BAROMETER AKHLAK MULIA

5 views
Skip to first unread message

admin

unread,
Jan 19, 2011, 11:02:34 AM1/19/11
to Manhaj al-I'tidal
Oleh: Abdullah Zaen, MA


Alhamdulillahi wahdah, wash shalatu wassalamu 'ala rasulillah…

Prolog

"Masya Allah, akhlak pak anu bagus banget lho!" kata seorang bapak-
bapak 'mempromosikan' rekan kerjanya.

" Buktinya apa pak?" tanya lawan bicaranya.

"Kalau di kantor ia ramah banget, apalagi kalo sedang berhadapan
dengan bosnya!" jawabnya.

"Wuih, bu anu akhlaknya baik banget!" komentar seorang ibu-ibu tatkala
membicarakan salah satu tetangganya.

"Darimana ibu tau?" tanya temannya.

"Itu lho jeng, kalau di arisan RT, dia tuh ramah banget!" sahutnya.



Begitulah kira-kira cara kebanyakan kita menilai mulia-tidaknya akhlak
seseorang. Sebenarnya, pola penilaian seperti itu tidaklah mutlak
keliru. Hanya saja kurang jeli. Sebab sangat memungkinkan sekali
seseorang itu memiliki dua akhlak yang diterapkannya pada dua
kesempatan yang berbeda. Berakhlak mulia di satu tempat, tetapi tidak
demikian di tempat yang lain. Itu tergantung kepentingannya.

Lantas, bagaimanakah Islam membuat barometer penilaian kemuliaan
akhlak seorang itu? Tulisan berikut berusaha sedikit mengupas
permasalahan tersebut.

Islam Agama Akhlak

Di antara tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad
shallallahu'alaihiwasallam, selain untuk menegakkan Tauhid di muka
bumi, adalah dalam rangka menyempurnakan akhlak umat manusia.
Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau,

"بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ"

"Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia". HR. Al-Hakim dan
dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani.

Sedemikian besar perhatiannya terhadap perealisasian akhlak, Islam
tidak hanya menjelaskan hal ini secara global, namun juga
menerangkannya secara terperinci. Bagaimanakah akhlak seorang muslim
kepada Rabbnya, keluarganya, tetangganya, bahkan kepada hewan dan
tetumbuhan sekalipun!

Di antara hal yang tidak terlepas dari sorotannya ialah penjelasan
tentang barometer akhlak mulia. Yakni, kapankah seseorang itu berhak
dinilai memiliki akhlak mulia. Atau dengan kata lain: sisi apakah yang
bisa dijadikan jaminan bahwa seseorang itu akan berakhlak mulia pada
seluruh sisi kehidupannya apabila ia telah berakhlak mulia pada sisi
yang satu itu?

Barometer Akhlak Mulia

Panutan kita Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam menjelaskan
permasalahan di atas dalam sabdanya,

"خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي"

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan
akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan
keluargaku". HR. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini
hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan al-Albani menilai hadits tersebut
sahih.

Hadits di atas terdiri dari dua bagian. Pertama, penjelasan tentang
barometer akhlak mulia. Kedua, tentang siapakah yang pantas dijadikan
panutan dalam hal tersebut.

Dalam kaitan dengan hal di atas, penulis berusaha sedikit mengupas dua
bagian tersebut di atas semampunya:

Pertama: Mengapa berakhlak mulia kepada keluarga, terutama terhadap
istri dan anak-anak, dijadikan barometer kemuliaan akhlak seseorang?

Sekurang-kurangnya, wallahua'lam, ada dua hikmah di balik peletakan
barometer tersebut[1]:

a. Sebagian besar waktu yang dimiliki seseorang dihabiskan di dalam
rumahnya bersama istri dan anak-anaknya. Andaikata seseorang itu bisa
bersandiwara dengan berakhlak mulia di tempat kerjanya –yang itu hanya
memakan waktu beberapa jam saja- belum tentu ia bisa bertahan untuk
terus melakukannya di rumahnya sendiri. Dikarenakan faktor panjangnya
waktu yang dibutuhkan untuk 'bersandiwara'. Justru yang terjadi, saat-
saat itulah terlihat akhlak aslinya.

Ketika bersandiwara, bisa saja dia membuat mukanya manis, tutur
katanya lembut dan suaranya halus. Namun, jika itu bukanlah watak
aslinya, dia akan sangat tersiksa dengan akhlak palsunya itu jika
harus dipertahankan sepanjang harinya.

Kebalikannya, seseorang yang memang pembawaan di rumahnya berakhlak
mulia, insya Allah secara otomatis ia akan mempraktekkannya di manapun
berada.

b. Di tempat kerja, ia hanyalah berposisi sebagai bawahan, yang
notabenenya adalah lemah. Sebaliknya, ketika di rumah ia berada di
posisi yang kuat; karena menjadi kepala rumah tangga. Perbedaan posisi
tersebut tentunya sedikit-banyaknya berimbas pula pada sikapnya di dua
alam yang berbeda itu.

Ketika di kantor, ia musti menjaga 'rapor'nya di mata atasan. Hal mana
yang membuatnya harus berusaha melakukan apapun demi meraih tujuannya
itu. Meskipun untuk itu ia harus memoles akhlaknya untuk sementara
waktu. Itu tidaklah masalah. Yang penting karirnya bisa terus menanjak
dan gajinya pun bisa ikut melonjak.

Adapun di rumah, di saat posisinya kuat, dia akan melakukan apapun
seenaknya sendiri, tanpa merasa khawatir akan dipotong gajinya ataupun
dipecat.

Demikianlah itulah kondisi orang yang berakhlak mulia karena
kepentingan duniawi. Lalu bagaimanakah halnya dengan orang yang
berakhlak mulia karena Allah? Ya, dia akan terus berusaha
merealisasikannya dalam situasi dan kondisi apapun, serta di manapun
ia berada. Sebab ia merasa selalu di bawah pengawasan Dzat Yang Maha
melihat dan Maha mengetahui.

Kedua: Beberapa potret kemuliaan akhlak Nabi shallallahu'alaiwasallam
terhadap keluarganya.

Sebagai teladan umat, amatlah wajar jika praktek keseharian Nabi
shallallahu'alaihiwasallam dalam bergaul dengan keluarganya kita
pelajari. Dan tentu saja lautan kemuliaan akhlak beliau terhadap
keluarganya tidak bisa dikupas dalam lembaran-lembaran tipis ini. Oleh
karena itu, di sini kita hanya akan menyampaikan beberapa contoh saja.
Hal itu hanya sekadar untuk memberikan gambaran akan permasalahan ini.

a. Turut membantu urusan 'belakang'.

Secara hukum asal, urusan dapur dan tetek bengeknya memang merupakan
kewajiban istri. Namun, meskipun demikian, hal ini tidak menghalangi
Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam untuk ikut turun tangan membantu
pekerjaan para istrinya. Dan ini tidak terjadi melainkan karena
sedemikian tingginya kemuliaan akhlak yang beliau miliki.

عن عروة قال قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ
كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟
قَالَتْ: "مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ
نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ"

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang
dikerjakan Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam tatkala bersamamu (di
rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang
dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya.
Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di
ember”. HR. Ibnu Hibban.

Subhanallah! Di tengah kesibukannya yang luar biasa padat mengurusi
umat, beliau masih bisa menyempatkan diri mengerjakan hal-hal yang
dipandang rendah oleh banyak suami di zaman ini! Andaikan saja para
suami-suami itu mau mempraktekkan hal-hal tersebut, insyaAllah
keharmonisan rumah tangga mereka akan langgeng.

b. Berpenampilan prima di hadapan istri dan keluarga.

Berikut Aisyah, salah seorang istri Rasul shallallahu'alahiwasallam
menyampaikan pengamatannya;

"أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ
بَدَأَ بِالسِّوَاكِ"

“Adalah Nabi shallallahu'alahiwasallam jika masuk ke rumahnya, hal
yang pertama kali beliau lakukan adalah bersiwak”. HR. Muslim.

Bersiwak ketika pertama kali masuk rumah??! Suatu hal yang mungkin
tidak pernah terbetik di benak kita. Tetapi, begitulah cara Nabi kita
shallallahu'alahiwasallam menjaga penampilannya di hadapan istri dan
putra beliau. Ini hanya salah satunya lho! Dan beginilah salah satu
potret kemuliaan akhlak Rasulullah kepada keluarganya.

c. Tidak bosan untuk terus menasehati istri dan keluarga.

Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam mengingatkan,

"أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا"

“Ingatlah, hendaknya kalian berwasiat yang baik kepada para istri”.
HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh al-Albani.

Timbulnya riak-riak dalam kehidupan rumah tangga merupakan suatu hal
yang lumrah. Namun, jika hal itu sampai mengotori keharmonisan jalinan
kasih sayang antara suami dan istri, atau bahkan menghancurkan bahtera
pernikahan, justru sangatlah berbahaya. Agar mimpi buruk itu tidaklah
terjadi, seyogyanya ditumbuhkan budaya saling memahami dan kebiasaan
saling menasehati antara suami dan istri.

Daripada itu, benih-benih kesalahan yang ada dalam diri pasangan suami-
istri hendaknya tidaklah didiamkan begitu saja hanya karena dalih
menjaga keharmonisan rumah tangga. Justru sebaliknya, kesalahan-
kesalahan itu harus segera diluruskan. Dan tentunya hal itu harus
dilakukan dengan cara yang elegan: tutur kata yang lembut, raut muka
yang manis dan metode yang tidak menyakiti hati pasangannya.

Epilog

Semoga tulisan sederhana ini bisa dijadikan sebagai salah satu sarana
instrospeksi diri –terutama bagi mereka yang menjadi panutan orang
banyak, seperti: da'i, guru, ustadz dan yang semisalnya- untuk terus
berusaha meningkatkan kualitas muamalah para panutan itu terhadap
keluarga mereka masing-masing. Jika sudah demikian, berarti mereka
telah betul-betul berhasil menjadi Qudwah luar maupun dalam. Wallahu
a'la wa a'lam.


Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi'ul Awal 1431

Footnote :

[1] Disarikan dari kitab al-Mau'izhah al-Hasanah fi al-Akhlâq al-
Hasanah, karya Syaikh Abdul Malik Ramadhâni (hal. 77-79).

Sumber :
http://serambimadinah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=98:barometer-akhlak-mulia&catid=59:managemen-qolbu&Itemid=54
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages