Tahapan Penciptaan Manusia dan Garis Takdirnya

34 views
Skip to first unread message

admin

unread,
Jan 19, 2011, 10:59:46 AM1/19/11
to Manhaj al-I'tidal
Dari Abu 'Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anh, dia
berkata bahwa: Rasulullah telah bersabda,

"Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim
ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi 'Alaqoh
(segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal
daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan
ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki,
Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan
selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli
surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali
sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia
melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara
kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi
jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia
didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga
dan ia masuk surga.

Faedah-faedah dari hadits di atas:
1. Fase perkembangan janin didalam rahim

Hadits ini menunjukkan bahwa janin berubah bentuk dalam 120 hari
melalui tiga fase. Setiap fase terjadi selama empat puluh hari. Pada
empat puluh hari pertama berupa nuthfah (sperma), kemudian empat puluh
hari kedua berupa ‘alaqah (segumpal darah yang menggantung), kemudian
pada empat puluh hari yang ketiga berupa mudhghah (segumpal daging).
Setelah 120 hari malaikat meniupkan ruh dan menuliskan untuknya empat
kalimat. Allah ta’ala sungguh telah menyebutkan didalam kitab-Nya
tentang perubahan janin pada fase-fase ini. Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا
خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ
ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ
لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ
مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ
لِكَيْلا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً
فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ
وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari
kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari
tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah,
kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak
sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam
rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan,
kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-
angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang
diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya
sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang
dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian
apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan
suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
(Q.S. Al-hajj : 5)

Allah ta’ala juga berfirman yang artinya:
Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani
(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu
Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang,
lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami
jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah,
Pencipta yang paling baik. (Q.S. Al Mukminun : 12-14)
Pada ayat ini Allah menyebutkan empat fase yang disebutkan dalam
hadits dan menambahnya dengan tiga fase yang lain sehingga jadilah
tujuh fase. Ibnu Abbas mengatakan, “Bani adam diciptakan pada tujuh
fase kemudian ia membaca ayat ini.

2. Ditiupkannya ruh setelah genap empat bulan, hal ini berdasarkan
sabda Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam, “Kemudian diutus kepadanya
seorang malaikat lalu dia meniupkan kepadanya ruh”
Dari hal ini dibangun hukum berikut:
• Jika janin gugur setelah ditiupkannya ruh maka ia dimandikan,
dikafani, dishalatkan, dikuburkan dipemakaman kaum muslimin, diberi
nama dan diakikahi. Hal ini karena ia telah menjadi manusia maka
berlaku padanya hukum sebagaimana manusia yang lain.
• Terlarangnya menggugurkan kandungan setelah ditiupkan ruh dalam
keadaan apapun. Jika ruh telah ditiupkan maka kandungan tidak boleh
digugurkan karena jika ia menggugurkannya berarti telah membunuh janin
yang telah menjadi manusia.

3. Ilmu Allah
Sesungguhnya Allah ta’ala mengetahui keadaan makhluknya sebelum para
makhluk diciptakan. Tidak akan muncul sedikitpun dari mereka baik
berupa iman, ketaatan, kekufuran, kemaksiatan, kebahagian, kecelakaan
melainkan Allah telah mengetahuinya dan menghendakinya. Sungguh sangat
banyak dalil-dalil yang menyebutkan tentang kitab yang mendahului
(penciptaan). Pada shahih bukhari disebutkan hadits dari ‘Ali bin Abi
Thalib radiyallahu anhu dari Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda, ”Tidak ada satu jiwapun yang dilahirkan melainkan Allah
pasti telah mencatat tempat kembalinya di surga ataukah di neraka dan
melainkan telah ditetapkan celaka atau bahagia. Maka ada seseorang
berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah kita tinggal diam bersandar pada
kitab dan tidak beramal? Lalu Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “beramalah karena setiap orang dimudahkan terhadap apa-apa
yang telah diciptakan baginya, adapun orang yang bakal bahagia akan
dimudahkan untuk melakukan amalan orang yang bahagia dan orang yang
bakal celaka akan dimudahkan melakukan amalan orang yang celaka,
kemudian beliau membaca,
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى . وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.
Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga). (QS Al Lail :
5-6)
Meskipun demikian Ilmu Allah tidaklah menghilangkan adanya ihtiyar dan
kehendak hamba, karena ilmu adalah sifat yang tidak memberikan
pengaruh. Allah telah memerintahkan makhluk-Nya untuk beriman dan
taat, melarang mereka dari kekufuran dan maksiat maka hal ini
merupakan bukti bahwa hamba memiliki pilihan dan kehendak terhadap hal-
hal yang ia inginkan. Jika tidak demikian tentu perintah dan larangan
Allah hanyalah sesuatu yang sia-sia belaka. Allah ta’ala berfirman,
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا .فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا .قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا .وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan Sesungguhnya
merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. Asy Syams : 7-10)

4. Berhujjah/beralasan dengan takdir
Allah benar-benar telah memerintah kita untuk beriman kepada-Nya dan
mentaatinya serta melarang kita dari kekafiran dan maksiat kepada-Nya.
Inilah yang kewajiban kita. Apapun yang ditakdirkan Allah bagi kita
maka kita tidak mengetahuinya (kecuali setelah terjadinya, pent).
Selain itu kita juga tidak akan ditanya tentang hal tersebut. Oleh
karena itu orang yang melakukan kesesatan, kekufuran dan kefasikan
tidak boleh berhujah dengan takdir, dengan catatan maupun kehendak
Allah, kecuali setelah perkara tersebut terjadi. Allah berfirman,
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ
وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-
orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan
kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S. At
Taubah : 105)
Adapun setelah terjadinya sesutau yang telah ditakdirkan maka
dibolehkan berhujah dengan takdir karena seorang mukmin akan
mendapatkan ketenangan ketika tunduk terhadap ketetapan Allah.
Ketetapan Allah bagi seorang mukmin terjadi dengan semuanya membawa
kebaikan, baik hal itu berupa kesenangan maupun kesusahan.

5. Amal itu tergantung akhirnya
Imam bukhari meriwayatkan dari Sahl bin sa’ad dari Nabi shallallhu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Hanyalah amal-amal itu tergantung
pada akhirnya.” Maknanya bahwasanya orang yang telah ditetapkan
baginya berupa keimanan serta ketaatan pada akhir hidupnya, terkadang
pada suatu ketika dia ingkar kepada Allah dan bermaksiat kepadanya,
kemudian Allah memberinya taufiq untuk beriman dan mentaati-Nya di
masa-masa akhir sebelum berakhir umurnya, lalu ia mati dalam keadaan
yang demikian maka ia masuk surga. Adapun orang yang telah ditetapkan
baginya kekufuran dan kefasikan pada akhir hidupnya, terkdaang pada
suatu ketika ia beriman dan taat, kemudian Allah mentelantarkannya
dengan sebab kehendak, usaha serta perbuatan hamba tersebut. Lalu
orang tersebut mengucapkan kalimat kekufuran, beramal dengan amalan
penduduk neraka dan mati dalam keadaan yang demikian maka ia masuk
neraka.
Hendaknya kita tidak tertipu dengan sesuatu yang nampak dari manusia
karena sesungguhnya yang menjadi ibrah/pelajaran adalah keadaan
akhirnya. Kita memohon kepada Allah keteguhan di atas kebenaran dan
kebaikan serta husnul khatimah.



http://serambimadinah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=60:tahapan-penciptaan-manusia-dan-garis-takdirnya&catid=41:hadits&Itemid=66

__._,_.___
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages