap yang santun mengucapkan selamat jalan, Allah melindungimu.
Bab 5: Awal Mula Perjuangan
Pada sore hari menjelang waktu Maghrib, kami sudah di terminal Thatutatan. Di terminal tersebut, kulihat beberapa santriku sudah menanti kedatanganku. Seturunnya aku dari bus, beberapa santriku tersebut segera menghampiriku dan memelukku dengan erat sekali. Setelah berpamitan dengan semua rombongan, aku pulang ke rumah dengan menaiki kereta kuda delman. Setibanya di rumah, semua keluarga besarku menyambutku dengan penuh kerinduan, mereka semua bergantian mencium tanganku. Bagai raja, aku digiring oleh semua keluarga besarku ke dalam rumah. Betapa bahagianya diriku yang mengetahui keindahan dan keakraban yang dimiliki keluarga besarku. Ada begitu banyak keluarga hancur akibat stigma-stigma yang diberikan rezim pemerintahan. Dulu ada istilah ekstrem kiri bagi orang Komunis, dan sekarang mulai diperkenalkan oleh pemerintah rezim istilah ekstrem kanan bagi orang-orang beragama. Aku sangat berharap keharmonisan yang dimiliki keluargaku takkan hancur, dirampas
oleh kedzhaliman pemerintah rezim, karena mulai saat ini aku akan melawan pemerintah dengan hati nurani, dengan cara konstitusi. Langkah pertama adalah mengalahkan Jhonaro!
 Beberapa bulan lagi akan datang masanya bagiku untuk melawan Jhonaro di dalam pemilihan ketua umum PPP provinsi Bontam, apakah aku sudah merasa siap? Sementara aku masih terhantui oleh bayang-bayang yang mengharukan nan menyedihkan sewaktu aku mendampingi saat-saat terakhir Haji Samlawi dan berkunjung menjenguk KH. Idham. Sudah satu minggu aku mengurung diri di dalam rumah, tidak mengajar di pesantren seperti biasanya. Memikirkan kejahatan-kejahatan Orde Baru, benar-benar membuatku muak pada Soeharto.
Aku tak bisa selamanya menyiksa diriku dengan perasaan-perasaan yang tak enak di hatiku ketika mengingat yang lalu-lalu, tetapi suasana di rumah membuatku selalu teringat akan kejadian yang kemarin-kemarin. Aku harus berjalan-jalan ke luar rumah, melihat horison baru, menghilangkan beban bathinku. Aku sudah melakukan yang terbaik untuk umat, tapi tetap saja aku masih merasa bersalah. Bisakah aku menjadi seorang Individualis seperti para pengusaha-pengusaha Tionghoa CSIS (Center for Strategic and International Studies) yang kini mulai dirangkul Soeharto? Bisakah aku menjadi seorang klepto maniac seperti halnya Ibnu Sutowo di Pertamina? Dan bisakah aku menjadi seorang oportunis seperti halnya Soeharto sendiri? Lebih baik aku mati sengsara dalam kehinaan di masa sekarang, tak tega hatiku bila aku menjadi orang yang terpuji di mata rakyat awam dan di dunia Internasional, khususnya Amerika, namun pada hakikatnya aku ini tak lebih hinanya daripada seorang
perampok. Kelak sejarah akan membuktikan bahwa aku sepenuhnya manusia sejati, yang teguh dalam memegang prinsip moral, prinsip agama!
Boleh jadi sekarang Soeharto sedang menikmati puji-pujian dan penghormatan dari seluruh negeri di dunia yang merasa diuntungkan oleh kepemimpinannya Soeharto, tetapi kita lihat saja, waktu yang akan menjawab siapakah yang benar dan siapa yang salah. Kelak dia akan membayar semua perbuatan jahatnya pada semua rakyat Indonseia yang telah ia bodohi.
Subhanallah!
Betapa bencinya aku kepada Soeharto, rasa benciku pada Soeharto melebihi rasa benciku kepada Syaitan Ijajil karena kejahatan Soeharto itu jauh lebih berasa, jauh lebih nyata, jauh lebih membunuh, jauh lebih menghinakan martabat umat daripada kejahatan Syaitan Ijajil yang hanya bisa berbisik memberi godaan saja kepada setiap manusia. Pengakuannya sebagai muslim pun sangat diragukan ketika pada tahun-tahun awal ia mulai berkuasa, ia mengadakan acara tumbal sesajen kerbau yang di penggal dimana kepalanya dibawa jauh-jauh untuk di buang ke ujung kulon, dipendam ke dalam tanah, kemudian kembali memenggal satu kerbau lagi dalam waktu yang bersamaan, lalu kepala kerbaunya dibuang ke ujung pulau Jawa lainnya yang berada di Banyuwangi. Dan itu masih belum cukup! Setelah kedua kepala kerbau itu ditanam dalam-dalam ke tanah di dua tempat yang berjauhan, sang kepala dukun istana, Moertopo (Jendral Ali Moertopo; kepala BAKIN/Badan Koordinasi Intelijen Negara) terbang
dengan helikopternya menuju pulau Nusa Barung untuk mengambil bunga langka bernama bunga Wijaya Kusuma yang nantinya akan dipersembahkan kepada yang mulia Soeharto. Menurutnya, bunga Wijaya Kusuma itu sangat ampuh untuk melestarikan kekuasaan Soeharto karena sejak jaman raja-raja kuno di Jawa, para raja selalu menyimpan bunga Wijaya Kusma disamping singgasananya. Banyak orang tidak tahu akan hal ini, tapi aku tahu, aku mengetahuinya dari salah seorang lulusan santriku yang kini bekerja sebagai sipir di pulau Nusa Kambangan; Letak pulau Nusa Barung itu memang sangat berdekatan dengan pulau Nusa Barung.
Astaghfirullahalladzim! Astaghfirullahalladzhim!
Sudah bermain-main jadi Tuhan saja Soeharto ini, dia mencoba menjadi Firaun yang lebih mendengarkan perkataan dukun daripada nasihat orang saleh!
Adakah yang berani mengatakan padaku mengenai kemusyrikan Soeharto? Dengan ancaman todongan senapan laras panjang buatan Amerika yang diarahkan ke kepala kita, sekali lagi kutanyakan, apakah ada yang berani mengatakan; dimanakah ada pemimpin negeri yang mengaku beragama Islam tetapi memusuhi dan membunuhi para ulama kalau bukan di Indonesia? Mungkin bukan satu-satunya, tetapi cukup jelas sekali untuk bisa dilihat.
Selalu terasa seperti ingin meledak saja kepalaku ini jikalau aku memikirkan kedzhaliman Soeharto, kurasa ada baiknya kalau hari ini aku keluar rumah. Kuputuskan bagi diriku untuk berangkat ke pasar, mengamati kegiatan keseharian masyarakat Bontam di pasar tradisional. Tetapi, sebelum aku hendak berangkat ke pasar, aku harus mengganti pakaianku. Aku tak mau berpenampilan sebagai ulama terpandang ketika aku menghabiskan waktu, mengamati kegiatan di pasar. Kucari-cari baju kaos putih yang biasa dipakai petani di dalam lemari bajuku. Dan ketika aku telah mengenakan baju petaniku dan celana silat komprang warna hitamku, tibalah saatnya kulihat diriku di cermin kaca. Ya! Kuasa sudah cukup, kini aku sudah telihat seperti kuli pasar. Hari ini aku akan pergi menyamar ke pasar, mungkin aku akan duduk-duduk di warung kopi seraya bercakap-cakap dengan para kuli angkut di pasar. Inilah yang dimaksud dengan menghilangkan kepenatan di kepala!
Pada saat aku sudah siap untuk meninggalkan rumah, istriku menahanku di depan beranda rumah seraya mengangkat alisnya padaku dengan heran. Meski begitu, Mae sudah terbiasa dengan segala kebiasaanku yang kadang-kadang sedikit di luar kewajaran.
“Mau ke sawah?†tanya Mae.
“Tidak, aku tidak akan pergi ke sawah,†kataku, seraya tersenyum simpul kepada istri tercintaku, Maesaroh.
“Jadi, abah mau pergi kemana?â€
“Hari ini aku tidak akan ke sawah.. tetapi hari ini aku akan berangkat ke pasar Cinanggung; sore aku pasti sudah kembali,â€
“Ke Pasar? Dengan pakaian seperti itu?†kata Mae, kembali mengangkat alisnya dengan penuh keheranan.
“Ya..†ujarku, bersemangat namun santai, berusaha memperlihatkan keriangan agar Mae tidak begitu mengkhawatirkanku.
“Apakah abah perlu ditemani? Denganku? Ataukah dengan Qosim?â€
“Tidak.. aku ingin ke pasar sendirian. Engkau tidaklah perlu terlalu mengkhawatirkanku,†ujarku, kemudian mengecup kening istriku yang sudah dipenuhi kerutan-kerutan akibat usia yang menua. “Aku akan baik-baik saja, abah hanya ingin menghilangkan kepenatan abah saja, melihat horison baru. Abahmu ini masih merasa sedih akan kematian Haji Samlawi..â€
Mae diam saja tak menjawab, rupanya ia mengerti maksudku. Sambil tersenyum ramah aku berjalan meninggalkan Mae di beranda menuju pintu pagar gerbang rumahku. Letak pasar tradisional Cinanggung itu tidaklah begitu jauh dari rumahku, aku bisa menempuhnya hanya dengan berjalan kaki, aku masih cukup kuat. Banyak orang-orang desa yang menyapaku dan menanyakan tujuan keberangkatanku ketika aku berjalan melewati rumah-rumah para penduduk di desaku. Aku balas sapaan mereka dengan ramah penuh kelembutan. Aku tetap berjalan kaki menuju pasar meski sudah ditawari tumpangan motor oleh para penduduk. Aku tahu betul makna keheranan yang bisa kutangkap dari semua tatapan para penduduk kampung yang memandangiku, dan memang begitulah tujuanku. Aku tak mau dikenal sebagai ulama, aku ingin dikenal sebagai orang biasa, maka kupakailah baju kaos oblong warna putih yang biasa dipakai petani atau kuli pasar.
Ketika aku sudah tiba di pasar tradisional Cinanggung, aku memandangi orang-orang yang sibuk bertransaksi, tak ada satupun dari mereka yang mampu mengenaliku dan aku senang akan keadaanku yang terasing tanpa ada yang memperdulikan. Hari ini dirasa amat panas, maka kuputuskan untuk berteduh dan memesan minuman teh pada sebuah warung nasi yang terletak tidak jauh dari kios beras. Aku duduk bersama seorang lelaki tua yang berkumis tebal, dengan lengan yang besar, nampak otot-ototnya menyembul dari kedua lengannya. Meski begitu, lelaki tua itu bertubuh kecil, dan ia mengaku sebagai seorang kuli angkut. Sambil melepas lelah di warung nasi, kami berdua memandangi sebuah mobil truk militer berukuran besar yang diparkirkan di depan kios beras, tempat teman baruku bekerja. Saat kami baru saja menghabiskan minuman kami, seorang lelaki paruh baya menghampiri kami. Tubuh lelaki paruh baya itu berukuran lumayan besar, berperut buncit, berjanggut dan memakai peci haji
warna putih. Lelaki itu memanggil temanku untuk membantu mengangkut karung-karung beras ke atas truk militer yang berada di hadapan kami. Teman yang baru saja kukenal itu langsung bangkit meninggalkanku, menuruti permintaan lelaki berpeci haji yang tak lain adalah majikannya.
Kulihat teman yang baru kukenal itu masuk ke dalam toko, kemudian bergegas seorang diri menyeret beberapa karung-karung beras satu demi satu. Ia terlihat kerepotan dengan pekerjaannya itu.
“Mang,†ujar temanku kepadaku, bicara sangat cepat. “Bisa tolong bantu aku mengangkut karung-karung ini?â€
“Tentu..†kataku, kemudian bangkit meninggalkan warung, membantu temanku.
“Bagaimana aku bisa membantumu?â€
“Sebenarnya aku enggan meminta bantuanmu, melihat keadanmu yang sudah tua,â€
“Engkau pun sepertinya sama tuanya denganku. Kurasa aku masih sanggup untuk mengangkut beberapa karung-karung beras ini, aku akan berusaha semampuku untuk membantumu,â€
“Baiklah, sekarang, kau bantu aku dengan memegang kedua ujung karung beras di sebelah sana.. sedangkan aku di sebelah sini, kita naikkan karung-karung beras ini ke atas mobil satu demi satu, apakah kau bisa melakukannya?â€
“Tentu,†jawabku, kemudian segera melepas kacamata minusku, menyimpannya dalam saku celanaku, dan mulai membantu temanku.
Satu per satu, dari kesepuluh karung beras itu kami angkut bersama-sama, menaikkannya ke atas mobil truk militer, namun ketika kami baru saja selesai mengangkat karung beras yang ke lima, kami berdua benar-benar merasa kelelahan. Untuk sejenak kami berdiri seraya menghela nafas panjang dan memandangi sisa lima karung yang masih tergeletak di bawah kaki kami, menunggu untuk dinaikkan ke atas mobil. Dan begitu kami sudah mendapatkan tenaga kami kembali, kami pun melanjutkan pekerjaan kami.
Kami mulai berlutut. Celana komprang temanku robek dan ia tidak malu, melainkan hanya tersenyum saja dan kembali melanjutkan pekerjaannya menaikkan karung beras ke atas mobil bersamaku. Akhirnya! Selesai juga kesepuluh karung-karung beras itu kami naikkan ke atas mobil truk, aku segera menggosok kedua mataku, mencoba membersihkannya dari debu-debu karung, kemudian menyeka keringat dari keningku.
Sang prajurit militer kelihatannya sangat puas akan hasil pekerjaan kami. Teman kuliku segera menghadapnya bak anak buah di kemiliteran sewaktu dirinya dipanggil oleh si pemilik mobil. Mukanya terlihat berseri-seri sewaktu dirinya mendapat upah sebesar Rp.500. terdengar mulutnya berucap dengan berulangkali. “Terima kasih pak.. terima kasih,â€
Dan setiap temanku mengatakan perkataan ‘Terima kasih’, jangat keningnya berkerinyut, mengkerut layaknya pipi kakek-kakek tua yang ompong. Sementara sang tentara pemberi upah terlihat ada kebanggaan di raut wajahnya, kumisnya yang tebal seakan mempertegas kebanggaan itu. Namun, nampaknya ia hendak menambahkan rasa kebanggaanya itu dengan memanggilku; hendak memberi upah padaku. “Kemari kau pak tua,â€
Dengan penuh kerendahan diri layaknya budak yang menghadap kepada majikannya. Aku segera menghampiri sang tentara dengan kepala tertunduk. Yang kulihat hanya sepatu larsnya yang hitam dan tebal “Ya.. tuan,â€
“Ini upahmu.. ambillah,†katanya, seraya menyodorkan uang selembar senilai Rp. 500.
Kuambil uang itu, kemudian aku rogoh sakuku mencari uang recehan, meraba-rabanya, lalu mengeluarkan uang recehan senilai empat ratus rupiah yang berjumlah empat lembar. “Makasih tuan..tetapi upahku cukup sebesar Rp. 100 saja.. bagiku upah sebesar Rp. 500 itu terlalu banyak bagiku. Sekarang, silakan tuan ambil uang kembalian dariku sejumlah Rp. 400,†kataku seraya menyerahkan 4 lembar uang kertas berjumlah Rp.400
Sang tentara menatap tajam padaku, terheran-heran. Pasti ia menganggapku gila, aku tidak peduli. Aku tak ingin memakan uang darinya dengan nilai yang menurutku terlalu besar, apalagi uang dari tentara, lagipula niatku adalah untuk membantu teman kuli angkutku, dan aku menerima upah dari tentara ini hanya sebagai penghormatan saja, aku tak mau menyinggungnya dengan menolak upah yang diberikanya kepadaku. Sejenak tentara itu hanya bisa menatapku tajam bercampur heran, ia enggan mengambil uang kembalian dariku, namun tanganku yang tengah memegang uang kembalian tetap kusodorkan di hadapan tentara itu. Tentara itu akhirnya mengambil uang kembaliannya dari tanganku dengan masih menatap heran padaku. Aku pun segera pergi dari hadapannya sambil mengucapkan salam, aku tak hendak berdebat panjang lebar dengan tentara itu. Bisa-bisa kepalaku digebuk pistol Revolver buatan Paman Sam, siapa tahu! Â
Ketika aku berbalik memunggungi sang tentara dan temanku yang masih pula menatapku dengan perasaan yang heran, aku tahu kalau aku akan dianggap aneh, tapi biar saja! Aku mantapkan langkah kakiku dan mulai berjalan meninggalkan mereka bedua, dan ketika aku baru saja berjalan beberapa langkah, aku mendengar satu suara yang keluar dari mulut sang tentara mengatakan ‘Dasar Sinting’. Perkataan Dasar Sinting itu sudah jelas dimaksudkan untukku. Aku hanya tersenyum saja tanpa menoleh ke belakang, bahkan hatiku senang, sepertinya sudah saatnya bagiku untuk pulang.
Setelah aku sudah berjalan keluar dari pasar tradisional Cinanggung, aku kini memasuki areal jalanan raya yang kondisinya sudah banyak berlubang. Areal jalan raya berlubang itu terbentang dari bagian utara pasar Cinanggung hingga ke punggung bukit. Dan kemudian keramaian pasar pun mulai menghilang, tak ada lagi perumahan-perumahan penduduk ataupun warung-warung yang bisa kutemui di sepanjang jalan yang kini kuinjaki. Kini, hanya ada pepohonan-pepohonan dan hamparan sawah yang menguning yang bisa kulihat di sepanjang sisi jalan raya. Namun, betapa kagetnya diriku ketika di tengah perjalanan menuju rumah, aku di tegur oleh satu suara yang memanggil namaku dari arah belakang punggungku, dan ketika kutengok ternyata orang yang menegurku adalah Haji Jakaria.
Haji Jakaria merasa heran melihat penampilanku yang tidak biasanya, tetapi dia juga merasa senang karena bisa bertemu denganku di tengah jalan, kebetulan sekali ia memang hendak ke rumahku. Ia menawarkan tumpangan padaku untuk dibonceng di atas motor CB-nya.
“Abah.. ikutlah bersamaku.. kebetulan ada sesuatu yang hendak kubicarakan dengan abah,†katanya padaku.
“Baikk..†aku segera naik ke jok belakang motor CB-nya, dan kemudian motor itu pun meluncur menuju rumahku, melewati jalan-jalan setapak di pedesaan, lalu melintasi jalan-jalan setapak di pesawahan.
“Abah habis darimana?†tanya Haji Jakaria seraya sibuk mengendalikan motornya, menghindari jalan-jalan yang berlubang di jalanan setapak pesawahan menuju rumahku. Â
“Aku baru saja dari pasar,â€
“Pasar..?â€
“Ya.. aku baru saja berjalan-jalan di pasar, mengamati kegiatan sehari-sehari masyarakat di sana!â€
“Ooo..†Haji Jakaria mengangguk-nganggukkan kepalanya, tak berusaha bertanya lebih jauh lagi.
Di depan sana, kami bisa melihat pagar pintu gerbang rumahku. Saat memasuki halaman depan rumahku yang luas dan melewati kebun buah-buahan, lalu di depan beranda rumahku, motor CB yang kami naiki itu diparkirkan. Begitu motor Haji Jakaria sudah diparkirkan, aku meminta haji Jakaria untuk menunggu di teras rumahku sementara aku masuk ke dalam rumah, hendak ganti baju.
“Tunggulah di sini sampai aku ganti baju, aku akan minta pembantuku untuk memberikanmu minuman,†kataku.
“Terima kasih,â€
Beban kesedihanku mulai menghilang secara berangsur-angsur ketika aku memasuki rumahku kembali. Di dalam ruang dapur, kumasuki tempat cuci piring dan mulai kuputar dan kubuka kran air untuk membasuh mukaku dengan kesegaran air bawah tanah yang dipompa oleh mesin Sanyo (mesin pompa air buatan Jepang). Saat aku sudah selesai membasuh mukaku, aku mendapati istriku sudah berdiri di belakang, memperhatikanku sejak lama tanpa aku menayadarinya. Mae tersenyum padaku. Dengan penuh kesetiaan, rasa kebaktian terhadap sang suami, ia membantuku memakaikan baju koko-ku yang berwarna putih dengan motif anyaman bunga-bunga berwarna putih di lengan baju koko-ku. Ia pun dengan penuh kasih sayang, memakaikan peci hajiku ke atas kepalaku, kemudian menatapku lekat-lekat sambil tersenyum ramah. Hatiku tak kuasa menahan keharuan saat melihat kesetiaannya padaku. Aku peluk Mae erat-erat lalu kukecup keningnya pelan-pelan.
“Sekarang aku pergi dulu.. Haji Jakaria sudah menungguku di teras,†kataku, kemudian meninggalkan istriku.
Seraya berjalan menuju teras, aku betulkan sorban yang melilit di tengkukku dan mengencangkan sarung yang melilit di pinggangku. Haji Jakaria langsung bangkit dari duduknya begitu ia melihatku keluar dari dalam rumah. dengan takzim ia menghampiriku dan mencium tanganku.
“Sudahlah... jangan terlalu berlebihan.. mari kita duduk,†kataku, seraya mempersilakan Haji Jakaria kembali duduk.
Kami duduk-duduk bersama di beranda rumah, menyandari punggung kami pada kursi jati yang kokoh dan menatap pemandangan tanaman-tanaman hias, dan juga pepohonan buah-buahan yang terdapat di kebunku. Seharusnya orang yang duduk dengan menatap pemndangan seindah nan hijau itu sudah bisa merasa tenang pikirannya. Namun tidak dengan Haji Jakaria, ia terlihat begitu gelisah di hadapanku. Sibuk sekali ia membetulkan posisi duduknya. Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â
“Engkau terlihat gelisah temanku, katakanlah padaku apa yang mengganggu pikiranmu?†tanyaku.
“Pengamatan abah terhadapku tidaklah salah. Sesungguhnya aku mengkhawatirkan akan pemilihan ketua umum PPP nanti. Saya khawatir Jhonaro akan mengalahkan abah. Karena saat ini pendukung Jhonaro di PPP makin bertambah banyak,â€
“Benarkah itu? mengapa bisa begitu? Bukankah nama Jhonaro itu sendiri itu sangat asing di mata umat Islam Bontam, bahkan sangat tidak dikenal. Bisa jadi dia seorang non muslim!â€
“Itu semua karena Soeharto sendiri telah menggelontorkan dana sebesar puluhan ribu dolar untuk mensukseskan Jhonaro menjadi pemenang di PPP. Dan kalau dia menang, maka nasib PPP akan menjadi sama dengan kelompok lain, partai tambahan pendukung pemerintahan Soeharto,â€
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?â€
“Aku punya banyak sumber informasi di tiap instansi pemerintahan. Abah akan sangat terkejut begitu banyak murid pengajian mingguanku yang bekerja di dinas kepolisian, kejaksaan, dan pemerintahan daerah,â€
“Lalu, apakah warga NU Bontam banyak yang bersimpati dengan Jhonaro?†tanyaku.
“Ada.. namun jumlahnya tidak seberapa bila dibandingkan dengan ketiga partai Islam lainnya yang ada di PPP. Semua anggota PNU sudah mengetahui betul reputasi dan latar belakang abah yang merupakan kyai pejuang,â€
“Namun itu tidak cukup, meskipun orang-orang NU yang ada PPP itu mayoritas, tetapi saya mengkahawatirkan ketiga partai Islam lainya,â€
“Oleh karena itu, saya dan kawan-kawan saya di NU selama beberapa hari terakhir ini, kami telah melakukan pendekatan kepada ketua-ketua partai Islam, memberikan pengertian mengenai Soeharto yang berada di balik pendanaan kampanye Jhonaro. Dan Alhamdulillah, semua tokoh-tokoh tiga partai itu sudah mengerti semua penjelasan yang telah kuberikan. Namun, saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti,â€
“Ya.. kita berharap saja agar Jhonaro gagal. Saya tak mau umat Islam di Bontam menjadi antek pemerintahan rezim Soeharto. Biarlah propinsi Bontam menjadi yang propinsi yang tertinggal daripada menjadi proyek pembangunan Soeharto yang banyak korupsinya. Saya tak tega melihat propinsi Bontam ini dirampok oleh orang-orang dari Jakarta dengan memakai orang daerah Bontam sebagai anteknya,†aku menarik nafas dalam-da;am, dan kemudian mengeluarkannya dengan perlahan-lahan.
“Rakyat Bontam sudah banyak menderita kerugian, dulu Belanda, Jepang telah merampok hasil bumi dari Bontam, dan kemudian datang Komunis yang merebut lahan-lahan pertanian milik kita, mencoba menghapus hak kepemilikan pribadi di negeri ini. Dan sekarang, datang rezim Orde Baru yang tidak ubahnya dengan Komunis,†lanjutku seraya menggigit bibir dengan mata yang menatap kosong, menerawang membayangkan susahnya jadi orang Islam di bumi Bontam, di negeri Indonesia.
“Abah benar, kita telah berusaha keras! Sisanya kita hanya bisa berdoa mengharapkan bantuan dari Allah,â€
“Subhanallah..†aku menundukkan kepalaku, menggeleng-gelengkan kepala. Pusing!
**
Pada hari pemilihan ketua umum PPP propinsi Bontam, aku telah dihadapkan oleh berbagai kelompok penentang, sebagian dari kalangan tentara, sebagian lagi dari kalangan sipil bahkan dari kalangan PNU juga ada, yang sebenarnya aktor utamanya sama, pemerintahan rezim Soeharto!
Sekarang, pada saat-saat genting seperti hari ini, tampak tentara-tentara militer sudah berjaga di setiap sudut arena pemilihan Ketum (Ketua Umum) PPP yang diadakan di pesantrennya haji Jakaria. Semua tentara yang berjaga itu bertampang sangar dan semakin menunjukkan kesigapannya. Sejumlah mobil jeep disiapkan, dalam posisi mengepung pesantren, sehingga tidak memungkinkan bagi semua pendukungku bisa dengan mudahnya meloloskan diri dari arena pemilihan ketuam PPP. Para kiai merasakan kesedihan luar biasa, tetapi berusaha menahan air mata atas apa yang terjadi hari ini. Yang bisa mereka lakukan hanyakah meremas tasbih mereka dengan jarinya, membaca kalimat puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa.
Sejak prosesi pembukaan acara pemilihan ketum, memang Soeharto sudah memberikan isyarat bahwa dia sudah benar-benar tidak menghendaki orang dari kalangan agama untuk terpilih menjadi Ketua Umum di PPP lagi. Hal itu sudah bisa dilihat dari ketatnya penjagaan para tentara yang mengawal acara pemilihan ini. Begitu juga dengan para kepala daerah, mulai dari gubernur hingga ke tingkat lurah pun sudah menunjukkan hal itu. Meski begitu, kami tetap berjuang dengan penuh keoptimisan, proses pemilihan ketum tetap dilaksanakan walaupun dengan berbagai tekanan dan intimidasi.
Ada lima kandidat yang diusulkan dalam pemilihan ketum PPP, dan dari kelima kandidat yang diusulkan terdapat hasil yang sangat mengejutkan yaitu, terdapat dua kandidat utama dalam pemilihan ketua umum PPP Provinsi Bontam yaitu aku dan Jhonaro. Dalam putaran pertama, aku mengumpulkan 130 suara, Jhonaro 110 suara, Chumaedi dari PSII mendapatkan 30 suara, Khujaeri dari Perti mendapatkan 15 suara, dan Kosasih dari  Permusi mendapatkan 9 suara.
Di putaran kedua nanti, sudah bisa dipastikan 15 suara dari Khujaeri akan diberikan kepada Jhonaro. Memang selama ini, Khujaeri adalah pendukung terkuat Jhonaro, kudengar dari Haji Jakaria kalau dia telah mendapatkan uang banyak dari Jhonaro. Sekarang yang menjadi penentu adalah 30 suara yang mendukung Chumaedi dan 9 suara yang mendukung Kosasih. Hasil putaran pertama ini merupakan hasil mengkhawatirkan bagi kubu kami. Malam sudah kian larut ketika prosesi putaran kedua pemilihan ketum ini dilaksanakan. Tentara-tentara pemerintah yang berjaga ketat di luar pesantren makin menegangkan suasana. Aku dan Jhonaro diberikan kesempatan untuk berpidato mengenai visi dan misi kami kepada ratusan anggota PPP yang kebanyakan adalah para kiai di seluruh Bontam. Giliran pertama adalah Jhonaro. Dalam pidatonya ia banyak menguraikan mengenai pentingnya visi pembangunan pemerintahan fisik bagi negeri ini dan terlebih bagi Bontam. Ia menjanjikan bahwa jika dirinya
terpilih menjadi ketum PPP, ia akan melobby pemerintah pusat agar pembangunan infrastruktur di provinsi Bontam bisa diperbaiki, bahkan lebih jauh, ia berani menjamin kalau dirinya terpilih menjadi ketua umum, ia akan memperbaiki semua infrastruktur di Bontam dalam masa dua tahun kepemimpinannya. Sungguh luar biasa!
Satu pidato yang sangat menggoda, kurasa takkan ada kandidat lain yang bisa menawarkan sebanyak itu kepada umat Islam Bontam. Infrastruktur adalah kebutuhan vital bagi usaha pertanian para kyai dan masyarakat Bontam. Dan takkan ada yang meragukan kedekatan Jhonaro dengan Soeharto. Satu jaminan darinya merupakan satu kepastian. Hanya saja, untuk mendapatkan semua pembangunan inftrastur itu, para anggota PPP juga para kiai sepuh, harus mengorbankan iman dan prinsip mereka dalam kebenaran demi mendukung pemerintahan rezim yang dzhalim. Apakah itu sepadan? Itu terserah pada para kiai dan para anggota PPP yang sekarang hadir di ruangan ini. Untuk saya sendiri, saya tidak bisa memberikan seperti apa yang bisa dijanjikan Jhonaro. Apakah yang bisa kutawarkan kepada anggota PPP Bontam? Apa yang bisa kuberikan pada umat Islam di Bontam? Seringai musang nan licik yang diberikan Jhonaro padaku sewaktu aku mulai berdiri di podium benar-benar membuatku mual.
Jantungku berdetak sangat kencang, nafasku keluar masuk dengan terburu-buru dari dalam dadaku, di podium aku mencoba menenangkan diri dengan memejamkan mata sejenak dan mulai membaca kalimat Laa Haula wala Quwwata Illa Billah (Tiada daya dan upaya hanya dari Allah) dan shalawat Nabi. Kubuka mataku dan melihat ratusan kiai yang menanti keluarnya kata-kata dari mulutku. Aku tak bisa berjanji! Terlebih lagi, aku tak bisa berbohong. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan selain harus jujur mengenai keadaanku yang riil, keadaan umat Islam Bontam yang riil, keadaan penguasa sekarang yang riil. Aku tak bisa menawarkan solusi, tapi aku bisa memberikan sumbangsih tenaga dan pikiran.
Walaupun ruangan pertemuan sekarang terasa begitu sesak oleh peserta rapat, tetapi terasa sunyi karena menungguku untuk berbicara. Di mataku, meskipun partai asal-asalan seperti PPP ini didirikan rezim untuk memberangus suara apirasi umat, dan sekarang akan diperparah dengan mencoba dimenangkannya Jhonaro di PPP, tetapi PPP layak aku perjuangkan demi kemurnian dan kejujuran suara umat di negeri ini. Aku tak tahu bagaimana PPP di propinsi-propinsi lainnya, tapi aku menghendaki kalau PPP di Bontam ini tidak boleh dimasuki orang dari luar apalagi titipan Kamtib yang merupakan utusan Soeharto. Ciri orang Islam adalah jujur, kejujuran! Aku akan mulai pidatoku dari situ, dari kejujuran.
“Aku bukanlah orang yang tepat untuk memimpin kalian, tetapi aku adalah pilihan yang tepat daripada pilihan yang ada pada hari ini. Itu bisa aku katakan sekarang! Aku bukanlah yang terbaik diantara kalian, tetapi akulah yang terbaik dalam pilihan yang tersedia pada hari ini. Itu bisa aku katakan dengan pasti! Bontam adalah tempat konsentrasi penduduk Islam yang terbesar di seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Kita mempunyai sejarah yang membanggakan, kita bangga untuk menceritakannya pada anak cucu kita, sejarah leluhur kita, sejarah nabi kita: Nabi Muhammad S.A.W, para Khulafar Rasyidin, para wali, para sultan, para kyai, para santri!
“Tetapi, mengapa sekarang kita menjadi kerdil, tak memiliki identitas, tak memiliki kebanggaan, kita mudah sekali terbuai oleh godaan bendawi, godaan kekuasaan dan yang lebih menghinakan; godaan wanita, apakah karena kemiskinan yang membuat kita sedemikian kerdil? Mengapa kita melupakan umat, meninggalkan iman Islam? Ya, Iman! Itulah identitas kita yang sejati, imanlah yang membedakan kita dengan orang-orang yang korup. Aku benci kalau ada orang Islam yang masih belum menyadari kalau dirinya dan agamanya itu tengah diinjak-injak, diludahi, bahkan diberaki oleh penguasa rezim saat ini.
“Apakah kalian sudah mengetahui julukan baru yang telah diberikan penguasa pada kita? Ekstrem kanan! Mereka menyebut kita ekstrem kanan. Bisa-bisanya mereka menyamakan kita, menyandingkan kita dengan Komunis yang biasa disebut ekstrem kiri. Kita harus buktikan mereka salah, kita bukanlah orang radikal, oleh karena itu kita harus tetap menjadi kekuatan moral yang kuat di negeri ini, tetap memberi nasehat dan masukan-masukan yang konstruktif untuk penguasa, meskipun penguasa tidak akan mendengarnya.
“Untuk bisa menjadi kekuatan moral di negeri ini, maka di PPP ini jangan sampai masuk intervensi pemerintah ke dalam tubuh PPP. Seperti... baik.. aku akan mengatakannya sekarang, aku takkan ragu-ragu lagi.. seperti Jhonaro ini,†ujarku seraya menunjuk pada Jhonaro yang duduk di belakangku, di belakang Podium.
Ketika aku berniat untuk membuka kedok Jhonaro di depan umum, ia nampak tegang pada wajahnya, matanya membeliak, perutnya yang gendut tertarik mengempis ketika dadanya mengembang saat Jhonaro menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, ia tak bisa menghentikanku dalam mengatakan kejujuran. Orang bohong tentu mati kutu!
“Sekarang kutanyakan pada kalian.. Ooo.. para kiai yang kini hadir disini, apakah kalian mengetahui siapa sesungguhnya Jhonaro? Bagaimana latar belakangnya? Adakah yang tahu? Biarlah aku mengatakannya pada kalian sekarang juga. Jhonaro adalah seorang pensiunan pegawai kejaksaan pusat di Jakarta.
“Menurut keterangan yang kudapat dari sumber terpercaya, Jhonaro adalah seorang pensiunan pegawai kejaksaan. Ketika dia masih dinas, ia sangat loyal terhadap Golkar. Nama asli Jhonaro adalah Jhonaro Bububhuluk, dan dia seorang Muallaf, aku sendiri tidak tahu jelas motif utama dia menjadi seorang Muallaf’. Ooo.. saudaraku, Bagaimanakah dia mampu menjadi perwakilan aspirasi suara umat Islam, menjadi pemimpin di PPP, kalau dirinya sendiri utusan Kamtib, yang jelas-jelas bukan dari latar belakang pesantren ataupun ulama; saya bahkan yakin kalau dia belum hafal huruf Hijaiyah! Tempatnya bukan di PPP!
“Bukan karena kami diskriminasi, tetapi memang sudah begitu peraturan yang dibuat pemerintah. Dan sekarang, pemerintah hendak melanggar aturan yang mereka buat sendiri. Ini tidak benar! Semua ini pasti ada maksud tersembunyi. Apa itu? tak lain untuk menghancurkan identitas kita sebagai muslim yang jujur agar menjadi antek penguasa,†seruku dengan semangat yang berapi-api.
Semua peserta rapat langsung bergemuruh, mereka semua sibuk berdiskusi dengan sesamanaya mengenai kebenaran pidato yang baru saja kusampaikan. Sementara itu, kuperhatikan Jhonaro menjadi salah tingkah, ia tidak betah dengan dengan tempat duduknya, tetapi ia juga terlihat kesal menahan amarah. Mukanya merah, keningnya yang basah berkeringat ia pegangi dan ia pijit, sesekali ia buka peci hitamnya, kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang botak.
“Hanya itu saja yang bisa kusampaikan kepada para kiai yang sekarang berada di sini. Aku tak bisa memberikan janji dan harapan-harapan kosong. Tetapi aku menawarkan identitas, menawarkan integritas, menawarkan iman. Manakah yang kalian pilih? Itu semua kuserahkan pada kalian. Kuserahkan dalam demokrasi, Assalamualaikum..†lanjutku, kemudian segera turun dari podium, kembali bergabung bersama tim suksesku yang terdiri dari, Haji Jakaria, Qosim dan beberapa warga NU Bontam yang mendukungku.
Sepanjang malam kami semua sibuk dalam kegiatan proses penghitungan suara putaran kedua, suatu proses yang panjang. Ketika proses penghitungan suara berlangsung, kami semua menanti dengan rasa was-was. Kami sudah kehabisan akal jika membayangkan Jhonaro menang. Entah kami harus berbuat apa lagi untuk kemaslahatan umat. Bagiku, jika Jhonaro menang maka aku lebih memilih mengasingkan diri saja seperti sebelum-sebelumnya. Aku sudah berusaha keras, kami semua berusaha sangat keras. Sekarang, di penghujung pagi, hasil penghitungan suara pun diumumkan. Aku memperoleh 179 suara, sedangkan Jhonaro memperoleh 125 suara. Ledakan kegembiraan para kiai menyapu seluruh arena tempat pemilihan berlangsung. Di luar arena, di halaman pesantrennya Haji Jakaria, para santri juga para kaum muda PPP, yang sedari tadi sudah menanti dengan cemas, melampiaskan kegembiraannya dengan berteriak-teriak; “Allahu Akbar.. Allahu Akbar,â€
Jhonaro Bhububuluk akhirnya kalah, tersapu keluar dari PPP. Satu kabar yang menggembirakan hati kami. Semua peserta rapat yang umumnya terdiri dari para kiai segera mengerubungi aku, bergantian memberikan ucapan selamat. Dan memang pada saat-saat kemenangan seperti ini, aku sebenarnya tidak boleh merasa bahagia, karena ujian yang terberat bagiku dan umat Islam masih belum berakhir. Terlebih lagi ketika Jhonaro sudah gagal, tentu Soeharto akan memperketat pengawasannya padaku dan pada umat Islam di Bontam, mencari celah-celah kesalahan pada umat Islam agar ia bisa kembali mencoba melakukan penghancuran persatuan umat Islam di Bontam.
Kegembiraan ini bukanlah suatu kegembiraan sejati; intimidasi dan teror rezim pemerintahan terhadap umat Islam Bontam masih tetap mengancam. Kendati demikian, setidaknya, untuk hari ini saya bisa ikut berbahagia bersama semua orang yang memenuhi jalan-jalan setapak yang terdapat di halaman pesantrennya Haji Jakaria. Â
Di tengah kerumunan massa kyai yang berebutan hendak mengucapkan selamat kepadaku, kulihat Komandan Baedowi mencoba menghampiriku diantara ratusan massa. Dengan baju muliter berwarna hijau yang dikenakannya, Baedowi dengan sangat berani menerobos kerumunan massa anggota PPP hanya untuk mendekatiku. Tentu saja Baedowi merasa sangat berani untuk menghampiriku seorang diri diantara massa umat, keberanian itu muncul karena semua anak buahnya sudah berjaga-jaga di luar pintu gerbang pesantren. Ketika semua orang larut dalam hingar bingar kebahagiaan akan kemenanganku, Baedowi tersenyum padaku dan memberikan ucapan selamat.
“Abah, secara pribadi saya ucapkan selamat atas terpilihnya abah menjadi ketua umum PPP Bontam. Tapi, saya sebenarnya berharap abah tidak terjun ke dalam dunia politik; terlalu berbahaya, saya sangat mengkhawatirkan keadaan abah,†Baedowi menatapku dengan penuh harap, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya, terkadang kehidupan memang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Saya tak mengharapkan semua ini, dimana saya yang sudah tua renta ini dituntut kehidupan untuk berpetualang melawan Jhonaro di PPP. Tapi, saya memang harus melawannya,â€
“Oo Abah..†Baedowi memegang pundakku dengan lembut, memberikan empati.
“Itulah aku yang sekarang; sungguh ironis. Tapi cukup tentang aku, kudengar kamu sudah mendapat kenaikan jabatan menjadi Dandim (Komandan Kodim)?â€
“Itu benar,â€
“Selamat.. selamat,†aku segera menjabat tangan Komanda Baedowi. “Hanya saja.. apakah penjagaan ketat seperti sekarang ini dipandang sangat perlu?â€
“Saya juga tidak menghendaki intervensi militer seperti ini. Tapi, memang ini adalah perintah dari pusat. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Maafkan saya abah,â€
“Saya turut kasihan padamu; seharusnya engkau menjadi guru ngaji saja seperti yang dulu saya pernah sarankan,†aku tersenyum simpul pada Komandan Baedowi.
“Ya.. kurasa abah benar, ha..ha..,†Komandan Baedowi tertawa, kemudian merangkulku dengan erat. “Menjadi perwira militer dari golongan santri memang terasa sangat berat di masa sekarang. Tapi, untunglah aku bertugas di daerah Bontam; aku masih bisa bersilaturahim dengan abah, meskipun aku tak bisa menjadi menantu abah,â€
“Kau masih memikirkan itu, apakah engkau sudah menikah?†kataku.
“Belum abah, aku belum menemukan wanita yang tepat. Abah memang benar untuk tidak menikahkanku dengan putri abah, saya bisa mengertiâ€
“Oo.. Baedowi..†aku memegang pundak Baedowi dengan lembut, menatapnya dengan tatapan kasih sayang penuh empati, dan kemudian mengangguk-nganggukkan kepalaku dengan pelan-pelan. “Saya bersyukur kalau diantara kita tak ada kesalahpahaman,â€
Bab 6: Antara Rahmat Tak Terbatas dan Kesewenang-wenangan
Baru beberapa bulan dari masa kepemimpinanku di PPP; hampir sebagian penduduk propinsi Bontam bersimpati pada PPP dan tertarik untuk menjadi simpatisan. PPP dan Golkar di propinsi Bontam telah menjadi kekuatan besar yang sama-sama imbang karena penduduk Bontam juga banyak yang menjadi simpatisan Golkar; saya tidak heran karena Golkar memang mengeluarkan modal besar untuk meraih empati rakyat; dalam hal materi, kami memang kalah dari Golkar. Persaingan diantara PPP dan Golkar semakin sengit ketika kami mulai membangun jaringan simpatisan di tiap pesantren-pesantren dan para petani, sementara Golkar membangun jaringan di Birokrasi dan Militer yang mendukung Golkar dengan bantuan dukungan dari senjata laras panjang.
Kami tahu betul kalau praktik pembangunan jaringan yang dilakukan Golkar itu melanggar hukum; namun kami tak bisa berbuat apa-apa. Mau menggugat ke hukum? Jangan harap! Keadaan yang imbang ini membuat umat Islam di Bontam menjadi semakin tertekan karena pihak penguasa yang makin sewenang-wenang terhadap kami. Kesewenang-wenangan itu mulai terasa ketika para kyai di Bontam tidak diperkenankan untuk membuat khotbah Jum’at sendiri sebelum melalui pengeditan dari pihak Kodim (Komando Distrik Militer). Ini menggelikan sekaligus merendahkan! Para ulama menjadi marah akibat penyensoran khotbah Jum’at ini, mereka merasa enggan untuk melapor ke kantor Koramil (Komando Rayon Militer) pada tiap hari Jum’at.
Akibatnya, banyak para ulama Bontam yang ditangkapi militer karena dituduh subversif; tidak mau bekerjasama dengan pemerintah dengan memberikan pidato khutbah Jum’at-nya ke kantor Koramil. Aku sendiri marah terhadap kebijakan penyensoran ceramah Jum’at ini, namun aku lebih memilih langkah kompromi; aku sadar bahwa senjata laras panjang buatan negeri Paman Sam ini tidak bisa dilawan emosi kekerasan, tetapi lebih baik dilawan dengan tasbih. Selama tidak merusak ketauhidan murni, aku akan mengikuti kemauan penguasa demi kebaikan yang lebih besar. Dari situlah aku mulai menjadi pengunjung rutin kantor Koramil pada tiap minggunya. Memuakkan! Â
Tentu, langkahku ini mesti disosialisasikan kepada semua ulama Bontam agar tidak terjadi tindak kekerasan sektarian di dalam masyarakat Bontam. Maka, pada hari itu aku memutuskan untuk datang berkunjung ke kantor Kodim untuk menemui para ulama Bontam yang telah ditangkapi militer. Di kantor Kodim, aku dan Qosim mendapat sambutan ramah dari Baedowi. Tak ada tindak aniaya yang dilakukan Militer terhadap kami; sebagai santri militer, Baedowi benar-benar sangat tahu cara memperlakukan gurunya dengan sangat baik. Saat kami masuk ke dalam ruang kerja Baedowi, kami disajikan minuman teh hangat dan sajian makanan kecil; pisang goreng. Aku sangat menghargai sambutan ramah yang diberikan Baedowi terhadap kami, namun aku tak bisa berlama-lama; tak ada waktu untuk percakapan santai. Kepada Baedowi aku utarakan niatku yang ingin menjenguk rekan-rekan ulamaku, sekaligus memberikan pengertian kepada semua ulama agar bisa lebih berkompromi kepada pihak otoritas.
Wajah Baedowi merah merona karena bahagia dengan mata yang berkaca-kaca; ia merasa lega saat mendengar niatku ini. Ia segera bangkit berdiri, memegang tanganku, dan berbisik padaku dengan penuh arti. “Terima kasih. Sesungguhnya, abah telah memberikan pertolongan yang besar padaku,â€
Baedowi segera memanggil anak buahnya yang merupakan staff pegawai negeri sipil di kantor Kodim untuk mengantarkan aku dan Qosim ke tempat para ulama ditahan. Saat aku tiba di sel tahanan para ulama, aku merasa sedih; tak patut orang semulia seperti mereka diperlakukan seperti ini. Wajah-wajah para ulama itu terlihat pucat, sorban dan baju yang mereka kenakan pun sudah terlihat kusam; mereka terlihat menyedihkan, terlihat sangat memprihatinkan, apakah ini balasan pemerintah terhadap semua jasa kami terhadap negara? Kudengar dari Baedowi bahwa kesemua ulama-ulama ini sudah mendekam di sel selama seminggu, keterlaluan! Tapi, para ulama segera riang bergembira saat melihat kehadiranku. Tersirat harapan di wajah mereka; dan memang itulah niatku kemari, untuk memberi mereka harapan, syukur-syukur bisa memberi mereka pertolongan yang konkret.
Segalanya terasa semakin buruk ketika aku terpilih menjadi ketua umum PPP, tekanan yang diberikan pemerintah pada kami mulai makin menghebat; aku tak tahu bagimana cara mengatasi semua ini, hanya Allah saja yang tahu, kapankah semua ini akan berakhir. Aku masih berada di luar sel tahanan dan melihat semua teman-teman ulamaku yang menantiku untuk masuk. Kutatap semua teman-teman ulamaku dengan tatapan yang berkaca-kaca dan mereka membalas tatapanku dengan tatapan yang penuh harap.
“Assalamualaikum,†sapaku. “Bagaimana keadaan kalian?â€
Seorang sipir kemudian membukakan pintu sel, lalu mempersilakan aku dan Qosim untuk masuk. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam sel penjara, dan seluruh ulama yang berjumlah 15 orang, segera bersalaman dan menjabat tanganku.
“Abah..†Haji Jakaria menjabat tanganku ketika semua ulama sudah selesai berjabat tangan denganku. Aku terkejut mendapati Haji Jakaria adalah termasuk salah satu ulama yang ditangkap Kodim.
“Jakaria.. Oo Jakaria..†aku genggam erat tangan Haji Jakaria.
“Senang sekali kami mendapat kunjungan dari abah,†kata Haji Jakaria.
“Aku datang kemari untuk membebaskan kalian,â€
“Benarkah?†kata salah seorang ulama. Nampak gembira kelihatannya.
“Betul! Tetapi, kalian akan dibebaskan hari ini juga jika kalian mengikuti kemauan penguasa rezim; melapor tiap minggunya ke kantor Koramil untuk memberikan naskah ceramah Jum’at kalian,â€
 Kelima belas ulama yang mendengarkanku berbicara segera lemas, tak bersemangat. Mereka semua langsung menjauhiku; ada yang duduk bersila sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok, ada juga yang berdiri sambil berpegangan kepada tembok dengan kepala yang tertunduk; Haji Jakaria adalah salah seorang ulama yang berdiri lemas dengan tangan kanan bersandarkan pada tembok.
“Kami semua tidak setuju dengan usulan abah. Bisakah abah bayangkan, betapa memalukannya kami merasa, ketika kami harus memasukkan topik KB (Keluarga Berencana), topik Transmigrasi, dan segala topik program omong kosong pemerintah lainnya ke dalam ceramah Jum’at kami. Memangnya, ceramah Jum’at kita itu ceramah penyuluhan?†kata Haji Jakaria dengan nada yang kesal.
“Betul itu abah! Saya benar-benar merasa malu untuk membicarakan topik program pemerimtah ke dalam ceramah Jum’at-ku. Khususnya topik KB, saya tidak berani untuk mensosialisasikan program KB terhadap umat Islam,†seru salah seorang ulama yang lain.
“Ya, semua itu memang membuat kita terdengar memalukan! Tapi kita juga harus paham bahwa tidak semua program pemerintah yang diharuskan untuk disisipkan ke dalam ceramah Jum’at kita itu buruk dan bertentangan dengan Fiqih Islam, ada beberapa yang amat baik untuk kemaslahatan umat. Seperti program KB misalnya; sebenarnya, dari sisi fiqih Islam, program KB itu tidak bertentangan dengan prinsip agama kita, dan diperbolehkan oleh syariat, selama dilakukan atas kesepakatan suami dan isteri karena situasi dan kondisi tertentu untuk kepentingan (maslahat) keluarga. Asalkan tindakan pembatasan keturunan ini dilakukan bukan dalam arti pemandulan yang tidak didasari alasan medis yang kuat; maka KB masih dibolehkan!†kataku.
Semua ulama berusaha mencerna pendapatku mengenai Topik KB. Tak lama kemudian, semua ulama terlihat mengangguk-ngangukkan kepala mereka seraya memegang janggut mereka. Namun, aku belum bisa berbahagia benar atas kesepakatan para rekan-rekan ulamaku, aku hanya bisa menundukkan kepalaku, kemudian menatap ke arah sipir yang berada di luar sel tahanan dengan tatapan kosong, lalu kembali menatap rekan-rekan ulamaku.
“Sungguh, kita tidak punya pilihan lain. Kita sendiri tahu betul mengenai kesadisan militer; kita telah menjadi saksi sejarah saat terjadi pembantaian jutaan penduduk sipil pada tahun 1965. Sesungguhnya, saya mengkhawatirkan kalau-kalau Militer akan berbuat dzhalim terhadap kita seperti yang pernah mereka lakukan terhadap orang-orang Komunis.
“Setiap hari saya berdoa pada Allah agar umat Islam dijauhkan tindak kekerasan Militer. Tidurku tak pernah nyenyak karena memikirkan ancaman kekejian Militer terhadap umat Islam di Bontam. Cukup sudah umat Islam menjadi korban perdata mati-nya dari Soeharto, jangan sampai umat Islam menjadi korban kekerasan dari Soeharto!†kataku.
Ternyata, masalah umat Islam di Bontam ini begitu besar dan sangat menguras energiku. Aku sendiri tidak bisa memaksa para ulama untuk mengikuti langkahku, tapi aku berharap mereka mengikuti langkahku dalam melawan penguasa sekarang. Dalam melawan penguasa yang bengis; umat Islam harus memberikan perlawanan yang lembut seperti air yang mengalir jernih. Namun aku tahu apa, aku hanyalah seorang ulama yang sudah renta, yang berharap bisa menghabiskan hari tuanya dengan tenang, tanpa ada pertualangan-petualangan politik yang mengancam. Hari ini aku begitu tak berdaya, tubuhku serasa lemas, aku tak bisa berkata apa-apa lagi kepada semua rekan-rekan ulamaku, yang kulakukan sekarang hanya bisa diam dengan kepala tertunduk, dan tangan memegang tasbih; diam-diam hatiku berdzikir.
“Abah..†Haji Jakaria tiba-tiba memegang pundakku dengan lembut. “Engkau dikenal di Bontam ini sebagai kyai yang paling dituakan diantara semua kyai di Bontam. Kami semua menghargai akan niat baik dan masukan dari abah. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menerima usulan dari abah. Kami akan berkompromi dengan pihak militer mengenai naskah ceramah Jum’at ini; kami akan akan mensosialisasikan langkah abah ini kepada semua kyai yang ada di Propinsi Bontam,†Â
“Alhamdulillah...Alhamdulillah,†aku mengangguk-nganggukkan kepalaku dengan cepat, lalu memeluk Haji Jakaria dengan erat.
Semua kyai berjalan mendekatiku, dan memandangku dengan penuh haru. Kuulurkan tanganku untuk bisa memeluk mereka semua. Para kyai langsung mendekap erat tubuhku. Di dalam sel penjara yang lembab ini, kami semua berpelukan dengan penuh keharuan. Aku bersyukur kepada Allah karena membantuku dalam memberi pengertian kepada semua teman-teman ulamaku.
Semenjak kejadian itu, aku tidak lagi sendirian dalam berkunjung ke kantor Koramil pada tiap hari Jum’at. Sekarang, aku bisa bertemu dengan teman-teman ulama dari kampung lain, ketika aku mengunjungi kantor Koramil. Aku biasa mengantri diantara mereka untuk pengajuan naskah ceramah Jum’at ini, dan aku selalu senang untuk menjadi urutan yang terakhir di dalam antrian agar aku bisa banyak beristirahat, dan bercengkrama santai dengan para anggota staff militer di Koramil. Terkadang, menjelang keberangkatanku ke kantor Koramil, aku selalu membuat janji dengan ulama-ulama dari kampung lain agar bisa berangkat bersama-sama menuju kantor Koramil. Segalanya terasa sungguh normal walaupun di tengah penindasan rezim; aku usahakan semaksimal mungkin untuk membuat atmosfer damai diantara umat Islam dan Militer.
Bagiku, semua yang bisa kuberikan terhadap semua ulama di Bontam pada kejadian penyensoran ceramah Jum’at ini bukanlah suatu pencapaian; aku tidak merasa bangga dengan itu. Memang, semua kyai di Bontam tidak perlu lagi merasakan penjara pada saat shalat Jum’at hendak didirikan di kampung mereka, tapi aku tak bisa mencegah kedzhaliman rezim militer untuk menangkapi kami pada setiap 7 hari sebelum lebaran tiba. Biasanya, pada waktu tujuh hari menjelang Idul Fitri, aparat keamanan kemanan selalu menangkapi para pencopet, perampok, dan penjahat kriminal lainnya yang telah digolongkan pemerintah sebagai Takrim (Tahanan Kriminal) untuk dipenjarakan di kantor kepolisian resort. Tapi, kami juga ikut diamankan pada waktu tujuh hari menjelang Idul Fitri; dan kami digolongkan sebagai Tapol (Tahanan Politik) yang harus dipenjara di penjara Kodim Bontam. Aku tak bisa mencegah semua itu, bahkan aku termasuk salah satu kyai yang dipenjarakan pihak militer. Di era
rezim Orde Baru ini, kami telah direndahkan dengan serendah-rendahnya oleh penguasa, kami telah disamakan dengan golongan Takrim, benar-benar memalukan!
Di tengah cobaan maha berat yang menimpa kami, aku usahakan untuk tidak banyak mengeluh dan banyak bersyukur. Yang penting dalam tahun 1984 ini, aku harus membuat suasana yang nyaman dan tenang bagi umat Islam di tengah tekanan penindasan rezim militer. Kalau memikirkan beberapa kesuksesan usahaku dalam membuat kedamaian di Propinsi Bontam ini, setidak-tidaknya aku juga bisa merasa lega sekarang; membuatku bisa beribadah khusyuk dalam shalat Dhuhaku yang kudirikan di dalam kamarku sekarang. Oo Allah, kiranya Engkau menjaga ketenangan ini di propinsi Bontam. Kubaca amalan istighfar sebanyak mungkin di dalam ibadah shalat Dhuha-ku, aku mencoba untuk berkomunikasi dengan Tuhan pada pagi hari ini; memohon ampun pada-Nya.
Hari-hari yang berat dalam hidupku berlalu begitu saja. Terasa seperti kemarin saja ketika aku bertarung melawan Jhonaro, dan saat aku membebaskan teman-teman ulamaku di Kodim. Sekarang, aku sudah merasa tenang, tak memiliki beban pikiran seperti yang kemarin-kemarin. Maka, setelah kurasa cukup banyak membaca amalan Istighfar, aku mulai bersujud, dan kuperlama sujudku untuk merasakan kehadiran Allah di dalam kamarku, dan berterima kasih pada-Nya atas segala karunia yang diberikan-Nya padaku.
Aku merasakan kenikmatan bathin yang luar biasa ketika aku bersujud. Namun, kenikmatan itu segera hilang saat istriku memasuki kamarku dan memberitahukanku bahwa ada tamu penting yang menantiku di beranda rumah. Aku segera bangkit dan berjalan menuju ruang tengah, dan kemudian menanyakan pada istriku mengenai perihal tamu penting itu.
“Dia adalah Harmoko; Menteri Penerangan,†kata istriku.
“Harmoko? Ada urusan apa dia kemari?†kataku seraya memegang janggutku, kemudian menundukkan kepalaku; berpikir mengenai maksud kedatangan Harmoko.
Demi Allah yang Maha Penyayang, kunjungan mendadak dari Harmoko ini benar-benar membuatku terkejut. Aku merasa ragu untuk menemuinya. Kucoba untuk melihat Harmoko dari balik jendela ruang tengah. Kumulai berjalan memutari beberapa kursi tamu, menuju jendela ruang tengah yang seukuran pintu masuk. Kusingkap sedikit tirai jendela dan melongok keluar; mengintip, mengamati keberadaan Harmoko secara diam-diam.
Karena aku sudah banyak mendengar mengenai reputasi Harmoko sebelumnya, aku merasa sangat malas untuk menemuinya. Aku tak peduli kalau Harmoko itu adalah orang penting di negeri Indonesia, bagiku ia adalah manusia biasa seperti diriku, hanya saja pekerjaannya sebagai menteri penerangan telah membuatnya rendah. Melihat mukanya, kita takkan mungkin bisa untuk menyakitinya karena mukanya adalah muka memelas; mengundang rasa iba. Kalau melihat Harmoko sekarang, saya jadi teringat Goebbels; menteri penerangan dan propaganda pemerintahan Hitler. Hanya peci hitam dan setelan jas hitam berdasi saja yang membedakan Harmoko dan Goebbels; selebihnya sama. Saya takkan pernah memiliki keinginan untuk bertemu dan bersalaman dengan orang yang semacam ini. Setelah kurasa cukup untuk mengamati gerak-gerik Harmoko, aku menegakkan tubuhku seraya perlahan-lahan berjalan mendekati istriku.
Kepada istriku, aku mengatakan bahwa aku merasa enggan untuk menemui Harmoko. Istriku menatap heran padaku, ia merasa dirinya tak mengerti akan sikapku yang tidak ingin menemui Harmoko. Ia mengangkat alisnya dan berkata dengan pelan agar tidak terdengar Harmoko dari balik tembok. “Mengapa abah tidak mau bertemu dengan Harmoko? Bukankah dia adalah orang penting di negeri ini?â€
“Aku sadar kalau Harmoko itu adalah orang penting, orang kepercayaannya Soeharto. Namun, aku merasa enggan untuk menemuinya. Lagipula, apa yang perlu dibicarakan dengannya?†ujarku. “Katakan saja padanya bahwa aku sedang pergi ke luar kota, dan akan kembali lama,â€
“Tapi abah,â€
“Sudahlah.. katakan saja begitu pada Harmoko,†kataku dengan berbisik-bisik, seraya menggebah istriku dengan kedua lenganku.
Dengan sedikit kesal, Mae akhirnya meninggalkanku, kemudian berjalan menuju pintu keluar, dan menemui Harmoko di beranda rumah. Aku mencoba duduk tenang di kursi sofa; berusaha mendengarkan baik-baik percakapan antara Harmoko dan istriku dari balik tembok. Bisa kudengar bahwa Harmoko sangat bersikeras agar bisa menemuiku, dan ia mengatakan pada istriku bahwa ia akan menungguku di beranda rumah. Meskipun Mae sudah menjelaskan bahwa aku akan pulang lama, tapi Harmoko bersikeras, istriku merasa tak bisa berkata apa-apa lagi terhadap Harmoko. Tak ada pilihan lain baginya selain menyediakan minuman dan makanan kecil terhadap Harmoko dan kedua asistennya.
Harmoko menerima tawaran dari istriku dengan senang hati. Dan ketika istriku membuka pintu, kembali masuk ke dalam rumah, kemudian segera menutupnya demi mencegah terbongkarnya keberadaanku; Mae menatap tajam padaku dengan sangat sengit, lalu ia meninggalkanku, berjalan menuju dapur. Sekarang, aku merasa tidak bangga akan diriku karena mendapat kunjungan dari Harmoko, karena Harmoko memang sudah dianggap musuh besar bagi semua umat Islam di Bontam. Saya tak merasa khawatir kalau Harmoko akan tersinggung dan kemudian akan berbuat kekerasan terhadap keuargaku; dia tidak mempunyai alasan untuk berbuat seperti itu. Memang, dia punya kekuasaan, tetapi aku tidak begitu mengkhawatirkan Harmoko; saya lebih mengkhawatirkan pendahulunya, Almarhum Jendral Ali Moertopo.
Saat istriku kembali dari dapur dengan membawa minuman hangat untuk Harmoko; ia masih kesal terhadapku. Pandangan matanya masih menatap tajam terhadapku saat ia melewatiku. Aku bisa memaklumi kekesalan istriku; mau bagaimana lagi, aku memang tak mau bertemu dengan Harmoko. Aku masih berada di ruangan tempatku; ruangan tamu. Dari tempatku, aku bisa mendengar istriku beranjak meninggalkan Harmoko sewaktu ia telah selesai menyajikan minuman hangat kepada Harmoko dan kedua asistennya. Mae tidak kembali masuk ke dalam rumah, aku menduga kalau ia pergi menuju kebun bunga untuk menyirami tanaman-tanaman hiasnya yang terdapat di depan beranda rumah, tepat di depan tempat Harmoko dan dua asistennya duduk-duduk. Aku bisa mendengar Harmoko yang mencoba beramah tamah dengan menanyakan jenis-jenis tanaman hias yang disirami istriku; satu percakapan yang ringan tapi menyenangkan hati.
Selama lima belas menit aku masih duduk di dalam ruang tengah rumahku; menanti kepulangan Harmoko dan kedua asistennya. Tak lama kemudian, aku bisa mendengar Harmoko dan kedua asistennya mulai berpamitan kepada istriku, aku bisa bernafas lega sekarang. Kusingkap kembali tirai jendela ruang tengah; mengamati kepergian Harmoko dan kedua asistennya meninggalkan rumahku. Saat Harmoko sudah memasuki mobil sedan miliknya, dan mulai membawa mobilnya keluar dari pintu gerbang rumah, aku keluar dari rumah dan bersantai di beranda rumahku.
Matahari sedang bersinar sangat terang ketika aku duduk di beranda rumah. Dalam keadaan duduk santai sambil meregangkan badan, Mae datang; kini ia tak lagi tampak begitu kesal.
“Abah,†sapanya. “Aku bisa mengerti kalau abah sangat membenci Harmoko. Tapi tetap saja, sebagai tamu dia harus diperlakukan baik. Abah seharusnya menemuinya,â€
“Dia tak patut diperlakukan dengan baik. Selama ini dia selalu membohongi umat dengan jabatan menteri penerangannya. Dia sudah banyak membohongi rakyat untuk kepentingan Golkar,â€
“Ya sudah kalau begitu. Abah memang keras kepala,†Mae segera bangkit, kemudian meninggalkanku seorang diri.
“Oo.. Mae.. Mae..†aku menggumam seraya menggeleng-gelengkan kepalaku, kemudian tersenyum sendiri.
Baru saja Mae beranjak meninggalkanku dan ia masih berada di tangga lantai papan beranda rumah; Haji Jakaria beserta kedua temannya memasuki halaman rumahku. Dengan menaiki motor CB-100 yang ditumpangi tiga orang, Haji Jakaria berada di jok paling belakang. Kalau motor itu seekor kuda tunggangan, tentu saya akan merasa sangat kasihan pada motor CB yang ditumpangi Haji Jakaria dengan kedua temannya. Mungkin karena motor itu inventaris PPP, maka motor itu dipakai kemari dengan cara yang menyedihkan.
“Abah..!,† seru Haji Jakaria, sementara dirinya masih berada di atas motor.
Haji Jakaria meninggalkan kedua temannya yang sibuk memarkirkan motornya, dan kemudian bergegas berjalan menyusuri halaman rumahku, mendekatiku. Matanya yang hitam terbakar, menatap cemas ke arahku. Namun, aku tetap berdiri tenang di beranda rumah pondokku, mencoba untuk tidak terbawa cemas. Tak berapa lama kemudian, aku memutuskan untuk menuruni lantai tangga beranda rumahku, menghampiri Haji Jakaria yang masih terlihat berlari ke arahku. Aku tak tahu apa yang membuat Haji Jakaria cemas.
“Abah..†ujar Haji Jakaria seraya menarik nafas panjang, mencoba mengatur nafasnya. “Kabar buruk abah.. kabar buruk!â€
“Kabar buruk bagaimana? Apa maksudmu?†aku merasa sangat penasaran. Begitupula dengan Mae yang kemudian datang menyusulku.
“Assalamaualaikum ibu Yusuf,†Haji Jakaria menyapa istriku yang berdiri di sampingku, namun ia masih ia mencoba mengatur nafasnya.
“Walaikumsalam, apakah yang menjadi kabar buruk bapak Haji?†tanya Mae ikut penasaran.
“Para Fungsionaris Golkar terlihat sibuk melakukan Kuningisasi di beberapa kampung di Kecamatan Gunung Thari. Kita harus melakukan sesuatu, atau kalau tidak, kita akan kehilangan pendukung kita di daerah kecamatan Gunung Thari.â€
Kabar dari Haji Jakaria itu membuatku tersentak kaget. Aku tak menyangka kalau Golkar akan melakukan kelicikan seperti itu. Jangan-jangan, niat Harmuki kemari adalah untuk membujukku agar aku bersedia bergabung dengan Golkar.
“Bukankah pemilu akan dimulai beberapa tahun lagi?†tanyaku heran.
“Sepertinya mereka tak peduli. Dengan adanya beberapa orang berambut cepak, berbadan kekar yang memakai jaket kuning Golkar, para Fungsionaris Golkar sepertinya merasa diatas hukum,†kata Haji Jakaria, kemudian ia segera menyambut kedua temannya yang baru saja tiba di halaman beranda rumahku.
“Memang merekalah hukum itu,†aku memegang janggutku, kemudian menundukkan kepalaku. “Apa saja yang mereka lakukan dalam Kuningisasi itu dalam meraih simpati warga kampung?â€
“Mereka mengadakan pegelaran dangdutan dan acara pembagian sembako,â€
“Menurutmu, apa yang harus kita lakukan?â€
“Kita adakan acara tandingan; Penghijauan.â€
“Penghijauan?†aku sedikit tersenyum geli mendengar ide dari Haji Jakaria.
“Betul! Kita harus tunjukkan eksistensi kita terhadap masyarakat. Jika Golkar mengadakan acara Dangdutan, maka kita adakan acara Wayang Golek. Hanya saja...†Haji Jakaria memegang dagunya; jadi bingung sendiri.
“Ya..?â€
“Hanya saja kita tak memiliki anggaran di dalam PPP untuk membiayai uang transport dan biaya honor dalang wayang golek.†Haji Jakaria menundukkan kepalanya “Ambisiku sangat menggebu-gebu dalam melawan kesewenang-wenangan dari Golkar ini, namun tidak diikuti dengan kemampuan ekonomi,â€
“Lawan kita memang berat..,†aku mengangguk-nganggukkan kepalaku. “Tapi, engkau jangan khawatir. Saya akan menjual dua kerbau saya yang paling bagus untuk membiayai operasional kampanye Penghijauan kita,â€
“Jangan abah.. saya tak mau membuat susah abah. Mungkin abah lebih memerlukan kerbau itu daripada kami,â€
“Tidak, saya masih memiliki beberapa kerbau lain untuk membantu saya dalam membajak sawah. Janganlah kamu mengkhawatirkan mengenai keadaan saya,†ujarku. “Tentu, engkau takkan keberatan jika aku menjual dua kerbau milik kita khan Mae?†tanyaku pada Mae.
“Terserah abah saja. Sama halnya seperti abah, aku juga merasa berkewajiban untuk bisa memberikan sumbangsih,†kata Mae mantap.
“Bagus..†aku mengangguk-nganggukkan kepalaku, bangga terhadap istriku yang kunilai amat berbakti. †Sekarang, mari kita jual dua kerbau milikku, aku tahu tempat yang bisa memberikan harga tinggi untuk kerbau milikku,â€
“Saya merasa malu pada abah dan bu Haji,†Haji Jakaria menundukkan kepalanya.
Aku tersenyum saja melihat Haji Jakaria yang nampak risih. Aku pegang pundaknya dengan lembut, kemudian mengajaknya melihat dua kerbau milikku yang paling bagus untuk dijual. Setibanya di kandang kerbau milikku yang besar, aku bergegas membuka pintu kandang dan mulai mengeluarkan kedua kerbau dewasa milikku dari kandang. Haji Jakaria segera membantuku dalam menuntun kedua kerbau-ku saat aku sudah mengeluarkannya dari kandang.
“Letak tempat penjagalan kerbau tidak terlalu jauh dari kampung ini; ada di kampung seberang. Lebih baik kita berdua saja yang membawa kedua kerbau ini ke tempat Haji Mansur,†kataku menawarkan.
“Kalau begitu saya akan minta kedua temanku untuk menunggu disini,†Haji Jakaria segera berlari ke arah teman-temannya, sementara aku menunggu bersama kedua kerbauku. Begitu ia sudah selesai berbicara dengan kedua temannya, Haji Jakaria bergegas kembali ke arahku. “Sekarang kita bisa berangkat!â€
“Semangat sekali..†aku tersenyum simpul padanya.
“Apakah istri abah benar-benar tidak akan marah jika kerbau-kerbaunya berkurang dua?â€
“Tidak.. kami masih memiliki kerbau-kerbau lain; berkurang dua tidak jadi masalah, nanti juga bertambah lagiâ€
“Saya jadi merasa tidak enak pada abah dan bu Haji,â€
“Untuk umat, pengorbanan menjual dua kerbau itu tidak seberapa,†aku tersenyum simpul pada Haji Jakaria, kemudian memegang pundaknya dengan penuh kasih.
Berdua, kami menuntun kedua kerbau milikku keluar pintu gerbang rumahku. Punggung kedua kerbau milikku itu hitam lebar, kekar, dan menurutku; kedua kerbauku ini pasti akan berharga sangat mahal. Sebagai petani yang berpengalaman, pekerjaan menuntun kerbau adalah pekerjaan yang mudah. Tapi aku tak tahu bagaimana pendapat Haji Jakaria.
“Banyak penduduk kampung yang melihat aneh terhadap kita; kurasa penampilan kita yang memakai sarung serta sorban bak ulama ini, amat tidak cocok dengan pekerjaan yang kita lakukan sekarang,†Haji Jakaria tersenyum ke arahku dan mengedipkan matanya. Ia mencoba bercanda, aku tahu itu.
“Tidak ada yang salah dengan itu; ulama yang merangkap pengembala kerbau,â€
Memang, banyak sekali warga kampung yang melihat heran kepada kami ketika kami berjalan menyusuri jalan-jalan desa sambil menuntun kerbau, tapi kami tetap pula melanjutkan perjalanan. Jalanan pasir yang mulai kami lintasi sekarang serasa bagai pita terang, dinaungi bayangan pepohonan yang rimbun. Di utara, dekat aliran irigasi yang jernih, jalanan itu bercabang tiga, satu mengarah ke rumah Haji Mansur, yang cabang kedua berbelok ke arah selatan, dan cabang yang terakhir mengarah ke satu lapangan luas yang biasa dipakai anak-anak kampung bermain sepak bola.
Kehidupan di pedesaan terasa nyaman di bathin. Pepohonan hijau nan rindang dengan burung-burung liar bersuara merdu pada musim kawin; kicauannya bisa terdengar nyaring. Tanpa terasa, kami sudah berjalan sepanjang dua kilometer dan jalanan terasa panas dan sunyi. Hanya ada burung-burung pipit melesat kesana-kemari diantara tanaman-tanaman padi yang lalai oleh penjagaan para petani. Setelah melewati areal pesawahan, kami sampai di jalanan menurun yang dingin dan teduh, dikelilingi pepohonan buah sawo. Jalanan yang kami tengah lintasi ini meliuk, kemudian pondok rumah penjagalan Haji Mansur tampak di bawah pohon petai berukuran raksasa. Di depan rumahnya, ada banyak kerbau yang terikat pada tiang-tiang kayu.
“Kita sudah sampai!†kataku.
“Sebenarnya perjalanan kemari tidak bisa dikatakan dekat; aku salut pada abah yang masih bisa menempuh perjalanan sejauh ini,â€
“Dua kilometer itu tidak jauh,†aku tersenyum, kemudian kembali melanjutkan langkah kakiku memasuki rumahnya Haji Mansur.
Keluarga Haji Mansur berseru ribut mengucapkan salam dan segera menjabat tangan kami. Dua pemuda kekar yang merupakan anak lelaki Haji Mansur segera mempersilakan kami masuk. Kedua kerbauku itu aku titipkan pada mereka, dan mereka segera membawanya, mengikatnya di tempat kami masih bisa melihatnya. Haji Mansur langsung turun dari beranda rumahnya, kami bisa mendengar pijakan kaki yang berat di lantai papan: Haji Mansur adalah seorang lelaki paruh baya yang bertubuh besar, perutnya yang gendut menandakan kemakmuran kehidupan yang dimilikinya.
 “Abah†seru Haji Mansur, “Lama tidak bertemu,â€
“Assalamualaikum,†sapaku.
“Walaikumsalam, ayo naiklah ke rumah pondok kayuku yang sederhana,â€
Kami naik ke beranda pondok Haji Mansur. Ketika kami mulai duduk-duduk bersama, aku mengenalkan Haji Jakaria kepada haji Mansur. Haji Mansur menjabat erat tangan Haji Jakaria; satu sambutan yang sangat akrab. Saat kami sudah duduk, Haji Mansur mulai menarik kursi dan ikut duduk bersama kami.
“Saya perhatikan abah membawa dua kerbau. Apakah abah berniat menjualnya?†tanya Haji Mansur.
“Ya, aku berniat menjualnya pada pak Haji,†kataku.
“Kedua kerbau yang abah bawa itu sangat besar dan kekar,†kata Haji Mansur.
“Kedua kerbauku itu biasa kami gunakan untuk membajak sawah. Sangat sehat!â€
†Abah sangat memuji kedua kerbau abah, ha..ha..†kata Haji Mansur seraya tertawa.
“Bukankah sudah seharusnya,†aku tersenyum simpul. “Kedua kerbauku itu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Tapi, hari ini aku berniat untuk menjualnya kepada pak Haji, jangan tanya alasannya!â€
“Kalau begitu, sayang sekali,â€
“Sangat disayangkan,â€
Kang Marwan yang merupakan salah seorang pembantu Haji Mansur, tiba-tiba keluar dari dalam rumah pondok Haji Mansur dan menyajikan minuman air putih untukku dan Haji Jakaria.
“Silakan diminum, pasti kalian merasa haus, setelah melakukan perjalanan membawa kerbau kemari!†kata Haji Mansur.
“Terima kasih pak haji,†aku dan Haji Jakarian kemudian mengambil minuman air putih itu di meja, dan meminumnya.
“Bagaimana kalau aku hargai kedua kerbau abah seharga 1.100.000 rupiah; masing-masing 550.000 rupiah. Bagaimana?†Haji Mansur langsung memberikan penawaran, sementara kami masih belum selesai menghabiskan minuman kami.
“Pak haji tahu kalau nilai kedua kerbauku adalah 1.400.000. Kalau pak haji tidak bisa membayar sebesar hargaku, maka saya akan menjualnya kepada Haji Musthofa!†kataku seraya meletakkan gelasku yang telah kosong di atas meja.
“Haji Musthofa?†Haji Mansur terperanjat kaget ketika kusebutkan nama Haji Musthofa.
“Ya..!â€
“Bagaimana kalau 1.300.000,â€
“Kalau begitu, kami tak bisa berlama-lama lagi disini,†aku mencoba bangkit.
“Tunggu dulu,†Haji Mansur mencegahku bangkit, dan aku pun kembali duduk. “Baik saya beli kerbau abah dengan 1.400.000,â€
“Kalau begitu, kita sepakat,†aku ulurkan tanganku untuk menjabat tangan Haji Mansur.
“Abah adalah seorang ulama yang pintar tawar menawar,†Haji Mansur menjabat tanganku dengan erat.
Ketika aku dan Haji Mansur bersalaman, Haji Jakaria hanya bisa menatap kami dengan tatapan heran. Belum pernah ia melihat dan mengetahui aku yang terbiasa dalam transaksi jual beli, dan pemandangan yang ia saksikan kali ini pastilah membuatnya heran; aku bisa mengerti.
Bab 7: Awal Mula Dekadensi
Pada hari dimulainya kegiatan Penghijauan, semua penduduk dari lima kampung yang ada di Kecamatan Zheerang, berkerumun, memadati lapangan kampung Tholagandu untuk menikmati pertunjukan wayang golek yang kami adakan. Kemarin, Golkar sudah meramaikan lapangan ini dengan pagelaran Dangdut. Tidak tanggung-tanggung, mereka telah mendatangkan artis dangdut ibukota yang sekarang tengah terkenal; Rhoma Irama. Meski begitu, kami tetap merasa optimis. Dan syukurlah, semua penduduk kampung terlihat sangat antusias dalam menikmati pertunjukan wayang golek dari kami. Aku tahu, pasti akan ada mata-mata yang mengamati kegiatan kami di sini. Biarlah mereka mengamati dan melaporkan kegiatan kami pada atasan mereka, entah dari Golkar ataupun Militer, aku tak ambil pusing!
Sebenarnya, aku sangat membenci kegiatan politik, meskipun itu dibalut dengan kegiatan sosial. Kegiatan yang kami lakukan sekarang adalah politik yang terkamuflase. Aku tidak merasa bangga ketika melihat para fungsionaris PPP membagikan hasil-hasil bumi dan beras kepada penduduk kampung begitu acara wayang golek usai. Sungguhpun begitu, semua ini harus kami lakukan agar Golkar tidak mendominasi politik di propinsi Bontam. Golkar hanya akan membawa propinsi Bontam ini menuju kehancuran, dan Golkar harus mempunyai lawan tanding yang seimbang di Bontam; PPP. Situasinya sungguh memang dirasa pelik, takkan ada orang mampu mengurai benang kusut permasalahan ini ketika harus dihadapkan dengan satu manusia serakah seperti Soeharto. Sesungguhnya, Aku tak pernah berharap menjadi ketua umum PPP, aku melakukan semua ini hanya karena menghormati keinginan terakhir Haji Samlawi. Aahh..! seandainya saja aku bisa menjadi seperti Zainudin MZ yang bebas untuk berdakwah
dimana saja, tanpa terikat oleh partai manapun. Tapi, aku tak mau menjadi orang yang populer seperti Zainudin MZ; apakah itu bisa?
Sebenarnya, aku sangat menikmati pertunjukan wayang golek ini. Dan sangat disayangkan bahwa acara ini harus berakhir, ketika semua penduduk kampung mulai membubarkan diri dengan hati yang senang karena membawa banyak bungkusan sembako. Begitu lapangan sudah sepi dari para penduduk kampung, dan kami selaku panitia sudah bersalam-salaman antara satu sama lain dengan hati yang puas, aku mulai dibonceng Haji Jakaria dengan motor CB-nya; diantarkan pulang ke rumah.
Perjalanan pulang menuju rumah adalah perjalanan yang jauh, perjalanan turun-naik gunung yang melewati beberapa desa. Kondisi jalanan yang terdapat di kecamatan Gunung Thari ini sangat menyedihkan, belum ada jalan beraspal! Hanya ada jalanan bebatuan cadas nan terjal. Demi keamanan, Haji Jakaria pun harus membawakan motornya dengan pelan-pelan, menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh karena jalanan kasar itu. Yang paling terasa menyusahkan adalah ketika kami harus melintasi jalanan yang mendaki. Dengan jalanan bebatuan yang cadas nan terjal itu, Haji Jakaria seringkali menggunakan gigi satu pada motornya, dan menarik gigi satu tersebut dengan penuh perasaan hingga kami bisa melalui jalan mendaki, kemudian sesekali kakinya menginjak pedal rem secara bersamaan; mencegah agar motor tidak tergelincir.
Sewaktu motor melaju menembus gerimis hujan yang mulai turun, cuaca terasa sejuk, gerimis kampung halaman yang selalu kunanti-nanti ini mulai membasahi jalanan Gunung Thari, dan jalanan nampak berkilat-kilat karena terkena cipratan hujan gerimis. Hujan gerimis mulai mereda ketika kami tiba di lokasi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang terdapat di kampung Philowong. Ada banyak sekali mobil-mobil kendaraan dinas yang bisa kami temukan di TPA Philowong ini. Begitu banyak sekali para pejabat kabupaten Zheerang yang mendatangi TPA ini, aku tidak tahu, apakah yang membuat mereka mendatangi TPA Philowong ini. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku meminta Haji Jakaria untuk berhenti. Motor CB-100 pun akhirnya dimatikan Haji Jakaria, dan kami melihat-lihat aktivitas para pejabat pemda yang berkumpul di TPA.
Aku segera turun dari motor, lalu mengamati keadaan sekitar. Kulihat lima truk sampah sedang membuang muatan buku-buku tebal yang teramat banyak sekali di bawah bukit-bukit sampah. Buku? Pemandangan ganjil ini membuatku semakin penasaran. Dari kejauhan, aku tak bisa memastikan buku-buku apakah yang mereka buang di tempat kotor seperti ini. Aku mengkhawatirkan kalau buku-buku yang kini tengah dibuang sekarang adalah buku-buku keagamaan. Jangan-jangan Qur’an adalah salah satu buku-buku keagamaan yang sekarang sedang dibuang? Aku tidak tahu pasti.
“Lihat! Mereka tengah membuang ribuan buku,†kataku pada Haji Jakaria yang mendekatiku dari arah belakang punggungku.
“Ya.. aku melihatnya,â€
Aku tidak lagi memperdulikan bau busuk yang ada di tempat busuk ini, aku segera berlari untuk melihat lebih dekat lokasi peristiwa pembuangan buku-buku ini. Haji Jakaria memanggil-manggil namaku dari belakang dan ikut menyusulku, namun aku seakan sendirian saja, aku tidak memperdulikan akan panggilan Haji Jakaria. Aku bergegas menuju simpang jalan, bau-bau busuk dari timbunan sampah kian menusuk hidung; kurasa tempat busuk ini adalah tempat yang cocok untuk para pegawai pemda yang kini tengah berkumpul. Langit makin gelap, kabut-kabut gunung ikut membuat muram suasana sekarang. Tapi, nampaknya semua para pegawai pemda yang berkumpul sekarang ini tetap acuh, tak memperdulikan akan kejahatan yang mereka perbuat. Ada beberapa pegawai pemda yang bercakap-cakap santai sambil menunggui mobil dinas, dan tidak memperdulikan perbuatan jahat yang kini tengah dilakukan oleh rekan-rekannya sesama pegawai pemda, yang berada di bawah bukit-bukit timbunan sampah kota.
Aku dan Haji Jakaria menyeberang ke arah mereka.
“Assalamualaikum,†sapaku kepada dua pegawai pemda yang tengah asyik bercengkrama.
“Walaikumsalam..†kedua pegawai itu dengan penuh keakraban, seringai senyum orang bodoh tergurat di wajah mereka berdua.
“Maaf bapak-bapak. Kalau boleh saya tahu, ada kegiatan apakah yang kini tengah dilakukan oleh teman-teman kalian yang berada di bawah bukit sana?†Aku menunjuk ke bawah bukit-bukit sampah, dimana truk yang terakhir tengah menurunkan muatan ribuan buku ke tempat sampah.
“Oo itu!†salah seorang pegawai pemda sibuk membakar rokok kreteknya. Ia menjaga agar api dari korek gasnya tidak terlalu kebesaran dan membakar kumisnya. “Kami telah diperintahkan oleh kementerian pendidikan nasional untuk membakar buku-buku sejarah yang dicetak pada era pemerintahan Soekarno di tahun 60-an. Perintah ini datangnya mendadak, dan kami baru bisa melaksanakannya sekarang,â€
“Membakar buku?†aku menatap heran kepada sang pegawai pemda yang berkumis tebal itu. “Kurasa kalian adalah pegawai kantor dinas Pendidikan kabupaten Zheerang?â€
“†Betul†nampak bangga sang pegawai berkumis, sementara asap rokoknya keluar begitu tebal dari mulut dan hidungnya; seperti knalpot motor yang kekurangan oli.
“Maaf pak?†kataku dengan nada suara yang mencoba dibuat sopan.
“Ya pak kyai. Apa lagi yang pak kyai tanyakan?†kata sang pegawai berkumis. Ia memanggilku pak kyai, rupanya baju yang kukenakan hari ini telah membuatku dipanggil pak kyai.
“Mengapakah buku-buku sejarah itu dibakar?â€
“Karena pemerintah pusat telah memutuskan untuk menulis ulang sejarah Indonesia. Menurut mereka, sejarah yang ditulis pada era Soekarno itu banyak yang salah. Maka, pemerintah pusat telah menunjuk bapak Nugroho Notosusanto untuk menulis ulang sejarah negeri kita,â€
“Jadi, mulai besok semua anak sekolah di propinsi Bontam ini akan belajar sejarah hanya dari buku sejarah tulisannya bapak Nugroho, menteri pendidikan nasional kita?†tanyaku.
“Betul, mulai besok semua anak-anak Bontam akan belajar sejarah melalui buku terbitan dari kantor Pusat Sejarah ABRI pimpinan Nugroho Notosusanto!â€
Serasa disambar petir saja diriku ini saat mendengar keterangan dari dua pegawai pemda yang bodoh ini. Namun, tak ada yang bisa kulakukan selain diam dan menundukkan kepalaku dengan penuh rasa kecewa. Jantung serasa mau lepas saat aku melihat pemandangan di bawah bukit sampah-sampah, dimana beberapa pegawai dinas pendidikan kabupaten terlihat menyiramkan bensin terhadap tumpukan buku-buku yang telah menggunung. Lalu, seorang pegawai pemda lainnya membawakan obor yang menyala-nyala dan melemparkan obor tersebut ke atas tumpukan buku-buku itu. Api mulai bergeretak, sedikit demi sedikit mulai membesar dan melalap semua catatan sejarah yang pernah tercatat pada era Soekarno; satu pemandangan yang menyedihkan. Abu-abu kertas mulai beterbangan, menyebar ke segala arah, kemanapun angin membawanya. Aku mengambil abu kertas itu di udara, mencoba menggenggamnya, namun hancur di tanganku.
“Abah..†Haji Jakaria memegang pundakku dengan lembut. “Kurasa, lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan pulang. Tak ada gunanya kita berlama-lama disini,â€
“Ya. Kau benar,†aku memejamkan mataku, dan mengangguk-nganggukkan kepalaku dengan cepat.
Sebelum pergi meninggalkan TPA, Haji Jakaria dan aku menyempatkan untuk menjabat tangan kepada kedua pegawai negri bodoh yang baru saja kami korek informasinya. Aku hanya bisa memaksakan senyum kepada mereka berdua dengan mata tertunduk, tak ada semangat untuk berinteraksi sosial. Kedua pegawai negeri itu tertawa dan dengan ramahnya; mereka menjabat tangan kami dengan erat, lalu kami pun berpisah.
Sementara Haji Jakaria tetap fokus mengendalikan motornya, dan motor pun mulai melaju, menjauhi tempat pembakaran buku-buku sejarah bangsa yang dianggap pemerintah rezim sebagai sampah, aku mencoba menoleh ke belakang dan sekali lagi melihat pemandangan mengerikan itu dengan rasa sedih di dalam hatiku. Aku adalah saksi sejarah, dan sekarang catatan mengenai perjuanganku dan kesemua rekan-rekan ulamaku telah dibakar oleh penguasa rezim; sungguh suatu dosa yang teramat besar, melebihi dosa pembunuhan massal pada tahun 1965. Bagiku, Soeharto telah kafir karena telah menghapus sejarah para pendiri bangsa; para ulama dan para intelektualis nasionalis. Semoga Allah tak pernah mengampuni dosa-dosanya, karena Soeharto sangat mengetahui betul atas apa yang dilakukannya!
Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk menghentikan pembakaran buku-buku sejarah, pasti akan kulakukan. Namun, disinilah aku sekarang, diam saja dengan hati yang hancur, duduk tenang di jok belakang motor butut. Selama dua jam kami berada di atas motor, menempuh perjalanan panjang ke rumahku. Menurut perhitunganku, sepertinya sudah 15 kampung yang sudah kami lewati di Kecamatan Gunung Thari. Dan akhirnya, kami pun sudah sampai di kecamatan Zheerang, tinggal lima kilometer lagi kami akan tiba di rumah.
Matahari mulai bersinar terik saat kami sampai di jalanan raya kecamatan Zheerang yang berlubang-lubang, dan panas matahari di kecamatan Zheerang itu benar-benar kejam. Sungguhpun begitu, kekejaman alam ini belum seberapa bila dibandingkan dengan kekejaman rezim Orde Baru terhadap rakyatnya. Penegasan kekejaman itu sudah banyak terbukti di propinsi Bontam ini, dan aku sudah cukup banyak menyaksikannya hari ini. Aku selalu berharap jika kedzhaliman militer bisa dijauhkan dari umat Islam yang ada di Bontam. Namun, ketika kami tiba di Kelurahan Phakphakan, aku hampir tidak mempercayai apa kulihat sekarang, dimana beberapa truk militer tengah terparkir, dan sekelompok resimen tentara bertopikan baret berwarna merah (Komando Pasukan Khusus) terlihat sibuk bekerja menggali tanah, membuat pondasi pintu gerbang yang megah nan besar. Di salah satu kiri jalan terdapat papan pengumuman bertuliskan; Mohon maaf atas gangguannya, di sini sedang dibangun kantor
Kopassus Bontam’. Sungguh, hari itu terasa sangat panas, langit terlihat snagat cerah, sedangkan jalanan nampak putih dan berdebu. Aku masih duduk di jok belakang motor CB-100 sambil mencerna pikiranku mengenai resimen tentara Kopassus yang kulihat sekarang ini; bukankah sudah ada kantor Koramil dan Kodam di Propinsi Bontam ini? Sekarang, mengapakah kantor Kopassus harus didirikan di Bontam? Ini patut dicurigai!
Perasaan sedihku masih belum hilang di hati atas peristiwa pembakaran buku-buku sejarah yang baru saja kulihat, kini, dengan pemandangan kantor resimen Kopassus, hatiku jadi makin bertambah sedih saja, dan aku kembali hanya menatap dengan putus asa.
“Jakaria..†aku berbisik ke telinga Haji Jakaria, dan Haji Jakaria pun menoleh ke arahku sambil sesekali menatap ke depan, berusaha mengendalikan motornya. “Apakah kau melihat semua ini?â€
“Ya.. Aku juga tidak mengerti atas pembangunan kantor Kopassus ini,†Haji Jakaria menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kurasa ini ada hubungannya dengan banyaknya pembangunan eksplorasi minyak di Bontam selatan, dan juga pembangunan kawasan industri padat karya di daerah Zheerang timur. Oleh karena itu, kantor Kopassus didirikan untuk melindungi aset-aset Soeharto yang tengah dikembangkan disini.â€
“Abah benar. Ini seperti di Aceh! Soeharto membuat DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh agar aset perusahaan-perusahaan asing di Aceh bisa aman mengalir ke Jakarta, ke Cendana,â€
 “Subhanallah..†aku menggelengkan kepalaku, kemudian kembali menoleh ke belakang, menatap para resimen Kopasus yang nampak sibuk bekerja membangun pondasi pintu gerbang. Sekali lagi, tak ada yang bisa kulakukan.
 Pemandangan-pemandangan menyedihkan yang telah kulihat selama perjalanan, telah membuat hancur segala harapan yang tersimpan di jiwaku, dan harapanku yang tersisa sekarang adalah untuk segera pulang saja. Kami benar-benar merasa sangat bersyukur saat kami sudah sampai di kampung Cinanggung, tinggal beberapa meter lagi kami akan tiba di rumah. Rasa kebahagiaan mulai menyelimuti batinku begitu aku melihat pintu gerbang rumahku yang dicat hijau. Aku sudah tidak lagi memikirkan peristiwa pembakaran buku-buku di TPA Philowong, aku hanya ingin segera melihat wajah Mae, wajah Fatimah, dan wajah cucuku; Muhammad Ali. Aku bisa menebak kalau semua keluargaku kini telah menanti-nantiku dengan rasa rindu yang luar biasa.
Hari sudah sore ketika kami pada akhirnya tiba di halaman rumahku. Ada banyak orang yang berkumpul di beranda rumahku, ketika aku dan Haji Jakaria sedang memarkirkan motor CB-100 di sisi kanan halaman rumah. Tampak ada suasana duka dari kerumunan orang yang kini berkumpul di beranda rumahku. Terdengar seseorang berteriak-teriak, ada juga suara perempuan yang menangis; aku bisa mengenali suara itu, suara perempuan yang menagis itu adalah suara putriku, Fatimah! Suasana yang aku rasakan kini membuatku merinding ngeri. Aku berharap menemukan kegembiraan di rumahku ini, namun nampaknya... aku takkan menemukannya. Bersama Haji Jakaria, kami bergegas menuju beranda rumahku, menemui kesemua orang-orang yang kini berkumpul, mencoba mencari tahu.
“Apa yang terjadi?†aku segera menerobos kerumunan santri-santriku, mencoba mencari tahu.
Semua santri-santriku hanya bisa menundukkan kepalanya dan kemudian menatap ke arah putriku yang tengah dirangkul erat oleh suaminya; Qosim. Di kursi jati, Qosim merangkul erat Fatimah yang terlihat sedih dengan air mata yang berurai, membasahi wajahnya. Kemudian, Qosim membelai-belai kepala Fatimah dengan sentuhan yang lembut, penuh kasih sayang.
“Ada apa dengan Fatimah?†aku makin cemas ketika melihat putriku yang nampak Shock.
“Fatimah baru saja mengalami kejadian yang menyakitkan di pasar Cinanggung. Ia baru saja dikeroyok oleh massa di pasar Cinanggung,†Mae memegang pundakku dengan lembut.
“Apa? Kenapa itu bisa terjadi?†aku menatap tajam pada Mae.
“Pada pagi hari tadi, Mae sedang membeli beras di toko beras bersama Qosim. Ketika ia sedang memeriksa beras, tiba-tiba salah seorang pengunjung pasar berteriak-teriak pada semua massa di pasar dengan mengatakan ‘Awas, wanita berkerudung ini hendak menyebarkan racun pada beras’. Mendengar teriakan itu, semua massa segera mengerumuni Fatimah untuk menghajarnya. Namun, untunglah Qosim segera melindungi Fatimah dan menjelaskan pada massa bahwa Fatimah adalah istrinya,†kata Mae, menjelaskan.
“Lalu, apakah sang provokator yang meneriakkan ‘wanita berkerudung penebar racun’ itu tertangkap?†aku menatap Mae dengan tatapan penasaran.
“Ya! Ternyata pelakunya adalah adalah seorang tukang becak yang mencoba mencari nama. Ia pikir dengan kelakuannya itu, ia akan mendapatkan penghargaan dari pemerintah.â€
“Jadi, polisi telah menangkapnya?â€
“Ya! Polisi segera datang ke tempat kejadian, begitu Qosim berhasil menyelamatkan Fatimah dari amukan massa,â€
“Oh.. Fatimah.. Fatimah..†aku berjalan mendekati Fatimah, dan kemudian duduk disampingnya, lalu mengelus-elus kepala Fatimah dengan sentuhan kasih sayang.
“Ooh abah..†Fatimah segera mendekapku erat, dan menangis di pundakku.
“Sabar.. putriku, sabar,†aku belai-belai kepala Fatimah yang berjilbab berwarna pink.
Saat Fatimah sudah mulai merasa tenang, dan suara tangisannya yang tertahan dan terdengar sedu-sedan itu tak lagi terdengar, aku mulai bangkit. Aku tinggalkan Fatimah di tempat di tempat duduknya, dan aku bediri di hadapan semua keluargaku yang terdiri dari; sanntri-santriku, Haji Jakaria, Qosim dan Mae. Kepada mereka aku tegaskan bahwa sudah saatnya bagi semua keluargaku untuk meninggalkan dunia keramaian. Selama pemerintah orde baru masih berdiri tegak, maka semua keluargaku harus menjauhi mereka.
“Maksud abah bagaimana? Kami tidak mengerti dengan menjauhi keramaian di dalam pemerintahan Orde Baru?†tanya salah satu santriku.
“Keadaan umat Islam Bontam pada era Orde Baru sekarang benar-benar dalam keadaan sulit. Kini, mereka sedang melancarkan Opsus (Operasi Khusus / Operasi Desas-Desus) yang sama halnya dengan operasi Agitprop dari PKI. Kita jangan sampai terbawa emosi. Kita harus tunjukkan kepada mereka bahwa kita lebih baik daripada apa yang mereka desas-desus-kan. Mereka hendak memecah belah kita, kita harus sadari itu!
“Oleh karena itu, saya memutuskan bahwa mulai hari ini saya mengundurkan diri dari ketua umum PPP Propinsi Bontam. Saya menyadari kalau perjuangan saya untuk umat di dalam PPP ini sudah tak ada lagi gunanya,†kataku, menerangkan kepada semua keluarga besarku.
“Abah hendak mengundurkan diri?†Haji Jakaria terkejut mendengar keterangan sikapku.
“Ya! Keputusanku sudah bulat. Sebenarnya saya sudah lama ingin mengundurkan diri dari PPP, ketika saya mendengar kepastian bahwa NU telah memutuskan untuk kembali ke khittah 1926; namun saya tetap bertahan di PPP, berharap bisa membuat perubahan yang berarti. Namun, setelah menyaksikan segala peristiwa yang baru saja terjadi pada hari ini, aku merasa bahwa perjuanganku ini lebih baik dilakukan dengan cara Silent Protest,â€
“Kalau begitu, siapakah yang akan menggantikan posisi abah di PPP?â€
“Siapa saja, selama orang itu bukanlah dari titipan Kamtib. Tapi, secara pribadi saya berharap engkaulah yang akan menggantikanku di PPP,â€
“Kalau abah sudah memutuskan demikian, maka saya akan membicarakan hal ini dengan kyai-kyai lainnya,†Haji Jakaria menundukkan kepalanya, lesu, tak bersemangat.
“Alhamdulillah.. engkau bisa mengerti. Sungguh, kita tidak memiliki pilihan lain dalam melawan kedzhaliman pemerintah ini selain dengan bersabar. Jangan sampai kita terjerumus dalam tindak kekerasan, karena itulah yang diinginkan mereka. Ingatlah kejadian Woyla! Dimana Ali Moertopo menyusupkan seorang mata-mata bernama Najamudin untuk memancing umat Islam ke dalam tindak kekerasan. Oleh karena itu, kita harus menjauhi rezim Orde Baru ini.
“Tak ada pilihan lagi, tak ada pilihan lagi, sudah kuputuskan untuk semua anggota keluargaku agar tidak mengenyam pendidikan dari sekolah pemerintah, apalagi dari sekolah yang bernama Inpres (Instruksi Presiden). Saya menyarankan kepada kesemua anggota keluargaku untuk mengenyam pendidikan pesantren saja.
“Aku tidak yakin kalau dengan menyekolahkan anak-anak kita ke sekolah pemerintah akan membuat anak kita bertambah pintar, melainkan hanya akan bertambah bodoh saja. Apalagi, jika kalian melihat apa yang saya lihat sewaktu saya berada di Kampung Philowong; rezim pemerintah Orde Baru telah membakar ribuan buku sejarah di TPA Philowong. Mulai besok anak-anak kita akan dijejali pelajaran sejarah dari bukunya Nugroho Notosusanto, saya tak mau melihat itu terjadi pada keluargaku.
“Ini sudah tak bisa ditawar lagi. Haram bagi kalian untuk mendapat pendidikan dari sekolah Inpres! Titik,â€
“Jadi, abah menyarankan agar si Mamad berhenti dari sekolahnya?†tanya Qosim.
“Ya! Pemerintah Orde Baru telah berniat untuk membuat bodoh rakyat Bontam. Maka, tak pilihan lain bagi putramu selain mengenyam pendidikan pesantren saja. Kamu harus mengerti itu.. Kamu jangan mengkhawatirkan mengenai masa depan putramu, kelak jika dia sudah ahli dalam ilmu agama, saya akan bangunkan pesantren yang besar untuk dirinya. Putramu adalah cucuku juga,†aku membungkukkan badanku, lalu, memegang pundak Qosim dengan lembut, sementara Qosim hanya menundukkan kepalanya seraya mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan pelan-pelan; sepertinya, ia memahami maksudku.
Bab 8:Â Ketika Aku Bertemu Dengan Bapak Pembangunan
Pada siang hari seperti sekarang, cuaca sedang cerah-cerahnya; waktu yang bagus untuk mengumpulkan jerami dan memberi makan kerbau-kerbau di kandang. Aku sudah mendapatkan banyak jerami dari lahan tidur yang berada dekat dari lahan pesawahanku. Setelah selesai mengikat dan memasukkan semua jerami ke dalam karung, aku mulai berjalan menuju kandang kerbau. Namun, pada saat aku sudah hendak mengeluarkan jerami-jerami dari karung, tiba-tiba kulihat iring-iringan mobil mewah memasuki halaman rumahku. Aku segera meninggalkan pekerjaanku, berusaha mencari tahu mengenai tamu-tamu yang datang ke rumahku hari ini. Pada saat aku berusaha mendekati iring-iringan mobil mewah yang masuk ke rumahku, aku mendapati kalau istri dan putriku juga sudah keluar dari rumah. Dari kejauhan. kami saling bertatap-tatapan dengan rasa heran; penasaran perihal tamu-tamu yang datang dengan iring-ringan mobil yang mewah-mewah ini.
Mae dan Fatimah masih nampak heran saat aku mendekatinya dan berdiri bersama di samping mereka. Kami bertiga masih belum tahu mengenai tamu-tamu yang datang hari ini. Sebelum pintu mobil-mobil mewah itu dibuka, dan orang-orang yang berada di dalam mobil masih belum keluar; kami takkan pernah tahu siapa orang-orang yang ada di dalamnya. Iring-iringan mobil mewah itu terdiri dari 5 mobil sedan Peugeot keluaran terbaru. Aku memang menduga kalau tamu-tamu yang datang ke rumahku kali ini, pastilah orang-orang penting. Namun, pada saat pintu mobil Peugeot 505 GR mulai dibuka, dan dua orang tua berpakaian setelas jas hitam berdasi pun keluar. Subhanallah.. betapa kagetnya diriku ini, ternyata orang yang datang berkunjung ke rumahku adalah Presiden Soeharto.
Penampilanku hari ini sangat biasa seperti layaknya rakyat kecil. Tapi, aku tetap menghampiri presiden dan kesemua pembantunya dengan percaya diri. Soeharto tersenyum padaku, ketika ia melihat diriku yang mengenakan sarung kotak-kotak berwarna hijau, dan kemeja polos berwarna biru muda dengan peci hitam yang kupakai di kepalaku; rupanya ia sangat mengenaliku dengan baik. Di hadapan Soeharto, aku terlihat seperti ulama kampung. Ketika aku bersalaman dengan Soeharto, aku memperkenalkan istri dan putriku kepada Soeharto. Soeharto tersenyum kepada istri dan putriku dengan senyuman yang lebar, kemudian menjabat tangan mereka. Tetapi, ketika bersalaman, Mae dan Fatimah menjaga agar tangan mereka tidak sampai bersentuhan dengan Soeharto yang bukan muhrim.
Angin sepoi-sepoi mulai berhembus ramah saat Soeharto menyapa ‘à ssalamualaikum’ pada kami dengan ramah. Bertolak belakang dengan reputasinya sebagai penjagal ribuan nyawa anak bangsa, tampang dan raut wajah Soeharto itu terlihat ramah dan murah senyum. Tidak heran kalau media Amerika menyebutnya sebagai The Smiling General, tapi aku tidak akan tertipu dengan senyumannya itu. Sewaktu kami mulai diperkenalkan oleh Soeharto kepada salah seorang pembantunya yang bernama Benny Moerdani, kami merasa segan dan tidak simpati. Muka Benny menunjukkan keangkuhan, hidungnya selalu ke atas dan mulutnya selalu cemberut. Ia memang menjabat tangan kami dan membalas salam kami, namun ia sama sekali tak tersenyum kepada kami yang memberinya banyak sekali senyuman ramah. Kami merasa disepelekan oleh cemberut wajahnya itu. Tapi kami tidak marah, memang sudah seharusnya Benny bersikap sombong, bukankah dia seorang Jenderal yang merasa dirinya sebagai bibit unggul, sang
stabilisator dan dinamisator bagi bangsa dan negeri ini. Hmm! Satu pemikiran Nazi yang menjijikkan. Aku bisa mengerti Benny, namun aku tak bisa mengerti ketika aku menemukan Haji Jafar adalah salah satu termasuk dari rombongan presiden Soeharto. Aku sangat marah padanya, dan aku takkan pernah bisa mentoleransi akan sikapnya yang memilih menjadi antek rezim. Meski begitu, aku dan istri serta putriku tak boleh menampakkan sikap benci kami. Sebagai tamu, kami tetap menjabat tangan dan memberi salam pada Haji Jafar, meskipun hanya formalitas saja. Â
Cukup sudah tentang si Benny yang bermuka pembunuh, dan Haji Jafar yang oportunis! Aku takkan menyiksa diriku dengan memikirkan mereka berdua. Ada bagusnya jika kami segera membuat jamuan untuk tamu-tamu istimewa ini. Kami mempersilakan Soeharto beserta Haji Jafar, juga Beny untuk duduk-duduk di beranda rumah. Sekali lagi, Soeharto tersenyum pada kami, lalu ia merangkul erat pundakku dan kami semua pun berjalan menuju beranda rumahku. Tetapi, aku juga merasa tak enak untuk meninggalkan kesemua anggota Paspampres (Pasukan pengaman Presiden) tanpa memberikan jamuan. Namun, Soeharto mengatakan padaku bahwa aku tak perlu repot-repot untuk menjamu semua anggota Paspampres-nya.
“Kami memang membutuhkan penjaga parkir mobil kami, dan kami tak ingin mereka lengah dan bersantai-santai,†Soeharto mengedipkan matanya kepadaku dan tersenyum.
Di beranda rumah, istriku membuatkan minuman teh hangat terbaik kami kepada Soeharto, dan kedua anteknya.
“Di Jakarta, kami belum pernah merasakan minuman teh hangat yang se-nikmat seperti teh buatan ibu Yusuf, bukankah begitu Ben?†Soeharto menoleh ke arah Benny, dan Benny hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan dingin tanpa ada emosi.
“Maaf pak Presiden. Sebenarnya, kami merasa sangat terkejut karena mendapat kunjungan mendadak dari bapak Presiden. Jika saja pak Presiden memberitahu sebelumnya, tentu kami akan membuat persiapan,†kataku dengan suara yang pelan, mencoba menghormati.
“Ya! Aku kemari karena memang ada yang perlu kubicarakan dengan pak kyai. Bagaimana kalau aku dan pak kyai berjalan-jalan mengitari kebun buah-buahan milik pak kyai yang indah. Aku ingin berbicara dengan pak kyai secara pribadi,†kata Soeharto.
“Baik,†aku segera bangkit. “Mari pak presiden,â€
“Silakeun pak kyai duluan!†Soeharto mengulurkan tangan kanannya, mempersilakan aku untuk berjalan duluan.
“Bapak Presiden?†Benny menatap Soeharto dengan tatapan cemas.
“Sudah.. sudah, kamu tak usah khawatir. Sekarang, aku hanya ingin berduaan saja dengan pak kyai,†Soeharto mulai bangkit dari tempat duduknya, kemudian mulai berjalan.
Di kebun buah milikku, aku dan Soeharto berjalan melewati jalanan setapak melewati pondok-pondok bambu peristirahatan para santri-santriku. Daun-daun jatuh berguguran lebih awal tahun ini, hembusan angin yang kadang bertiup kencang, membuat banyak daun-daun berjatuhan di kebun buahku. Hamparan ladang pesawahan yang berada di luar pintu gerbang rumahku telah banyak yang menguning, membuat indah pemandangan alam pedesaan.
“Saya tahu, kalau Harmoko pernah kemari dan ia tak berhasil menemui pak kyai. Kudengar, banyak sekali para pejabat pemerintah yang tidak pernah bisa bertemu dengan pak kyai?†Soeharto bertanya, kedua alisnya terangkat, tetapi ia tetap saja tersenyum.
“Mereka selalu datang pada waktu yang tidak tepat. Biasanya, aku selalu bekerja di sawah di waktu pagi dan siang. Jika saja mereka mau bersabar, mereka pasti akan bisa menemui saya,†aku mencoba meyakinkan Soeharto dengan kebohonganku.
“Ya.. Ya..†Soeharto mengangguk-nganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis hingga memicing, matanya yang sipit pun seolah menjadi menghilang. “Aku bisa mengerti kalau pak kyai tak ingin menemui mereka. Mereka semua adalah kumpulan pejabat bodoh yang tidak mengerti akan visiku mengenai Indonesia sebagai negara mandiri secara pangan dan ekonomi. Dan itu, termasuk Harmoko. Meskipun dia adalah menteri kepercayaanku, namun bagiku dia adalah musang yang licik; aku tak pernah bisa mempercayainya!â€
“Senang sekali kalau pak presiden bisa mengerti saya,†aku menatap lekat-lekat Soeharto, dan kemudian mengangguk-nganggukkan kepalaku dengan perlahan. Namun, aku tetap waspada terhadap kelicikannya.
“Ah.. pak kyai. “ Soeharto tersenyum seraya mengangguk-nggukkan kepalanya. Tapi mukanya langsung berubah menjadi murung, ia memegang dagunya, mengerutkan keningnya. “Saya sudah banyak mendengar mengenai reputasi kejujuran pak kyai, oleh karena itu, saya sangat membutuhkan dukungan pak kyai dalam tugas saya sebagai pemimpin negara dan pemimpin di propinsi Bontam ini. Saya melihat banyak potensi di propinsi Bontam, saya ingin memajukan perekonomian di Propinsi Bontam. Maka, bergabunglah denganku di Golkar; di dalam Golkar kita bisa membuat perubahan di Bontam,â€
“Saya hanyalah seorang ulama kampung yang terkadang-kadang merangkap sebagai petani. Mengapakah pak presiden membutuhkan dukungan saya yang hina ini? Bukankah sudah ada Haji Jafar?â€
Soeharto menghentikan langkah kakinya, kemudian menatapku lekat-lekat. Ia tersenyum lagi padaku, dan kemudian mengangguk-nganggukkan kepalanya. Sambil menarik nafas panjang ia memandangku dengan tatapan penuh harap.
“Saya sangat membutuhkan dukungan pak kyai di Propinsi Bontam ini karena pak kyai adalah orang yang shaleh, orang yang jujur. Apalagi yang bisa kuperlukan dari pak kyai, selain karena pak kyai memang sudah dikenal akan kejujurannya. Mereka-mereka yang dekat denganku, seperti Haji Jafar yang begitu ambisius; saya tak bisa mengandalkannya, dia adalah seorang penipu. Aku tak bisa mempercayai siapapun yang berasal dari HMI. Ada juga seperti Benny Moerdani yang berasal dari kalangan militer. Benny adalah anak macan yang kupelihara. Sampai umur dua tahun binatang itu selembut anak kucing, lalu suatu hari dia akan mengigitku. Puiihh..!†Soeharto meludah ke tanah. “Anak macan yang satu ini akan tumbuh untuk mengigit, kita lihat saja!â€
Aku tersenyum simpul mendengar perkataan Soeharto, aku tak bisa menahannya. Sepertinya, Soeharto juga tak tersinggung melihat aku yang tersenyum.
“Ada begitu banyak orang yang mengikutiku dan mengelilingiku. Dan sekarang, kulihat ada pak kyai yang jujur, yang tenang; tidak seperti mereka-mereka.†Soeharto menatap lekat-lekat kepadaku seraya memegang pundakku.
“Sebagai warga negara republik Indonesia, maka saya tunduk pada Undang-undang negara dan pada segala apa yang dititahkan pak presiden. Jika pak presiden memerintahkan saya untuk berperang, saya akan berperang. Saya akan lakukan semua kehendak pak Presiden selama tidak bertentangan dengan prinsip agama. Karena, Allah yang lebih dahulu diprioritaskan,†jawabku.
“Saya sangat menghargai ketulusan niat pak kyai terhadapku. Tapi kumohon, kumohon pak kyai untuk menerima tawaran dariku; bergabung di Golkar. Golkar bukanlah partai seperti PPP dan PDI. Partai adalah warisan Orde Lama. Sekarang, mari kita bangun negeri kita menjadi negeri yang indah dengan Golkar,â€
“Semenjak NU telah memutuskan untuk kembali ke Khittah 1926, saya sudah keluar dari PPP. Sekarang, saya hanyalah seorang ulama kampung yang merangkap petani. Seorang warga sipil, itulah diriku sekarang. Mohon maaf pak Presiden, saya tak bisa menerima tawaran dari pak presiden untuk bergabung ke dalam Golkar,â€
“Ooh.. pak kyai,†Soeharto menggeleng-gelengkan kepalanya. “Itulah yang paling kusukai sekaligus yang paling kusegani dari pak kyai, yaitu kejujuran pak kyai. Sekarang, katakan padaku: Apakah saya memerlukan Haji Jafar, Harmoko atau Benny Moerdani untuk menjadi penasihatku dalam memimpin negeri ini? Tidak! Mereka semua bajingan! Kadang aku merasa takut untuk berada di sekitar mereka. Tuhan telah menghukum aku karena telah memberikan mereka sebagai bawahanku.
“Meski begitu, Tuhan telah mempercayakan kepemimpinan negeri ini di tanganku. Dalam tugasku sebagai pemimpin, aku telah menyelamatkan negeri ini dari paham Komunisme. Bisakah pak kyai bayangkan; jika saja si Aidit berkuasa, memimpin negeri ini, pastilah agama-agama yang ada di negeri ini akan dilarang, semua kyai dan santri-santri akan musnah akibat kekejaman Komunis. Dan, semua penduduk Indonesia akan dipekerjakan tanpa upah di lahan pertanian kolektif. Mengapakah pak kyai tidak bisa melihatnya daripada semua orang yang bisa melihatnya?â€
Aku tersenyum simpul pada Soeharto, lalu mengangguk-nganggukkan kepalaku dengan pelan-pelan. Aku bisa mengerti kalau sekarang, Soeharto tengah mencoba menunjukkan kepahlawanannya terhadap diriku.
“Namun, aku tetap tak bisa membantu pak presiden. Sekarang aku sudah menjadi warga sipil biasa, rakyat jelata. Inilah kehidupan yang selalu kuinginkan. Aku harap pak presiden bisa mengerti,†kataku.
Muka Soeharto menjadi memerah. Lama sekali ia terdiam membisu dengan rahang bergemeretak. Aku bisa menduga kalau Soeharto itu tak biasa mendapatkan penolakan. Kami masih berdiri saling membisu ketika angin mulai bersiul-siul di bawah pohon tempat kami berdiri. Apapun yang akan Soeharto tawarkan, aku akan selalu menolaknya dengan halus, dan ia sudah mengerti itu. Tanpa buang waktu lagi, Soeharto segera meninggalkanku, dan bergegas menuju mobilnya.
Aku berjalan cepat di belakang Soeharto, menunggu emosinya tenang agar aku bisa meredakan amarahnya padaku. Di depan mobil sedan Peugeot 505 GR-nya, Soeharto lama berdiri mematung, nampak termenung sejurus, menekurkan kepalanya, lalu menepuk-nepuk atap mobil sedan-nya. Aku harus membiarkan Soeharto sendirian, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mengikutinya dari belakang dan mengamatinya. Namun keadaan Soeharto yang terlihat gamang seperti itu, membuat Benny segera meninggalkan beranda rumahku, dan kemudian berlari tergesa-gesa menuruni lantai papan kayu beranda rumahku. Karena terlalu bergegas, Benny terjatuh pada saat menuruni lantai beranda rumahku. Haji Jafar bergegas bangkit, hendak membantu Benny berdiri. Namun, Benny menepis uluran tangan Haji Jafar, kemudian ia segera kembali berlari ke arah Soeharto.
Di hadapan Soeharto, Benny terlihat pucat wajahnya bagaikan kapur tulis. Aku tak tahu apa yang dibicarakan Soeharto dan Benny. Namun, tak lama saat Benny sudah berdiri di hadapan Soeharto, Soeharto segera menoleh ke arahku, dan ia kembali tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum akhirnya ia dan Benny masuk ke dalam mobilnya. Tanpa ada ucapan selamat tinggal, mobil yang membawa Soeharto dan Benny langsung bergerak, melaju ke arah pintu gerbang rumah dengan diikuti keempat mobil sedan lainnya. Haji Jafar berusaha mengejar mobil Seoharto, namun ia malah ditinggalkan di rumahku.
Begitu semua iring-iringan mobil Soeharto sudah pergi meninggalkan rumahku, Haji Jafar menatap tajam ke arahku. Mukanya terlihat kesal. Ia segera bergegas berjalan ke arahku. Aku tahu kalau Haji Jafar sedang bersiap untuk memarahiku. Tapi, aku pun sudah siap untuk menghadapinya.
“Kakak keterlaluan, Soeharto datang berkunjung kemari adalah karena berniat bersilaturahim pada kakak. Sekarang, lihat apa yang telah kakak perbuat. Kakak telah membuat marah pemimpin kita,â€
“Soeharto memang pemimpin negeri ini, tapi dia bukan pemimpinku. Aku tidak akan pernah mengakuinya dia sebagai pemimpin, selama dia dan Benny masih mendzhalimi umat Muslim dengan alat Pancasila-nya,â€
“Apa? Apakah kakak sadar dengan apa yang telah kakak katakan? Bagaimana bisa kakak mengatakan kalau Soeharto telah menggunakan Pancasila sebagai alat kekerasan? Perkataan kakak ini bisa digolongkan ke dalam kejahatan pengkhianatan.â€
“Aku menyadarinya. Aku hanya mengatakan kebenaran, aku hanya mengatakan hati nuraniku. Pancasila yang dipahami Soeharto bukanlah Pancasila yang dipahami oleh para pendiri bangsa dan semua rakyat Indonesia,â€
“Kakak memang keras kepala. Sebenarnya, kedatanganku kemari adalah untuk meminta maaf atas sikap saya yang kasar terhadap kakak 11 tahun yang lalu. Tapi, melihat kakak yang sekarang, aku tak menyesal pernah berbuat kasar pada kakak,â€
“Engkau adalah adik seperguruanku. Kita telah bersahabat sejak lama. Aku sudah menganggapmu sebagai adik; bagian dari keluargaku. Aku berharap engkau tidak membiarkan Soeharto menjadi pertikaian diantara kita. Sebenarnya, aku lebih senang engkau menjadi guru agama di pesantren daripada mengikuti Soeharto yang dzhalim, engkau bisa menjadi guru yang sangat baik,â€
“Lalu, jika aku menjadi guru, bagaimana orang lain bisa mengetahui kelebihanku di dalam berorganisasi, di dalam pemerintahan? Aku memiliki kelebihan dalam ilmu kepemerintahan!â€
“Jika engkau memiliki ambisi sebesar itu, engkau memang tak bisa menjadi guru. Padahal jika kau menjadi guru, aku akan sangat menghormatimu, semua keluargaku pun akan menghormatimu; Tak perlu semua orang untuk menghormatimu, cukupkanlah hanya dengan kami saja,â€
“Kakak..!†Haji Jafar terlihat melunak di hadapanku, pandangan matanya nampak berkaca-kaca, seolah menaruh harapan yang begitu besar terhadap diriku. “Engkau benar.. aku mungkin terlalu berambisi. Tapi, sungguh lihatlah kenyataan sekarang..! Mengapakah kakak tidak bergabung mengikuti saya? Aku takkan melupakan kebaikan kakak yang telah merawatku semenjak kecil dan membimbingku dalam mengejar ilmu agama di pesantren guru kita. Sekarang, demi persahabatan kita yang sudah terjalin lama, ikutlah bergabung bersama denganku!â€
“Dan jika saya meninggal. Kemudian, saya dikirim ke neraka karena meninggalkan iman-ku, sementara engkau masuk surga karena memegang teguh iman-mu; apakah engkau bersedia untuk menemaniku di neraka, meninggalkan kehidupanmu di surga?†ujarku. “Tidak.. kawan, aku tidak akan pernah bergabung ke Golkar, ke PPP pun aku tak hendak lagi,â€
“Sial..! betapa keras kepalanya kakak ini†Haji Jafar menundukkan kepalanya, menaham kekesalannya. “Aku takkan berbicara lagi. Sudah cukup, lebih baik aku pulang saja,†Haji Jakaria kemudian membuang mukanya dariku, lalu berjalan meninggalkanku.
“Jafar..!†aku berteriak memanggilnya, namun ia tidak ambil peduli, ia tetap berjalan menjauh hingga akhirnya keluar dari pintu pagar rumahku. Aku takkan pernah bisa mengejarnya lagi, aku sudah mampu menjangkaunya. Sesungguhnya, apa yang telah menjadi pilihan hidup Haji Jafar sekarang adalah suatu bentuk kerugian besar, ketika ia harus memberikan seluruh jiwa dan raganya kepada perwujudan Ijajil, perwujudan Lucifer di dunia; Soeharto.
Aku sangat yakin kalau peristiwa pertemuanku dengan Soeharto yang terjadi pada hari ini, adalah sebagai isyarat masa depan yang suram bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Aku sangat khawatir bila memikirkan apa yang bisa diperbuat Soeharto dan Benny terhadap umat Islam. Aku mencoba memperbanyak bacaan Istighfar untuk menghilangkan bayang-bayang mengerikan yang mencoba menguasai hati dan pikiranku. Namun, masih ada harapan bagi umat Islam. Selama umat Islam masih punya rasa optimis untuk meneruskan hari esok dengan kesabaran hati disertai pemikiran mulia nan indah, merentangkan tangan lebih terbuka, dan hingga suatu hari kita pun akhirnya tiba di hari yang lebih baik, melewati badai-badai yang besar selama perjalanan panjang.
Aku masih berdiri termenung, dan saat itu Mae dan Fatimah menghampiriku. Pelukan erat dari mereka berdua, membuat aku merasa ringan, seakan permasalahanku dengan Soeharto dan Haji Jafar menjadi lenyap. Mereka berdua adalah karunia Allah. Aku sangat bersyukur kepada Allah karena telah memberikan keluarga yang suportif seperti Mae dan Fatimah.
“Abah bertengkar lagi dengan paman Jafar ya..?†tanya Fatimah.
Aku hanya tersenyum simpul dengan penuh keramahan pada Fatimah yang bertanya padaku, aku tak sanggup menjawabnya, hatiku merasa sangat sakit untuk menjelaskan.
Semenjak Soeharto berkunjung ke rumahku, keadaan umat Muslim di seluruh Indonesia menjadi semakin tertindas dibawah kepemimpinannya. Semakin banyak banyak kyai-kyai dan santri-santri yang ditangkapi pemerintah, apalagi di Aceh. Untuk Aceh, aku tak bisa mengatakannya lebih jauh; aku tak kuat untuk membayangkan keadaan umat Muslim dan para pemuka agamanya di sana. Kudengar, banyak umat muslim di Aceh yang telah dibantai rezim Orde Baru di satu bukit bernama bukit Tengkorak; mengerikan!
Hatiku merasa sangat tersiksa jika aku memikirkan kekerasan rezim terhadap umat Muslim di negeri ini. Aku tak pernah berhenti berharap untuk kebaikan umat Muslim di seluruh daerah di Indonesia, dan khususnya di Bontam. Aku berharap agar kekerasan militer terhadap umat muslim takkan terjadi di propinsi Bontam. Semoga Allah berkenan akan harapanku. Namun, semua harapan itu mulai menghilang saat aku mendengar siaran berita dari radio mengenai kekerasan di Tanjung Priok yang letaknya tidak terlalu jauh dengan propinsi Bontam. Kucari lagi berita Tanjung Priok dari stasiun radio lain untuk mencari sisi lain dari berita pembantaian Tanjung Priok. Maka, kuputar radio Phillips itu dari stasiun RRI Jakarta menuju stasiun RSPD (Radio Stasiun Pemerintah Daerah) Bontam. Dan, beritanya tetap sama; ratusan teroris ekstremis kanan menyerang kantor Kodim dan kantor Polres, puluhan orang telah ditembak di tempat, dan puluhan orang lainnya telah ditangkap. Aku tidak
mempercayai semua berita ini, begitu pula dengan semua keluargaku yang ikut mendengar siaran radio ini.
“Ayah..†Fatimah menatapku dengan tatapan yang berkaca-kaca, tubuhnya bergemetar. “Aku merasa takut!â€
“Jangan takut sayang! Jangan takut, Allah akan melindungi kita,†aku segera mendekap erat Fatimah, membelai-belai kepalanya.
“Ini semua berita bohong. Tak mungkin ada orang bodoh yang mau melakukan pemyerangan dengan tangan kosong melawan puluhan tentara militer yang bersenjatakan api,†kata Qosim, emosi.  “Pasti ini kelakuan Benny. Dasar jenderal predator! Musuh Allah itu telah membantai saudara-saudara kita di Tanjung Priok,â€
“Tidak! Pembantaian Tanjung Priok ini bukan sepenuhnya kesalahan Benny, tapi juga kesalahan Soeharto yang melakukan pembiaran,†aku mencoba untuk bangkit, namun tiba-tiba dadaku terasa sakit. Air mataku keluar berderai membasahi wajahku, kedua tanganku menutup mulutku, kemudian kututupi kedua mataku dengan kedua lenganku. “Banyak santri-santriku yang bekerja dan menjadi Mubaligh di Tanjung Priok, Ooh.. Tuhan, selamatkan mereka semua,â€
“Abah..†Qosim segera merangkulku erat-erat, dan mengusap-usap pundakku dengan kelembutan. “Apakah abah baik-baik saja? Tampaknya abah sangat terguncang dengan berita Tanjung Priok ini,â€
Aku menoleh ke arah Qosim, kemudian menatap ke arah Fatimah dan Mae yang kini berjongkok di sisi kananku. “Bersiaplah kalian semua. Mulai tahun ini, akan ada badai, dan laut akan sangat berombak. Dan lebih daripada sebelumnya, kita semua harus bersatu, jangan sampai terprovokasi oleh isu-isu yang dilemparkan pemerintah rezim terhadap kita,â€
Â
Â
Bab 9: Antara Kesabaran dan Kedzhaliman
Sambil berbaring di tempat tidurku, aku masih memikirkan perihal berita Tanjung Priok tadi sore; cemas terhadap keadaan semua santri-santriku yang tinggal di sana. Begitu banyak sekali yang kupikirkan malam ini, dan pikiran-pikiran itulah yang membuatku masih terjaga. Pada malam ini, hujan telah berhenti turun namun sesekali disertai dengan hembusan angin yang kencang. Angin dingin menyelimuti kamar tidur kami dalam kegelapan malam. Aku masih bisa melihat Mae yang tertidur nyenyak di sampingku. Malam ini terasa sangat panjang, dan aku masih belum bisa tidur. Sepanjang malam aku duduk di tepi tempat tidurku; perasaanku tidak enak pada malam ini, aku benar-benar merasakan satu firasat buruk. Kupaksakan diriku untuk kembali tidur dan memejamkan mataku seraya mengucapkan bacaan puji-pujian kepada Allah di dalam hatiku.
Aku sudah mulai merasakan mataku berat, dan sudah mau jatuh tertidur ketika tiba-tiba aku dan Mae mendadak terbangun karena mendengar suara Assalamualaikum yang disertai dengan pukulan yang keras pada pintu depan rumahku. Kami segera bangkit dari tempat tidur kami, dan berjalan menuju ruang tengah, dan melihat tamuku dari balik jendela. Betapa terkejutnya diriku saat aku mengetahui bahwa tamu yang berkunjung ke rumahku pada tengah malam seperti sekarang ini adalah Umar Samlawi. Kami putuskan untuk keluar rumah, menemui Umar Samlawi.
Pada saat kami menemui Umar di beranda rumah, Umar nampak menyedihkan; bajunya yang basah nampak kusam dipenuhi bercak darah kering, selain itu tubuhnya juga terlihat kurus dan mukanya pucat, sementara matanya menyiratkan kepedihan. Mae langsung berlari dengan wajah yang menyiratkan rasa panik, mendekati Umar, dan segera memegang wajah Umar. Mendapat sambutan hangat seperti itu, Umar kemudian menundukkan kepalanya, air matanya membasahi pipinya, lalu ia pun menangis terisak-isak di hadapan kami.
“Mereka telah membunuh semua teman-temanku.. mereka telah membunuh semua teman-teman pengajianku di Tanjung Priok,†ujar Umar dengan penuh ketakutam. Seluruh badannya menggigil karena kehujanan. “Maafkan saya abah.. bu haji, saya terpaksa datang kemari. Aku tak tahu harus kemana lagi aku mesti bersembunyi. Semua aparat sedang mencari-cariku, dan aku tak bisa pulang ke rumah orang tuaku, aku khawatir kalau-kalau aparat militer sudah menantiku di sana,â€
“Oh.. Umar, Umar, Umar,†aku segera mendekap erat Umar. “Janganlah engkau merasa khawatir lagi. Engkau aman disini, tinggallah selama engkau suka,â€
“Betul Umar! Engkau sudah kami anggap anak kami,†Mae ikut merangkul Umar. “Sekarang, masuklah ke dalam rumah. Bersihkan dirimu, aku akan buatkan engkau minuman Bandrek agar tubuhmu hangat,â€
“Terima kasih bu Haji. Engkau terlalu baik terhadapku,â€
“Setidaknya, hanya ini yang bisa kami lakukan,†kataku seraya tersenyum simpul.
Di tengah kegelapan malam, kami semua saling bertatapan, dan terdiam. Aku bisa melihat mata hitam Mae terpaku pada Umar; satu tatapan penuh empati. Aku segera bangkit untuk menolong Umar berdiri dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, aku berikan baju koko-ku kepada Umar sebagai pengganti bajunya yang basah karena kehujanan. Umar menerima baju pemberianku dengan penuh kegembiraan, raut mukanya menyiratkan rasa terima kasih yang mendalam terhadap kami. Setelah menerima baju pemberianku, Umar segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya; ia memang sudah hafal semua sudut di rumahku.
Sewaktu Umar berada di dalam kamar mandi, Mae datang ke ruang tamu sambil membawakan minuman Bandrek panas dengan asap mengepul sekedarnya yang keluar dari dalam gelas bandrek. Kami berdua duduk di ruang tamu, menunggu Umar selesai membersihkan dirinya di kamar mandi. Lama sekali kami duduk dengan terdiam, sementara suasana keheningan di tengah malam ini terasa begitu menyiksa bathin.
“Kurasa, Umar harus megganti namanya kalau ia ingin tinggal disini. Hanya dengan mengganti namanya saja, ia akan lolos dari pencarian aparat rezim!†istriku tiba-tiba memberi saran.
“Kita bicarakan hal ini nanti, dia baru saja datang, biarkan Umar beristirsahat dulu. Dia telah melalui hari-hari yang keras di Tanjung Priok,†jawabku.
Jemari Mae yang kurus dan berkeriput di atas kulitnya yang kuning kepucatan, berada di atas tanganku selama beberapa saat dan meremas-reas tanganku. Kutatap wajahnya, tapi Mae segera menundukkan kepalanya seraya menggeleng-gelengkannya. Aku bisa mengerti kekhawatiran yang kini dirasakan Mae.
“Janganlah engkau merasa khawatir. Allah akan melindungi kita, percayalah itu,† aku memegang pundak Mae dengan lembut, dan kemudian mencium keningnya.
Dalam cuaca yang sedingin ini, angin berhembus lembut melintasi aula ruang tamu rumah. Pada saat itu aku memeluk erat Mae untuk meringan rasa kekhawatiranya. Wajah Mae mulai berlinang air mata sewaktu Umar berdiri di tengah-tengah ruangan rumah dan mengedarkan pandangannya kepada istriku dengan tatapan prihatin. Umar lalu berjalan mendekati kami, ia nampak segar, bajuku yang kini dikenakannya itu telah menambah kesan ketampanannya yang berkharisma ketaatan.
“Aku tak ingin merepotkan kalian. Mungkin aku akan berada di sini hanya untuk satu malam saja, setelah itu aku akan pergi,†Umar kemudian menarik kursi dan ikut duduk-duduk bersama kami.
“Jangan begitu. Tinggallah di sini selama engkau menghendaki,†kataku.
“Tapi, kehadiranku di rumah ini hanya akan menambah bahaya terhadap keutuhan keluarga ini. Aku tak ingin membahayakan keselamatan keluarga ini,†kata Umar.
“Ketika seorang kepala keluarga meninggalkan salah satu keluarganya yang sedang kesulitan dan membutuhkan bantuannya demi mementingkan dirinya sendiri, maka orang itu tidak layak disebut sebagai pemimpin, dan hanya akan membawa kehancuran pada keluarganya, dan lingkungan sekitarnya. Tidak! Aku tidak akan menjadi orang seperti itu, aku akan melindungimu dari aparat rezim meskipun itu akan mengorbankan nyawaku,â€
“Ooh abah! Seandainya abah melihat langsung kejadian di Tanjung Priok, saya yakin abah takkan berani memberi perlindungan padaku,†Umar menundukkan kepalanya, kemdian menggeleng-gelengkannya. “Mereka menembaki kami bagaikan anjing yang tak berharga; padahal kami berniat damai, kami hanya ingin berdiskusi dengan kepala Kodim dan kepala Polisi. Tapi mereka menganggap kami sebagai ancaman teror dan membantai kami dengan sia-sia,â€
“Sudahlah, kini kau aman sekarang,†aku segera mendekap erat Umar.
“Kehidupanku hancur, kesempatanku untuk wisuda pada tahun ini musnah sudah. Salahkah aku yang memilih untuk mengambil penelitian di Tanjung Priok, mengenai praktik kehidupan sosial dan keagamaan pada masyarakat di Tanjung Priok, sehingga Try Soetrisno (Panglima tinggi milter yang tingkatannya masih dibawah Benny) mengatakan pada publik bahwa pesantren di Tanjung Priok itu mengajarkan kebringasan?â€
“Subhanallah!†aku menundukkan kepalaku, dan kemudian menggeleng-gelengkannya. “Engkau sama sekali tidak salah, engkau sama sekali tidak salah. Jangan pernah kau menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian Tanjung Priok,†aku menatap lekat-lekat wajah Umar.
“Ya, abah. Ya..†Umar menundukkan kepalanya, termenung.
“Sekarang, lebih baik engkau beristirahat, engkau bisa memakai kamar Fatimah,â€
“Fatimah..?â€
“Ya! Sejak dia menikah dengan Qosim, kamarnya kini menjadi kamar kosong.â€
“Tapi, apakah Fatimah tidak marah jika nanti dia mengetahui bahwa sekarang aku menempati bekas kamarnya?â€
“Dia tidak akan marah, lagipula, semenjak Fatimah sudah menikah dan memiliki anak, aku sudah membangunkan satu rumah untuknya di sekitar halaman pesantrenku; untuk apa dia marah†aku tersenyum simpul pada Umar seraya mengangkat bahuku, lalu menatapnya lekat-lekat bagaikan tatapan seorang ayah pada anaknya.
“Terima kasih abah, entah bagaimana aku bisa membalas kebaikan abah,â€
“Tidak ada yang perlu dibalas, keselamatanmu saja sudah suatu anugerah,†aku menepuk pundak Umar Samlawi dengan lembut dan penuh kasih syang.
***
Cuaca semakin dingin malam itu dan pada saat adzan Shubuh mulai terdengar, aku segera bangun dari tidurku, kemudian membangunkan istriku. Rupanya, aku bangun agak terlambat. Biasanya, aku selalu bangun pada jam tiga pagi dan melakukan rutinitas shalat Tahajud bersama santri-santriku. Tetapi tidak untuk hari ini, mungkin karena aku terlalu kelelahan sehingga aku bangun terlambat dan melewatkan rutinitas Tahajud-ku.
Adzan Shubuh sudah tidak lagi terdengar, angin masih bertiup sangat kencang sementara hujan sudah lama berhenti sejak tadi malam. Pada saat itulah, Aku segera berjalan menuju kamar Fatimah untuk membangunkan Umar, hendak mengajaknya shalat Shubuh berjamaah. Tapi, sewaktu aku beberapa kali mengetuk pintu kamar, aku tidak menemukan ada jawaban dari balik pintu. Aku segera membuka pintu, dan ternyata Umar tidak ada di kamarnya. Di dalam kamar Fatimah, aku hanya bisa menemukan surat tulisan tangan Umar yang berisikan:
Kepada Guruku yang sangat kuhormati dan kuteladani, Abah Yusuf Hussein,
Tak perlu kiranya aku menjelaskan lebih lanjut mengenai kepegianku yang tanpa pamit ini, bukannya bermaksud tak sopan, tapi aku harus pergi dari rumah ini karena aku tak mau membahayakan keluarga abah. Maaf, saya tak berpanjang lebar dalam surat ini, kuharap abah bisa mengerti.
Salam
Umar Samlawi.
Â
Selesai membaca surat Umar, aku bergerak hilir mudik di dalam kamar Fatimah dengan pikiran yang kalut. Umar takkan mampu bertahan lama di luar sana, aku harus segera menemukannya. Menghilangnya Umar dari rumahku telah membuat aku beserta semua santriku mempersingkat shalat Shubuh agar bisa segera melakukan pencarian. Matahari masih belum nampak sewaktu aku membagi kelompok pencarian diantara semua santriku di halaman Musholla pesantren. Dengan membawa obor sebagai alat penerangan, kami semua memencarkan diri ke seluruh pelosok desa. Kami mencari keberadaan Umar hingga ke seluruh desa tetangga, tapi kami tetap tak menemukannya. Hingga matahari sudah muncul dan menerangi hari, kami masih belum menemukannya. Semua santriku berpendapat bahwa Umar mungkin sudah pergi jauh meninggalkan kampung, dan kami akhirnya memutuskan untuk menghentikan pencarian.
Ada banyak musibah! Ada banyak musibah yang menimpaku dan semua umat Islam di negeri ini. Hari ini aku telah kehilangan seorang putra, putra terbaik dari seorang almarhum ulama terbaik yang pernah ada di Propinsi Bontam. Adalah kesalahanku jika sesuatu yang buruk menimpa pada Umar. Aku tahu satu orang yang memiliki kemampuan untuk membunuh saudaranya sendiri, membunuh bangsanya sendiri, orang itu adalah Soeharto. Menghilangnya Umar adalah kesalahan Soeharto, aku tak mau menyiksa diriku dengan menyalahkan diriku atas kejadian Tanjung Priok ataupun menghilangnya Umar, aku akan menyalahkan Soeharto!
Sungguh, menghilangnya Umar pada hari ini telah membuatku kehilangan semangat untuk menjalani rutinitas harianku. Di beranda rumah, aku habiskan waktuku untuk duduk-duduk sendirian dan memperbanyak do’aku pada Allah demi keselamatan Umar di luar sana. Meski istriku telah membawakanku segelas minuman teh untukku, namun aku tak berselera untuk meminum teh buatannya. Sewaktu aku menatap halaman kebun buahku dengan pikiran menerawang dan tatapan kosong, tiba-tiba aku merasakan tanganku digenggam erat, diremas-remas oleh Mae. Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya; kulihat ia tersenyum pahit dan ia segera mendekatkan posisi duduknya di sampingku.
“Oh Mae.. Mae, Mae,†aku menundukkan kepalaku dan merebahkan kepalaku di pangkuan istriku, mencoba melepaskan beban stress yang ada di kepalaku. “Aku tak mampu menemukan Umar, bagaimana aku mengatakan pada Haji Samlawi nanti jika aku bertemu dengannya di Akhirat,â€
“Tak apa-apa suamiku, aku yakin Haji Samlawi takkan begitu menyalahkanmu atas Umar. Kumohon, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Umar telah mengambil keputusan untuk pergi dari rumah kita,†kata Mae seraya membelai rambutku yang sudah beruban dan sudah mulai jarang-jarang.
“Kau benar,†aku tersenyum simpul pada Mae.
Saat aku masih berada di pangkuan Mae, melepaskan keluh-kesahku, dapat kudengar suara deru mobil memasuki halaman rumahku. Dua buah mobil Jeep berwarna hijau dengan beberapa tentara turun dari kedua mobil tersebut, dan Komandan Baedowi segera menggegaskan langkah kakinya menuju tempatku berada. Ketika Baedowi tiba di lantai tangga kayu beranda rumah, nampak raut wajah Baedowi menyiratkan kekecewaan besar, ada banyak penyesalan yang bisa kutemukan di sinar matanya.
“Abah..†ia mendongakkan kepalanya untuk menatapku yang berada di atas beranda rumah. “Maafkan saya abah, tapi saya telah mendapat perintah untuk membawa abah ke kantor Kodim,â€
“Kalau saya boleh tahu, ada urusan apakah hingga saya mesti dijemput ke Kodim secara paksa oleh sekumpulan tentara? Bukankah sekarang ini bukan bulan Ramadhan, bukan tujuh hari menjelang Idul Fitri?â€
“Aku tak bisa menjelaskannya lebih lanjut, kita akan membicarakan ini di kantor Kodim,†kata Baedowi dengan suara yang sangat sopan dan sedikit nada penyesalan.
“Baiklah Baedowi, aku akan ikut denganmu ke kantor Kodim,†aku segera bangkit, tapi tangan Mae menggenggam erat lenganku, menahanku untuk pergi, meninggalkannya. “Lepaskan Mae, kau juga tahu kalau aku harus pergi. Semua akan baik-baik saja, kamu jangan khawatir,â€
“Bagaimana kalau abah tak kembali? Datangnya mobil Jeep kemari adalah suatu pertanda buruk!â€
“Tidak sebegitu buruk bila yang datang adalah mobil truk. Karena yang datang sekarang adalah mobil Jeep, aku berani mengatakan padamu bahwa aku akan kembali kepadamu, kembali ke rumah,†aku tersenyum pada Mae, kemudian mencium keningnya, lalu meninggalkannya “Kamu harus banyak berdoa agar saya bisa segera pulang,â€
Jantungku berdebar keras saat Baedowi menyambutku di lantai beranda rumah, kemudian menuntun langkahku menuju mobil jeep. Meski Baedowi selalu tersenyum dan menghiburku selama menuntunku menuju mobil, namun aku tetap waspada terhadapnya dan kesemua anak buahnya; aku belum tahu apa yang mereka inginkan dariku! Begitu aku sudah hendak menaiki salah satu mobil Jeep, salah seorang tentara hendak memborgol tanganku, namun dicegah oleh Baedowi.
“Jangan! Dia adalah seorang ulama terhormat. Demi Allah, kita harus memperlakukannya dengan baik, dia adalah guruku,†kata Baedowi seraya menatap tajam kepada salah seorang anak buahnya yang hendak memborgolku.
“Maaf pak Komandan, kalau begitu terserah pak Komandan saja,†seru sang tenara dengan sigap, lalu memberikan hormatnya kepada Baedowi.
Saat matahari makin meninggi dengan kehangatannya yang menyelimuti seluruh pedesaan, aku mulai dibawa ke kantor Kodim dengan mobil Jeep, meninggalkan semua keluargaku. Begitu mobil Jeep yang membawaku tiba di depan pintu gerbang rumah, aku berpapasan dengan Fatimah dan Qosim. Mereka berdua tampak terkejut, mata mereka terbelalak saat melihatku yang berada di atas mobil Jeep. Fatimah berlari mengejarku sambil meneriakkan namaku dengan suara yang terdengar histeris. Tak ada yang bisa kulakukan selain menatapnya dan melambaikan tanganku kepadanya.
“Aku pasti kembali sayang, aku pasti kembali!†teriakku dari atas mobil Jeep, kulihat Fatimah begitu lunglai, kemudian menjatuhkan dirinya sambil duduk, sementara Qosim menyusulnya dan memegang pundak Fatimah; menghiburnya.
Perjalanan menuju kantor Kodim ini terasa begitu menegangkan, begitu kaku. Kulihat Baedowi yang duduk di sampingku hanya diam saja, sepertinya ia mencoba menahan dirinya untuk tidak berkata-kata selama dalam perjalanan ini. Aku sadar kalau perjalanan ini adalah perjalanan menuju tempat tahanan, aku biasa mendapatkan perjalanan ini sewaktu tujuh hari menjelang Idul Fitri. Tetapi sekarang bukan bulan Ramadhan, aku mendapatkan firasat buruk; jangan-jangan semua ini ada kaitannya dengan Umar.
Sebaris sinar matahari tampak di jalan setapak yang terdapat di depan pintu gerbang kantor Kodim. Banyak pepohonan buah dan pinus yang bisa kutemukan di halaman kantor Kodim yang luas. Tiba di depan beranda kantor Kodim, kulihat banyak sekali mobil-mobil sedan berplat-kan warna merah, dan selain tentara, ada begitu banyak juga para pegawai berseragam dinas dengan berwarnakan warna hijau tua, dan logo timbangan keadilan pada dada kirinya; kurasa mereka-mereka adalah pegawai kejaksaan. Apakah para pegawai kejaksaan ini menanti kedatanganku? Sepertinya ya!
Salah seorang pegawai kejaksaan yang berwajah tua, dengan rambut memutih, dan pada dada kanannya terdapat tulisan nama Suryaman, segera menuntunku masuk ke dalam kantor. Masuk ke dalam kantor, aku kemudian dituntun menuju ruang interogasi untuk dimintai keterangan. Di dalam ruang interogasi, aku duduk di kursi dengan menghadap ke arah Suryaman dan Baedowi; seperti disidang saja rasanya, namun aku tak gentar sedikitpun untuk menghadapi mereka berdua.
“Perkenalkan; nama saya Suryaman, saya dari kejaksaan Propinsi Bontam. Sekarang saya diperintahkan pemerintah pusat kemari adalah untuk mengorek keterangan dari saudara Yusuf. Baik, saya takkan basa-basi lagi, saya akan manfaatkan waktu seefisien mungkin. Saya akan bertanya pada saudara Yusuf; apakah saudara Yusuf mengenal dengan buronan Tanjung Priok yang bernama Umar Samlawi?†tanya Suryaman dengan nada suara yang kasar dan terkesan merendahkan.
Aku menoleh ke arah Baedowi, mencari penjelasan, namun Baedowi hanya menundukkan kepalanya dan diam.
“Apa maksud semua ini?†aku menatap heran pada Baedowi, dan Baedowi tetap diam, tak bergeming sedikitpun.
“Mohon saudara Yusuf untuk segera menjawab pertanyaanku..!†kata Suryaman seraya menggebrak meja dengan tidak begitu keras, tapi cukup menggema. “Atau.. aku akan segera penjarakan pak kyai karena tidak mau bersedia bekerja sama! Aku sudah mencurigai saudara kyai sejak lama. Berdasarkan laporan-laporan intelijen kami; Umar dikabarkan sering berkunjung ke rumah saudara. Pemerintah takkan mentolerir seseorang yang memberikan perlindungan terhadap teroris ekstremis kanan sempalan DI/TII,â€
“Jika aku dianggap sebagai penjahat, maka biar kukatakan satu hal pada pak Suryaman; jika ini yang disebut ancaman dari bapak? Sungguh, aku sama sekali tidak merasa simpati ataupun takut dengan sikap ancaman bapak ini. Bapak mengancam seperti bukan pegawai kejaksaan yang terhormat dan berwibawa, bapak kengancam seperti anak kucing yang kehilangan induknya!†aku menatap tajam kepada Suryaman, kemudian aku memalingkan pandanganku ke arah lain, aku benci untuk menatapnya lama-lama.
“Kalau saudara kyai merasa lebih tahu, katakan padaku; bagaimanakah aku seharusnya bersikap kepada saudara agar aku bisa nampak terhormat dan berwibawa di hadapan saudara? Bagaimanakah aku seharusnya mengancam?â€
“Ancamlah aku dengan sikap seorang pegawai kejaksaan yang adil, yang merepresentasikan nama Tuhan Yang Maha Adil,â€
“Oh.., hanya dengan nama Tuhan Yang Maha Adil-kah, saudara kyai akan merasa takut? Kalau begitu, aku mengancam pak kyai untuk segera terus terang dengan nama Tuhan Yang Maha Adil,â€
“Kalau begitu saya tak merasa terancam oleh ancaman bapak, atas nama Allah yang Maha Adil!â€
“Kau..†Suryaman mengacungkan jari telunjuknya ke arahku dengan muka bingung namun mencoba menahan kekesalannya.
“Guru.. kumohon jawablah pertanyaan Suryaman, aku ingin guru bisa segera pulang,†Baedowi mencoba membujukku, dan menatapku dengan tatapan yang ramah.
“Jelaskan dulu padaku apa yang terjadi? Apa maksud semua ini?â€
“Baiklah, kami telah memulai percakapan ini dengan cara yang salah,†Baedowi menoleh ke arah Suryaman, menatap tajam kepadanya, dan Suryaman menundukkan pun kepalanya, nampaknya ia merasa takut untuk menghadapi Baedowi. Setelah menatap Suryaman dengan tatapan kemarahan, Baedowi kembali menatapku lekat-lekat. “Maafkan kami, sebenarnya tuan Suryaman ini hanya melaksanakan tugasnya. Aku berharap abah bisa memakluminya,â€
Â
“Tapi, apakah harus seperti itu caranya? Jangan begitu, kita juga sama-sama manusia, kita harus saling menghargai,†kataku seraya menatap tajam pada Suryaman yang terlihat ketakutan; rupanya, dukungan yang kudapat dari Baedowi benar-benar telah membuatnya gentar.
“Ya! Abah benar.†Baedowi menundukkan kepalanya, kemudian mengangguk-nganggukkannya. “Abah.. sebenarnya, kami baru menangkap Umar pada saat jam 3 pagi di perbatasan kampung Cinanggung dan kampung Rangkas Kuya. Kami tak tahu apakah Umar baru saja pulang dari rumah abah atau bukan? Saya sudah berusaha meyakinkan pihak kejaksaan bahwa Umar tidak pernah berada di rumah abah, dan Umar tidak memiliki kaitan dengan abah. Tapi mereka bersikeras untuk menanyakan secara langsung pada abah,†Baedowi dengan diam-diam mengedipkan sebelah mata kanannya terhadapku.
Aku mengerti isyarat kedipan mata Baedowi; ia  menghendaki aku untuk berbohong kepada Suryaman, menyangkal Umar adalah murid sekaligus putra angkatku. Demi Allah aku takkan melakukannya.
“Ya.. Ya..†aku mengangguk-nganggukkan kepalaku seraya menghela nafas panjang, hatiku sedih karena memikirkan nasib Umar yang telah tertangkap.
“Jadi, apakah saudara kyai memiliki kaitan dengan Umar, pernah memberi perlindungan terhadap Umar?†kata Suryaman dengan nada yang ramah.
“Ya! Saya mengakui kalau aku memiliki kaitan erat dengan Umar yakni; hubungan guru dan murid. Namun, saya yakin kalau Umar adalah orang Islam yang sangat mencintai negaranya. Dia bukanlah DII/TII, dia bukanlah teroris ekstrem kanan, dia adalah Umar. Semua tuduhan yang dialamatkan padanya adalah fitnah!
Dan ya! Aku juga mengakui kalau aku sempat memberinya tempat bernaung kepada Umar kemarin malam. Aku takkan menyangkal kenyataan bahwa Umar adalah murid sekaligus putra angkatku.â€
“Ternyata dugaan saya selama ini tidak salah. Untuk sekarang ini, tak ada lagi yang perlu dibicarakan,†Suryaman kemudian menghentikan kegiatan menulisnya, buku saku dan pulpennya ia masukkan ke saku bajunya. Begitu alat-alat tulisnya sudah dirapihkan, Suryaman kemudian bangkit. “Assalamualaikum..â€
Setelah mengucapkan salam, Suryaman akhirnya berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan aku dan Baedowi di ruang interogasi.
“Tidak punya tata-krama,†kataku dengan suara pelan, sementara Suryaman tetap berjalan mennju pintu keluar.
“Dia memang dibentuk seperti itu,†kata Baedowi.
“Engkau juga tidak lebih baik daripada Suryaman, sama-sama pegawai rezim yang selalu bersedia untuk dibenturkan dengan saudaranya sendiri yang sebangsa dan setanah air. Demi Allah, Umar adalah adik seperguruanmu. Sekarang, dimanakah Umar? Bagaimana keadaannya?†aku menatap tajam kepada Baedowi.
“Umar sudah kami tangkap, dan dia sudah kami amankan dengan membawanya ke Jakarta,â€
“Amankan.. apakah maksudmu dengan diamankan? Apakah maksudmu, nasib Umar akan sama seperti Aidit yang dikatakan Soeharto untuk diamankan, tapi nyatanya malah dibunuh?â€
“Saya tak bisa mengatakannya,†Baedowi menundukkan kepalanya. “Abah.. saya menyesal kalau Umar harus mengalami semua ini. Jika saja ada yang bisa kulakukan untuk Umar, tentu akan kulakukan,â€
“Aku menyesal karena pernah menjadi gurumu,†aku memalingkan mukaku dari Baedowi.
“Seandainya aku bisa memutarkan waktu, tentu aku takkan memilih menjadi tentara. Aku seharusnya mendengarkan abah waktu itu,â€
“Tapi sudah terlambat semuanya sekarang. Umar telah meninggal, saya anggap dia telah dieksekusi oleh teman-teman tentaramu,†aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Engkau adalah salah satu muridku yang gagal. Mereka telah berhasil mencuci otakmu sedemikian rupa di Akmil (Akademi Militer), sehingga engkau tega untuk membunuh dan menangkapi saudaramu sendiri. Doktrin ‘Kesetiaan pada Korps melebihi dari kesetiaan pada yang lain-lainnya’ telah mengacaukan otakmu. Huh.. Kalau begini, rupanya aku akan mendekam di sini dalam waktu yang lama. Tuduhan pelindung teroris ekstrem kanan DI/TII yang dialamatkan padaku adalah tuduhan yang serius,â€
“Tidak abah.. tidak, aku berjanji pada abah kalau aku akan segera membawa pulang abah,â€
“Janji hanya janji,†kataku sedikit sinis.
“Tidak abah. Jangan ragukan janji dari diriku, Kalau aku berjanji maka aku akan menepati janjiku yang pernah kubuat,â€
“Lalu, bagaimana dengan Umar? Pernahkah kau berjanji pada dirimu sendiri untuk bisa menyelamatkan Umar?â€
“Maafkan saya abah, saya benar-benar tidak berdaya saat itu. Tak ada yang bisa kulakukan untuk Umar,â€
“Aku butuh beristirahat sekarang, aku merasa lelah,†aku segera bangkit, hendak meninggalkan Baedowi.
“Aku akan minta anak buahku untuk mengantarkan abah ke sel, dan memenuhi segala keperluan abah,†Baedowi menundukkan kepalanya, lesu tak bersemangat, kemudian kembali mengangkat kepalanya dan menatapku lekat-lekat. “Jika abah perlu ke kamar mandi, jangan ragu untuk memanggil sipir untuk membukakan pintu sel dan mengantarkan abah ke kamar mandi,â€
“Ya.. aku sudah tahu itu,†aku mengangguk-nganggukkan kepala dengan perlahan-lahan, seraya menghela nafas panjang.
“Abah.. sekali lagi, maafkan aku, aku menyesal kalau abah harus mengalami semua ini,â€
“Aku merasa lelah sekarang, aku tidak bisa membahas percakapan ini denganmu pada saat ini,†aku menundukkan kepalaku, mencoba menahan kesedihanku atas menghilangnya Umar.
Bab 10: Tentang Keberanian dan Kehormatan
Suryaman tiba di sel tempatku saat sore hari, aku baru saja menyelesaikan shalat Ashar saat itu, aku kemudian membaringkan diri di ranjang sambil menatap keluar jendela berterali besi. Bisa kurasakan udara sore masuk melalui jendela sempit itu, Aaah.. sejuk sekali! Aku masih berbaring dalam kegelapan meskipun hari masih dirasa sore. Lampu kecil berukuran lima watt yang biasa dipakai untuk lampu kandang ayam, menerangi sel-ku ini. Terasa remang-remang dan hanya membuatku mengantuk saja. Aku benar-benar merasa seperti anak ayam yang harus tidur di dalam kandang saja. Sewaktu aku mencoba menghabiskan waktu dengan tiduran, Baedowi berdiri di luar pintu jeruji besi sel-ku, tampak seseorang berjalan bersamanya. Ternyata Suryaman. Di sana dia berdiri, kecil, berwajah kecoklatan yang kontras dengan rambut putihnya. Kali ini, dia nampak sopan, dan terlihat ramah.
“Bagaimana keadaan pak kyai?†ia bertanya. Dia memandang ke arah sipir penjara, memberi isyarat dengan matanya untuk membuka pintu sel agar ia masuk ke dalam tempat sel-ku.
“Alhamdulillah.. dan bagaimana keadaan pak Suryaman, hari ini pak Suryaman nampak ceria dan ramah?†aku tersenyum simpul padanya.
Dia kemudian duduk di kursi plastik yang ia bawa dari luar. Aku dapat menangkap gurat kelelahan di wajahnya.
“Kami memiliki kabar gembira untuk abah,†kata Baedowi yang berdiri di samping Suryaman, dan menepukkan tangannya sekali, ia nampak gembira.
“Kabar gembira apa?†tanyaku seraya beringsut dari tempat tidurku, dan mulai duduk di atas ranjang besiku.
“Saya sudah mendapat surat perintah dari BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara) yang menawarkan abah kebebasan. Namun, untuk mendapatkan kebebasan, abah diminta untuk bergabung dengan Golkar dan menghadiri acara pertemuan tahunan kader-kader Golkar se-Bontam,†kata Baedowi, suaranya terdengar bersemangat tapi kemudian ia menundukkan kepalanya ketika ia melihatku menggeleng-gelengkan kepala. “Bagaimana bah? Bukankah ini kabar bagus? Di Golkar abah masih bisa berjuang untuk umat Islam dan membangun Bontam!â€
“Lalu, apa yang akan terjadi jika aku memilih untuk tidak bergabung dengan Golkar?â€
“Maka, saudara Yusuf akan diadili di persidangan dengan tuduhan makar karena telah menjadi pelindung teroris ekstrem kanan. Jika saudara Yusuf terbukti bersalah, dan pasti akan dibuat terbukti, maka saudara Yusuf akan diancam hukuman mati,†kata Suryaman dengan nada suara yang dingin, dan juga tatapan yang dingin ketika menatapku; kali ini dia kembali sombong dan percaya diri.
“Aaah.. ya..ya.. aku mengerti,†aku mengangguk-nganggukkan kepalaku pelan-pelan.
“Jadi, Bagaimana pilihan saudara?†ujar Suryaman. “Sebagai pendukung utama Golkar dalam praktik Monoloyalitas (Kewajiban bagi aparat pegawai pemerintah untuk bergabung dengan Golkar) di Kejaksaan Daerah Bontam; saya menyarankan saudara kyai untuk mengambil tawaran dari BAKIN, bantulah kami untuk memperkuat posisi Golkar di Bontam,†lanjut Suryaman seraya menatapku lekat-lekat dengan tatapn penuh harap.
Aku menghela nafas panjang, kemudian menundukkan kepalaku, dan akhirnya menggeleng-gelengkannya dengan pelan-pelan. “Prinsip saya sangat menolak untuk menerima tawaran dari BAKIN. Maaf tuan-tuan, saya harus katakan dengan penuh kepastian bahwa saya tidak bisa bergabung dengan Golkar sampai kapan pun,â€
“Abah.. pikirkanlah dulu tawaran dari BAKIN ini! Kenapa tidak contoh paman Haji Jafar yang bisa berkompromi dengan pemerintah; sekarang, dia menjadi kepala Departemen Agama di Propinsi Bontam, dengan jabatannya sekarang, tentu paman Jafar akan bisa berbuat banyak untuk umat Islam di Bontam!†kata Baedowi dengan nada suara yang penuh harapan, dan matanya berkaca-kaca saat menatapku.
“Ya.. Tentu saja,†aku menatap jauh ke dinding penjara yang dekat dengan tatapan kosong.
“Ohh..Abah.. bisakah abah tidak bicara sambil melihat ke kejauhan seperti itu, sikap abah seperti ini hanya membuatku tampak lebih buruk saja,†Baedowi menundukkan kepalanya sejenak, kemudian kembali mendongakkan kepalanya. “Oh.. abah, Hentikanlah, apakah yang kau lihat; aku di sini! Tepat berada di hadapan abah,â€
“Haji Jafar memang adik seperguruanku, tapi, untuk hal ini, aku mesti mengambil langkah yang berbeda dengan Haji Jafar, karena aku adalah Yusuf Hussein, aku bukanlah Haji Jafar,†kataku seraya menatap lekat-lekat Baedowi dan Suryaman.
“Aku tahu kalau saudara kyai adalah seorang ulama terpandang di Propinsi Bontam. Selain itu, saudara kyai juga memiliki keluarga yang amat mencintai saudara, jadi pikirkanlah baik-baik mengenai keputusan saudara kyai,†kata Suryaman.
“Kupikir pak Suryaman sudah tidak peduli lagi denganku?†aku menatapnya seraya tersenyum simpul padanya.
“Aku hanya memikirkan kemaslahatan rakyat Bontam, dan menurutku, saudara kyai adalah seorang figur publik yang memiliki pengaruh besar pada rakyat Bontam,â€
“Oo Jadi ada motivasi politik? Baik.. baik, kalau begitu saya merasa makin mantap untuk tetap teguh dengan pendirianku,†kataku, tegas.
“Tapi saudara Yusuf sudah tak memiliki pilihan, semua kyai di Bontam sudah mendukung pemerintahan pusat, tak ada satu pun pemuka agama Islam di Bontam ini yang tidak mendukung pemerintah,†kata Suryaman, menerangkan.
“Itu betul abah..†ujar Baedowi. “Bahkan semua ulama di PPP pun sudah mendukung Jhonaro untuk memimpin PPP Bontam, Haji Jakaria takkan memiliki kesempatan untuk mengalahkannyua di dalam persaingan pemilihan Ketaua Umum PPP Bontam,â€
“Apa..?†aku menatap wajah Suryaman dengan pandangan yang penasaran; kabar dari Suryaman benar-benar membuatku terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu itu?â€
“Abah.. percayalah, kami sangat mengetahuinya!†kata Baedowi.
“Oooh..†aku menundukkan kepalaku, badanku terasa lemas. Tak ada lagi semangat dalam hidupku. “Ya, seharusnya aku tidak perlu heran lagi. Semua kyai pasti akan mendukung Jhonaro, karena jika sudah berhadapan dengan senjata laras panjang milik kalian, nampaknya kami tak memiliki pilihan lain lagi,â€
“Maaf tuan Suryaman. Kurasa ada baiknya jika aku berbicara empat mata dengan abah,†kata Baedowi kepada Suryaman.
“Baik, saya akan tinggalkan kalian berdua,†Suryaman segera bangkit dari duduknya, kemudian berjalan keluar dari sel-ku.
“Oo.. abah, mengapakah engkau harus keras kepala? Pikirkanlah tentang Mae, tentang Fatimah? Abah pikir, Soeharto akan membiarkan abah begitu saja untuk hidup tenang tanpa sedikitpun mendukung pemerintahannya? Tidak! Dia akan berusaha untuk menyingkirkan abah bagaimanapun caranya, meskipun itu dengan cara pengadilan yang sudah diskenario,†kata Baedowi dengan nada suara yang lantang, namun penuh kepanikan; bisa kutangkap kalau ia tak mau kehilanganku.
“Aku tidak bisa egois dengan hanya memikirkan Mae dan Fatimah saja; aku harus memikirkan kemaslahatan seluruh umat di Bontam, dan itu termasuk Umar,†aku menatap tajam pada Baedowi, dan Baedowi pun menundukkan kepalanya, merasa malu. “Saya sadar kalau pilihan saya ini akan mengakibatkan saya terbunuh. Tapi, saya tidak memiliki pilihan lain, ketika banyak ulama-ulama saat ini yang ingin memperoleh penghidupan dari penguasa rezim; anugerah dan pemberian penghidupan dari Soeharto dijadikan tujuan penghidupan dan pencarian ilmunya. Di Bontam ini sudah banyak banyak ulama penguasa seperti contohnya Haji Jafar yang memiliki ambisi akan kedudukan tinggi.
“Tidak, Demi Allah, saya tidak akan menjadi ulama seperti Haji Jafar atau ulama-ulama lainnya yang bergabung di Golkar, ataupun di PPP, ataupun di MUI (Majelis Ulama Indonesia). Aku harus menjadi seorang ulama yang mengenakan jubah keilmuannya bukan demi penguasa melainkan karena Allah. Aku akan tetap mempertahankan prinsip ini, meskipun aku akan dieksekusi karena prinsipku ini, biarlah kematianku yang didzhalimi ini menjadi satu cerita yang menggema hingga berabad-abad di negeri ini karena hidupku adalah pesanku. Kelak, suatu hari nanti Soeharto akan jatuh dan yang akan menjatuhkannya adalah seorang dari kalangan ulama. Bukan ulama korup tapi ulama jujur yang akan memperbaiki apa yang telah dirusak Soeharto, dan menyatukan apa yang telah dicerai-beraikan Soeharto.
“Lalu, inilah keputusanku, bagaimana denganmu, apakah yang kau banggakan dari seragam militermu?â€
Baedowi terlihat murung, ia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding penjara yang kusam, kemudian ia menundukkan kepalanya seraya memegang keningnya. “Sekali lagi, abah betul! Tapi, abah perlu mengetahui beberapa hal mengenai diriku sebelum abah membenci diriku. Di Kemiliteran, mereka telah memperlakukan kami dengan sangat buruk, kami selaku perwira militer yang bersal dari golongan santri, dari golongan yang beragama Islam, sama sekali tidak diberi akses kemanapun, kami benar-benar dipinggirkan di kemiliteran. Dulu aku begitu mempercayai negeri ini, kuberikan segalanya untuk mengabdi ke negeri ini dengan cara mendaftar ke Akmil (Akademi Militer). Namun sekarang.... aku merasa benar-benar malu dengan seragamku, maafkan aku abah, maafkan,â€
“Oo.. Baedowi..,†aku memegang pundak Baedowi dengan lembut, sementara Baedowi menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya yang memegang, menutupi wajahnya; ia mencoba menahan kesedihannya. “Engkau sudah kumaafkan semenjak pertama kali engkau membawaku kemari,â€
“Yang aku inginkan adalah keselamatan abah, itu saja! Lihat saja keadaan abah sekarang yang lusuh! Seharusnya abah tidak mengenakan baju tahanan berwarna biru dengan bahan katun kasar ini,†Baedowi meraba-raba baju tahananku sesaat, kemudian melepaskannya †Tempat abah seharusnya di pesantren, mengajar para santri untuk mengaji,â€
“Ya..ya..†aku tersenyum simpul seraya mengangguk-nganggukkan kepalaku. “Tapi, keselamatanku bukanlah pada keselamatan nyawa, tapi keselamatan pada prinsip, keselamatan agama saya. Bagaimana umat Islam Bontam akan menemukan sosok teladan yang baik jika aku mengikuti langkah Haji Jafar? Propinsi Bontam adalah propinsi yang kecil, sementara hampir semua ulama telah dibeli oleh penguasa rezim yang berkeinginan untuk menguasai sumber kekayaan yang ada di Bontam. Hanya ada beberapa ulama-ulama jujur yang masih tersisa di Bontam, dan aku berharap bisa menjadi salah satunya! Jadi, aku memohon kepadamu untuk menjawab dengan sejujurnya; apakah benar kalau PPP Bontam sudah jatuh ke tangan Jhonaro?†aku menatap Baedowi dengan tatapan penasaran. Tak terasa wajahku sudah berlinang air mata.
“Betul! Dan aku menyesal untuk memberi kabar ini kepada abah, Jhonaro telah berhasil menguasai PPP dalam meraih dukungan para kyai di PPP, Haji Jakaria takkan memiliki kesempatan,â€
“Asaghfirullahalladzhim..! astaghfirullahalladzhiim..! Kasihan Haji Jakaria,†aku mengelus dadaku yang terasa sesak.
Baedowi berjalan mendekatiku, duduk di sisiku dan memegang pundakku. “Ooh Abah.. betapa jahatnya aku ini karena telah menjadi bagian dari sistem pemerintahan rezim yang jahat. Sebenarnya, abah harus mengetahui bahwa terdapat tiga dakwaan yang akan diajukan pihak kejaksaan ke pengadilan untuk abah sebagai terdakwa. Ketiga dakwaan tersebut memiliki ancaman hukuman mati,â€
†Sebanyak itukah?†aku menatap tajam kepada Baedowi, penuh dengan perasaan penasaran.
“Ya.. tiga dakwaan yang amat serius itu antara lain; dakwaan makar, dakwaan pengkhianatan terhadap Pancasila, dan dakwaan kejahatan terhadap penyebaran ajaran-ajaran Islam ekstrem kanan yang mengganggu stabilitas negara. Oo.. abah, Suryaman dan para majelis hakim telah mempersiapkan satu persidangan abah sejak jauh-jauh hari; takkan ada kesempatan bagi abah untuk membela diri. Sebelum keputusn akan dikeluarkan, mereka semua telah memiliki satu keputusan untuk abah; bagaimanapun caranya, abah harus dieksekusi, kecuali abah bergabung dengan Golkar atau mengikhlaskan Jhonaro kembali masuk ke PPP, dan memimpin di sana,â€
“Apakah Soeharto tidak menyadari kalau ia akan menjadikanku seorang Martir jika ia hendak mengeksekusi aku?â€
“Ia sudah merasa besar, ia sudah tidak peduli akan opini umum. Demi menguasai Bontam, abah harus disingkirkan, meskipun itu akan membuat citra dirinya menjadi Monster di mata rakyat Bontam,â€
“Aku masih ingin hidup, harus aku akui itu. Seperti halnya nabi Khidir A.S; aku berharap bisa hidup sepanjang masa di dalam pertapaan yang dipenuhi oleh dzikir-dzikir keagungan Allah. Tapi, sepertinya Allah berkehendak lain. Tuhan hendak membuatku lebih dekat dengan-Nya dengan cara menjadikanku seorang Martir di dalam pemerintahan rezim Soeharto. Satu kesempatan langka. Aku takkan menolaknya!â€
“Oo.. abah, adakah satu hal yang bisa merubah pikiran abah? Kumohon abah jangan melawan Soeharto,†Baedowi berlutut, dan kemudian mencium tanganku.
“Soeharto itu orang bodoh karena hendak menjadikanku martir di dalam pemerintahannya; dan aku adalah seorang yang cerdas karena menerima keputusan Martir dari Soeharto. Tak ada cara lain lagi,†aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Hukum boleh memutuskan abah sebagai pengkhianat negara untuk masa sekarang, namun, pada akhirnya semua orang akan tahu bahwa hukum yang diputuskan terhadap abah adalah suatu tindakan pelanggaran hukum; terutama di bidang HAM,†Baedowi menundukkan kepalanya dengan lemas; akhirnya menyadari kebenaran pendapatku.
Aku kembali memegang pundak Baedowi dengan penuh kasih sayang. Aku tak bisa mengatakan apa-apa lagi terhadap Baedowi; ia sudah mengerti maksudku. Saat kami membisu dalam keheningan, Suryaman kembali memasuki selku dan menanyakan kepada Baedowi mengenai perkembangan pandanganku terhadap surat dari BAKIN.
“Engkau akan menghadapi perlawanan yang tangguh dari abah di pengadilan nanti,†Baedowi bangkit, dan kemudian berjalan mendekati Suryaman yang berdiri di depan pintu sel.
“Oo..?†Suryaman menatap kosong ke arahku dengan wajah yang menyiratkan rasa keheranan.
“Pak Komandan..†ujarku. “Kapankah aku bisa menemui keluargaku?â€
“Entahlah.. kurasa itu semua tergantung kepada Suryaman,†Baedowi menoleh ke arah Suryaman yang berdiri di sampingnya.
“Untuk waktu dekat ini, abah tidak diperkenankan untuk bertemu dengan keluarga sebelum hari persidangan,†kata Suryaman dengan nada suara penyesalan; kurasa itu dibuat-buat.
“Kalau begitu, bisakah aku meminta buku Al-Qur’an agar aku memiliki sesuatu yang bisa kubaca untuk menghibur hatiku?â€
“Aku akan mengusahakannya.. aku akan memberikannya kepada abah nanti malam,†kata Baedowi seraya menatap tajam pada Suryaman.
“Ya.. kurasa abah boleh memiliki kitab Al-Qur’an,†ujar Suryaman. “Kalau abah sudah yakin untuk menghadapiku di pengadilan. Lebih baik saya pulang sekarang, Assalamualaikum..!â€
Suryaman lalu segera berjalan keluar meninggalkan sel-ku, dan tak kelihatan lagi.
“Kuatkanlah diri abah.. Assalamualaikum,†Baedowi kemudian menutup pintu sel-ku, menguncinya, lalu berjalan menyusul Suryaman.
“Walaikumsalam..†bisikku, kemudian kembali berbaring di ranjangku, menutup mataku sementara hatiku tetap terjaga.
**
Dua burung gereja masuk ke dalam ruangan sel-ku, beterbangan kesana-kemari, mencari jalan keluar. Kugebah kedua burung itu dan kuarahkan menuju jendela sempit berjeruji besi. Kedua burung itu akhirnya keluar melewati jendela sel-ku. Setelah burung-burung gereja itu pergi, aku berdiri memandang keluar jendela, mengamati suasana pagi yang tenang. Pemandangan pepohonan kamboja yang rindang terasa begitu menenangkan bathin, meski itu hanya dilihat terbatas karena jendela sempit dengan jeruji besi. Pada hari ini, pada hari persidanganku ini, aku sedikit merasa cemas kalau-kalau Mae dan Fatimah tidak datang berkunjung kemari. Tapi Baedowi mengatakan, bahkan berjanji padaku bahwa ia akan membawa semua keluargaku kemari, aku sangat senang akan janjinya itu meskipun aku tahu bahwa ia takkan mungkin mampu untuk membawa semua keluargaku kemari. Lama menunggu, aku sempat merasa putus asa hingga akhirnya kumelihat dari balik jendela, satu mobil jeep yang dikemudikan
Baedowi dengan membawa Mae dan Fatimah, memasuki halaman kantor Kodim. Semangat hidupku! Kini, aku akan bertemu dengan keluargaku.
Aku segera memeluk Mae dan Fatimah dengan sangat erat begitu mereka berdua telah dihantarkan Baedowi memasuki ruangan sel-ku, mereka berdua menangis sejadi-jadinya dalam dekapanku.
“Sudahlah.. kalian berdua jangan bersedih. Aku tak ingin melihat kalian dalam keadaan begini,†ujarku seraya menghapus air mata di pipi putriku, dan kemudian memegang dagu mungil Fatimah, menatap wajahnya yang berlinang air mata. Lalu, aku menoleh ke arah Mae dan tersenyum padanya. “Sebentar lagi aku akan berangkat bersama Baedowi ke pengadilan, bagaimana kalau kita manfaatkan waktu yang berharga ini dengan berdoa kepada Allah, meminta kekuatan kepada-Nya,â€
Mae dan Fatimah menganggukkan kepalanya dengan berat, kemudian berjalan menuju ranjang tidurku dan duduk di tepi ranjang bersamaku.
“Duduklah..†kataku, mempersilakan Mae dan Fatimah untuk duduk di tepi ranjang tidurku; Baedowi lupa membawakan kursi plastik untuk kedua keluargaku, tapi aku maklum.
Di tepi ranjang, kubuka telapak tanganku, kemudian kutengadahklan ke atas hingga seukuran dada. Mae dan Fatimah langsung menundukkan kepala dan memejamkan mata, dan aku pun mulai memejamkan mata begitu mereka sudah terlihat khusyuk.
“Ya.. Allah, hari ini aku akan menghadapi pengadilan tirani dari rezim pemerintahan Soeharto, aku tidak tahu apakah akan ada keadilan dalam pengadilan ini, dan aku juga tidak tahu apakah aku bisa bertemu lagi dengan keluargaku. Aku mohon kekuatan-Mu Oo.. Yang Maha Perkasa dalam menghadapi pengadilanku ini. Dan juga, aku memohon agar Engkau kiranya memberi kekuatan kesabaran kepada semua keluargaku dalam menerima ketetapan takdir-Mu terhadapku. Jika hari ini aku mesti berpisah selamanya dengan kesemua keluarga-ku, maka pertemukanlah kami semua dalam keadaan yang gembira di dalam kerajaan-Mu, Amin Ya Robbal-alamin,†aku tutup telapak tanganku, kemudian kuusap pada wajahku dan mulai kubuka mataku; kulihat Mae dan Fatimah kembali menangis.
  Aku tatap Mae dan Fatimah dengan tatapan kasih, kemudian kupegang lembut pundaknya. Pada saat aku mencoba untuk menghibur mereka, Baedowi masuk ke dalam ruangan sel-ku. Dan menghampiriku dengan langkah yang pelan, lalu membungkukkan badannya, memberi hormat yang sebenarnya kurasa tak perlu.
“Abah.. sudah saatnya kita pergi,†kata Baedowi.
Fatimah segera bangkit, lalu menghampiri Baedowi hingga bertatap-tatapan, dan kemudian menamparnya di pipi hingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.
“Teganya dirimu! Engkau sudah kami anggap bagian dari keluarga, inikah balasanmu terhadap abah? Dulu aku begitu mengagumimu, mencintaimu, tapi sekarang aku jijik untuk melihatmu,†Fatimah meludah ke lantai, dan Baedowi hanya terdiam, tak bisa menanggapi Fatimah; raut mukanya menyiratkan perasaan bersalah.
“Sudahlah Fatimah..†aku memegang pundak Fatimah dengan lembut, dan kemudian memeluknya dari belakang, mencoba menahan amarahnya.
“Oo Ayah, engkau akan meninggalkan kami, apakah aku bisa melihatmu lagi? Aku tidak sanggup untuk kehilangan ayah dengan cara seperti ini,†kata Fatimah yang menangis dalam dekapanku.
Kuraba kepala Fatimah yang berjilbab, dan kemudian kuelus-elus dengan penuh kasih sayang.
“Sabarlah.. banyaklah berdo’a untukku, do’amu sungguh berarti,†ujarku seraya menatap lekat-lekat wajah Fatimah. “Engkau adalah putriku yang sangat kusayang, sifatmu yang welas asih terhadap sesama sangat kubanggakan. Jangan meragukan kualitas nilai dirimu, jangan lupakan dirimu sebenarnya,â€
“Aku akan selalu mengingat nasihat abah,â€
“Bagus.. bagus,†aku mengangguk-nganggukkan kepalaku dengan pelan, seraya tersemyum haru. Kemudian, aku menoleh ke arah Baedowi. “Baedowi.. mari kita berangkat ke pengadilan, aku sudah siap untuk menghadapi para hakim dan para jaksa yang busuk,â€
“Apakah abah sudah punya pengacara? Pemerintah bersedia menyediakan pengacara untuk abah,†Baedowi menawarkan.
“Aku tidak percaya dengan pengacara-pengacara yang kalian tawarkan. Aku akan membela diriku sendiri di pengadilan, aku tak perlu pengacara!â€
“Apakah abah yakin?â€
“Ya,†ujarku mantap. Namun, aku kembali memandang Mae dan Fatimah. “Jaga diri kalian, do’akanlah keselamatanku. Sekarang aku harus pergi,â€
“Oo Abah..†Mae segera merangkulku bersama Fatimah untuk keterakhir kalinya, dan kemudian Mae memberikanku baju koko yang sudah terseterika rapih dengan sorban berwarna putih sementara Fatimah membawakanku peci hitam. “Seandainya pengadilan abah bukanlah pengadilan yang tertutup, kami ingin sekali menemani abah di ruang persidangan,â€
Mae melilitkan sorban pada tengkukku, kemudian Mae memakaikan peci hitam ke atas kepalaku.
“Kalian adalah anugaerah Tuhan yang sangat berarti untuk keberadaan hidupku,†aku segera memeluk Mae dan Fatimah, kemudian aku membawa baju dan sarung pemberian Mae menuju ruang ganti.
Begitu aku sudah mengenakan baju dan sarung pemberian Mae, aku kembali menemui keluargaku di ruang tunggu; kali ini bukan lagi di ruangan sel.
“Aku harus segera pergi sekarang,†aku menundukkan kepalaku, menahan kesedihan “Assalamualaikum,†aku mengusap kedua mataku dengan lengan kananku, berusaha menghapus air mata.
“Walaikumsalam..†jawan Fatimah dan Mae secara bersamaan dengan nada suara yang penuh kesedihan, sementara aku dan Baedowi mulai berjalan meninggalkan mereka menuju beranda kantor, dimana mobil Tahanan yang berbentuk Boks layaknya mobil pos berukuran besar, sudah menungguku dengan pengawalan ketat dari para tentara.
Islam adalah agama yang mulia, penyebar rahmat dan kasih sayang Tuhan bagi semua makhluk hidup yang ada di bumi. Sekarang dimanakah tempatnya ulama dalam agama Islam? ulama adalah pemuka agama Islam yang memiliki kewajiban untuk menuntun dan membimbing umat ke arah kebaikan kemanusiaan dan kebaikan ke-Tuhanan tanpa mengharap pamrih. Adalah tugas ulama untuk menasihati penguasa yang telah berpaling dari hukum Tuhan ke hukum yang bathil, yang merampas hak setiap manusia. Tapi, bagaimana jika Soeharto telah membeli semua ulama yang ada di Bontam? Aku sudah cuku mendengar dari Baedowi perihal Haji Jakaria yang telah disingkirkan Jhonaro dalam PPP, dan itu membuatku merasa sedih. Setelah Haji Jakaria, takkan ada satu ulama pun yang berani menentang Jhonaro, karena memang semua orang sudah takut begitu mendengar nama Jhonaro yang merupakan utusan Kamtib.
Namun tidak untukku! Bagiku, Soeharto adalah perampok rendah yang menghinakan. Dia adalah seorang presiden bodoh, presiden yang buta huruf, bahkan Sukarno pun pernah menyebutnya sebagai Jenderal Bodoh. Tapi, ada satu kelebihan Soeharto; sifat liciknya, itulah yang ditakutkan semua orang darinya, kita takkan pernah bisa menduga apapun darinya. Tetapi, apakah aku harus takut padanya? Aku yang sudah 21 tahun berkeliling menimba ilmu ke berbagai pesantren dengan berjalan kaki dari Bontam hingga Madura, mestikah aku harus tunduk padanya? Aku yang telah menghabiskan masa mudaku dalam pertapaan dan pertempuran melawan penjajah, hingga akhirnya semua rakyat Bontam memanggilku dengan julukan ‘abah’ yang mumpuni di bidang Fiqih dan Tasawuf, mesti mendukung dan menjadi antek pemerintahannya? Tidak akan pernah terjadi!Â
Aku harus tunjukkan pada dunia bahwa Islam di Bontam belum korup, bahwa di Bontam ini masih ada ulama yang jujur, yang berani menentang tirani rezim. Harganya memang mahal, aku mesti mengorbankan kehidupan tenangku di pedesaan demi mempertahankan integritas keislamanku. Maafkan aku Mae, maafkan aku Fatimah, aku yakin kalian bisa mengerti akan sikap pilihanku ini.
Bersama Baedowi, aku segera meninggalkan Mae dan Fatimah di kantor Kodim, kemudian kami naik mobil tahanan berlapis baja dengan dikawal beberapa tentara menuju kantor pengadilan. Setelah melewati alun-alun Kabupaten Zheerang, aku bisa melihat dari balik jendela mobil berjeruji besi pemandangan massa rakyat Bontam yang terdiri para petani dan beberapa orang yang bersorban dan bersarung, berkerumun memenuhi jalan-jalan yang kami lewati. Kurasa mereka semua adalah massa pendukungku, dan mobil tahanan yang membawaku ini menjadi bergerak lambat karena banyaknya massa yang menghalangi jalan. Tak ada teriakan Allah Akbar yang keluar dari mulut massa, tapi hanya ada lantunan Shalawat dan ayat-ayat suci Al Qur’an. Bagus sekali! Kurasa semua ulama di Bontam telah belajar dari peristiwa Tanjung Priok, teriakan Allah Akbar hanya akan membangkitkan keberingasan aparat Militer terhadap kami.
Tetapi, karena para tentara dan para polisi telah diperintahkan untuk membawaku ke pengadilan dengan tepat pada waktunya, maka dengan terpaksa para petugas aparat mengeluarkan pentungan besi, dan mulai memukuli massa yang menghalangi jalanan. Kekerasan sepertinya memang tidak bisa dihindari. Meski aku tak membenarkan perbuatan kekerasan dari pihak aparat, tetapi, bagaimanakah cara untuk mengosongkan jalanan di jalan yang tumpah ruah oleh massa, selain dengan tindakan kekerasan dari pihak aparat? Yang kuharapkan adalah tak adanya aksi balasan dari massa umat Islam. Biarlah umat Islam bersabar dalam kekerasan yang dilakukan para aparat, jangan sampai umat Muslim Bontam membalas kekerasan pihak aparat dengan kekerasan lagi. Politik sabar ini mesti dilakukan untuk meminimalisir tindak kekerasan dan aniaya dari rezim pemerintahan Soeharto, karena seandainya melawan pun akan percuma, tak mungkin bagi kami untuk melawan para aparat polisi dan tentara yang
memiliki persenjataan modern hasil pembelian Soeharto dari negeri Paman Sam.
Sepanjang jalan menuju kantor pengadilan, massa rakyat Bontam masih tetap terlihat, jumlah mereka begitu banyak sekali, bagaikan lautan manusia di hari perhitungan, hanya saja lautan manusia di sekarang ini kesemuanya memakai baju, tidak telanjang bulat seperti di hari perhitungan. Dengan susah payah, mobil tahanan yang membawaku ini akhirnya tiba di depan kantor pengadilan propinsi Bontam. Pintu gerbang kantor pengadilan segera ditutup, dan berderet aparat militer yang digabung dengan aparat kepolisian langsung berjaga di sepanjang sisi luar pintu gerbang, semuanya mengenakan baju anti huru-hara, dan berusaha keras dalam mencegah massa yang mencoba memasuki kantor pengadilan; aku bisa melihat kesemua-muanya itu dengan jelas dari balik jendela.
Aku sudah siap dengan keputusan hukuman apapun yang akan dijatuhkan padaku. Menang atau kalah, bagiku tidak masalah, karena misiku hanya tiga saja, meraih empati masyarakat, menyadarkan para ulama di propinsi Bontam dan kuharap, menyadarkan para penguasa rezim dari kejahatannya. Aku menunggu di dalam mobil tahanan dengan mencoba menguatkan diri, memantapkan keyakinan untuk menghadapi persidanganku, yang kemungkinan besar hanya akan jadi kebohongan belaka saja.
Sewaktu para tentara penjaga membuka pintu mobil, dan kemudian mengeluarkanku dan Baedowi dari dalam mobil tahanan, lalu menuntun kami menuju tempat persidangan, aku sudah merasa yakin pada diriku bahwa mulai sejak sekarang, mulai hari ini, perjalanan hidupku sudah menjadi bagian dari sejarah, sejarah propinsi Bontam.
Ruangan persidangan sesak penuh orang, terdiri dari para pejabat militer dan petinggi partai Golkar yang kesemua-muanya mengenakan jaket kuning; semuanya hadir dalam persidangan. Tetapi, tak ada satu pun terlihat perwakilan dari masyarakat ataupun dari para ulama Bontam yang hadir di ruang persidangan; pengadilan ini memang benar-benar tertutup bagi umat Islam, dan khususnya bagi keluargaku. Fenomena persidangan perkaraku ini telah menarik banyak orang yang memiliki berbagai kepentingan, hanya saja suara rakyat Bontam takkan mungkin untuk di dengar di persidangan, alangkah menyedihkan!
Cuaca memang terasa begitu terik pada hari ini, dan majelis hakim yang ditunggu belum juga hadir di ruangan sidang, angin kering yang berhembus sepoi-sepoi, memasuki ruangan, menerbangkan beberapa kertas-kertas kerja dari meja notulen sehingga sang notulen harus bangkit dari duduknya, membungkuk untuk mengambil kertas-kertasnya yang berserakan di lantai karena tertiup angin. Semua orang merasa kepanasan di dalam ruangan sidang, tetapi mereka tetap sabar menanti para hakim dan mencoba menghilangkan hawa panas ini dengan mengibas-ngibaskan kipas kertas ke arah wajah mereka. Meski aku juga merasakan gerah di dalam ruangan sidang, tetapi aku tak merasa terganggu dengan cuaca panas, dan di tengah-tengah ruang sidang ini aku tetap sabar duduk di kursi tempat terdakwa seperti layaknya budak yang menanti hukuman dari majikannya. Sebagai terdakwa, aku hanya bisa berharap agar keputusan majelis hakim yang akan diputuskan terhadap tuduhan yang dituduhkan terhadapku
bisa adil, meski itu tidak mungkin.
Majelis hakim yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba dan memasuki ruangan persidangan, semua hadirin yang semula duduk tenang, mulai menanti dalam kegelisahan karena cuaca panas. Kegelisahan itu hilang ketika para hadirin persidangan melihat para hakim memasuki ruang sidang, mereka semua serentak berdiri, dan mereka tetap berdiri hingga ketiga hakim duduk di tempatnya.
Di atas meja yang tinggi, setinggi podium namun sangat panjang, ketiga hakim duduk di tempatnya masing-masing, kemudian mengeluarkan kertas-kertas dokumen kerja, meletakkannya di atas meja panjang, dsnan kemudian merapihkannya. Ketua hakim yang telah duduk di tempatnya, nampak sibuk dalam membetulkan kacamata bacanya, lalu menyeka keringat di wajahnya yang pucat seperti tirus, dan kemudian menatap tajam ke arah kanan, kepada Suryaman selaku kepala jaksa penuntut, memberinya isyarat kepada jaksa penuntut untuk memulai persidangan.
Suryaman kemudian berdiri, bangkit dari tempat duduknya, menatap hakim ketua dengan tatapan tegas tetapi penuh penghormatan. Sebelum bersiap untuk berbicara, Suryaman menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai berkata dengan tegas, ucapan yang keluar dari mulutnya terdengar begitu lancar, begitu mengalir seperti layaknya aliran air sungai, seolah sudah dilatih sebelumnya.
“Terima kasih yang mulia, pada tanggal 30 Agustus 1984, Saudara Yusuf Hussein yang biasa dipanggil Abah, telah diketahui telah melindungi salah seorang buronan teroris ekstrem kanan bernama Umar Samlawi. Adalah satu kebenaran yang tak bisa dibantah, dan juga saudara terdakwa sangat mengakui kebenaran ini, kebenaran bahwa Umar Samlawi adalah santri dari terdakwa,†ujar Suryaman seraya menatap tajam pada kesemua hadirin fungsionaris partai dan petinggi militer propinsi Bontam. Ia berkeliling, mengitari ruang sidang, memandangi para hadirin sidang, mencoba meyakinkan hadirin sidang.
“Abah Yusuf adalah seorang ulama fanatik dan berjiwa puritan, kami memiliki banyak saksi yang mengaku sering mendengar khutbahnya yang selalu bernada puritan dan menentang asas Pancasila; pesantrennya itu mengajarkan Kebringasan terhadap umat Islam di Bontam. Melihat contoh Umar Samlawi; maka, saya berani untuk mengatakan bahwa terdakwa adalah orang yang berbahaya,†lanjutnya.
“Keberatan.. Yang Mulia, tuan kepala jaksa telah berkata di luar materi sidang, tuan Jaksa telah berbicara hal-hal yang menyangkut fitnah dan pelecehan martabat seseorang berdasarkan sentimen pribadi. Catatan profil saya telah menunjukkan bahwa selama saya mengajar agama dan hidup puluhan tahun di Bontam, belum pernah ada satu pun tindakan pelanggaran ataupun tindakan kekerasan dengan mengatasnamakan agama terhadap pemerintah,†jawabku, menyanggah pembacaan tuntutan dari Suryaman.
“Keberatan diterima, keberatan diterima!†kata ketua Majelis Hakim.
Suryaman menundukkan kepalanya, ia terlihat malu mendengar dukungan hakim terhadapku. Sepertinya ia menyadari kalau perkataannya itu mengandung unsur fitnah beradasrkan opini pribadi. Suryaman sejenak diam, lalu menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengangguk-nganggukkan kepalanya.
“Tak ada lagi yang bisa saya katakan mengenai terdakwa, yang mulia, melainkan hanya bisa menegaskan bahwa kita semua harus melihat berdasarkan bukti-bukti yang aktual dan terdapat di persidangan ini. Jangan sampai kita tertipu oleh pembelaan terdakwa mengenai catatan profilnya. Adalah satu fakta yang tak terbantah kalau Umar Samlawi adalah murid terdakwa, dan itu saja Yang Mulia, tak ada lagi yang kukatakan untuk sekarang,†kata Suryaman, menutup pembukaan tuntutannya, kemudian kembali duduk di kursinya.
Baedowi menepuk pahaku dengan lembut, ia menatapku dengan penuh empati, dan aku tersenyum pada Baedowi, kemudian aku segera bangkit, di tengah-tengah persidangan aku mulai berdiri sementara di hadapanku nampak tiga hakim yang berkulit pucat menunggu pembelaan dariku.
“Banyak sekali yang bisa saya katakan tentang perkara ini, dan banyak sekali yang saya ragukan mengenai segala tuduhan tuan kepala jaksa penuntut terhadapku. Jika kita bicara tentang Islam maka, apakah Islam itu? apakah agama yang mengajarkan Kebringasan seperti yang dituduhkan bapak jaksa terhadapku? Apakah semua orang Islam sangat membenci Pancasila? Apakah semua orang Islam itu bisa dikatakan seorang provokator yang selalu berbuat makar?†ujarku, kemudian aku berjalan keliling ruang sidang, menatapi semua hadirin sidang, termasuk majelis hakim dengan tatapan yang meyakinkan.
“Tidak yang mulia hakim! Islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin, agama kasih sayang. Maka, siapakah saya yang memiliki hak, memiliki keberanian, memiliki kekurangajaran untuk menyelewengkan ajaran Islam dengan mengajarkan Kebringasan terhadap umat Islam di Bontam? Siapakah saya yang berani mendorong umat Islam untuk meragukan asas Pancasila, untuk mendorong umat Islam dalam melakukan perbuatan makar terhadap negara? Jika saya benar-benar terbukti seperti yang dituduhkan bapak jaksa penuntut, maka saya patut untuk dihukum,â€
“Bagaimana dengan Umar? Apakah saudara akan menyangkal kalau Umar pernah berguru pada saudara, pernah menjadi santri saudara?†kata Suryaman. Â
“Umar Samlawi adalah anak yang baik, anak yang santun, ia sudah kuanggap anak sendiri, aku takkan pernah menyangkalnya. Selain itu, Umar adalah cucu dari seorang ulama besar yang bernama Haji Samlawi yang kebetulan pula merupakan mantan ketua NU Bontam dan mantan ketua PPP Bontam. Aku takkan pernah meragukan keintegritasan Haji Samlawi dan juga anak-cucunya, salah satunya Umar Samlawi,†jawabku.
“Kalau begitu, jelas sudah! Umar, seperti yang kita telah ketahui, adalah seorang pelarian Tanjung Priok. Ia adalah kepala komplotan ekstrem kanan sempalan DI/TII yang telah berani menyerang kantor Kodim dan kantor Polres di Tanjung Priok dengan kekerasan, hingga akhirnya para aparat tak memiliki pilihan lain lagi selain melawan komplotan orang Islam ekstrem dengan kekerasan lagi; teror harus dilawan dengan teror.
“Banyak sudah yang telah dilumpuhkan dan juga banyak yang sudah ditangkapi dari para pelaku kekerasan Tanjung Priok. Dan sekarang, salah satu pelarian Tanjung Priok telah diketahui bersembunyi di kediaman saudara Yusuf; tindakan kerelaan hati umtuk memberikan perlindungan kepada Umar merupakan salah satu bentuk tindakan pengkhiatan tinggi terhadap negara, dan saudara Yusuf harus dihukum dengan seberat-beratnya, hukuman mati,†Kata Suryaman dengan nada suara yang tegas, sementara matanya menatap tajam ke arahku.
“Aku memang telah memberikan perlindungan terhadap Umar, tapi apakah perbuatan itu salah di mata hukum? Apakah aku tidak diperkenankan untuk merawat dan memberi makan kepada seseorang yang datang ke rumahku di tengah malam, dan orang tersebut dalam keadaan yang sangat buruk, dalam keadaan luka berat, hanya karena orang itu adalah buronan negara? Aku tidak memandang Umar sebagai buronan negara ketika aku memberinya tempat perlindungan, aku melihatnya sebagai remaja yang ketakutan, demi Allah dia masih anak-anak. Lagipula, apakah kaitanku dengan Umar di masa lalu bisa menjadi bukti kuat dalam persidangan? Dan yang paling penting, bisakah pak Suryaman menerangkan kaitanku dengan tindakan makar, tindakan pengkhianatan terhadap Pancasila?
Aku sama sekali tak terlibat dalam kejadian Tanjung Priok! Umar memang pernah menjadi santriku, tapi apakah aku harus bersalah jika Umar terlibat dengan Tanjung Priok? Manakah bukti yang bisa menghubungkanku dengan ajaran Kebringasan Islam? Adakah bukti ataupun saksi yang bisa diajukan bapak Suryaman mengenai keterlibatanku dalam ajaran Kebringasan Islam, ataupun tindakan makar, ataupun pengkhianatan terhadap Pancasila? Jika aku memang terbukti dalam semua tuduhan yang dituduhkan bapak Suryaman terhadapku, maka aku memang layak dihukum mati!†jawabku dengan nada suara yang berapi-api.
Sejenak kuperhatikan Suryaman beserta asistennya yang terlihat duduk tidak tenang, namun ia sempat berbisik-bisikan dengan asistennya yang sesama jaksa. Suasana persidangan sempat hening hingga akhirnya sang ketua Hakim memecahkan keheningan dengan suaranya yang sumbang.
“Apakah saudara jaksa penuntut memiliki saksi yang akan diajukan ke pengadilan ini?†tanya sang hakim ketua.
“Kami memiliki satu saksi penting dalam perkara ini Yang Mulia, kami akan meamnggilnya sekarang,†kata Suryaman sambil berdiri, kemudian menoleh ke arah asistennya, memberinya isyarat untuk segera memanggil saksi.
Sang asisten segera bergegas menuju pintu keluar; bisa kulihat dari kaca jendela ruang pengadilan, sang asisten menuntun seseorang yang mengenakan baju koko dengan peci putih di kepalanya, sarung yang dikenakan saksi bermotifkan batik, dan terdapat selendang sorban yang melilit di pundaknya, namun aku belum bisa mengenali siapa saksi itu. Begitu sang saksi sudah masuk masuk ke ruangan sidang, aku terkejut mendapati bahwa saksi yang akan memberatkanku dalam perkara ini adalah adik seperguruanku sendiri; Haji Jafar!
Hatiku terasa naik ke atas tenggorokan, aku merasa tercekik, tak bisa bernapas saat melihat Haji Jafar melewatiku dengan dinginnya, dan kemudian duduk di kursi saksi. Saat Haji Jafar sudah duduk, Suryaman mendekatinya dengan membawa kitab suci Al Qur’an di lengan kanannya. Kitab suci Al-Qur’an itu kemudian digunakan Suryaman untuk Haji Jafar agar bersumpah dalam memberikan keterangan kesaksian yang sejujur-jujurnya dengan membawa nama Allah dan kitab suci Al-Qur’an. Saat sumpah saksi sudah selesai, Suryaman kembali ke tempatnya dan meletakkan kitab Al-Qur’an tersebut di atas mejanya.
“Tuan Jafar.. dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan) engkau telah mengatakan pada kami bahwa saudara terdakwa pernah mengatakan pada tuan Jafar mengenai keraguannya terhadap asas Pancasila, bisakah saudara Jafar menceritakan pada kami mengenai percakapan antara tuan Jafar dan saudara terdakwa?†tanya Suryaman.
“Pada saat itu aku sedang berada di rumah saudara Yusuf, tengah bercakap-cakap dengannya. Ketika itu aku mencoba mengajaknya untuk bergabung di Golkar dan membantu pemerintah, namun dengan sangat tegas ia menolak tawaranku dengan mengatakan bahwa ia takkan menerima kepemimpinan Soeharto di Indonesia. Menurutnya, Soeharto telah menggunakan Pancasila sebagai alat untuk mendzhalimi umat Muslim di Indonesia,†kata Haji Jafar dengan dingin, namun ia tak berani untuk menatapku. Ketika ia melihatku, ia selalu menundukkan kepalanya.
Semua hadirin persidangan menjadi ribut bergemuruh, berbisik dengan sesamanya yang merupakan fungsionaris Golkar. Mereka semua menatap tajam padaku, sepertinya merasa marah padaku; karena kesaksian menjijikkan dari Haji Jafar, semua orang yang ada di ruang sidang menjadi benci padaku.
“Perlu diketahui kalau saudara saksi adalah seorang pejabat terhormat yang baru-baru ini diangkat pemerintah pusat menjadi duta besar di negeri Arab; satu jabatan tinggi yang memiliki tugas penting untuk mengurusi jamaah-jamaah haji dan para TKI (Tenaga Kerja Indonesia), sumber utama devisa negeri kita. Tak ada alasan untuk meragukan kesaksian dari saudara saksi!†Suryaman berkeliling ruang sidang, menatapi para majelis hakim dan para hadirin sidang. “Yang mulia, kurasa semua yang sudah dikatakan oleh saksiku ini sudah jelas. Tak ada lagi yang perlu kutanyakan pada saksi yang mulia Hakim,†kata Suryaman.
“Saudara Yusuf.. adakah engkau memiliki sesuatu yang ingin ditanyakan pada saksi untuk menyanggah perkataan saksi atau membela diri anda dari tuduhan sang saksi?†tanya hakim ketua.
Aku menundukkan kepalaku, termenung, memikirkan Haji Jafar yang tega untuk menjatuhkan aku di ruang sidang sekarang. Semua perkataan kesaksian Haji Jafar adalah benar adanya, sama sekali tak ada yang bohong dan menyimpang dari sumpah kesaksiannya yang amat suci dan agung. Namun, ia mengatakannya di luar konteks, seolah-olah aku hendak berbuat makar terhadap pemerintahan rezim yang sah di negeri ini. Lalu, apakah aku tak boleh mengatakan kenyataan bahwa Soeharto memang telah menyalahgunakan asas Pancasila demi kepentingan pribadinya? Tapi, aku sudah mati langkah dalam perkaraku ini, tak ada yang bisa kukatakan untuk menyanggah kesaksian Haji Jafar.
“Tak ada ada lagi yang bisa kukatakan ataupun kutanyakan terhadap saksi. Lagipula, aku adalah calon orang mati, apapapun yang kukatakan di ruang sidang ini, takkan merubah kenyataan bahwa aku adalah calon orang mati dalam waktu dekat,†aku menundukkan kepalaku, sedih atas kesaksian jahat dari Haji Jafar.
“Baik.. kalau tak ada lagi yang akan ditanyakan kepada saksi, maka saudara saksi sudah boleh meninggalkan ruangan persidangan,†kata hakim ketua.
Haji Jafar kemudian bangkit, lalu mulai berjalan meninggalkan tempat saksi. Ia menundukkan kepalanya dengan wajah yang menyiratkan rasa bersalah saat ia berjalan melewatiku. Aku hentikan Haji Jafar di tengah jalan, aku genggam lengannya, kutatap tajam wajahnya.
“Suatu kerugian besar bagi seseorang yang telah memberikan jiwa dan iman Islam-nya kepada duniawi.. tapi, untuk jabatan duta besar, Jafar? Kesepakatanmu dengan Soeharto takkan pernah menguntungkan!†aku lepaskan tangan Haji Jafar, dan membiarkannya pergi dengan kepala yang tertunduk.
“Sidang ini akan dilanjutkan besok dengan agenda pembacaan Pledoi dari saudara Yusuf dan pembacaan keputusan dari Majelis Hakim,†Hakim Ketua kemudian mengetukkan palu persidangan sebanyak tiga kali di atas mejanya.
Seusai persidangan, Baedowi setia menemaniku, kami berjalan menyusuri ruangan pengadilan, untuk kembali ke mobil tahanan yang berbentuk Boks. Bersama-sama, kami berdua melangkah menyusuri halaman pendopo pengadilan menuju mobil tahanan yang telah menantiku. Namun, sebelum kami memasuki mobil tahanan, kulihat massa yang berkerumun di luar kantor pengadilan mulai mengamuk, mereka berusaha menerobos masuk. Sekitar 90-an tentara dengan ditambah puluhan lagi dari kepolisian yang kesemua-muanya itu megenakan baju anti huru-hara, langsung membuat formasi perisai seperti layaknya pasukan Romawi. Dengan dilindungi perisai baja, pasukan anti huru-hara itu bisa merangsek dan menangkis serangan lemparan bebatuan dari massa yang mengamuk. Meski para pasukan sudah bisa melindungi diri dan melindungi kantor pengadilan dengan formasi pasukan Romawi-nya, namun belum cukup! Secara tiba-tiba formasi pasukan Romawi itu segera berubah bentuk, semua tentara segera
mengeluarkan bayonetnya, dan mengacungkannya ke arah kumpulan massa yang kebanyakan para santri.
Banyak dari para kumpulan massa yang berjatuhan karena tertusuk bayonet para tentara. Massa tidak bisa berbuat apa-apa selain melarikan diri dengan kocar-kacir; mereka tak berdaya menghadapi formasi pasukan Romawi yang dipersenjatai dengan Bayonet.
“Baedowi.. hentikan mereka,†aku memohon pada Baedowi seraya mencoba berjalan mendekat ke pintu gerbang kantor pengadilan, berusaha melihat lebih dekat kumpulan massa umat Muslim yang tengah dilindas formasi pasukan Romawi-nya tentara rezim Orde Baru.
“Sudah abah, hentikan! Lebih baik kita segera kembali ke mobil, terlalu berbahaya buat abah,†Baedowi menggenggam tangan kananku dengan erat, mencegahku untuk mendekati pintu gerbang kantor pengadilan.
“Ya.. Allah selamatkanlah mereka,†aku menundukkan kepalaku, kemudian menutup mataku dengan tangan kiriku; tak tega untuk melihat apa yang terjadi. Dengan terpaksa aku akhirnya kembali masuk ke dalam mobil tahanan dengan ditemani Baedowi.
“Maafkan aku abah.. tak ada yang bisa kita lakukan,†Baedowi menundukkan kepalanya, dan menggeleng-gelengkan dengan pelan-pelan, sementara matanya terpejam seolah menandakan penyesalan yang mendalam.
Sebenarnya, aku ingin berbuat sesuatu, aku tak bisa berdiam diri ketika melihat dengan mata kepalaku sendiri satu pemandangan menyedihkan dimana umat muslim saat ini tengah dirangsek, dibantai dengan ditusuki bayonet oleh para aparat tentara dan aparat kepolisian. Namun aku tak berdaya, tak ada yang bisa kulakukan! Tak ada yang bisa kulakukan!
Saat kami sudah berada di dalam mobil, dan kedua tentara mulai menutup pintu mobil dan mobil pun mulai berjalan, kami berdua tak saling bicara; sepanjang perjalanan aku mendiamkan Baedowi, tak mengajaknya bicara.
Setibanya di ruangan sel penjaraku, kedua sipir tentara melepaskan borgol yang mengikat di kedua tanganku. Baedowi segera meninggalkanku, saat aku sudah memasuki ruang sel-ku. Sekarang, di dalam sel yang sempit dan lembab ini, aku berdiri, menatap tembok yang menghalangi kebebasanku dengan dunia luar. Aku mulai membungkukkan badanku pelan-pelan dan duduk beristirahat sambil menyandarkan tubuhku kepada tembok yang dingin, mencoba menahan air mata yang memaksa untuk keluar dari mataku, Â pada saat itu aku mulai mendoakan keselamatan umat Islam dari keberingasan tentara di kantor pengadilan.
Tinggal sehari lagi, keputusan atas perkaraku akan didapatkan kepastiannya, aku tak banyak berharap akan kebebasanku, aku hanya menginginkan agar sikapku ini menjadi pesan, pesan untuk masyarakat Bontam agar tidak tunduk terhadap pemerintahan rezim serta pesan untuk pemerintah rezim bahwa rakyat Bontam ini mempunyai prinsip agama yang kuat.
**
Pada malam hari, Baedowi mengunjungiku di ruangan sel-ku sambil membawakan jatah makanan dan minumanku, ia nampak sedih saat berhadap-hadapan denganku.
“Abah.. makanlah, sudah sejak siang abah belum makan. Makanlah nasi Padang yang baru kubeli ini agar abah tidak sakit,†Baedowi meletakkan nasi bungkus di tepi ranjangku, sementara aku hanya menatap nasi bungkus itu dengan tatapan dingin, aku kehilangan selera untuk makan.
“Untuk apa aku makan makanan lezat seperti nasi Padang kalau aku telah mengetahui kematianku dalam waktu dekat. Lagipula, apa pedulimu? Seharusnya engkau bisa menghentikan pembantaian umat Muslim di kantor pengadilan tadi siang! Namun tak ada yang kau lakukan, engkau hanya bisa berdiri mematung,†kataku dengan nada yang penuh kekesalan, dan kemudian aku segera menundukkan kepalaku, menggeleng-gelengkannya dengan berat, penuh penyesalan.
“Oo.. abah, percayalah padaku, aku juga sebenarnya merasa bersalah atas kejadian tadi siang, sungguh! Seandainya saja ada yang bisa kulakukan untuk menghentikan kebringasan  para tentara terhadap umat Muslim Bontam, tentu akan kulakukan. Namun kenyataannya, tak ada yang bisa kulakukan sedikitpun untuk membantu umat Islam di Bontam, aku hanya seorang Dandim, seorang Komandan Kodim yang bekerjanya di dalam kantor saja, mengurus berkas-berkas, aku tak memiliki kewenangan untuk memberi perintah kepada para prajurit militer; hanya jendral lapangan saja yang memiliki kekuasaan itu,†Ujar Baedowi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Seandainya saja bunuh diri itu bukan dosa besar, tentu aku sudah menembak kepalaku dengan pistol, aku tidak sanggup untuk menjalani hidup seperti ini,â€
“Ya.. engkau telah memainkan jalan hidupmu dengan salah,†aku memejamkan mataku seraya mengangguk-nganggukkan kepalaku dengan perlahan. “Sangat disayangkan.. sangat disayangkan,â€
“Oo... abah, apakah ada penebusan dosa untukku?†tanya Baedowi dengan penuh harap. “Sungguh, aku benar-benar sangat menyesali akan perbuatan jahatku pada umat Islam Bontam,â€
“Entahlah..,â€
“Kalau begitu, aku benar-benar orang yang terkutuk,â€
“Tidak, engkau tidak terkutuk, janganlah berputus asa terhadap rahmat Allah. Tak ada dosa yang tidak bisa dimaafkan oleh Yang Maha Pemaaf. Dari dulu engkau adalah santri yang paling pintar diantara semua santriku, aku percaya engkau memiliki takdir istimewa dalam hidupmu, namun kepercayaanku padamu menjadi hilang saat engkau mengenakan seragam militer.
Tapi, itu adalah pilihan hidupmu, aku tak berhak untuk memaksakan pilihan hidup terhadap dirimu meskipun aku sangat menginginkannya. Hanya saja, ada satu hal yang perlu kamu ketahui; hal-hal yang besar itu hanya terjadi pada orang-orang yang luar biasa, pada orang-orang yang memiliki kecerdasan seperti dirimu. Aku percaya kalau segala sesuatu dalam hidup ini tak ada yang namanya kebetulan, peristiwa yang kita alami di pengadilan, segala penindasan terhadap umat Muslim yang kita saksikan tadi siang merupakan suatu pertanda bahwa kita memiliki takdir istimewa, sesuatu yang lebih besar daripada apa yang kita kira,†aku mencoba untuk kembali memandang Baedowi dengan tatapan kasih sayang.
“Oo Abah, seandainya saja Bontam adalah Propinsi yang miskin, seandainya saja bumi Bontam ini tidak memiliki kekayaan minyak dan gas yang besar, tentu Soeharto tidak begitu bernafsu untuk menyingkirkan abah dan menindas semua umat Muslim Bontam demi menguasai kekayaan bumi Bontam. Ini semua karena perusahaan minyak Exxon Mobile yang ingin segera membuat eksplorasi minyak di sini,†Baedowi mengepalkan tangannya, dan mukanya menjadi tegang, menahan kekesalan. “Kenapa aku tidak bisa melihatnya selama ini,â€
“Aku ingin shalat Isya sekarang, bisakah aku mendapatkan air bersih di kamar mandi?†kataku seraya menarik nafas panjang, aku merasa tidak sanggup untuk membahas keserakahannya Soeharto; jijik aku untuk membicarakannya, aku berjuang bukan untuk minyak, aku berjuang untuk menentang penindasan dan pembodohan dari pemerintah rezim Orde Baru terhadap umat muslim Bontam dan juga generasi mudanya.
“Baik abah, mari aku antarkan abah ke musholla,†Baedowi segera bangkit seraya menghapus air matanya, lalu berdiri mematung seraya tersenyum, menungguku untuk segera bangkit.
Kami berdua pun akhirnya berjalan meninggalkan ruangan sel, dan berjalan keluar kantor Kodim, menyusuri halaman upacara Apel yang luas menuju Musholla Kodim. Saat aku mulai mengambil air Wudhu, banyak tentara-tentara yang sedang piket malam mengawasiku, namun mereka semua tak berani untuk menegurku karena Baedowi yang berdiri di sampingku.
“Apakah engkau sudah shalat Isya?†tanyaku kepada Baedowi begitu aku sudah mengambil air wudhu.
“Belum abah,â€
“Kalau begitu, mari kita shalat berjamaah. Segeralah berwudhu, aku akan tunggu engkau di dalam Musholla, †aku tersenyum simpul pada Baedowi.
“Baik abah,†Baedowi mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan pelan seraya tersenyum haru.
Di dalam mesjid, aku mendirikan shalat sunnah Qobliyah Isya sebelum shalat Isya didirikan. Dalam shalat Qobliyah-ku ini, aku resapi dan hayati dari setiap doa yang kubacakan pada tiap rakaat. Inilah shalat-shalatku yang terakhir pada kehidupanku di dunia, betapa menyedihkannya aku ini di hadapan Tuhan, aku takkan meminta banyak kepada Allah pada hari-hari terakhir dalam hidupku ini, aku akan berusaha tegar dan menerima kenyataan pahit ini. Namun, dadaku terasa begitu sempit saat aku mengingat kejadian pembantaian umat muslim Bontam tadi siang.
 Selesai membaca Allahumma antassalam, aku segera meyungkurkan diri ke lantai, bersujud, dan tak terasa air mataku telah membasahi lantai musholla; Ooo.. Allah, aku masih ingin hidup seribu tahun lagi di dalam kebaktian terhadap-Mu, di dalam pertapaan dengan kehidupan tenang di pedesaan, namun mereka tidak memberiku banyak pilihan, mereka tidak banyak memberiku pilihan! Ooo Allah.. aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu apakah yang aku lakukan ini adalah benar adanya, aku sangat berharap Engkau akan meridhoi pilihan jalan hidupku ini; menjadi martir di dalam pemerintahan rezim Orde Baru.
Tapi Tuhan, kurasa satu tindakan keberanian adalah satu hal yang tidak bisa ditebak, orang-orang bisa menjadi berani dengan berangkat dari landasan ide yang konyol ataupun karena kesalahan bodoh, dan sekarang aku mengambil langkah berani karena berdasarkan Iman Islam ya.. Allah, namun hanya Engkau yang lebih mengetahuinya. Ooo.. Allah, janganlah Engkau membuat keberanianku menjadi keberanian yang bodoh dan menyesatkan, aku memohon pada-Mu untuk membuat keberanianku menjadi berarti, menjadi bernilai mulia. Kulakukan tindakan keberanian ini adalah karena alasan kehormatan, mungkin aku pernah menginginkan umur panjang, tapi Ya.. Allah, kuatkanlah hatiku untuk tetap tegar dalam kesulitan ini, karena kini, aku sangat menginginkan jalan hidup martir dalam membela kehormatan agama-Mu; Islam. Jadikanlah kehidupanku ini menjadi pesan bagi umat Muslim dan pemimpin negeri di masa mendatang, agar mereka memiliki keberanian dan kehormatan, seperti yang kuinginkan
sekarang.
Inilah yang dimaksud anugerah terbaik yang pernah diberikan Tuhan kepada manusia, tidak semua orang bisa mendapatkan kehormatan ini, dan aku adalah satu orang yang mendapatkan kehormatan dari Tuhan untuk menerima anugerah besar ini. Aku bisa saja menolaknya, namun aku akan menjadi orang yang bodoh dan merugi bila aku menolak anugerah Tuhan ini. Sungguh, shalat Qobliyah yang singkat ini telah menguras air mataku, dan tanpa terasa Baedowi sudah berada di belakangku, memegang pundakku dengan lembut. Kehadirannya telah membuatku tersadar dari lamunan kesedihanku. Aku segera bangkit, dan kuseka wajahku dengan lenganku agar tampak tidak terlalu sedih.
“Abah.. apakah engkau baru saja menangis?†tanya Baedowi, penuh perhatian.
Aku tersenyum simpul padanya, mencoba untuk terlihat kuat di hadapannya. “Kau sudah siap untuk shalat Isya?â€
“Kurasa begitu, bagaimana dengan abah?â€
“Ya! Kalau begitu kita jangan menunda-nundanya lagi, bersiaplah untuk Iqamat†aku mengambil sajadah yang ada di bawah kakiku, kemudian merapihkannya. Pada saat aku membetulkan kerutan-kerutan sajadah, Baedowi kembali memegang pundakku dengan lembut.
“Sudah sangat lama sekali aku tidak shalat berjamaah bersama abah, terakhir aku shalat bersama abah, waktu itu masih anak kecil. Terima kasih abah, terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,â€
Aku tersenyum simpul pada Baedowi dan menatapnya lekat-lekat bagaikan tatapan ayah kepada putranya; hubungan kami memang pernah dekat, dan kuharap selalu akan tetap begitu. Â
Bab 11: Tentang Keikhlasan Hati dan Takdir Istimewa
Aku tak percaya dengan sistem peradilan di pemerintahan rezim Orde Baru, aku juga tak yakin kalau pledoi yang akan kubacakan hari ini akan membebaskanku dari tuduhan keji pemerintah. Mungkin peradilan di negeri ini tak bisa dipercaya lagi, tetapi tetap saja aku harus berjuang di dalam permainan pemerintah rezim, dalam hukum mereka, karena aku tak ingin disebut sebagai komplotan orang Islam yang keras, tidak taat hukum negara. Aku mesti menunjukkan pada mereka bahwa rakyat Bontam adalah orang yang relijius, orang yang memegang kuat Iman Islamnya dan orang yang cinta pada tanah airnya. Ini soal perang urat syaraf, perang kebajikan melawan kedzhaliman. Meski aku tahu bahwa aku akan kalah di persidangan, tapi aku yakin kalau yang akan menang adalah orang yang paling penyabar dan berbelas kasihan, dan aku mencoba meyakinkan diriku dengan kedua prinsip agung tersebut.
Penangkapan diriku dan tuduhan-tuduhan yang dituduhkan padaku bukanlah suatu kebetulan, melainkan sudah direncanakan sebelumnya, aku bisa yakin akan hal itu. Dan sekarang, di dalam ruang persidangan, seperti hari kemarin, kini, aku dan Baedowi duduk di sudut kiri ruang persidangan, di tempat terdakwa, menunggu majelis hakim memasuki persidangan. Kali ini, suasana di kantor pengadilan nampak tenang, tak ada lagi massa umat Muslim Bontam yang berdemo di depan kantor pengadilan; Kebringasan tentara telah membuat umat muslim Bontam menjadi trauma untuk mendatangi kantor pengadilan, sangat menyedihkan, apakah ini yang dimaksud dengan istilah ‘teror dilawan dengan teror lagi’!
Subhanallah!
Ketiga hakim sidang mulai memasuki ruang persidangan, semua hadirin yang berada di ruang sidang segera berdiri untuk menghormati majelis hakim yang telah tiba di ruangan sidang. Para majelis hakim tiba di sebuah meja panjang, lalu mulai duduk di tempatnya masing-masing, dan semua hadirin pun mulai duduk kembali begitu para hakim sudah duduk. Di meja yang tinggi dan panjang itu, para majelis hakim itu duduk berjajar seperti layaknya para algojo yang akan menentukan hidup matinya seorang budak. Itulah mereka, seperti itulah para hakim bentukan rezim Orba. Dari tempat dudukku, aku bisa melihat kesibukan para hakim yang merapihkan surat-surat dokumen, dan mereka semua saling berbisik diantara sesamanya, sibuk membicarakan akan keputusan perkaraku. Tatapan hakim ketua itu, tatapan itu takkan kulupakan, suatu tatapan yang dingin tanpa ada emosi, seperti layaknya es. Ketua majelis hakim itu menatapku lekat-lekat, begitu ia selesai berdiskusi dengan kedua hakim
anggota, lalu mulai berkata padaku dengan suara yang datar.
“Apakah saudara terdakwa sudah merasa siap untuk membacakan Pledoi-nya?†tanya hakim ketua.
“Insya Allah, saya sudah siap yang mulia hakim,†aku segera bangkit, dan kemudian berjalan ke tengah-tengah ruang sidang. “Sebenarnya, aku sangat setuju bahwa tindakan pengkhianatan terhadap negara dan asas Pancasila itu mesti dihukum mati, aku sangat setuju! Namun, bagaimanakah jika orang yang dituduhkan pengkhianat negara dan asas Pancasila itu ternyata adalah seorang rakyat jelata seperti halnya aku yang selama ini menjalani hidup tenang di pedesaan, bagaimana? Hanya karena aku memilih sikap untuk menjauhi kekuasaan, atau lebih tepatnya hanya karena menolak tawaran bergabung dengan Golkar, aku diseret ke pengadilan dengan tuduhan makar,â€
Para hadirin sidang yang terdiri para fungsionaris Golkar dan tentara militer yang berambut cepak dan tergabung menjadi funsionaris Golkar langsung bergemuruh. Mereka semua nampak marah mendengar pembacaan Pledoi dari-ku dan kesemua-muanya meneriakkan kata-kata kasar terhadapku seperti; Ulama palsu, Pengkhianat Pancasila, Penghambat Pembangunan, Segera hukum mati bagi si Pengkhianat.
“Tenang semuanya..! tenang!†seru hakim ketua seraya mengetukkan palunya berkali-kali ke atas meja sidang dengan sangat keras.
Semua hadirin akhirnya diam, tak ada satupun dari mereka yang berteriak-teriak lagi.
“Bagi saudara terdakwa, harap dipersingkat pidato Pledoi-nya, mengingat kondisi yang tidak kondusif,†kata hakim ketua dengan nada suara yang tegas.
“Terima kasih yang mulia atas kesempatannya.†ujarku seraya menatap ramah pada hakim ketua, kemudian menarik nafas panjang. “Yang mulia hakim, berdasarkan fakta lapangan, dimana banyak orang Bontam sudah menganggapku sebagai ulama yang berusaha untuk hidup jujur, aku bisa mengatakan dengan pasti bahwa aku bukanlah pengkhianat Pancasila, aku bukanlah provokator yang selalu mendorong orang untuk berbuat makar. Semua tindakan itu sangat bertentangan dengan Iman-ku, karena dalam hadits Nabi; umat Islam sangat dilarang untuk menentang pemerintahan yang sah meskipun dzhalim, karena tindakan makar adalah tindakan perpecahan, sementara perpecahan sangat tidak disukai dalam Islam.
“Makna agama secara hakiki adalah nasihat yang baik, dan merupakan suatu kewajiban bagi umat Muslim untuk saling menasihati kepada kebaikan diantara sesama manusia, khususnya menasihati penguasa yang dzhalim, Islam tak pernah mengajarkan umat untuk memberontak, Islam hanya mendorong untuk saling menasihati, itu saja! Kalau saya mengingat hadits tersebut, apakah aku akan memiliki keberanian untuk berbuat makar? Yang mulia hakim, jika aku benar-benar terbukti makar dan mengkhianati Pancasila maka aku berani bersumpah agar aku dijauhkan dari hadirat Allah di akhirat nanti.
“Hanya saja, aku merasa tidak bersalah terhadap semua tuduhan jaksa penuntut. Oleh karena itu yang mulia, saya menolak kesaksian Haji Jafar yang kuanggap di luar konteks, aku memang mengakui kalau aku pernah mengatakan seperti apa yang diterangkan haji Jafar, tapi saya bisa katakan di ruang persidangan ini, bahwa opini saya mengenai Soeharto yang menyalahgunakan asas Pancasila adalah salah satu bentuk kebebasan berpendapat, dan hakku untuk mengeluarkan opini dan aspirasi ini telah dijamin, telah dilindungi oleh UUD 1945,â€
Para hadirin sidang kembali ribut, dan mereka semua kembali meneriakkan kata-kata kasar terhadapku. Â Â Â Â
“Tenang.. tenang semuanya! Jaga ketertiban di ruang persidangan,†hakim ketua kembali mengetukkan palu persidangannya dengan keras ke atas meja sebanyak mungkin.
“Tak ada lagi yang bisa kukatakan dalam Pledoi-ku ini yang mulia hakim, semuanya sudah cukup! Terima kasih atas kesempatannya,†aku menundukkan kepalaku sekali, memberi hormat kepada hakim ketua dan kemudian kembali duduk di tempat terdakwa.
Aku meragukan kalau pidato pledoi yang baru kubacakan tadi akan berkesan dalam hati para majelis hakim dan semua hadirin persidangan. Kulihat Suryaman tersenyum puas di tempat duduknya padahal para hakim belum mengeluarkan keputusan sidang. Meski perisdangan perkaraku ini sebenarnya sudah diskenariokan, dan aku sangat yakin akan hal itu, namun para majelis hakim nampak sibuk berdiskusi dengan sesamanya, mungkin saja mereka ingin terlihat sibuk. Di tengah-tengah kesibukan perdiskusian para hakim, mendadak cuaca terlihat mendung, dan langit terlihat begitu gelap dari balik jendela. Angin berhembus kencang memasuki ruang sidang melalui jendela, seakan angin tersebut terdengar begitu meratap dan merintih. Titik-titik hujan mulai terdengar mengetuk-ngetuk atap kantor pengadilan. Pada saat hujan sudah mulai turun deras, aku mulai keluarkan tasbihku, dan banyak membaca doa di dalam hatiku. Para hakim akhirnya selesai berdiskusi dan berbisik-bisik diantara
sesamanya, hakim ketua mulai menatapku lekat-lekat dengan tatapan yang dingin.
“Setelah mendengar dari kesaksian Haji Jafar, dan juga keterangan dari terdakwa yang merangkap sebagai pembela, dan juga melihat bukti-bukti yang diajukan di pengadilan ini, dan juga mengingat keadaan terdakwa yang sudah tua renta. Maka, kami memutuskan bahwa terdakwa bersalah dan menghukum terdakwa dengan hukuman penjara selama 10 tahun.
Terdakwa akan menjalani masa tahanannya di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Phangerang. Adapun pemindahan terdakwa ke kantor Lapas Phangerang akan dilakukan minggu depan. Untuk seminggu ini, terpidana mesti menunggu di ruang tahanan Kodim hingga hari pemindahan untuk saudara terdakwa tiba!†kata ketua hakim, lalu mengetukkan palu sidang ke meja sebanyak tiga kali.
Hujan turun makin deras. Semua orang mulai membubarkan diri dari ruang pengadilan, begitu sidang sudah ditutup. Walau aku tak mengharapkannya, tak ada satu pun orang yang bersedia memberikan empati terhadapku; semua pergi menuju pintu keluar dengan wajah yang nampak puas, dan itu termasuk Suryaman. Begitu Suryaman dan asistennya telah menanggalkan setelan jubah hitam pengadilannya, ia dan asistennya langsung meninggalkanku dengan senyuman kemenangan. Mereka berdua nampak puas, meski tuntutannya akan hukuman mati terhadapku mesti berubah menjadi hukuman penjara. Hanya Baedowi saja yang menatapku lekat-lekat dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kurasa ini adalah pertemuan terakhir kita,†aku tersenyum simpul pada Baedowi.
“Jangan berkata begitu abah.. aku akan selalu menjenguk abah di penjara,†Baedowi menggenggam erat tangan kananku, meremas-remasnya seolah tak ingin kehilanganku. “Aku sudah pernah kehilangan abah sekali, sekarang aku tak ingin kehilangan abah lagi,â€
“Ya..! seandainya saja semua keluargaku ada bersama kita,†kataku seraya menatap kosong ke arah meja podium hakim. “Aku akan merindukan mereka,â€
Dua orang tentara bersenjatakan laras panjang datang memasuki ruang pengadilan, bersiap untuk membawaku pergi.
“Sudah saatnya bagiku untuk pergi,†kataku.
“Aku akan antarkan abah hingga abah memasuki mobil tahanan,†Baedowi segera bangkit, mukanya masih terlihat sedih.
Sambil berjalan menuju halaman depan kantor pengadilan, dimana mobil tahanan sudah menungguku untuk membawaku kembali ke kantor Kodim, aku ingat-ingat kembali masa-masa indah yang pernah kuhabiskan bersama keluargaku; hanya ingatan-ingatan itulah yang membuatku kuat di saat-saat seperti sekarang ini. Saat aku sudah berada di beranda kantor pengadilan, dua tentara pengawal sudah bersiap memborgol tanganku, namun Baedowi segera mencegah.
“Jangan dulu, aku ingin bercakap-cakap sebentar dengan tahanan,†kata Baedowi. Para tentara akhirnya menjauh dan mengurungkan niatnya untuk memborgolku.
Sejenak Baedowi hanya membisu dan menatapku dengan tatapan penuh empati. Hujan turun begitu deras, semua hadirin sidang yang mengenakan jaket kuning terlihat berlarian memasuki mobil-mobil sedan yang penuh dengan stiker ber-logo-kan Pohon Beringin.
“Aku akan mengingat saat-saat seperti ini untuk selamanya,†kata Baedowi kemudian merangkulku erat-erat dan menangis terisak-isak di pundakku. “Aku takkan pernah melupakan kebaikan abah,â€
“Bisakah aku meminta pertolongan kepadamu, satu permintaan terakhir dari seorang yang akan menjalani sisa hidupnya di penjara,†kataku. Baedowi lalu melepaskan pelukannya dan kembali menatapku mata yang basah oleh air mata.
“Tentu abah!†kata Baedowi, suaranya terdengar serak karena menahan kesedihan.
“Sampaikan pada Mae dan Fatimah betapa aku sangat mencintai mereka, sampaikanlah!,†kataku, kemudian menoleh ke arah tentara dan memberikan kedua tanganku untuk diborgol. Kedua tentara itu kemudian memborgol tanganku, namun sebelum kedua tentara itu hendak membawaku masuk ke mobil tahanan, aku menatap Baedowi dengan tatapan penuh harapan.
“Engkau takkan kehilanganku, engkau masih bisa menemuiku di lapas, jenguklah aku. Ceritakanlah kisahku! Ceritakanlah kisahku agar aku selalu hidup di hati dan pikiranmu. Jadikanlah kisah hidupku menjadi pelajaran bagimu, ingat! Hidup adalah soal pilihan, soal memilih jalan hidup†aku tersenyum simpul pada Baedowi yang menatapku tajam setelah sebelumnya murung.
“Oo Abah,†Baedowi kembali tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis, ia menangis seperti anak kecil.
“Kamu harus ikhlas untuk membiarkanku pergi. Aku sudah ikhlas untuk menerima vonis dari majelis hakim, kamu juga harus ikhlas,†aku tepuk pundak Baedowi dengan kedua tanganku yang sudah diborgol.
“Tapi ini tidak adil. Abah sudah tua, tapi majelis hakim memutuskan untuk memenjarakan abah selama sepuluh tahun, itu sama saja dengan menghukum mati abah dengan secara tidak langsung. Sangat menyiksa, sangat menyiksa sekali!†Baedowi menundukkan kepalanya, kemudian menggeleng-gelengkannya.
“Tidak ada satu hal pun yang akan terjadi apabila bukan karena kehendak Allah. Dan aku sungguh yakin bahwa segala yang terjadi, sungguh pun buruk kelihatannya, adalah sungguh benar yang terbaik. Tetaplah selalu berprasangka baik. Memang hidup ini penuh dengan ketidakadilan, tapi bukan berarti kita harus memberontak seperti layaknya orang Komunis. Untuk orang yang beragama, kita harus melawan ketidakadilan ini dengan bersabar, dengan Silent Protest,†aku tersenyum simpul pada Baedowi, menepuk pundak Baedowi dengan penuh kasih sayang, kemudian aku menundukkan kepalau seraya menghela nafas dalam-dalam, dan mulai berjalan meninggalkannya.Â
Dengan digiring oleh tentara pengawal, kami berjalan menyusuri halaman pendopo, menembus hujan deras, dan akhirnya memasuki mobil tahanan. Saat aku hendak memasuki mobil tahanan, aku melihat tak ada lagi kumpulan massa yang berkerumun di luar pintu gerbang kantor pengadilan seperti kemarin, aku berharap yang terbaik terhadap semua umat Muslim di Bontam. Aku merasa sangat berterima kasih pada Allah yang telah membantuku untuk melewati hari-hari kelam dalam hidupku dengan memberikan teman baik seperti Baedowi. Selain itu, tak lupa aku berterima kasih pada Allah atas takdir istimewa yang telah diberikan-Nya kepadaku; satu kehormatan besar bagi diriku untuk menerimanya, walaupun aku tahu betul kalau keputusan untuk memenjarakanku ini sama saja dengan membunuhku, mengingat usia dan fisikku yang sudah lemah.
Alhamdulillah! Alhamdulillah!
Segala bagi puji Allah dalam keadaan bagaimanapun. Ya.. Allah, Tuhan-ku! Aku tidak tahu apakah aku akan bertahan dalam menjalani kehidupan di penjara Phangerang, berdampingan dengan para Takrim. Tapi Tuhanku, seandainya aku meninggal di dalam penjara, kumohon terimalah aku di dalam kerajaan-Mu.
Sekarang, sudah saatnya bagiku untuk berpisah dengan semua orang yang telah kukenal baik. Begitu aku sudah memasuki mobil tahanan, dan pintu pun sudah mulai ditutup dari dalam oleh kedua tentara yang menemaniku di dalam mobil tahanan; aku melihat Baedowi yang berlari menembus hujan, hendak menyusulku. Dari balik jendela kecil berjeruji besi, Baedowi terlihat tergopoh-gopoh mengejar mobil tahanan yang membawaku, hingga akhirnya ia pun menyerah, tak berlari lagi ketika mobilku sudah melewati pintu gerbang kantor pengadilan.
Tak dapat disangkal kalau Baedowi adalah seseorang yang amat loyal kepada gurunya. Dia mungkin telah berbuat salah, tapi aku yakin ia sudah bertobat. Kuharap Allah memberikan jalan keselamatan kepadanya. Selamat tinggal Baedowi! Selamat tinggal dunia! Aku akan merindukan kalian semua.
Bab 12: Epilogue
Era pemerintahan rezim Orde Baru dalam rentang tahun 1984 hingga tahun 1998, telah melibatkan banyak kekerasan dan perampasan hak atas banyak umat manusia di Republik Indonesia. Untuk umat Muslim, kekerasan yang dilakukan terhadap umat Islam oleh rezim Orde Baru setelah kejadian Tanjung Priok, semakin menjadi-jadi, sebut saja; kejadian Talang Sari di Lampung, Operasi Jaring Merah (1989-1998) di Aceh, pembatasan akses para ulama dengan penahanan rutin pada tiap tujuh hari menjelang lebaran masih juga berlangsung, pembantaian para ulama dan para santri di Aceh seperti di pesantren miliknya Tengku Bantaqiah dalam operasi pembersihan Gerombolan Jubah Putih, dan masih banyak lagi kekerasan yang dilakukan rezim terhadap Umat muslim yang telalu menyedihkan untuk bisa disebutkan. Namun, kekerasan-kekerasan yang dilakukan rezim Orde Baru ini akhirnya berakhir ketika rakyat sudah muak pada tahun 1998, dan melakukan gerakan reformasi yang mengakibatkan Soeharto
lengser dari kursi kepresidenan; mengakhiri era pemerintahan rezim Orde Baru.
Ketika Soeharto lengser, kepemimpinan di Indonesia dipegang oleh seorang kyai kontoversil bernama Gus Dur, setelah sebelumnya menggantikan B.J Habibie selaku Presiden Pejabat Sementara. Ada banyak sekali tantangan dan ancaman yang dihadapi Negara Indonesia begitu Gus Dur menjabat presiden, namun ia mampu mengatasinya dengan cukup baik, dan pencapaiannya yang terbesar adalah mempertahankan keutuhan NKRI ketika ancaman disintegrasi dari tiap daerah terasa begitu nyata. Selain itu, Gus Dur juga telah berhasil membuat awalan langkah baik untuk menghilangkan Dwifungsi militer di dalam pemerintahan. Salah satu keberhasilannya dalam merombak kemiliteran di Indonesia adalah ketika ia mengangkat Jenderal Agus Wirahadikusumah yang dikenal amat jujur dan tegas, sebagai Pangkostrad (Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat ) di kemiliteran. Karena kejujuran yang disertai ketegasannya, Jenderal Agus membongkar habis proyek bisnis di tubuh militer Indonesia,
seperti; korupsi di Yayasan Dharma Putera Kostrad senilai Rp 189 milyar, proyek bisnis Mandala Airlines, dan masih banyak lagi.
Pada era Gus Dur, sedikit demi sedikit Dwifungsi Militer mulai dihilangkan, orang-orang militer akhirnya mulai kembali ke barak, kembali ke tempatnya semula, dan itu semua berkat jasa bantuan Jenderal Agus Wirahadikusumah. Sayangnya, kepemimpinan Gus Dur hanya kuat bertahan selama setahun, ia akhirnya dilengserkan oleh MPR, dan kemudian digantikan oleh wakil presidennya; Megawati. Meski begitu, rahmat tak terbatas yang terdapat dalam agama Islam telah diaktualisasikan oleh satu orang Gus Dur, yang hingga kini masih diteruskan dan dijaga warisannya di Indonesia; kekuasaan sipil sedikit demi sedikitnya mulai dipulihkan.
Adapun mengenai Soeharto, semenjak ia dilengserkan secara memalukan oleh rakyat, kondisi kesehatannya menjadi semakin menurun, menjadi pesakitan. Tahun demi tahun kondisi kesehatannya makin memprihatinkan, hingga akhirnya memerlukan perawatan medis yang intensif dari dokter-dokter ahli. Namun, Soeharto tak berani untuk melakukan pengobatan di luar negeri karena khawatir akan ancaman penangkapan dari Mahkamah Internasional. Kekhawatirannya itu memang beralasan, Mahkamah Internasional memang telah berencana untuk menangkap Soeharto karena kejahatan kemanusiannya yang telah jauh melampaui kejahatan Holocaust-nya Hitler.
Karena kondisi kesehatannya sudah sedemikian parah, Soeharto hanya bisa menjalani perwatan pengobatan di dalam negeri dan meringkuk setiap harinya di rumah sakit. Setiap menit dari berita perkembangan kesehatannya selalu menghiasi layar kaca atau dicetak di koran-koran. Tubuh ringkihnya tetap tergolek dan abati atas segala hiruk pikuk sakitnya; Soeharto dalam keadaan sekarat! Sekaratnya Soeharto berlangsung lama; memakan waktu sekitar sebulan. Dirinya memang ada, tetapi senyap dari rasa dan sepi tak menikmati apapun. Sementara selembar nyawanya diserahkan pada teknologi dan alat-alat medis.
Soeharto akhirnya meninggal juga! Meski sudah diusahakan keras oleh para dokter dengan selang, ventilator, alat pemacu jantung dan penunjang hidup artifisial lainnya. Semuanya menjadi sangat absurd. Tak pernah ada yang mampu membayangkan bahwa orang yang dulu sangat berkuasa akhirnya memilih jalan paling sepi nan menyedihkan untuk pergi. Kematian Soeharto memang mengundang iba. Inilah satu kematian yang semua orang takkan pernah menginginkannya.
Setelah kematian Soeharto, banyak petinggi militer juga para petinggi lainnya yang berasal dari kalangan sipil dan agama, yang pernah membantu pemerintahan rezim di Propinsi Bontam, mulai berjatuhan sakit akibat penyakit Stroke. Yang paling menyedihkan dan memalukan dalam mendapatkan kematiannya adalah Haji Jafar. Saat Gus Dur baru saja diangkat menjadi presiden Republik Indonesia, Haji Jafar telah meninggal karena penyakit sipilis. Satunya-satunya haji di Bontam yang meninggal karena sipilis, itulah Haji Jafar! Semua orang di Bontam selalu membicarakan kematian memalukan tersebut. Haji Jafar memang dikenal oleh banyak orang akan kegilaannya terhadap wanita. Jabatan duta besar Negara Arab yang didapatkannya dari pemerintahan rezim, telah membuat Haji Jafar mabuk, dan senang mengumbar nafsunya. Beruntung bagi Baedowi yang tidak berakhir dengan kematian menyedihkan seperti yang dialami Soeharto dan juga kesemua antek-anteknya. Sekarang, Baedowi telah
menjadi penulis besar di Indonesia, dan karyanya telah menginspirasi banyak orang.
Buku novel perdana-nya yang menceritakan kehidupan abah Yusuf Hussein saat melawan tirani rezim Orde Baru di Bontam, terjual habis dan menjadi bahan kajian para ahli sejarah di luar negeri. Banyak sekali ulasan baik yang ditulis media-media cetak nasional dari Novel-nya Baedowi. Kefenomenalan Novel tersebut telah membuat Baedowi diundang sebagai narasumber ke dalam acara Talk Show Radio paling bergengsi di Jakarta; Kick Samsuri.
Terdengar tepukan tangan yang begitu keras dari para staff radio saat Baedowi mulai memasuki ruangan acara Talk Show. Semua staff stasiun radio tersebut segera menghampiri Baedowi, dan bergantian untuk menjabat tangan Baedowi. Sang pembawa acara, Samsuri Hassan pun tak ketinggalan, ia segera bangkit dari duduknya, meninggalkan ruangan studio radio yang berbentuk kotak kaca yang besar, mulai berjalan mendekati Baedowi, dan kemudian menjabat tangan Baedowi dengan penuh penghormatan. Keramahan yang diberikan Samsuri memang sesuai dengan wajahnya yang nampak santun, meski rambutnya agak kribo seperti sarang burung, dan kacamatanya yang besar seperti orang bodoh. Ketika berjalan bersama Samsuri memasuki studio, dan kemudian duduk di bangku sementara microphone menggantung, tepat di hadapan wajah Baedowi, Baedowi memandang sekeliling dengan tatapan penuh rasa syukur, dan ia mulai menatap Samsuri yang membuka acara kepada semua pendengarnya di udara.
Baedowi sekarang bukan lagi Baedowi yang dahulu; Baedowi sekarang sudah berumur cukup tua, rambutnya telah semuanya memutih karena uban, matanya sudah tak setajam dulu, kini ia mengenakan kacamata minus sekaligus plus berukuran tebal. Dengan kacamata itu, lingkaran hitam keuzuran di kedua matanya bisa tersembunyikan, namun kerutan keriput di pipinya terlihat jelas. Tak ada lagi seragam dan atribut kemiliter di badan tua itu. Kali ini, Baedowi hanya mengenakan baju batik berbahan katun dan berkopiah hitam seperti layaknya rakyat jelata. Namun, badannya yang sudah lemah telah membuat punggungnya tak kuat berlama-lama untuk duduk tegak, Baedowi harus menyandarkan tubuhnya di kursi sofa yang empuk.
“Dalam Novel perdana anda, anda menggunakan gaya bahasa aku sebagai tokoh utama, bisakah katakan kenapa?†tanya Samsuri seraya menimang-nimang Novel ýang bertuliskan ‘Tahun-tahun kemunduran´ pada sampul depannya.
“Karena aku ingin meresapi karakter tokoh abah Yusuf sebagai ulama yang telah didzhalimi pemerintahan rezim. Aku telah berbuat banyak kesalahan di masa laluku, khususnya pada guruku; abah Yusuf. Hanya dengan meresapi karakter abah, aku bisa menghidupkan tulisan Novel-ku, bisa merasakan apa yang dirasakan abah Yusuf pada saat itu,†jawab Baedowi.
“Jadi, Novel ini berdasarkan kisah nyata?â€
“Ya! Aku telah melakukan banyak riset, menemui banyak orang untuk bisa menuliskan Novel Tahun-tahun kemunduran. Dan Alhamdulillah, berkat tekadku untuk menulis Novel Tahun-tahun kemunduran, aku telah dimaafkan oleh semua keluarga abah saat aku menghubungi mereka semuanya. Aku berharap dengan Novel-ku ini aku bisa menebus semua kesalahanku terhadap umat Muslim Bontam,â€
“Bisakah dikatakan kalau motif anda untuk menulis Novel ini sebagai penebusan dosa?â€
“Betul sekali..!,†ujar Baedowi seraya memejamkan matanya, meresapi kenangan masa lalu dan kemudian mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan perlahan. “Motif utama-ku dalam menulis Tahun-tahun Kemunduran ini adalah untuk memenuhi janjiku pada abah Yusuf Hussein, yang memintaku untuk menceritakan kisahnya. Sebenarnya, aku sudah ingin menulis novel ini sejak aku memutuskan pensiun dini di akhir tahun 1989, namun aku tak pernah mampu untuk menuliskannya, aku tak sanggup!â€
“Karena novel ini menceritakan tentang kesalahan-kesalahan pribadi si penulis?†Samsuri bertanya dengan menyela perkataan Baedowi.
“Tidak, semenjak aku mulai menulis buku ini, aku sudah memutuskan untuk menulis kejadian dengan sebenar-benarnya, tanpa ada unsur dramatisir, tanpa ada unsur puitis, bahkan aku tak mengganti nama-nama dari tokoh yang ada di bukuku ini, termasuk namaku!†ujar Baedowi.
Sesaat Baedowi terdiam, ia tak sanggup untuk meneruskan perkataannya. Kepalanya terasa pening karena mengenang masa lalu, kepalanya tertunduk dan tangan kanannya mengelus-elus keningnya, lalu ia juga menggigit bibir bawahnya. Tak lama kemudian, ia mendongakkan kepalanya, dan kembali meneruskan perkataannya.
Samsuri mematikan siaran radionya dengan menekan tombol Off yang terdapat di depannya.
“Kalau tuan tidak kuat, kita bisa melanjutkannya nanti?†Samsuri menawarkan rehat kepada Baedowi dengan nada suara yang sopan.
“Tidak kita lanjutkan saja,â€
“Baiklah, kita akan mengudara lagi kalau begitu,†Samsuri kemudian menekan tobol On.
“Maafkan kami para pendengar radio yang setia, tadi kami ada gangguan teknis sehingga siaran kami terputus sejenak. Sekarang, kita kembali lagi,†ujar Samsuri kepada pendengar setianya, kemduain menatap Baedowi dan mulai melanjutkan perkataannya. “Baik.. Pak Baedowi mohon kiranya untuk kembali meneruskan penjelasannya mengenai novel bapak ini,â€
“Tentu, pak Samsuri sudah membaca bukuku ini, saya yakin pak Samsuri bisa mengerti mengapa aku baru bisa menyelesaikan penulisan buku ini pada saat sekarang. Aku sudah banyak mendapat laporan dari beberapa saksi mata atas kejadian yang tak kusaksikan, seperti; aksi pembakaran buku-buku sejarah di TPA Philowong, kematian Haji Samlawi, prosesi pemungutan suara di PPP Bontam ketika abah Yusuf melawan Jhonaro, semuanya! Tapi hasil dari pengungkapan sejarah ini terasa begitu kejam, terasa begitu menyedihkan, batinku menjadi tersiksa untuk meneruskan kepenulisan bukuku ini, dan aku sempat dibuat gila karenanya,â€
“Tapi, bapak Baedowi tetap melanjutkan kepenulisan buku ini?â€
“Ya, aku harus memenuhi janjiku pada abah, dan aku juga harus memenuhi tujuan yang mesti dipenuhi dari kepenulisan bukuku,â€
“Tujuan apakah itu?â€
“Tujuan untuk mengungkapkan kenyataan dengan sejujur-jujurnya. Memang perlu aku akui bahwa akhiran dalam bukuku ini dirasa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan pembaca, dan memang begitulah kenyataannya,â€
Baedowi kembali diam, merasa tak mampu untuk meneruskan perkataannya. Samsuri yang duduk di sebelahnya ikut merasa simpati, dan menawarkan minum air minum mineral yang terkemas dalam botol pada Baedowi.
“Tidak terima kasih, aku tidak haus,†Baedowi tersenyum simpul. “Sesungguhnya, yang membuat buku ini rampung dan terbit pada era reformasi, adalah karena aku terlalu pengecut untuk menyelesaikannya di era rezim. Kebijakan represif yang begitu keras dari penguasa rezim telah membuatku harus menunda kepenyelesaian buku ini. Selain itu, keberpihakanku pada umat muslim Bontam setelah pengadilan abah, telah membuatku dicurigai oleh para pejabat rezim di Bontam, sehingga aku harus merendahkan diri, tidak terlalu menonjolkan diri. Itulah mengapa, bukuku ini bisa diselesaikan sekarang, dan saya berharap bukuku ini bisa menjadi salah satu kebajikanku terhadap umat Muslim,â€
Air mata mulai berlinang di wajah Baedowi dan ia tak kuasa menahannya. Samsuri segera mendekati Baedowi, mengeluarkan sapu tangannya dari sakunya, dan kemudian memberikannya kepada Baedowi. Sapu tangan itu kemudian digunakan Baedowi untuk menghapus air mata penyesalannya di masa lalu; satu masa lalu negeri yang kelam!
Ketika Baedowi telah selesai menghapus air matanya, Samsuri bebricara sendiri kepada Microphone-nya.
“Baik para pendengar, acara bincang-bincang ini akan kita lanjutkan segera setelah yang mau lewat ini!†Samsuri melepaskan Headphone yang ada di kepalanya, meletakkannya ke atas meja, lalu menatap lekat-lekat Baedowi. “Kalau boleh saya tahu.. apakah yang terjadi dengan kehidupan abah Yusuf selanjutnya setelah ia divonis hukum penjara 10 tahun?â€
“Kehidupannya sangat memprihatinkan, oleh karena itu aku hanya mengakhiri buku Novelku ketika abah meninggalkan kantor pengadilan dan mendapatkan voniis hukumannya. Semenjak ia menjalani hukumannya di Lapas Phangerang, kondisi kesehatannya semakin memburuk karena pelayanan kesehatan yang tidak memenuhi standar. Meski begitu, ketika aku menjenguknya, aku selalu mendapatinya selalu rajin shalat, dan doanya untuk kemaslahatan umat Islam tak pernah putus. Di penjara Phangerang, hanya aku saja yang diperkenankan untuk menjenguk abah. Jika saja semua keluarga abah diperkenankan untuk menjenguk, tentu abah masih hidup hingga sekarang,†Baedowi menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.
“Jadi.. abah Yusuf meninggal di dalam penjara?â€
“Ya, ia meninggal di dalam penjara ketika ia baru saja menjalani tiga tahun masa hukumannya di penjara. Aku sangat beruntung karena bisa menemani abah Yusuf di saat-saat terakhirnya,†Baedowi memejamkan matanya, kemudian menundukkan kepalanya. “Aku sangat beruntung..â€
Dengan udara dingin yang sangat menusuk tulang, Air Conditioner di dalam ruang studio itu telah membuat mereka berdua merinding, seakan merasakan getir akan kepahitan hidup abah di masa rezim Orde Baru. Tentu saja lembabnya udara di dalam penjara takkan senikmat udara dingin dari Air Conditioner ruang studio. Mereka berdua larut dalam kebisuan, tak ada lagi yang bisa dibicarakan ketika Baedowi mengungkap saat-saat terakhir abah Yusuf yang menyedihkan kepada Samsuri.
Â
Â
**Tamat**
[Non-text portions of this message have been removed]