LamporKeranda Terbang merupakan film horor Indonesia tahun 2019 yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto. Film ini ditayangkan pada 31 Oktober 2019, bersamaan dengan Love for Sale 2.[1] Film ini dibintangi oleh Adinia Wirasti, Dion Wiyoko, Bimasena, dan Angelia Livie. Meski film ini diperkuat dengan konsep semacam peti jenazah atau keranda, namun film ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan film yang diproduksi serupa, yakni Peti Mati.
Edwin (Dion Wiyoko) dan Netta (Adinia Wirasti) bersama dua anak mereka, Agam (Bimasena) dan Sekar (Angelia Livie), kembali ke kampung Netta di Temanggung. Kampung yang telah ditinggal Netta 25 tahun bersama ibunya yang marah akan perbuatan sesat ayahnya. Netta harus menyampaikan pesan terakhir almarhumah untuk ayahnya. Netta disambut curiga dan dianggap pembawa musibah karena kampungnya sedang dilanda teror Lampor, setan pencabut nyawa yang membawa keranda terbang. Ayahnya juga meninggal tiba-tiba, sebelum Netta tiba. Edwin berusaha membela istrinya dan percaya akan niat baik kedatangannya. Namun satu per satu rahasia terkuak. Skandal busuk dan kejadian mengerikan muncul menghantui dan membuat keluarga ini terancam pecah. Apalagi ketika anak-anak mereka juga nyawanya terancam oleh Lampor. Tidak ada jalan lain bagi Edwin dan Netta selain menghadapi itu semua.
Liputan6.com, Jakarta Lampor adalah istilah yang mungkin belum semua orang mengetahuinya. Mitos yang sudah lama berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur ini kembali mencuat di media sosial. Selain karena filmnya, video-video di media sosial juga menjadi salah satu faktor penting.
Lampor adalah istilah yang dikenal berkaitan dengan keranda terbang di Jawa. Konon katanya, ada makhluk tak kasat mata yang membawa keranda tersebut untuk lalu-lalang di sebuah lokasi. Seseorang yang keluar di malam hari dan melihat lampor tersebut akan hilang tak kembali.
Lampor adalah istilah yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga orang-orang di Pulau Jawa. Mitos ini kerap kali dikaitkan dengan malapetaka dalam bentuk wabah penyakit hingga kematian masal kepada para penduduk suatu daerah atau desa yang dilewatinya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lampor adalah makhluk halus yang berarak. Lampor adalah sebuah mitos kisah mistis dari Jawa yang digambarkan sebagai penampakan keranda terbang sendiri. Lampor adalah kejadian yang biasanya terlihat di malam hari. Konon katanya, ada makhluk tak kasat mata yang membawa keranda tersebut untuk lalu-lalang di sebuah lokasi.
Dari kisahnya, mereka yang keluar di malam hari dan melihat lampor tersebut akan hilang dan tak akan kembali. Cerita lainnya mengatakan bahwa misalnya orang tersebut kembali maka mereka tak akan jadi orang yang sama lagi dengan sebelumnya alias sudah jadi gila.
Lampor adalah cerita mitos yang banyak versinya. Ada pula mitos lain yang menyebut jika lampor adalah salah satu anggota pasukan gaib dari Nyi Roro Kidul. Keranda tersebut diterbangkan oleh angin dari laut Selatan hingga akhirnya terbang melewati daerah-daerah tertentu.
Lampor adalah mitos yang dipercaya bisa membawa malapetaka dalam bentuk wabah penyakit hingga kematian masal kepada para penduduk suatu daerah atau desa yang dilewatinya. Tak heran jika beberapa waktu lau kisah lampor kerap diungkit-ungkit lagi oleh publik, mengingat kondisi pandemi yang semakin memprihatinkan dan merenggut banyak nyawa.
Lampor adalah suatu kejadian yang dipercaya bisa dicegah kedatangannya. Sebagian orang memegang kepercayaan jika ada satu cara yang bisa diterapkan utuk mengusir lampor dari kampung atau desanya, yakni dengan cara beramai-ramai membunyikan kentongan sehingga menimbulkan suara berisik.
Saat angin datang, masyarakat membuat suara gaduh dengan memukul kentongan. Tujuannya, agar lampor tidak mampir ke kawasan itu dan memicu pagebluk alias musibah berupa wabah hingga kematian. Versi lain menyebut wabah yang dibawa lampor bentuk kemarahan Nyi Blorong yang kehilangan selendang.
Beberapa sineas dunia perfilman sendiri sempat mengangkat kisah lampor dalam sebuah film bertajuk Lampor: Keranda Terbang pada tahun 2019. Film tersebut diperankan oleh Dion Wiyoko dan Adinia Wirasti dan mengambil setting lokasi di Temanggung.
Guntur Soeharjanto, sutradara film Lampor: Keranda Terbang yang pernah tinggal di sekitar Temanggung dan Wonosobo menceritakan, ada orang yang meyakini keluarganya diambil lampor atau mati direnggut lampor. Konon, yang dibawa lampor dinyatakan hilang dan tak kembali. Kalaupun kembali jadi orang gila atau linglung.
Edwin (Dion Wiyoko) dan Netta (Adinia Wirasti) bersama dua anak mereka, Agam (Bimasena) dan Sekar (Angelia Livie), kembali ke kampung Netta di Temanggung. Kampung yang telah ditinggal Netta 25 tahun bersama ibunya yang marah akan perbuatan sesat ayahnya. Netta harus menyampaikan pesan terakhir almarhumah untuk ayahnya. Netta disambut curiga dan dianggap pembawa musibah karena kampungnya sedang dilanda teror Lampor, setan pencabut nyawa yang membawa keranda terbang.
Ayahnya juga meninggal tiba-tiba, sebelum Netta tiba. Edwin berusaha membela istrinya dan percaya akan niat baik kedatangannya. Namun satu per satu rahasia terkuak. Skandal busuk dan kejadian mengerikan muncul menghantui dan membuat keluarga ini terancam pecah. Apalagi ketika anak-anak mereka juga nyawanya terancam oleh Lampor. Tidak ada jalan lain bagi Edwin dan Netta selain menghadapi itu semua.
Dion Wiyoko Adinia Wirasti Nova Eliza Rendra Bagus Pamungkas Annisa Hertami Dian Sidik Unique Priscilla Mathias Muchus Steffi Zamora Arnold Leonard Landung Simatupang Bima Sena Angelia Livie Shofia Shireen Djenar Maesa Ayu
Mengangkat tema cerita yang unik, tentang sebuah desa yang masih dihantui oleh Lampor (keranda terbang) dan cara agar selamat adalah untuk tidak melihat dan tidak boleh terlihat oleh Lampor. Cerita yang ditawarkan berlapis-lapis hingga pada saat untuk mengupas satu persatu lapisan ceritanya tidak semua bisa ter-explore. Ada juga momen saat filmnya mulai kehilangan arah dan seperti membuat lapisan cerita baru yang rasanya sangat aneh. Di balik itu, set design dan kearifan lokal yang dibangun sungguh autentik dan performa dari para cast yang tidak mengecewakan.
Bukan masalah banyakan dramanya sih yang ganggu, konsisteni cerita yang dibangunn di awal kok jadi kemana mana ilang sudah pas ditengah cerita sampe ke belakang. Belum lagi kebegoan kebegoan yang muncul...huhuhu sayang bener
Tapi sayangnya ada beberapa hal minus yg mengurangi kualitas Lampor padahal akting, terutama Dion Wiyoko tampil dengan baik.
Pemeran anak disini agak cukup kurang dan Adinia Wirasti tidak dalam performa terbaiknya.
Gak bisa disebut sebagai film horor karena film ini nggak memenuhi syarat sebagai film horor karena film ini enggak coba menakut-nakuti penontonnya. Malahan, lebih bisa disebut sebagai film misteri drama keluarga karena yang disuguhkan di dalam film ini ya masalah keluarga dengan Lampor.
Sebelum memberikan ulasan ala kadarnya, saya ingin memuji Lampor: Keranda Terbang yang menjanjikan teror mencekam dari sosok hantu yang sangat khas Indonesia melalui trailer-nya. Tidak hanya itu, film ini juga menyajikan drama keluarga yang kuat didukung oleh penampilan Adinia Wirasti dan Dion Wiyoko yang chemistry-nya sudah teruji sejak dipertemukan dalam Cek Toko Sebelah. Namun sebuah trailer umumnya hanya menunjukkan adegan-adegan terbaiknya untuk menarik hati penonton. Lalu, apakah film ini berhasil menjadi film horor yang baik secara keseluruhan?
Netta (Adinia Wirasti) dan Edwin (Dion Wiyoko) adalah suami istri sederhana yang tinggal di Medan bersama kedua anak mereka, Adam (Bimasena) dan Sekar (Angelia Livie). Netta tengah berduka karena ibunya (Unique Priscilla) baru meninggal. Berniat menemui ayah Netta, mereka berempat pergi ke kampung halaman Netta di Temanggung. Malangnya, ketika Netta sekeluarga tiba, ayahnya dikabarkan telah meninggal. Ketika tiba di rumah ayahnya, Netta malah dituduh warga kampung bahwa dirinyalah penyebab kedatangan Lampor di kampungnya. Lampor digambarkan sebagai sosok iblis pembawa keranda terbang yang akan menculik siapapun yang bertatap mata dengannya.
Terhadap Lampor, Edwin bagaikan orang kota pada umumnya, menganggap Lampor sebagai takhayul. Sedangkan Netta pada saat kecil pernah menyaksikan adiknya sendiri diculik Lampor. Ia dan ibunya sepakat bahwa Lampor datang karena ayahnya kawin lagi dan memakai ilmu hitam. Pengalaman Netta tersebut belum diketahui Edwin yang skeptis. Walaupun rasional, Edwin memilih untuk menghormati adat setempat, mematuhi jam malam di kampung, hingga ia memercayai adanya Lampor setelah melihat kedatangannya sendiri.
Seperti Edwin, kita dibuat untuk penasaran tentang sebab kemunculan Lampor di kampung. Ia yakin Netta yang berusia 8 tahun bukan pendosa yang mengundang Lampor. Seperti pada Kelam, film ini senantiasa membiarkan penonton berteori mengenai dosa besar apa yang terjadi di dalam keluarga Netta. Kebenaran pada film ini diungkap berangsur-angsur melalui pengenalan anggota keluarga Netta. Ketika suatu hal sudah terbukti benar atau salah, film membuat kita kembali menduga tentang dosa apa yang telah diperbuat. Kebenaran akhir pada film ini disampaikan melalui plot twist yang dimulai adegan yang relatif mudah ditebak, tetapi kebenarannya tetap mengejutkan. Mengejutkan karena menuju akhir film kita mendapati beberapa tokoh yang semula dikira akan berbuat jahat, ternyata justru baik sekali. Sementara itu ada tokoh yang semula akan baik-baik saja ternyata berubah kejam tanpa belas kasih.
Film ini sesunguhnya lebih cocok dikatakan drama keluarga yang dibalut cerita horor lokal. Unsur drama keluarga pada film ini diperkuat penampilan Adinia Wirasti dan Dion Wiyoko yang mendapat peran orang tua. Dalam kondisi kritis, kita akan melihat bagaimana Netta merupakan ibu yang penyayang namun tegas, juga tak ingin melihat anaknya manja. Ia juga rela diculik Lampor asalkan anak-anaknya selamat. Namun yang mencuri perhatian tentu saja karakter Edwin sebagai ayah yang protektif. Pada Us dan Lorong, kita melihat bagaimana perjuangan seorang ibu untuk menyelamatkan anaknya. Pada film ini, sosok ayah lah yang lebih dominan untuk berjuang demi anak-anaknya. Kita akan melihat bagaimana Edwin berjuang mencari anaknya dalam medan yang sulit, hingga ke tempat yang dipercaya sebagai sarang Lampor sekalipun.
3a8082e126