Basis Data Perpustakaan

0 views
Skip to first unread message

Patrizia Leones

unread,
Aug 4, 2024, 3:02:20 PM8/4/24
to mesjirelow
dirancanguntuk mengelola dan menyimpan informasi mengenai koleksi buku, data peminjaman, anggota perpustakaan, dan informasi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem basis data perpustakaan menggunakan XAMPP. Metodologi penelitian melibatkan identifikasi kebutuhan dan tujuan sistem informasi perpustakaan, analisis dan perancangan basis data, penentuan skema basis data, implementasi basis data, pengujian dan validasi, serta evaluasi dan pemeliharaan. Dalam perancangan basis data, entitas-entitas seperti peminjaman, buku, peminjam, dan lain-lain diidentifikasi dengan atribut- atribut yang relevan. Skema basis data ditentukan dengan menentukan tipe data, kunci primer, kunci asing, dan indeks yang diperlukan. Implementasi basis data melibatkan pembuatan tabel-tabel dan pengaturan relasi antar tabel. Pengujian dan validasi dilakukan untuk memastikan kinerja dan kesesuaian basis data dengan kebutuhan sistem. Evaluasi dan pemeliharaan dilakukan secara berkala untuk menjaga integritas basis data. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengelolaan informasi perpustakaan melalui penggunaan sistem basis data. Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu perpustakaan dalam meningkatkan efisiensi operasional, pelayanan kepada pengguna, dan akses terhadap informasi yang relevan

Bandung, lib.itb.ac.id. Dalam mendukung tri dharma perguruan tinggi khususnya bidang penelitian, ITB melanggan banyak basis data elektronik untuk dimanfaatkan oleh sivitas akademika ITB sebagai bahan referensi di dalam proses penelitiannya. Salah satu basis data yang dilanggan adalah ProQuest ABI/Inform Collection yang bisa diakses melalui salah satu menu di halaman web UPT Perpustakaan.


ProQuest ABI/Inform Collection merupakan basis data yang menampilkan teks lengkap dari ribuan jurnal, kertas kerja, majalah bisnis dan ekonomi utama seperti Economist, laporan yang berfokus pada negara dan industri, serta data yang dapat diunduh. Cakupan internasionalnya memberi gambaran lengkap kepada para peneliti tentang perusahaan dan tren bisnis di seluruh dunia.


Dalam laporan tahunan pemanfaatan basis data elektronik selama tahun 2023 tercatat bahwa dari seluruh publikasi yang diterbitkan oleh ProQuest ABI/Inform Collection dan dilanggan ITB terdapat publikasi yang menduduki trending access paling tinggi. Penilaian ini didasarkan pada perhitungan total item request dan total item investigation selama satu tahun penuh (total permintaan item : berapa kali pengguna melihat, mengunduh, mengirim email, atau mencetak konten lengkap artikel jurnal, abstrak, bab buku, dll) dan total item investigasi (berapa kali pengguna mengakses konten artikel jurnal, abstrak, bab buku, dll). Publikasi tersebut adalah Sustainability.


Sustainability merupakan jurnal open access dan bertujuan untuk mempublikasikan eksperimen dan teori yang berkaitan dengan ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora untuk mempromosikan prediksi ilmiah dan penilaian dampak perubahan dan pembangunan global.


Bandung, Lib.itb.ac.id. UPT Perpustakaan ITB menggelar kegiatan sosialisasi akses trial basis data Statista untuk mengetahui tingkat kebutuhan sivitas akademika ITB terkait data. Kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat, 8 September 2023, pukul 14.00-15.00WIB. Kegiatan dihadiri oleh Kepala UPT Perpustakaan ITB, Ena Sukmana, S.Sos yang juga sekaligus membuka acara, Stephani Susilo (Business Development Manager Statista), para dosen, mahasiswa, dan peneliti, serta pengelola perpustakaan di lingkungan ITB.


Statista adalah sebuah portal statistik terbesar di dunia yang menyediakan akses ke data yang relevan dari kurang lebih 18.000 sumber; menyediakan berbagai informasi statistik, grafik, dan data numerik mengenai berbagai topik dan industri. Statista menyediakan data statistik dari ribuan sumber, termasuk lembaga riset pasar dan opini, organisasi bisnis, jurnal ilmiah, publikasi perdagangan, dan lembaga pemerintah untuk memberikan wawasan yang mendalam tentang tren dan statistik dalam berbagai bidang. Statista mengkover 170 industri (kimia, pertambangan, real estate, pertanian, dll.) dari lebih 150 negara maju dan berkembang. Lebih dari 85.000 topik dibahas, termasuk media, bisnis, politik, masyarakat, teknologi, dan pendidikan. Data dapat diakses dengan mencari atau browsing berdasarkan jenis industri, topik, negara, pasar digital, atau infografis. Statista selalu memberikan informasi darimana data diperoleh karena Statista menjunjung asas transparansi. Data pada Statista selalu merupakan hasil analisis para peneliti. Tiap-tiap analis peneliti bekerja secara eksklusif dengan keahliannya dan berkolaborasi dengan para pemimpin industri, lembaga survei, dan lembaga pemerintah untuk memastikan keandalan dan akurasi data tetap terjaga secara menyeluruh.


Fitur khusus yang ada dalam basis data ini meliputi: statistik berdasarkan topik, laporan negara, berkas statistik dan laporan berdasarkan topik, laporan industri. Bagan dapat diunduh dalam format PNG, PowerPoint, Excel atau PDF atau tertanam di halaman web. Untuk keperluan penulisan sitasi, kutipan dapat ambil dalam gaya APA, Chicago, Harvard dan MLA, dan tersedia pula daftar istilah statistik. Di dalam Statista juga terdapat fitur market insight (tren pasar) dan consumer insight (perilaku konsumen)Statista terus memantau perkembangan dan memantau dengan cermat tren dan kemajuan semua aspek bisnis. Basis data berkembang seiring dengan tren terbaru yang terjadi, yang berarti bahwa Statista selalu up to date. Di Indonesia data diperbarui setiap dua kali dalam setahun, sementara di negara lain empat kali dalam setahun.


UPT Perpustakaan telah mengaktifkan masa trial dari basis data Statista yang dapat diakses di link melalui jaringan internet ITB untuk periode 8 September s.d. 8 Oktober 2023. Untuk informasi langkah-langkah Statista dapat diakses pada link -trial-statista/, sedangkan link untuk evaluasi trial sampai dengan tanggal 8 oktober 2023 dapat diakses di -TRIAL-STATISTA-ITB-2023.


PENGERTIAN OTOMASI PERPUSTAKAAN






Otomasi Perpustakaan adalah sebuah proses pengelolaan perpustakaan dengan menggunakan bantuan Teknologi informasi (TI). Sistem Otomasi Perpustakaan atau Library Automation System adalah software yang beroperasi berdasarkan pangkalan data untuk mengotomasikan kegiatan perpustakaan. Dengan batuan Teknologi informasi maka beberapa pekerjaan manusia dapat dipercepat dan diefisienkan. Selain itu proses pengolahan data koleksi menjadi lebih cepat dan akurat untuk ditelusur kembali.






PENGERTIAN OTOMASI PERPUSTAKAAN- TUJUAN, MANFAAT DAN FUNGSI



perpustakaan









Untuk dapat memahami otomasi perpustakaan perlu dipahami pengertian otomasi. Menurut kamus kepustakawanan otomasi perpustakaan (Library Automation) adalah proses atau hasil penciptaan mesin swakendali tanpa campur tangan manusia dalam proses tersebut. Penerapan otomasi di perpuslakaan sebenarnya lebih tepat bila disebut teknologi informasi.






Teknologi di sini berarti pengumpulan, pengolahan, penyebaran, dan penggunaan informasi, dalam hal ini tidak hanya terbatas pada pemanfaatan perangkat lunak maupun perangkal keras, tetapi juga perlu melibatkan manusia. Dalam Concise Oxford Dictionary, otomasi adalah penggunaan peralatan yang dioperasikan secara otomasi untuk menghemat tenaga fisik dan mental manusia.






Berikutnya beberapa definisi otomasi perpustakaan beberapa para ahli perpustakaan:






1. Menurut Sulistyo Basuki, otomasi perpustakaan adalah mencakup konsep proses atau hasil membuat mesin swatindak dan swakendali dengan menghilangkan campur tangan manusia.



2. Menurut Putu Laxman Pendit, otomasi perpustakaan adalah seperangkat aplikasi komputer untuk kegiatan di perpustakaan yang terutama bercirikan penggunaan pangkalan data ukuran besar, dengan kandungan tekstual yang dominae dan dengan fasilitas utama dalam hal mcnyimpan, menemukan dan menyajikan informasi.



3. Menurut Saffady otomasi perpustakaan adalah sebuah sistem perpustakaan yang terimegrasi di mana sebuah database bibliografi dipadukan dengan serangkaian program aplikasi yang saling berhubungan untuk mengotomatiskan sejumlah besar aplikasi perpustakaan.



4. Menurut Cohn, otomasi perpustakaan merupakan sistem yang mengkomputerisasikan kegiatan yang dilakukan pada perpustakaan tradisional seperti kegiatan pengolahan bahan pustaka, sirkulasi, katalog public (OPAC), pengadaan (akuisisi). manajemen keanggotaan, terbitan berseri, semua kegiatan tersebut dilakukan dengan menggunakan pangkalan data (database) perpustakaan sebagai fondasinya.



5. Menurut Riyanto, otomasi perpustakaan adalah penerapan teknologi informasi pada kegiatan administrasi agar lebih efektif dan efisien. Bidang pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem informasi perpustakaan adalah pengadaan, inventaris, katalogisasi, sirkulasi bahan pustaka, pengelola anggota, satistik, dan lain sebagainya.






Ciri khas dari sistem otomasi perpustakaan adalah pada inti kegiatan yang didukungnya, yakni: Penyelenggaraan pelayanan kepada pengguna perpustakaan seefisien dan seefeklif mungkin dengan bantuan komputer.



Tujuan Otomasi Perpustakaan






Penerapan otomasi di perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan, citra perpustakaan dan pustakawan itu sendiri. Pustakawan tidak lagi bekerja secara manual yang dapat mengurangi kesalahan-kesalahan karena kegiatan perpustakaan bersifat rutin. Penerapan sistem otomasi pada prinsipnya harus mewakili kegialan rutin yang dilakukan perpustakaan sebagaimana dikatakan oleh Suwamo, bahwa perpustakaan mempunyai tugas yang harus dilakukan:






1. Menghimpun infomasi yaitu meliputi kegiatan mencari, menyeleksi, mengisi perpustakaan dengan sumber informasi yang memadai baik dalam arti jumlah, jenis maupun mutu yang disesuaikan dengan kebijakan lembaga, ketersediaan dana, dan kebutuhan pemustaka. Dalam hal ini otomasi menjadi penting guna mendata berbagai sumber, yang kemudian dengan mudah dapat dilihat kembali tanpa harus membolak-balikkan kertas sebagaimana kerja manual.






2. Mengelola informasi meliputi proses pengolahan, penyusunan, penyimpanan, pengemasan agar tersusun rapi dan mudah ditemukan. Dalam hal ini otomasi berperan penting dalam penyimpanan data bibliografnya sebagai wakil dokumen, dan kemudian akan mudah dalam proses temu kembalinya.






Memberdayakan informasi dan memberikan layanan secara optimal. Perpustakaan sebagai pusat sumber daya informasi dengan bantuan sistem otomasi akan memaksimalkan pemanfaatan informasi yang dikelolanya, dengan pendekatan kemudahan dan keakuratan pemustaka dalam mensakses informasi tersebut.



Tujuan lain otomasi perpustakaan secara umum di antaranya sebagai berikut:






1. Memudahkan integrasi berbagai kegiatan perpustakaam Pada perpustakaan yang masih menggunakan sistem manual, kegiatan perpustakaannya masih dilakukan secara terpisah-pisah belum terintegrasi. Misalnya antara kegiatan pengolahan bahan pustaka dengan kegiatan sirkulai peminjaman dan penelusuran tidak terintegrasi, sehingga stok bahan pustaka tidak bisa secara langsung terpantau pada bagian sirkulasi peminjaman dan untuk penelusuran bahan pustaka.






Dengan adanya otomasi perpustakaan maka ketiga kegiatan ini dapal terimegrasi sehingga stok bahan pustaka secara langsung dapat terpantau dan akan memudahkan pada kegiatan sirkulasi peminjaman maupun untuk kegiatan penelusuran bahan pustaka karena secara pasti pengguna perpustakaan mengetahui stok bahan pustaka dan di lemari mana bahan pustaka berada, Kalaupun bahan pustaka tersebut dipinjam maka pengguna perpustakaan dengan cepat dapat mengetahui siapa yang sedang meminjam dan kapan bahan pustaka tersebut dikembalikan.






2. Memudahhan kerja sama dan pembentukan jaringan perpustakaan. Dengan adanya otomasi maka akan memudahkan kerja sama antarperpustakaan karena tersedianya alat komunikasi data yang sudah cukup cangggih yaitu jaringan internet.






Dengan adanya internet maka antar perpustakaan dapat melukan komunikasi setiap saat dan antar perpustakaan juga dapat melakukan pengiriman data dan tukar menukar data dan informasi. Pada sistem manual temunya hal ini akan sulit dilakukan.






3. Membantu menghindari duplikasi kegiatan di perpustakaan. Pada sistem manual duplikasi kegiatan tak bisa dihindari karena semua kegiatan pendataan dilakukan secara manual melalui pencatatan atau pengetikan. Sedang pada otomasi perpustakaan semua kegiatan pendataan dilakukan secara camputerized sehingga terbangun suatu basis data atau pangkalan data.






Dengan adanya basis data ini maka akan terhidari duplikasi kegiatan di perpustakaan. Misalnya pada kegiatan sirkulasi peminjaman, petugas tidak perlu lagi menulis nama anggota dan alamat anggota tapi cukup memasukkan nomor ID anggota demikian juga umuk bahan pustaka yang dipimjam cukup dimasukkan nomor ID bahan pustaka maka deskripsi bahan pustaka dengan sendirinya akan tampil di layar komputer. Demikian untuk kegiatan-kegiatan lain, cukup dengan memanfaatkan basis data yang tersedia.






4. Menghindari pekerjaan yang bersifat mengulang dan membosankan. Pada sistem manual, kegiatan yang paling rutin dilakukan dan yang membosankan adalah pembuatan label punggung bahan pustaka, pembuatan katalog bahan pustaka dan barcode bahan pustaka.






Dengan otomasi perpustakaan kegiatan ini akan mudah dilakukan oleh petugas perpusrakan karena cukup memanfaatkan basis data dengan bantuan program atau software komputer maka pencetakan label punggung bahan pustaka, katalog bahan pustaka dan barcode bahan pustaka dengan mudah dapat dilakukan.



5. Memperluas jasa perpustahaan. Dengan adanya otomasi perpustakaan maka jasa perpustakaan dapat dilakukan dengan jangkauan yang lebih luas. Karena informasi bahan pusrakaan dapat diakses tidak saja di tempat perpustakaan berada tapi juga diakses dari mana dan kapan saja tidak terbatas dengan ruang dan waktu.






Hal ini dapat terjadi karena ada jasa layan jaringan internet. Bahkan kualitas informasi juga dapat ditingkatkan misal informasi yang disediakan tidak saja berupa katalog bahan pustaka tapi juga bisa berupa abstrak bahkan kalau memungkinkan sampai pada fulltext.






6. Memberi peluang untuh memasarkan jasa perpustakaan. Dengan otomasi perpustakaan, petugas perpustakaan dapat secara aktif memasarkan jasa layanan perpustakaan kepada penggunaan perpustakaan. Hal ini dapat dilakukan karena tersedianya basis data bahan pustaka yang sudah terbentu soft file dan juga tersedianya teknologi informasi dan komunikasi yang canggih yang dapat memudahkan melakukan komunikasi data dan informasi.






7. Meningkatkan efisiensi. Otomasi perpustakaan memberikan dampak yang lebih baik bagi pengelola perpustakaan dan pengguna perpustakaan. Hal ini disebabkan karena adanya efisiensi yang terjadi dalam otomasi perpustakaan tersebut.






Dengan adanya otomasi perpustakaan maka efisiensi tenaga, waktu dan biaya akan terasa bagi pengelola perpustakaan, demikian juga bagi pengguna perpustakaan karena pengguna perpustakaan dapat mengakses data dan informasi bahan pustaka dari mana dan kapan pun.



Adapun tujuan otomasi perpustakaan menurut Lasa HS. antara lain:






Meningkatkan kualitas layanan, memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dilakukan secara manual, meningkatkan efisiensi dan efektivitas, meningkatkan kinerja petugas perpustakaan, meningkatkan daya saing.



Mantaat dan Fungsi Otomasi Perpustakaan






Manfaat otomasi perpustakaan secara umum adalah:






1. Mempercepat proses temubalik informasi (informasi retrieval). Sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pada sistem manual bahwa temubalik informasi tidak dapat dilakukan secara cepat kalaupun dapat ditemukan judul bahan pustaka yang dicari tapi belum tentu bahan pustakanya ada di perpustakaan karena mungkin saja bahan pustaka sedang dipinjam oleh pengguna perpustakaan atau bahan pustakanya sudah hilang atau rusak.






Hal ini disebabkan karena informasi yang didapat adalah melalui penelusuran dengan menggunakan katalog bahan pustaka. Sedang bila dilakukan dengan menggunakan otomasi maka dengan cepat informasi yang dicari akan diperoleh karena basis data perpustakaan telah menyediakan untuk kepentingan penelusuran yaitu dengan tersediannya OPAC (Online Public Access Catalog).






2. Memperlancar proses pengelolaan pengadaan bahan pustaka. Dengan adanya basis data yang baik dan akurat dalam sistem otomasi perpustakaan maka untuk kepentingan proses pengelolaan pengadaan bahan pustaka akan terbantu sekali. Sehingga pengadaan bahan pustaka dapat dilakukan sesuai dengan keperluan dari pengguna perpustakaan, artinya penambahan judul dan eksemplar bahan pustaka dapat disesuaikan dengan keperluan pengguna perpustakaan, karena basis data pengadaan bahan pustaka dapat ditelusur dengan mudah dan cepat.






Bahkan untuk kepentingan pengolahan bahan pustaka otomasi perpustakaan sangat membantu sekali karena ada hal-hal yang diperlukan dalam pengolahan bahan pustaka sudah tersedia dalam basis data misal untuk mencetak label punggung bahan pustaka, katalog bahan pustaka dan barcode bahan pustaka. Ketiga kegiatan ini dapat dilakukan dengan mudah dan cepat.






3. Komunikasi antarperpustkaan. Dengan tersedianya basis data yang baik dan sarana telekomunikasi data dan informasi yang baik maka komunikasi antar perpustakaan yang sangat mudah dilakukan. Antarperpustakaan dapat melakukan komunikasi melalui media intenet, demikian juga untuk tukar menukar data dan informasi dapat, antarperpustakaan dapat melakukannya dengan mudah melalui media internet. Menjamin pengelolaan dan administrasi perpustakaan.






Pada sistem manual pengelolaan data administrasi akan terasa tidak efisien karena banyak kegiatan yang harus dikerjakan yang terkesan sangat bertele-tele yang bisa membuat bosan bagi petugas perpustakaan. Hal ini dapat dilihal bagai prosedur yang harus dilalui dan dikerjakan mulai dari pengolahan bahan pustaka dan sirkulasi peminjaman bahan pustaka. Prosedur akan menjadi sederhana bila sudah menggunakan sistem otomasi. Dan juga akan menjadi tertib administrasinya.






Otomasi perpustakaan dengan menerapkan kemajuan Teknologi informasi akan memberikan manfaat:



Mengefisienkan dan mempermudah pekerjaan dalam perpustakaan



Memberikan layanan yang lebih baik kepada pengguna perpustakaan



Meningkatkan citra perpustakaan



Pengembangan infrastruktur nasional, regional, dan global.



Manfaat otomasi menurut Wiji di antaranya:






1. Mudah kelola. Mudah kelola yang dimaksud adalah memudahkan pengelolaan bahan pustaka dari mulai pengadaan hingga penyajian, termasuk di dalamnya adalah sistem pelayanannya.






2. Mudah simpan. Mudah simpan artinya bahan pustaka, utamanya data bibliografi disimpan dalam bentuk file di komputer. Data tidak perlu lagi disimpan di lemari kalalog yang membutuhkan space yang bcsar. Mudah temu kembali. Jika data sudah disimpan dalam bentuk file di computer, maka sistem komputer dengan dibantu software tertentu akan memudahkan untuk temu kembali. Aplikasi temu kembali ini ada dalam bentuk Online Public Access Catalog (OPAC).



FUNGSI OTOMASI PERPUSTAKAAN






Menurur Putu Laxman Pendit, otomasi perpustakaan memiliki tiga fungsi yaitu:






1. Panghalan data. Khususnya pangkalan data bibliografns, tetapi juga pangkalan data dan administrasi.



2. Sistem temu kembali informasi. Khususnya dalam membentuk catalog



3. Fasilitas dan akses online. Khususnya yang memungkinkan interaksi jarak jauh






Sedangkan fungsi otomasi perpustakaan menurut Safady dapat dibagi beberapa kategori, di antaranya:



a. OPAC (Online Public Access Catalog).






OPAC dapat diartikan sebagai sekumpulan rekaman bibliografis yang terorganisir dan dapat dibaca oleh mesin, yang mewakili seluruh koleksi perpustakaan. OPAC memperbesar kesempatan para pemakai untuk mengakses bahan pustaka dan mampu menampilkan status setiap item koleksi, sebuah fungsi yang mustahil dilakukan jika menggunakan kartu katalog manual.



Menurut Saleh dan Jami G. Sujana teknik penelusuran OPAC terbagi dalam lima bagian, yaitu:



1. Penelusuran dengan kamus istilah. Penelusuran menggunakan istilah yang sudah dibuat oleh CDS atau ISIS pada saat mengindeks suatu ruas atau subruas.



2. Penelusuran bebas. Pengguna bebas mengetikkan apa saja yang ingin dicari karena sistem ini merupakan pengganti katalog.



3. Penelusuran dengan ekspresi Boolean. Penelurusan dengan Boolean ini memungkinkan pengguna untuk mendapatkan umpan balik informasi yang lebih sesuai dengan apa yang diinginkan.



4. Penggunaan teknik ANY. Penggunaan teknik ANY merupakan cara mengelompokkan istilah yang dapat dipakai sebagai penelusuran.



5. Pemotongan istilah. Pemotongan istilah digunakan apabila akan menjaring seluruh kata yang ada dalam basis data yang diminta dalam bentuk query.



b. Sirkulasi






Fungsi sirkulasi mencakup berbagai aktivitas di seputar peminjaman koleksi perpustakaan, misalnya pengeluaran atau peminjaman buku, perpanjangan, keterlambatan, inventarisasi bahan pustaka. pemesanan dan pencadangan buku, penarikan denda, dan penyusunan laporan statistik.






Kegiatan tersebut dikelompokkan ke dalam tiga operasi kontrol sirkulasi yang paling mendasar. Pengeluaran dan penarikan buku, monitoring file secara online, pencetakan laporan dan pengumuman secara offline. Dengan menerapkan otomatisasi perpustakaan, petugas sirkulasi dapat memeriksa berbagai transaksi secara langsung (real time), juga memonitor Status peminjam dan status bahan pustaka yang dapat langsung ditampilkan di layar OPAC.






Proses sirkulasi dilakukan dengan cara memindai nomor register pemakai. Kemudian data pemakai akan tampil di layar. Selanjutnya barcode bahan pustaka yang diminta. Data pemakai dan data bahan pustaka akan disimpan di database sirkulasi. Demi menjaga akurasi pencatatan transaksi, perpustakaan meggunakan barcode. Sebuah sistem representasi data yang dapat dibaca dengan mesin optic untuk memproses bahan pustaka. Barcode ditempelkan pada item koleksi perpustakaan dan pada kartu anggota perpustakaan/pemakai. Barcode itu akan menampilkan nomor khusus untuk koleksi bahan pustaka dan nomor register setiap pemakai/anggota perpustakaan. Barcode bisa dibaca dengan pemindai/scmer barcode.



c. Katalogisasi






Katalogisasi merupakan fungsi utama dari otomatisasi perpustakaan yang membantu dalam proses pembuatan, pemutakhiran, pengkopian, penyimpanan, pengambilan kembali dan pengelolaan rekaman katalogisasi, semua otomatisasi perpustakaan didukung oleh rekaman MARC. MARC adalah singkatan dari Machine-Readable Cataloruing yang merupakan sebuah format standar untuk penyimpanan dan pertuaran rekaman bibliografi dan infomasi terkait dalam bentuk yang mudah dibaca dengan mesin.






Rekaman yang sudah disimpan di dalam database bibliografi secara otomatis akan muncul di tampilan OPAC dan salinan rekaman yang lebih ringkas sudah dibuat secara otomatis untuk modul sirkulasi. Aplikasi katalog
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages