4. ANDRIVO RUSYDI: KOKI TEKNOLOGI NANO ASAL PADANG
Spoiler:
Hari-hari
Andrivo Rusydi menetap di negeri sendiri hanya bisa dihitung dengan jari. Pemuda
33 tahun ini mesti wira wiri antarbenua sepanjang tahun untuk menjalani
riset-risetnya di bidang teknologi nano. Ia memang salah satu dari sedikit anak
bangsa negeri ini yang menguasai teknologi pengontrol skala atom dan molekul
itu. Sebuah keahlian yang—terutama—banyak dibutu*kan di negara maju.
Maka
negeri-negeri semacam Singapura, Amerika Serikat, Jerman, dan Kanada membuka
lebar-lebar pintu riset bagi urang awak ini. Mari kita lihat jejak-jejak
kejeniusannya, yang sudah diakui dunia internasional, itu. Saat ini Andri adalah
peneliti tetap dan pengajar mata kuliah nanotechnology dan nanoscience di
Universitas National Singapura (NUS). Di universitas ini pula ia mendapatkan
gelar profesor pada usia 31 tahun. Sejak awal tahun ini, dia diangkat menjadi
anggota Singapore International Graduate Award atau supervisi para doktor
lulusan NUS.
Lalu, di Jerman, suami Sulistyaningsih ini menjadi profesor
tamu pada Center for Free Electron Laser dan Institute for Applied Physics of
University of Hamburg. Di sini, selain mengajar, Andri membimbing mahasiswa
diploma sampai doktoral.
Penjelajahannya yang intensif di ranah
teknologi nano juga membuat sulung dari empat bersaudara ini juga menjadi
peneliti tamu di Departemen Fisika Universitas Illinois di Urbana, Amerika
Serikat, dan Universitas British Columbia, Kanada.
Jejak akademisnya
memang terpacak hingga ke berbagai pelosok dunia. Tak hanya itu, teknik riset
yang ia kembangkan kemudian dimanfaatkan di berbagai negara, antara lain Amerika
Serikat, Prancis, Korea, Jepang, Australia, Jerman, Kanada, dan
Taiwan.
Dengan reputasi akademik internasional semacam itu, Andri tak
ingin terlena. Dia ingin berbakti kepada tanah airnya untuk memajukan dunia ilmu
di negeri ini. Caranya lewat kerja sama penelitian dan beasiswa tingkat doktoral
dari dana-dana penelitian yang diperolehnya.
5.
AKU PULANG, AKU BERJUANG, AKU MENANG
Spoiler:
Belasan
tahun belajar di luar negeri. Tanpa bantuan pemerintah, penelitian mereka
berhasil di Tanah Air.
Robot itu bernama Sona CT x001. Di sebuah
jendela ruko di perumahan Modernland, Tangerang, robot yang dibekali dua lengan
itu sedang memindai tabung gas sepanjang 2 meter. Di bagian atas robot, layar
laptop menampilkan grafik hasil pemindaian. Selasa dua pekan lalu itu,
Sona—buatan Ctech Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edwar
Technology—sedang diuji coba. Alat ini sudah dipesan PT Citra Nusa Gemilang,
pemasok tabung gas bagi bus Transjakarta. “Di dalam ruko tidak ada tempat lagi
untuk menyimpan Sona dan udaranya panas,” kata Dr Warsito P. Taruno, pendiri dan
pemilik Edwar Technology.
Sona harus berada di ruangan yang suhunya di
bawah 40 derajat Celsius. Perusahaan migas Petronas, kata Warsito, tertarik
kepada alat buatannya. Kini mereka masih dalam tahap negosiasi harga dengan
perusahaan raksasa milik pemerintah Malaysia tersebut. Selain Sona, Edwar
Technology mendapat pesanan dari Departemen Energi Amerika Serikat. Nilai
pesanan lumayan besar, US$ 1 juta atau sekitar Rp 10 miliar.
Bahkan Badan
Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun memakai teknologi pemindai atau Electrical
Capacitance Volume Tomography (ECVT) temuan Warsito. Lembaga ini mengembangkan
sistem pemindai komponen dielektrik seperti embun yang menempel di dinding luar
pesawat ulang-alik yang terbuat dari bahan keramik. Zat seperti itu bisa
mengakibatkan kerusakan parah pada saat peluncuran karena perubahan suhu dan
tekanan tinggi.
ECVT adalah satu-satunya teknologi yang mampu melakukan
pemindaian dari dalam dinding ke luar dinding seperti pada pesawat ulang-alik.
Teknologi ECVT bermula dari tugas akhir Warsito ketika menjadi mahasiswa S-1 di
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia, Universitas Shizuoka, Jepang, tahun 1991.
Ketika itu pria kelahiran Solo pada 1967 ini ingin membuat teknologi yang mampu
“melihat” tembus dinding reaktor yang terbuat dari baja atau obyek yang opaque
(tak tembus cahaya). Dia lantas melakukan riset di Laboratorium of Molecular
Transport di bawah bimbingan Profesor Shigeo Uchida.
6. SONJA DAN SHANTI SUNGKONO: SI KEMBAR PENAKLUK BERLIN
Spoiler:

Penampilan mereka memukau publik musisi
klasik, dari Eropa hingga Amerika. Diganjar pelbagai penghargaan internasional
bergengsi.
Suatu hari, di hadapan publik musik klasik Berlin, Jerman,
penampilan duo pianis kembar Sonja dan Shanti Sungkono tampak eksotis. Di atas
pentas, tubuh kedua perempuan berwajah Jawa ini dibalut kebaya dengan siluet
brokat keperakan. Rambut mereka disanggul. Penampilan keduanya jauh dari
penampilan panggung para musisi klasik yang konservatif—yang umumnya muncul
dengan gaun panjang warna hitam.
Duet Sonja-Shanti tak sedang ingin
tampil unik, apalagi nyentrik, dengan gaya tersebut. Model penampilan itu boleh
dibilang telah menjadi ciri khas sekaligus identitas mereka sebagai perempuan
Indonesia dalam pelbagai pentas di mancanegara. Selain penampilan, dalam setiap
pertunjukan, keduanya selalu memperkenalkan diri sebagai duo pianis Indonesia.
“Dari penampilan saja kelihatan, kami bukan orang Jerman,” kata keduanya, yang
sejak 1991 bermukim di Berlin.
Toh, bukan lantaran penampilan itu yang
membuat mereka memukau. Kepiawaian jari-jari mereka menari di atas tuts pianolah
yang dikagumi penikmat musik klasik, baik di Jerman maupun di kota-kota besar
lain di mancanegara.
Bahkan permainan Sonja-Shanti telah mencuri perhatian
para musisi dan kritikus musik klasik Eropa. Di Jerman, penampilan mereka dipuji
sebagai, “Benar-benar pertunjukan yang indah, mengagumkan, dan
profesional.”
Prestasi mereka pun patut dibanggakan. Mereka meraih Jerry
Coppola Prize dalam lomba duet piano di Miami, Amerika Serikat, pada 1999. Dua
tahun berturutturut, 2001 dan 2002, mereka menyabet Prize Winners Juergen
Sellheim Foundation di Hannover, Jerman. Lalu pada 2002 menjadi juara ketiga
Torneo Internazionale di Musica di Italia. Terakhir, mereka menggondol Prize
Winners pada National Piano Duo Competition di Saarbrucken, Jerman, pada
2003.
Album pertama mereka, Works for Two Pianos, dirilis pada 2002. Dua
tahun berselang, Sonja-Shanti menelurkan album kedua bertajuk 20th Century Piano
Duets Collection. Kedua album berformat CD itu di bawah label NCA Jerman.
Peredaran album kedua lebih luas dari yang pertama.
Selain di Jerman,
album tersebut beredar di Prancis, Italia, Austria, Swedia, Jepang, dan Amerika.
Kedua album itu juga mendapat apresiasi yang cukup antusias dari sejumlah media
musik klasik di Eropa. Selain itu, kedua album tersebut masuk arsip Perpustakaan
Musik Naxos—produser musik klasik dunia yang menyimpan sekitar 36 ribu
album.
7.
ARI MUNANDAR: SATU-SATUNYA EXECUTIVE CHEF ASIA DI EROPA
Spoiler:
Koki
asal Korea Selatan itu berusia di kisaran 30 tahun dan bekerja di satu hotel di
Praha. Suatu hari ia meminta bertemu dengan Ari Munandar, ahli masak kelahiran
Purwokerto, Jawa Tengah, yang sekarang memimpin pasukan koki di Hotel Hilton
Praque Old Town, Praha, Republik Cek.

Tanpa
basa-basi ia mengatakan ingin direkrut dan bekerja di bawah Ari, yang jabatan
resminya biasa disebut executive chef atau chef de cuisine. Mengapa? "Karena
Anda satu-satunya executive chef dari Asia di Eropa," begitu Ari menirukan
ucapan koki Korea Selatan itu kepada dirinya.
Executive chef merupakan
jabatan sangat bergengsi, apalagi di jaringan hotel top seperti Hilton. Ari,
yang baru berusia 37 tahun, sebelumnya tidak pernah berpikir ia satu-satunya
executive chef asal Asia di hotel berbintang lima di Eropa. Tapi, setelah ia
coba mencari tahu, ucapan koki Korea itu mungkin benar.
Tidak ada nama
Asia—termasuk dari Jepang—yang menjadi executive chef di hotel prestisius di
Eropa. "Kecuali di Amsterdam, mungkin," kata Ari. Di Amsterdam, ada beberapa
koki top asal Indonesia. Wajar bila Ari menepuk dada. Lebih bangga lagi karena
sekitar tiga bulan silam, saat mulai pindah ke Zinc di Hilton Praque Old Town,
ia masuk berita di media massa setempat. Sebelum Ari masuk, Hilton memiliki
restoran bernama Maze yang dikelola koki top yang bahkan sudah menjadi pesohor
di Inggris,
Gordon Ramsay. Tiba-tiba saja Ramsay menarik Maze dari Hilton
sehingga mereka meminta Ari pindah ke tempat mereka. Saat proses perpindahan Ari
ke Hilton, tanpa diduga Maze—yang sudah akan ditutup—mendapat bintang Michelin.
Anugerah ini penghargaan paling bergengsi dunia bagi sebuah rumah makan. Di
Republik Cek, sebelum Maze, hanya ada satu rumah makan yang mendapat bintang
Michelin, yakni di Hotel Four Seasons.
Tak mengherankan, media Republik
Cek tertarik mendengar kabar ini. "Mereka penasaran," kata Ari, "seperti apa
nantinya (restoran di Hilton Praque Old Town di bawah saya)." Publik Praha
sesungguhnya tidak terlalu asing dengan Ari. "Saya sudah punya nama di sini,"
kata Ari. Ketenaran itu ia dapat saat selama tiga tahun sebelumnya menjadi
executive chef di Mandarin Oriental Praha. Jabatan bergengsi di Mandarin
Oriental didapat sesaat setelah ia mulai bekerja di sana pada 2006. Saat masuk
ke Mandarin Oriental, ia menjadi sous chef de cuisine alias wakil kepala koki.
Hanya dua bulan bekerja, executive chef tempat itu mengundurkan
diri.
8.
BERKELEBAT MENEBAR SILAT
Spoiler:

Di
negeri orang, mereka menebarkan bela diri tradisional Indonesia itu dengan
kegigihannya sendiri.
Bertopeng kingkong, Yuli Purwanto, 47 tahun,
tangkas memainkan beberapa jurus pencak silat di panggung. Gerakannya lincah.
Kadang terlihat lentur meliuk, acap kali berkelebat cepat. Diiringi iringan
kendang nan rancak, penampilan pria yang akrab dipanggil Ipung ini memang
memikat. Di puncak aksinya, Ipung kemudian menyurukkan wajahnya ke selembar
batik yang dihamparkan di panggung, topengnya dilepas, lalu tampillah wajah
aslinya dengan kain batik yang dibikinnya menjadi udheng.
Gerakan pencak
silat Ipung itu bisa dinikmati pemirsa di mana pun lewat situs YouTube. Dari
situs ini pula wawancara Ipung dalam bahasa Jepang dengan televisi pemerintah
nasional Jepang, NHK, bisa diakses. Di tayangan ini Ipung menjawab segala hal
soal silat. Jangan heran jika Ipung membicarakan silat dalam bahasa Jepang. Dia,
bersama Soesilo Soedarmadji dari perguruan Perisai Diri dan Djaja dari
Panglipur, adalah penyebar seni bela diri tradisional Indonesia itu di Jepang 13
tahun lalu. Ini tentu menjadi petualangan menarik bagi ketiganya. Maklum, negeri
itu sudah punya tradisi bela diri sendiri yang berusia panjang, yakni karate,
judo, kendo, aikido dan ju-jitsu.
Tantangan lain adalah adanya persoalan
bahasa dan budaya yang berbeda. Tapi ketiga pendekar itu tak putus asa, apalagi
dukungan moril dari Ikatan Pencak Silat Indonesia cukup kuat. Ini masih ditambah
adanya dukungan dana dari Bimantara pada tiga tahun pertama. "Setelah itu,
bergantung pada iuran peserta," kata Ipung. Penyebaran pencak silat di Jepang
dimulai dari masyarakat Indonesia, sekolah-sekolah Indonesia, dan karyawan
Departemen Luar Negeri. Penyebaran ke khalayak banyak dan penggemar bela diri
dilakukan dengan cara memperbanyak pergelaran. Pergelaran-pergelaran itu rupanya
cukup ampuh.
"Gerakan meliuk-liuk seperti tarian dalam kembangan diiringi
musik tradisional Indonesia sangat menarik khalayak," kata Ipung. Untuk menarik
praktisi bela diri, Ipung berduet dengan Soesilo menggelar pertunjukan di dojo
(tempat latihan karate) dan pemusatan aikido serta bela diri setempat
lainnya.
Tak disangka, "Mereka welcome," kata Ipung. Mereka tertarik
justru karena gerakan silat yang lentur sekaligus kaya tipuan dan kuncian. Ini
berbeda dengan bela diri Jepang, yang berkarakter kaku-keras. Melihat
perkembangan menarik itu, televisi lokal, yakni NHK dan Fuji TV, kerap
menayangkan olahraga silat. Silat juga ditampilkan di festival rutin yang
digelar di kelurahan-kelurahan dan di masa liburan pada Juli-Agustus. Silat pun
sudah masuk agenda rutin festival setempat. Ipung kini memiliki dua asisten
pelatih Jepang, selain asisten pelatih Indonesia.
9. Sehat Sutardja, Ph.D - CEO dan Pendiri Marvell Technology Group
Spoiler:

Sehat
Sutardja, Ph.D, adalah CEO dan pendiri Marvell Technology Group dan menjadi
presiden, pemimpin eksekutif sejak 1995. Ia juga menjadi presiden, pemimpin
eksekutif, dan direktur pada perusahaan semikonduktor Marvell.
Ia
dilahirkan di Jakarta, Indonesia. Sehat Sutardja menamatkan pendidikan
menengahnya di Kolese Kanisius. Kemudian melanjutkan pendidikan di Amerika
Serikat dan meraih sarjana sains di teknik elektrik dari Universitas Negeri
Iowa. Ia juga menjalani pendidikan pascasarjana Master of Science (M.Sc) dan
Ph.D. dalam bidang teknik elektrik dan ilmu komputer dari Universitas
California, Berkeley.
Ia menikahi Weili Dai, dan merupakan saudara dari
Pantas Sutardja, yang juga turut mendirikan Marvell. Dia beserta istri dan adik
termudanya, Patan adalah miliarder yang memiliki saham di Intel sebesar 22
persen. Marvell menguasai seluruh aset perusahaan Intel termasuk sumber daya
manusianya. Sebagian besar pekerja dari sekitar 1400 orang tetap dipertahankan
Marvell pada unit bisnis yang baru dibelinya dari Intel.
Karirnya dimulai
dari tahun 1989 hingga 1995 ketika menduduki manajer dan pemimpin teknis proyek
8×8.
Marvell yang juga berpusat di Santa Clara, AS merupakan vendor chip
dan komponen yang banyak dipakai di berbagai perangkat elektronika. Sedangkan
unit bisnis yang dibeli dari Intel menghasilkan prosesor yang dibangun dari
teknologi XScale Intel. Prosesor-prosesor berbasis XScale telah dipakai di
banyak perangkat elektronika, misalnya Blackberry dan Treo.
Bisnis chip
yang dikelola oleh Marvell secara nyata telah sukses menempati pangsa pasarnya
sendiri dan tentunya sukses pula menghasilkan pundi-pundi uang bagi pembuatnya.
Marvell telah mendominasi setiap pasar yang telah mereka pilih, keunggulan
mereka adalah menawarkan produk berdesain superior dengan harga
premium.
Produknya mampu mengalahkan pesaing mereka yaitu Texas
Instruments dan Broadcom di pasar komunikasi seperti radio Wi-Fi dan Ethernet
port. Chip besutan Marvell sangat mudah ditemukan pada Cisco switch, Apple iPod,
Xbox 360 atau di dalam disk drive produk perusahaan besar lainnya. Dengan
bekerjasama dengan Intel, Marvell nampak semakin hebat dan bisa mensejajari
Qualcomm, Freescale Semiconductor dan TI.
Marvell terus berkembang setiap
kuartalnya sejak penjualan saham mereka ke publik pada 2000 silam dan kini saham
mereka meningkat hingga lima kali lipat.
Pada 2007, majalah Forbes
memasukkan Sehat Sutardja sebagai salah satu orang terkaya di Amerika
Serikat.
Saat ini, Marvell yang mempunyai 5,000 karyawan, mempunyai
fasilitas riset dan disain di Aliso Viejo, Arizona, Colorado, Massachusetts, San
Diego and Santa Clara. Di luar Amerika Serikat, Marvell juga mempunyai fasilitas
riset dan disain di Jerman, India, Israel, Itali, Jepang, Singapore dan
Taiwan.Marvell: 1 in 2 phones will soon be smartphones
NEW YORK, USA -
Marvell Technology Group Ltd Chief Executive Sehat Sutardja said he expects
multimedia-enabled smartphones to account for at least 50 percent of all cell
phones in the next three to four years, and grow even more popular in the
following years.
"Smartphones today are only addressing the tip of the
pyramid," Sutardja told the Reuters Global Technology Summit in New York on
Monday.
"I would say in the next three to four years, at least 50 percent
of the market will move to smartphones," he said, adding that may grow to 90
percent in six to seven years.
Sutardja also said it was hard to tell if
technology demand was recovering, noting it was hard to distinguish between
temporary moves to replenish inventory and a real rebound in
demand.--Reuters
10.
JOHNY SETIAWAN, Ph.D - Penemu Planet Pertama dan Bintang Muda
Spoiler:
![]()
Johny
Setiawan membuat mata dunia tercengang dengan penemuan planet pertama yang
mengelilingi bintang baru TW Hydrae.
PENEMUAN itu sangat spektakuler
karena dari 270 planet di luar tata surya yang telah ditemukan astronom dalam 12
tahun terakhir, tak satu pun planet yang muncul dari bintang muda.
Johny
yang memimpin tim peneliti di Max Planck Institute for Astronomy (MPIA),
Heidelberg, Jerman itu menemukan planet pertama yang disebut TW Hydrae b dan
bintang baru TW Hydrae dengan menggunakan teleskop spektrograf F EROS sepanjang
2,2 meter di La Silla Observatory, Chile.
”Ketika kami mengamati
kecepatan lingkaran gas TW Hydrae, kami mendeteksi sebuah variasi periodik yang
tidak berasal dari aktivitas TW Hydrae. Kami mengamati kehadiran sebuah planet
baru (TW Hydrae b),” ungkap Johny kepada SINDO tadi malam. Planet baru yang
ditemukan itu memiliki bobot sekitar sepuluh kali berat Planet Yupiter, planet
terbesar dalam Sistem Tata Surya.
Planet baru itu mengorbiti TW Hydrae
dalam waktu 3,56 hari dengan jarak sekitar 6 juta kilometer. Ini dapat disamakan
dengan 4% jarak antara Matahari dan Bumi. Dengan penemuan tim yang dipimpin
Johny tersebut, peneliti dapat membuat kesimpulan penting tentang waktu
pembentukan planet.Sejumlah pertanyaan pelik yang selama ini dihadapi peneliti,
seperti bagaimana dan di mana sistem planet terbentuk?
Bagaimana
arsitektur planet? Seberapa lama proses pembentukannya? Bagaimana posisi
planet-planet seperti bumi di Galaksi Bima Sakti? Akan segera terjawab. Johny
menyadari pentingnya penemuannya tersebut. Dia menjelaskan, bagaimana planet
yang baru berumur 8–10 juta tahun (sekitar 1/500 tahun umur Matahari) itu
sebagai sebuah kejutan di Tahun Baru ini.
Peneliti lain dalam tim Johny
menjelaskan bahwa pihaknya tidak salah menyimpulkan bahwa planet baru itu memang
muncul. ”Untuk menghindari salah tafsir atas data, kami telah menginvestigasi
seluruh aktivitas yang mengindikasikan TW Hydrae b. Tapi karakteristik planet
baru ini sangat berbeda dari perputaran gas di lingkaran utama bintang baru itu.
Mereka lebih stabil dan memiliki periode yang pendek,” papar Ralf Launhardt,
koordinator program penelitian planet luar tata surya di sekeliling
bintang-bintang muda.
Planet terbentuk dari gas dan debu dalam sebuah
cakram yang berputar pendek setelah kelahiran sebuah bintang. Tidak keseluruhan
proses terbentuknya planet baru ini dipahami pakar. Meski demikian, penemuan TW
Hydrae b menyediakan teori baru tentang pembentukan planet.
Berdasarkan
studi statistik, Johny memperkirakan rata-rata keadaan cakram gas dan debu itu
akan membentuk planet dalam waktu maksimal 10–30 juta tahun. Johny menandaskan,
penemuan TW Hydrae b merupakan bukti langsung bahwa pembentukan sebuah planet
raksasa tidak bisa lebih lama dari usia bintang yang diorbitinya, 8–10 juta
tahun.
”Ini merupakan penemuan paling luar biasa dan spektakuler dalam
studi planet-planet di luar tata surya. Untuk pertama kali, kita telah menemukan
langsung bahwa planet-planet terbentuk dalam lingkaran cakram. Penemuan TW
Hydrae b membuka jalan untuk mengaitkan evaluasi lingkaran cakram dengan proses
pembentukan dan migrasi planet,” papar Thomas Henning, direktur Planet and Star
Formation Department di MPIA.
Johny memaparkan, peneliti di MPIA kini
sedang mengembangkan peralatan generasi baru untuk mendeteksi planet-planet
dengan teknik berbeda. Misalnya dengan instrumen baru astrometri untuk mengamati
gerakan sebuah bintang saat melintasi planet di antariksa, serta transit
fotometri untuk mengamati planet saat bergerak di depan bintang.
”Kita
akan lebih memahami formasi planet saat kita mengetahui keanekaragaman sistem
planet. Kita akan mampu menempatkan Sistem Tata Surya kita dalam sebuah konteks
universal. Akhirnya, tentu di masa depan kita dapat menjawab pertanyaan: ’apakah
kita sendirian di Semesta?” ungkap Johny yang baru tiba di Heidelberg setelah
pekan lalu berlibur di Jakarta.
Johny merupakan warga Indonesia yang
tinggal di Kota Heidelberg, Jerman. Sebagai seorang astronom yang sedang
melakukan riset post doctoral, pria kelahiran 16 Agustus 1974 di Jakarta itu
mengaku telah memiliki ketertarikan tentang perbintangan sejak kecil. Alumnus SD
St.Fransiskus I dan SMP Immaculata, Marsudirini, itu kemudian melanjutkan
pendidikan di SMA Fons Vitae I, Marsudirini, Jakarta.
Setamat SMA, pada
1992–1993,Johny mengenyam pendidikan pra-universitas di Studienkolleg
Heidelberg,Jerman. Johny kemudian mempelajari Fisika di
Albert-Ludwigs-Universitat, Freiburg, Jerman, dan mengambil Master di
Kiepenheuer-Institute for Solar Physics, Freiburg. Disertasinya di
Kiepenheuer-Institute for Solar Physics, Freiburg, berjudul Radial velocity
variation of G and K Giants.
Sejak Juni 2003, Johny bekerja sebagai
peneliti post-doctoral di MPIA, di Department of Planet and Star Formation
(Prof. Dr.Thomas Henning). Wilayah risetnya saat ini meliputi planet-planet di
luar tata surya di sekitar bintangbintang muda dan bintang-bintang yang sedang
terbentuk. Selain itu,Johny yang tinggal di Bintaro Sektor IX ini juga meneliti
atmosfer yang berperan sebagai bintang.
”Secara khusus saya bekerja di
sejumlah proyek seperti ESPRI (Pencarian Planet dengan PRIMA/ Phase-Referenced
Imaging and Micro-arcsecond Astrometry). Di sini saya menyeleksi dan mengamati
karakteristik bintangbintang untuk program pencarian planet,”ungkapnya. Sejak
2003, Johny memimpin penelitian di observasi bintang dan planet ESO La Silla.
”Kami telah sukses mendeteksi sejumlah planet yang saling berhubungan,” ungkap
Johny yang memiliki kemampuan bahwa Jerman, Inggris, dan Spanyol.
Di
tengah kesibukannya meneliti, Johny meluangkan waktu untuk menyalurkan sejumlah
hobi yang beragam, mulai memasak, jalan-jalan, olahraga renang dan fitnes,
melukis dengan akrilik, serta bermain piano.
13. Prof Dr. Ing BJ Habibie - Pemegang 46 Paten di bidang Aeronautika
Spoiler:

Prof.
Dr.-Ing. Dr. Sc. H.C. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie lahir tanggal 25 Juni 1936
di Parepare, Sulawesi Selatan Indonesia. Anak ke empat dari delapan bersaudara
dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardoyo. Dia
hanya satu tahun kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) karena pada tahun
1955 dia dikirim oleh ibunya belajar di Rheinisch Westfalische Technische
Honuchscule, Aschen Jerman.
Setelah menyelesaikan kuliahnya dengan tekun
selama lima tahun, B.J. Habibie memperoleh gelar Insinyur Diploma dengan
predikat Cum Laude di Fakultas Teknik Mekanik Bidang Desain dan Konstruksi
Pesawat Udara. Pemuda Habibie adalah seorang muslim yang sangat alim yang selalu
berpuasa Senin dan Kamis. Kejeniusannya membawanya memperoleh Gelar Doktor
Insinyiur di Fakultas Teknik Mekanik Bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Udara
dengan predikat Cum Laude tahun 1965.
B.J. Habibie memulai kariernya di
Jerman sebagai Kepala Riset dan Pembangunan Analisa Struktur Hamburger
Flugzeugbau Gmbh, Hamburg Jerman (1965-1969). Kepala Metode dan Teknologi Divisi
Pesawat Terbang Komersial dan Militer MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen (1969-1973).
Wakil Presiden dan Direktur Teknologi MBB Gmbh Hambur dan Munchen (1973-1978),
penasehat teknologi senior untuk Direktur MBB bidang luar negeri (1978). Pada
tahun 1977 dia menyampaikan orasi jabatan guru besarnya tentang konstruksi
pesawat terbang di ITB Bandung.
Tergugah untuk melayani pembangunan
bangsa, tahun 1974 B.J. Habibie kembali ke tanah air, ketika Presiden Soeharto
memintanya untuk kembali. Dia memulai kariernya di tanah air sebagai Penasehat
Pemerintah Indonesia pada bidang teknologi tinggi dan teknologi pesawat terbang
yang langsung direspon oleh Presiden Republik Indonesia (1974-1978). Pada tahun
1978 dia diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi merangkap sebagai
kepala BPPT. Dia memegang jabatan ini selama lima kali berturut-turut dalam
kabinet pembangunan hingga tahun 1998.
Sebelum masyarakat Indonesia
menggelar pemilihan umum tahun 1997, Habibie menyampaikan kepada keluarga dan
kerabatnya secara terbatas bahwa dia merencanakan berhenti dari jabatan selaku
menteri setelah Kabinet Pembangunan Enam berakhir. Namun, manusia merencanakan
Tuhan yang menentukan. Tanggal 11 Maret 1998, MPR memilih dan mengangkat B.J.
Habibie sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ketujuh.
Pada saat
bersamaan, krisis ekonomi melanda kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan
hal itu segera berdampak pada krisis politik dan krisis kepercayaan. Kriris
berubah menjadi serius dan masyarakat mulai menuntut perubahan dan akhirnya
tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Sesuai
pasal 8 UUD 1945, pada hari yang sama, sebelum itu, B.J. Habibie diambil sumpah
jabatannya sebagai Presiden oleh Ketua Mahkamah Agung RI.
Presiden B.J.
Habibie memegang jabatan presiden selama 518 hari dan selama masa itu, dibawah
kepemimpinannya Indonesia tidak hanya sukses menyelenggarakan pemilihan umum
yang jujur dan adil pertama kali tanggal 7 Juni 1999, tetapi juga sukses membawa
perubahan yang signifikan terhadap stabilitas, demokratis dan
reformasi.
Prof. B.J. Habibie mempunyai medali dan tanda jasa nasional
dan internasional, termasuk ‘Grand Officer De La Legium D’Honour, hadiah
tertinggi dari Pemerintah Perancis atas konstribusinya dan pembangunan industri
di Indonesia pada tahun 1997; ‘Das Grosskreuz’ medali tertinggi atas
konstribusinya dalam hubungan Jerman-Indonesia tahun 1987; ‘Edward Warner Award,
pemberian dari Dewan Eksekutif Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO)
pada tahun 1994; ‘Star of Honour ‘Lagran Cruz de la Orden del Merito Civil dari
Raja Spanyol tahun 1987. Dia juga menerima gelar doktor kehormatan dari sejumlah
universitas, seperti Institut Teknologi Cranfield, Inggris; Universitas Chungbuk
Korea dan beberapa universitas lainnya.
Selama kariernya, dia memegang 47
posisi penting seperti Direktur Presiden IPTN Bandung, Presiden Direktur PT PAL
Surabaya, Presiden Direktur PINDAD, Ketua Otorita Pembangunan Kawasan Industri
Batam, Kepala Direktur Industri Strategis (BPIS) dan Ketua ICMI. Sampai
sekarang, ia masih menjabat sebagai Presiden Forum Islam Internasional dalam
bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan pengembangan SDM sejak tahun 1977,
Penyantun dan Ketua Habibie Centre untuk urusan luar negeri sejak tahun
1999.
Dia juga anggota beberapa institusi non pemerintah internasional
seperti Dewan Gerakan Internasional sejak tahun 2002, sebuah LSM yang
beranggotakan kurang lebih 40 orang mantan presiden dan Perdana Menteri dari
beberapa negara. Dia juga anggota pendiri Perkumpulan Islam Internasional
Rabithah ‘Alam Islam sejak tahun 2001 yang bermarkas besar di Mekkah, Saudi
Arabia. Dari semua organisasi yang disebutkan sebagian besar telah meminta
Habbie menjadi salah satu pendiri Asosiasi Etika Internasional, Politik dan Ilmu
Pengetahuan yang telah berdiri pada tanggal 6 Oktober tahun 2003 di Bled
Slovenia yang anggotanya terdiri dari negarawan dan ilmuwan dari sejumlah
negara.
Aktivitas sebelumnya terlibat dalam proyek perancangan dan desain
pesawat terbang seperti Fokker 28, Kendaraan Militer Transall C-130, CN-235,
N-250 dan N-2130. Dia juga termasuk perancang dan desainer yang jlimet
Helikopter BO-105, Pesawat Tempur, beberapa missil dan proyek satelit. Prof B.J
Habibie mempublikasika
14. Joe-Hin Tjio - Sang Penemu 23 Kromosom dari Indonesia
Spoiler:

Siapa
sangka seorang ilmuwan dari Indonesia ternyata berperan penting dalam
perkembangan bioteknologi khususnya genetika. Dia bersama koleganyalah yang
menemukan dan memastikan bahwa kromosom manusia berjumlah 23 pasang, padahal
sebelumnya para ilmuwan meyakini bahwa jumlah kromosom manusia adalah
24.
Kisahnya bermula tahun 1921, ada 3 orang yang datang kepada
Theophilus Painter meminta untuk dikebiri. Dua pria kulit hitam dan seorang pria
kulit putih itu merelakan ’senjata’ mereka dicopot berdasarkan kepercayaan yang
mereka anut. Painter yang orang Texas ini lantas mengamati isi testis ketiga
orang tadi, dia sayat tipis-tipis, lalu diproses dengan larutan kimia, dan dia
amati di bawah mikroskop. Ternyata ia melihat ada serabut-serabut kusut yang
merupakan kromosom tak berpasangan pada sel testis. Hitungan dia saat itu ada 24
kromosom. Dia sangat yakin, ada 24.
‘Keyakinan’ ini dikuatkan oleh
ilmuwan lain yang mengamati dengan cara berbeda, mereka pun mendapat hasil yang
sama, 24 kromosom. Bahkan hingga 30 tahun ‘keyakinan’ ini bertahan. Begitu
yakinnya para ilmuwan akan hitungan ini sampai-sampai ada sekelompok ilmuwan
meninggalkan penelitian mereka tentang sel hati manusia karena mereka tidak
menemukan kromosom ‘ke-24′ dalam sel tersebut, mereka ‘hanya’ menemukan 23 saja.
Ilmuwan lain berhasil memisah-misahkan kromosom manusia dan menghitungnya,
jumlahnya? Tetap 24 pasang.
Barulah 34 tahun setelah ‘tragedi’
pengebirian oleh Painter, ilmuwan menemukan cara untuk memastikan bahwa jumlah
kromosom manusia hanya ada 23, bukan 24. Adalah Joe-Hin Tjio yang bermitra
dengan Albert Levan di Spanyol menemukan teknik yang lebih baik untuk
mendapatkan jumlah 23 pasang kromosom manusia. Bahkan ketika mereka menghitung
ulang gambar eksperimen terdahulu yang menyebutkan bahwa jumlahnya ada 24,
mereka mendapati hanya ada 23. Benar-benar aneh, mata siapa yang bisa error
begini?
Dan memang kenyataan bahwa manusia hanya memiliki 23 pasang
kromosom dianggap aneh dan mengejutkan. Pasalnya, simpanse, orang utan dan
gorila, yang kandungan genetiknya mirip dengan manusia memiliki 24 pasang
kromosom. Jadi kromosom manusia ini lain daripada bangsa ungka (ape) yang lain.
Dan usut punya usut, ternyata ada dua kromosom pada gorila yang jika digabungkan
ukurannya akan mirip dengan kromosom 2 pada manusia. Sungguh ajaib memang,
perbedaan yang ‘kecil’ ini ditambah sedikit keragaman antara gen-gen manusia dan
gorila, membuat ‘penampakan’ keduanya jauh berbeda.
Oh ya, kembali ke
sang penemu 23 pasang kromosom pada manusia, salah satunya, yaitu Joe-Hin Tjio,
adalah orang Indonesia.
Sekilas
Joe-Hin Tjio
Seperti ditulis dalam Encyclopædia
Britannica, Tjio (diucapkan CHEE-oh) lahir di Jawa tanggal 2 November 1919. Tjio
kecil bersekolah di sekolah penjajah Belanda, kemudian dia sempat mendalami
fotografi mengikuti jejak ayahnya yang juga seorang fotografer profesional.
Namun selanjutnya Tjio memutar stir ke bidang pertanian dengan kuliah di Sekolah
Ilmu Pertanian di Bogor, waktu itu Tjio berusaha mengembangkan tanaman hibrida
yang tahan terhadap penyakit. Dari sinilah pondasi ilmu genetika membawanya
menjadi seorang ahli genetik terkemuka kelak.
Sempat dipenjara selama
tiga tahun saat masa pendudukan Jepang, Tjio melanjutkan pendidikannya ke
Belanda melalui program beasiswa. Ia melanjutkan kembali studinya mengenai
cy****netik tanaman dan serangga hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut.
Kemudian Tjio menghabiskan waktu 11 tahun di Zaragoza setelah pemerintah Spanyol
mengundangnya untuk melakukan studi dalam program peningkatan mutu tanaman. Di
sela-sela liburannya, Tjio pun nyambi riset di Institute of Genetics di Lund
Swedia dan tertarik untuk meneliti jaringan sel mamalia. Di sinilah penemuannya
yang menghebohkan itu ia lakukan. Pada tahun 1955, Tjio menggunakan suatu teknik
yang baru ditemukan untuk memisahkan kromosom dari inti (nukleus) sel, ia
merupakan salah satu peletak pondasi cy****netik modern –ilmu yang mempelajari
hubungan antara struktur dan aktifitas kromosom serta mekanisme hereditas–
sebagai sebuah cabang utama ilmu genetika. Penelitiannya yang lain pada tahun
1959 membawa pada penemuan bahwa orang-orang yang terkena Down Syndrome memiliki
tambahan kromosom dalam sel-sel mereka.
Ada cerita menarik di balik
penemuan jumlah 23 pasang kromosom ini, selain memang hasil penelitiannya yang
menghebohkan, Tjio pun melakukan tindakan yang cukup menggemparkan dunia riset
Eropa karena ia menolak untuk mencantumkan Albert Levan (kepala Institute of
Genetics tempat risetnya dilakukan) sebagai Author utama dalam jurnal yang
diterbitkan dalam Scandinavian Journal Hereditas tahun 1956 itu, padahal itu
sesuatu yang ‘wajib’ sesuai konvensi Eropa yang telah berlangsung lama. Tjio
bahkan mengancam akan membuang pekerjaannya itu jika Tjio tidak dicantumkan
sebagai Author utama. Akhirnya, mengingat ini adalah penemuan besar, Levan
mengalah dan dia dicantumkan hanya sebagai co-author.
Di sisa 37 tahun
terakhir karirnya, Tjio bekerja di NIH (National Institute of Health)
Washington. Di sana Tjio mengkompilasi koleksi-koleksi foto-foto ilmiah yang
mendokumentasikan penelitian-penelitiannya yang luar biasa. Ternyata bakat
fotografi terpendamnya tersalurkan juga di NIH. Prestasi Tjio pun tak bisa
dipandang remeh, bahkan sangat membanggakan, terbukti dengan anugerah
Outstanding Achievement Award dari Presiden Kennedy tahun 1962.
Tjio
tutup usia tanggal 27 November 2001, 25 hari setelah ultahnya yang ke 82 di
Gaithersburg, Maryland, Amerika. Kita boleh berbangga sekaligus prihatin, bangga
karena ilmuwan kelahiran Indonesia mampu memberi sumbangsih besar untuk ilmu
pengetahuan, tapi juga prihatin karena di negeri kita ‘belum’ menjadi tempat
bagi ilmuwan luar biasa. Banyak potensi besar orang-orang cerdas yang kurang
diperhatikan, sehingga mereka ‘dibajak’ oleh negara-negara lain yang sudah maju
dan mau menghargai kehebatan mereka, bahkan sejak mereka masih sangat muda.
Tentu sayang jika orang hebat seperti Joe-Hin Tjio yang lahir di Jawa pada
akhirnya dikenal sebagai ahli genetik Amerika.
15. DR. AZHARI SASTRANEGARA - AHLI BENTURAN DARI MAJENE
Spoiler:
Lelaki
itu selalu memulai dengan sederhana: bersepeda menuju kantornya, NSK Ltd. Setiap
hari, sepanjang tahun, dia mengayuh sepeda selama 15 menit dari rumahnya di
House Malonie Nomor 2, Fujisawa-shi, Kanagawa, Jepang Sekilas dia adalah pria
kampung Jepang biasa. Nyaris tak ada yang tahu bahwa dia pria penting. Dia
adalah salah satu ahli top di Jepang dalam bidang analisis keamanan struktur
terhadap benturan.
Di kantornya itu, design engineer
berusia 33 tahun ini selalu menghabiskan sebagian harinya di Automotive Bearing
Technology Department. “Pulang kantor pukul 18.00, kalau lagi lembur pukul
20.00,” ujar Azhari kepada Tempo melalui surat elektronik pekan
lalu.
Doctor of engineering dari Tokyo Institute of Technology, Jepang,
itu bergabung dengan produsen bearing dan komponen otomotif tersebut sejak April
2005. Awalnya ia berkarier sebagai research engineer di NSK Research and
Development Center. “Tema penelitian saya cukup beragam, berkisar pada analisis
struktur dan bahan terhadap benturan,” ujar Azhari.
Salah satu riset pria
kelahiran Majene, Sulawesi Barat, itu adalah tentang desain kemudi kendaraan
yang aman. Dalam penelitian itu, tugasnya melakukan perhitungan apakah rancangan
kemudi yang diajukan oleh bagian desain sudah memenuhi syarat keamanan ketika
terjadi tabrakan. Dari aneka penelitian itu, Azhari dan timnya di NSK
menghasilkan enam paten yang kini terdaftar di Japan Patent Office.
NSK
ternyata juga bukan tempat kerja pertamanya. Sebelumnya, Azhari—yang meraih
gelar doktor dengan disertasi berjudul “Effect of Transverse Impact on Energy
Absorption of Column”—sempat menjadi asisten dosen di Tokyo Institute of
Technology. Di kampus itu pula Azhari merampungkan pendidikan dari S-1 sampai
S-3 (Ph.D).
Dia belajar di kampus itu setelah lulus dari SMA Taruna
Nusantara, Magelang, Jawa Tengah, pada 1994. Modalnya: beasiswa Mitsui Bussan
Indonesia Scholarship, yang menyeleksi peserta dari pelajar SMA se-Jawa dan
Bali. Beasiswa itu cuma untuk menyelesaikan sarjana strata satu. Jadi, saat
melanjutkan ke strata dua, “Saya kuliah sambil bekerja paruh waktu,” ujarnya.
Pada program S-3 (Ph.D), ia kembali mendapatkan beasiswa—kali ini dari Moritani
Scholarship dan Tsuji Asia Scholarship.
Setelah memperoleh gelar
doktor/Ph.D, Azhari sempat ingin kembali ke Tanah Air. Namun, ia tak mendapatkan
tempat untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dimilikinya. “Jaringan kerja saya
juga belum ada,” ujarnya. Dia pun memutuskan menimba ilmu di perusahaan Jepang,
yang muatan penelitiannya banyak. Untuk ikut memajukan Indonesia, ia punya cara
lain.
16.
Dr Nurul Taufiqu Rochman, MEng - MENDANAI RISET DARI BISNIS
SERABUTAN
Spoiler:
Demi
menambal biaya penelitian, para ilmuwan kita di sini harus jungkir balik. Ada
yang patungan menyewakan lapangan futsal.
Berbongkah batu alam tergeletak
di dalam kardus di ruangan yang tak terlalu luas itu. Serbuk silika berwarna
kuning, pasir besi, beberapa alat pemotong besi, dan pemisah magnet tampak
berserakan di lantai berlapis kayu.
“Beginilah kalau sedang bekerja,
berantakan,” ujar Dr Nurul Taufiqu Rochman, MEng, Jumat malam lalu. Di ruang
berukuran 5 x 8 meter itulah peneliti fisika di Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) Puspiptek Serpong, Tangerang, ini melakukan riset teknologi
nano.
Ruangan yang terletak di lantai dua
Pusat Penelitian Fisika LIPI itu nyaris seperti kapal pecah. Sejumlah diktat dan
proposal berserakan di atas meja. Beberapa unit komputer serta alat-alat
eksperimen rakitan Nurul dan delapan stafnya juga belum dibereskan.
Malam
itu, pria lulusan Kagoshima University, Jepang, ini menunjukkan kehebatan
pemisah magnet temuannya. Nurul tak perlu terbang jauh ke luar negeri untuk
membeli komponen alat itu karena tersedia di Glodok, Jakarta Barat. Nurul
memasukkan sejumput pasir besi ke alat tersebut. Setelah diputar, pasir yang
mengandung besi oksida turun dan yang tak mengandung besi oksida menempel pada
lempengan karet yang melengkung ke bawah.
Dari serbuk pasir yang telah
dinanokan itu bisa dibentuk batangan besi dan tabung besi. Menurut Nurul, pasir
besi sangat mudah dicari. “Sekilo paling cuma Rp 250. Kalau sudah dinanokan,
bisa mencapai Rp 1 juta. Ini peluang bisnis untuk mengolah kekayaan alam
Indonesia,” ujarnya.
Teknologi nano yang sederhana dan pengolahan yang
tak rumit membuat pasir besi selanjutnya bisa diolah menjadi tinta printer
seharga Rp 250 ribu. Kekayaan alam Indonesia yang melimpah itulah yang membuat
Nurul pulang kampung setelah 15 tahun kuliah dan bekerja di Negeri Sakura. Pria
kelahiran Malang, Jawa Timur, 5 Agustus 1970, itu menyelesaikan S1 sampai S3
teknik mesin di Kagoshima University atas biaya Habibie Center.
“Saya
gemes banget. Apa yang mungkin orang lain tidak lakukan, saya bisa kerjakan.
Makanya saya ingin di bengkel ini mestinya juga lahir Apollo berteknologi nano,”
katanya seraya menunjuk sejumlah mesin.
Peraih Ganesha Widya Jasa
Adiutama Award dari Institut Teknologi Bandung pada 2009 itu bersemangat
menciptakan alat-alat baru berteknologi nano yang belum ada di dunia dari
kekayaan alam Indonesia.
“Di tangan saya dan tim, alat semacam ini
harganya cuma Rp 5 sampai Rp 20 juta.” ujar Nurul sembari memperlihatkan milling
gerak elips 3 dimensi yang difungsikan sebagai penghancur partikel
nano. 17.
FAUZY AMMARI - JEJAK TERNATE DI JALAN SUTRA UZBEKISTAN
Spoiler:
Sudah
hampir 10 bulan Fauzy Ammari bergelut di Jalan Sutra. Di jalur utama perdagangan
dunia yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika 3.000 tahun silam itulah,
karier emas Fauzy kini dipertaruhkan. Lelaki kelahiran Ternate, Maluku Utara, 42
tahun silam ini dipercaya menjadi salah seorang konsultan dalam proyek
pembangunan jalan di salah satu bagian rute kuno itu di wilayah
Uzbekistan.
Proyek prestisius yang dinamakan Proyek Jalan Sutra atawa
Silk Road ini membentang 131 kilometer sepanjang rute Guzar-Bukhara-
Nukus-Dautata. Pemerintah Presiden Islam Karimov mengucurkan sedikitnya US$ 270
juta atau Rp 2,7 triliun, yang dipinjamnya dari Bank Pembangunan Asia
(ADB).

Dalam
proyek tersebut, Fauzy duduk sebagai penasihat internasional untuk bidang
infrastruktur transportasi. Tanggung jawabnya menangani proyek-proyek fasilitas
umum dan penyediaan alat-alat berat. Tak tanggung-tanggung, ia pun diminta
membentuk departemen transportasi, departemen baru di Uzbekistan.
“Bisnis
jalan” sesungguhnya tak jauh-jauh dari awal karier Fauzi. Ketika masih duduk di
bangku SMP di Ternate, ia sudah diperkenalkan dengan manajemen bisnis
transportasi. Saat itu ia bahkan dipercaya mengelola sebuah mobil angkutan kota
milik keluarganya.
Segala tetek-bengek bisnis angkutan menjadi tanggung
jawabnya. Mulai teknik mencari penumpang, melayani penumpang, sampai merawat si
angkot semata wayang, yang dilakoninya hingga tamat SMA.
Berpuluh tahun
kemudian, ribuan mil dari tanah kelahirannya, Fauzy merasakan manfaat dari
pendidikan manajemen bisnisnya itu. Mengatur strategi pemenangan proyek,
mengelola tim kerja, hingga mengatur rencana kerja seolah hanya mengulang
pekerjaan masa kecilnya.
Bedanya, dulu ia hanya mengurus satu mobil, kini
ia bertanggung jawab membangun salah satu ruas jalan di Uzbekistan. Jiwa bisnis
Fauzy mulai terasah manakala sang ayah, seorang penjual pakaian dan sepatu,
mangkat. Saat itu usia Fauzy baru delapan tahun.
18.
Profesor Dr. Ken Kawan Soetanto - Peraih Empat Gelar Doktor dan Juga Peraih 31
Paten di Jepang
Spoiler:
Prestasi
membanggakan ditorehkan Profesor Dr. Ken Kawan Soetanto. Pria kelahiran Surabaya
ini berhasil menggondol gelar profesor dan empat doktor dari sejumlah
universitas di Jepang. Lebih hebatnya, puncak penghargaan akademis itu
dicapainya pada usia 37 tahun.

Sepintas, penampilan fisiknya nyaris tak berbeda jika dibandingkan dengan kebanyakan orang Jepang. Kulitnya kuning. Rambut lurusnya, disisir rapi. Kemejanya yang diseterika licin dipadu jas menunjukkan dia menyukai formalitas. Tapi, begitu berbicara, akan terkesan bahwa Prof Soetanto -demikian dia dipanggil- bukan orang Jepang. Bicaranya ceplas-ceplos dengan logat suroboyoan-nya yang khas.

Penemu
konsep pendidikan tinggi "Soetanto Effect" di Negeri Sakura itu beberapa hari
ini berkunjung ke Indonesia. Soetanto mendampingi sejumlah koleganya, Dr Kotaro
Hirasawa (dekan Graduate School Information Production & System Waseda
University) dan Yukio Kato (general manager of Waseda University),
menandatangani memorandum of understanding (MoU) antara Waseda University dan
President University, Jababeka Education Park, Cikarang, Jawa Barat, Sabtu
lalu.
Waseda University adalah perguruan tinggi swasta terbesar di
Jepang. Reputasinya setara dengan universitas negeri semisal Tokyo University,
Kyoto University, atau Nagoya University. Mahasiswa yang berguru di Waseda
University 51.499 orang. Di anatar jumlah itu, 1.234 orang berasal dari luar
Jepang.
Waseda University telah menganugerahkan 81 gelar kehormatan bagi
pemimpin negara, mulai mantan PM India Jawaharlal Nehru (1957) hingga mantan PM
Singapura Lee Kuan Yew (2003). Dari Indonesia, Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita
juga pernah belajar di sini.
President University adalah institusi
perguruan tinggi berbasis kurikulum bertaraf internasional yang berlokasi di
tengah-tengah sekitar 1.040 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang.
Selain putra berbaik dari Indonesia, para mahasiswa President University berasal
dari China dan Vietnam.
Kehadiran Soetanto tak begitu menyita perhatian
publik. Maklum, wakil dekan Waseda University tersebut hanya "sebentar"
memberikan ceramah populernya di hadapan ratusan mahasiswa dan civitas academica
President University. Dia tak sempat berbagi keilmuan dengan sesama akademisi
seperti UI, UGM, ITB, dan Unair. Sebuah kesempatan yang agak disesalkan bagi
orang dengan kemampuan akademik sekaliber Soetanto.
Prestasi akademik
Soetanto bisa dibilang di atas rata-rata. Misalnya, pada 1988-1993, dia tercatat
sebagai direktur Clinical Education and Science Research Institute (CERSI)
merangkap associate professor di Drexel University dan School Medicine at Thomas
Jefferson University, Philadelphia, AS.
Dia juga pernah tercatat sebagai
profesor di Biomedical Engineering, Program University of Yokohama (TUY). Selain
itu, pria kelahiran 1951 tersebut saat ini masih terdaftar sebagai prosefor di
almameternya, School of International Liberal Studies (SILS) Waseda University,
serta profesor tamu di Venice International University, Italia.
Otak arek
Suroboyo itu memang brilian. Dia berhasil menggabungkan empat disiplin ilmu
berbeda. Hal tersebut terungkap dari empat gelar doktor yang diperolehnya.
Yakni, bidang applied electronic engineering di Tokyo Institute of Technology,
medical science dari Tohoku University, dan pharmacy science di Science
University of Tokyo. Yang terakhir adalah doktor bidang ilmu pendidikan di
almamater sekaligus tempatnya mengajar, Waseda University.
"Saya sungguh
menikmati pekerjaan sebagai akademisi," kata Soetanto di sela kesibukannya
menyaksikan MoU Waseda University dan President University.
Di luar
status kehormatan akademik tersebut, dia masuk birokrasi di Negeri Sakura. Pria
yang pernah berkawan dengan mantan Presiden RI B.J. Habibie itu tercatat sebagai
komite pengawas (supervisor committee) di METI (Ministry of Economy, Trade, and
Industry atau semacam Menko Perekonomian di RI).
Selain itu, dia ikut
membidani konsep masa depan Jepang dengan terlibat di Japanese Government 21st
Century Vision. "Pada jabatan tersebut, saya berpartisipasi langsung menyusun
GBHN (kebijakan makro)-nya Jepang," ungkap Soetanto yang masih fasih berbahasa
Indonesia dan Jawa itu. Buah pemikiran Soetanto terkenal lewat konsep pendidikan
"Soetanto Effect" dan 31 paten internasional yang tercatat resmi di pemerintah
Jepang.
Inovasi yang dipatenkan itu mayoritas berlatar bidang
keilmuannya, mulai elektronika engineering, teknologi informasi, penemuan
pengobatan kanker, dan teknik imaging serta bidang farmasi.
Mau tahu
berapa dana yang diraih Soetanto untuk membiayai riset-risetnya? Jumlahnya
sangat mencengangkan untuk ukuran akademikus bergelar profesor atau mereka yang
pernah menduduki jabatan tertinggi di perguruan tinggi (rektor). Kementerian
Pendidikan Jepang mendanai Soetanto sampai USD 15 juta per tahun.
Di
antara segudang prestasi itu, bisa jadi yang paling membanggakan, khususnya bagi
warga Surabaya, adalah latar belakang sekolah dasar dan menengahnya yang
ternyata dihabiskan di kota buaya. Soetanto muda mengenyam pendidikan SD swasta
di Kapasari, SMP Baliwerti, dan SMA Budiluhur yang dulu menjadi jujugan sekolah
warga keturunan Tionghoa.
Toh, Soetanto mengaku belum puas. Obsesi
terpendamnya adalah bagaimana karya akademisnya bisa dinikmati orang lain. "Saya
berbahagia bila bisa menyenangkan orang lain," katanya mengungkap visi
hidupnya.
Soetanto sempat memberikan buah pemikirannya di hadapan ratusan
mahasiswa President University. Isi ceramah akademisnya menarik perhatian
mahasiswa. Bahkan, beberapa jajaran direksi PT Jababeka, termasuk Dirut PT
Jababeka Setyono Djuandi Darmono. Maklum, Soetanto membeberkan pengalamannya
bisa ’menaklukkan’ dunia perguruan tinggi Jepang kendati hingga sekarang masih
berkewarganegaraan Indonesia.
Selebihnya, Soetanto banyak mengkritisi
sistem pendidikan di Indonesia yang perlu dirombak lagi agar lulusannya lebih
berkualitas. "Sistem pendidikan di sini (Indonesia) sudah tertinggal jauh",
jelas Soetanto dengan gaya bicara berapi-api.
Ironisnya, penghargaan
terhadap staf pengajar atau guru di Indonesia juga sangat kurang. Soetanto
lantas mencontohkan kecilnya gaji guru yang memaksa mereka harus bekerja
sambilan. "Karena faktor tersebut, jangan heran bila banyak ilmuwan Indonesia
mencari penghasilan di luar negeri," pungkas Soetanto