Ass.Wr.Wb,
Sahabat MI-114, sebagaimana niat yang telah disampaikan dalam pertemuan rutin kita pada hari Rabu, 14 November 2012, ba'da Ashar di Masjid Al-Mu'minun, Insyaallah pada Jum'at, 23 November 2012, MI-114 akan mencetak lembar ilmu Jum'at dengan topik Shalat untuk dibagikan kepada publik khususnya kepada Jama'ah Shalat Jum'at.
Sebagaimana janji yang sudah dilafadzkan, berikut ini terlampir file tulisan mengenai Shalat Khusyu'. Mohon bantuan sahabat MI-114 untuk membacanya, dan apabila ada saran mohon sempurnakan tulisan ini.
Masukan penyempurnaan ditunggu sampai hari Selasa, dan InsyaAllah paling lambat hari Rabu, 21 November 2012 akan di uji cetak oleh Pak Aris. Jika pada hari Rabu tersebut sudah Oke, maka diharapkan para Sahabat dan beramal dengan memperbanyak (copy) bahan tersebut berapa pun yang diinginkan, untuk dibagikan kepada siapa saja yang diinginkan, khususnya dapat kita drop ke Masjid Al-Mu'minun pada saat Shalat Jum'at, 23 November 2012.
Selain itu, Pak Zaki juga rencananya akan menyampaikan bahan mengenai Rukun Shalat.
Berikut ini tulisan yang terdapat dalam file terlampir.
SAATNYA JADIKAN SHALAT KITA “BERKELAS”.
Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS. An-nisa (4) ayat 103). Iman Islam tidak hanya sekedar urusan administrasi yang ditunjukan dari status agama yang tertulis dalam KTP, tetapi salah satu wujud rilnya ditunjukan melalui Shalat. Maka jelaslah bahwa orang yang tidak menunaikan Shalat seharusnya berfikir ulang untuk mengklaim dirinya sebagai orang yang beriman.
Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya shalat-shalat itu menghapuskan dosa yang terjadi diantaranya, selama itu bukan dosa besar (Dirawikan Muslim dari Abu Hurairah ra). Barangsiapa menjumpai Allah, sedang dia menyia-nyiakan shalat, maka tidak diperdulikan oleh Allah sesuatu daripada kebajikan-kebajikannya (Dirawikan Ath-Thabrani dari Anas). Inilah salah satu wujud keadilan dalam Islam, dalam setiap tuntunannya diterangkan dengan jelas manfaat, hak dan sanksi bagi setiap orang yang menunaikan dan melalaikan kewajibannya.
Pembicaraan diatas bisa kita analogikan sebagai pembicaraan kelas pemula dalam urusan shalat. Layaknya orang yang bersekolah, tentu idealnya pada satu waktu akan naik kelas. Begitu pula shalat, bagi kita yang rutin telah mengerjakan shalat, idealnya mulai berupaya untuk meningkatkan “kelas” shalat kita ketingkatan yang lebih tinggi yaitu shalat yang khusyu’.
Allah swt berfirman “Kerjakanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Tha-haa (20) ayat 14). Apakah pada saat kita shalat, kita masih lebih sering mengingat yang selain Allah swt ?. “Janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” (QS. An-nisaa (4) ayat 43). Apakah saat kita shalat, kita mengerti apa yang kita ucapkan ?. Inilah pertanyaan-pertanyaan kunci yang dapat menjastifikasi apakah shalat kita khusyu atau tidak.
Shalat yang khusyu’ tidak berarti shalat sampai hilang kesadaran, bukan pula berarti shalat menggunakan bahasa daerah (selain bahasa Al-Qur’an) agar kita mengerti apa yang kita ucapkan, dan bukan pula shalat dengan gaya bebas senyaman yang kita mau. Kunci khusyu’ adalah shalat untuk mengingat Allah, dan kita mengerti apa yang kita ucapkan dalam setiap ucapan dan gerakan shalat, sesuai dengan tuntunan Islam.
Berapa banyak orang yang dalam shalatnya masih lebih banyak mengingat acara televisi, tugas-tugas sekolah atau kuliah, pekerjaan-pekerjaan kantor, makanan dan minuman, janji dengan teman, dan lain sebagainya. Berapa banyak juga orang yang shalat, ia tidak minum khamar atau beer, tetapi ia tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Jika kita masih termasuk dalam kelompok orang-orang yang macam itu, maka marilah mulai hari ini kita benahi shalat kita bersama-sama.
Hati seumpama gelas, untuk mengisi shalat kita dengan kekhusyu’an, kita terlebih dahulu perlu memastikan hati kita kosong dari hal-hal lain, selain shalat. Isi hati kita dengan niat yang lurus untuk shalat, lillahi ta’ala, bukan rutinitas ta’ala, dan setelah itu kita tutup agar tidak dimasuki oleh sesuatu yang dapat merusak isinya. Hati bisa terpengaruh oleh penglihatan, pendengaran, maupun penciuman. Amankan tiga indera tersebut saat shalat.
Pertama, pastikan syarat wajib dan syarat sah shalat sudah kita tunaikan. Kedua, pastikan tempat kita shalat bebas dari gambar atau tampak suatu benda yang dapat mengalihkan perhatian kita. Ketiga, pastikan pula bahwa benda-benda seperti telepon seluler atau yang serupa sudah kita atur silent atau nonaktif untuk mengamankan pendengaran kita selama shalat. Keempat, pastikan tidak ada aroma entah dari pakaian atau dari badan kita, yang dapat mengganggu konsentrasi saat shalat. Jika semuanya sudah kita amankan, maka mari kita shalat sesuai dengan rukun yang telah ditetapkan dalam syariat.
Dalam buku terjemahan Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali oleh Prof. Tengku H. Ismail Yakub, disampaikan bahwa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya shalat itu menetapkan hati, menundukan diri, merapati bathin, menyesali diri (Dirawikan At-Tirmidzi dari Al-Fadl bin Abbas). Diceritakan pula bahwa Rasulullah saw melihat seorang bermain-main dengan janggutnya dalam shalat, maka beliau bersabda: “jikalau khusyu’ hati orang ini, niscaya khusyu’lah anggota-anggota badannya” (Dirawikan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah). Sesungguhnya diwajibkan shalat adalah karena menegakkan dzikir (mengingat) Allah Ta’ala (Dirawikan At-Tirmidzi dari Aisyah).
Fokus pada bacaan dalam setiap gerakan shalat. Jika saat ini kita sudah menghafal semua bacaan dalam shalat, maka kedepan kita perlu pastikan kita mengetahui arti dari setiap bacaan tersebut. Jika saat ini kita sudah menghafal arti dari setiap bacaan dalam shalat, maka kedepan kita perlu pastikan kita dapat menghayati arti dari setiap bacaan tersebut. Penghayatan itulah yang akan mengantarkan kita pada shalat yang khusyu’, InsyaAllah.
Istiqamah untuk khusyu’ dalam shalat akan manjadikan kita sebagai ahli shalat khusyu’. Adalah Amir bin Abdullah termasuk orang yang khusyu’ didalam shalat. Dan apabila ia mengerjakan shalat, kadang-kadang anaknya memukul rebana dan berbincang-bincang sesuka hatinya di rumah. Namun ia tidak terpengaruh oleh segala keributan itu. Rasulullah saw bersabda, dirikanlah shalat seperti shalat orang yang mengucapkan selamat tinggal (Dirawikan Abu Bakar bin Malik dari Ma’adz bin Jabal). Buatkanlah sangkaan didalam hati bahwa shalat yang anda lakukan saat ini adalah shalat terakhir, karena belum tentu umur anda akan sampai pada waktu shalat berikutnya. Maka, masuk ke akhirath, keluar dari dunia.
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (QS. Al-Mu’minuun (23) ayat 1, 2, 9-11). Inilah hasil dari shalat yang “berkelas”.
Syukran Katsiran.
Wass.Wr.Wb,
Salam ShemangatzZz,
Baca semua topik:
https://groups.google.com/forum/?hl=id&fromgroups#!forum/majelis-ilmu-114
Tambah sahabat dengan mengirimkan email ke:
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "Majelis Ilmu 114" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dari grup ini, kirim email ke majelis-ilmu-1...@googlegroups.com.
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim
Mukadimah
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji bagi Allah swt, dan shalawat serta salam kepada Rasulullah saw, atas setiap ni’mat kesehatan, Islam dan Iman yang telah diberikan kepada kita hingga saat ini.
Materi Buletin MI-114 Edisi 5 ini mencakup sifat-sifat Rasulullah saw yang patut diteladani oleh kita, umat muslim. Sifat-sifat tersebut adalah Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah, termasuk salah satu akhlaq mulia Beliau yaitu selalu memberikan kasih sayang kepada umatnya.
Bacaan ini untuk kita, dan untuk disampaikan juga kepada orang-orang yang kita sayangi. InsyaAllah kita dapat mengamalkan sifat tersebut dalam keseharian kita, baik di rumah, di sekolah, di tempat bekerja, dan di lingkungan sekitar kita.
Walhamdulillahi Rabbil Alamin,
Redaktur MI-114
TELADAN UMAT AKHIR ZAMAN
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Ahzab (33) Ayat 21).
Allah swt berfirman: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Ahzab (33) Ayat 40).
Sudah selayaknya bagi umat Islam, umat akhir zaman untuk menjadikan Rasulullah saw, Rasul penutup para Nabi, sebagai idola dan teladan nomor wahid dalam hidupnya, bukan yang lain. Nabi Muhammad saw, teladan umat manusia akhir zaman, adalah manusia pilihan yang segala alur kehidupannya dari sebelum dilahirkan sampai wafatnya telah diatur oleh Allah swt dengan begitu indah dan penuh rahmat.
Prof. Quraish Shihab menyampaikan bahwa para ulama meyakini pemilihan hal-hal tertentu berkaitan dengan Rasulullah bukanlah kebetulan. Misalnya bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabi'ul Awal (musim bunga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa' (yang sempurna dan sehat), serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa'diyah (yang lapang dada dan mujur). Semua nama-nama tersebut mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan kepribadian Nabi Muhammad Saw.
Beliau memiliki sifat dan akhlak yang sangat mulia, dikagumi tidak hanya di hati seorang Muslim tetapi juga oleh dunia. Maka tidak mengherankan jika seorang Michael Hart yang non Muslim pun menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai tokoh nomor 1 yang paling disanjung di dunia dalam bukunya yang berjudul “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History“.
SHIDDIQ
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.
(QS. An Najm (53) ayat 3-4).
Shiddiq artinya benar. Setiap perkataan Rasulullah saw adalah benar sebagaimana hati dan perbuatannya, yang terlindung dalam tuntunan wahyu dari Allah swt.
Sungguh manusia akhir zaman yang mengaku Islam sepatutnya malu dan perlu segera berbenah diri apabila masih merasa biasa-biasa saja dan tidak gelisah ketika melihat kebohongan, apalagi sampai ikut turut serta berkecimpung dalam perbuatan dusta dan fitnah.
Harta, jabatan, dan hawa nafsu seringkali telah menggelincirkan lidah kita untuk mencicipi ajaran syaitan, berlaku curang, menghalalkan dusta dan fitnah untuk meraup kuntungan dunia.
Allah swt berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
(QS. Ash Shaff (61) ayat 2-3).
Berkata benar akan membawa keberkahan. Jika keberkahan itu tidak kunjung tiba di dunia, maka yakinlah bahwa ia akan melindungi kita di yaumul akhir nanti. Sesungguhnya berkata benar yang membuat murka manusia adalah jauh lebih baik daripada berkata dusta yang mengundang kemurkaan Allah swt.
Allah swt berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al Ahzab (33) ayat 70-71).
Jika saat ini umat Islam memiliki jumlah yang besar di bumi Allah swt, namun tidak juga mendapat kemenangan yang besar di dunia ini, maka mungkin ada baiknya bagi kita untuk renungkan kembali ayat tersebut. Apakah kita sudah memenuhi seruan itu ?
AMANAH
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS. An –nisaa (4) Ayat 58).
Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Nabi Muhammad SAW diberi gelar “Al Amin”, oleh penduduk Mekkah, yang artinya terpercaya, jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Rasulullah saw menerima tugas untuk menjadi manusia teladan bagi umat manusia akhir zaman dengan penuh tanggung jawab. Tidak jarang hati beliau sedih apabila melihat orang-orang yang telah diberi peringatan tetap bertahan dalam kedurhakaannya kepada Allah swt dan Syariat Islam.
Allah swt berfirman:
Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (QS. An - Nahl (16) Ayat 82).
Bagi kita umat Islam yang dalam sehari lebih dari 5 kali mengucap syahadat, sangatlah tidak layak untuk melalaikan amanah dan kewajiban kita sebagai muslim. Kelalaian itu dapat berupa meninggalkan Shalat, berlaku kikir dalam zakat, bolos puasa Ramadhan, enggan untuk menunaikan ibadah Haji padahal sudah mampu, dan melakukan perbuatan keji dan munkar dalam kondisi sadar dan sengaja.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al - Anfaal (8) Ayat 27).
Setiap umat Islam telah diberi amanah untuk menjadi khalifah di bumi membawa nama baik Islam dalam menjalani kehidupan. Namun tidak sedikit stigma buruk pada akhirnya ditujukan kepada Dinul Islam hanya karena ada segelintir manusia yang ber-KTP Islam melakukan tindakan keji dan munkar. Segera benahi hal tersebut sesuai dengan kapasitas kita, sebelum terlambat, sebelum umur kita tamat, sebelum kiamat.
TABLIGH
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
(QS. Al - Maidah (5) Ayat 67).
Tabligh artinya menyampaikan. Semua firman Allah swt yang diwahyukan untuk umat, disampaikan oleh Rasulullah saw secara benar dan jelas, tidak ada satupun yang disembunyikan meskipun itu teguran untuk Nabi.
Dalam riwayat at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah diceritakan bahwa telah turun firman Allah swt yaitu Al-Qur’an Surah ‘Abasa (80) ayat 1-16 yang disampaikan berkenaan dengan seorang bernama Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata: “Berilah petunjuk kepadaku ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap mengahadapi pembesar-pembesar Quraisy.
Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” Maka kemudian turunlah ayat-ayat tersebut sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw. Meskipun ayat tersebut adalah ayat terguran kepada Nabi, tetapi Rasululllah saw tetap menyampaikannya dengan benar. Marilah kita amalkan sifat tabligh ini, menyampaikan Islam dengan sebenar-benarnya.
Jika hanya untuk suatu produk, urusan dunia dan kampanye dunia, jutaan rupiah dikeluarkan untuk diiklankan berkali-kali, beragam orang dilibatkan, tidak kenal tua muda, semua turut terlibat dengan gencar berusaha menyiarkan urusannya. Maka sudah barang tentu untuk dakwah Islam, meskipun sulit, meskipun berat, kita perlu menyampaikannya dengan penuh kesungguhan, lebih dari kesungguhan kita dalam urusan dunia.
Dari Abdullah bin Amr ra., Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari).
FATHANAH
Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.
(QS. An - Najm (53) Ayat 1-6).
Fathonah artinya Cerdas. Menyampaikan 6 ribuan ayat Al Qur’an lalu kemudian menjelaskannya dalam ribuan hadits jelas membutuhkan kecerdasan yang luar biasa. Selain memenuhi kualifikasi tersebut, Rasulullah juga mampu menjelaskan syariat Islam kepada umat jahiliyah, yang bodoh dan keras kepala. Berhadapan dengan para ahli kitab, orang kafir, zalim, fasik, dan musyrik yang perilakunya kasar.
Beliau telah terbukti mampu menuntun ummatnya sehingga terjadilah revolusi besar dari bangsa Arab yang bodoh dan terpecah-belah serta saling bermusuhan antar suku, menjadi satu bangsa besar yang berakhlak baik. Islam pada zaman itu telah membentang dari Spanyol dan Portugis di Barat hingga ke India Barat.
Umat Islam selayaknya bersemangat dalam mempelajari Al-Qur’an, bersemangat dalam mengkaji hadist-hadist Rasulullah saw, dan bersemangat dalam mengembangkan ilmu syariat Islam. Inilah umat yang akan mewarisi kemenangan di dunia dan akhirath. Bahkan di zaman perang dahulu, umat Islam tetap diarahkan untuk terus belajar.
Allah swt berfirman:
Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
(QS. At- Taubah (9) Ayat 122).
BERKASIH SAYANG
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.
(QS. Al Fath (48) Ayat 29).
Menghargai dan memudahkan orang lain adalah salah satu akhlaq Rasulullah saw yang perlu diteladani oleh umat di akhir zaman ini. Diceritakan bahwa suatu ketika ada sahabat yang terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya.
Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan kepada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin umat Beliau selalu mengasihi dan melayani umatnya.
Allah swt berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al - Mujadilah (58) Ayat 11).
Asbabun Nuzul QS. Al-Mujadalah ayat 11 ini, diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban, ia mengatakan bahwa pada suatu hari yaitu hari Jum’at, Rasulullah Saw berada di Shuffah mengadakan majelis.
Beberapa sahabat yang berjuang dalam perang Badar terlambat datang, diantaranya adalah Tsabit bin Qais, sehingga mereka berdiri diluar ruangan. Mereka mengucapkan salam lalu Nabi saw dan orang-orang yang terlebih dahulu datang menjawabnya.
Para pejuang Badar itu tetap berdiri, menunggu tempat yang disediakan bagi mereka tetapi tak ada yang memperdulikannya. Melihat keadaan tersebut, Rasulullah saw kemudian meminta kepada orang-orang di sekitarnya untuk berdiri. Diantara mereka ada yang berdiri tetapi rasa keengganan nampak di wajah mereka. Maka orang-orang munafik dengan maksud mencela Nabi, mengatakan “Demi Tuhan, Muhammad tidak adil, ada orang yang lebih dahulu datang dengan maksud agar bisa duduk di dekatnya, tetapi disuruh berdiri untuk diberikan kepada orang yang terlambat datang”. Lalu turunlah ayat ini.
Dari Anas ra., Rasulullah SAW bersabda: "Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka." (HR. Bukhari).
Dalam kehidupan kita dewasa ini, tidak jarang kita akan bertemu dengan orang-orang yang mengaku teman, mengaku sahabat, yang mengaku seaqidah dengan kita, namun hatinya selalu diselimuti oleh perasaan iri hati dan dengki. Perilakunya jauh dari berkasih sayang, dan sangat sibuk untuk meng”kafir”kan saudaranya sendiri. Inilah kekufuran orang-orang yang jauh dari teladan Rasulullah saw.
Dari Abi Musa radhiyallaahu anhu, ada yang bertanya, 'Ya Rasulullah, bagaimanakah Islam yang paling utama?' Rasulullah menjawab: 'Seorang muslim yang menyelamatkan kaum muslimin dari lisan dan tangannya.'. (HR. Bukhari).
Allah swt berfirman, “Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.”.
(QS. Al - Balad (90) Ayat 17-18).
***
“Apakah Dakwah melalui Website Cukup Efektif ?”
Berikan jawaban anda atas pertanyaan tersebut, yang tersedia di sisi kanan bawah halaman website: www.majelisilmu114.com
***
Anda yang ingin mendapatkan Buletin MI-114, Kumpulan Hadits MI-114, memberikan tulisan dan bahan materi dakwah, donasi pendanaan, menyampaikan pertanyaan ataupun saran, dapat menghubungi Majelis Ilmu 114 melalui email:
Kunjungi facebook MI-114:
http://www.facebook.com/pages/Majelis-Ilmu-114/149059155255132
http://www.facebook.com/majelis.ilmu.14
Kunjungi blog MI-114:
<w:LsdException Locked="false" Pri
...
|
Edisi 6 – Jum’at, 28 Dzulqadah 1434 H / 4 Oktober 2013 |
MENGHIDUPKAN MAJELIS ILMU
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al Mujaadilah (58) Ayat 11).
|
TIDAK DIBACA SAAT KHATIB SEDANG KHUTBAH JUM’AT JANGAN BIARKAN YAUMUL JUM’AT BERLALU TANPA SHADAQAH |
Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim
Mukadimah
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji bagi Allah swt, dan shalawat serta salam kepada Rasulullah saw, atas setiap ni’mat kesehatan, Islam dan Iman yang telah diberikan kepada kita hingga saat ini.
Materi Buletin MI-114 Edisi 6 ini mencakup keutamaan bagi umat Islam untuk menghidupkan Majelis Ilmu, khususnya ilmu-ilmu Islam.
Bacaan ini untuk kita, dan untuk disampaikan juga kepada orang-orang yang kita sayangi. InsyaAllah kita dapat menghidupkan Majelis Ilmu dan terus belajar memahami serta mengamalkan ilmu-ilmu Islam dalam keseharian kita.
Walhamdulillahi Rabbil Alamin,
Penggerak MI-114
Asbabun-Nuzul ayat 11 Al-Qur’an Surah (58) Al-Mujadalah, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban, ia mengatakan bahwa pada suatu hari yaitu hari Jum’at, Rasulullah Saw berada di Shuffah mengadakan majelis. Beberapa sahabat yang berjuang dalam perang Badar terlambat datang, diantaranya adalah Tsabit bin Qais, sehingga mereka berdiri diluar ruangan. Mereka mengucapkan salam lalu Nabi saw dan orang-orang yang terlebih dahulu datang menjawabnya.
Para pejuang Badar itu tetap berdiri, menunggu tempat yang disediakan bagi mereka tetapi tak ada yang memperdulikannya. Melihat keadaan tersebut, Rasulullah saw kemudian meminta kepada orang-orang di sekitarnya untuk berdiri. Diantara mereka ada yang berdiri tetapi rasa keengganan nampak di wajah mereka. Maka orang-orang munafik dengan maksud mencela Nabi, mengatakan “Demi Tuhan, Muhammad tidak adil, ada orang yang lebih dahulu datang dengan maksud agar bisa duduk di dekatnya, tetapi disuruh berdiri untuk diberikan kepada orang yang terlambat datang”. Lalu turunlah ayat ini. Salah satu keutamaan yang disampaikan dalam ayat ini adalah bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman & orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Keutamaan Bermajelis
Imam Darimi meriwayatkan bahwa Al Hasan berkata: "Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang dua orang Bani Isra`il, salah satunya adalah seorang ulama yang mengerjakan shalat wajib, kemudian ia duduk di majelis untuk mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Kemudian yang satunya lagi adalah seorang yang berpuasa di siang hari dan menghidupkan malam dengan ibadah. Diantara keduanya, manakah yang lebih utama?', maka Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
'Keutamaan dan kelebihan ulama yang mengerjakan shalat wajib kemudian duduk di majelis untuk mengajarkan kebaikan kepada orang lain, dibandingkan dengan seorang yang ahli ibadah yang berpuasa di siang hari dan menghidupkan malam dengan ibadah, seperti keutamaan dan kelebihanku dibandingkan dengan seorang yang paling rendah diantara kalian' ".
Dari hadits ini telah tersirat bahwa duduk di majelis (berjamaah) untuk belajar dan mengajarkan (ilmu) kebaikan kepada orang lain (memberi manfaat bagi orang lain) memiliki keutamaan yang besar.
Jika orang baik adalah orang yang senantiasa berbuat baik dalam hidupnya, maka orang yang lebih baik adalah orang yang dalam hidupnya selalu menyalurkan kebaikan dan dengan ilmunya menyeru manusia untuk selalu berbuat baik. Majelis Ilmu adalah wadah untuk menjalin silaturahim dengan orang-orang baik, dan wadah untuk menjadikan kita orang yang lebih baik.
Ilmu menurut Imam Az-Zuhri & Imam Syafi’i
Imam Az-Zuhri menyampaikan “Perbanyaklah melakukan sesuatu yang tidak akan disentuh api neraka.” Lalu ada yang bertanya, “Apakah itu?” Beliau menjawab, “Perbuatan baik.” Perbuatan baik yang dilakukan dengan niat hanya karena Allah adalah ibadah. Dan dalam hal ibadah, Imam Az-Zuhri mengatakan, “Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala itu diibadahi dengan sesuatu yang lebih afdhal dibanding dengan ilmu.”.
Beliau mengatakan, “Para ulama sebelum kita berkata, ‘Berpegang teguh dengan sunah adalah keselamatan, sedang ilmu dicabut dengan begitu cepatnya. Dengan kemuliaan ilmu tegaklah agama dan dunia, dan dengan hilangnya ilmu hilang pula agama dan dunia.”.
Imam Syafi’i menyampaikan “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah pengikatnya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Merupakan kelalaian bila engkau telah berburu kijang. Lalu kau biarkan ia terlepas di hadapan manusia.”.
Sebaik-baik ilmu adalah ilmu Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Menghidupkan ilmu-ilmu Islam memerlukan wadah, dan Majelis Ilmu adalah wadah yang dimaksud itu.
Menghidupkan Dzikrullah dan Kitabullah
Rasûlullâh saw bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allâh, mereka membacakan kitabullâh dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allâh memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya.”. (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ibnu Majah).
Majelis ilmu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari para ulama Rabbani. Bahkan mengadakan majelis ilmu merupakan perkara penting yang harus dilakukan oleh seorang ‘alim.
Dalam Al-Qur’an surah Ali – Imran (3) Ayat 79, Allah swt berfirman: “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.
Bagitu besar keutamaan menghidupkan ilmu dalam kehidupan setiap umat, sampai Rasulullah saw pun bersabda: “Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya, ”Apakah taman syurga itu?” Beliau menjawab, ”Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).” (Riwayat At Tirmidzi. Dishahihkan Syeikh Salim bin Ied Al Hilali dalam Shahih Kitabul Adzkar).
Dalam hadits riwayat Imam Muslim, diceritakan oleh Abu Sa'id Al Khudri bahwa pada suatu hari Mu'awiyah melewati sebuah halaqah (majilis) di Masjid. Kemudian ia bertanya; 'Majelis apakah ini?' Mereka menjawab; 'Kami duduk di sini untuk berzikir kepada Allah Azza wa Jalla.' Mu'awiyah bertanya lagi; 'Demi Allah, benarkah kalian duduk-duduk di sini hanya untuk itu? ' Mereka menjawab; 'Demi Allah, kami duduk hanya untuk itu.'.
Kata Mu'awiyah selanjutnya; 'Sungguh saya tidak menyuruh kalian bersumpah karena mencurigai kalian. Karena tidak ada orang yang menerima hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang lebih sedikit daripada saya.'.
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati halaqah para sahabatnya. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: 'Majelis apa ini?'. Mereka menjawab; 'Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan anugerah-Nya kepada kami.'.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya lagi: 'Demi Allah, apakah kalian duduk di sini hanya untuk ini?' Mereka menjawab; 'Demi Allah, kami duduk-duduk di sini hanya untuk ini.'.
Kata Rasulullah selanjutnya: 'Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Tetapi karena aku pernah didatangi Jibril alaihis-salam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.'.
Majelis Ilmu dalam riwayat Imam Bukhari
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Waqid Al Laitsi, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang.
Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dimana satu diantaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi.
Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: "Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?" Adapun seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya".
Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan, dan mencari-cari majelis dzikir, jika mereka mendapati suatu kaum yang berdzikir kepada Allah mereka memanggil teman-temannya seraya berkata; 'Kemarilah terhadap apa yang kalian cari.' Lalu mereka pun datang seraya menaungi kaum tersebut dengan sayapnya sehingga memenuhi langit bumi.
Maka Rabb mereka bertanya padahal Dia lebih tahu dari mereka; 'Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?' Para malaikat menjawab; 'Mereka mensucikan Engkau, memuji Engkau, mengagungkan Engkau.'. Allah berfirman: 'Apakah mereka melihat-Ku?' Para malaikat menjawab; 'Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.' Allah berfirman: 'Bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku?'. Para malaikat menjawab; 'Sekiranya mereka dapat melihat-Mu pasti mereka akan lebih giat lagi dalam beribadah, lebih dalam mengagungkan dan memuji Engkau, dan lebih banyak lagi mensucikan Engkau'.
Allah berfirman: 'Lalu apa yang mereka minta?.' Para malaikat menjawab; 'Mereka meminta surga.' Allah berfirman: 'Apakah mereka telah melihatnya?' Para malaikat menjawab; 'Belum, demi Allah mereka belum pernah melihatnya.' Allah berfirman: 'Bagaimana sekiranya mereka telah melihatnya?' Para malaikat menjawab; 'Jika mereka melihatnya tentu mereka akan lebih berkeinginan lagi dan antusias serta sangat mengharap.'.
Allah berfirman: 'Lalu dari apakah mereka meminta berlindung?'. Para malaikat menjawab; 'Dari api neraka.' Allah berfirman: 'Apakah mereka telah melihatnya? ' Para malaikat menjawab; 'Belum, demi Allah wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya sama sekali.' Allah berfirman: 'Bagaimana jika seandainya mereka melihatnya?' Para malaikat menjawab; 'Tentu mereka akan lari dan lebih takut lagi.'".
Beliau (Rasulullah saw) melanjutkan: 'Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku telah mempersaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.' Beliau melanjutkan; 'Salah satu dari malaikat berkata; 'Sesungguhnya diantara mereka ada si fulan yang datang untuk suatu keperluan? ' Allah berfirman: 'Mereka adalah suatu kaum yang majelis mereka tidak ada kesengsaraannya bagi temannya.'.
***
“Majelis Ilmu 114 menyelenggarakan Kajian Ilmu Setiap Rabu dan Jum’at jam 17.00 WIB di Masjid Al-Mukminun”
***
Bagi anda yang ingin hadir dalam Kajian Majelis Ilmu 114, mendapatkan Buletin MI-114, Kumpulan Hadits MI-114, memberikan tulisan dan bahan materi dakwah, donasi pendanaan, menyampaikan pertanyaan ataupun saran, dapat menghubungi Majelis Ilmu 114 melalui email:
Follow twitter MI-114:
@majelisilmu114
Kunjungi blog MI-114:
www.majelisilmu114.wordpress.com
Kunjungi website MI-114:
ADAB DAN AKHLAK
KUMPULAN NOMOR 41-45
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
(QS. An-Nisa (4) ayat 36).
KUMPULAN NOMOR 41
MEMELIHARA DENGAN BAIK
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Washil Al Ahdab dari Al Ma'rur bin Suwaid berkata: Aku bertemu Abu Dzar di Rabdzah yang saat itu mengenakan pakaian dua lapis, begitu juga anaknya, maka aku tanyakan kepadanya tentang itu, maka dia menjawab: Aku telah menghina seseorang dengan cara menghina ibunya, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menegurku: "Wahai Abu Dzar apakah kamu menghina ibunya? Sesungguhnya kamu masih memiliki (sifat) jahiliyyah. Saudara-saudara kalian adalah tanggungan kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah tangan kalian.
Maka
siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya (tanggungannya) maka jika dia
makan berilah makanan seperti yang dia makan, bila dia berpakaian berilah
seperti yang dia pakai, janganlah kalian membebani mereka sesuatu yang di luar
batas kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah
mereka".
(HR. Bukhari, nomor 29).
KUMPULAN NOMOR 42
MULAMASAH, MUNABADZAH, IHTIBA, ISYTIMALUS SHAMA
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah dari Khubaib dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang (praktek jual beli) dengan system Mulamasah (wajib membeli jika ada pembeli yang menyentuh barang penjual) dan Munabadzah (wajib membeli jika ada penjual yang melempar dagangannya ke pembeli tanpa memeriksa terlebih dahulu), dan melarang shalat (sunnah) setelah subuh hingga matahari meninggi dan shalat setelah Ashar hingga matahari terbenam, dan melarang duduk ihtiba' (dengan menekuk kedua lututnya dan menempelkan ke dadanya) dengan mengenakan satu kain yang menengadahkan kemaluannya ke langit, dan melarang isytimalus shama' (seseorang berselimut dengan bajunya dan tidak memberikan celah sedikitpun, hingga jika tersingkap auratnya rawan terbuka).
(HR. Bukhari, nomor 5371).
KUMPULAN NOMOR 43
SUNNAH TENTANG TIDUR
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Mu'tamir dia berkata; saya mendengar Manshur dari Sa'd bin Ubaidah dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al Barra` bin 'Azib radliallahu 'anhuma dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku: "Apabila kamu hendak tidur, maka berwudlulah sebagaimana kamu berwudlu untuk shalat. Setelah itu berbaringlah dengan miring ke kanan, dan ucapkanlah: 'ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSI ILAIKA WAFAWADLTU AMRII ILAIKA WA ALJA`TU ZHAHRI ILAIKA RAHBATAN WA RAGHBATAN ILAIKA LAA MALJA`A WALAA MANJAA MINKA ILLA ILAIKA AMANTU BIKITAABIKA ALLADZII ANZALTA WA BINABIYYIKA ALLADZII ARSALTA
(Ya AIlah ya Tuhanku, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari adzab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus).' Apabila kamu meninggal (pada malam itu) maka kamu mati dalam keadaan fitrah (suci). Dan jadikan bacaan tersebut sebagai penutup ucapanmu (menjelang tidur).'. Maka aku berkata; 'Apakah saya menyebutkan; 'Saya beriman kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus? ' Beliau menjawab: 'Tidak, namun saya beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.'.
(HR. Bukhari nomor 5836).
KUMPULAN NOMOR 44
SUNNAH TENTANG HARI JUM’AT
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sumayya mantan budak Abu Bakar bin 'Abdurrahman, dari Abu Shalih As Saman dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mandi pada hari Jum'at sebagaimana mandi janabah, lalu berangkat menuju Masjid, maka dia seolah berkurban seekor unta. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) kedua maka dia seolah berkurban seekor sapi. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) ketiga maka dia seolah berkurban seekor kambing yang bertanduk. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) keempat maka dia seolah berkurban seekor ayam. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) kelima maka dia seolah berkurban sebutir telur. Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khuthbah), maka para Malaikat hadir mendengarkan dzikir (khuthbah tersebut).".
(HR. Bukhari nomor 832).
KUMPULAN NOMOR 45
MENGINGATKAN DENGAN SANTUN
Telah menceritakan kepadaku Abu Ma'an Ar Raqasy Zaid bin Yazid Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Yunus Telah menceritakan kepada kami Ikrimah yaitu Ibnu 'Ammar dia berkata; Ishaq berkata; Anas berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling indah budi pekertinya. Pada suatu hari beliau menyuruhku untuk suatu keperluan.
Demi Allah, saya tidak pernah bepergian untuk keperluanku sendiri, tetapi selamanya saya pergi untuk melaksanakan perintah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepadaku. Pada suatu ketika saya pergi, dan kebetulan bertemu dengan beberapa orang anak sedang bermain-main di pasar. Tiba-tiba Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menepuk pundakku dari belakang. Saya menengok kepada beliau, dan beliau tersenyum. Lalu kata beliau; "Hai, Anas kecil! Sudahkah engkau melaksanakan apa yang aku perintahkan?" Jawabku; "Ya, saya akan pergi untuk melaksanakannya ya Rasulullah.".
Anas berkata; Demi Allah, sembilan tahun lamanya saya membantu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak pernah saya dapatkan beliau menegur saya atas apa yang saya kerjakan dengan ucapan; 'Mengapa kamu tidak melakukan begini dan begitu.' ataupun terhadap apa yang tidak saya laksanakan, dengan perkataan; 'seharus begini dan begini.'.
(HR. Muslim nomor 4272).
* * *
“Majelis Ilmu 114 menyelenggarakan Kajian Ilmu Setiap Rabu dan Jum’at jam 17.00 WIB di Masjid Al-Mukminun”
Bagi anda yang ingin hadir dalam Kajian Majelis Ilmu 114, mendapatkan Buletin MI-114, Kumpulan Hadits MI-114, memberikan tulisan dan bahan materi dakwah, donasi pendanaan, menyampaikan pertanyaan ataupun saran, dapat menghubungi Majelis Ilmu 114 melalui email:
Kunjungi facebook MI-114:
http://www.facebook.com/pages/Majelis-Ilmu-114/149059155255132
http://www.facebook.com/majelis.ilmu.14
Follow twitter MI-114:
@majelisilmu114
Kunjungi blog MI-114:
www.majelisilmu114.wordpress.com
Kunjungi website MI-114:
* * *
ADAB DAN AKHLAK
KUMPULAN NOMOR 46-50
Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Yakub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
(QS. Shaad (38) ayat 45 dan 46).
KUMPULAN NOMOR 46
BERSIKAPLAH LEMAH LEMBUT
Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Shalih dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair bahwa Aisyah radliallahu 'anha isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata; "Sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam, mereka lalu berkata; "Assaamu 'alaikum (semoga kecelakaan atasmu). Aisyah berkata; "Saya memahaminya maka saya menjawab; 'wa'alaikum as saam wal la'nat (semoga kecelakaan dan laknat tertimpa atas kalian)."
Aisyah berkata; "Lalu Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tenanglah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara." Saya berkata; "Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidak mendengar apa yang telah mereka katakan?" Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Saya telah menjawab, 'WA 'ALAIKUM (dan semoga atas kalian juga).". (HR. Bukhari nomor 5565).
KUMPULAN NOMOR 47
BERBUAT BAIK ADALAH SHADAQAH
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap anggota tubuh manusia wajib disedekahi, setiap hari dimana matahari terbit lalu engkau berlaku adil terhadap dua orang (yang bertikai) adalah sedekah, engkau menolong seseorang yang berkendaraan lalu engkau bantu dia untuk naik kendaraanya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah ketika engkau berjalan menuju shalat adalah sedekah dan menghilangkan gangguan dari jalan adalah sedekah”.
(HR. Bukhari dan Muslim dalam Kitab Arbain, Hadits nomor 26).
KUMPULAN NOMOR 48
PENDUDUK SURGA DAN NERAKA
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Ma'bad bin Khalid Al Qaisi dari Haritsah bin Wahb Al Khuza'i dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Maukah kalian aku beritahu penduduk surga? Yaitu setiap orang yang lemah dan diperlemah. Sekiranya ia bersumpah atas nama Allah pasti Allah akan mengabulkannya, Maukah kalian aku beritahu penghuni neraka? Yaitu Setiap orang yang keras (hati), congkak dan sombong.".
Muhammad bin Isa berkata; telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Humaid At Thawil telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik dia berkata; "Sekiranya ada seorang budak dari budak penduduk Madinah menggandeng tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sungguh beliau akan beranjak bersamanya kemana budak itu pergi.". (HR. Bukhari nomor 5610).
KUMPULAN NOMOR 49
MASUK SURGA BUKAN KARENA HEBATNYA AMALAN
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Az Zabriqan telah menceritakan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:
"Beramalah sesuai sunnah (istiqamah) dan berlaku imbanglah, dan berilah kabar gembira, sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalannya.". Para sahabat bertanya; 'Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah? ' Beliau bersabda: 'Begitu juga denganku, kecuali bila Allah meliputi melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku.'.
Perawi berkata; aku kira dari Abu An Nadlr dari Abu Salamah dari Aisyah. 'Affan mengatakan; telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Musa bin 'Uqbah dia berkata; saya mendengar Abu Salamah dari Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan redaksi "saddidu (beristiqamahlah dalam beramal) wa absyiruu (dan berilah kabar gembira)." Mujahid mengatakan mengenai firman Allah "Qaulan sadida" yaitu berkata yang benar.".
(HR. Bukhari nomor 5986).
KUMPULAN NOMOR 50
BERBAKTILAH KEPADA ORANGTUA
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Jarir dari 'Umarah bin Al Qa'qa' bin Syubrumah dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata; Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya? beliau menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi; Kemudian siapa? beliau menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi; kemudian siapa lagi? beliau menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi; Kemudian siapa? beliau menjawab: Kemudian ayahmu. Ibnu Syubrumah dan Yahya bin Ayyub berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Zur'ah hadits seperti di atas.
(HR. Bukhari nomor 5514).
Bersikaplah lemah lembut dalam setiap perkara. Berbuat baiklah dengan setiap cara kepada setiap orang. Ikutilah setiap jejak para ahlu surga dan berpalinglah dari setiap jejak para ahlu neraka.
Jangan berbangga hati dengan besarnya amalan kita, tetapi tundukkanlah hati kita pada kebesaran kekuasaan Allah SWT. Karena sesungguhnya Surga itu diperoleh karena hidayah dan ampunan Allah SWT, bukan karena hebatnya seseorang dalam beramal.
Berbaktilah selalu kepada kedua orangtua, terutama kepada Ibunda yang telah melahirkan kita. Akhlak dan adab seorang muslim yang baik dimulai dari baiknya akhlak dan adab seorang muslim kepada orangtuanya.
* * *
PERNIAGAAN DAN ZAKAT
KUMPULAN NOMOR 51-55
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
(QS. Al – Muthaffifin (83) ayat 1-3).
KUMPULAN NOMOR 51
DILARANG JUAL BELI DI DALAM MASJID
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Manshur dari Abu Adh-Dhuha dari Masruq dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Ketika turun ayat-ayat terakhir dari surah Al Baqarah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menerima ayat-ayat tersebut ketika sedang berada di masjid maka kemudian Beliau mengharamkan jual beli didalam masjid".(HR. Bukhari nomor 1942).
Jual beli adalah halal selama masih sesuai dengan tuntunan Islam, selama tidak mengganggu ibadah, dan selama tidak dilakukan di dalam Masjid.
KUMPULAN NOMOR 52
JUAL BELI SAH KETIKA SEPAKAT
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa Beliau bersabda: "Jika dua orang melakukan jual beli maka masing-masingnya punya hak khiyar (pilihan) atas jual belinya selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya sepakat atau salah satu dari keduanya memilih lalu dilakukan transaksi maka berarti jual beli telah terjadi dengan sah, dan seandainya keduanya berpisah setelah transaksi sedangkan salah seorang dari keduanya tidak membatalkan transaksi maka jual beli sudah sah".(HR. Bukhari nomor 1970).
Jual beli yang sah adalah yang tidak mengandung unsur pemaksaan dan kecurangan.Penjual yang baik adalah yang memastikan bahwa barang yang dijual adalah barang yang baik, tidak cacat. Pembeli yang baik tidak merugikan penjual, baik dengan cara komplain palsu maupun melanggar kesepakatan.
KUMPULAN NOMOR 53
JUAL BELI YANG TERGOGLONG RIBA
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Laits. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh telah mengabarkan kepada kami Laits dari Ibnu Syihab dari Malik bin Aus bin Hadatsan bahwa dia berkata, "Suatu ketika saya pernah datang seraya berkata, 'Adakah di antara kalian yang ingin menukarkan dirham? ' maka Thalhah bin Ubaidullah -yang saat itu dia sedang berada di samping Umar bin Khattab - berkata, 'Tunjukkanlah emasmu kepadaku dan berikanlah kepadaku, jika nanti pelayanku datang maka saya akan memberikan dirham kepadamu.' Maka Umar bin Khattab berkata, "Demi Allah, janganlah kalian melakukan jual beli seperti ini, sebaiknya kamu berikan dirham ini sekarang atau kamu kembalikan emasnya.”.
Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Dirham dengan emas adalah riba kecuali jika dengan tunai, gandum dengan gandum adalah riba kecuali jika dengan tunai, dan kurma dengan kurma adalah riba kecuali jika dengan tunai." Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ishaq dari Ibnu 'Uyainah dari Az Zuhri dengan isnad ini.". (HR. Muslim nomor 2968).
KUMPULAN NOMOR 54
JANGAN MEMBELI DAN MENGAMBIL KEMBALI SHADAQAH ATAUPUN ZAKAT
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Zaid bin Aslam dari bapaknya berkata; Aku mendengar 'Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu berkata,: "Aku memberi (sesorang) kuda yang aku biasa gunakan untuk berperang di jalan Allah lalu orang itu tidak memanfaatkan sebagaimana mestinya. Kemudian aku berniat membelinya kembali karena aku menganggap membelinya lagi adalah suatu hal yang (diringankan) dibolehkan.
Lalu aku tanyakan hal ini kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, maka Beliau bersabda: "Jangan kamu membelinya dan jangan kamu mengambil kembali shadaqah (zakat) mu sekalipun orang itu menjualnya dengan harga satu dirham, karena orang yang mengambil kembali shadaqahnya seperti orang yang menjilat kembali ludahnya".(HR. Bukhari nomor 1395).
KUMPULAN NOMOR 55
JANGAN MENIPU DENGAN MENAIKKAN HARGA BARANG
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah telah menceritakan kepada kami Malik dari Nafi' dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang dari menambahkan harga barang dagangan yang menganudng unsur penipuan terhadap orang lain.
(HR. Bukhari nomor 1998).
Menambahkan harga barang dagangan yang menganudng unsur penipuan terhadap orang lain/ pembeli disebut “Najsy”. Najsy adalah salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan dengan berbohong, dengan menaikkan harga barang menjadi lebih mahal dari harga normal, kemudian menyampaikan bahwa harga yang telah dinaikkan itu adalah harga normal.
Jangan pernah mengambil keuntungan dengan cara yang buruk. Dan jangan pula merugikan orang lain dengan cara apapun. Ambilah keuntungan dengan cara yang baik dan berikanlah hak orang lain dengan cara yang telah ditentukan dalam tuntunan Islam. Sesungguhnya untung dengan cara yang buruk adalah suatu kerugian yang nyata di dunia dan akhirath.
Berikanlah shadaqah ataupun zakat dengan ikhlas.Berikanlah shadaqah ataupun zakat dari harta yang baik, yang kita miliki.Membeli dan mengambil kembali harta yang baik, yang telah kita shadaqahkan atau kita zakati adalah suatu perbuatan yang buruk, dan jika itu dilakukan maka harta itu pun menjadi buruk buat kita.
InsyaAllah kita semua termasuk orang-orang yang beruntung, yang mengambil keuntungan dari perniagaan yang halal dan yang senantiasa terjaga untuk menunaikan shadaqah dan zakat dengan baik.
PERNIAGAAN DAN ZAKAT
KUMPULAN NOMOR 56-60
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).
(QS. Ar-Rum (30) ayat 39).
KUMPULAN NOMOR 56
TUNAIKANLAH HAK DARI SETIAP HARTA YANG DIMILIKI
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair Telah menceritakan kepada kami bapakku Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari Abu Zubair dari Jabir bin Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidaklah seorang yang mempunyai unta, sapi atau pun kambing lalu ia tidak menunaikan haknya, melainkan nanti pada hari kiamat akan didudukkan di suatu tanah datar, lalu akan diinjak-injak oleh ternak-ternak yang memiliki kuku dengan kukunya dan ditanduk dengan tanduknya. Pada hari itu tidak ada hewan yang tidak bertanduk, dan tidak ada pula yang patah tanduknya.".
Kami pun bertanya, "Ya Rasulullah, apakah haknya?" beliau menjawab: "Membibitkan jantannya, menternakkan betinanya, memerah susunya, membawanya ke air, dan mempergunakannya di jalan Allah. Tidak seorang pun pemilik harta yang tidak membayar zakatnya, melainkan hartanya itu berubah menjadi ular besar yang botak, yang mengikuti pemiliknya ke mana saja ia pergi, sedangkan dia sendiri selalu lari dari ular itu. lalu dikatakanlah kepadanya: 'Inilah hartamu yang kamu bakhil dengannya.' Setelah dia tahu bahwa dia tidak dapat lari dari ular itu, maka dimasukkannya tangannya ke mulut ular itu, lalu ular itu menggigitnya seperti hewan jantan menggigit.". (HR. Muslim nomor 1650).
KUMPULAN NOMOR 57
BERSEGERALAH DALAM MENUNAIKAN ZAKAT
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari 'Umar bin Said dari Ibnu Abu Mulaikah bahwa 'Uqbah bin Al Harits radliallahu 'anhu menceritakan kepadanya, katanya: "Nabi Shallallahu'alaihiwasallam shalat 'Ashar berjama'ah bersama kami. Tiba-tiba Beliau dengan tergesa-gesa memasuki rumah. Tidak lama kemudian Beliau keluar, dan aku bertanya atau dikatakan kepada Beliau tentang ketergesaannya itu. Maka Beliau berkata,: "Aku tinggalkan dalam rumah sebatang emas dari harta shadaqah. Aku tidak mau bila sampai bermalam, maka aku bagi-bagikan".
(HR. Bukhari nomor 1340).
Keterangan hadits ini terkait “Menyegerakan Mengeluarkan Sedekah (Zakat) Sebelum Tiba Waktunya”.
KUMPULAN NOMOR 58
TAKARAN YANG TIDAK DIWAJIBKAN ZAKAT
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari 'Amru bin Yaha Al Maziniy dari bapaknya berkata; Aku mendengar Abu Sa'id Al Khudriy berkata; Nabi Shallallahu'alaihiwasallam telah bersabda: "Tidak ada zakat pada unta dibawah lima ekor, tidak ada zakat harta dibawah lima wasaq dan tidak ada zakat pada hasil tanaman dibawah lima wasaq". Telah menceritakan kepada kami Muhammad Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahhab berkata, telah menceritakan kepada saya Yahya bin Sa'id berkata, telah mengabarkan kepada saya 'Amru dia mendengar dari bapaknya dari Abu Sa'id radliallahu 'anhu dia mendengar dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam seperti hadits ini. (HR. Bukhari nomor 1355).
Keterangan:
1 wasaq = 60 sha’, sedangkan 1 sha’ = 2,176 kg, maka 5 wasaq adalah 5 x 60 x 2,176 = 652,8 kg. Sumber: http://www.baznas.or.id/
KUMPULAN NOMOR 59
NAFKAHKAN SEBAGIAN HARTA YANG DICINTAI
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah bahwa dia mendengar Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha' (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam sering mamemasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut.
Berkata, Anas; Ketika turun firman Allah Ta'ala (QS Alu 'Imran: 92 yang artinya): "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai", Abu Thalhah mendatangi Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam lalu berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai", dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha' itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadanu".
Dia (Anas) berkata,: "Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niyatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu". Maka Abu Thalhah berkata,: "Aku akan laksanakan wahai Rasulullah. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya". Hadits ini juga dikuatkan oleh Rauh dan berkata, Yaha bin Yahya dan Isma'il dari Malik: "Pahalanya mengalir terus". (HR. Bukhari nomor 1368).
KUMPULAN NOMOR 60
DUA PAHALA ZAKAT
Telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A'masy telah menceritakan kepada saya Syaqiq dari 'Amru bin Al Harits dari Zainab isteri 'Abdullah radliallahu 'anhuma berkata,, lalu dia menceritakannya kepada Ibrahim. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada saya Ibrahim dari Abu 'Ubaidah dari 'Amru bin Al Harits dari Zainab isteri 'Abdullah radliallahu 'anhua sama seperti ini, berkata: "Aku pernah berada di masjid lalu aku melihat Nabi Shallallahu'alaihiwasallam. Kemudian Beliau bersabda: "Bershadaqahlah kalian walau dari perhiasan kalian". Pada saat itu Zainab berinfaq untuk 'Abdullah dan anak-anak yatim di rumahnya.
Dia ('Amru bin Al Harits) berkata: Zainab berkata kepada 'Abdullah: "Tanyakanlah kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam apakah aku akan mendapat pahala bila aku menginfaqkan shadaqah (zakat) ku kepadamu dan kepada anak-anak yatim dalam rumahku". Maka 'Abdullah berkata: "Tanyakanlah sendiri kepada Rasulullah saw".
Maka aku berangkat untuk menemui Nabi Shallallahu'alaihiwasallam dan aku mendapatkan seorang wanita Anshar di depan pintu yang sedang menyampaikan keperluannya seperti keperluanku. Kemudian Bilal lewat di hadapan kami maka kami berkata: "Tolong tanyakan kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, apakah aku akan mendapat pahala bila aku meninfaqkan shadaqah (zakat) ku kepada suamiku dan kepada anak-anak yatim yang aku tanggung dalam rumahku?". Dan kami tambahkan agar dia (Bilal) tidak menceritakan siapa kami. Maka Bilal masuk lalu bertanya kepada Beliau. Lalu Beliau bertanya: "Siapa kedua wanita itu?". Bilal berkata,: "Zainab". Beliau bertanya lagi: "Zainab yang mana?". Dikatakan: "Zainab isteri 'Abdullah". Maka Beliau bersabda: "Ya benar, baginya dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala zakatnya". (HR. Bukhari nomor 1373).
* * *
MAJELIS ILMU
KUMPULAN NOMOR 76-80
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al Mujaadilah (58) Ayat 11).
KUMPULAN NOMOR 76
BERBAHAGIALAH MEREKA YANG AKTIF BERMAJELIS
Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah bahwa Abu Murrah -mantan budak Uqail bin Abu Thalib-, mengabarkan kepadanya dari Abu Waqid Al Laitsi, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang.
Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dimana satu diantaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: "Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?" Adapun seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya".
(HR. Bukhari nomor 64).
KUMPULAN NOMOR 77
HIDUPKANLAH MAJELIS DZIKIR
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mempunyai para malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan, dan mencari-cari majelis dzikir, jika mereka mendapati suatu kaum yang berdzikir kepada Allah mereka memanggil teman-temannya seraya berkata; 'Kemarilah terhadap apa yang kalian cari.' Lalu mereka pun datang seraya menaungi kaum tersebut dengan sayapnya sehingga memenuhi langit bumi.
Maka Rabb mereka bertanya padahal Dia lebih tahu dari mereka; 'Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?' Para malaikat menjawab; 'Mereka mensucikan Engkau, memuji Engkau, mengagungkan Engkau.'. Allah berfirman: 'Apakah mereka melihat-Ku? ' Para malaikat menjawab; 'Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.' Allah berfirman: 'Bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku?'. Para malaikat menjawab; 'Sekiranya mereka dapat melihat-Mu pasti mereka akan lebih giat lagi dalam beribadah, lebih dalam mengagungkan dan memuji Engkau, dan lebih banyak lagi mensucikan Engkau'.
Allah berfirman: 'Lalu apa yang mereka minta?.' Para malaikat menjawab; 'Mereka meminta surga.' Allah berfirman: 'Apakah mereka telah melihatnya? ' Para malaikat menjawab; 'Belum, demi Allah mereka belum pernah melihatnya.' Allah berfirman: 'Bagaimana sekiranya mereka telah melihatnya? ' Para malaikat menjawab; 'Jika mereka melihatnya tentu mereka akan lebih berkeinginan lagi dan antusias serta sangat mengharap.'.
Allah berfirman: 'Lalu dari apakah mereka meminta berlindung?'. Para malaikat menjawab; 'Dari api neraka.' Allah berfirman: 'Apakah mereka telah melihatnya? ' Para malaikat menjawab; 'Belum, demi Allah wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya sama sekali.' Allah berfirman: 'Bagaimana jika seandainya mereka melihatnya? ' Para malaikat menjawab; 'Tentu mereka akan lari dan lebih takut lagi.'". Beliau (Rasulullah saw) melanjutkan: 'Allah berfirman: 'Sesungguhnya Aku telah mempersaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.' Beliau melanjutkan; 'Salah satu dari malaikat berkata; 'Sesungguhnya diantara mereka ada si fulan yang datang untuk suatu keperluan? ' Allah berfirman: 'Mereka adalah suatu kaum yang majelis mereka tidak ada kesengsaraannya bagi temannya.'. (HR. Bukhari nomor 5929).
KUMPULAN NOMOR 78
DIBANGGAKAN OLEH ALLAH SWT DIHADAPAN MALAIKAT
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Marhum bin 'Abdul 'Aziz dari Abu Na'amah As Sa'di dari Abu 'Utsman dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata; dari Mu'awiyah menceritakan:
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati halaqah para sahabatnya. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: 'Majelis apa ini?' Mereka menjawab; 'Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan anugerah-Nya kepada kami.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya lagi: 'Demi Allah, apakah kalian duduk di sini hanya untuk ini?' Mereka menjawab; 'Demi Allah, kami duduk-duduk di sini hanya untuk ini.' Kata Rasulullah selanjutnya: 'Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Tetapi karena aku pernah didatangi Jibril alaihis-salam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.'.
(HR. Muslim nomor 4869).
KUMPULAN NOMOR 79
KEUTAMAAN BERMAJELIS
Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Mughirah telah mengabarkan kepada kami Al 'Auza'i dari Al Hasan ia berkata: "Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang dua orang Bani Isra`il, salah satunya adalah seorang ulama yang mengerjakan shalat wajib, kemudian ia duduk di majelis untuk mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Kemudian yang satunya lagi adalah seorang yang berpuasa di siang hari dan menghidupkan malam dengan ibadah. Diantara keduanya, manakah yang lebih utama? ', Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
'Keutamaan dan kelebihan ulama yang mengerjakan shalat wajib kemudian duduk di majelis untuk mengajarkan kebaikan kepada orang lain, dibandingkan dengan seorang yang ahli ibadah yang berpuasa di siang hari dan menghidupkan malam dengan ibadah, seperti keutamaan dan kelebihanku dibandingkan dengan seorang yang paling rendah diantara kalian' ". (HR. Darimi nomor 344).
KUMPULAN NOMOR 80
GUNAKANLAH ILMU UNTUK IBADAH
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam berkata, telah memberitakan kepada kami Yahya bin Ayyub dari Ibnu Juraij dari Abu Zubair dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk mendebat para ulama, meremehkan orang-orang bodoh dan menghiasi majelis. Barangsiapa melakukan hal itu, maka baginya neraka, baginya neraka.".
(HR. Ibnu Majah nomor 250).
Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang diperoleh dari Al-Qur’an, Hadits yang Shahih / Hasan, dan Ulama yang shaleh. Sebaik-baik majelis adalah yang ilmunya diamalkan untuk ibadah.
* * *
SILATURAHIM
KUMPULAN NOMOR 86-90
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
(QS. An Nisa (4) Ayat 1).
KUMPULAN NOMOR 86
PENYAMBUNG SILATURAHIM
Telah menceritakan kepada kami Waqi' telah menceritakan kepada kami Fithr. Dan Yazid bin Harun ia berkata; telah mengkhabarkan kepada kami Fithr dari Mujahid dari Abdullah bin 'Amru dia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:
"Sesungguhnya tali silaturahim itu bergantung di `Arsy, bukan disebut sebagai penyambung tali silaturahim orang yang menyambungnya, tetapi yang disebut sebagai penyambung tali silaturahim adalah orang yang jika diputus silaturahimnya ia selalu memperbaikinya." Yazid berkata: yaitu orang yang menyambung.
(HR. Ahmad nomor 6525).
KUMPULAN NOMOR 87
MENYAMBUNG TALI SILATURAHIM
Telah menceritakan kepada kami Hakam bin Musa telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Rijal Al Madani telah mengabarkan kepada kami Umar mantan budak Ghufrah, dari Ibnu Ka'ab dari Abu Dzar dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, ia berkata,
"Kekasihku telah mewasiatiku dengan lima hal; (yaitu agar) aku mengasihi orang miskin dan mau duduk bersama mereka, memandang orang yang di bawahku dan tidak memandang yang di atasku, aku menyambung tali silaturahim walau dijauhi, agar aku mengatakan yang hak walau itu pahit, dan agar aku selalu mengucap Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan perantara Allah)."
Maula Ghufrah berkata, "Aku tidak tahu yang terabaikan dari lima hal itu kecuali ini, yaitu ucapan kami 'Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah." Abu Abdurrahman berkata, "Aku mendengranya dari Hakam bin Musa, dan ia mengatakan dari Muhammad bin Ka'ab dari Abu Dzar dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam seperti itu.".
(HR. Ahmad nomor 20540).
KUMPULAN NOMOR 88
YANG SELALU MENDAPAT PERTOLONGAN ALLAH SWT
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar dan lafazh ini milik Ibnu Al Mutsanna dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata; Aku mendengar Al A'laa bin 'Abdur Rahman bercerita dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwasanya seorang laki-laki pernah berkata;
"Ya Rasulullah, saya mempunyai kerabat. Saya selalu berupaya untuk menyambung silaturahim kepada mereka, tetapi mereka memutuskannya. Saya selalu berupaya untuk berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka menyakiti saya. Saya selalu berupaya untuk lemah lembut terhadap mereka, tetapi mereka tak acuh kepada saya." Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
'Jika benar seperti apa yang kamu katakan, maka kamu seperti memberi makan mereka debu yang panas, dan selama kamu berbuat demikian maka pertolongan Allah akan selalu bersamamu.'.
(HR. Muslim Nomor 4640).
KUMPULAN NOMOR 89
AMALAN PENGHUNI SURGA
Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Abu Maimunah dari Abu Hurairah Bahwasanya ia mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam seraya berkata; "Wahai Rasulullah, jika aku melihatmu maka hatiku merasa nyaman dan mataku terasa sejuk, maka beritakanlah kepadaku tentang segala sesuatu?"
Maka Rasulullah bersabda: "Segala sesuatu dicipta dari air." Abu Hurairah berkata; "Beritakanlah kepadaku tentang amalan yang jika aku kerjakan maka aku akan masuk surga?" maka beliau bersabda: "Sebarkanlah salam, ucapkanlah perkataan yang baik, sambunglah hubungan silaturahim dan shalatlah di waktu malam ketika manusia sedang terlelap tidur, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.".
(HR. Ahmad nomor 9996).
KUMPULAN NOMOR 90
JADILAH HAMBA ALLAH YANG BERSAUDARA
Telah menceritakan kepada kami Hasyim dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Yazid Bin Khumair dia berkata; saya mendengar Sulaim Bin 'Amir lelaki dari Himyar, bercerita dari Ausath Bin Isma'il Bin Ausath Al Bajali yang bercerita dari Abu Bakar, bahwasannya dia mendengarnya ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggal, dia berkata;
Rasulullah berdiri ditahun pertama pada tempatku ini kemudian menangis lalu bersabda: "berlaku jujurlah, karena kejujuran bersama kebaikkan dan keduanya berada disyurga, dan jauhilah dusta, karena dia bersama dosa dan keduanya berada di neraka, dan mohonlah keselamatan kepada Allah, karena sesungguhnya tidaklah seseorang diberi sesuatu setelah dia beriman yang lebih baik dari keselamatan." Kemudian beliau melanjutkan "janganlah kalian saling memutus tali silaturahim, saling menghindar, saling membenci, dan jangan pula saling dengki, akan tetapi jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.".
(HR. Ahmad nomor 17).
Jika ingin selalu mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dan mendapatkan keridhaan Allah SWT di akhirath nanti, maka eratkanlah silaturahim yang sudah terjalin dan sambunglah silaturahim yang terputus.
Muslim yang kuat adalah yang bisa mengalahkan amarah dan rasa bencinya untuk menyambung silaturahim. Muslim yang kaya adalah yang selalu memberi dan banyak memberi maaf untuk menyambung silaturahim dengan saudaranya sesama hamba Allah SWT.
***
RAIH TAQWA RAMADHAN
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
(QS. Al Baqarah (2) Ayat 183).
Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim
Mukadimah
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji bagi Allah swt, dan shalawat serta salam kepada Rasulullah saw, atas setiap ni’mat kesehatan, Islam dan Iman yang telah diberikan kepada kita hingga saat ini.
Materi Buletin MI-114 Edisi 7 ini mencakup keutamaan bagi umat Islam untuk menghidupkan ibadah dan meraih taqwa dalam bulan Ramadhan.
Bacaan ini untuk kita, dan untuk disampaikan juga kepada orang-orang yang kita sayangi. InsyaAllah kita dapat terus belajar memahami serta mengamalkan ilmu-ilmu Islam dalam keseharian kita.
Walhamdulillahi Rabbil Alamin,
Penggerak MI-114
Taqwa
Orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang hidup sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 2-5:
“Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”.
Salah satu bukti kegembiraan umat Islam dalam menyambut Ramadhah adalah dengan mewarnai hari-hari di dalam bulan Ramadhan dengan belajar dan mengajarkan Qur’an.
Qur’an bukan cuma di baca, tetapi juga difahami maknanya. Qur’an bukan cuma di lisan tetapi juga diamalkan dengan perbuatan.
Ramadhan menjadikan Umat Islam sebagai Umat yang bijaksana.
Allah SWT berfimran dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 184:
“… Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. … “.
Allah SWT memberikan keringanan kepada kita, sesuai dengan kondisi kita, meskipun terhadap sesuatu yang Ia wajibkan. Salah satu implikasi nilai ini dalam membangun system kehidupan adalah seorang pemimpin, baik dalam lingkup keluarga, lingkungan, organisasi, ataupun Negara haruslah bijak dalam memahami kondisi umat yang dipimpin.
Jangan gunakan kemampuan dan kewenangan anda untuk mempersulit dan menghambat kebaikan bagi orang lain. Boleh tegas, boleh disipilin, tetapi jangan memaksakan sesuatu kepada seseorang diluar dari kemampuannya. Umat Islam harus bijaksana. Tetapi keringanan bukan berarti lepas tanggung jawab. Penuhi kewajiban puasa dan jadilah umat yang bertanggung jawab.
Ramadhan menjadikan Umat Islam sebagai Umat yang bertanggung jawab.
Puasa yang anda tinggalkan harus anda ganti. Ini adalah tuntan Islam kepada kita umat Islam. Kita dituntun untuk menjadi orang yang bertanggung jawab.
Jangan jadi umat yang lemah. Jangan hanya karena ngantuk, kita tinggalkan ibadah sahur. Jangan hanya karena sibuk kerja, belajar, atau aktivitas lainnya, kita rela tinggalkan shalat. Jangan hanya karena lapar, kita nekad merampas hak orang lain. Jangan karena nafsu, kita biarkan diri kita terjerumus dalam perbuatan maksiat.
Segala sesuatu yang kita perbuat harus kita pertanggung jawabkan. Segala sesuatu yang telah Allah wajibkan kepada kita, harus kita penuhi. Dan segala sesuatu yang telah Allah haramkan kepada kita, harus kita tinggalkan.
Jadilah umat islam yang bertanggung jawab. Jadilah umat yang lebih takut kepada dosa daripada takut kepada resiko kerugian di dunia. Jadilah umat yang lebih takut kepada Allah SWT, daripada takut kepada bos, atau manusia yang berkuasa.
Ramadhan menjadikan Umat Islam sebagai Umat yang ikhlas dalam berbagi kebaikan.
Allah SWT berfimran dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 184: “ … Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”.
Salah satu kompensasi terhadap kewajiban puasa adalah dengan berbagi kebaikan. Umat Islam selalu dituntun untuk menyebar manfaat. Orang yang sukses puasanya adalah orang yang kegemarannya untuk membantu fakir miskin terus semakin meningkat setelah Ramadhan. Dan yang utama adalah semuanya dilakukan karena Allah SWT. Itulah ikhlas, dan untuk itulah kita puasa.
Ikhlas adalah melakukan sesuatu karena Allah SWT, bukan karena yang lain. Jadilah kita umat yang rela untuk tinggalkan segala sesuatu karena Allah SWT, dan jangan pernah tinggalkan Allah SWT karena sesuatu.
Ramadhan menjadikan Umat Islam sebagai Umat yang bersyukur.
Allah SWT berfimran dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 185: “ … Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”.
Banyak hal dalam puasa yang mengarahkan kita untuk menjadi insan yang selalu bersyukur. Disaat berbuka puasa, kita bisa merasakan ni’mat makan dan minum yang mungkin dalam beberapa waktu kita abaikan. Orang baru bisa merasakan ni’matnya makan dan minum ketika dia sudah merasakan lapar. Jika tidak ada kewajiban puasa, maka boleh jadi orang-orang yang mampu dan kaya akan lupa untuk mensyukuri ni’mat makan dan minum, disebabkan karena mereka tidak pernah dalam kondisi lapar.
Perbanyaklah mengucap Alhamdulillah, karena kita masih sehat, karena kita masih bisa merasakan ni’matnya menjadi muslim bersaudara yang bisa menghidupkan hari-hari di bulan Ramadhan dengan Tarawih dan Tadarus bersama.
Pesan Nabi SAW dan Keutamaan Ibadah Puasa Ramadhan.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Shaum itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali).
Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta'ala daripada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah swt).
Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa".
(HR. Bukhari nomor 1761).
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Ali – Imran (3) ayat 14-17:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
(Yaitu) orang-orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,". (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.
Untuk itu, perbanyaklah beristighfar pada waktu sahur. Beberapa dzikir, istighfar, dan do’a yang InsyaAllah bermanfaat untuk kita amalkan, khususnya di bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:
Asyhadu alla ilaha illa Allah
“saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah”
Astaghfirullah
“saya mohon ampun kepada Allah”
Allahumma inna as alukal jannata wa a’udzubika minan naar
“Wahai Tuhanku. sesungguhnya aku memohon surga kepadaMu dan aku berlindung kepadaMu dari siksa neraka”
Allahumma innaka ‘afuwwun
tuhibbul ‘afwa fa’fu anna
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maka saya mohon maafkanlah saya”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar‐Rayyan, yang pada hari qiyamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali
para shaimun (orang‐orang yang berpuasa). Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka; Mana para shaimun, maka para shaimun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut". (HR. Bukhari nomor 1763).
InsyaAllah kita bisa memaksimalkan ibadah kita dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas, untuk Allah SWT. InsyaAllah setiap ibadah kita mendapat ridha dari Allah SWT. Dan InsyaAllah kita termasuk orang-orang yang dapat melewati pintu Ar‐Rayyan pada hari kiamat nanti.
“Majelis Ilmu 114 menyelenggarakan Kajian Ilmu Setiap Rabu dan Jum’at jam 17.00 WIB di Masjid Al-Mukminun”
***
Bagi anda yang ingin hadir dalam Kajian Majelis Ilmu 114, Silaturahim Bulanan Majelis, mendapatkan Buletin MI-114, Kumpulan Hadits MI-114, memberikan tulisan dan bahan materi dakwah, donasi pendanaan, menyampaikan pertanyaan ataupun saran, dapat menghubungi Majelis Ilmu 114 melalui email:
MAYSIR, GHARAR & RIBA
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
(QS. Al Baqarah (2) Ayat 168).
Maysir
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 219: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan maysir (judi). Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…,”
Kemudian Allah SWT berfirman kembali dalam Qur’an Surah Al-Maidah ayat 90: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
Dengan demikian maka telah jelas bahwa maysir atau perjudian dan bentuk lain dari permainan undi nasib adalah haram hukumnya, meskipun ada beberapa manfaat didalamnya bagi segelintir orang. Oleh karena itu meskipun judinya hanya dengan jumlah uang yang sedikit, maka hukumnya tetap haram. Dalam istilah lain bisa saja judi itu disebut “taruhan”, namun apapun istilahnya, selama prinsipnya adalah sama dengan judi dan undi nasib, maka hukumnya tetap haram.
Gharar
“Rasulullah SAW melarang jual beli yang mengandung gharar”. (HR. Muslim, Tirmizi, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).
Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa al-gharar adalah yang tidak jelas hasilnya. Ketidakjelasan tersebut mencakup transaksi yang tidak jelas aturannya sehingga menimbulkan ketidakrelaan dan bisa merugikan salah satu pihak.
Jual beli barang yang belum ril wujudnya dan bersifat spekulasi adalah gharar. Misalnya menjual janin ternak yang tidak diketahui kelahirannya kapan dan apa jenis kelaminnya, menjual tanah yang tidak diketahui batas-batasnya, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, jika anda memberikan uang kepada pihak tertentu, kemudian tidak jelas uang itu akan dikelola, diolah atau dikembangkan untuk apa dan bagaimana cara mengelolanya, tetapi pada akhirnya nanti anda dijanjikan bahwa uang itu akan dikembalikan kepada anda dengan tambahan keuntungan tertentu, maka transaksi tersebut juga termasuk gharar.
Riba
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 275-276: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”.
Kemudian dilanjutkan di ayat 278-279: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”.
Dalam Qur’an Surah Ali-Imran ayat 130, Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.
Selain itu, Allah SWT juga telah memberikan contoh dalam Qur’an Surah An-Nisa ayat 161: “dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi dan/atau Kafir) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”.
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah” (Qur’an Surah Ar-Rum ayat 39).
Apakah hukum asuransi, tabungan, deposito, investasi dan transaksi keuangan lainnya dalam Islam ?
Apapun bentuk produk keuangan, baik itu asuransi, tabungan, deposito, investasi, dan bentuk lainnya, selama didalamnya terdapat Riba, praktek Maysir, maupun Gharar, maka sebaiknya tinggalkanlah.
Umat Islam senantiasa dituntun untuk mencari reziki dari sumber yang halal, dengan cara yang halal, dan pergunakanlah reziki itu untuk hal-hal yang dihalalkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Jika ada yang tidak jelas, atau yang meragukan anda, maka sebaiknya jangan ikuti yang ragu-ragu itu. Pilihlah hal-hal yang sudah jelas halalnya, dan tetaplah dijalan yang benar.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 147: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”. Oleh karena itu ikutilah tuntunan Al-Qur’an, tuntunan Hadits Shahih, dan tuntunan Para ulama yang Shaleh dalam menjalani kehidupan, termasuk didalamnya adalah dalam hal berniaga atau mencari reziki.
Solusi untuk memperkuat kondisi keuangan
Jika anda ingin mengikuti suatu produk keuangan, maka ikutilah produk-produk atau transaksi keuangan dari lembaga syariah yang menerapkan prinsip syariah. Saat ini sudah ada Bank Syariah, Asuransi Syariah, dan lain sebagainya.
Jika anda telah mengikuti produk yang dijanjikan syariah oleh lembaga syariah tapi kemudian dalam operasionalnya ada transaksi yang menyimpang dari syariah, maka sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui apa yang anda niatkan dan apa yang telah anda ikhtiarkan. Dengan niat shaleh dan ikhtiar yang baik, InsyaAllah semua yang anda lakukan tetap akan bernilai ibadah dan terhindar dari dosa.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 284: “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Selain itu, beberapa hal yang bisa kita upayakan untuk memperkuat kondisi ekonomi kita adalah dengan cara jangan boros dalam membelanjakan harta, jangan kikir dengan harta yang kita miliki, tunaikanlah zakat, perbanyaklah sedekah, gemarlah berinfaq, dan jangan pernah mengambil sesuatu yang bukan hak kita.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al-Isra ayat 26 dan 27: “ ….. dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.
Kemudian Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 268: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 188:
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.
Oleh karena itu ikutilah tuntunan Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam Qur’an Surah At Taghaabun ayat 16: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”.
Dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 245, Allah SWT juga berfirman: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. InsyaAllah dengan taat kepada Allah SWT, semua kebutuhan kita dan keluarga kita akan terpenuhi.
IKHLAS
“Dan Aku (Allah SWT) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Allah SWT)”
(QS. Adz Dzariyat (51) Ayat 56).
Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena ingin mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya akan bernilai sebagaimana yang dia niatkan”. (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Hadits nomor 1 dalam Kitab Arbain, Imam Nawawi).
Penjelasan hadits tersebut menerangkan bahwa sebab dituturkannya hadits ini adalah terkait dengan peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah. Saat itu, Rasulullah SAW mendapatkan laporan bahwa ada seorang laki-laki Makkah yang ikut berhijrah hanya agar bisa menikahi seorang wanita, dan bukan karena untuk memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Dari peristiwa tersebut, Rasulullah kemudian bersabda yang pada intinya menegaskan bahwa nilai suatu amalan itu ditentukan berdasarkan niatnya.
Ikhlas
Allah Ta’ala berfirman:
Padahal mereka (orang-orang yang telah diberi Kitab dari Allah) tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (ikhlas) dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”. (Qur’an Surah al-Bayyinah ayat 5).
Orang-orang di zaman Jahiliyah dulu jika mengharapkan keridhaan Tuhan, mereka sembelih unta sebagai kurban, lalu darah unta itu disapukan pada dinding Baitullah atau Ka’bah. Kaum Muslimin hendak meniru perbuatan mereka itu, lalu turunlah ayat 37, Qur’an Surah Al-Hajj, dimana Allah Ta’ala berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”.
Sesungguhnya ikhlas itu berarti melakukan segala sesuatu dengan niat untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. Dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT, dan memurnikan ketaatan dari hal-hal yang dapat merusaknya.
Beberapa hal yang dapat merusak keikhlasan kita adalah rasa sombong, riya, ingin dipuji orang, dan mengharapkan materi duniawi. Orang yang melakukan kebaikan, hanya akan mendapatkan nama baik dimata manusia, jika dalam melakukan kebaikan itu tidak diniatkan lillahi ta’ala.
Sungguh perbedaan antara amalan seorang Muslim dengan mereka yang non Muslim adalah terletak pada niatnya. Amalan baik seorang Muslim selalu ditujukan atas nama Allah SWT, dan amalan baik dari seorang yang non-muslim bisa ditujukan atas banyak nama, bisa jadi atas nama kebaikan, atas nama kemanusiaan, ataupun atas nama kecintaan terhadap makhluk dan duniawi.
Amalan yang diniatkan karena Allah SWT akan bernilai ibadah, sementara amalan yang diniatkan karena selain Allah SWT hanya akan mendapatkan seperti apa yang diniatkan itu, tanpa adanya Ridha dari Allah SWT.
Kisah
Dalam salah satu kitab yang disusun oleh Imam Al-Ghazali, diceritakan tentang dua orang bersaudara yang tinggal serumah dengan kondisi keimanan yang berbeda.
Sang kakak yang terkenal sebagai seorang ahli ibadah, tinggal di lantai atas, dan sang adik yang terkenal sebagai seorang ahli maksiat, tinggal di lantai dasar rumah mereka.
Suatu ketika, muncul dalam benak sang adik yang terkenal ahli maksiat itu untuk bertaubat. Dia merasa tidak bahagia dengan hidupnya yang penuh dengan dosa. Niatnya sudah mantab untuk kembali ke jalan Tuhan yang lurus, maka dia pun memutuskan untuk naik ke lantai atas, bertemu dengan kakaknya yang tekenal ahli ibadah agar dapat menuntunnya dalam bertaubat.
Pada saat yang sama, muncul dalam benak sang kakak yang ahli ibadah itu meninggalkan ibadahnya. Dia merasa penasaran dengan kehidupan maksiat dan ingin mencobanya. Imannya goyah pada saat itu, dan dengan penuh keyakinan dia berniat keluar dari rumahnya untuk bersenang-senang.
Sang adik pun pada akhirnya dengan niat bertaubat melangkahkan kakinya, naik tangga menuju ke tempat kakaknya di lantai atas. Secara bersamaan sang kakak dengan niat maksiat pun melangkahkan kakinya, turun tangga hendak keluar dari rumah.
Tanpa diduga, sang kakak tersandung dan kemudian jatuh terguling dari tangga dan menabrak adiknya yang sedang melangkah naik. Keduanya jatuh dan membentur tembok. Seketika keduanya meninggal dunia.
Pada hari setelah itu, para ulama yang taat yang hidup bersama mereka, diberi hikmah tentang kejadian tersebut. Maka diberitakanlah perihal kondisi kedua orang bersaudara itu di yaumul akhir nanti.
Sang kakak yang ahli ibadah, yang boleh jadi jaraknya dengan surga sudah sangat dekat, karena meninggalnya dengan niat dan langkah yang buruk, maka ia dikabarkan akan dibangkitkan pada yaumul akhir bergabung dengan golongan orang-orang yang merugi.
Sementara sang adik yang banyak hilaf, yang boleh jadi jaraknya dengan neraka sudah sangat dekat, karena meninggalnya dengan niat taubat dan telah melangkah menuju kebaikan, maka ia dikabarkan akan dibangkitkan pada yaumul akhir bergabung dengan golongan orang-orang yang beruntung.
Demikian kisah hikmah yang disampaikan dalam salah satu kitab yang disusun oleh Imam Al-Ghazali. Sungguh keikhlasan setiap insan dalam beribadah akan diuji. Amal shaleh dengan niat yang lurus untuk mendapatkan Ridha Allah SWT, perlu terus dijaga selama hidup.
Bagi mereka yang ahli ibadah, janganlah sombong dan berpuas diri dengan ibadahnya. Selalu ada ujian dan cobaan yang akan merintangi hidup. Sesungguhnya kesuksesan ibadah ditentukan pada akhir hayat. Oleh karenanya, teruslah meningkatkan kualitas ibadah selama hidup.
Bagi
mereka yang ahli maksiat, janganlah pesimis, menyerah dan menutup diri dari
perubahan. Selalu ada jalan dan kesempatan untuk bertaubat. Bersegeralah untuk meluruskan
niat dan memperbaiki langkah. Ingatlah selalu, bahwa Allah SWT adalah Maha
Pengampun dan Maha Penyayang.
Mengambil Hikmah dari Surah An-Nas
Allah SWT memiliki 3 sifat utama dalam pokok ketuhanan yaitu Rubuiyah (Rabbin Nas), Mulkiyah (Malikin Nas) dan Uluhiyah (Ilahin Nas).
Rububiyah menunjukan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, sehingga setiap hukum yang telah ditetapkannya wajib ditaati oleh seluruh makhluk. Orang yang ikhlas tidak akan meninggalkan hukum Allah karena dunia dan tidak akan ragu untuk meninggalkan segala hukum yang bertentangan dengan hukum Allah SWT.
Mulkiyah menunjukan bahwa semua yang ada di alam semesta adalah milik-Nya, maka semua yang ada pada manusia adalah titipan, baik itu diri maupun harta kita. Pada hakekatnya semua titipan itu harus kita jaga dan kita manfaatkan sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Orang yang ikhlas tidak akan galau berkepanjangan karena kehilangan harta, jabatan dan segala sesuatu materi duniawi, karena yakin semua itu adalah milik Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.
Uluhiyah menunjukan bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Tuhan yang berhak disembah oleh Manusia dan seluruh makhluk. Manusia yang memohon, berdo’a dan menyembah kepada selain Allah SWT adalah musyrik.
Orang yang ikhlas tidak akan bermohon-mohon kepada manusia ataupun makhluk yang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Hanya kepada Allah SWT kita memohon, karena hanya Allah SWT yang dapat memenuhi semua kebutuhan kita.
Mengambil Hikmah dari Surah Al-Ikhlas
Berbeda dengan surah An-Nas dan Al-Falaq, didalam surah Al-Ikhlas tidak tertulis dan disebut kata Ikhlas dalam ayat-ayatnya sebagaimana Qul audzu birabbinnas dan Qul audzu birabbil falaq.
Orang yang ikhlas tidak akan menyebut
dan mengaku-ngaku ikhlas ataupun pamer dengan ibadahnya. Ikhlas adalah
melakukan segala sesuatu karena Allah SWT, untuk Allah SWT, dan dengan petunjuk
Allah SWT, bukan karena kesenangan pribadi, bukan karena kepuasan hati, bukan
karena jabatan, harta, karena manusia atau karena lain tujuan duniawi. InsyaAllah kita semua termasuk orang-orang yang Ikhlas dan diridhai Allah SWT.
* * *
JUM’AT
KUMPULAN NOMOR 96-100
Apabila (kamu) telah (menunaikan) sembahyang (Jum’at), maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan perbanyaklah mengingat Allah supaya kamu beruntung.
(Al - Qur’an Surah Al-Jumu’ah ayat 10).
KUMPULAN NOMOR 96
SHALAT SUNNAH BA’DA JUM’AT
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan 'Ubaidullah bin Said keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Ibnu Said dari 'Ubaidullah, katanya; telah mengabarkan kepadaku Nafi' dari Ibnu Umar, (dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar katanya; "Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dua raka'at sebelum Zhuhur dan dua raka'at setelahnya, dan dua raka'at setelah maghrib dan dua raka'at setelah isya`, dan dua raka'at setelah jumat, adapun (sunnah) maghrib dan isya` dan jumat, aku shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di rumahnya.". (HR. Muslim nomor 1200).
KUMPULAN NOMOR 97
TIGA KALI MENINGGALKAN SHALAT JUM’AT
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Muhammad bin 'Amr berkata; telah menceritakan kepadaku 'Abidah bin Sufyan Al Hadlrami dari Abu Ja'd Ad Dlamri, dia termasuk sahabat Nabi Shallallahu'alaihiwasallam berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Barangsiapa yang meninggalkan tiga jumat dengan menganggap enteng, tanpa ada udzur (darinya) maka Allah Tabaroka Wa Ta'ala akan menutup hatinya.".
(HR. Ahmad nomor 14951).
KUMPULAN NOMOR 98
PERBANYAK SHALAWAT DI HARI JUM’AT
(Ahmad bin hanbal) berkata; telah menceritakan kepada kami Husain bin 'Ali Al Ju'fi dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir dari Abu Al Asy'ats As-Shan'ani dari Aus bin Aus berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Hari yang paling utama di antara kalian adalah Hari Jumat, karena pada hari itu Adam dicipta, diwafatkan, dan ditiupkan ruh. Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu (Jum’at). Sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku." Kami berkata; "Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami sampai kepada engkau sedangkan engkau telah hancur?". Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah AzzaWaJalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi Shallallahu'alaihiwasallam.". (HR. Ahmad).
KUMPULAN NOMOR 99
BACAAN NABI SAAT KHUTBAH JUM’AT
Telah menceritakan kepada kami Ya'qub telah menceritakan kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad bin Abu Bakr bin Muhammad bin 'Amru bin Hazm dari Yahya bin Abdullah bin 'Abdurrahman bin Sa'ad bin Zurarah dari Ummu Hisyam binti Haritsah dia berkata, "Dahulu tungku masakku bergabung dengan tungku masak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selama dua tahun, atau satu tahun beberapa bulan, dan tidaklah aku mendapatkan surat 'Qaaf Wal Qur'aanil majiid', kecuali dari lisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang beliau bacakan setiap hari jumat di atas mimbar saat berkhutbah di hadapan manusia.".
(HR. Ahmad nomor 26185).
KUMPULAN NOMOR 100
EMPAT GOLONGAN YANG TIDAK DIWAJIBKAN JUM’AT
Dari Thariq bin Syihab, dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jum’at itu wajib atas setiap Muslim dengan berjama’ah, kecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak dan orang sakit.”.
(HR Abu Dawud, nomor. 1067).
* * *
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:" Hari Jumat adalah hari ibadah. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan, laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Dan waktu mustajab pada hari Jumat seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan".
Jika di hari biasa kita sudah banyak membaca bacaan yang hanya terkait dengan hal-hal duniawi, maka di hari Jum’at perbanyaklah membaca Qur’an. Bacalah dengan niat mengharap ridha Allah SWT, bacalah dengan mempelajari maknyanya, dan bacalah dengan tindak lanjut amalan yang nyata.
Jika di hari biasa kita sudah banyak mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang hanya terkait dengan hal-hal duniawi, maka di hari Jum’at perbanyaklah mengerjakan amalan sunnah. Sedekah, menghidupkan majelis ilmu, menyambung dan mempererat silaturahim adalah beberapa amalan yang lebih utama dari sekedar menghabiskan waktu luang dengan aktivitas yang tidak bernilai ibadah.
Jika di hari biasa kita hanya bershalawat kepada Rasulullah SAW saat mendengar ada orang yang menyebut nama Beliau, maka di hari Jum’at perbanyaklah bershalawat meskipun tidak terdengar nama Beliau disebut.
Jika nilai Jum’at begitu besar seperti halnya harta yang berlimpah, maka hanya orang bodoh yang mau tidak menunaikan ibadah Jum’at. Jika meninggalkan Jum’at sama bahayanya dengan membakar diri, maka hanya orang gila yang mau meninggalkan Jum’at dengan sengaja.
* * *
IMAN KEPADA ALLAH SWT
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.
(QS. Ali Imran (3) Ayat 2).
Rasulullah SAW bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”. (HR. Bukhari nomor 16).
Percaya terhadap adanya Tuhan.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al Baqarah (2) ayat 21: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Kemudian diterangkan dalam Qur’an Surah Ali Imran (3) ayat 6: “Dialah (Allah SWT) yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Kita ada karena ada yang menciptakan. Selayaknya pakaian, rumah, makanan, kendaraan, dan segala sesuatu benda di alam semesta ini juga ada, karena ada yang menciptakan. Manusia yang tidak mengakui adanya Tuhan yang Maha Pencipta secara tidak langsung telah mengingkari keberadaan dirinya sendiri dan kafir kepada Allah SWT.
Kisah.
Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa ada seorang kafir yang sangat yakin bahwa tidak ada Tuhan di dunia ini. Semuanya yang ada di dunia ini tercipta dengan sendirinya, tanpa ada Yang Maha Pencipta.
Dengan penuh keangkuhan, dia kemudian mengundang para Ulama ahli Tauhid di zaman-nya untuk berdebat dan membuktikan kepada masyarakat tentang keyakinan siapa yang paling benar.
Menerima undangan tersebut, maka para Ulama ahli Tauhid kemudian bermusyawarah dan memilih salah seorang yang diantara mereka yang paling bijak untuk menghapi tantangan dari orang kafir itu.
Setelah melalui perundingan sebelum acara, maka disepakatilah antara orang kafir dan para Ulama tersebut segala hal terkait dengan acara tersebut, mulai dari waktu dan tempat pelaksanaan sampai pada kesepakatan bahwa siapa yang kalah, yang tidak dapat meyakinkan keyakinannya, mesti tunduk dan menerima kebenaran.
Hari yang dinanti pun tiba. Masyarakat, para pendukung orang-orang kafir maupun para Ulama pun hadir di tempat yang disepakati. Namun acara belum dapat dimulai karena Ulama yang akan bertarung dengan orang kafir itu belum kunjung tiba.
Sambil menunggu kedatangan Ulama tersebut, orang kafir kemudian memulai orasinya dengan menghina para Ulama. Ia menyatakan bahwa para Ulama itu sebenarnya takut menghadapinya dan berusaha untuk mengulur-ulur waktu. Dia sangat yakin bahwa keyakinan para Ulama ahli Tauhid itu begitu dangkal dan tidak bisa dipertahankan secara akal sehat.
Beberapa saat kemudian, tampaklah dari kejauhan Ulama yang dimaksud berjalan, datang menuju ke tempat acara. Kedatangan Ulama tersebut disambut dengan salam dari para Ulama ahli Tauhid. Ia kemudian dipersilahkan untuk menyampaikan khutbah.
Sebelum Ulama tersebut memulai khutbahnya, orang kafir dipersilahkan untuk menyampaikan khutbahnya dan segala argumentasi untuk meyakinkan bahwa Tuhan tidak ada, dan bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.
Setelah itu, sampailah giliran sang ulama untuk bicara. Pada kesempatan tersebut Ulama ahli Tauhid yang terpilih itu segera menyampaikan salam dan permohonan maaf kepada semua hadirin, karena ia telah datang terlambat.
Ulama terpilih itu kemudian menjelaskan kejadian yang menyebabkan ia tidak dapat datang tepat waktu. Ia menjelaskan bahwa tempat ia tinggal adalah di daratan seberang yang di pisahkan oleh sungai. Oleh karena itu, ia tidak dapat dengan cepat berjalan ke tempat acara karena harus menunggu perahu atau rakit untuk bisa menyeberangi sungai.
Lama ia menuggu, namun tidak ada perahu atau pun rakit yang datang. Hingga akhirnya ia melihat ada sekumpulan kayu yang berserakan yang terapung dan hanyut mengikuti arus sungai. Ketika kumpulan kayu itu mendekat ke arahnya, tiba-tiba kayu-kayu tersebut bergerak dan bersatu padu hingga terbentuklah sebuah rakit dan berhenti tepat di depannya.
Ia kemudian naik ke rakit tersebut, rakit itu membawanya menyeberangi sungai dan akhirnya sampailah ia ke tempat acara.
Mendengar penjelasan tersebut, orang kafir kemudian berkata dengan keras “sungguh engkau adalah seorang pembohong besar !!! Bagaimana mungkin kumpulan kayu itu dapat bersatu padu dengan sendirinya kalau tidak ada orang atau sesuatu yang menggabungkannya ???” Tidak mungkin sebuah rakit dapat tercipta dengan sendirinya !!!”
Mendengar sanggahan dari orang kafir itu, sang ulama kemudian berkata “ jika engkau tidak yakin bahwa ada sebuah rakit yang dapat tercipta dengan sendirinya, maka bagaimana bisa engkau meyakini bahwa tida ada Tuhan di dunia ini yang menciptakan engkau, seluruh manusia dan segala sesuatu di alam semesta ini ???”
Orang kafir itu pun terdiam, tidak bisa berkata-kata, dan segala argumentasinya bahwa Tuhan tidak ada, dan bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan dengan sendirinya terbantahkan.
Sungguh seorang pembohong besar adalah orang yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, dan segala sesuatu di dunia ini terjadi dengan sendirinya.
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.
(Qur’an Surah Al Baqarah (2) ayat 116).
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.
(Qur’an Surah Al Maidah (5) ayat 73).
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan.
(Qur’an Surah Al Ankabut (29) ayat 17).
Kensekuensi Iman Kepada Allah SWT.
Orang yang beriman kepada Allah tidak akan berdusta, dan tidak akan larut dalam kebingungan ketika dia menghadapi masalah dalam hidup.
Bagaimana mungkin seorang yang percaya kepada Tuhan akan larut dalam kebingunan ketika menghadapi masalah dalam hidup, sementara dia tau bahwa ada Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana yang dapat menolongnya dan menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapinya.
Bagaimana mungkin seorang yang percaya terhadap adanya Tuhan akan berdusta, sementara dia tau bahwa dia tidak akan pernah luput dari pengawasan Tuhan.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al An’am (6) ayat 3: Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.
Seorang mukmin tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan sesuatu apa pun dan akan menjalani hidupnya dengan perbuatan-perbuatan baik.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, “
(Qur’an Surah An Nisa (4) ayat 36).
Sikap Seorang Mukmin kepada Musyrikin.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al An’am (6) ayat 108: Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.
Islam adalah satu-satunya Agama yang diridhai Allah SWT, tetapi Umat Islam adalah Umat yang santun dan tidak akan menghina Agama lain. Mari kita wujudkan Rahmatan Lil Alamin.
* * *
MUSIBAH
KUMPULAN NOMOR 101-105
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.
(Al - Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 155-157).
KUMPULAN NOMOR 101
ISTIRJA
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah mengabarkan kepada kami Tsabit, dari Ibnu Umar bin Abu Salamah, dari ayahnya dari Ummu Salamah, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian tertimpa musibah maka hendaknya ia mengucapkan; “INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUN ALLAAHUMMA 'INDAKA AHTASIBU MUSHIIBATII FA-AAJIRNII FIIHAA WA ABDIL LII BIHAA KHAIRAN MINHAA” (yang artinya): “sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami akan kembali. Ya Allah aku mengharapkan kebaikan pada musibahku dan berilah aku kebaikan padanya dan gantikanlah untukku yang lebih baik darinya!”.
(HR Abu Daud nomor 2712).
KUMPULAN NOMOR 102
KEUTAMAAN ISTIRJA
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Waki' Ibnul Jarrah dari Hisyam bin Ziyad dari Ibnunya dari Fathimah binti Al Husain dari Bapaknya ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa tertimpa musibah kemudian teringat kejadian tersebut lalu mengucapkan istirja (ucapan Inna Lillaahi wa Inna Ilaihi Raaji'uun), meskipun kejadiannya telah berlalu, maka Allah tetap akan menulis pahalanya.". (HR. Ibnu Majah nomor 1589).
KUMPULAN NOMOR 103
PERUMPAMAAN ORANG MUKMIN
Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Khallal dan yang lain, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Sa'id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan orang mu`min seperti tanaman, angin senantiasa menerpanya (ke kiri dan ke kanan) dan orang mu`min itu akan senantiasa tertimpa musibah, sedangkan perumpamaan orang munafik seperti pohon padi, tidaklah ia bergerak hingga di ketam." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih.
(HR. Tirmidzi nomor 2792).
KUMPULAN NOMOR 104
JANGAN BERANGAN-ANGAN UNTUK MATI
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Salam telah mengabarkan kepada kami Isma'il bin 'Ulayyah dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian berangan-angan untuk mati karena musibah yang menimpanya, kalau memang hal itu harus, hendaknya ia mengatakan; "Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku, dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku.". (HR. Bukhari nomor 5874).
KUMPULAN NOMOR 105
MEMINTA-MINTA
Telah menceritakan kepada kami Musaddad dan Abu Nu'aim mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Harun bin Riyab telah menceritakan kepadaku Kinanah bin Nu'aim dari Qabishah bin Mukhariq Al Hilali ia berkata, "Aku menanggung sebuah denda, maka aku pun datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan menanyakannya kepada beliau, lalu beliau bersabda:
"Tunggulah wahai Qabishah, hingga datang Zakat kepada kami dan kami bisa memberikannya kepada kamu." Kemudian beliau bersabda lagi: "Wahai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta tidaklah halal kecuali bagi salah satu dari tiga orang; seseorang yang menanggung denda, ia boleh meminta. Maka hendaklah ia meminta-minta sampai mendapatkannya, kemudian ia menahan diri. Seorang laki-laki yang tertimpa musibah yang menghancurkan hartanya, ia boleh meminta-minta, maka hendaklah ia meminta hingga mendapatkan penopang hidup atau sesuatu yang dapat menutupi kebutuhan hidup. Dan seseorang yang tertimpa kefakiran hingga tiga orang yang berakal sempurna dari kaumnya mengatakan 'Fulan telah tertimpa kefakiran', ia boleh meminta-minta. Maka hendaklah ia meminta-minta sampai mendapatkan penopang hidup atau penutup kebutuhan hidup, kemudian menahan diri. Wahai Qabishah, meminta-minta dari selain itu adalah sesuatu yang dosa, jika ia makan maka itu dosa.".
(HR. Darimi nomor 1616).
* * *
Jangan mencaci maki musibah dan jangan juga mengeluhkan musibah. Gunakan lisan kita untuk mengucapkan istirja adalah jauh lebih bermanfaat dari sekedar marah-marah atau mengucapkan kata-kata putus asah.
Jangan larut dalam kesedihan ketika tertimpa musibah, karena yakinlah bahwa musibah bagi orang-orang yang beriman adalah penghapus dosa dan ujian untuk meningkatkan derajat iman kita menjadi lebih tinggi di sisi Allah SWT.
Sabar, tawakal kepada Allah dan teruslah berikhtiar pasca tertimpa musibah. Karena sesungguhnya orang yang lebih kuat adalah orang yang mampu bangkit dari keterpurukan setelah tertimpa musibah.
MUSIBAH
KUMPULAN NOMOR 106-110
“Dan (apa saja) musibah yang menimpa kamu maka (itu) adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”.
(Al - Qur’an Surah Asy Syura ayat 30).
KUMPULAN NOMOR 106
BUKAN GOLONGAN YANG BAIK
Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Ali dia berkata; telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb dia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Auf dari Khalid Al Ahdab dari Shafwan bin Muhriz dia berkata; Abu Musa pernah jatuh pingsan, kemudian orang-orang menangisinya, lalu ia berkata, "Aku berlepas diri dari kalian sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berlepas diri (dan mengatakan): “Bukan golongan kami, orang-orang yang mencukur (rambut kepala dan jenggot), merobek (pakaian) dan meratap (larut dalam kesedihan) ketika tertimpa musibah".
(HR. Nasai nomor 1838).
KUMPULAN NOMOR 107
ORANG YANG PALING BERAT COBAANNYA
Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Ashim dari Mush'ab bin Sa'd dari Sa'ad ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya; Siapakah orang yang paling berat cobaannya? Beliau menjawab: "Para nabi, kemudian orang-orang yang mulia sesudahnya (derajat keimanannya setingkat di bawahnya), dan orang-orang yang mulia sesudahnya )derajat keimanannya setingkat di bawahnya). Seseorang akan diuji sesuai dengan tingkat agamanya. Jika agamanya teguh, maka ia akan bertambah teguh, namun jika agamanya lemah maka ia pun bertambah lemah. Musibah akan terus menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini tanpa ada satu dosa pada dirinya.".
(HR. Darimi nomor 2664)
KUMPULAN NOMOR 108
TALBINAH
Telah menceritakan kepada kami Hibban bin Musa telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus bin Yazid dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Urwah dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa dia memerintahkan untuk mengkonsumsi talbinah (adonan yang terbuat dari gandum dan buah kurma) untuk orang yang sakit dan orang yang sedih karena musibah yang menimpanya, dia juga berkata; "Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya talbinah (adonan yang terbuat dari gandum dan buah kurma) itu dapat menyembuhkan orang yang sakit dan menghilangkan kesedihan)”.
(HR. Bukhari nomor 5257).
KUMPULAN NOMOR 109
TANGISAN KEPADA MAYIT
Dari Ibnu Abbas bahwa 'Aisyah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menambah siksaan terhadap orang kafir, karena tangisan keluarganya atas kematiannya.”. Abdullah berkata; Selanjutnya Aisyah berkata; Cukuplah firman Allah ini sebagai dalil bagi kalian, "Dan orang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain".
(HR. Muslim nomor 1544).
Ada yang mengatakan bahwa mayit akan disiksa karena tangisan keluarga. Ketika hal tersebut didengar oleh Aisyah r.a, maka ia menyampaikan hadits tersebut diatas. Islam menuntun kita untuk tidak berlebihan dalam bersedih terhadap orang yang meninggal dunia dan mayit (orang beriman) tidak akan disiksa karena ditangisi.
KUMPULAN NOMOR 110
MUSIBAH MENGGUGURKAN DOSA MUSLIM
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A'masy dari Ibrahim At Taimi dari Al Harits bin Suwaid dari Abdullah radliallahu 'anhu; saya pernah menjenguk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit, kataku selanjutnya; "Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat, oleh karena itulah anda mendapatkan pahala dua kali lipat." Beliau menjawab: "Benar, tidaklah seorang muslim yang tertimpa musibah melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan dedaunannya.".
(HR. Bukhari nomor 5215).
* * *
MANFAAT SHALAT
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al Ankabut (29) Ayat 45).
Menjaga Kebersihan.
Salah satu ni’mat besar yang Allah SWT berikan kepada kita adalah ni’mat sehat. Dan salah satu yang utama untuk menjaga kesehatan adalah menjaga kebersihan. Tuntunan Islam telah memberikan kita jalan untuk menjaga kesehatan dengan selalu mensucikan diri, salah satunya adalah dengan adanya kewajiban untuk berwudhu sebelum Shalat.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”.
(QS. Al Maidah ayat 6).
InsyaAllah orang-orang yang senantiasa menjaga shalatnya, akan selalu terjaga kebersihan dan kesehatannya.
Memurnikan Ikhlas dan Mengikis Sifat Munafik.
Manusian diciptakan untuk ibadah kepada Allah SWT. Dan untuk menjaga hati, lisan, dan perbuatan kita agar selalu lurus ikhlas dalam ibadah kepada Allah SWT, kita diberikan kewajiban Shalat Fardhu lima waktu dalam sehari.
Allah SWT berfirman: Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,” (QS. Al An’am ayat 162).
Namun demikian, diantara manusia, ada yang tidak memahami tujuan dirinya diciptakan. Mereka hendak membangkang kepada Allah SWT, dan berpura-pura taat. Maka kewajiban Shalat adalah salah satu perangkat tuntunan Islam untuk mendeteksi dan membedakan antara manusia yang benar-benar taat kepada Allah SWT dengan mereka yang munafik. Maka Al-Qur’an menjelaskan:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”.
(QS. An Nisa ayat 142).
Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya membuktikan ketaatannya kepada Allah SWT dengan menjaga Shalatnya, sebagaimana Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri) mu di setiap salat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya)". (QS. Al A’raf ayat 29).
Dengan adanya kewajiban Shalat, Allah SWT tidak hanya menjaga umatnya agar tetap bersih jasmaninya, tetapi juga bersih jiwa dan hatinya. Karena sesungguhnya bersih secara fisik tidak memberikan manfaat jika jiwa dan hati kita tidak bersih.
Membiasakan Menjaga Penampilan.
Kewajiban Shalat, disempurnakan dengan tuntunan untuk dilaksanakan secara berjama’ah di Masjid. Dan untuk itu Allah SWT berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al A’raf ayat 31).
Tuntunan Islam tidak hanya sekedar menuntun kita untuk menjaga kebersihan, tetapi juga menjaga penampilan kita agar selalu terlihat rapi dan indah dipandang mata, tanpa berlebih-lebihan.
Menjalin Silaturahim.
Tuntunan Shalat berjamaah juga secara langsung telah menuntun kita, umat Islam, untuk saling mengenal, menjalin dan menjaga silaturahim antar sesama muslim. Shalat berjamaah melatih umat Islam untuk saling peduli satu sama lain, sehingga jika ada yag sakit dan ada yang butuh bantuan, maka dapat diketahui dan dibicarakan bersama. Momen Shalat berjama’ah membuka kesempatan kepada sesama muslim untuk bisa bertemu secara rutin untuk berbagi informasi dan berbagi kebaikan.
Sesungguhnya Allah SWT berfirman:
“.....Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.....” (QS. Al Maidah ayat 2).
Mendapatkan Pertolongan Allah SWT.
Selain membuka peluang untuk bisa saling tolong menolong antar sesama Muslim, Shalat juga menjadi salah satu cara bagi kita Umat Islam untuk mendapatkan pertolongan yang paling kuat, yaitu pertolongan dari Tuhan Yang Maha Besar. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah ayat 153).
Mendapatkan Ampunan dari Allah SWT.
Dengan melaksanakan Shalat, seorang Muslim tidak hanya akan mendapatkan petolongan dari Allah SWT di dunia, tetapi juga mendapatkan pertolongan Allah SWT di akhirath nanti. Jika dosa-dosa selama hidup akan membawa kesulitan di akhirath nanti, maka satu-satunya pertolongan yang bermanfaat adalah ampunan dari Allah SWT terhadap dosa-dosa kita.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda yang artinya, “Jika imam mengucapkan, ‘Ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhallin’, maka ucapkanlah ‘amin’. Karena sesungguhnya siapa yang mengucapkannya bersamaan dengan ucapan (amin) malaikat, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq’alaih, al-lu’lu’ wal Marjan 231).
Selain itu, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda yang artinya, “Tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat di saat tiada naungan selain naunganNya… salah satunya: laki-laki yang hatinya senantiasa tertambat pada masjid-masjid.”. (al-lu’lu’ wal Marjan 610).
Mendapatkan Riziki & Pahala dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”. (QS. Thaha ayat 132).
Ayat tersebut mempertegas agar kita jangan pernah tinggalkan shalat karena khawatir usaha atau kerja kita akan terganggu dan mengurangi riziki kita.
Bukan hanya riziki di dunia yang akan kita peroleh, tetapi pahala yang dapat mangantarkan kita selamat di akhirath juga akan kita peroleh, demikian Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan”.
(QS. Al Baqarah ayat 110).
Bahkan untuk Shalat berjama’ah, Rasulullah SAW bersabda: “Shalat berjama’ah itu lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian.”.
(HR. Bukhari 645, Muslim 650).
Sungguh kebaikan yang banyak akan diperoleh oleh umat Islam karena Shalatnya kepada Allah SWT. Untuk itu, kembali dalam Al-Qur’an dipertegas kepada kita bahwa: “.....orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia”. (QS. Al Anfal ayat 3 dan 4).
Mendapatkan Surga dari Allah SWT.
Puncak dari segala kebaikan adalah akhir yang baik. Dan sebaik-baik akhir itu adalah kembali kepada Allah SWT dengan mendapatkan keridhaan-Nya.
Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”.
(QS. Ar Rad ayat 22-24).
InsyaAllah kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan manfaat Shalat dan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT di dunia dan di akhirath.
* * *
MANFAAT SABAR
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Tuhannya.
(QS. Al Ankabut (29) Ayat 58-59).
Membentengi diri dari Kenistaan dan Kehinaan.
Diantara kaum Nabi Musa AS ada yang tidak bersyukur dengan ni’mat yang telah Allah SWT berikan dan tidak bersabar dengan masa-masa sulit yang mereka alami. Diantara mereka ada yang menentang perintah Tuhan dan Nabi, bahkan beberapa Nabi sebelumnya dibunuh sebagai bentuk pengingkaran mereka terhadap ajaran Tuhan.
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.
(QS. Al Baqarah ayat 61).
Ketidaksabaran mereka telah menyebabkan mereka menjadi nekad untuk berbuat dosa. Dan hal itu pun terjadi di masa sekarang ini. Banyak manusia yang karena tidak sabar menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya, pada akhirnya memilih untuk melakukan tindakan kriminal dan maksiat, bahkan yang lebih buruk lagi adalah dengan meninggalkan Islam, mengorbankan aqidahnya, pindah agama karena alasan keterdesakkan ekonomi.
InsyaAllah kita bisa kuat dalam bersabar sehingga terhindar dari bahaya tersebut. Dan InsyaAllah kita bisa merangkul dan membantu saudara-saudara kita sesama Muslim yang sedang dalam kesulitan, sehingga mereka dapat bersabar dengan kesulitan yang mereka hadapi. Karena sesungguhnya buah dari ketidaksabaran adalah kenistaan dan kehinaan sebagaimana yang pernah Allah SWT timpakan kepada kaum Nabi Musa AS yang tidak bersyukur dan tidak bersabar.
Mari kita ikuti tuntunan Islam, sebagaimana firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah ayat 153).
Sabar Penawar Cobaan, pembuka Jalan menuju Keberkatan dan Petunjuk Tuhan.
Allah SWT berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al Baqarah ayat 155-157).
Hidup adalah cobaan, setiap yang bernyawa pasti akan menghadapi cobaan, namun tidak semua manusia bisa bersabar.
Tidak ada harta, jabatan, dan materi yang kita bawa saat kita lahir. Dan kelak ketika meninggal pun, kita tidak akan membawa itu semua. Karena itu bersabarlah jika mengalami cobaan terhadap hal itu. Semua yang di langit dan di bumi adalah milik Allah SWT, bahkan diri kita pun adalah milik Allah SWT. Karena semua adalah milik Allah SWT, maka ketika semua yang ada pada kita kembali kepada Allah SWT, bersabarlah.
Kisah.
Dikisahkan seorang raja yang senang berburu, tengah dalam perjalanan ke hutan melewati jurang bersama seorang pengawal andalannya untuk mengejar hewan buruan bidikan sang raja.
Namun naas, dalam perjalanan tersebut, kuda sang raja tergelincir, sang raja hampir terjatuh ke jurang, namun masih terselatkan karena tanggannya mencengkeram dan terjepit di sebuah batu.
Dalam kondisi darurat, sang pengawal segera menarik tangan sang raja dengan keras bermaksud untuk menyelamatkan sang raja agar tidak terjatuh di jurang.
Dikarenakan tarikan sang pengawal, sang raja pada akhirnya selamat namun harus menjadi cacat karena salah satu jarinya putus akibat kerasnya tarikan dari sang pengawal.
Sambil menahan rasa sakit yang amat sangat itu, sang raja memarahi pengawalnya karena dianggap tidak hati-hati ketika menarik tanggannya yang terjepit, sehingga jarinya mesti terluka dan putus.
Di puncak kemarahannya, sang raja kembali ke istana bersama pengawalnya dan kemudian memberikan hukuman penjara kepada pengawal andalannya itu.
Sang pengawal menerima keputusan raja itu dengan sabar. Dia tidak mengeluh dan dia tidak dendam kepada sang raja. Karena dia yakin dibalik setiap kejadian pasti ada manfaat dan hikmah dari Tuhannya.
Selang setelah kondisi sang raja pulih, ia sang raja kembali pergi berburu. Kali ini ia perintahkan beberapa pengawal yang gagah perkasa untuk ikut bersamanya.
Namun naas, sesampainya mereka di hutan, mereka dihadang dan ditangkap oleh sekelompok suku yang masih menyembah berhala. Hari itu adalah hari sakral bagi suku itu, dimana manusia harus dikorbankan sebagai sesembahan kepada dewa mereka.
Sebelum dibunuh untuk sesembahan, satu per satu tawanan mereka periksa terlebih dahulu. Satu per satu pengawal raja yang gagah perkasa yang telah diperiksa pada akhirnya mati dibunuh.
Tibalah giliran sang raja. Namun, ketika mereka memeriksa tubuh sang raja, mereka menemukan cacat pada tubuh sang raja. Dan cacat itu berada pada tanggan sang raja yang jarinya tidak lengkap dan tidak utuh karena ada yang terputus.
Pada akhirnya, sang raja dibebaskan dan disuruh untuk menjauh dari hutan tersebut. Raja yang tadinya sangat ketakutan berubah menjadi sangat senang dan bersyukut karena bisa terbebas dari pembunuhan.
Sesampainya di instana, ia segera menuju ke penjara menemui pengawal andalannya. Ia perintahkan kepada para penjaga penjara untuk membebaskan pengawal andalannya itu.
Sang raja sangat berterima kasih kepada pengawal andalannya. Karena sebab tarikan pengawalnya ia bisa selamat dan tidak jatuh ke jurang. Dan karena sebab tarikan pengawalnya, jarinya putus, ia menjadi cacat dan bisa terbebas dari tawanan suku musyrik yang hendak membunuh menjadikan ia sesembahan.
Seketika sang pengawal yang telah dibebaskan itu pun menyampaikan terima kasih kepada sang raja.
Raja memohon maaf kepadanya, dan berkata ia tidak perlu berterima kasih kepada sang raja, karena sang raja telah berbuat keliru dengan memenjarakan dia.
Sebaliknya, sang pengawal tetap berterima kasih kepada sang raja dan lebih-lebih lagi kepada Tuhannya. Karena buah dari kesabarannya, ia menjadi paham dengan hikmah dibalik kejadian itu.
Sekiranya ia tidak dimasukkan ke dalam penjara oleh sang raja, maka boleh jadi ia juga akan diperintahkan ikut berburu. Dan jika ia masuk ke hutan itu bersama raja, maka sudah pasti ia akan dibunuh menjadi sesembahan suku musyrik, karena ia tidak memiliki cacat di tubuhnya.
Sahabat Majelis yang di rahmati Allah SWT, selalu ada hikmah di balik setiap cobaan dan takdir Tuhan. Bersabarlah, karena sesungguhnya pasti ada kebaikan yang sudah menanti kita di akhir cobaan itu. Sesunggunhnya Allah SWT menjanjikan keberkatan yang sempurna, rahmat dan petunjuk bagi orang-orang yang sabar. Dan Allah SWT berfirman:” Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (nya)”. (QS. Yunus ayat 55).
Sabar memperkuat aqidah, melahirkan perbuatan baik dan mendapatkan pahala ganda dari Tuhan.
Allah SWT berfimran: “Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Qur'an, mereka beriman (pula) dengan Al Qur'an itu. Dan apabila dibacakan (Al Qur'an itu) kepada mereka, mereka berkata: "Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Qur'an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan”. (QS. Al-Qashash ayat 52-54).
Demikian teladan dan hikmah yang bisa kita jadikan tuntunan dari orang-orang sebelum kita. Buah dari Iman kepada Allah SWT dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup adalah dorongan jiwa untuk menjadi sabar dan gemar berbuat kebaikan. InsyaAllah kita bisa menjadi orang-orang yang sabar, yang selalu menolak kejahatan dengan kebaikan, yang terus beramal shaleh dan mendapatkan kebaikan yang banyak & besar dari Allah SWT.
* * *
SYUKUR
KUMPULAN NOMOR 111-115
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
(Al - Qur’an Surah An Nahl ayat 78).
KUMPULAN NOMOR 111
SHALAT ADALAH SALAH SATU TANDA SYUKUR
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim berkata, telah menceritakan kepada kami Mis'ar dari Ziyad berkata; aku mendengar Al Mughirah radliallahu 'anhu berkata; "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bangun untuk mendirikan shalat (malam) hingga tampak bengkak pada kaki atau betis, Beliau dimintai keterangan tentangnya. Maka Beliau menjawab: "Apakah memang tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?".
(HR. Bukhari nomor 1062).
Jangan pernah tinggalkan Shalat. Biasakanlah menunaikan Shalat Sunnah selain Shalat Fardhu. Berusahalah dengan sepenuh hati untuk khusyu’ dalam Shalat. Karena itulah tuntunan Nabi SAW, sebagai salah satu manusia yang paling besar rasa syukurnya kepada Allah SWT.
KUMPULAN NOMOR 112
BERBUAT BAIK KEPADA SETIAP MAKHLUK
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sumayya dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu dia merasakan kehausan yang sangat sehingga dia turun ke suatu sumur lalu minum dari air sumur tersebut. Ketika dia keluar didapatkannya seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata: "Anjing ini sedang kehausan seperti yang aku alami tadi". Maka dia (turun kembali ke dalam sumur) dan diisinya sepatunya dengan air dan sambil menggigit sepatunya dengan mulutnya dia naik keatas lalu memberi anjing itu minum. Kemudian dia bersyukur kepada Allah maka Allah mengampuninya".
Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan berbuat baik kepada hewan?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Terhadap setiap makhluq bernyawa diberi pahala". Hadits ini diikuti pula oleh Hammad bin Salamah dan Ar-Rabi' bin Muslim dari Muhammad bin Ziyad.
(HR. Bukhari nomor 2190).
KUMPULAN NOMOR 113
MELAKUKAN KEBAIKAN MESKIPUN KECIL
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Sumayya dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu menemukan potongan duri di jalan lalu diambilnya (agar tidak mengganggu pejalan kaki yang lewat). Kemudian dia bersyukur kepada Allah maka Allah mengampuninya".
(HR. Bukhari nomor 2292).
Jika kita telah diselamatkan Allah SWT dari suatu hal yang berbahaya atau yang dapat mengganggu kita, maka salah satu cara untuk bersyukur terhadap ni’mat itu adalah dengan berbagi ni’mat itu kepada sesama (selamatkan orang lain dari bayaha atau gangguan itu).
KUMPULAN NOMOR 114
NIKMAT SURGA DAN TERHINDAR DARI NERAKA
Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "seseorang tidak akan masuk kedalam surga sehingga di perlihatkan kepadanya tempat duduknya di neraka, agar kalau dia berbuat buruk dapat menambah rasa syukurnya (bersyukur karena telah berbuat baik, terhindar dari neraka dan masuk surga). Dan seseorang tidak akan masuk neraka sehingga di perlihatkan kepadanya tempat duduknya di surga, agar kalau dia berbuat baik menjadi satu kerugian baginya (menyesal dengan perbuatan buruk yang telah menyebabkannya masuk neraka).".
(HR. Bukhari nomor 6084).
KUMPULAN NOMOR 115
SAHABAT-SAHABAT NABI SAW YANG MASUK SURGA
Abu Musa radliallahu 'anhu berkata; "Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah kebun, tiba-tiba datang seorang laki-laki meminta izin dibukakan pintu, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Bukakanlah dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga". Maka aku membukakan pintu yang ternyata laki-laki itu adalah Abu Bakar lalu aku sampaikan kabar gembira sebagaimana yang dipesankan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Abu Bakr bersyukur dengan memuji Allah. Kemudian datang lagi seorang laki-laki meminta dibukakan pintu, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Bukakanlah dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga". Maka aku membukakan pintu yang ternyata laki-laki itu adalah 'Umar lalu aku sampaikan kabar gembira sebagaimana yang dipesankan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. 'Umar bersyukur dengan memuji Allah. Kemudian datang lagi seorang laki-laki meminta dibukakan pintu, lalu beliau berkata kepadaku: "Bukakanlah dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga namun berbagai ujian menimpanya". Ternyata laki-laki itu adalah 'Utsman lalu aku beri kabar gembira sebagaimana yang dipesankan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. 'Utsman bersyukur dengan memuji Allah lalu berkata; "Allah sajalah dimohon pertolongan-Nya". (HR. Bukhari nomor 3417).
* * *
SYUKUR
KUMPULAN NOMOR 116-120
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. (Al - Qur’an Surah Al - Baqarah ayat 172).
KUMPULAN NOMOR 116
DIAMPUNI DOSA YANG TELAH LALU
Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.”.
(HR. Tirmidzi no. 3458. Tirmidzi berkata, hadits ini adalah hadits hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
KUMPULAN NOMOR 117
TAHMID
Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum”.
(HR. Muslim no. 4915).
Sesungguhnya makan adalah salah satu ni’mat yang sangat besar karena dengannya kita dapat bertahan hidup, merasakan sehat dan sekaligus merasakan ni’mat lezatnya suatu makanan.
Jika makanan yang kita makan kurang lezat, atau porsinya kurang banyak, atau hanya bisa satu kali dalam sehari, tetaplah bersyukur karena masih banyak fakir miskin yang tidak makan dalam sehari.
KUMPULAN NOMOR 118
SETIAP KEADAAN MEMBAWA KEBAIKAN
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:
“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”.
(HR. Muslim nomor 5318).
Salah satu cara untuk mensyukuri ni’mat yang kita peroleh adalah dengan meningkatkan ibadah kita kepada Allah SWT dan berbagi ni’mat tersebut kepada keluarga kita dan saudara kita, sesama Muslim.
KUMPULAN NOMOR 119
SUJUD SYUKUR
“Dari Abu Bakrah, apabila datang urusan yang memudahkan Rasulullah saw atau Beliau diberi kabar gembira, (maka) Beliau tersungkur bersujud sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah”.
(HR. Abu dawud nomor 2393).
Di saat kita sujud, kepala kita yang merupakan bagian paling bernilai kita tempatkan pada titik terendah, dan ini adalah salah satu simbol untuk mengagungkan kebesaran Allah SWT. Sesungguhnya tidak kemudahan, kesuksesan dan kegembiraan yang disebabkan karena kehebatan kita. Melainkan semua kemudahan, kesuksesan dan kegembiraan itu adalah karena kasih sayang yang Allah SWT limpahkan kepada kita.
KUMPULAN NOMOR 120
DO’A SETELAH SHALAT
‘Ubaidullah bin Umar bin Maisarah menuturkan kepada kami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangan Mu’adz bin Jabal seraya mengucapkan, “Hai Mu’adz, demi Allah sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.”
Lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu hai Mu’adz, jangan kamu tinggalkan bacaan setiap kali di akhir shalat hendaknya kamu berdoa, ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).” Maka Mu’adz pun juga mewasiatkan hal itu kepada as-Shunabihi. Demikian juga as-Shunabihi mewasiatkan hal serupa kepada Abu Abdirrahman.
(HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud).
* * *