DepartemenFisiologi dan Biofisika Kedokteran FKUI merupakan salah satu Departemen Fisiologi yang terkemuka di kawasan Indonesia, yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pelayanan masyarakat dengan kualitas dan kuantitas tinggi, serta menganut nilai yang berbudaya, ilmiah, dan keterbukaan serta berorientasi kepada kepentingan masyarakat.
Departemen Fisiologi FKUI menyelenggarakan dan mengembangkan berbagai jenjang dan jenis pendidikan fisiologi yang bermutu dan bertaraf internasional sesuai dengan arah pengembangan FKUI. Departemen Fisiologi FKUI juga menyelenggarakan dan mengembangkan berbagai penelitian fisiologi yang berskala internasional, berorientasi pada evidance based medicine, serta menghasilkan produk penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat, keilmuan, dan pendidikan.
Departemen Fisiologi FKUI senantiasa mengembangkan pelayanan masyarakat yang berbasis fisiologi secara tepat guna, dengan penerapan iptekdok dalam berbagai jenis pelayanannya, dan menyelenggarakan organisasi dan manajemen yang bermutu dengan peningkatan jaringan kemitraan yang didukung oleh fasilitas memadai untuk menuju optimalisasi kinerja serta kesejahteraan seluruh staf dan karyawan Departemen Fisiologi FKUI.
We also use third-party cookies that help us analyze how you use this website, store your preferences, and provide the content and advertisements that are relevant to you. These cookies will only be stored in your browser with your prior consent.
Necessary cookies are required to enable the basic features of this site, such as providing secure log-in or adjusting your consent preferences. These cookies do not store any personally identifiable data.
Hidung secara fisiologis memiliki fungsi misalnya sebagai penyaring yang berguna membersihkan udara inspirasi dari debu, bakteri, dan virus melalui suatu mekanisme yang disebut Transport Mucociliary System (TMS). Mekanisme TMS ini berfungsi untuk pertahanan sistem respirasi bagian atas maupun bagian bawah dengan cara membentuk gelombang sapuan pada benda-benda asing seperti debu dan bahkan mikroorganisme yang terperangkap di palut lendir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok dan non-perokok. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sakharin yang memiliki tingkat kemanisan 700 kali lebih manis dari pada gula biasa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain observasional analitik dengan metode cross sectional. Teknik \pengambilan sampel yang digunakan oleh peneliti adalah jenis non-probability, yaitu consecutive sampling. Penelitian ini melibatkan 50 orang subjek penelitian yang dibagi rata menjadi 2 kelompok, 25 orang subjek perokok dan 25 subjek nonperokok. Semua subjek akan dilakukan wawancara berupa kuesioner lalu menguji waktu transportasi mukosiliar hidungnya dengan menggunakan uji sakharin. Hasil dari penelitian ini didapatkan rerata waktu transportasi mukosiliar hidung pada nonperokok, yaitu 24.67 5.36 menit dan rerata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok, yaitu 9.42 5.04 menit. Didapatkan juga hasil rerata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok ringan, yaitu 24.2 5.4 menit dan rerata waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok sedang, yaitu 27.9 3.94 menit. Dapat disimpulkan bahwa didapatkan perbedaan waktu transportasi mukosiliar hidung pada perokok dan non-perokok dimana waktu transportasi mukosiliar pada perokok lebih memanjang.
Prodi ini memiliki staf pengajar yang profesional dan terampil serta menghasilkan lulusan yang tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia sebagai tenaga profesional, peneliti, serta tenaga pendidik dengan bidang lingkup otologi, rinologi, laring faring, dan enam kelompok keilmuan lainnya yang tersedia di prodi ini. Mahasiswa yang sudah menyelesaikan program studi ini akan menyandang gelar Spesialis Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher (Sp.T.H.T.B.K.L.).
Para lulusan dokter spesialis dalam bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher diharapkan tidak hanya menjadi tenaga profesional yang memberikan layanan kepada masyarakat, tetapi juga mampu menjadi peneliti dan pendidik yang berkualitas, sehingga meningkatkan standar pelayanan kesehatan, mendorong inovasi, dan memastikan pendidikan medis yang berkualitas untuk masa depan.
Program Studi Spesialis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher mencakup proses pembelajaran setara dengan 144 sks yang dapat diselesaikan dalam waktu empat tahun (8 semester). Mahasiswa berhak menyandang gelar Sp.T.H.T.B.K.L setelah memperoleh minimum 144 sks sesuai persyaratan kurikulum yang ditetapkan.
Kompetensi yang harus dikuasai oleh lulusan dokter spesialis THT-BKL FK USU tidak bersifat spesialistik saja tetapi harus menguasai kompetensi dasar, dan ini dapat dipenuhi dengan profesionalisme yang tinggi dengan pendekatan ilmu kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine).
Otologi adalah bidang khusus dalam program spesialis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher yang memfokuskan pada studi, diagnosis, dan penanganan penyakit, gangguan, dan kelainan yang terkait dengan telinga. Mahasiswa memahami anatomi, fisiologi, dan patofisiologi telinga serta fungsi pendengaran manusia.Selama program, mahasiswa mempelajari berbagai penyakit telinga seperti infeksi telinga, gangguan pendengaran, tinitus (bunyi berdengung di telinga), dan gangguan keseimbangan. Mereka juga memahami teknik diagnostik seperti audiometri, pengujian keseimbangan, dan teknik pencitraan yang membantu dalam diagnosis.Tujuan utama dari Otologi adalah memberikan perawatan komprehensif, mendiagnosis dini, dan merencanakan manajemen penyakit telinga. Para mahasiswa diarahkan untuk menjadi ahli yang mampu merawat pasien dengan keluhan telinga dan gangguan pendengaran.Bidang ini memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan telinga dan pendengaran, serta memastikan fungsi pendengaran optimal.
Rinologi adalah bidang khusus dalam program spesialis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher yang memfokuskan pada studi, diagnosis, dan penanganan penyakit, gangguan, dan kelainan yang terkait dengan hidung dan sinus paranasal. Mahasiswa memahami anatomi, fisiologi, dan patofisiologi hidung serta gangguan pernapasan hidung.Selama program, mahasiswa mempelajari berbagai penyakit hidung seperti sinusitis, polip hidung, deviasi septum, dan alergi hidung. Mereka juga memahami teknik diagnostik seperti endoskopi hidung, pencitraan sinus, dan pengujian alergi.Tujuan utama dari Rinologi adalah memberikan perawatan komprehensif, mendiagnosis dini, dan merencanakan manajemen penyakit hidung dan sinus. Para mahasiswa diarahkan untuk menjadi ahli yang mampu merawat pasien dengan gangguan hidung kompleks.Bidang ini memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan hidung dan sistem pernapasan atas, serta meningkatkan kualitas hidup pasien dengan keluhan hidung.
Laring Faring adalah bidang khusus dalam program spesialis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher yang memfokuskan pada studi, diagnosis, dan penanganan penyakit, gangguan, dan kelainan yang terkait dengan laring (kerongkongan) dan faring (tenggorokan). Mahasiswa memahami anatomi, fisiologi, dan patofisiologi laring dan faring serta gangguan fonasi dan deglutisi yang terkait.Selama program, mahasiswa mempelajari berbagai penyakit dan gangguan laring dan faring seperti polip laring, tumor, laringitis, faringitis, dan disfungsi vokal. Mereka juga memahami teknik diagnostik seperti videolaringoskopi, stroboskopi, dan pengujian fungsi vokal.Tujuan utama dari Laring Faring adalah memberikan perawatan komprehensif, mendiagnosis dini, dan merencanakan manajemen penyakit laring dan faring. Para mahasiswa diarahkan untuk menjadi ahli yang mampu merawat pasien dengan gangguan laring dan faring yang kompleks.Bidang ini memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan laring dan faring serta memastikan fungsi fonasi dan deglutisi yang optimal.
Onkologi Bedah Kepala Leher adalah bidang khusus dalam program spesialis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher yang memfokuskan pada studi, diagnosis, dan penanganan kanker dan tumor yang terjadi di kepala dan leher. Mahasiswa memahami anatomi, fisiologi, dan patofisiologi struktur kepala dan leher serta jenis-jenis kanker dan tumor yang dapat berkembang di wilayah ini.Selama program, mahasiswa mempelajari berbagai jenis kanker dan tumor seperti kanker tiroid, kanker mulut, kanker faring, dan tumor leher. Mereka memahami teknik diagnostik seperti biopsi, pencitraan medis, dan penentuan stadium penyakit.Tujuan utama dari Onkologi Bedah Kepala Leher adalah memberikan perawatan komprehensif, mendiagnosis dini, dan merencanakan manajemen pasien dengan kanker dan tumor di kepala dan leher. Para mahasiswa diarahkan untuk menjadi ahli bedah yang mampu merawat pasien dengan kondisi onkologi yang kompleks.Bidang ini memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan kanker kepala dan leher.
Maksilofasial Plastik Rekonstruksi adalah bidang khusus dalam program spesialis Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala Leher yang memfokuskan pada studi, diagnosis, dan penanganan gangguan dan deformitas di wilayah wajah, tengkorak, dan leher. Mahasiswa memahami anatomi kompleks, fisiologi, dan patofisiologi struktur wajah dan leher serta teknik bedah rekonstruksi untuk memperbaiki dan memulihkan fungsi dan estetika.Selama program, mahasiswa mempelajari berbagai kondisi dan gangguan yang memerlukan rekonstruksi maksilofasial, termasuk cedera wajah, kanker kulit, dan malformasi kongenital. Mereka memahami teknik bedah seperti rekonstruksi jaringan lunak, rekonstruksi tulang, dan transfer jaringan untuk memulihkan struktur dan estetika wajah.Tujuan utama dari Maksilofasial Plastik Rekonstruksi adalah memberikan perawatan yang holistik, mendiagnosis dini, dan merencanakan manajemen pasien dengan gangguan struktural dan estetika di wajah dan leher. Para mahasiswa diarahkan untuk menjadi ahli bedah yang mampu melakukan rekonstruksi yang presisi dan estetis pada area ini.Bidang ini memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan dan keseimbangan estetika pasien, serta membantu mereka mengatasi trauma atau kelainan yang mempengaruhi wajah dan leher.
3a8082e126