Runtuhnya Sendi-sendi Orientalisme Dalam Kajian Islam

164 views
Skip to first unread message

MILIS-ANNAHL

unread,
Aug 1, 2005, 2:47:53 AM8/1/05
to masjid...@googlegroups.com


Posting: Senin [1/8/2005]
Edisi : Kajian Islam
Sumber : -
sender : dendy wahyono
--------

Runtuhnya Sendi-sendi Orientalisme Dalam Kajian Islam
Didin Saefuddin Buchori

A.Pengertian

Orientalisme adalah studi Islam yang dilakukan oleh orang-
orang Barat. Kritikus orientalisme bernama Edward W Said menyatakan
bahwa orientalisme adalah suatu cara untuk memahami dunia Timur
berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat
Eropa1.

Secara bahasa orientalisme berasal dari kata orient yang artinya timur.
Secara etnologis orientalisme bermakna bangsa-bangsa di timur, dan
secara geografis bermakna hal-hal yang bersifat timur, yang sangat luas
ruang lingkupnya. Orang yang menekuni dunia ketimuran ini disebut
orientalis. Menurut Grand Larousse Encyclopedique seperti dikutip Amin
Rais2, orientalis adalah sarjana yang menguasai masalah-masalah
ketimuran, bahasa-bahasanya, kesusastraannya, dan sebagainya. Karena itu
orientalisme dapat dikatakan merupakan semacam prinsip-prinsip tertentu
yang menjadi ideologi ilmiah kaum orientalis.

Kata isme menunjukkan pengertian tentang suatu faham. Jadi, orientalisme
bermakna suatu faham atau aliran yang berkeinginan menyelidiki hal-hal
yang berkaitan dengan bangsa-bangsa di timur beserta lingkungannya.

B.Latar Belakang Munculnya Orientalisme

Munculnya orientalisme tidak terlepas dari beberapa faktor yang
melatarbelakanginya, antara lain akibat perang Salib atau ketika dimulainya
pergesekan politik dan agama antara Islam.

dan Kristen Barat di Palestina. Argumentasi mereka menyatakan bahwa
permusuhan politik berkecamuk antara umat Islam dan Kristen selama
pemerintahan Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi. Karena kekalahan
demi kekalahan yang dialami pasukan Kristen maka semangat membalas
dendam tetap membara selama berabad-abad.

Faktor lainnya adalah bahwa orientalisme muncul untuk kepentingan
penjajahan Eropa terhadap negara-negara Arab dan Islam di Timur, Afrika
Utara dan Asia Tenggara, serta kepentingan mereka dalam memahami adat
istiadat dan agama bangsa-bangsa jajahan itu demi memperkokoh kekuasaan
dan dominasi ekonomi mereka pada bangsa-bangsa jajahan.

Faktor-faktor tersebut mendorong mereka menggalakkan studi
orientalisme dalam berbagai bentuknya di perguruan-perguruan tinggi
dengan perhatian dan bantuan dari pemerintah mereka.

C.Dogma Orientalisme

Menurut pengamatan Amien Rais3 sekurang-kurangnya terdapat enam
dogma orientalisme, yaitu pertama, ada perbedaan mutlak dan perbedaan
sistematik antara Barat yang rasional, maju, manusiawi dan superior, dengan
Timur yang sesat, irrasional, terbelakang dan inferior. Menurut anggapan
mereka, hanya orang Eropa dan Amerika yang merupakan manusia-
penuh, sedangkan orang Asia-Afrika hanya bertaraf setengah-manusia.

Edward W Said menyatakan orientalisme memandang Timur sebagai
sesuatu yang keberadaannya tidak hanya disuguhkan melainkan juga tetap
tinggal pasti dalam waktu dan tempat bagi Barat. Seluruh periode sejarah
budaya, politik, dan sosial Timur hanyalah dianggap sebagai tanggapan
semata-mata terhadap Barat. Barat adalah pelaku (actor), sedangkan Timur
hanyalah penanggap (reactor) yang pasif. Barat adalah penonton, penilai dan
juri bagi setiap segi tingkah laku Timur4.

Sikap-sikap orientalis kontemporer, lanjut Said, telah
menguasai pers dan pikiran masyarakat. Orang-orang Arab, umpamanya,
dianggap si hidung belang yang senang menerima suap yang kekayaannya
merupakan penghinaan terang-terangan terhadap peradaban sejati. Selalu
ada asumsi bahwa meskipun konsumen Barat tergolong minoritas dari
penduduk dunia, mereka berhak untuk memiliki atau membelanjakan
sebagian besar sumber daya dunia. Mengapa? Karena mereka manusia-
manusia sejati yang berlainan dengan dunia Timur5.

Kedua, abstraksi dan teorisasi tentang Timur lebih banyak didasarkan pada
teks-teks klasik, dan hal ini lebih diutamakan daripada bukti-bukti nyata
dari masyarakat Timur yang konkret dan riil. Dalam masalah ini, para
orientalis tidak bisa mengelakkan tuduhan Edward W Said bahwa
mereka tidak mau menyelidiki perubahan yang terjadi dalam
masyarakat Timur, tetapi lebih mengutamakan isi teks-teks kuno
sehingga orientalisme berputar-putar di sekitar studi tekstual, tidak
realistis. Philiph K Hitti, umpamanya, mengatakan bahwa untuk
mempelajari Islam dan umatnya tidak diperlukan kerangka teori baru karena,
menurutnya, masyarakat Islam yang sekarang ini masih persis sama dengan
masyarakat Islam sembilan abad yang lalu.

Ketiga, Timur dianggap begitu lestari (tidak berubah-ubah),
seragam, dan tidak sanggup mendefinisikan dirinya. Karena itu menjadi
tugas Barat untuk mendefinisikan apa sesungguhnya Timur itu, dengan
cara yang sangat digeneralisasi, dan semua itu dianggap cukup obyektif.

Keempat, pada dasarnya Timur itu merupakan sesuatu yang
perlu ditakuti, atau sesuatu yang perlu ditaklukkan. Apabila seorang
orientalis mempelajari Islam dan umatnya, keempat dogma itu perlu
ditambah dengan dua dogma pokok lainnya.

Kelima, al-Quran bukanlah wahyu Ilahi, melainkan hanyalah buku karangan
Muhammad yang merupakan gabungan unsur-unsur agama Yahudi, Kristen,
dan tradisi Arab pra-Islam. Seorang orientalis bernama Chateaubriand,
misalnya, mengindoktrinasi murid-muridnya bahwa al-Quran itu sekedar
buku karangan Muhammad. Al-Quran tidak memuat prinsip-prinsip
peradaban maupun ajaran yang memperluhur watak manusia. Ia bahkan
mengatakan, al-Quran tidak mengutuk tirani dan tidak menganjurkan cinta
pada kemerdekaan.

Keenam, kesahihan atau otentisitas semua hadis harus diragukan. Malah ada
yang mengeritik syarat-syarat sahihnya hadis seperti yang dilakukan Joseph
Schacht. Amien Rais menyindir bahwa disamping ada hadis riwayat Bukhari
dan Muslim ada juga hadis riwayat Josep Schacht.

D.Tujuan Orientalisme

Edward W Said melakukan kritik yang keras terhadap orientalisme.
Menurutnya, orientalisme tidak terletak dalam suatu ruang hampa budaya; ia
merupakan kenyataan politik dan budaya6. Barat, tulis Said, bertanggung
jawab membentuk persepsi yang keliru tentang dunia yang ingin mereka
jelaskan.

Merupakan suatu kenyataan bahwa para orientalis senantiasa
menyajikan karya tulisnya yang didasarkan pada tujuan tertentu. Secara
garis besar tujuan itu terbagi tiga yaitu : (1) Untuk kepentingan penjajahan
(2) Untuk kepentingan agama mereka (3) Untuk kepentingan ilmu
pengetahuan.

Untuk kepentingan penjajahan jelas tergambar dari penelitian-
penelitian yang serius yang dilakukan para orientalis. Dalam kasus Indonesia,
Snouck Hurgronye begitu jelas. Nama ini oleh pemerintah Belanda diberi
kepercayaan untuk mengkaji Islam sedalam-dalamnya sehingga sempat
menetap di Mekkah bertahun-tahun. Namun tujuan pengkajiannya tidak lain
kecuali untuk melemahkan perlawanan umat Islam terhadap Belanda serta
mengobrak-abrik pertahanan Persatuan dan pertahanan kaum Muslim
dengan politik belah bambunya7.

Untuk kepentingan agama juga jelas karena semua penjajah
yang menguasai negara-negara Muslim adalah berlatar belakang agama
Kristen. Sekalipun ada teori bahwa para kolonialis tidak berambisi
mengkristenkan penduduk, namun setidak-tidaknya para penginjil telah
menemukan momentumnya untuk membonceng pihak kolonialis untuk
menyebarkan Kristen ke tengah penduduk.

Untuk kepentingan ilmu pengetahuan; memang para orientalis
berasal dari para intelek dan sarjana yang serius mengkaji masalah-masalah
ketimuran. Hampir di tiap universitas di Amerika selalu ada pusat-pusat
kajian ketimuran seperti pusat kajian Timur Tengah, Asia Tenggara, Asia
Tengah dan Asia Selatan.

Tujuan yang ketiga dapat menghasilkan kesilmpulan yang netral
atau fair tentang Islam sekalipun demi kenetralan ilmu mereka juga dapat
memberi kesimpulan yang kurang fair tentang Islam. Namun tujuan pertama
dan kedua sudah pasti akan menghasikan penilaian yang miring, bias dan
tidak fair tentang Islam demi kepentingan kolonial dan ekspansi agama
mereka.

E.Pro Kontra terhadap Orientalisme

Berbagai macam tanggapan kaum Muslimin terhadap
orientalisme. Sebagian mereka ada yang menganggap seluruh orientalis
sebagai musuh Islam. Mereka bersikap ekstrim dan menolak seluruh karya
orientalis. Bahkan di antara mereka ada yang secara emosional
menyatakan bahwa orang Islam yang mempelajari tulisan karya orientalis
termasuk antek zionis8.

Mereka mempunyai argumen bahwa orientalisme bersumber
pada ide-ide Kristenisasi yang menurut Islam sangat merusak dan bertujuan
menyerang benteng pertahanan Islam dari dalam. Karena pada faktanya
tidak sedikit karya-karya orientalis yang bertolak belakang dengan Islam.
H.A.R.Gibb, misalnya, dalam karyanya Mohammedanism berpendapat bahwa
al-Quran hanyalah karangan Nabi Muhammad; juga dengan menanamkan
Islam sebagai Mohammedanism, Gibb mencoba menurunkan derajat kesucian
agama wahyu ini, padahal ia tahu persis tak ada seorang manusia Muslim
pun berpendapat bahwa Islam adalah ciptaan Muhammad SAW9.

Pandangan yang sepenuhnya negatif dikemukakan oleh Ahmad
Abdul Hamid Ghurab mengenai karakter Orientalisme yaitu: pertama,
orientalisme adalah suatu kajian yang mempunyai ikatan yang sangat erat
dengan kolonialisme Barat; kedua, orientalisme merupakan gerakan yang
mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan Kristenisasi; ketiga,
orientalisme merupakan kajian gabungan yang kuat antara kolonialisme
dengan gerakan Kristenisasi yang validitas ilmiah dan obyektivitasnya tidak
dapat dipertanggungjawabkan secara mutlak khususnya dalam mengutarakan
kajian tentang Islam; keempat, orientalisme merupakan bentuk kajian yang
dianggap paling potensial dalam politik Barat untuk melawan Islam.

Sebagian lagi bersikap lebih toleran dan mereka terbagi dalam dua kelompok,
satu kelompok bersikap sangat berlebihan, artinya semua karya tulis kaum
orientalis dinilai sangat ilmiah sehingga bagi mereka seluruh karya orientalis
sangat obyektif dan dapat dipercaya.

Kelompok lain bersikap hati-hati dan kritis; mereka selalu
berusaha berpijak pada landasan keilmuan. Menurut mereka, cukup banyak
karya tulis kaum orientalis yang berisi informasi dan analisis obyektif
tentang Islam dan ummatnya, karena memang tidak semua karya orientalis
bertolak belakang dengan Islam melainkan hanya sebagian kecilnya saja.

Maryam Jamilah menyatakan bahwa orientalisme tidak sama
sekali buruk. Sejumlah pemikir besar di Barat, kata Jamilah, telah
menghabiskan umurnya untuk mengkaji Islam lantaran mereka secara jujur
tertarik terhadap kajian-kajian itu. Tanpa usaha mereka, banyak di antara
pengetahuan berharga dalam buku-buku Islam kuno akan hilang tanpa bekas
atau tidak terjamah orang11. Para orientalis dari Inggris seperti mendiang
Reynold Nicholson dan Arthur J. Arberry berhasil menulis karya penting
berupa penerjemahan karya-karya Islam klasik sehingga terjemahan-
terjemahan itu untuk pertama kalinya dapat dikaji oleh para pembaca di
Eropa.

Pada umumnya para orientalis itu benar-benar menekuni pekerjaan
penerjemahan ini. Mereka yang cenderung membatasi cakupan
pengkajiannya hanya pada deskripsi, kadang-kadang berhasil menulis buku-
buku yang sangat bermanfaat, informatif dan membuka cakrawala
pemikiran baru. Persoalan timbul pada saat mereka melangkah terlalu jauh
dari batas-batas yang benar dan berusaha menafsirkan Islam dan peristiwa-
peristiwa yang terjadi di Dunia Islam berdasarkan pandangan-pandangan
pribadi yang tidak cocok.

Yang paling jelek di antara mereka adalah para orientalis yang
mencoba memberikan saran kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita
memecahkan persoalan-persoalan kita dan apa yang seharusnya kita
lakukan terhadap agama kita12. Kritik tajam, ilmiah dan berdampak pada
dunia orientalisme datang dari Edward W Said dalam karyanya Orientalisme.
Karya Guru besar Universitas Columbia, New York, ini telah menimbulkan
kehebohan dan kontroversi di lingkungan dunia akademis Barat yang biasa
disebut kaum orientalis.

Menurut Said, orientalisme bukan sekedar wacana akademis
tetapi juga memiliki akar-akar politis, ekonomis, dan bahkan relijius. Secara
politis, penelitian, kajian dan pandangan Barat tentang dunia oriental
bertujuan untuk kepentingan politik kolonialisme Eropa untuk menguasai
wilayah-wilayah Muslim13. Dan kolonialisme Eropa tak bisa lain berkaitan
dengan kepentingan ekonomi dan sekaligus juga kepentingan keagamaan;
tegasnya penyebaran Kristen.

Ketiga kepentingan yang saling terkait satu sama lain ini
tersimpul dalam slogan yang sangat terkenal tentang ekspansi

Eropa ke kawasan dunia Islam, yang mencakup 3G yakni Glory, Gold and
Gospel: kejayaan, kekayaan ekonomi dan penginjilan.

Semua motif dan kepentingan orientalisme ini secara implisit
juga bersifat rasis. Dan ini tercermin dalam slogan missi pembudayaan
terhadap dunia Timur yang terbelakang, jika tidak primitif.

Kritik keras Said yang sangat menusuk itu mau tak mau sangat
mengguncangkan sendi-sendi kajian Barat terhadap dunia Timur. Hasilnya,
di kalangan banyak sarjana Barat yang biasa disebut orientalis, istilah
orientalisme menjadi sesuatu yang pejoratif, jika tidak disgusting14.

F.Beberapa Contoh Orientalis

1. H.A.R. Gibb

Ia meninggal tahun 1971. Dulu mengajar di Oxford dan Harvard. Pendapat-
pendapat Gibb mengenai Islam sering dianggap simpatik oleh kalangan
sarjana Islam sendiri. Salah satu pendapatnya yang simpatik adalah ia
menyatakan bahwa Islam is indeed much more than a system of theology, it
is complete civilization (Islam sesungguhnya lebih dari satu sistem teologi,
ia adalah peradaban yang sempurna.

Tetapi menurut pengamatan Amien Rais, kalau diteliti dalam salah satu
bukunya ia mengarahkan pembacanya supaya yakin bahwa pada zaman
modern peranan Islam dalam kehidupan sosial pasti akan sirna.
Secara ringkas argumennya adalah:

sebagai agama dalam arti sempit, Islam hanya kehilangan sedikit
kekuatannya. Namun sebagai penentu dalam kehidupan sosial di zaman
modern, Islam sedang dicopot dari singgasananya. Dalam kehidupan modern
terlalu banyak masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan Islam.
Dalam hal ini, Islam tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyerah pada
keadaan, dan Islam akan ditelan oleh perkembangan zaman15. Orang Islam
yang tertarik pada Gibb ini tentu akan berpikir bahwa sekularisme memang
tepat untuk kemajuan Islam.

2.Wilfred Cantwell Smith

Orientalis ini sering juga dianggap simpatik pada Islam. Bukunya Islam in
Modern History sangat masyhur termasuk di negara kita. Setelah kita
selesai membaca buku ini penilaian aneh segera timbul karena menurut
Smith perkembangan yang paling menggembirakan dalam dunia Islam sedang
dialami oleh Islam di India dan Turki.

Tetapi bagaimana mungkin Smith bisa mengambil kesimpulan yang begitu
ahistorical? Islam sedang terbentur-bentur di samudera India, dan sampai
sekarang pun tetap jadi minoritas yang keadaannya sangat memprihatinkan,
sedangkan ketika buku Smith itu terbit (1957), Islam di Turki sedang
bergulat dengan sisa-sisa Sekularisme Attaturk yang mengakibatkan luka-
luka terlalu dalam.

3.Montgomery Watts

Selain dipandang lembut dan simpatik pada Islam, Watt dinilai juga sebagai
sangat teliti dan hati-hati dalam mempelajari sumber-sumber Islam.
Walaupun demikian kita memperoleh sebuah nasehat yang bagus dalam bab
terakhir bukunya Islam and the Integration of Society. Setelah memaparkan
analisisnya, Watt cukup berbesar jiwa mau mengakui bahwa Islam bisa
memiliki peranan besar di dunia ini pada masa mendatang. Namun cepat ia
menambahkan bahwa Islam harus bersedia mengakui asal-usulnya. Apa
yang ia maksud? Tidak lebih dari pada pencampurbauran unsur-unsur
Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan sumber-sumber lain. Logika
selanjutnya adalah umat Islam supaya mau melepaskan al-Qur?n kalau ingin
memiliki peranan di masa mendatang.

Karya-karya Watt tentang Islam terhitung banyak. Kebanyakan
kajiannya adalah tentang sejarah Islam. Karya-karyanya antara lain adalah:
Muhammad at Mecca, Muhammad at Medina, The Majesty That Was Islam,
History of Islamic Spains, The Influence of Islam in Medieval Europe. Dalam
karya yang disebut terakhir, ia dengan meyakinkan menegaskan jasa besar
Islam di bidang ilmu pengetahuan yang kemudian diadopsi oleh orang-orang
Eropa.

4.Gustave von Grunebaum

Menurut Amien Rais, tokoh ini tidak pernah menyembunyikan
kebenciannya terhadap Islam. Di antara buku-bukunya yang mencaci-
maki Islam

adalah Modern Islam : The Search for Cultural Identity. Dalam buku ini
antara lain ia menyatakan bahwa peradaban Islam tidak memiliki aspirasi-
aspirasi primer seperti peradaban lainnya. Ciri peradaban Islam adalah
antikemanusiaan. Selain itu, Islam tidak punya etik formatif dan kekurangan
kesegaran intelektual. Kaun Muslim tidak bisa maju, tidak ilmiah, tidak bisa
obyektif, tidak kreatif, dan otoriter. Islam di tangan von Grunebaum adalah
Islam yang direduksi dan ditempeli sifat-sifat negatif yang bisa dikhayalkan
oleh Grunebaum. Kebenciannya juga dituangkan dalam bukunya Medieval
Islam.

G.Studi Islam para Orientalis

Studi yang dilakukan para orientalis berangkat dari paradigma
berfikir bahwa Islam adalah agama yang bisa diteliti dari sudut mana saja
dan dengan kebebasan sedemikian rupa. Tidak mengherankan kalau mereka
begitu bebasnya menilai, mengritik bahkan melucuti ajaran-ajaran dasar
Islam yang bagi kaum Muslim tabu untuk dipermasalahkan.

Studi yang mereka lakukan meliputi seluruh aspek ajaran Islam seperti
sejarah, hukum, teologi, quran, hadis, tasauf, bahasa, politik,
kebudayaan dan pemikiran. Di antara mereka ada yang mengkaji
Islam meliputi seluruh aspek tadi, ada juga yang hanya meneliti satu
aspek saja. Philiph K Hitti, HAR Gibb, dan Montgomery Watt banyak
menfokuskan pengkajian pada aspek sejarah Islam. Sementara Joseph
Schact pada kajian hukum Islam, David Power pada kajian Quran, dan A J
Arberry pada aspek tasauf.

Sebagai contoh David Power pernah meneliti sedalam-dalamnya
ayat-ayat Qur?n sehingga memunculkan kesimpulan Quran tidak sempurna
antara lain karena tidak adil membagi waris antara laki-laki dan perempuan.
Josep Schacht pernah meneliti masalah hadis sedemikian rupa sehingga
pembaca bisa tergiring ke kesimpulan bahwa hadis tidak layak menjadi
sumber hukum Islam.

H.Orientalis dan Islamisis

Akhir-akhir ini pengkajian Islam oleh orang-orang bukan Islam terus
dilakukan bahkan makin intensif. Pengkajian itu masih didominasi oleh para
pemikir Barat. Hanya kalau dahulu para peneliti Islam disebut orientalis
maka sekarang mereka tidak suka disebut orientalis. Sebutan yang mereka
lebih sukai adalah Islamisis.

Menurut Azyumardi Azra kecenderungan mereka tidak ingin
disebut orientalis muncul setelah kritik tajam Edward W. Said dalam bukunya
Orientalisme16. Dalam buku ini Said mengungkapkan secara tajam bias
intelektual Barat terhadap dunia Timur (oriental) umumnya, dan Islam serta
dunia Muslim khususnya. Dengan tegar dia mengemukakan gugatan bahwa
Barat bertanggung jawab membentuk persepsi yang keliru tentang dunia
yang ingin mereka jelaskan.

Perbandingan Paradigma Orientalis dan Islamisis

Memang terdapat perbedaan antara keduanya. Orientalis lebih kental
nuansa politis dan tendensi kencurigaannya terhadap Islam. Islamisis tampak
lebih bersahabat. Kajiannya lebih bersifat ilmiah, daripada penyelidikan demi
kepentingan imperialisme. Nama-nama Islamisis yang produktif saat ini
adalah John L. Esposito, Karen Armstrong, Martin Lings, Annemarie
Schimmel, John O. Voll, Ira M. Lapidus, Marshal GS Hodgson, Leonard
Binder dan Charles Kurtzman. Di antara mereka ada yang kemudian masuk
Islam seperti Annemarie Schimmel.

Esposito amat produktif menulis kajian Islam. Di antara bukunya adalah:
Voices of Resurgent Islam, Ensiklopedi Dunia Islam Modern, Sejarah
Peradaban Islam, Islam Politik, dan Ancaman Islam Mitos atau Realitas.
Kajiannya berusaha mengungkapkan fakta seobyektif mungkin, nyaris
tanpa komentar yang miring. Kecenderungan mencari kelemahan-kelemahan
Islam dan umatnya seperti yang dilakukan para orientalis tampaknya tidak
menonjol. Bahkan kekayaan data dan fakta menjadi ciri mereka dalam
mengkaji Islam. Marshal Hodgson misalnya menguraikan peradaban Islam
dalam sejarah dalam sudut pandang integral dan sistemik. Lapidus juga
menawarkan horison baru peradaban Islam lewat analisis-analisisnya yang
multiaspek.

Azyumardi Azra memuji karya Hodgson s ebagai contoh yang sangat baik
tentang penulisan sejarah Islam setelah Perang Dunia II17 dan karya Lapidus
sebagai karya paling lengkap dan komprehensif tentang sejarah
masyarakat-masyarakat Muslim18


Catatan

Edward W Said, Orientalisme, Terj. Asep Hikmat, Bandung: Pustaka Salman,
1996.
M. Amien Rais, Cakrawala Islam, Bandung: Mizan, 1986, hlm.
Ibid., hlm. 234.
Said, Orientalisme, hlm. 143-144.
Ibid., hlm. 143.
Ibid., hlm. 16.
Untuk melihat lebih jelas peran Hurgronje lihat Hamid Algadri, Snouck
Hurgronye, Politik Belanda terhadap Islam dan Keurunan Belanda, Jakarta:
Penerbit Sinar Harapan, 1984. dan Aqib Suminto, Politik Islam Snouck
Hurgronye, Jakarta: LP3ES.
Qasim Al-Samurai, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, Jakarta: Gema Insani
Press, 1996, hlm. 1.
Rais, Cakrawala, hlm. 241.
Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Menyingkap Tabir Orientalisme, Jakarta:
Pustaka al-Kautsar, 1993, hlm. 21.
Maryam Jamilah, Islam dan Orientalisme, Sebuah Kajian Analitik, Terj.
Machnun Husein, Jakarta: Rajawalipers, 1994, hlm. 11.
Ibid.
Said, Orientalisme, hlm. 16.
Azra, Historiografi, hlm. 187.
HAR Gibb, Whiter Islam, hlm. 335 sebagaimana dikutip Amien Rais dalam
Cakrawala, hlm. 240.
Azra, Historiografi, hlm. 187.
Ibid., hlm. 68.
Ibid., hlm. 65.




Kembali ke Jurnal


----------[DKM-ANNAHL; PT.SEIN]-------------
E-mail : masjid_a...@yahoo.com.sg
: masjid_an...@yahoogroups.com
Situs : http://annahl-sein.blogspot.com/
----------[DKM-ANNAHL; PT.SEIN]-------------
--------------------------------------------
Anda ingin menjadi da'i sejuta email??
Kirimkan artikel ini ke saudara2 anda.

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages