Al Baqarah Ayat 1 Sampai 5

0 views
Skip to first unread message

Lorin Searing

unread,
Aug 5, 2024, 9:12:06 AM8/5/24
to meikarspheli
Suratyang memiliki arti Sapi Betina ini diturunkan di Kota Madinah, sehingga tergolong surat Madaniyah. Pada permulaan surat ini, Allah SWT menerangkan tentang kitab Al Quran dan orang-orang yang beriman kepadanya.

4. وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ


Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, menurut suatu pendapat, alif lām mīm pada permulaan surat tersebut merupakan salah satu nama Allah SWT. Asy Sya'bi mengatakan fawatihus suwar adalah asma-asma Allah.


Hal yang sama dikatakan pula oleh Salim ibnu Abdullah dan Ismail ibnu Abdur Rahman As-Saddiyyul Kabir. Syu'bah mengatakan dari As-Saddi, telah sampai kepadanya suatu berita bahwa Ibnu Abbas mengatakan, "Alif lam mim merupakan salah satu asma Allah Yang Teragung." Demikian pula yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadis Syu'bah.


Pada ayat 2, Kemenag menafsirkan bahwa ayat tersebut menerangkan tentang keberadaan Al Quran yang tidak dapat diragukan lagi. Al Quran merupakan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Jibril.


Surah Al Baqarah merupakan surah terpanjang di dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 286 ayat. Al Baqarah artinya sapi betina dan sekaligus surah ke-2 dalam Al-Qur'an yang diturunkan di Kota Madinah.


Merangkum dari detikHikmah, dalam Tafsir Al Azhar disebutkan, arti dari Al Baqarah yang merupakan sapi betina itu diperoleh dari kisah tentang bani Israil yang pada saat itu diminta Nabi Musa AS untuk mencari seekor sapi betina untuk disembelih. Kisah ini termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 67-74.


Imam as-Suyuthi menjelaskan dalam Kitab Asbabun Nuzul, menurut riwayat dari Mujahid RA sebagaimana ditakhrij oleh Al-Firyabi dan Ibnu Jarir, disebutkan bahwa empat ayat dari awal surah Al Baqarah turun dalam perkara orang-orang mukmin, dua ayat turun dalam perkara orang-orang kafir, dan tiga belas ayat turun dalam perkara orang-orang munafik.


وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ ٤


خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ٧


يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۚ وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَۗ ٩


فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ ١٠


1. Ayat pertama (Alif Lām Mīm), ayat pertama pada surah Al-Baqarah terdiri dari huruf-huruf lepas. Huruf-huruf ini merupakan huruf terbanyak yang terpakai dalam bahasa Arab sering disebut juga dengan fawatihusshuwar.


Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, menurut suatu pendapat permulaan pada surah Al Baqarah ini merupakan salah satu nama Allah SWT. Sementara itu, para musafir menafsirkannya bahwa huruf-huruf tersebut merupakan singkatan dari kata-kata.


Alif merupakan kiasan atau singkatan dari Allah SWT, Lam dari Jibril, dan mim dari Muhammad SAW. Artinya, Al-Qur'an itu datangnya dari Allah SWT, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad SAW. Maka, berdasarkan pendapat tersebut pada dasarnya ayat pertama dari surah Al Baqarah ini tergolong kedalam ayat mutasyabihat, atau ayat yang hanya Allah SWT sendiri yang tahu akan maksudnya.


2. Ayat kedua, ayat ini menerangkan bahwa apa yang disampaikan oleh Al-Qur'an ini memang benar adanya, Al-Qur'an dapat dijadikan petunjuk dan pedoman hidup manusia sehingga ayat ini termasuk dalam ayat muhkam atau mudah diketahui maksudnya.


4. Ayat keempat, ayat ini membicarakan mengenai tanda-tanda orang bertakwa yang beriman kepada kitab-kitab Allah SWT dan pada hari akhir. Beriman kepada kitab-kitab-Nya yaitu Taurat, Zabur, dan Injil.


5. Ayat kelima, keterkaitan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya yaitu berkaitan dengan balasan atau akibat dari orang yang memiliki sifat-sifat orang bertakwa yang dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya.


7. Ayat ketujuh, ayat ini menjelaskan bagaimana Allah membalas orang-orang kafir tersebut dengan menutup rapat hati mereka sehingga tidak dapat dimasuki oleh kebaikan. Mereka tidak akan memperoleh manfaat dari kebenaran yang mereka terima dengan penutup yang menutupinya sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran.


9. Ayat kesembilan, ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang kafir itu hendak menipu Allah SWT yakni dengan berpura-pura beriman dan menyembunyikan kekafirannya guna melindungi diri mereka dari hukum duniawi.


10. Ayat kesepuluh, dalam ayat ini menjelaskan mengenai kemunafikan yang menyebabkan sakit atau lemahnya hati orang-orang tersebut. Allah SWT juga menjanjikan siksa yang pedih dan menyakitkan atas kedustaan mereka.


Sebenarnya ayat 185 Srah al-Baqarah tadi, menjelaskan nilai petunjuk Alquran itu sendiri yang bersifat netral, siapa pun dapat mengambil dan memanfaatkannya, apakah dia seorang mukmin, seorang muslim, seorang kafir, seorang musyrik, atau seorang atheis yang tidak bertuhan sekalipun, seperti nilai-nilai keadilan, kejujuran, tolong-menolong dalam kebaikan dan kebenaran dan lainnya yang merupakan petunjuk Alquran yang bersifat universal.


Sekedar untuk mendekatkan pemahaman kita terhadap nilai petunjuk Alquran yang bersifat universal ini, kita bandingkan dengan sinar matahari yang sangat berguna bagi kehidupan. Manusia yang melakukan kegiatan di siang hari, dengan sinar terik matahari, tidak lagi memerlukan alat penerangan lainnya. Kebanyakan tanaman yang terkena sinar matahari, akan berkembang dengan baik dan menjadi segar. Jemuran kita akan cepat kering, jika terkena sinar matahari, dan seterusnya. Itu semua berlaku secara umum, selama si penerimanya dalam kondisi sehat dan normal. Akan tetapi, jika si penerimanya dalam kondisi tidak normal atau sakit, seperti orang yang sedang sakit mata, maka jangankan sinar matahari yang terik, lampu remang-remang pun sudah menyusahkannya, karena matanya terasa perih ketika secercah cahaya menerpa penglihatannya.


Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa ayat 185 Srah al-Baqarah ini menjelaskan nilai petunjuk Alquran itu sendiri yang bersifat umum dan netral, yang dapat dimanfaatkan oleh siapa pun dalam kondisi sehat dan normal.


Ayat pertama sampai dengan ayat kelima, menjelaskan sikap orang-orang yang bertakwa yang aktif menerima dan menerapkan petunjuk-petunjuk Alquran dalam kehidupannya, mereka beriman dan melaksanakan ibadah, menafkahkan harta, dan yakin akan adanya Hari Akhirat sebagai hari pembalasan segala amal manusia. Merekalah yang selalu berada di bawah naungan petunjuk Allah dan merekalah orang-orang yang beruntung.


Ayat keenam sampai dengan ayat ketujuh, menjelaskan sikap orang-orang kafir yang sama sekali tidak mau menerima petunjuk Alquran. Peringatan tidak berguna bagi mereka, karena itulah Allah mengunci mati hati mereka. Perlu kita ketahui dan kita pahami bahwa Allah mengunci mati hati mereka itu setelah mereka menolak petunjuk-petunjuk Alquran. Ayat keenam menginformasikan bahwa petunjuk Alquran itu tidak berguna bagi orang-orang kafir, mereka tidak bakal menjadi orang-orang yang beriman. Ayat ketujuh baru menjelaskan akibat sikap mereka itu, di mana Allah mengunci mati hati-hati mereka. Penjelasan ini jangan sampai diputar balikkan, menjadi karena Allah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak dapat beriman.


Ayat ke-8 sampai dengan ayat ke-20 menjelaskan sikap orang-orang munafik yang tidak mau menerima petunjuk Alquran, tetapi tidak berani berterus terang. Karenanya mereka berpura-pura menerimanya untuk menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Akan tetapi, apa yang mereka lakukan itu menjadi senjata makan tuan, karena tipuan yang mereka lakukan itu, justeru menimpa diri mereka sendiri. Dalam kehidupan sosial, menghadapi orang-orang munafik ini lebih sulit daripada menghadapi orang-orang kafir, karena orang-orang kafir secara jantan menolak kebenaran, sementara orang-orang munafik sekalipun mereka menolak kebenaran, tetapi mereka berpura-pura menerimanya. Sebenarnya orang-orang munafik itu adalah orang yang tidak percaya diri dan Alquran menyatakan ada penyakit di hati mereka.


Penyakit utama mereka adalah tidak percaya diri. Karenanya mereka tidak berani menolak kebenaran, walaupun hati mereka tidak mau menerimanya. Untuk itu, mereka berpura-pura mengaku sebagai orang beriman, namun Alquran menolak pengakuan mereka dengan menyatakan mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Penyakit kedua mereka adalah tidak memiliki kesadaran, ketika melakukan kerusakan. Bahkan mereka merasa apa yang mereka lakukan itu adalah perbaikan. Penyakit mereka selanjutnya adalah lemah otak (lemot) atau ketidakmampuan berpikir logis. Semula mereka mengaku beriman, namun ketika diperintahkan untuk beriman, mereka menganggap orang beriman itu adalah orang bodoh. Dengan demikian, sesungguhnya menurut penilaian mereka sendiri, pengakuan mereka pada ayat delapan sebagai orang-orang beriman, adalah mengakui diri sebagai orang bodoh pada ayat 13. Pada ayat 13 ini Allah menutup firmannya dengan justifikasi mereka itulah orang bodoh yang sesungguhnya bahkan tidak mengetahui kebodohan diri mereka sendiri.


Ayat 14 sampai dengan ayat 20 Sūrah al-Baqarah ini menjelaskan tindakan-tindakan bodoh yang mereka lakukan, seperti bermuka dua ketika berhadapan dengan orang-orang beriman dan ketika berhadapan dengan pemimpin-pemimpin mereka; membeli kesesatan dengan petunjuk yang tentunya tidak akan memperoleh laba secara hakiki. Di samping itu, dijelaskan pula akibat-akibat dari tindakan mereka, mulai dari Allah memperolok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

3a8082e126
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages