Menghilangkan Iman Beracun

38 views
Skip to first unread message

jessica

unread,
Aug 23, 2013, 12:19:40 AM8/23/13
to milis-bo...@googlegroups.com

Menghilangkan Iman Beracun

 

 

            Peringatan: Saya akan mengatakan sesuatu yang kontroversi hari ini.

            Bagi beberapa orang, Agama adalah Racun.

            Bisa membunuh.  Bisa menyakiti.  Bisa melukai.  Bisa merampas.

            Bukan, saya tidak berbicara tentang Merek dari Agama Anda.  Mungkin Anda seorang Katolik atau Muslim atau Buddhist atau Hindu.  Dan masih memiliki Iman Beracun, apapun merek yang Anda bawa.

            Bukan soal merek, tapi cara kita menjalankan agama kita.

            Sebenarnya, saya percaya agama yang salah memperburuk keterikatan tersembunyi kita.

            Ada sejumlah orang beriman yang saya tahu yang mempunyai keterikatan seksual, keterikatan kemarahan, keterikatan pada makanan, dan jelas, keterikatan agama.

            Mengapa?

            Apa itu Iman Beracun?

            Bagaimana Anda tahu kalau Anda memiliki Iman Beracun?

            Inilah gejala utamanya…

 

 

Apakah Anda Memiliki

Gambaran Yang Salah tentang Tuhan?

 

            Suatu hari, seorang pria datang kepada saya dan berkata, “Bo, saya selalu merasa bersalah.  Saya merasa Tuhan marah pada saya hari ini…”

            “Marah pada Anda?  Mengapa?” tanya saya.

            “Karena saya melewatkan waktu berdoa saya hari ini.  Saya takut Ia akan menghukum saya.”

            Teman, saya tahu persis perasaan itu.  Karena selama bertahun-tahun – puluhan tahun – saya juga berpikir seperti itu.

            Ya, saya pernah memiliki Iman Beracun.  (Dan jika saya mau jujur, saya masih merasakan sisa racunnya dalam jiwa saya.)  Iman Beracun disebabkan oleh gambaran yang salah tentang Tuhan.  Selama 20 tahun, saya menyembah seorang Tuhan yang menghakimi, pemarah, suka membalas dendam, dan kaku.  Sekalipun pada saat itu, saya berkotbah tentang Kasih Tuhan!

            Mengapa?  Karena gambaran Tuhan yang kita miliki secara intelektual sangat berbeda dari gambaran Tuhan yang kita miliki dalam hati kita.  Yang belakangan lebih dalam dan lebih sulit diubah.

            Seorang dengan Iman Beracun akan membayangkan Tuhan berkata padanya, “Aha!  Kamu melewatkan waktu doa hari ini.  Aku akan menghukummu…”

            Dulu saya berdoa setiap hari karena merasa takut.

            Tahukah Anda betapa lucunya ini?

            Bayangkan seorang ayah menelepon anaknya dan menghardik, “Tidak tahu terima kasih!  Kamu tidak mengunjungi ayah lagi.  Ayah peringatkan kamu.  Ayah akan mengutukmu jika kamu tidak mengunjungi ayah saat ini juga.  Kamu mengerti?”  Ayah macam apa itu?

            Tapi kita membayangkan Tuhan seperti itu.

            Sekarang, saya masih berdoa setiap hari, tapi saya melakukannya karena saya suka berdoa.  Ia memberkati saya, memelihara saya, dan mengisi hati saya dengan cinta.  Jika saya melewatkan waktu doa saya, Ia tidak mengirimkan petir atas saya.

 

 

Apakah Anda Menyembah Tuhan

Yang Menghakimi, Pemarah, dan Suka Membalas Dendam?

 

            Menurut Iman Beracun, Tuhan adalah seorang Tuhan yang menghakimi, pemarah, suka membalas dendam dan kaku.  Jika seseorang memiliki gambaran yang salah tentang Tuhan, kepercayaan bawah sadar Anda adalah sebagai berikut… (Periksalah jika Anda mempunyai salah satu kepercayaan tersebut.)

·         “Tuhan akan mengasihi saya hanya jika saya berkelakuan baik.”

·         “Tuhan membenci pendosa dan marah terhadap saya.”

·         “Tuhan ingin menghukum saya.”

·         “Tuhan tidak pernah puas terhadap saya.”

           Bila Anda memiliki Iman Beracun, tampaknya seolah-olah Tuhan sibuk dengan dosa Anda, menunggu Anda membuat kesalahan.  Ia juga berubah-ubah dan murung: Bila Anda tidak berbuat dosa, Ia menyukai Anda.  Bila Anda berdosa, Ia tidak menyukai Anda.  Ia terus-menerus mempermalukan Anda, sehingga Anda akan mengikuti standar tuntutanNya yang terus meningkat.

 

 

Masa Lalu Saya Yang Menyakitkan

 

            Dasar dari keyakinan beragama bukanlah pendidikan agama tapi ikatan keluarga yang kuat.  Jika seorang anak bertumbuh TANPA relasi yang dekat dengan orang tuanya, ia akan mempunyai kapasitas hanya untuk mempelajari doktrin, bukan kapasitas untuk mempercayai Tuhan.

            Orang tua saya Katolik.  Kami pergi ke Misa setiap Minggu.  Kami berdoa rosario setiap malam.  Tuhan penting.  Tapi lebih dari itu, kedekatan sebagai satu keluarga yang mempersiapkan saya untuk beriman.

            Pada Tahun 1978, kami semua bergabung dalam Pembaruan Karismatik Katolik.  Dan saya diperkenalkan dengan pribadi Tuhan.  Sebagai anak berusia 12 tahun, saya memberikan hidup saya bagi Yesus.

            Persekutuan doa kami menyenangkan – kecil, bahagia, sederhana.  Kami melakukan pelayanan di berbagai daerah.  Pimpinan kami, Sister Aida, adalah seorang nabi yang menubuatkan bahwa saya akan berkotbah dan ia membesarkan saya untuk berkotbah.  Ia selalu jujur tentang kesalahannya – temperamennya, kekuatirannya, ketakutannya – dan itu membuat kami juga jujur terhadap kesalahan kami.

            Tapi sesuatu yang salah terjadi ketika saya berusia 13…

            Itu terjadi ketika saya bergabung dalam kelompok lain.  Itu adalah sebuah kelompok kecil terdiri dari anak-anak muda yang dipimpin oleh seorang pemimpin bertalenta yang merupakan seorang pengkotbah yang hebat, penyanyi yang baik, dan pribadi yang sangat bersahabat.  Saya menikmati kebersamaan dengan anak-anak muda lain.  Saya adalah salah satu dari 4 “pemimpin” muda kelompok itu.  Tapi suatu hari, ketika saya berusia 13 tahun, ia melecehkan saya secara seksual.  Ketika itu terjadi, saya tidak menceritakannya pada siapapun.  Saya tidak bisa.  Saya menyimpan rahasia gelap itu untuk diri sendiri.  Bagaimana saya bisa menceritakannya pada orang lain?  Ia adalah pemimpin kami.  Dalam beberapa cara yang berbelit, saya tidak ingin mengguncang keadaan.  Anda menyukai komunitas itu, Anda menyukai kelompok itu, Anda menyukai peran Anda dalam kelompok itu.  Saya seolah menjadi kebal terhadap rasa sakit itu, saya mengubur semua perasaan malu, marah, dan takut yang saya rasakan.

            Beberapa bulan kemudian ketika saya bersama seorang pemimpin anak muda lainnya – dan ia bertanya apakah pemimpin kami telah melecehkan saya.  Saya mengatakan ya.  Ia mengatakan bahwa ia juga dilecehkan.  Dan bahwa yang lain juga dilecehkan.  Seluruh anggota kelompok kami dilecehkan, satu demi satu.  Kami dengar bahwa salah satu anggota terbaru kami sedang mandi di rumah komunitas kami ketika pemimpin kami masuk dan mandi bersamanya.

            Dengan semua rasa sakit dalam hati yang belum terselesaikan, saya menjadi pecandu rohani.  Obat apa yang lebih baik – jalan untuk melarikan diri – selain hal-hal berbau rohani?  Selain membaca Alkitab?  Selain berdoa?  Selain kegiatan rohani?

            Saya berdoa satu jam setiap hari, mengikuti Misa harian, berdoa rosario setiap hari, membaca Alkitab setiap hari, hidup dalam kemiskinan – semua dalam upaya untuk mematikan rasa sakit dalam hati.

            Dan saya menjadi seorang pemimpin rohani.  jika seorang pecandu rohani menjadi seorang pemimpin, biasanya ia menjadi kasar secara rohani terhadap pengikutnya – karena saya bersikeras kepada setiap orang bahwa cara hidup rohani saya adalah satu-satunya cara untuk menyenangkan Tuhan.  Jadi saya mengajar mereka cara hidup rohani saya.  Saya juga mengerutkan kening kepada mereka ketika mereka memikirkan apa yang mereka pikirkan, merasakan apa yang mereka rasakan, menginginkan apa yang mereka inginkan.  Saya memanfaatkan rasa bersalah dan ketakutan untuk memanipulasi mereka untuk mengikuti ajaran saya.

            Sekarang, saya telah belajar untuk TIDAK menggunakan agama sebagai obat.  Saya telah belajar untuk menyelesaikan rasa sakit dalam hati saya.  Saya telah belajar untuk merasakan perasaan saya, memikirkan apa yang saya pikir, dan menginginkan apa yang saya inginkan.  Saya telah belajar untuk mencintai diri sendiri.  Saya telah belajar untuk menikmati hidup dan menemukan Tuhan dalam hal-hal bukan rohani, seperti keluarga, seperti bisnis, seperti hanya dengan menjadi diri sendiri.

            Saya bebas.

            Dan kebebasan ini telah membuat saya lebih mencintai Tuhan dan orang lain.

            Saya berdoa agar Anda menerima kebebasan ini juga.

 

            Semoga impian Anda menjadi kenyataan,

          Bo Sanchez

            (Diterjemahkan oleh: Jessica Jeanne Pangestu)

 

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages