PERLUNYA INTEGRASI DAN KESELARASAN DALAM MENJALANKAN PROGRAM DARI LEMBAGA-LEMBAGA YANG BEKERJA DI SIKAKAP
Sebelumnya saya mohon maaf jika saya terlambat mendistribusikan hasil notulensi rapat koordinasi yang dilakukan pada tanggal 27 November 2012 karena kesibukan tutup tahun di CDRM. Disini saya ingin menyampaikan sebuah pengamatan dari hasil pertemuan tersebut.
Ada satu hal yang selama ini memang sudah kita ketahui bersama tentang kecenderungan bahwa koordinasi antar lembaga kadang hanya bersifat formalitas, sekedar melaporkan update, dan sudah tidak ada tindak lanjut setelah notulensi di distribusikan. Hal ini mungkin disebabkan karena fator kegiatan yang memang tidak sama, ataupun (khususnya di Mentawai), karena terbatasnya sarana dan prasarana sehingga komunikasi sangat susah terjalin. Sehingga harapan kita dari manfaat pertemuan tersebut adalah sebagai sumber informasi semata bagi teman-teman yang membutuhkan untuk kepentingan program sehingga, paling tidak, tidak terjadi duplikasi kegiatan.
Ada hal menarik yang terjadi belakangan ini di antara lembaga-lembaga yang bekerja di Sikakap. Seperti telah diketahui dari rapat-rapat koordinasi cluster livelihood sebelumnya bahwa kebanyakan lembaga yang bekerja di Pagai Utara dan Selatan pasca Tsunami 2010 menggunakan pendekatan produksi pupuk non kimia secara local. Beberapa tujuan dari pendekatan ini adalah :
Atas kesepakatan pemahaman tersebut, lembaga-lembaga yang bekerja di wilayah Pagai Utara dan Selatan telah mengkampanyekan penggunaan pupuk organic (non kimia) bagi masyarakat di wilayah dampinganya. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah dan perlu usaha keras dengan hasil yang belum tentu sesuai yang diharapkan.
Akan tetapi, di beberapa wilayah kerja yang sama dengan sasaran masyarakat yang sama, sebuah lembaga datang dan mengenalkan penggunaan pupuk urea kepada petani. Tentu saja hal ini sangat kontradiktif dengan hal yang sudah dikerjakan oleh lembaga-lembaga yang sudah menjalankan program pertanian dari tahun 2010. Bukan hanya hal ini akan mementahkan kembali hasil kerja keras rekan rekan yang telah bekerja keras untuk menanamkan pemahaman kepada masyarakat tentang penggunaan pupuk non kimia yang sifatnya aman dan berkelanjutan untuk lingkungan, hal lebih lanjut yang dikhawatirkan lembaga-lembaga tersebut adalah berkurangnya kepercayaan masyarakat teradap lembaga-lembaga yang ada dikarenakan informasi yang disampaikan antar lembaga berlainan bahkan berlawanan.
Bagi lembaga-lembaga yang bekerja di bidang pemberdayaan tentu saja hal ini sangat krusial mengingat kepercayaan adalah salah satu unsur penting dalam melaksanakan program yang tujuan akhirnya adalah mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat yang berdaya.
Jika memang tujuan dari setiap program lembaga hanya ada satu yaitu untuk memandirikan masyarakat maka hal hal yang sedang terjadi bisa jadi akan memperlambat proses pemberdayaan. Lebih disayangkan lagi apabila salah satu penghambatnya adalah karena kurangnya koordinasi antar lembaga dan juga perencanaan kegiatan yang tidak sinergis antara lembaga-lembaga yang bekerja di bidang pemberdayaan.
Mungkin dari rekan rekan ada saran supaya program program yang rencanakan oleh tiap lembaga kalau bisa saling mendukung dan tidak saling menghambat antara satu dengan yang lain.
Terimakasih
PS : General Meeting selanjutnya akan dilaksanakan pada tanggal 25 January jam 17.00 difasilitasi oleh YEU
Salam,
Haryanti Sunarto
Field Coordinator
CDRM&CDS UHN Mentawai Field Office