makna lagu sebelum
cahaya -
Letto
Letto merupakan sebuah grup band
yang tergolong baru di dunia permusikan Indonesia . Band ini
bermarkas di daerah Kadipiro Jogjakarta. Pentolan band ini adalah Noe, anak dari
Emha Ainun Najib. Sebuah postingan di salah satu blog memberi makna atas
lagu ini. Secara lengkap, postingan itu berisi sbb:
Ku
teringat hati yang bertabur mimpi
Kemana kau pergi cinta
Perjalanan sunyi
yang kautempuh sendiri
Kuatkanlah hati cinta
Reff :
Ingatkan engkau
kepada embun pagi
bersahaja
Yang menemanimu sebelum cahaya
Ingatkan
engkau kepada angin yang
berhembus mesra
Yang
kan
membelaimu cinta
Kekuatan hati yang berpegang janji
Genggamlah
tanganKu cinta
Ku tak akan pergi meninggalkanmu
sendiri
Temani hatimu
cinta
Back
to reff
Siapa
yang tak kenal lagu ini? Hampir semua lapisan masyarakat ngerti betul lagu ini,
apalagi saat ini menjadi soundtrack lagu dari salah satu sinetron di televisi
swasta.Maka tak heran jika anak kecil, remaja aktivis dakwah atau bukan
mengenalnya bahkan mungkin hafal diluar kepala.
Seperti salah satu adik
binaan saya. Suatu ketika dia membuka isi lagu di hp saya, salah satunya
terdapat lagu sebelum cahaya milik letto. Lagu tersebut didengarnya terus
menerus diulang-ulang hingga temen-temen yang lainnya datang.
sengaja saya
mendengarkan dia bernyanyi dan praktis mendengarkan pula apa yang dia nyanyikan.
"Sebelum cahaya"??
Penasaran juga kan ...apa sih
maksud lagu itu??? Sampai akhirnya saya bertanya pada dia, "dik, asyik banget
nyanyinya...hmmm...da banyak kenangan nii...dengan lagu itu?? Dia menjawab,
"jelas mbak..banyak kenangan..". Mbak pingin tahu?? Saya mengangguk..dan dia
mulai menceritakan apa yang dimaksud kenangan tersebut
Kata pertama yang
keluar adalah, "itu kan ngingetin
kita sama sholat lail mbak?"
Heran dan takjub sebetulnya hati saya, kok bisa
ya??
Dia meneruskannya:
Bait
pertama lagu ini menunjukkan kalau Allah
selalu mengawasi kita Allah melihat kita yang sedang tidur tiba-tiba
terbangun...kita pergi untuk ambil air wudhu maka mengapa disana dituliskan
kemana kau pergi...
kemudian kita menegakkan sholat malam, dalam kesunyian,
sendiri ketika semua orang tengah terlelap ketika dingin sangat menusuk di
tulang, ketika mata masih terkantuk-kantuk. Siapa yang sanggup untuk
menjalankannya??
Butuh kekuatan hati untuk melaksanakan raka'at demi raka'at,
lantunan ayat2 suci yang kita baca dan dzikir dengan penuh ketawadhuan.
Inilah makna yang dia temukan dalam baris perjalanan sunyi yang kau tempuh
sendiri, kuatkan hatimu cinta.
Bait
kedua, Allah ingin menentramkan hati kita, Allah mengingatkan
bahwa kita tidak sendiri dalam menjalankan sholat Lail, lihatlah ada
embun
pagi yang selalu menemani kita hingga fajar muncul dari ufuk timur dan
rasakanlah sepoi-sepoi angin di sepertiga malam, yang dengan sangat lembut
meniup mukena kita. Sungguh kita tidak sendiri saat sholat Lail ditegakkan. Dan
mereka inilah yang dapat kita jadikan saksi di akhirat kelak.
Bait ketiga menerangkan siapa yang
punya tekad kuat tersebut? untuk menegakkan sholat malam setiap hari, setiap
malam. Dia adalah orang-orang yang selalu berpegang teguh pada janjinya terhadap
Allah. Janjinya bahwa dia kan selalu
menjadikan Alloh sebagai Illah dalam hidupnya.
Subhanallah yang tersirat ternyata lebih dalam yah, silahkan forward ke muslim lainnya
Assalamualaikum, afwan ya akhi, Mudah2an akhi di berikan cahaya imu yang berlimpah dan Allah selalu meninggikan derajat akhi didalam cahaya keilmuan yang haq. Sungguh disini ana terpaksa mengklarifikasi email akhi tentang lagu letto, Bukankah Rasul sangat membenci lagu2 ya akhi. Memang terhadap khilaf masalah halal dan haram lagu dikalangan ulama ya akhi, Apakah haram atau mubah ? Apakah hanya boleh didendangkan ketika hari raya saja atau kah setiap waktu, asal tidak melalaikan kita dari ibadah dan mengingat Allah ? Tetapi yang pasti telah haram menurut jumhur ulama Ahlus sunnah wal jamaah adalah Alat musik petik, baik itu gitar, biola dan semacamnya adalah haram, Yang diperbolehkan di islam hanyalah alat musik tabuh. Jadi ana mohon kepada Akhi, bersatulah kita kepada kebenaran Islam, Al quran dan sunnah. Ingatlah di dalam islam itu tidak ada istilah musik islam, karena
pada asalnya musik itu adalah bikinan orang-orang kafir, Yahudi dan Nasrani. Perdengarkanlah telinga kita dengan alunan ayat-ayat suci alquran dan basahilah mulut-mulut kita dengan membaca alquran. Barangsiapa orang yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka. Tegakkan islam di dada kita maka akan tegaklah islam di bumi ini. Sukron. BUDI UTOMO![]() --- Pada Jum, 25/4/08, Rief H <ariefhin@bumiputera..co.id> menulis: |
, sekaligus sedih.... ngeliatnya kasihan belum ada seorangpun Ulama Ahlussunnah yg mensyarah Music + Lagu baik para Imam yg 4 -rahimahulloh-, klo lantunan Syai'ir ada tp klo lagu wah rasanya lom ada, nte melakukan trobosan baru nich dah dakwah melalui musik di Syarah pula lagi dan di ujung penjelasan ttg Makna Lagu Leto beliaupun mengomentari "forward ke muslim lainnya" ... Allohul Musta'an
Assalamualaikum, afwan ya akhi, Mudah2an akhi di berikan cahaya imu yang berlimpah dan Allah selalu meninggikan derajat akhi didalam cahaya keilmuan yang haq. Sungguh disini ana terpaksa mengklarifikasi email akhi tentang lagu letto, Bukankah Rasul sangat membenci lagu2 ya akhi. Memang terhadap khilaf masalah halal dan haram lagu dikalangan ulama ya akhi, Apakah haram atau mubah ? Apakah hanya boleh didendangkan ketika hari raya saja atau kah setiap waktu, asal tidak melalaikan kita dari ibadah dan mengingat Allah ? Tetapi yang pasti telah haram menurut jumhur ulama Ahlus sunnah wal jamaah adalah Alat musik petik, baik itu gitar, biola dan semacamnya adalah haram, Yang diperbolehkan di islam hanyalah alat musik tabuh. Jadi ana mohon kepada Akhi, bersatulah kita kepada kebenaran Islam, Al quran dan sunnah. Ingatlah di dalam islam itu tidak ada istilah musik islam, karena pada asalnya musik itu adalah bikinan orang-orang kafir, Yahudi dan Nasrani. Perdengarkanlah telinga kita dengan alunan ayat-ayat suci alquran dan basahilah mulut-mulut kita dengan membaca alquran. Barangsiapa orang yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka. Tegakkan islam di dada kita maka akan tegaklah islam di bumi ini. Sukron. BUDI UTOMO

Pada tanggal 26/04/08, DeNnIeS DeNnIeS <dxn_...@yahoo.com> menulis:
> Jah ampun lagu aja sampe di cari2 makna dan Kandungannya....
> bukannya menghayati makna2 kandungan Al Qur'an & Hadits dgn Bimbingan para
> Ulama, malah menekuni Musik. Musibah....
>
> ntar lama2 di bikin Buku nich Syarah lagu Letto sebelum Cahaya Karya Asy
> Syaikh Rief H Al Andonisi <arie...@bumiputera.co.id> lucu+Kocak+aneh ,
> BUDI UTOMO
>
>
>
>
> ---------------------------------
Pada tanggal 29/04/08, Mina Lestari <mlstar...@gmail.com> menulis:
Syaikh Utsaimin, Syaik Shalih Fauzan, Syaikh Abdullah Aziz bin Baz..dll
Di Indonesia: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Ustadz hakim, Ustadz
Zainal.
Abidin, Ustadz Firdaus, dll
Semuanya dari Salafi atau Wahabi bukan Menjadi Parameter Untuk menghukumi
Musik.Bagaimana dgn Ulama yg menghalalkan Musik begitu banyak,dgn Syarat2
tertentu.dan Ibnu Zubair ra dan Ibnu Umar,sahabat nabipun membolehkan
dalam suatu Riwat.Jangan terperangkap dalam Paradigma berfikir "Paling
benar sendiri"
Alangkah baiknya pihak yang mengharamkan lagu dan musik tabuhan, mau
jujur mengakui, bahwa tidak ada kesepakatan dalam masalah ini. Bukan
saja mengakui, tetapi juga menghargai pandangan orang-orang yang
berbeda dengan mereka, yaitu yang menyatakan mubah.
Bahkan telah ada dua puluh kitab yang disusun oleh ulama klasik
tentang pembelaan mereka terhadap lagu dan musik, sebagaimana yang
disebutkan dalam At Taratib Al Idariyah Juz II, hal. 132, di antaranya:
1 Kitab Ar Rukhshah fis Sima' yang ditulis oleh Imam Ibnu Qutaibah,
di dalamnya banyak sekali riwayat tentang sahabat, tabi'in, tabi'ut
tabi'in yang mendengarkan lagu, dengan atau tanpa musik.
2 Kitab Al Muhalla oleh Imam Ibnu Hazm, di dalamnya dia menyebutkan:
"Semua riwayat yang mengharamkannya itu batil dan maudhu'."
3. Kitab Muhammad bin Thahir al Maqdisy, dia menyebutkan di dalamnya:
"Tidak ada perbedaan mendengarkan suara senar gitar dengan suara
burung." Dia juga mengatakan, "Tak ada satu huruf pun yang shahih
tentang (pengharaman) ini."
4. Kitab Bawariqul Ilma' fi Takfiri man Yuharrimu Muthlaqas Sima'
karya Ahmad al Ghazali (saudara kandung Imam al Ghazali
)
5. Kitab Ibthalul Da'wal Ijma' `ala Tahrimi Muthlaqis Sima' karya
Imam Asy Syaukani (dalam karyanya yang lain yakni Nailul Authar juga
ada pembahasan tentang ini)
6. Kitab Nuzhatul Asma' fi Mas'alatis Sima' karya Imam Ibnu Rajab al
Hambali murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ada pula yang mengatakan
murid Imam Ibnul Qayyim al jauziyah.
7. Kitab Ahkamul Qur'an karya Imam Abu Bakar Ibnul `Arabi al Maliki.
Dia mengatakan keringanan pada walimah, bukan hanya alat musik tabuh,
melainkan seluruh alat musik (Jilid III, hal. 1494). Ia menegaskan tak
ada di dalam Al Quran dan As Sunnah tentang pengharaman lagu dan musik
(Jilid III, hal. 1053)
8. Kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam al Ghazali, dan karya-karya lainnya
--
"Hidup dan Mati untuk Hidup"
> menulis:
>>
>>
>> klo kata mas budi utomo itu dah haram menurut jumhur ulama Ahlus
>> Sunnah Wal Jamaah...ulama yang mana to mas...ustadz BUDI UTOMO ta????
>>
>> Pada tanggal 26/04/08, DeNnIeS DeNnIeS menulis:
>>
>> > Jah ampun lagu aja sampe di cari2 makna dan Kandungannya....
>> > bukannya menghayati makna2 kandungan Al Qur'an & Hadits dgn Bimbingan
>> para
>> > Ulama, malah menekuni Musik. Musibah....
>> >
>> > ntar lama2 di bikin Buku nich Syarah lagu Letto sebelum Cahaya Karya
>> Asy
>> > Syaikh Rief H Al Andonisi lucu+Kocak+aneh
>> > budi utomo wrote: Assalamualaikum, afwan ya
Sesungguhnya Orang-orang yang mengatakan : "Tuhan kami Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) : "Janganlah kamu merasa takut dan jangan kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu (QS 41;30)
Begitu menurut saya, maaf kalo sepertinya sok Pintar.
Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
----- Original Message -----From: Okki
Barokallahufiikum
----- Original Message -----
From: "Wanto" <ass_ex...@globalteleshop.co.id>
To: <mediamu...@googlegroups.com>
Sent: Wednesday, April 30, 2008 4:01 PM
Subject: [mediamusliminfo] Musik Halal Atau Haram???
>
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG.
> Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.6/1404 - Release Date: 4/29/2008
> 6:27 PM
>
>
Hadits merupakan salah
satu rujukan sumber hukum Islam di samping kitab suci Al-Qur'an. Di dalam hadits
Nabi Muhammad SAW itulah terkandung jawaban dan solusi masalah yang dihadapi
oleh umat di berbagai bidang kehidupan. Berbicara tentang ilmu hadits, umat
Islam tidak akan melupakan jasa Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, atau yang
lebih dikenal dengan Syeikh Al-Albani. Ia merupakan salah satu tokoh pembaharu
Islam abad ini.
Karya dan jasa-jasanya cukup banyak dan sangat membantu
umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu hadits. Ia berjasa
memurnikan ajaran Islam dari hadits-hadits lemah dan palsu serta meneliti
derajat hadits. Al-Albani mempunyai nama lengkap Abu Abdirrahman Muhammad
Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H di kota Ashqadar,
ibu kota Albania masa lampau. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya
secara materi, namun sangat kaya ilmu. Ayah al-Albani bernama Al Haj Nuh adalah
lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari'at di ibukota negara dinasti
Utsmaniyah (kini Istambul).
Ketika Raja Ahmad Zagha naik tahta di
Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, Syeikh Nuh
amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya ia memutuskan untuk
berhijrah ke Syam dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena
fitnah. Dari sana, ia sekeluarga bertolak ke Damaskus. Setiba di Damaskus,
Syeikh al-Albani kecil mulai mempelajari bahasa Arab. Al-Albani kecil masuk
sekolah madrasah yang dikelola oleh Jum'iyah al-Is'af al-Khairiyah. Ia terus
belajar di sekolah tersebut hingga kelas terakhir dan lulus di tingkat
Ibtida'iyah.
Selanjutnya, ia meneruskan belajarnya langsung kepada para
syeikh. Ia mempelajari Al-Qur'an dari ayahnya sampai selesai, disamping juga
mempelajari sebagian fikih madzab Hanafi. Al-Albani juga mempelajari
keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul. Keterampilan ini
kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya. Pada umur 20 tahun, pemuda
Al-Albani mulai mengkonsentrasikan diri pada ilmu hadits. Ketertarikannya itu
berawal dari pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah
majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Tulisan-tulisan sang
Syeikh, sangat memukau hatinya.
Kegiatan pertama di bidang ini ialah
menyalin sebuah kitab berjudul Al-Mughni 'an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi
al-Ishabah min al-Akhbar, karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits
yang terdapat pada Ihya' Ulumuddin-nya Al-Ghazali. Awalnya kegiatan Al-Albani
dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya. Ia mengomentarinya begini,
''Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut).''
Namun Syeikh al-Albani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada
perkembangan berikutnya, Al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli
kitab-kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah di
Damaskus. Di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus.
Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya sampai-sampai ia menutup
kios reparasi jamnya. Al-Albani lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan
adh-Dhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat
mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu shalat tiba. Untuk makannya,
seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan. Akhirnya kepala
kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuknya.
Bahkan kemudian ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan
demikian, Al-Albani makin leluasa mempelajari banyak sumber.
Syeikh
Al-Albani pernah dua kali mendekam dalam penjara. Kali pertama selama satu bulan
dan kali kedua selama enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau
berdakwah kepada sunnah dan memerangi bid'ah sehingga orang-orang yang dengki
kepadanya menebarkan fitnah.
Pengalaman mengajarnya dilakukan
ketika menjadi pengajar di Jami'ah Islamiyah (Universitas Islam
Madinah) selama tiga tahun. Dari tahun 1381-1383 H, ia mengajar tentang
hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu ia pindah ke Yordania. Pada tahun 1388
H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh Al-Albani untuk menjadi ketua
jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi
di Kerajaan Yordania.
Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak
memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395-1398 H ia kembali
ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam'iyah Islamiyah di
sana. Di negeri itu pula, Al-Albani mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan
Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H. Sebelum
berpulang, Syeikh Al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa
buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku hasil foto kopi, manuskrip-manuskrip
(yang ditulis olehnya ataupun orang lain) seluruhnya diserahkan kepada pihak
Perpustakaan Jami'ah. Ia wafat pada hari Jum'at malam Sabtu tanggal 21 Jumada
Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania.
Karya-karya beliau amat banyak, ada yang sudah dicetak, ada yang masih
berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang). Jumlahnya sekitar 218 judul.
Karya yang terkenal antara lain :
Dabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
Al-Ajwibah an-Nafi'ah 'ala as'ilah masjid al-Jami'ah
Silisilah al-Ahadits ash Shahihah
Silisilah al-Ahadits adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah
At-Tawasul wa anwa'uhu
Ahkam Al-Jana'iz wabida'uha.
Di samping itu, beliau juga memiliki buku kumpulan ceramah, bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat, dan buku berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.8/1415 - Release Date:
5/5/2008 6:01 AM
Yang dimaksud dengan "Pemikiran Salafi" di sini ialah kerangka berpikir
(manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat
ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan
setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur'an dan tuntunan Nabi SAW.
Kriteria Manhaj Salafi yang Benar
Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :
Berpegang pada nash-nash yang ma'shum (suci), bukan kepada pendapat para
ahli atau tokoh.
Mengembalikan masalah-masalah "mutasyabihat" (yang kurang jelas) kepada
masalah "muhkamat" (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang
zhanni kepada yang qath'i.
Memahami kasus-kasus furu' (kecil) dan juz'i (tidak prinsipil), dalam
kerangka prinsip dan masalah fundamental.
Menyerukan "Ijtihad" dan pembaruan. Memerangi "Taqlid" dan kebekuan.
Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru
trend.
Dalam masalah fiqh, berorientasi pada "kemudahan" bukan "mempersulit".
Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan
menakut-nakuti.
Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan
perdebatan.
Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
Menekankan sikap "ittiba'" (mengikuti) dalam masalah agama. Dan
menanamkan semangat "ikhtira'" (kreasi dan daya cipta) dalam masalah
kehidupan duniawi.
Inilah inti "manhaj salafi" yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj
inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek.
Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur'an
dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah.
Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur'an kepada generasi
sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan
(futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan
"negara ilmu dan Iman". Membangun peradaban robbani yang manusiawi,
bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.
Citra "Salafiah" Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra
Istilah "Salafiah" telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan
kontra terhadap "salafiah". Orang-orang yang pro-salafiah - baik yang
sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang
sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam
skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu
dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan
garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam
masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan
bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda "debat" dan
"polemik", bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan
bahwa yang dimaksud dengan "Salafiah" ialah mempersoalkan yang
kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan
khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati.
Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.
Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini "terbelakang",
senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham
Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan
masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar
suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan
kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.
Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan
penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam
mendakwahkan "salafiah" dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka
inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan"pembaruan Islam" pada
masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup
seluruh disiplin ilmu Islam.
Mereka telah menumpas faham "taqlid", "fanatisme madzhab" fiqh dan ilmu
kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama
beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi
"ashobiyah madzhabiyah" ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab
dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat
dalam risalah "Raf'l - malaam 'anil - A'immatil A'lam" karya Ibnu
Taimiyah.
Demikian gencar serangan mereka terhadap "tasawuf" karena
penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya.
Khususnya di tangan pendiri madzhab "Al-Hulul Wal-Ittihad" (penyatuan).
Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang
menyalahgunakan "tasawuf" untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka
menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf
yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan
warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari "Majmu'
Fatawa" karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa
karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah "Madarijus Salikin syarah
Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in", dalam
tiga jilid.
Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka
Yang pelu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti
sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah
suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf
dalam masalah yang juz'i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan
manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga
mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa
dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan
ijtihad mereka.
Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu
Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara
global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus
mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya
telah terperangkap dalam "taqlid" yang baru. Dan berarti telah melanggar
manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa
karenanya. Yaitu manhaj "nalar" dan "mengikuti dalil". Melihat setiap
pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda
protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik,
jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim
Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi
ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain
yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi
Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata:
"Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata,
kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan,
pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia".
Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: "Apa
yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku
merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan
bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid".
Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian
pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang
membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.
Namun, orang seringkali melupakan, sisi "dakwah" dan "jihad" dalam
kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam
beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu
penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam
penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di
dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna "Salafiah" yang
sesungguhnya.
Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang
paling menonjol mendakwahkan "salafiah", dan paling gigih
mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi
"salafiah", ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah "Al-Manar'
yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa "bendera" salafiah
ini, menulis Tafsir "Al-Manar" dan dimuat dalam majalah yang sama, yang
telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Rasyid Ridha adalah seorang "pembaharu" (mujaddid) Islam pada masanya.
Barangsiapa membaca "tafsir"nya, sperti : "Al-Wahyu Al-Muhammadi",
"Yusrul-Islam", "Nida' Lil-Jins Al-Lathief", "Al-Khilafah", "Muhawarat
Al-Mushlih wal-Muqollid" dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan
melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan "Manar"
(menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern.
Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran "salafiah"nya.
Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah "emas" yang terkenal dan
belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :
"Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari
kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat."
Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang
meng-klaim dirinya sebagai "pengikut Salaf".
--------------------------------------------------------------------------------
(disalin dari buku "Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al
Qodimah" karya Dr.Yusuf Al Qordhowi)
=== message truncated ===
ASSALAMUALAIKUM,,, benar-benar mencerahkan. makasih.
hanya allah yang bisa memberi balasan sebaik-baiknya.
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/