Oleh : Syaikh ‘Imad Thoriq al-Iraqi
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata di dalam Majmû’ Fatawa
wa Rosâ`il al-‘Utsaimîn (26/90-92) :
“Sesungguhnya, wajib bagi para penuntut ilmu untuk menghormati dan
memuliakan para ulama, bersikap lapang dada terhadap perselisihan yang
terjadi diantara mereka dan selainnya, serta memberikan udzur terhadap
mereka yang melakukan kekeliruan di dalam keyakinan mereka. Ini adalah
suatu perkara yang sangat penting, karena ada sejumlah orang yang
gemar mencari-cari kesalahan orang lain dan menjadikannya sebagai
suatu hal yang tidak pantas terhadap mereka serta memburukkan citra
mereka di hadapan manusia. Ini adalah kesalahan yang sangat besar.
Jika menggunjing (meng-ghibah) orang awam saja termasuk dosa
besar , apalagi menggunjing ulama, maka lebih besar dan besar lagi
dosanya. Karena, menggunjing ulama bahayanya tidak hanya terbatas pada
si ulama tersebut saja, namun juga terhadap ilmu syar’i yang
dibawanya.
Apabila manusia mulai merendahkan seorang ulama, atau jatuh
martabatnya di mata mereka, maka akan jatuh pula ilmu yang diembannya.
Apabila yang dikatakan oleh si ulama tersebut adalah kebenaran dan ia
menyeru kepada kebenaran, maka sesungguhnya orang yang melakukan
ghibah terhadap si ulama ini akan menjadi penghalang antara manusia
dengan ilmu yang syar’i (yang diemban ulama tersebut). Hal ini
bahayanya sangat besar dan dahsyat.”
Saya (Syaikh Abul ‘Abbas ‘Imad Thariq al-Iraqi) berkata :
Sesungguhnya, wajib bagi para pemuda tersebut agar memahami bahwa
perselisihan yang terjadi di tengah para ulama adalah berangkat di
atas niat yang baik dan di atas ijtihad, serta memberikan udzur kepada
mereka yang tersalah di dalamnya. Tidaklah mengapa berdiskusi dengan
mereka (para ulama) tentang hal yang mereka yakini tersebut adalah
sebuah kekeliruan, dalam rangka untuk menjelaskan apakah benar
kekeliruan tersebut memang kekeliruan dari mereka ataukah dari ulama
lain yang mengatakan bahwa mereka telah bersalah?! Karena terkadang,
seseorang memahami gambaran bahwa ucapan si ulama tersebut keliru,
namun setelah berdiskusi dengannya, maka menjadi jelaslah bahwa
ucapannyalah yang benar. Sesungguhnya mereka adalah manusia biasa
(yang bisa benar dan keliru, pent.). Nabi ‘Alaihi ash-Sholatu was
Salam bersabda :
كل ابن آدم خطاء، وخير الخطائين التوابون
“Setiap anak keturunan Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik
mereka yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.”
Adapun merasa senang dengan ketergelinciran dan kesalahan ulama, lalu
memperburuk citra mereka di hadapan umat sehingga menimbulkan
perpecahan, maka ini bukanlah termasuk thoriqoh (manhaj) salaf.
Demikian pula (menyikapi) kesalahan para penguasa, tidak boleh bagi
kita menjadikan kesalahan mereka sebagai sarana untuk mencela mereka
dalam segala hal dan mengabaikan kebaikan-kebaikan yang ada pada
mereka. Karena Alloh Ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ
بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا
تَعْدِلُوا
““Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang
selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil.
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong
kamu untuk berlaku tidak adil.”
Yaitu, janganlah dengan sebab kebencian terhadap suatu kaum
menyebabkan kalian tidak adil, karena bersikap adil itu wajib. Untuk
itu, tidaklah diperbolehkan bagi seseorang untuk menggunakan
ketergelinciran penguasa, ulama atau selain mereka untuk memburukkan
citra mereka di hadapan manusia, kemudian mengabaikan kebaikan-
kebaikan mereka, karena sesungguhnya hal ini bukanlah termasuk sikap
adil.
Coba bayangkan apabila hal ini terjadi kepada Anda. Sekiranya ada
seseorang yang berbuat lancang kepada Anda, dia menyebarkan kesalahan
dan keburukan Anda serta menyembunyikan kebaikan dan kebenaran yang
ada pada Anda, maka pasti lah Anda akan menganggapnya sebagai
perbuatan kriminal/kejahatan terhadap diri Anda. Apabila Anda melihat
bahwa hal seperti ini ada pada diri Anda, maka seharusnya Anda juga
wajib berempati kepada orang lain.
Seperti yang telah Saya sebutkan sebelumnya, bahwa solusi untuk
menyelesaikan sesuatu yang Anda anggap salah, hendaknya Anda
menghubungi orang yang Anda anggap keliru tersebut, kemudian Anda ajak
dia berdiskusi sehingga menjadi terang bagaimana sikap (yang benar)
setelah diskusi. Betapa banyak orang yang setelah berdiskusi, dia
rujuk dari pendapatnya kepada pendapat yang lebih benar, yang acap
kali kita duga (pendapat tersebut) yang salah. Karena seorang mukmin
yang satu dengan mukmin yang lainnya itu bagaikan satu bangunan yang
saling menguatkan satu dengan lainnya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
من أحب أن يزحزح عن النار ويدخل الجنة فلتأته منيته وهو يؤمن بالله
واليوم الآخر، وليأت إلى الناس ما يحب أن يؤتى إليه
“Barang siapa yang senang dirinya dijauhkan dari api neraka, dan
dimasukkan ke dalam surga, hendaknya ia ketika wafatnya dalam keadaan
beriman kepada Alloh dan hari akhir. Serta hendaknya ia memperlakukan
orang lain dengan perilaku yang ia suka untuk diperlakukan dengannya.”
Dan yang dimaksud adalah perilaku adil dan istiqomah.
Sumber : Makalah berjudul “الفرح بزلة العالم وإشاعتها ليس من طريقة
السلف , والسكوت عن حسناتهم ليس من العدل” (
http://kulalsalafiyeen.com/
vb)