Islam Menghapus
Agama-Agama Sebelumnya dan Penyempurna Bagi Seluruh Agama
Abu Hurairah
radhiallahu 'anhu menyampaikan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, bahwasanya beliau bersabda:
"Demi Dzat
yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku salah satu
dari umat ini, baik ia Yahudi dan Nashrani, kemudian ia mati dalam keadaan
tidak beriman dengan apa yang diturunkan kepadaku, melainkan ia menjadi
penghuni neraka".
Takhrij Hadits
Hadits ini
dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman (I/134). Juga Imam Ahmad dalam
Musnad (II/466) dan Ibnu Mandah dalam Kitab Tauhid (I/314) dan juga dalam
Kitabul Iman (II/192), Mustakhraj Abu Awanah (I/104) semuanya diriwayatkan dari
Abu Hurairah radliayallahu 'anhu. Syaikh Al Albani menjelaskan dalam kitabnya
Silsilah Hadits Ash Shahihah hadits no.157, bahwa hadits ini shahih. Sebagian
jalannya sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim dan sebagian sesuai dengan
syarat Muslim.
Syarah Hadits
Tatkala lahir seorang
bayi dari seorang ibu tanpa adanya suami, dianggapnya hal ini keluar dari
kewajaran dan suatu keanehan. Kode etik yang ada di tengah-tengah kehidupan,
jika seorang wanita melahirkan bayi tanpa suami, maka ia telah melakukan
perbuatan zina dan ini merupakan aib yang besar di mata manusia. Namun bagi
seorang yang mempunyai fitrah salimah dan akal yang sehat, kejadian bayi lahir
tanpa bapak pun bisa saja terjadi jika hal ini memang dikehendaki oleh Allah
Ta'ala. Bukan sebagaimana yang telah dilontarkan oleh kaum Nashara, yang
dikarenakan adanya bayi lahir tanpa bapak, tetapi dari tiupan ruh Allah, maka
anak yang dilahirkan ditetapkan sebagai anak-Nya (dengan asumsi agar ia tidak
dipanggil anak zina karena tidak mempunyai bapak).
Ini adalah kalimat
yang kufur tatkala keluar dari mulut seorang makhluk pada Penciptanya. Sungguh
hanya bagi-Nya segala kekuasaan, kehendak dan penciptaan. Tidakkah mereka
tengok jauh-jauh ke belakang, di sana ada kejadian yang lebih dahsyat dari
semua itu. Yang menjadikan seorang lebih termangu, tak mampu bergerak kecuali
hanya duduk menopang dagu. Sadarlah dan ingatlah bahwa Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa
mampu menciptakan makhluk- Nya dari seorang lelaki tanpa isteri disisinya
(yaitu diciptakannya Hawa). Bahkan lebih dari itu ia pun mampu menciptakan
manusia tanpa ayah dan ibu (yaitu diciptakannya Adam) sebagaimana yang tertera
dalam firman-Nya :
"Sesungguhnya
misal (pemciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah
menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: (Jadilah
[seorang manusia]), maka jadilah ia" (Ali Imran 59)
Allah Ta'ala
memperbandingkan penciptaam Isa dengan Adam untuk membantah kaum nashara karena
mereka telah melontarkan suatu ucapan yang tidak benar dan tanpa alasan, yaitu
Isa 'alaihis salam adalah Tuhan atau anak Tuhan. Allah Subhanahu wa Ta'ala
menjelaskan bahwa kejadian Isa bukanlah suatu hal yang membingungkan, bukan
pula merupakan alasan yang kuat bagi mereka untuk mengatakan Isa itu Tuhan atau
anak Tuhan. Justru ini adalah tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah,
satu-satunya Dzat yang Maha Pencipta dan Pengatur seluruh alam, serta seluruh
kejadian yang ada di alam ini di bawah kekuasaan dan kehendak-Nya.
Ayat di atas selain
membantah mereka, juga menjelaskan bahwa tak ada satu pun yang berhak untuk
menandingi Allah dari segi manapun. Allah patahkan argumen mereka dengan
memberikan permisalan yang lebih dari apa yang mereka lihat, yaitu adanya
penciptaan Adam dari tanah. Maka seandainya yang mereka katakan itu betul
(bahwa Nabi yang lahir tanpa bapak berarti Allah sebagai bapaknya), tentunya
Adam 'alaihis salam lebih berhak karena ia diciptakan tanpa ayah dan ibu.
Sedangkan Isa 'alaihis sallam dilahirkan hanya tanpa bapak.
Wahai manusia yang
berakal. Tak cukupkah bukti ini bagimu? Dengan pemikiran seperti ini telah
mereka sesatkan sekian juta umat dari fitrah mereka yang selamat dan akal yang
sehat. Dengan doktrin-doktrin yang mereka tanamkan ini, manusia lari dari
kebenaran yang hakiki, hanya mimpi-mimpi semu yang mereka dapatkan.
Kebencian kaum Nashrani
mencuat tatkala muncul sayyidul basyar (manusia yang terbaik), habibullah
(manusia kekasih Allah), Nabi yang menjadi rahmat seluruh alam, pembawa cahaya
yang menerangi jalan yang gelap menuju jalan yang terang, penyempurna akhlak
dan tauladan bagi pengikutnya. Mereka lampiaskan dengan ungkapan sebagaimana yang tersirat dalam firman Allah :
"Dan (ingatlah) ketika Isa
putra Maryam berkata: Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu taurat dan memberi
kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang
bernama Ahmad (Muhammad). Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan
membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang
nyata" (Ash Shaf 6)
Mereka juga selalu
mendengungkan propaganda "kami adalah anak-anak Allah dan
kekasih-Nya". Padahal mereka manusia biasa yang tidak terlepas dari
kesalahan dan dosa, sebagaimana yang Allah firmankan dalam kitab-Nya yang
mulia:
"Orang-orang Yahudi dan
Nashrani mengatakan: kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya. Katakanlah:
Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? (Kamu bukanlah anak-anak Allah
dan kekasih-Nya). Tetapi kamu manusia biasa diantara orang-orang yang diciptakan-Nya.
Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan hanyalah milik Allah
kerajaan seluruh langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya. Dan
kepada Allah lah kembali (segala sesuatu)" (Al Maidah 18)
Kaum Nashrani tidak
henti-hentinya menampakkan dengan angan-angan yang selalu mereka lontarkan:
"Kamilah umat yang terbaik dan petunjuk itu ada pada kami. Tidak ada satu
pun yang dapat masuk ke dalam surga kecuali dari golongan kami saja."
Lihatlah ini
dikisahkan dalam firman Allah:
"Dan mereka (Yahudi dan
nashrani) berkata:"Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang
yang (beragama) yahudi atau nashrani". Demikian itu hanya angan-angan
mereka yang kosong berlaka. Katakanlah:"Tunjukkanlah bukti kebenaranmu
jika kamu adalah orang yang benar" (Al Baqarah 111)
"Dan mereka
berkata:"Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi dan Nashrani,
niscaya kamu mendapat petunjuk. Katakanlah: Tidak! Melainkan (kami mengiktui)
agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang-orang
yang musyrik" (Al Baqarah 135)
Upaya untuk
mempropagandakan agama mereka membuat mereka tidak ridha selama-lamanya sebelum
Rasulullah dan umatnya mengikuti agama mereka. Sebagaimna yang telah Allah
Ta'ala beritakan dalam kitab-Nya yang mulia:
"Orang-orang Yahudi dan
Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka"
(Al Baqarah 120)
Pembaca yang
dimuliakan Allah, sebagaimana kita ketahui, Allah Ta'ala dengan keadilan, kebesaran
dan kesempurnaan kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk- Nya mengutus pada
setiap umat seorang Nabi, yang Dia sertakan aturan-aturan yang sesuai dengan
kebutuhan situasi serta kondisi masing-masing, sebagaimana firman-Nya:
"Untuk tiap-tiap umat
diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang" (Al Maidah 48)
Namun meskipun
aturan-aturan itu beraneka ragam, tetap ada satu kesepakatan yang Allah
perintahkan kepada setiap Nabi yaitu supaya mengajak umatnya untuk menyembah
serta memberikan segala bentuk peribadahan hanya kepada-Nya saja. Firman Allah
Ta'ala :
"Dan sungguh Kami telah
mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah
saja dan jauhilah thaghut itu" (An Nahl 36)
Dengan demikian
seluruh nabi dan rasul pada hakekatnya mereka menyeru pada ke- Esaan Allah.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menyeru untuk menyembah kepada selain-Nya,
termasuk Nabi Isa 'alaihis salam yang mereka katakan sebagai anak Allah. Nabi
Isa pun menyeru kepada kaumnya agar mereka menyembah Allah, Rabb yang mengatur
semua alam ini. Firman Allah:
"Dan (aku datang kepadamu)
membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu
sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa
suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertaqwallah kepada Allah dan
taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah
Dia. Inilah jalan yang lurus" (Ali Imran 50-51)
Dalam ayat ini Allah
Ta'ala menjelaskan kerububiyahan-Nya (Pencipta, Pengatur Seluruh Alam dan
Pemberi Rezeki) yang tidak seorang pun mengingkarinya. Sesungguhnya Dzat yang
mempunyai sifat-sifat inilah yang layak untuk disembah, bukan lainnya. Terdapat
pula bantahan untuk orang-orang Nashrani yang mengatakan "Isa itu Tuhan
atau anak Tuhan". Padahal Nabi Isa sendiri mengikrarkan dirinya
"bahwa aku ini adalah seorang hamba (makhluk). Jangan menyembah kepadaku,
tetapi sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kamu sekalian", sebagaimana yang
Allah firmankan dalam kitab-Nya :
"Berkata Isa: Sesungguhnya
aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku
seorang nabi" (Maryam 30)
"Dan ingatlah ketika Allah
berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:
jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua orang tuhan selain Allah? Isa
menjawab:"Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang
bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentu Engkau
telah mengetahuinya. Aku (Isa) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali
apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) yaitu: "Sembahlah Allah
Tuhanku dan Tuhanmu" (Al Maidah 116-117)
Dalam ayat lain
dijelaskan bahwa setiap yang tunduk dan patuh kepada Nabi-Nya, dikatakan
sebagai muslim di jamannya. Contohnya yahudi, mereka dinyatakan sebagai
muslimin di jalan Nabi Musa sebagaimana yang Allah firmankan:
"Dan Ibrahim telah
mewasiatkan kepada anak-anaknya,demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): Wahai
anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu
mati kecuali dalam keadaan sebagai muslim" (Al Baqarah 132)
Dan diperintahkan
untuk beriman kepada apa-apa yang telah dibawa oleh Nabi-Nabi dan para Rasul
sebelumnya. Firman Allah Ta'ala:
"Katakan (hai orang-orang
mukmin): Kami beriman kepada Allah dengan apa yang diturunkan kepada kami dan
apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan
apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada
Nabi-Nabi dari Tuhannya. Kami tidak membedakan seorang pun di antara mereka dan
kami hanya tunduk (muslimin) patuh kepada-Nya" (Al Baqarah 136)
Meski demikian
keadaannya, Allah Ta'ala telah menjadikan Rasul-Nya Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam menjadi Rasul terakhir yang membawa kitab yang sempurna dan
menghapus agama-agama sebelumnya. Oleh karena itu tiap orang dari umatnya yang
hidup di jaman setelah diutusnya beliau baik dia yahudi, nashrani, majusi dan
yang tidak beragama sekali pun, yang mendengar ajaran Muhammad shalallahu
'alaihi wa sallam dan sampai ajaran tersebut kepadanya, kemudian dia tidak
mengimaninya, maka tempat kembalinya adalah neraka. Sebagaimana sabda
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu:
"Demi Dzat yang jiwa
Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku salah satu dari umat
ini, baik ia Yahudi dan Nashrani, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman
dengan apa yang diturunkan kepadaku, melainkan ia menjadi penghuni
neraka".
Berkata Imam Nawawi:
"Hadits ini mengandung perihal dihapusnya seluruh agama dengan diutusnya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Umat yang dimaksudkan dalam hadits
ini, mereka yang hidup di jamannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan
setelahnya sampai hari kiamat. Disebutkannya Yahudi dan Nashrani, dikarenakan
kedua golongan ini mempunyai kitab, maka bagi selain mereka yang tidak
mempunyai kitab tentunya lebih utama dalam mengimani Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam.
Syaikh Al Albani
rahimahullah berkata setelah memaparkan hadits ini: "Hadits ini jelas
sekali. Siapa pun yang mendengar dakwah beliau dan sampai kepadanya dengan
semestinya kemudian dia tidak beriman, maka tempat kembalinya adalah neraka.
Tidak ada bedanya apakah ia yahudi, nashrani, masjusi atau tanpa agama".
Syaikh Ibnu 'Utsaimin
rahimahullah berkata: "Islam yang ada sejak Nabi Adam 'alaihis salam
sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terbagi menjadi dua bagian:
a. Islam secara umum,
yaitu semua pengikut rasul dikatakan sebagai muslimin di jamannya, seperti
halnya yahudi pengikut Musa, mereka muslimin di jaman Musa 'alaihis salam.
Nashara juga dikatakan Muslimin di jamannya Isa 'alaihis salam.
b. Islam secara
khusus, yaitu Islam yang ada setelah diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam yang menghapus agama-agama sebelumnya dan penyempurna bagi seluruh
agama. Barangsiapa yang hidup di jaman setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam dan mengingkari ajarannya, maka tidaklah mereka dikatakan sebagai
muslimin melainkan kafir.
Dari keterangan di
atas, tidak diragukan lagi bahwasanya Allah Ta'ala tidak akan menerima agama
apa pun di muka bumi ini kecuali Islam dan Islam yang dimaksudkan adalah yang
dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan barangsiapa yang
menolak maka ia telah mencari kesengsaraan dalam hidupnya baik di dunia maupun
di akhirat. Firman Allah Ta'ala:
"Barang siapa mencari agama
selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)
daripadanya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi" (Ali Imran
85)
Adapun firman Allah
yang tertera dalam surat Al Baqarah ayat 62 yaitu :
"Sesungguhnya orang-orang
mukmin, orang-orang yahudi, orang-orang nashrani, dan orang-orang shabi'in,
siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian
dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari tuhan mereka, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula merka bersedih hati' (Al Baqarah
62)
Ahli Tafsir
menjelaskan, keimanan yahudi (mereka yang berpegang teguh kepada Taurat dan
ajaran Nabi Musa 'alaihis sallam) diakui dan diterima sampai diutusnya Nabi Isa
'alaihis salam. Adapun sesudah datangnya Nabi Isa 'alaihis sallam dan mereka
itu tetap berpegang teguh kepada ajaran Musa, dan tidak meninggalkannya, serta
tidak beriman kepada Nabi Isa 'alaihis salam, maka celakalah ia. Demikian pula
keimanan Nashrani diakui sampai diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam. Maka setelah itu siapapun yang tetap berpegang teguh kepada Injil dan
ajaran Isa serta tidak mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, maka celakalah ia.
Wallahu a'lam bish
shawab
[Diambil dari majalah Salafy edisi 36
tahun 1421 H/2001 M, judul asli Islam Diin Yang Haq]
Keterangan
tambahan:
Sikap
ghuluw(berlebihan) ini terus terjadi dari zaman ke zaman dan masa ke masa
sampai terjadi pula di masa Bani Israil. Kaum Yahudi yang menyatakan bahwa
'Uzair adalah anak Allah sebagaimana terjadi pula pada kaum Nashrani yang
menyatakan bahwa al-Masih adalah anak Allah. Allah menjelaskan keadaan mereka
di dalam ayat-Nya:
Dan orang-orang Yahudi berkata:
"Uzair itu putera Allah." Dan orang-orang Nashrani berkata:
"Al-Masih itu putera Allah." Demikian itulah ucapan mereka dengan
mulut-mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu,
dilaknati Allah-lah mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling?"
(at-Taubah: 30)
Adapun penyebab sikap ghuluw orang-orang Yahudi terhadap 'Uzair adalah karena
mereka melihat dari mukjizat-mukjizat yang terjadi pada 'Uzair seperti
penulisan kitab Taurat dengan hafalannya setelah Taurat dihapus dari dada-dada
orang-orang Yahudi, serta keadaan 'Uzair yang hidup kembali setelah wafat
seratus tahun lamanya. Lalu setelah akal mereka sempit untuk membedakan
perbuatan dan kekuasaan Allah dengan kemampuan manusia yang terbatas, maka
mereka menyandarkan hal tersebut kepada 'Uzair dan mereka menyatakan bahwa
'Uzair adalah anak Allah sebagaimana Ibnu Abbas menyatakan:
"Sesungguhnya mereka
(Orang-orang Yahudi) menyatakan demikian ('Uzair anak Allah) karena mereka
tatkala mengamalkan suatu amal yang tidak benar, Allah menghapus Taurat dari
dada-dada mereka. 'Uzair pun berdoa kepada Allah. Tatkala itu kembalilah Taurat
yang sudah dihapus dari dada-dada mereka turun dari langit dan masuk ke dalam
batin 'Uzair. Kemudian 'Uzair menyuruh kaumnya seraya berkata: "Allah
telah memberi Taurat kepadaku." Maka serta merta mereka mereka menyatakan:
"Tidaklah Taurat itu diberikan kecuali karena dia anak Allah."
Sedangkan di dalam riwayat lain beliau berkata: "Bakhtanshar ketika
menguasai Bani Israil telah menghancurkan Baitul Maqdis dan membunuh
orang-orang yang membaca Taurat. Waktu itu 'Uzair masih kecil sehingga dia
dibiarkan (tidak dibunuh). Dan tatkala 'Uzair wafat di Babil seratus tahun
lamanya kemudian Allah membangkitkan serta mengutusnya kepada Bani Israil,
beliau berkata: "Saya adalah 'Uzair." Mereka pun tidak mempercayainya
seraya menjawab: "Nenek moyang kami mengatakan bahwa 'Uzair telah wafat di
Babil, dan jika engkau benar-benar adalah 'Uzair, diktekanlah Taurat kepada
kami. Maka 'Uzair pun menuliskannya. Melihat hal itu mereka menyatakan:
"Inilah adalah anak Allah." (Zadul Masi'ir Fii 'Ilmi At-Tafsir, oleh
Ibnul Jauzi juz 3 hal 423-424)
Riwayat kedua ini menyatakan bahwa 'Uzair adalah seorang Nabi dari para Nabi
Bani Israil. Setelah beliau meninggal seratus tahun lamanya, Allah
membangkitkannya sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:
Atau apakah kamu tidak (memperhatikan)
orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya.
Dia berkata: "Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah
hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun kemudian
menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapa lama kamu tinggal di
sini?" Ia menjawab: "Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah
hari." Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini
seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah,
dan lihatlah keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan
menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah tulang belulang
keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali kemudian Kami membalutnya dengan
daging." Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan
yang mati) dia pun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu. (Al-Baqarah: 259)
Demikianlah asal usul orang-orang Yahudi menamakan 'Uzair sebagai anak Allah.
Adapun perkataan orang-orang Nashrani bahwa Isa anak Allah atau sebagai Allah,
ada dua sebab. Yang pertama karena Isa lahir tanpa bapak. Dan kedua karena dia
mampu menyembuhkan orang buta dan bisu serta menghidupkan orang mati dengan
izin Allah. (Kitab Mahabbatu ar-Rasul hal. 155)