HIKMAH DIBALIK TURUNNYA AL-QUR’AN SELAMA 20 TAHUN.
Dua puluh dua tahun dua bulan dan dua puluh dua hari lamanya, ayat-ayat Al-Quran silih berganti turun, dan selama itu pula Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya tekun mengajarkan Al-Quran, dan membimbing umatnya. Sehingga, pada akhirnya, mereka berhasil membangun masyarakat yang di dalamnya terpadu ilmu dan iman, nur dan hidayah, keadilan dan kemakmuran di bawah lindungan ridha dan ampunan Ilahi.
Kita dapat bertanya mengapa 20 tahun lebih, baru selesai dan berhasil? Boleh jadi jawabannya dapat kita simak dari hasil penelitian seorang guru besar Harvard University, yang dilakukannya pada 40 negara, untuk mengetahui faktor kemajuan atau kemunduran negara-negara itu.
Salah satu faktor utamanya -menurut sang Guru Besar- adalah materi bacaan dan sajian yang disuguhkan khususnya kepada generasi muda. Ditemukannya bahwa dua puluh tahun menjelang kemajuan atau kemunduran negara-negara yang ditelitinya itu, para generasi muda dibekali dengan sajian dan bacaan tertentu. Setelah dua puluh tahun generasi muda itu berperan dalam berbagai aktivitas, peranan yang pada hakikatnya diarahkan oleh kandungan bacaan dan sajian yang disuguhkan itu. Demikian dampak bacaan, terlihat setelah berlalu dua puluh tahun, sama dengan lama turunnya Al-Quran.
Kalau demikian, jangan menunggu dampak bacaan terhadap anak-anak kita kecuali 20 tahun kemudian. Siapa pun boleh optimis atau pesimis, tergantung dari penilaian tentang bacaan dan sajian itu. Namun kalau melihat kegairahan anak-anak dan remaja membaca Al-Quran, serta kegairahan umat mempelajari kandungannya, maka kita wajar optimis, karena kita sepenuhnya yakin bahwa keberhasilan Rasul dan generasi terdahulu dalam membangun peradaban Islam yang jaya selama sekitar delapan ratus tahun, adalah karena Al-Quran yang mereka baca dan hayati mendorong pengembangan ilmu dan teknologi, serta kecerahan pikiran dan kesucian hati. Kita wajar optimis, melihat kesungguhan pemerintah menangani pendidikan, serta tekadnya mencanangkan wajib belajar.
Ayat "wa tawashauw bil haq" dalam QS Al-'Ashr [103]: 3 bukan saja mencanangkan "wajib belajar" tetapi juga "wajib mengajar." Bukankah tawashauw berarti saling berpesan, saling mengajar, sedang al-haq atau kebenaran adalah hasil pencarian ilmu? Mencari kebaikan menghasilkan akhlak, mencari keindahan menghasilkan seni, dan mencari kebenaran menghasilkan ilmu. Ketiga unsur itulah yang menghasilkan sekaligus mewarnai suatu peradaban.
Penulis: Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA
InsyaAllah bermanfaat.
Wass,
Salam ShemangatzZz,
Lihat semua topik:
https://groups.google.com/forum/#!forum/majelis-ilmu-114
Tambahkan sahabat dengan mengirimkan email ke:
Ass.Wr.Wb,
Sahabat MI-114 kemarin Pak Tantra menyampaikan leaflet mengenai Al-Qur’an Karim Tarjamah Tafsiriyah yang ditafsirkan oleh Majelis Mujahidin. Berikut ini adalah beberapa cuplikan info seputar Al-Qur’an dimaksud. InsyaAllah bermanfaat.
“Al Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitkan Depag sudah berusia 50 tahun, maka perlu adanya pembaharuan serta perbaikan. Maka kami sangat mendukung terbitnya Tarjamah Tafsiriyah ini demi perbaikan terjemah yang sudah ada.”
(Drs. Kamal Muchtar, Sekretaris Mutarjim awal Al Qur’an dan Terjemahnya).
“Selamat! Saya menyambut baik atas terbitnya Al Qur’an Tarjamah Tafsiriyah dari Majelis Mujahidin. Semoga bermanfaat bagi kepentingan umat.”
(Dr. Muhlis M Hanafi, MA, Ketua Pengkajian Al-Qur’an Balitbang dan Pelatihan Kemenag RI).
“Al Qur’an Tarjamah Tafsiriyah oleh Ustadz Muhammad Thalib ini merupakan ‘disertasi’ yang membuka sejarah baru pemaknaan Al-Qur’an. Satu-satunya karya ilmiah yang mengoreksi Al Qur’an Terjemah Departemen Agama, saya kira merupakan kontribusi bagi kehidupan berbangsa yang patut dibaca.”
(Prof. Dr. Amin Abdullah, mantan Rektor IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta).
“Inilah terjemahan Al-Qur’an yang sangat luar biasa. Penerjemahan yang bersifat tafsiriyah ini akan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Islam dan mencegah timbulnya salah tafsir tentang jihad dan terorisme. Terjemahan Qur’an terbitan Majelis Mujahidin ini adalah sebuah revolusi berpikir yang akan menghapus citra buruk Islam sebagai agama kekerasan. Majelis Mujahidin Indonesia adalah gerakan para ulama mujahid yang telah menyumbangkan cara berpikir baru dalam penegakan Syariat Islam, tidak hanya untuk konteks Indonesia, namun juga akan mempengaruhi dunia Islam secara keseluruhan.
(Al-Haedar, pengamat Terorisme).
Penerjemahan Al-Qur’an adalah masalah agama, bila salah maka akan salah pula dalam memahami agama. Hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, kami mengharap Majelis Mujahidin dapat menjelaskan persoalan ini secara langsung kepada Menteri Agama, begitu juga MUI akan membahas dan menemui Menteri Agama agar kita dapat bersama-sama memperhatikan dan memikirkan masalah ini.
(Pimp. MUI Pusat dalam audiensi dengan MMI).
MMI: ADA 3229 AYAT SALAH TERJEMAH DARI AL QUR'AN KEMENAG
Senin pagi (31/10) Majelis Mujahidin Indonesia (MMI),
menggelar Grand Launching Tarjamah Tafsiriyah Al-Qur’an di The Sultan
Hotel, Jakarta pukul 09:00. Acara bertajuk Revolusi Pemahaman Makna Al Qur’an
ini bertujuan memperkenalkan Terjemah tafsiriyah versi baru sebagai jawaban
atas banyaknya kesalahan terjemah Al Qur’an versi Kementerian Agama Republik
Indonesia.
Hadir dalam acara perwakilan Kemenag, MUI, PBNU, HTI, Kodam, Kepolisian, BNPT,
dan tokoh-tokoh lainnya.
Ustadz Muhammad Thalib selaku penyusun menyatakan telah
menghabiskan waktu selama 10 tahun untuk menyusun Tarjamah Tafsiriyah Al Qur’an
versi baru ini. “Dari tahun 2001, saya mulai menyusun Al Qur’an Terjemah
Tafsiriyah dengan melibatkan berbagai kitab,” katanya.
Amir MMI kelahiran 1948 ini dikenal sebagai ulama yang menempuh pendidikan di
Pesantren PERSIS Bangil dan berguru langsung dengan A. Hassan. Lebih dari 400
buku pun pernah dikarang dan diterjemahkannya yang meliputi berbagai bidang
keIslaman.
Di kesempatan yang sama, Ustadz Irfan S. Awwas selaku ketua Lajnah Tanfidziyyah
MMI membeberkan banyaknya kesalahan terjemah dari Al Qur’an versi Kemenag.
Menurutnya, ada 3229 ayat salah terjemah terkait masalah tauhid, syari’ah, dan
mu’amalah. “Namun yang paling fatal ada 172 ayat,” tegasnya.
Sebagai contoh adalah terjemahan surah Annisa: 20. Dalam terjemah versi Kemenag
terjadi kesalahan dalam penerjemahan. 'Dan jika kamu ingin mengganti
isterimu dengan isteri yang lain.'
Dijelaskan dalam footnote, mengganti isterimu dengan isteri yang lain,
maksudnya ialah: menceraikan isteri yang tidak disenangi dan kawin dengan
isteri yang baru. Nampaknya, penerjemah kesulitan membedakan status istri dan
perempuan dalam logika bahasa Indonesia.
“Bukankah isteri adalah perempuan bersuami? Apakah Islam atau hukum Negara
membolehkan mengawini perempuan bersuami? Maka kalimat mengganti isterimu
dengan isteri yang lain jelas terjemah harfiyah yang keliru dari maksud ayat diatas,”
paparnya panjang lebar di depan podium.
Terjemah yang sama juga terdapat pada Al Qur’an karangan Quraish Shihab, yang
tertulis: 'Jika kamu ingin mengganti pasangan (isteri) dengan pasangan
lain.' Terjadi penggunaan kata pasangan dalam menerjemahkan surah Annisa
ayat 20 ini.
“Terjemahan (Quraish Shihab) ini lebih ngaco lagi,” paparnya yang juga
diberikan amanah sebagai penerbit dari Al Qur’an Tarjamah Tafsiriyah ini.
Menurut Ustadz Irfan maka terjemah yang pas dari surah Annisa itu adalah: 'Wahai
para suami, jika kalian ingin menceraikan istri kalian, lalu menikah dengan
perempuan lain.'
“Terjemah ini pasti tidak menimbulkan kesalahan pahaman.” Imbuhnya di hadapan
para ulama dan tokoh masyarakat itu.
Terjemah Al Qur’an versi Kemenag sendiri keluar pertama kali pada tahun 1965.
Sebelumnya Majelis Permusyawaratan Sementara pada tahun 1960 sudah menjadikan
terjemahan bahasa Indonesia dari Al Qur’an sebagai agenda nasional. Di ujung
pemerintahan Soekarno, Al Qur’an terjemahan bahasa Indonesia akhirnya diwujudkan.
Majelis Mujahidin Indonesia, Senin pagi (29/10), merilis Al Qur’an terjemah versi baru. Hal itu untuk mengkoreksi terjemahan Al Qur'an keluaran Depag pada tahun 1965 dan di tahun-tahun selanjutnya sempat mendapatkan revisi.
Menurut MMI setidaknya kekeliruan itu menyebar di 3229 ayat
dalam penerjamahan dari Kemenag RI (dulu Depag) khususnya menyangkut problem
terorisme, liberalisme, dekadensi moral, aliran sesat dan hubungan antar umat beragama.
Berikut beberapa ayat yang kami cuplik.
Surah Al Ahzab ayat 51
Terjemah Harfiyah Depag, “Dan siapa-siapa yang kamu ingin untuk menggaulinya
kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu”
Menurut MMI terjemahan ini bisa menyesatkan karena Nabi Muhammad SAW tidak
pernah menceraikan istrinya. Oleh karena itu mustahil bagi beliau untuk
menggauli perempuan yang telah dicerai, apalagi tanpa rujuk. Walhasil, kondisi
diatas bertentangan dengan fakta sejarah dan akhlak beliau yang terpuji.
Menurut MMI, Terjemah Tafsiriyah yang pas adalah: Wahai Nabi, engkau boleh
menangguhkan giliran bagi istrimu mana saja yang engkau kehendaki. Engkau boleh
mendahulukan giliran bagi istrimu mana saja yang engkau kehendaki. Kamu
tidak berdosa meminta penukaran jadwal giliran bermalam kepada siapa saja
diantara istrimu.
Surah Annur ayat 60
Terjemah Harfiyah Depag: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari
haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas dosa
meninggalkan pakaian mereka."
Dalam bahasa Indonesia, kata menanggalkan pakaian memiliki arti telanjang,
sedangkan aurat bermakna sebagai kemaluan. Ustadz Muhammad Thalib
mempertanyakan apakah benar ayat ini membolehkan perempuan menopause telanjang
di depan umum dengan hanya mengenakan BH dan celana dalam.
Maka itu Terjemah Tafsiriyah menurut MMI yang tepat adalah: Perempuan-perempuan
yang sudah tidak haid dan tidak lagi ingin berhubungan seksual, maka mereka
tidak berosa melepaskan kerudung pelengkap pakaian mereka, selama kepala, leher
dan dada tetap tertutup. Tetapi jika mereka tetap mengenakan kerudung
pelengkap, hal itu lebih baik. Allah Maha Mengetahui niat mereka.
Surah Al Ahzab ayat 61
Terjemah harfiyah Depag, “Dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai,
mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya.”
Menurut MMI, kalimat dibunuh dengan sehebat-hebatnya dalam terjemah
Depag versi lama dan dibunuh tanpa ampun dalam terjamah Kemenag versi baru
merupakan terjemah harfiah dari kata quttiluu taqtiila. Menurut MMI
kedua terjemah ini sangatlah keliru, karena kata quttiluu yang berwazan fu’-‘ilu
artinya bukan dibunuh melainkan dibunuh sebagian besar.
Kemudian kata ‘sehebat-hebatnya’ atau ‘tanpa ampun’ sebagai terjemah taqtiilaa
juga menyisakan persoalan. Dalam pandangan Ustadz Muhammad Thalib, kata taqtilaa
hanya berfungsi sebagai penegasan bukan berfungsi menyatakan sifat atau cara
membunuh yang tersebut pada ayat ini.
Karenanya, dalam analisa lebih jauh, terjemah ini berpotensi membenarkan tindakan
kejam terhadap non muslim. Padahal Islam secara mutlak melawan tindakan kejam
terhadap musuh. Maka terjemah tafsiriyyah yang pas menurut MMI adalah: Orang-orang
yang menciptakan keresahan di Madinah itu akan dilaknat. Wahai kaum mukmin,
jika mereka tetap menciptakan keresahan di Madinah, tawanlah mereka dan
sebagian besar dari mereka benar-benar boleh dibunuh dimanapun mereka berada.
Sumber:
http://majelismujahidin.com/al-quran-tarjamah-tafsiriyah/
http://alqurantafsiriyah.blogspot.com/
email: majelis...@yahoo.com
blog: majelisilmu114.wordpress.com
AYAT-AYAT SAJADAH
Ayat Sajadah adalah ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an yang bila dibaca disunnahkan bagi yang membaca dan mendengarnya untuk melakukan sujud tilawah.
AYAT-AYAT SAJADAH.
KEUTAMAAN AYAT SAJADAH DAN SUJUD TILAWAH
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.”. (HR. Muslim nomor 81).
HUKUM SUJUD TILAWAH.
Pada hari Jum’at Umar bin Khattab pernah membacakan surat An Nahl hingga sampai pada ayat sajadah, beliau turun untuk sujud dan manusia pun ikut sujud ketika itu. Ketika datang Jum’at berikutnya, beliau membaca ayat sajadah lantas berkata, “Wahai sekalian manusia. Kita telah melewati ayat sajadah. Barangsiapa bersujud, maka dia mendapatkan pahala. Barangsiapa yang tidak bersujud, dia tidak berdosa.” Kemudian ‘Umar pun tidak bersujud. (HR. Bukhari nomor 1077).
BACAAN KETIKA SUJUD TILAWAH
Bacaan ketika sujud tilawah sama seperti bacaan sujud ketika shalat. Ada beberapa bacaan yang bisa kita baca ketika sujud di antaranya:
Sumber:
Wass.Wr.Wb,
MI-114
majelis.ilmu114(at)yahoo.com
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Majelis Ilmu 114" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke majelis-ilmu-114+berhenti berlan...@googlegroups.com .
MUKJIZAT AL-QURAN - MEMBERITAKAN PERISTIWA YANG AKAN TERJADI DI MASA DEPAN
Sisi keajaiban lain dari Al Qur'an adalah ia memberitakan terlebih dahulu sejumlah peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Ayat ke-27 dari surat Al Fath, misalnya, memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan menaklukkan Mekah, yang saat itu dikuasai kaum penyembah berhala:
"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rosul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui, dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Al Qur'an, 48:27).
Ketika kita lihat lebih dekat lagi, ayat tersebut terlihat mengumumkan adanya kemenangan lain yang akan terjadi sebelum kemenangan Mekah. Sesungguhnya, sebagaimana dikemukakan dalam ayat tersebut, kaum mukmin terlebih dahulu menaklukkan Benteng Khaibar, yang berada di bawah kendali Yahudi, dan kemudian memasuki Mekah.
Pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan hanyalah salah satu di antara sekian hikmah yang terkandung dalam Al Qur'an. Ini juga merupakan bukti akan kenyataan bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah, Yang pengetahuan-Nya tak terbatas. Kekalahan Bizantium merupakan salah satu berita tentang peristiwa masa depan, yang juga disertai informasi lain yang tak mungkin dapat diketahui oleh masyarakat di zaman itu.
Yang paling menarik tentang peristiwa bersejarah ini, adalah bahwa pasukan Romawi dikalahkan di wilayah terendah di muka bumi. Ini menarik sebab "titik terendah" disebut secara khusus dalam ayat yang memuat kisah ini. Dengan teknologi yang ada pada masa itu, sungguh mustahil untuk dapat melakukan pengukuran serta penentuan titik terendah pada permukaan bumi. Ini adalah berita dari Allah yang diturunkan untuk umat manusia, Dialah Yang Maha Mengetahui.
KEMENANGAN BIZANTIUM
Penggalan berita lain yang disampaikan Al Qur'an tentang peristiwa masa depan ditemukan dalam ayat pertama Surat Ar Ruum, yang merujuk pada Kekaisaran Bizantium, wilayah timur Kekaisaran Romawi. Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa Kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar, tetapi akan segera memperoleh kemenangan.
"Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)." (Al Qur'an, 30:1-4).
Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)
Pendek kata, setiap orang menyangka Kekaisaran Bizantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ayat pertama Surat Ar Ruum diturunkan dan mengumumkan bahwa Bizantium akan mendapatkan kemenangan dalam beberapa tahun lagi. Kemenangan ini tampak sedemikian mustahil sehingga kaum musyrikin Arab menjadikan ayat ini sebagai bahan cemoohan. Mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan Al Qur'an takkan pernah menjadi kenyataan.
Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.).
Akhirnya, "kemenangan bangsa Romawi" yang diumumkan oleh Allah dalam Al Qur'an, secara ajaib menjadi kenyataan.
Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu.
Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan "Adnal Ardli" dalam bahasa Arab, diartikan sebagai "tempat yang dekat" dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata "Adna" dalam bahasa Arab diambil dari kata "Dani", yang berarti "rendah" dan "Ardl" yang berarti "bumi". Karena itu, ungkapan "Adnal Ardli" berarti "tempat paling rendah di bumi".
Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia, ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. "Laut Mati", terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi.
Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini.
Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur'an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa Al Qur'an adalah wahyu Ilahi.
Sumber: Harun Yahya.
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي السَّلِيلِ عَنْ مُجِيبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيهَا أَوْ عَمِّهَا
أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا تَعْرِفُنِي قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيُّ الَّذِي جِئْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلَّا بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا
Terjemahannya:
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, Telah menceritakan kepada kami Hammad dari Sa'id Al Jurairi, dari Abu As Salil dari Mujibah Al Bahili, dari ayahnya atau pamannya bahwa ia datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian pergi, kemudian ia datang kepada beliau setelah satu tahun, dan keadaan serta penampilannya telah berubah. Kemudian ia berkata; wahai Rasulullah, apakah engkau mengenalku? Beliau berkata: "Siapa kamu?" Ia berkata; saya adalah Al Bahili yang telah datang kepada engkau pada tahun pertama. Beliau berkata: "Apakah yang telah mengubahmu? Dahulu penampilanmu baik." Ia berkata; saya tidak makan kecuali pada malam hari semenjak saya berpisah dengan engkau. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kenapa engkau menyiksa dirimu?" kemudian beliau berkata:
"Berpuasalah pada bulan yang penuh kesabaran (Bulan Ramadhan), dan satu hari setiap bulan."
Ia berkata; tambahkan untukku, karena sesungguhnya saya kuat. Beliau berkata: "Berpuasalah dua hari!" Ia berkata; tambahkan untukku! Beliau berkata: "Berpuasalah tiga hari!" Ia berkata; tambahkan untukku! Beliau berkata:
"Berpuasalah sebagian dari bulan haram (Rajab, Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah dan Al Muharram)." Beliau mengatakannya dengan memberi isyarat menggunakan ketiga jari-jarinya, beliau menggenggamnya kemudian membukanya.
(HR. Abu Daud nomor 2073).
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Hasyim (yakni Ibnul Barid), telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari Jabir yang menceritakan, “Aku sampai kepada Rasulullah saw, yang pada saat itu air wudhu beliau telah dituangkan, maka aku mengucapkan, “Assalamu’alaika ya Rusulullah”. Tetapi beliau tidak menjawabku. Maka aku ucapkan lagi “Assalamu’alaika ya Rusulullah”. Beliau tidak menjawabku, dan kuucapkan lagi “Assalamu’alaika ya Rusulullah”, tetapi beliau tetap tidak menjawabku.
Kemudian Rasulullah saw berjalan, sedangkan aku berada di belakangnya hingga beliau masuk ke dalam kemahnya. Kemudian aku masuk ke dalam masjid, lalu duduk dalam keadaan bersedih hati dan murung. Kemudian Rasulullah saw datang menemuiku, sedangkan beliau telah bersuci, lalu bersabda, “wa’alaikas salam warahmatullahi wabarakatuh, wa’alaikas salam warahmatullahi wabarakatuh, wa’alaikas salam warahmatullahi wabarakatuh”. Kemudian beliau bersabda, maukah aku ajarkan kepadamu, hai Abdullah ibnu Jabir, suatu surat yang paling baik dalam Al-Qur’an ?” Aku menjawab, “Tentu saja aku mau wahai Rasulullah”. Rasulullah saw bersabda, “bacalah Alhamdulillahi rabbil alamin hingga selesai”.
Imam Ahmad juga menyampaikan bahwa dalam hadits yang diriwayatkan melalui Ubay ibnu Ka’b bahwa Rasulullah saw bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, Allah tidak pernah menurunkan di dalam kitab Taurat, tidak dalam kitab Injil serta tidak dalam kitab Zabur, tidak pula dalam Al-Qur’an suatu surat yang serupa dengan surat itu (Ummul Qur’an atau Al-Fatihah). Sesungguhnya surat itu adalah As-Sab’ul Matsani”.
Imam Bukhari didalam Fadailil Qur’an mengatakan, telah menceritrakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Wahb, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari Muhammad ibnu Ma’bad, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa ketika kami berada dalam suatu perjalanan, tiba-tiba datanglah seorang budak perempuan muda, lalu ia berkata, “Sesungguhnya pemimpin kabilah terkena sengatan binatang beracun, sedangkan kaum lelaki kami sedang tidak ada di tempat, adakah di antara kalian yang dapat me-ruqyah ? Maka datanglah seorang laki-laki dari kalangan kami bersamanya, padahal kami sebelumnya tidak pernah memperhatikan bahwa dia dapat me-ruqyah.
Kemudian lelaki itu me-ruqyah-nya dan ternyata pemimpin kabilah sembuh, maka pemimpin kabilah memerintahkan agar memberinya upah berupa tiga puluh ekor kambing dan memberi kami minum laban (semacam yoghurt). Ketika lelaki itu kembali, kami bertanya kepadanya, “apakah kamu dapat me-ruqyah atau kamu pandai me-ruqyah ?”. Ia menjawab, “tidak, aku hanya me-ruqyah dengan membaca Ummul Kitab (Surah Al-Fatihah)”. Kami berkata, “janganlah kalian membicarakan sesuatu pun sebelum kita sampai dan bertanya kepada Rasulullah”. Ketika tiba di Madinah, kami ceritakan hal itu kepada Nabi saw, dan beliau menjawab, “siapakah yang memberitahukan kepadanya bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah ?” bagi-bagikanlah dan berikanlah kepadaku satu bagian darinya”.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧
AYAT 1
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
Maksudnya adalah "Saya memulai membaca surat Al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah sambil memohon pertolongan kepada-Nya agar dapat membaca firman-Nya, memahami maknanya dan dapat mengambilnya sebagai petunjuk."
Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan, menaiki kendaraan, membaca Al Qur'an di awal surat, masuk dan keluar masjid, mengunci pintu, masuk dan keluar rumah, menulis surat, hendak berwudhu' dan sebagainya.
Allah ialah nama Zat Yang Mahasuci, yang satu-satunya berhak disembah dengan sebenarnya disertai rasa cinta, takut dan berharap kepada-Nya, Zat yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tetapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah memiliki rahmat (kasih-sayang) yang luas mengena kepada semua makhluk-Nya, sedangkan Ar Rahiim artinya Allah Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin. Kepada orang-orang mukmin itu diberikan-Nya rahmat yang mutlak, selain mereka hanya memperperoleh sebagian daripadanya. Ar Rahmaan dan Ar Rahiim merupakan nama Allah yang menetapkan adanya sifat rahmah (sayang) bagi Allah Ta'ala sesuai dengan kebesaran-Nya.
Bersambung . . . . .
Ayat 2
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.
Alhamdu artinya segala puji. Memuji dilakukan karena perbuatannya yang baik. Maka memuji Allah berati menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik seperti melimpahkan karunia dan berbuat adil, karena sifat-sifat-Nya yang sempurna dan karena nikmat-nikmat-Nya yang begitu banyak yang dilimpahkan-Nya kepada kita baik nikmat yang berkaitan dengan agama maupun dunia.
Syaikh Ibnu 'Utsaimin berkata, "Al Hamdu adalah menyifati yang dipuji dengan kesempurnaan disertai rasa cinta dan pengagungan; baik kesempurnaan dzaat, sifat maupun perbuatan-Nya." Dengan demikian dalam memuji Allah Ta'ala harus disertai rasa cinta dan pengagungan serta ketundukan, karena jika tidak seperti ini bukan merupakan pujian yang sempurna.
Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena dari Allah sumber segala kebaikan yang kita peroleh. Di dalam ayat ini mengandung perintah kepada semua hamba agar memuji Allah Ta'ala. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Allah Ta'ala berhak mendapatkan pujian sempurna dari segala sisi, oleh karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mendapatkan hal yang menyenangkan mengucapkan "Al Hamdulillahilladziy bini'matihi tatimmush shaalihaat" (segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya amal shalih menjadi sempurna), dan ketika Beliau memperoleh selain itu, Beliau tetap mengucapkan "Al Hamdulillah 'alaa kulli haal" (segala puji bagi Allah dalam semua keadaan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Majah (3803).
Rabb (tuhan) berarti Tuhan yang ditaati yang Memiliki, Mendidik, Mengurus dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Allah, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam) adalah semua yang diciptakan Allah yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya.
Allah Pencipta semua alam-alam itu, Dia-lah yang menciptakan semua makhluk, yang mengurus urusan mereka, mengurus semua makhluk-Nya dengan nikmat-nikmat-Nya dan mengurus para wali-Nya dengan iman dan amal yang shalih. Dengan demikian, pemeliharaan Allah Ta'ala kepada alam semesta itu ada yang umum dan ada yang khusus. Yang umum adalah diciptakan-Nya mereka, diberi-Nya rezeki, diberi-Nya mereka petunjuk kepada hal-hal yang bermaslahat bagi mereka agar mereka dapat hidup di muka bumi, sedangkan yang khusus adalah dengan dididik-Nya para wali-Nya dengan iman dan amal shalih atau diberi-Nya taufiq kepada setiap kebaikan dan dihindarkan dari semua keburukan.
Mungkin inilah rahasia mengapa do'a yang diucapkan para nabi kebanyakan menggunakan lafaz Rabb (seperti Rabbi atau Rabbanaa). Ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allah-lah Rabbul 'aalamin; yang menciptakan, mengatur, memberi rezeki, menguasai dan memiliki alam semesta; tidak ada Rabb selain-Nya.
Ayat 3
“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
Tentang makna Ar Rahmaan dan Ar Rahiim sudah diterangkan sebelumnya. Disebutkannya ayat ini setelah "Al Hamdu lillahi Rabbil 'aalamiin" untuk memberitahukan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengurus alam semesta ini tidak dengan menyiksa dan memaksa, bahkan atas dasar kasih-sayang-Nya.
Ayat 4
“Yang menguasai hari Pembalasan”.
Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim, berarti: pemilik. dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja. Dihubungkannya kepemilikan hari pembalasan kepada-Nya meskipun milik-Nya dunia dan akhirat, karena pada hari itu kelihatan dengan jelas kekuasaan dan kepemilikan-Nya. Pada hari itu antara raja-raja di dunia dengan rakyat sama tidak ada perbedaan, mereka tunduk kepada keagungan-Nya, menunggu pembalasan-Nya, mengharapkan pahala-Nya dan takut terhadap siksa-Nya.
Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya baik atau buruk. Yaumiddin disebut juga yaumul qiyaamah, yaumul hisaab, yaumul jazaa' dan sebagainya. Dibacanya ayat ini oleh seorang muslim dalam setiap shalat untuk mengingatkannya kepada hari akhir; hari di mana amalan diberikan balasan. Demikian juga mendorong seorang muslim untuk beramal shalih dan menghindari kemaksiatan.
Ayat 5
“Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan”.
Na'budu diambil dari kata 'ibaadah yang artinya kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya disertai rasa cinta dan berharap kepada-Nya. Ditambahkan rasa cinta, karena landasan yang harus ada pada seseorang ketika beribadah itu ada tiga: rasa cinta kepada Allah Ta’ala, rasa takut dan tunduk kepada Allah Ta’ala dan rasa berharap.
Oleh karena itu, kecintaan saja yang tidak disertai dengan rasa takut dan kepatuhan, seperti cinta terhadap makanan dan harta, tidaklah termasuk ibadah. Demikian pula rasa takut saja tanpa disertai dengan cinta, seperti takut kepada binatang buas, maka itu tidak termasuk ibadah. Tetapi jika suatu perbuatan di dalamnya menyatu rasa takut dan cinta maka itulah ibadah. Dan tidaklah ibadah itu ditujukan kecuali kepada Allah Ta'ala semata.
Dalam ayat ini terdapat dalil tidak bolehnya mengarahkan satu pun ibadah (seperti
berdo'a, ruku', sujud, thawaf, istighatsah/meminta pertolongan), berkurban dan
bertawakkal) kepada selain Allah Ta'ala.
Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan
bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan
dengan tenaga sendiri. Dalam ayat ini terdapat obat terhadap penyakit
ketergantungan kepada selain Allah Ta'ala, demikian juga obat terhadap penyakit
riya', 'ujub (bangga diri) dan sombong. Disebutkannya isti'anah kepada Allah Ta'ala
setelah ibadah memberikan pengertian bahwa seseorang tidak dapat menjalankan
ibadah secara sempurna kecuali dengan pertolongan Allah Ta'ala dan menyerahkan
diri kepada-Nya.
Ayat ini menunjukkan lemahnya manusia mengurus dirinya sendiri sehingga diperintahkannya untuk meminta pertolongan kepada-Nya Berdasarkan ayat ini juga bahwa beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya merupakan sarana memperoleh kebahagiaan yang kekal dan terhindar dari keburukan. Perbuatan dikatakan ibadah jika diambil dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan diniatkan ikhlas karena Allah Ta'ala.
Perlu diketahui bahwa isti'anah (meminta pertolongan) terbagi dua:
Pertama adalah Isti’anah tafwidh, meminta pertolongan dengan menampakkan
kehinaan, pasrah dan sikap harap, ini hanya boleh kepada Allah saja, syirk
hukumnya bila mengarahkan kepada selain Allah.
Kedua adalah Isti’anah musyarakah, meminta pertolongan dalam arti meminta
keikut-sertaan orang lain untuk turut membantu, maka tidak mengapa kepada
makhluk, namun dengan syarat dalam hal yang mereka mampu membantunya.
Ayat 6
“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus”.
Ihdina (tunjukkanlah kami), dari kata hidayaat yang artinya memberi petunjuk ke suatu jalan yang lurus (irsyad). Yang dimaksud di ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja (yakni tidak hanya hidayah irsyad), tetapi juga meminta diberi taufik (dibantu menempuh jalan yang lurus). Oleh karenanya kata ihdinaa langsung dilanjutkan dengan shiraathal mustaqiim, tidak dipisah dengan kata "ilaa" (ke) yang berarti "tunjukkanlah kami ke ….." karena ia meminta dua hidayah (irsyad dan taufiq). Oleh karena itu, arti ayat ini adalah "Tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan bantulah kami menempuh jalan itu serta teguhkanlah kami di atasnya sampai kami berjumpa dengan-Mu".
Jalan yang lurus itu adalah Islam; sebagai jalan yang dapat mengarah kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, jalan yang telah diterangkan oleh Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga seseorang tidak dapat bahagia kecuali dengan istiqamah di atasnya. Dengan demikian, di ayat ini kita juga meminta kepada Allah Ta'ala agar dapat istiqamah di atas jalan yang lurus itu sampai akhir hayat mengingat hati yang lemah mudah berbalik dan karena hidup di dunia penuh dengan liku-liku, penuh dengan gelombang cobaan dan fitnah yang begitu dahsyat yang dapat menghanyutkan seorang mukmin.
Sungguh berbahagialah orang yang tetap mendirikan shalat karena do'a yang dipanjatkannya ini, berbeda dengan orang yang meninggalkan shalat; yang tidak lagi memanjatkan do'a ini sehingga mudah sekali ia terbawa oleh arus fitnah itu yang membuat dirinya binasa.
Ayat 7
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.
Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang shalih berdasarkan surat An Nisaa': 69, jalan merekalah yang kita minta. Merekalah ahlul hidayah wal istiqamah (orang-orang yang memperoleh hidayah dan dapat beristiqamah), ciri jalan mereka adalah setelah mengetahui yang hak (benar), mereka mengamalkannya (belajar dan beramal).
Adapun orang-orang yang dimurkai (baik oleh Allah maupun oleh kaum mukminin)
adalah orang-orang yahudi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri
jalan mereka adalah setelah mengetahui yang hak, mereka tidak mau mengamalkan
sehingga mereka dimurkai (belajar dan tidak beramal).
Sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani dan orang-orang
yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka adalah tidak mengenal yang hak
sehingga mereka tersesat (beramal tanpa belajar).
Di dalam ayat ini terdapat obat penyakit juhud (membangkang), jahl (kebodohan)
dan dhalaal (tersesat).
Dianjurkan setelah membaca ayat ini di dalam shalat mengucapkan
"aamiiiiiin" yang artinya "Ya Allah, kabulkanlah", ia
tidaklah termasuk ayat dari surat Al Fatihah berdasarkan kesepakatan para
ulama, oleh karena itu mereka tidak menuliskannya di dalam mushaf-mushaf.
* * *
“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.” (al-Hijr : 87)
“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam) (surat al-Fatihah) adalah as-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang di baca berulang-ulang) dan al-Quran yang Agung yang diberikan kepadaku.” (Hadits Riyawat al-Bukhari)
Makkiyah
Bismillahirrahmanirrahim
“Katakanlah, “Aku berlidung kepada Rabb (yang memelihara dan mengatur) manusia. Penguasa manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”
Sifat-sifat ini termasuk di antara sifat-sifat Rabb: Rububiyah (keRabban), kekuasaan, dan ilahiyah (sembahan). Maka Allah adalah Rabb, penguasa, dan sembahan segala sesuatu, segala sesuatu adalah makhluk-Nya, dikuasai oleh-Nya, dan hamba-Nya. Allah memerintahkan orang yang memohon perlindungan untuk meminta perlindungan hanya kepada yang bersifat dengan sifat-sifat ini, dari kejelekan was-was dari Khannas, dia adalah setan yang menyertai manusia. Karena, tidak ada seorang pun dari anak Adam kecuali dia mempunyai qarin (yang mengikutinya dari kalangan setan) yang menghias-hiasi kekejian itu di hadapannya dan dia tidak perduli walau harus mengerahkan semua kemampuannya untuk memberikan khayalan-khayalan, dan yang selamat hanyalah siapa yang Allah selamatkan. Telah tsabit dalam Ash-Shahih bahwa beliau saw bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ. قَالُوا: وَأنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: نَعَمْ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah diikutkan padanya temannya dari kalangan jin.” Mereka bertanya, “Anda juga wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Iya, hanya saja Allah telah menolong saya untuk mengatasinya, sehingga dia pun masuk Islam, dan dia tidak memerintah saya kecuali dengan kebaikan.[1]“
Juga telah tsabit dalam Ash-Shahih dari Anas, tentang kisah kunjungan Shafiyah kepada Nabi saw ketika beliau sedang melakukan i’tikaf, lalu beliau keluar bersamanya (Shafiyah) pada malam hari untuk mengantarnya ke rumahnya. Tiba-tiba ada dua orang Anshar yang menjumpai beliau, tatkala keduanya melihat Nabi saw, mereka mempercepat langkah. Maka Rasulullah saw bersabda:
عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ. فَقَالَا: سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ, وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا -أَوْ قَالَ شَرًّا-
“Pelan-pelanlah kalian, sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyah bintu Huyaiy.” Keduanya lalu berkata, “Subhanallah wahai Rasulullah.” Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh anak Adam seperti mrngalirnya darah, dan saya khawatir kalau-kalau dia melemparkan sesuatu -atau beliau berkata: Kejelekan- ke dalam hati kalian berdua.[2]“
Dari seorang teman berkendara Rasulullah saw dia berkata: Keledai Nabi saw jatuh tergelincir, maka saya berkata, “Celakalah setan!” Maka beliau bersabda:
لَا تَقُلْ: تَعِسَ الشَّيْطَانُ, فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ: تَعِسَ الشَّيْطَانُ تَعَاظَمَ وَقالَ: بِقُوَّتِي صَرَعْتُهُ. وَإذَا قُلْتَ: بِسْمِ اللَّهِ, تَصَاغَرَ حَتَّى يَصِيْرَ مِثْلَ الذُّبَابِ
“Jangan kamu katakan, “Celakalah setan,” karena jika kamu katakan, “Celakalah setan,” dia akan membesar dan berkata, “Demi kekuatanku, saya akan merasukinya.” Jika kamu mengatakan, “Dengan nama Allah,” dia akan mengecil sampai menjadi seperti lalat.[3]“
Sejumlah ulama berkata tentang firman-Nya, “Kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,”: Dia adalah setan yang bercokol di dalam hati anak Adam. Jika dia (anak Adam) lalai, dia akan memberikan was-was, tapi jika dia berdzikir kepada Allah, dia akan menahan diri.
Firman-Nya, “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” Apakah terjadinya hal ini hanya terbatas pada anak keturunan Adam -sebagaimana yang nampak-, ataukah ini mencakup umum untuk anak keturunan Adam (manusia) dan juga jin? Ada dua pendapat, dan biasanya mereka (jin) juga masuk ke dalam penamaan manusia. Ibnu Jarir berkata, “(Kata manusia) sering digunakan untuk mereka (jin), “Beberapa orang laki-laki dari kalangan jin.[4]“ Maka tidak ada larangan menggunakan kata ‘manusia’ untuk mereka secara mutlak.”
Firman Allah Ta’ala, “Dari (golongan) jin dan manusia.” Apakah ini adalah rincian dari firman-Nya, “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia” lalu Dia menjelaskannya dengan firman-Nya, “Dari (golongan) jin dan manusia,”? Hal ini menguatkan pendapat yang kedua.
Ada yang mengatakan, “Dari (golongan) jin dan manusia” adalah penafsiran dari yang membisikkan was-was ke dalam dada manusia dari kalangan setan-setan jin dan manusia. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)
Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Ada seorang lelaki yang mendatangi Nabi saw lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berbicara di dalam diriku dengan suatu ucapan, yang mana saya jatuh dari atas langit lebih saya sukai daripada yang mengucapkannya.” Maka Nabi r bersabda, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, segala pujian hanya milik Allah yang telah menolak makarnya dan hanya menjadikannya sebagai was-was.[5]“
[Diterjemah dari Shahih Tafsir Ibnu Katsir: 4/709-710, karya Musthafa Al-'Adawi]
[1] HR. Muslim (2814)
[2] HR. Al-Bukhari (6219 -Al-Fath) dan Muslim (2175)
[3] HR. Abu Daud (5/260) dan Ahmad (5/59, 71)
[4] QS. Al-Jin: 6
[5] Shahih. HR. Ahmad (1/235) dan Abu Daud (5112)
Fiqih temporer tetap harus bersumber dari Quran & Hadist untuk itu saya tambahkan penjelasan sbb :
Quran (Qs) itu adalah kalam Alloh yg diwahyukan kepada Nabi Mohammad Rosululloh Saw melalui Malaikat Jiibril, pada 12 tahun 5 bulan 13 hri sebelum Rosululloh saw hijrah ke Madinah, apa yg di firman Alloh melalui Malaikat Jibbril sampai ke Rosululloh itu sama redaksional maupun tekualnya (mutawatir) dan Qs ini sebagai pedoman Qot'ie, sumbber hukum Fiqih yg mutlak.
Qs ini mengandung : Aqidah, Syariah dan Akhlaq. Selanjutnya Rosululloh menjabarkan dengan Hadist nya : teknik dan metodologi dalam pelaksanaanya.
Pengambilan ayat ayat Qs oleh orang awam untuk dijadikan ketetapan hukum itu tidak semudah anggapan orang, karena untuk ini diperlukan keahlian-keahlian khusus (ini yg namanya Ijtihad) antara lain :
a. Ia harus bisa dan mengerti bahasa Arab,
b. Harus tahu artinya ayat,
c. Mengerti Ilmu Tajwid,
d. menguasai Ilmu Nahwu dan Shorof,
e. Di lihat apakah ada kaitanya dengan ayat yg lain,
f. Naseh & Mansukh,
g. Ilmu Mantik dll
Sehingga karena persaratan yg berat itu kita sebagai orang awam - setelah meninggalnya Rosululloh di harusnkan Itba' dengan Mazdhab 4 : HANAFI - MALIKI - SYAFI I - HAMBALISumber : Pak Amir
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,
Sahabat MI-114, beberapa ringkasan pokok tafsir Surah An-Nas (114) mengacu pada tafsir Ibnu Katsir yang telah dibahas dalam kajian rutin hari Jum’at, 8 November 2013 ba’da Isya di Masjid Al-Mukminun adalah sebagai berikut:
1. Allah SWT memiliki 3 sifat utama dalam pokok ketuhanan yaitu: 1) Rububiyah menunjukan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, sehingga setiap hukum yang telah ditetapkannya wajib ditaati oleh seluruh makhluk; 2) Mulkiyah menunjukan bahwa semua yang ada di alam semesta adalah milik-Nya, maka semua yang ada pada manusia adalah titipan baik itu diri maupun harta, sehingga semuanya harus dijaga dan dimanfaatkan sesuai dengan tuntunan Allah SWT; dan 3)Uluhiyah menunjukan bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah oleh Manusia dan seluruh makhluk, maka manusia yang memohon, berdo’a dan menyembah kepada selain Allah SWT adalah musyrik.
2. Allah SWT memerintahkan manusia untuk selalu berlindung kepada-Nya dari bisikan kejahatan syaithan.
3. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shifatul Qiyaamah, dan Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak seorangpun di antara kalian melainkan telah diutus kepadanya pendampingnya.” Para Shahabat bertanya: “Termasuk juga engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, hanya saja Allah membantuku dalam menyikapinya sehingga ia masuk Islam, karenanya ia tidak menyuruhku kecuali hal yang baik-baik.”. Pendamping yang dimaksud disebut Qarin. Qarin adalah syaithan (jin jahat) yang menyertai manusia yang selalu menyeru manusia untuk berbuat keji dan munkar.
4. Sebutan an-nas bisa berarti manusia dan bisa juga berarti jin. Jin ada yang laki-laki dan ada yang perempuan. Jin ada yang taat kepada Allah SWT dan ada juga yang ingkar kepada Allah SWT. Sementara syaithan itu bisa berupa jin dan bija juga berupa manusia. Syaithan slalu mengajak manusia untuk menjauh dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda bersabda: “Sesungguhnya syaitan itu mengalir dalam tubuh anak Adam seperti aliran darah. Dan sesungguhnya aku khawatir dia akan memasukkan sesuatu ke dalam hati kalian berdua -atau beliau mengatakan: ‘Kejahatan.’”.
5. “Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)”. (QS. al-An’am ayat 112).
6. Manusia cenderung mudah dihasut oleh Syaithan ketika senang dan ketika sedih. Maka tatkala seseorang diantara kita sedang senang dan sedih, maka hendaknya ia mengingat Allah SWT (Dzikir, do’a atau Shalat atau baca Qur’an) dan kita juga turut serta mengingatkannya untuk mengingat Allah SWT.
InsyaAllah bermanfaat.
Salam ShemangatzZz,
MI-114
* * *
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,
Sahabat MI-114, beberapa ringkasan pokok tafsir Surah Al-Falaq (113) oleh Ibnu Katsir yang telah dibahas dalam kajian rutin hari Kamis, 5 Desember 2013 ba’da Ashar di Masjid Al-Mukminun adalah sebagai berikut:
1. Allah SWT telah mengajarkan manusia untuk selalu berlindung kepada-Nya dari segala bentuk kejahatan makhluk termasuk dari bahaya sihir.
2. Kata “Ghasiq” dalam surat Al-Falaq dapat diartikan sebagai bintang dan dapat juga diartikan sebagai bulan. Berlindung dari Ghasiq (bintang) pada jaman itu diperlukan karena pada setiap kejadian bintang jatuh ke bumi, biasanya selalu bermunculan wabah penyakit. Sehingga kita dituntun untuk membaca surat Al-Falaq ditujukan untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT dari bahaya wabah penyakit. Arti bulan untuk kata Ghasiq berdasarkan hadits yang bersumber dari Aisyah istri Rasulullah SAW. Bulan menjadi simbol malam, dan tindak kejahatan umumnya terjadi pada waktu malam. Untuk itu kita dituntun untuk membaca surat Al-Falaq ditujukan untuk meminta perlindungan kepada Allah SWt dari segala bentuk tindak kejahatan yang mungkin terjadi dan munking bisa menimpa kita.
3. Kita dituntun untuk membaca surah Al-Falaq ditujukan untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT dari kejahatan sihir. Rasulullah SAW pernah disihir. Dalam riwayat, si tukang sihir menggunakan media rambut Rasululllah SAW yang terdapat pada sisir beliau untuk menyihir beliau. Dampak dari sihir tersebut membuat Rasulullah SAW sakit, sampai-sampai beliau berhalusinasi telah bertemu istri beliau untuk suatu keperluan, padahal sebenarnya beliau belum bertemu dengannya. Lalu kemudian beliau mendapat pertolongan dari Allah SWT melalui perantara malaikat yang membantu menyembuhkan beliau.
4. Kta juga dituntun untuk membaca surah Al-Falaq ditujukan untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT dari kejahatan orang-orang yang dengki.
Demikian ringkasan pokok-pokok pembahasan.
Allah SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
[Qur’an Surah Al-Baqarah (2) ayat 153, 155, 156, 157]
Kedua, hindarilah kemunafikan.
Allah SWT berfirman: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.
[Qur’an Surah An-Nisa (4) ayat 60, 61, 62, dan 63].
Ketiga, jadikanlah Al-Qur’an sebagai hukum utama dalam kehidupan, bukan yang lain.
Allah SWT berfirman: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.
[Qur’an Surah Al-Maidah (5) ayat 48 dan 49].
Keempat, jangan ingkari Rahmat Allah SWT, bersyukurlah, dan tunaikanlah Zakat.
Allah SWT berfirman: Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali bertobat kepada-Nya, kemudian apabila Tuhan merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat daripada-Nya, tiba-tiba sebahagian daripada mereka mempersekutukan Tuhannya, sehingga mereka mengingkari akan rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu). Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa sesuatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.
[Qur’an Surah Ar-Rum (30) ayat 33, 34, 36, 37, 38].
Kelima, bermuhasabahlah (introspeksi diri) dan murnikan Tauhid.
Allah SWT berfirman: Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong selain Allah.
[Qur’an Asy-Syura (42) ayat 30 dan 31].
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
[Qur’an Surah At-Taghabun (64) ayat 11].
* * *
http://nauvallibrary.wordpress.com/2014/02/01/tuntunan-al-quran-dalam-menghadapi-musibah/
Salam ShemangatzZz,
Masukan : Keajaiban Qs. Mari kits dalami bhs arab dan kita I'ROB Qur an ini sehingga tahu betul hebatnya Qs. Apalagi kita pelajari juga : ilmu pendukung al Qur an mis. Balaghoh. Mantik. Nahwu. Sorof. Tajwid dll shg orang membaca Qs. Semua fungsi organ ikut menikmati dan menjadi kita ga pikun. Wallohu a lam bishoab
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,
Sahabat MI-114, pada hari Rabu, 11 Desember 2013 telah dibahas Tafsir Ibnu Katsir, Surah Al-Lahab (artinya Gejolak Api, Surah ke 111 dalam Al-Qur’an, termasuk Surat Makiyyah, dan terdiri dari 5 ayat), dalam Kajian Ulumuddin yang rutin dilaksanakan setiap Rabu dan/atau Jum’at.
Beberapa cuplikan bahan kajian yang InsyaAllah bermanfaat untuk kita pelajari dan kita ambil hikmahnya:
Pertama,
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi saw. pernah pergi ke tanah lapang, lalu beliau mendaki bukit seraya berseru: “Wahai sekalian kaum.” Kemudian orang-orang Quraisy berkumpul mendatangi beliau, kemudian beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika aku memberitahu kalian bahwa musuh akan menyerang kalian di pagi atau sore hari, apakah kalian mempercayaiku?” “Ya,” jawab mereka. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan adzab yang sangat pedih.”.
Lalu Abu Lahab berkata: “Apakah untuk ini engkau kumpulkan kami ? Kebinasaanlah bagimu.” Lalu Allah menurunkan tabbat yadaa abii lahabiw watabb (binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa). Yang pertama sebagai kutukan baginya, sedangkan yang kedua sebagai pemberitahuan mengenai keadaannya.
Kedua,
Abu Lahab adalah salah seorang paman Rasulullah saw. yang nama aslinya adalah ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Muththalib dan nama kun-yahnya adalah Abu ‘Utaibah. Disebut Abu Lahab karena wajahnya yang memancarkan cahaya. Dia termasuk orang yang menyakiti, membenci, mencaci, dan merendahkan Rasulullah saw. dan juga agama beliau.
Ketiga,
Imam Ahmad meriwayatkan, Ibrahim bin Abil ‘Abbas memberitahu kami, ‘Abdurrahman bin Abiz Zinad memberitahu kami, dari ayahnya, dia berkata: “Ada seseorang yang bernama Rabi’ah bin ‘Abbad dari bani ad-Dail –yang dulunya dia seorang Jahiliyyah yang kemudian masuk Islam- memberitahuku, dimana dia berkata: ‘Aku pernah melihat Nabi saw. di pasar Dzul Majaz, beliau bersabda: ‘Wahai sekalian manusia, katakanlah: ‘Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, niscaya kalian beruntung.’ Dan orang-orang pun berkumpul menemuinya sedang di belakangnya terdapat seseorang yang wajahnya bersinar terang, yang memiliki dua tanda mengatakan: ‘Sesungguhnya dia (Rasulullah) adalah seorang pemeluk Shabi’ah lagi pendusta.’ Dia mengikuti beliau kemana saja beliau pergi.
Kemudian aku tanyakan mengenai dirinya, maka orang-orang menjawab: ‘Ini adalah pamannya, Abu Lahab.’ Kemudian diriwayatkan dari Syuraih dari Ibnu Abiz Zinad dari ayahnya, lalu dia menyebutkannya. Abuz Zinad berkata: “Aku katakan kepada Rabi’ah, ‘Apakah pada saat itu engkau masih kecil?’ Dia menjawab: ‘Tidak, demi Allah. Sesungguhnya pada saat itu aku sudah berakal.’” Diriwayatkan oleh Ahmad seorang diri.
Dengan demikian, firman Allah Ta’ala: tabbat yadaa abii lahabiw watabb, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Yakni benar-benar merugi lagi gagal, amal perbuatan dan usahanya pun telah tersesat. ‘Watabb’ yakni binasa lagi benar-benar terbukti kerugian dan kebinasaannya.
Keempat,
Firman-Nya: maa aghnaa ‘an humaa luhuu wamaa kasab (tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan). Ibnu ‘Abbas dan lainnya mengatakan, wa maa kasab (dan apa yang ia usahakan) yakni anaknya. Dan hal senada juga diriwayatkan dari ‘Aisyah, Mujahid, ‘Atha’, al-Hasan, dan Ibnu Sirin.
Dan disebutkan juga dari Ibnu Mas’ud bahwa ketika Rasulullah saw. mengajak kaumnya untuk beriman, Abu Lahab berkata: “Jika apa yang dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka aku akan menebus diriku dari siksaan pada hari kiamat kelak dengan harta dan anakku. Maka Allah Ta’ala pun menurunkan: maa aghnaa ‘an humaa luhuu wa maa kasab (tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan).
Kelima,
Firman-Nya: sayashlaa naaron dzaata lahab (kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak). Yakni api yang memiliki bunga api yang besar dan daya bakarnya sangat panas. Wamro-atuhuu hammaa latal hatab (dan begitu pula istrinya , pembawa kayu bakar). Dan istrinya termasuk kaum wanita Quraisy yang terhormat, yaitu Ummu Jamil dan namanya Arwa binti Harb bin Umayyah, yang merupakan saudara Abu Sufyan, dia menjadi pembantu setia suaminya dalam kekufuran, keingkaran dan perlawanannya.
Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak dia pun akan menjadi pembantu suaminya dalam menjalani siksaan-Nya di Neraka Jahanam. Oleh karena itu Allah berfirman: hammaalatal hathabi fii jiidihaa hamblum mim masad (“Dan begitu [pula] istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”). yakni dia biasa membawa kayu bakar dan menyerahkannya kepada suaminya untuk menambah (berat) siksa yang diterima Abu Lahab.
Keenam,
Fii jiidihaa hablum mim masad (“Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) Mujahid dan ‘Urwah mengatakan: “Dari sabut neraka.” Dari Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, ats-Tsauri, dan as-Suddi, hammaalatal hathab (“pembawa kayu bakar”) dimana istrinya ini biasa berkeliling untuk menlancarkan adu domba. Dan pendapat ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.
Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ‘Athiyyah al-Jadali, adl-Dlahhak, dan Ibnu Zaid: “Dia biasa meletakkan duri di jalanan (yang dilalui) Rasulullah saw.” Dan yang benar adalah pendapat pertama. Wallahu a’lam. Sa’id bin al-Musayyab mengatakan: “Dia memiliki kalung yang sangat mewah. Dan dia mengatakan: ‘Aku akan dermakan kalungku ini untuk memusuhi Muhammad.’ Yakni, sehingga Allah akan menimpakan (azab) dengan meletakkan tali di lehernya yang terbuat dari sabut neraka.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari asy-Sya’bi, dia mengatakan: “Al-Masad berarti serabut.” ‘Urwah bin az-Zubair mengatakan: “Al-Masad berarti rantai yang panjangnya 70 hasta.”
Mengenai firman-Nya: fii jiidihaa hablum mim masad (“Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) Mujahid mengatakan: “Yakni kalung dari besi.” Sedangkan Ibnu Abi Hatim pernah meriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakr, dia berkata: “Ketika turun ayat: tabbat yadaa abii lahabiw watabb (“Binasalah kedua tangan Abu Lahab”), seorang wanita yang buta sebelah matanya, Ummu Jamil binti Harb muncul, dimana dia mempunyai lengkingan (suara) yang sangat tinggi sedang di tangannya terdapat batu. Dia mengatakan: “Mudzammaman abainaa, wadiihuhu qallainaa, wa amruhu ‘ashainaa.” (“Dia orang hina yang kami abaikan, agamanya kami remehkan, dan perintahnya pun kami durhakai.”).
Ketujuh,
Dan Rasulullah saw. duduk di sebuah masjid bersama Abu Bakr. Ketika melihatnya (istri Abu Lahab), Abu Bakr berkata: “Wahai Rasulullah, dia telah muncul sedang aku khawatir dia akan melihatmu.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya dia tidak akan pernah melihatku.” Dan beliau membaca al-Qur’an. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala: “Wa idzaa qara’tal qur-aana ja’alnaa bainaka wa bainal ladziina laa yu’minuuna bil aakhirati hijaabam masthuuraa” (“Dan apabila kamu membacakan al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.”) (al-Isra: 45).
Kemudian dia (istri Abu Lahab) datang sehingga berhenti dekat Abu Bakr tetapi dia tidak bisa melihat Rasulullah saw. Ini salah satu keutamaan yang dianugerahkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Lalu dia (istri Abu Lahab) berkata: “Wahai Abu Bakr, sesungguhnya aku beritahu bahwa sahabatmu telah mencaciku.” Abu Bakr berkata: “Tidak. Demi Rabb Pemelihara rumah ini, dia tidak mencacimu.” Kemudian dia berpaling seraya berkata: “Kaum Quraisy telah mengetahui kalau aku anak perempuan pemukanya.”.
Kedelapan,
Para ulama mengatakan: “Dan di dalam surat ini terkandung mukjizat yang sangat nyata dan dalil yang sangat jelas tentang kenabian, dimana sejak firman Allah Ta’ala ini turun: “Sayashlaa naarong dzaatal lahab. Wamra atuhuu hammaalatal hathab. Fii jiidihaa hablum mim masad.” (“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”). Melalui ayat ini, Allah SWT mengabarkan bahwa keduanya akan mendapat kesengsaraan dan tidak akan beriman. Keduanya atau salah satu dari keduanya tidak akan pernah beriman, baik lahir maupun batin, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
* * *
Salam ShemangatzZz,
MI-114
Sahabat MI-114, pada hari Jum’at, 13 Desember 2013 telah dibahas Tafsir Ibnu Katsir, Surah An-Nashr (artinya Pertolongan, Surah ke 110 dalam Al-Qur’an, termasuk Surat Madaniyah, dan terdiri dari 3 ayat), dalam Kajian Ulumuddin yang rutin dilaksanakan setiap Rabu dan/atau Jum’at.
“Ayat 1: Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, Ayat 2: Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, dan Ayat 3: Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.”
(an-Nashr: 1-3)
Beberapa cuplikannya yang InsyaAllah bermanfaat untuk kita pelajari dan kita ambil hikmahnya:
Pertama,
An-Nasa-i meriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, dia berkata: “Ibnu ‘Abbas pernah berkata kepadaku: ‘Wahai Ibnu ‘Utbah, apakah engkau tahu akhir surat al-Qur’an yang diturunkan?’ ‘Ya, idzaajaa-a nashrullaahi walfath (“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenganngan”). Jawabku. Diapun berkata: ‘Engkau benar.’”.
Kedua,
Dua orang hafidz, Abu Bakar al-Bazzar dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, dia berkata: “Surat ini, idzaajaa-a nashrullaahi walfath (“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”) turun kepada Rasulullah saw di pertengahan hari-hari tasyriq, sehingga beliau mengetahui bahwa ia merupakan surat yang terakhir. Kemudian beliau memerintahkan binatang tunggangannya, al-Qushwa’, untuk melakukan perjalanan, maka unta beliau pun berangkat. Selanjutnya beliau berdiri dan berkhutbah kepada orang-orang. Lalu disebutkan khutbah beliau yang sangat terkenal itu.
Ketiga,
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Umar pernah memasukkanku ke dalam suatu pertemuan yang dihadiri para pemuka perang Badr. Ada beberapa orang di antara mereka yang merasa keberatan dan mengatakan: ‘Mengapa anak ini dimasukkan ke dalam pertemuan, padahal kami memiliki anak-anak yang seusia dengannya?’ Maka ‘Umar berkata: ‘Sesungguhnya dia termasuk orang yang sudah kalian kenal (cerdas dan banyak ilmunya).’.
Umar berkata: ‘Bagaimana pendapat kalian mengenai firman Allah, idzaajaa-a nashrullaahi walfath (“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”) ? Sebagian mereka mengatakan: ‘Kita diperintahkan untuk memanjatkan pujian kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya, karena Dia telah memberi pertolongan dan kemenangan kepada kita.’ Ada sebagian lagi yang diam tidak melontarkan sepatah katapun.
Kemudian ‘Umar bertanya kepadaku: ‘Apa pendapatmu juga demikian wahai Ibnu ‘Abbas?’ Lalu kukatakan: ‘Tidak.’ ‘Lalu bagaimana pendapatmu?’ tanya ‘Umar. Maka akupun menjawab: ‘Itulah ajal Rasulullah saw. yang Allah SWT beritahukan kepada beliau. Allah berfirman idzaajaa-a nashrullaahi walfath (“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”), dan demikianlah tanda ajalmu, fasabbih bihamdi rabbika was taghfirhu innahuu kaana tawwaabaa (“maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha penerima taubat.”)’. Kemudian ‘Umar bin al-Khaththab berkata: ‘Aku tidak mengetahuinya kecuali apa yang kau katakan itu.’” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari.
Keempat,
Dan penafsiran yang diberikan oleh beberapa orang sahabat dari teman-teman ‘Umar secara keseluruhan adalah bahwa kita telah diperintahkan untuk memanjatkan pujian kepada Allah, bersyukur kepada-Nya serta bertasbih dan memohon ampunan kepada-Nya, karena Dia telah memberikan kepada kita atas beberapa kota dan benteng. Dan itu merupakan penafsiran yang benar yang telah ditetapkan satu syahid baginya dari shalat Nabi saw pada saat berlangsungnya pembebasan kota Mekah pada pagi hari sebanyak delapan rakaat.
Ada beberapa orang yang menyatakan bahwa yang demikian itu adalah shalat dhuha. Pernyataan itu dijawab bahwa beliau tidak mengerjakan shalat tersebut secara terus menerus setiap hari, lalu bagaimana mungkin beliau mengerjakan shalat tersebut pada hari itu padahal pada saat itu bermukim di Mekah? Oleh karena itu beliau bermukim di sana sampai akhir bulan Ramadlan, hampir mendekati 19 hari beliau mengqashar shalat dan tidak berpuasa yang juga diikuti oleh seluruh bala tentara yang jumlahnya sekitar 10 ribu orang.
Orang-orang itu mengatakan bahwa shalat tersebut adalah shalat al-Fath (kemenangan). Mereka mengatakan: “Dengan demikian, disunnahkan bagi panglima perang jika mendapat kemenangan atas suatu negeri untuk mengerjakan shalat di sana ketika pertama kali memasuki negeri tersebut sebanyak delapan rakaat.”.
Dan demikianlah yang dikerjakan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash pada hari pembebasan beberapa kota. Kemudian sebagian mereka mengatakan: “Dia mengerjakan delapan rakaat itu dalam satu salam.” Dan yang benar adalah dia mengucapkan salam setiap dua rakaat.
Sedangkan penafsiran yang diberikan oleh Ibnu ‘Abbas dan ‘Umar bahwa di dalam surat ini, Allah memberitahu Rasulullah saw. tentang ruh beliau yang mulia. Dan Dia memberitahu, jika kamu (Muhammad) telah berhasil membebaskan kota Mekah, yaitu kampungmu sendiri yang dirimu dulu telah diusir darinya, sedang orang-orang berduyun-duyun memeluk agama Allah.
Dan kini perhatian Kami kepadamu di dunia sudah berakhir, karenanya bersiap-siaplah untuk menghadap Kami. Sebab, akhirat lebih baik bagimu daripada dunia. Dan kelak, Allah SWT akan memberi anugerah yang besar kepada Rasulullah SAW. Oleh karena itu Allah berfirman: “fasabbih bihamdi rabbika was taghfirhu innahuu kaana tawwaabaa (“maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Mahapenerima taubat.”).
Kelima,
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata: “Rasulullah saw. memperbanyak bacaan dalam rukuk dan sujudnya: subhaanaka allaahumma rabbanaa wabihamdika allaahummagh firlii (“Mahasuci Allah, ya Allah, ya Rabb kami, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku.”).
InsyaAllah bermanfaat.
Salam ShemangatzZz,
* * *
TUNTUNAN AL-QUR’AN
* SYUKUR *
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.
(QS. Al-Baqarah Ayat 172).
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
(QS. Ali-Imran Ayat 145).
وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.
(QS. Al-A’raf Ayat 10).
* * *
TUNTUNAN AL-QUR’AN
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis berkata: "Karena Engkau (Allah SWT) telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
(QS. Al-A’raf Ayat 16-17).
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ ۖ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur". Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kelaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(QS. Yunus Ayat 22-23).
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
(QS. Ibrahim Ayat 7).
* * *"Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka." (Al Qur'an Surah Al-Alaq (96) ayat 15-16).
Ungkapan "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka" dalam ayat di atas sungguh menarik. Penelitian yang dilakukan di tahun-tahun belakangan mengungkapkan bahwa bagian prefrontal, yang bertugas mengatur fungsi-fungsi khusus otak, terletak pada bagian depan tulang tengkorak. Para ilmuwan hanya mampu menemukan fungsi bagian ini selama kurun waktu 60 tahun terakhir, sedangkan Al Qur'an telah menyebutkannya 1400 tahun lalu. Jika kita lihat bagian dalam tulang tengkorak, di bagian depan kepala, akan kita temukan daerah frontal cerebrum (otak besar). Buku berjudul Essentials of Anatomy and Physiology, yang berisi temuan-temuan terakhir hasil penelitian tentang fungsi bagian ini, menyatakan:
Dorongan dan hasrat untuk merencanakan dan memulai gerakan terjadi di bagian depan lobi frontal, dan bagian prefrontal. Ini adalah daerah korteks asosiasi…(Seeley, Rod R.; Trent D. Stephens; and Philip Tate, 1996, Essentials of Anatomy & Physiology, 2. edition, St. Louis, Mosby-Year Book Inc., s. 211; Noback, Charles R.; N. L. Strominger; and R. J. Demarest, 1991, The Human Nervous System, Introduction and Review, 4. edition, Philadelphia, Lea & Febiger , s. 410-411)
Buku tersebut juga mengatakan:
Berkaitan dengan keterlibatannya dalam membangkitkan dorongan, daerah prefrontal juga diyakini sebagai pusat fungsional bagi perilaku menyerang…(Seeley, Rod R.; Trent D. Stephens; and Philip Tate, 1996, Essentials of Anatomy & Physiology, 2. edition, St. Louis, Mosby-Year Book Inc., s. 211)
Jadi, daerah cerebrum ini juga bertugas merencanakan, memberi dorongan, dan memulai perilaku baik dan buruk, dan bertanggung jawab atas perkataan benar dan dusta.
Jelas bahwa ungkapan "ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka" benar-benar merujuk pada penjelasan di atas. Fakta yang hanya dapat diketahui para ilmuwan selama 60 tahun terakhir ini, telah dinyatakan Allah dalam Al Qur'an sejak dulu.Dalam Al Qur'an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya.
"... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (Al Qur'an, Surah Az Zumar (39) ayat 6)
Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:
"Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran." (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)
Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:
- Tahap Pre-embrionik -
Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.
- Tahap Embrionik -
Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai "embrio". Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut.
- Tahap fetus -
Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai "fetus". Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.
Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern. Namun sebagaimana sejumlah fakta ilmiah lainnya, informasi-informasi ini disampaikan dalam ayat-ayat Al Qur'an dengan cara yang ajaib. Fakta bahwa informasi yang sedemikian rinci dan akurat diberikan dalam Al Qur'an pada saat orang memiliki sedikit sekali informasi di bidang kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur'an bukanlah ucapan manusia tetapi Firman Allah.
* * *