AQIDAH
Pembuka Topik:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(QS. Al Baqarah (2) Ayat 186).
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
(QS. Ali Imran (3) Ayat 18-19).
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
(QS. Ali Imran (3) Ayat 102-103).
Pembahasan tentang Aqidah dapat disatukan dalam satu topik ini. Kiriman-kiriman tentang pembahasan Aqidah agar diposkan (reply) dari topik (email) ini.
https://groups.google.com/forum/#!forum/majelis-ilmu-114
https://groups.google.com/forum/#!forum/majelis-ilmu-114
majelis...@yahoo.comHADITS TENTANG ISLAM, IMAN DAN IHSAN.
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .
[رواه مسلم]
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata:
“Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan.
Kemudian dia bertanya lagi: “Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.
Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”.
Kemudian dia berkata: “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar.
Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(HR. Muslim nomor 8. Hadist Kedua dari Kitab Arbain Nawawi).
JANGAN LALAI KARENA URUSAN DUNIA
Ass.Wr.Wb,
Melanjutkan pembahasan kita tentang aqidah.
Aqidah akan tercermin dari pandangan hidup manusia dan bagaimana cara manusia itu hidup. Dalam tuntunan Islam, orang-orang yang memiliki aqidah yang lurus memiliki salah satu sifat yang disebut “zuhud”. Istilah zuhud punya kaitan erat dengan istilah “hubbud dun’ya”.
Apa itu zuhud dan apa itu hubbud dun’ya ?
Jawaban singkatnya:
Hubbud dun’ya adalah cinta manusia kepada dunia lebih daripada cintanya kepada Allah swt. Sementara zuhud adalah sifat yang sebaliknya.
Dalam Al-Qur’an perumpamaan kehidupan duniawi adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.
(QS. Yunus (10) Ayat 24).
Dalam ayat tersebut manusia diajak dan diajarkan untuk berpikir. Tujuan dari ajakan dan ajaran tersebut adalah agar manusia memberikan perhatian yang utama kepada tuntunan Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an. Tuntunan-tuntunan itulah yang disebut “ilmu”. Beberapa ulama bahkan menjelaskan bahwa hanya disebut ilmu apabila pengetahuan yang dimiliki manusia itu bisa mengantarkannya kepada sifat zuhud.
Bagaiman jika kita menolak ajakan dan ajaran tersebut ? Dalam tuntunan Islam, merujuk pada kisah kaum Nabi-Nabi terdahulu, dijelaskan bahwa orang-orang yang sudah diajak dan diajarkan tetapi tidak mengikuti, disebut sebagai orang-orang yang sombong. Dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.
(QS. Al – A’raaf (7) Ayat 145).
Sebagai catatan, dalam Tafsir Al-Azhar oleh Buya Hamka dijelaskan bahwa turunnya ayat ini adalah sebagai pelajaran bagi kaum Nabi Muhammad saw atas sifat kaumnya Nabi Musa as, khususnya terkait dengan kesombongan Fir’aun. Dari ayat tersebut, sudah jelas dapat kita pahami bahwa orang-orang yang sombong adalah orang-orang yang enggan untuk memperhatikan ayat-ayat Qur’an. Selanjutnya kita diperingatkan bahwa keengganan tersebut menjadi salah satu sebab jin dan manusia akan ditransfer ke neraka setelah selesai berlaga di dunia. Mari kita perhatikan ayat berikut:
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(QS. Al – A’raaf (7) Ayat 179).
Dalam tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sombong adalah sifat takabur kepada ilmu Allah swt. Merasa ilmu-ilmu yang lain lebih penting dan lebih benar dibanding ilmu-ilmu Islam. Namun ada hal-hal tertentu yang tidak dikategorikan sebagai sifat sombong, yang itu meninggikan ilmu Islam. Ia menceritakan bahwa Imam Malik pernah diminta menghadap kepada Khalifah Muawiyah, untuk menerangkan tuntunan Islam. Saat datang utusan Khalifah menyampaikan maksud tersebut, beliau berkata “Ilmu itu didatangi bukan mendatangi”. Maksud dari kalimat itu adalah jika anda ingin mendapatkan ilmu maka andalah yang selayaknya mencari dan menemui, bukan anda menunggu dan memerintahkan agar ilmu itu datang kepada anda. Pada akhirnya Khalifah Muawiyah datang ke rumah Imam Malik yang kalah megah dibanding Istana Khalifah untuk belajar disana.
Insyaallah penjelasan dari ayat-ayat tersebut, bisa menjadi “ilmu” untuk kita amalkan dan kita sampaikan kepada orang-orang yang kita sayangi agar tidak
lalai dan semakin aktif serta istiqamah dalam mempelajari tuntunan Islam, memperkokoh aqidah kita.
Syukran Katsiran.
Wass,
Salam ShemangatzZz,
https://groups.google.com/forum/#!forum/majelis-ilmu-114
Ass.Wr.Wb,
Berikut ini adalah sumbang tulisan untuk memperkaya tulisan Buletin MI-114 Edisi 3.
InsyaAllah bermanfaat.
TAUHID - SYAHADATAIN
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Ali Imran (3) Ayat 18).
Tidaklah orang yang beriman, yang telah mengucap dua kalimat syahadat, akan bermohon-mohon dan berharap dengan seluruh jiwa raganya kepada bosnya, kepada para penguasa, kepada para hartawan, kepada keluarga dan sahabat yang amat dicintai, kepada benda-benda keramat, kepada ‘orang-orang pintar’, kepada keberuntungan undi nasib, ataupun kepada jin dan sebangsanya, melainkan hanya bermohon kepada Allah SWT, satu-satunya Tuhan yang mengabulkan segala permohonan hamba-Nya.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(QS. Al Baqarah (2) Ayat 186).
Syahadat adalah bentuk penyerahan diri secara total dari mereka yang benar-benar beriman kepada Tuhannya. Mereka itu telah melakukan “jual beli” yang paling menguntungkan dan dijamin akan menang besar di dunia dan akherat. Siapakah mereka ?
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.
(QS. At Taubah (9) Ayat 111-112).
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
(QS. Al Fushshilat (41) Ayat 30).
InsyaAllah “mereka” yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut adalah kita yang menulis dan membaca tulisan ini.
Syukran Katsiran.
Wass.Wr.Wb,
Salam ShemangatzZz,
Asyhadu alla ilaaha illallah artinya aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan kecuali Allah Wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah artinya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasul Allah.
Setiap hari berkali-kali kita dengarkan dan kita ucapkan dua kalimat ini dalam adzan, iqomah, khutbah, ceramah, dan pembicaraan-pembicaraan lainnya. Setiap hari pula, kita sebagai seorang muslim membacanya ketika sholat. Namun, sudahkah kita faham akan maknanya ?
Syahadat Mengantarkan Kita pada Islam
Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal, untuk menyelamatkan penduduk Yaman. Sebelum Sahabat Mu’adz bin Jabal berangkat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada Mu’adz :“Ajaklah mereka agar mau bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya aku adalah utusan Allah. Apabila mereka telah melakukan hal tersebut (bersyahadat) maka beritahulah kepada mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Lalu apabila mereka telah melakukan hal tersebut, maka beritahulah kepada mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan kepada mereka untuk mensedekahkan harta mereka, yang sedekah tersebut diambil dari orang-orang kaya dari mereka, dan diberikan kepada orang-orang miskin dari mereka” (HR. Bukhori).
Sungguh seseorang yang telah bersaksi dengan dua kalimat syahadat telah menjadi bagian dari Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sampai mereka mau bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, dan mendirikan sholat, serta menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukan hal tersebut, mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak islam. Adapun hisab mereka adalah urusan Allah Ta’ala” (HR. Bukhori dan Muslim).
Jangan Remehkan Syahadat
Syahadat artinya adalah persaksian. Dalam hal ini, persaksian barulah dianggap sebagai sebuah persaksian ketika telah mencakup tiga hal : [1] Mengilmui dan meyakini kebenaran yang dipersaksikan. [2] Mengucapkan dengan lisannya. [3] Menyampaikan persaksian tersebut kepada yang lain (Mutiara Faedah Kitab Tauhid, Ustadz Abu Isa).
Persaksian tidaklah cukup di lisan saja, tetapi hati dan perbuatan haruslah sejalan dengan apa yang diucap. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami bersaksi bahwasanya engkau benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwasanya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al Munafiquun (63) Ayat 1).
Sungguh tidaklah mudah untuk menjaga dan mengucap dua kalimat syahadat hingga akhir hayat kita. Adalah Paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Abu Thalib) adalah orang yang dengan segenap kekuatan, harta benda dan jabatannya telah membantu dakwah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika dia pernah mengakui bahwa sebenarnya ajaran agama yang paling benar adalah agama yang dibawa keponakannya. Namun sayang seribu sayang, menjelang ajalnya, tidak terdengar ia mengucapkan dua kalimat syahadat.
Konsekuensi Asyhadu alla ilaaha illallah
Konsekuensi orang yang bersaksi Asyahadu alla ilaaha illallah adalah wajib meninggalkan segala bentuk peribadahan dan ketergantungan hati kepada selain Allah. Seluruh ibadah haruslah ia lakukan ikhlas kepada Allah semata. Dan juga, ia wajib mencintai orang yang bertauhid (menyembah Allah semata) dan membenci perbuatan syirik (menyekutukan Allah).
Allah berfirman (yang artinya): “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah Dialah (tuhan) yang haq dan Sesungguhnya segala sesuatu yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al Hajj (22) Ayat 62). Allah juga berfirman (yang artinya): “Maka barangsiapa yang ingkar kepada sesembahan selain Allah dan beriman pada Allah, sungguh dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.” (QS. Al Baqarah (2) Ayat 256).
Tidaklah orang yang beriman yang telah mengucap dua kalimat syahadat akan bermohon-mohon dan berharap dengan seluruh jiwa raganya kepada bosnya, kepada para penguasa, kepada para hartawan, kepada keluarga dan sahabat yang amat dicintai, kepada benda-benda keramat, kepada ‘orang-orang pintar’, kepada keberuntungan undi nasib, ataupun kepada jin dan sebangsanya, melainkan hanya bermohon kepada Allah SWT, satu-satunya Tuhan yang mengabulkan segala permohonan hamba-Nya.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al Baqarah (2) Ayat 186).
Konsekuensi Asyahadu anna Muhammadar Rasulullah
Rasul adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Allah berupa syari’at dan ia diperintahkan untuk mendakwahkan syari’at tersebut (Syarah Arba’in an Nawawiyah, Syaikh Al ‘Utsaimin). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya! Tidaklah mendengar kenabianku salah seorang dari umat ini, baik itu Yahudi atau pun Nasrani, lalu ia meninggal sementara ia tidak beriman dengan apa yang aku bawa, kecuali ia akan termasuk penduduk neraka” (HR. Muslim).
Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul Allah, dan beliau juga berstatus sebagai Hamba Allah. Di satu sisi kita harus mencintai dan mengagungkan beliau sebagai seorang Rasul, di sisi lain kita tidak boleh mengagungkan beliau secara berlebihan diluar dari Tuntunan Islam.Tergelincirlah keimanan orang-orang yang menganggap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kekuasaan dan kekuatan yang sama dengan Allah SWT seperti Maha Pengabul Do’a dan lain sebagainya.
Orang yang telah bersaksi Asyahadu anna Muhammadar Rasulullah maka konsekuensinya ia wajib membenarkan segala yang dikabarkan oleh Rasulullah tanpa meragukannya, melakukan apa yang Beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang, mendahulukan dan menghormati sabda beliau di atas perkataan selainnya, beribadah kepada Allah sesuai tuntunannya, tidak menambah-nambah ajarannya, serta melahirkan sikap cinta terhadap orang yang taat dengan sunnah beliau. Dan termasuk pula meyakini beliau sebagai penutup para Nabi dan Rasul, tidak ada lagi nabi setelah beliau.
Dua Kalimat Syahadat
Belumlah sah keislaman seseorang jika ia hanya bersaksi dengan salah satu dari dua kalimat syahadat saja. Didalam banyak ayat di dalam Al Qur’an Allah menggandengkan ketaatan kepada diri-Nya dengan ketaatan kepada Rasul-Nya. Diantaranya, Allah berfirman (yang artinya): “Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya’.” (QS. Ali Imran (3) Ayat 32).
Dari sini, para Ulama’ menarik kesimpulan bahwasanya tidaklah sah amal ibadah seseorang kecuali memenuhi dua syarat, yaitu: Ikhlas dan Ittiba’. Ikhlas adalah konsekuensi dari syahadat Asyahadu alla ilaaha illallah. Maksudnya amal ibadah seseorang tidak akan diterima jika ia tujukan kepada selain Allah, atau jika ia campuri ibadah kepada Allah dengan ibadah kepada selain Allah. Amal ibadah seseorang akan diterima jika hanya kepada Allah semata. Adapun Ittiba’ adalah konsekuensi dari syahadat Asyahadu anna Muhammadar Rasulullah. Maksudnya amal ibadah seseorang tidak akan diterima oleh Allah jika ia beramal ibadah dengan cara-cara yang bertentangan dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Janji Allah SWT kepada Mereka yang Menunaikan Syahadatnya.
Syahadat adalah bentuk penyerahan diri secara total dari mereka yang benar-benar beriman kepada Tuhannya. Mereka itu telah melakukan “jual beli” yang paling menguntungkan dan dijamin akan menang besar di dunia dan akherat. Siapakah mereka ?.
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu (QS. At Taubah (9) Ayat 111-112).
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Al Fushshilat (41) Ayat 30).
InsyaAllah “mereka” yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut adalah kita yang menulis dan membaca tulisan ini.
* * *
email: majelis...@yahoo.comTELADAN UMAT AKHIR ZAMAN
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Ahzab (33) Ayat 21).
Sudah selayaknya bagi umat Islam untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai idola dan teladan nomor wahid dalam hidupnya, bukan yang lain. Nabi Muhammad saw, teladan umat manusia akhir zaman, adalah manusia pilihan yang segala alur kehidupannya dari sebelum dilahirkan sampai wafatnya telah diatur oleh Allah swt dengan begitu indah dan penuh rahmat.
Prof. Quraish Shihab menyampaikan bahwa para ulama meyakini pemilihan hal-hal tertentu berkaitan dengan beliau bukanlah kebetulan. Misalnya bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabi'ul Awal (musim bunga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa' (yang sempurna dan sehat), serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa'diyah (yang lapang dada dan mujur). Semua nama-nama tersebut mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan kepribadian Nabi Muhammad Saw.
Beliau memiliki sifat dan akhlak yang sangat mulia, dikagumi tidak hanya pada hati seorang Muslim tetapi juga oleh dunia. Maka tidak mengherankan jika seorang Michael Hart yang non Muslim pun menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai tokoh nomor 1 di bukunya yang berjudul “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History“.
SHIDDIQ
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.
(QS. An Najm (53) ayat 3-4).
Shiddiq artinya benar. Setiap perkataan Rasulullah saw, adalah benar sebagaimana hati dan perbuatannya, yang terlindung dalam tuntunan wahyu dari Allah swt. Sungguh manusia akhir zaman yang mengaku Islam sepatutnya malu dan perlu segera berbenah diri apabila masih merasa biasa-biasa saja dalam melihat kebohongan, apalagi sampai turut serta berkecimpung dalam perbuatan dusta dan fitnah.
Harta, jabatan, dan hawa nafsu seringkali telah menggelincirkan lidah kita untuk mencicipi ajaran syaitan, berlaku curang, menghalalkan dusta dan fitnah untuk meraup kesenangan dunia. Untuk itu marilah kita untuk selalu ingat pada firman Allah swt:
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. Ash Shaff (61) ayat 2-3).
Berkata benar membawa keberkahan. Jika keberkahan itu tidak kunjung tiba di dunia, maka yakinlah bahwa ia akan melindungi kita di yaumul akhir nanti. Sesungguhnya berkata benar yang membuat murka manusia adalah jauh lebih baik daripada dusta yang mengundang kemurkaan Allah swt.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al Ahzab (33) ayat 70-71).
Jika saat ini umat Islam memiliki jumlah yang besar di bumi Allah swt, namun tidak juga mendapat kemenangan yang besar di dunia ini, maka mungkin ada baiknya bagi kita untuk renungkan kembali ayat tersebut.
AMANAH
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS. An –nisaa (4) Ayat 58).
Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Nabi Muhammad SAW diberi gelar “Al Amin”, oleh penduduk Mekkah, yang artinya terpercaya, jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Rasulullah saw menerima tugas untuk menjadi manusia teladan bagi umat manusia akhir zaman dengan penuh tanggung jawab. Tidak jarang hati beliau sedih apabila melihat orang-orang yang telah diberi peringatan tetap bertahan dalam kedurhakaannya kepada Allah swt dan Syariat Islam. Maka Allah swt berfirman:
Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.
(QS. An - Nahl (16) Ayat 82).
Dalam meneladani sifat amanah ini, maka bagi kita umat Islam yang dalam sehari lebih dari 5 kali mengucap syahadat, sangat tidak layak untuk mengkhianati Islam dengan melalaikan Shalat, berlaku kikir dalam zakat, bolos puasa Ramadhan, dan enggan untuk menunaikan ibadah Haji padahal sudah mampu.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
(QS. Al - Anfaal (8) Ayat 27).
Setiap umat Islam telah diberi amanah untuk menjadi manusia yang baik membawa nama baik Islam dalam menjalani kehidupan. Namun tidak sedikit stigma buruk ditujukan kepada Dinul Islam hanya karena ada segelintir manusia yang ber-KTP Islam melakukan tindakan keji dan munkar. Inilah yang perlu kita benahi bersama-sama dengan mengamalkan sifat ini.
TABLIGH
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
(QS. Al - Maidah (5) Ayat 67).
Tabligh artinya menyampaikan. Semua firman Allah swt yang diwahyukan kepada umat, disampaikan oleh Rasulullah saw secara benar dan jelas, tidak ada satupun yang disembunyikan meskipun itu menyinggung Nabi.
Dalam riwayat at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah diceritakan bahwa telah turun firman Allah swt yaitu Al-Qur’an Surah ‘Abasa (80) ayat 1-16 yang disampaikan berkenaan dengan seorang bernama Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata: “Berilah petunjuk kepadaku ya Rasulullah.” Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap mengahadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: “Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” Maka kemudian turunlah ayat-ayat tersebut sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw. Meskipun ayat tersebut adalah ayat terguran kepada Nabi, tetapi Rasululllah saw tetap menyampaikannya dengan benar dan jelas.
FATHONAH
Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.
(QS. An - Najm (53) Ayat 1-6).
Fathonah artinya Cerdas. Menyampaikan 6.236 ayat Al Qur’an lalu kemudian menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits jelas membutuhkan kecerdasan yang luar biasa. Selain memenuhi kualifikasi tersebut, Rasulullah juga mampu menjelaskan syariat Islam kepada umat jahiliyah, yang bodoh dan keras kepala. Berhadapan dengan para ahli kitab, orang kafir, zalim, fasik, dan musyrik yang wataknya kasar.
Beliau telah terbukti mampu menuntun ummatnya sehingga terjadilah revolusi besar dari bangsa Arab yang bodoh dan terpecah-belah serta saling bermusuhan antar suku, menjadi satu bangsa besar yang berakhlak baik. Islam pada zaman itu telah membentang dari Spanyol dan Portugis di Barat hingga ke India Barat.
JADILAH PEMIMPIN YANG PENUH KASIH SAYANG
Menghargai dan memudahkan orang lain adalah salah satu akhlaq Rsulullah saw yang perlu diteladani oleh umat di akhir zaman ini. Diceriakan bahwa suatu ketika ada sahabat yang terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin umat ia ingin menyenangkan dan melayani umatnya.
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,
Sahabat MI-114, berikut ini bahan bacaan tentang 20 sifat Allah swt, InsyaAllah ada manfaat jika kita pelajari dan kita sikapi secara bijak.
Sebagaimana Jadwal rutin MI-114, InsyaAllah ba’da Ashar setelah jam kerja di Masjid Al-Mukiminun, sekitar jam 16.30 atau 17.00 WIB, Kajian Ulumuddin Rabu pekan ini adalah I’itiqad (Aqidah). Sumber utama: I’itiqad Ahlussunnah Wal Jamaah (KH. Siradjuddin Abbas, 1982).
Merasionalkan Aqidah Sifat Dua Puluh
http://www.dalil.nu/2013/05/merasionalkan-aqidah-sifat-dua-puluh.html
Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna?.
Para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah dalam menetapkan konsep sifat 20 tersebut sebenarnya berangkat dari kajian dan penelitian yang mendalam. Ada beberapa alasan ilmiah dan logis yang dikemukakan oleh para ulama tentang latar belakang konsep wajibnya mengetahui sifat 20 yang wajib bagi Allah, antara lain:
Pertama, setiap orang yang beriman harus meyakini bahwa Allah SWT wajib memiliki semua sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya. Ia harus meyakini bahwa Allah mustahil memiliki sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Ia harus meyakini pula bahwa Allah boleh melakukan atau meninggalkan segala sesuatu yang bersifat mungkin seperti menciptakan, mematikan, menghidupkan dan lain-lain. Demikian ini adalah keyakinan formal yang harus tertanam dengan kuat dalam hati sanubari setiap orang yang beriman.
Kedua, para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebenarnya tidak membatasi sifat-sifat kesempurnaan Allah dalam 20 sifat. Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah barang tentu Allah wajib memiliki sifat tersebut, sehingga sifat-sifat Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada 99 saja sebagaimana dikatakan al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi:
وَقَوْلُهُ J: « إِنَّ للهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا » لاَ يَنْفِيْ
غَيْرَهَا ، وَإِنَّمَا أَرَادَ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّ مَنْ أَحْصَى مِنْ
أَسْماَءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا دَخَلَ الْجَنَّةَ.
Sabda Nabi J: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan Nama”, tidak menafikan nama-nama selainnya. Nabi J hanya bermaksud –wallahu a’lam-, bahwa barangsiapa yang memenuhi pesan-pesan sembilan puluh sembilan nama tersebut akan dijamin masuk surga. (al-Baihaqi, al-I’tiqad ‘ana Madzhab al-Salaf, hal. 14).
Pernyataan al-Hafizh al-Baihaqi di atas bahwa nama-nama Allah SWT sebenarnya tidak terbatas dalam jumlah 99 didasarkan pada hadits shahih:
عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ، قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ J: اللَّهُمَّ إِنِّيْ
عَبْدُكَ … أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ
أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ
اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ
رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ بَصَرِيْ، وَجَلاَءَ حَزَنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.
Ibn Mas’ud berkata, Rasulullah J bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya aku hamba-Mu… Aku memohon dengan perantara setiap Nama yang Engkau miliki, baik Engkau namakan Dzat-Mu dengan-Nya, atau Engkau turunkan nama itu dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara makhluk-Mu, dan atau hanya Engkau saja yang mengetahui-Nya secara ghaib, jadikanlah al-Qur’an sebagai taman hatiku, cahaya mataku, pelipur laraku dan penghapus dukaku.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, al-Thabarani dan al-Hakim).
Ketiga, para ulama membagi sifat-sifat khabariyyah, yaitu sifat-sifat Allah yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits seperti yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna, terbagi menjadi dua. Pertama, Shifat al-Dzat, yaitu sifat-sifat yang ada pada Dzat Allah SWT, yang antara lain adalah sifat dua puluh. Dan kedua, Shifat al-Af’al, yaitu sifat-sifat yang sebenarnya adalah perbuatan Allah SWT, seperti sifat al-Razzaq, al-Mu’thi, al-Mani’, al-Muhyi, al-Mumit, al-Khaliq dan lain-lain. Perbedaan antara keduanya, Shifat al-Dzat merupakan sifat-sifat yang menjadi Syarth al-Uluhiyyah, yaitu syarat mutlak ketuhanan Allah, sehingga ketika Shifat al-Dzat itu wajib bagi Allah, maka kebalikan dari sifat tersebut adalah mustahil bagi Allah. Sebagai contoh, misalhnya ketika Allah SWT bersifat baqa’ (kekal), maka Allah SWT mustahil bersifat kebalikannya, yaitu fana’.
Dari sini para ulama menetapkan bahwa Shifat al-Dzat ini bersifat azal (tidak ada permulaan) dan baqa’ (tidak berakhiran) bagi Allah. Hal tersebut berbeda dengan Shifat al-Af’al. Ketika Allah memiliki salah satu di antara Shifat al-Af’al, maka kebalikan dari sifat tersebut tidak mustahil bagi Allah, seperti sifat al-Muhyi (Maha Menghidupkan) dan kebalikannya al-Mumit (Maha Mematikan), al-Dhar (Maha Memberi Bahaya) dan kebalikannya al-Nafi’ (Maha Memberi Manfaat), al-Mu’thi (Maha Pemberi) dan kebalikannya al-Mani’ (Maha Pencegah) dan lain-lain. Di samping itu para ulama juga mengatakan bahwa Shifat al-Af’al itu baqa’ (tidak berakhiran) bagi Allah, namun tidak azal (ada permulaan).
Keempat, dari sekian banyak Shifat al-Dzat yang ada, sifat dua puluh dianggap cukup dalam mengantarkan seorang Muslim pada keyakinan bahwa Allah memiliki segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan. Di samping substansi sebagian besar Shifat al-Dzat yang ada sudah ter-cover dalam sifat dua puluh tersebut yang ditetapkan berdasarkan dalil al-Qur’an, sunnah dan dalil ‘aqli.
Kelima, sifat dua puluh tersebut dianggap cukup dalam membentengi akidah seseorang dari pemahaman yang keliru tentang Allah SWT. Sebagaimana dimaklumi, aliran-aliran yang menyimpang dari faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk), Mujassimah (kelompok yang berpendapat bahwa Allah memiliki sifat-sifat makhluk), Karramiyah dan lain-lain menyifati Allah dengan sifat-sifat makhluk yang dapat menodai kemahasempurnaan dan kesucian Allah. Maka dengan memahami sifat wajib dua puluh tersebut, iman seseorang akan terbentengi dari keyakinan-keyakinan yang keliru tentang Allah. Misalnya ketika Mujassimah mengatakan bahwa Allah itu bertempat di Arsy, maka hal ini akan ditolak dengan salah satu sifat salbiyyah yang wajib bagi Allah, yaitu sifat qiyamuhu binafsihi (Allah wajib mandiri).
Ketika Musyabbihah mengatakan bahwa Allah memiliki organ tubuh seperti tangan, mata, kaki dan lain-lain yang dimiliki oleh makhluk, maka hal itu akan ditolak dengan sifat wajib Allah berupa mukhalafatuhu lil-hawadits (Allah wajib berbeda dengan hal-hal yang baru). Ketika Mu’tazilah mengatakan bahwa Allah Maha Kuasa tetapi tidak punya qudrat, Maha Mengetahui tetapi tidak punya ilmu, Maha Berkehendak tetapi tidak punya iradat dan lain-lain, maka hal itu akan ditolak dengan sifat-sifat ma’ani yang jumlahnya ada tujuh yaitu qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar dan kalam. Demikian pula dengan sifat-sifat yang lain. Wallahu a’lam.
* * *
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,
Sahabat MI-114, berikut ini adalah poin-poin yang sudah dipelajari dalam Kajian Ulumuddin (I’itiqad) dalam Kajian Rutin MI-114 (Sumber: I’itiqad Ahlusunnah Waljama’ah, KH. Siradjuddin Abbas) pada hari Rabu kemarin.
10 dari 20 SIFAT ALLAH SWT
1. Wujud : Ada.
Allah ada, bukan hanya dalam presepsi dalam pikirian seseorang.
2. Qidam : Tidak berpermulaan.
Tidak ada yang menciptakan, atau melahirkan, atau menjadi asal dari Allah SWT.
3. Baqa' : Kekal.
Abadi.
4. Mukhalafatuhu Ta'ala Lilhawadith : Tidak ada yang serupa dengan Allah SWT.
Makhluk berberda dengan Allah SWT. Makhluk tidak sempurna, Allah SWT sempurna.
5. Qiyaumuhu Binafsihi : Berdiri Allah Ta'ala dengan sendirinya.
Allah SWT tidak dibantu oleh siapapun dan oleh apapun dalam setiap urusan-Nya.
6. Wahdaniyyah : Esa.
Allah SWT hanya satu, tidak ada duanya, tiganya atau banyak atau beberapa menjadi satu.
7. Qudrah : Kuasa.
Allah SWT berkuasa atas segala sesuatu dan tidak seorangpun yang bisa mendapatkan kuasa selain karena diberikan oleh Allah SWT.
8. Iradah : Berkehendak.
Tidak ada siapapun dan kondisi apapun yang dapat mengintervensi/memaksakan kehendak Allah SWT. Setiap dan semua yang Allah SWT inginkan tidak dapat dibendung/dihentikan oleh siapapun atau apapun.
9. Ilmu : Mengetahui.
Tidak ada hal apapun yang tidak diketahui oleh Allah SWT. Makhluk tidak akan mengetahui apapun, jika tidak diberi pengetahuan oleh Allah SWT.
10. Hayat : Hidup.
Tidak akan pernah mati.
BERSAMBUNG . . . . .
* * *
Bulan Haram, Jangan Dikotori Syirik dan Maksiat
Dalam Islam, bulan Muharram merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut (yang artinya), ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” (QS At Taubah: 36).
Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.”[1]
Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”[2]
Maka sungguh menyedihkan jika kedatangan bulan Muharram malah dikotori dengan tradisi syirik dan ajaran yang tidak ada dasarnya dalam Islam. Coba lihat “Tradisi Kirab Kerbau Kyai Slamet Pada Kirab Pusaka 1 Suro” di Solo. Ketika kerbau tersebut lewat, orang-orang pun ngalap berkah dengan kotorannya. Begitu pula bagaimana yang terjadi di Yogya dengan tradisi tapa bisu dengan mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta pada Malam 1 Suro.
Memasuki Muharram ini pula, banyak yang memandikan keris. Seorang penjamas, pembersih keris, di Semarang, misalnya, kebanjiran order setiap memasuki Muharram. Jika di bulan-bulan biasa ia maksimal menjamas 100 keris dalam satu bulan, memasuki Muharram sampai 700 keris ia jamas.
Para pemilik keris itu, menurutnya, menjamas keris untuk mempertahankan kesaktiannya. Astaghfirullah. Mereka datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Yogya, Solo, Semarang, dan lainnya. Sekali menjamas keris bayarannya maksimal Rp 50.000.
Selain menggunakan minyak keris, pedang dan tombak, si penjamas ini juga menyiapkan kembang setaman, jeruk pecel, cairan khusus bernama Warangan, dan air kelapa untuk menjamas keris-keris itu. Duh! (detikcom, 15/11/2012).
Sungguh sayang bulan yang suci malah disambut dengan amalan syirik dan maksiat pada Allah.
Bulan Suro, Bulan Penuh Bencana dan Musibah?
Itulah berbagai tanggapan sebagian orang mengenai bulan Muharram, sehingga kita akan melihat berbagai ritual untuk menghindari kesialan, bencana, musibah dilakukan oleh mereka. Di antaranya adalah acara ruwatan, yang berarti pembersihan. Mereka yang diruwat diyakini akan terbebas dari sukerta atau kekotoran.
Ada beberapa kriteria bagi mereka yang wajib diruwat, antara lain ontang-anting (putra/putri tunggal), kedono-kedini (sepasang putra-putri), sendang kapit pancuran (satu putra diapit dua putri). Mereka yang lahir seperti ini menjadi mangsa empuk Bhatara Kala, simbol kejahatan.
Karena kesialan bulan Suro ini pula, sampai-sampai sebagian orang tua menasehati anaknya seperti ini, ”Nak, hati-hati di bulan ini. Jangan sering kebut-kebutan, nanti bisa celaka. Ini bulan suro lho.”
Karena bulan ini adalah bulan sial, sebagian orang tidak mau melakukan hajatan nikah, dsb. Jika melakukan hajatan pada bulan ini bisa mendapatkan berbagai musibah, acara pernikahannya tidak lancar, mengakibatkan keluarga tidak harmonis, dsb. Itulah berbagai anggapan masyarakat mengenai bulan Suro dan kesialan di dalamnya.
Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena ingatlah bahwa mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh musibah dan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu.
Mencela Waktu atau Bulan
Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja,” (QS. Al Jatsiyah: 24).
Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek.
Begitu juga dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Allah ’Azza wa Jalla berfirman, ’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.”[5]
Dari sini, mencela waktu digolongkan sesuatu yang telarang, bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam.
Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ’Azza wa Jalla.
Merasa Sial dengan Waktu Tertentu
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Beranggapan sial termasuk kesyirikan, beranggapan sial termasuk kesyirikan. (Beliau menyebutnya tiga kali, lalu beliau bersabda). Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakkal.”[6]
Ini berarti bahwa beranggapan sial dengan sesuatu baik dengan waktu, bulan atau beranggapan sial dengan orang tertentu adalah suatu yang terlarang bahkan beranggapan sial termasuk kesyirikan.
* * *
|
NO |
SIFAT WAJIB YANG DIMILIKI ALLAH SWT |
ARTI |
SIFAT MUSTAHIL BAGI TUHAN |
ARTI |
|
11 |
Sama' |
Mendengar |
Sami |
Tuli |
|
12 |
Basar |
Melihat |
Al-Umyu |
Buta |
|
13 |
Kalam |
Berbicara |
Al-Bukmu |
Bisu |
|
14 |
Kaunuhu qaadiran |
Selalu berkuasa |
Kaunuhu ajizan |
Keadaan-Nya yang lemah |
|
15 |
Kaunuhu muriidan |
Selalu berkehendak menentukan segala sesuatu |
Kaunuhu mukrahan |
Keadaan-Nya yang tidak menentukan (terpaksa) |
|
16 |
Kaunuhu 'aliman |
Selalu mengetahui |
Kaunuhu jahilan |
Keadaan-Nya yang bodoh |
|
17 |
Kaunuhu hayyan |
Selalu hidup |
Kaunuhu mayitan |
Keadaan-Nya yang mati |
|
18 |
Kaunuhu sami'an |
Selalu mendengar |
Kaunuhu ashamma |
Keadaan-Nya yang tuli |
|
19 |
Kaunuhu bashiiran |
Selalu melihat |
Kaunuhu a'maa |
Keadaan-Nya yang buta |
|
20 |
Kaunuhu mutakalliman |
Selalu berbicara |
Kaunuhu abkam |
Keadaan-Nya yang bisu |
Telah
menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ya'qub Al Jurajani telah menceritakan
kepada kami Shafwan bin Shalih telah menceritakan kepada kami Al Walid bin
Muslim telah menceritakan kepada kami Syu'aib bin Abu Hamzah dari Abu Az Zinad
dari Al A'raj dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa
sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah ta'ala memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barang siapa yang hafal, mengamalkan dan membenarkannya
akan masuk Surga.
Yaitu;
Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Ar Rahman, Ar
Rahim, Al Malik, Al Quddus, As Salamu, Al Mukmin, Al Muhaiminu, Al 'Aziz, Al Jabbar,
Al Mutakabbir, Al Khaliq, Al Bari-u, Al Mushawwiru, Al Ghaffaru, Al Qahhar, Al
Wahhab, Ar Razzaq, Al Fattah, Al 'Alim, Al Qabidh, Al Basith, Al Khafidh, Al
Mu'iz, Al Mudzill, As Sami', Al Bashir, Al Hakam, Al 'Adlu, Al Lathif, Al
Khabir, Al Halim, Al 'Azhim, Al Qhafur, Asy Syakur, Al 'Aliyyu, Al Kabir, Al
Hafizh, Al Muqitu, Al Hasib, Al Jalil, Al Karim, Ar Raqib, Al Mujib, Al Wasi',
Al Hakim, Al Wadud, Al Majid, Al Ba'its, Asy Syahid, Al Haqqu, Al Wakil, Al
Qawiyyu, Al Matin, Al Waliyyu, Al Hamid, Al Muhshi, Al Mubdi`, Al Mu'id, Al
Muhyi, Al Mumit, Al Hayyu, Al Qayyum, Al Wajid, Al Majid, Al Wahid, Ash Shamad,
Al Qadir, Al Muqtadir, Al Muqaddim, Al Muakhkhir, Al Awwalu, Al Akhir, Azh
Zhahir, Al Bathin, Al Wali, Al Muta' Ali, Al Barru, At Tawwab, Al Muntaqimu, Al
Qafuwwu, Ar Rauf, Malikul Mulk, Dzul Jalal wal Ikram, Al Muqsith, Al Jami', Al
Ghani, Al Mani', Adh Dharr, An Nafi', Al Hadi, Al Badi', Al Baqi, Al Warits, Ar
Rasyid, Ash Shabur.".
Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits gharib. Telah menceritakan kepada kami dengan hadits tersebut lebih dari satu orang dari Shafwan bin Shalih dan kami tidak mengetahuinya kecauli dari hadits Shafwan bin Shalih, dan ia adalah orang yang tsiqah menurut ahli hadits. Dan hadits ini telah diriwayatkan lebih dari satu jalur dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan kami tidak mengetahui kebanyakan riwayat-riwayat tersebut memiliki sanad yang shahih yang menyebutkan nama-nama kecuali hadits ini. Dan Adam bin Abu Iyas telah meriwayatkan hadits ini dengan sanad selain ini dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan padanya ia menyebutkan nama-nama tersebut, dan tidakk memiliki sanad yang shahih.
(HR. Tirmidzi nomor 3429).
InsyaAllah bermanfaat. InsyaAllah setiap Sahabat MI-114 bisa menghafal 99 nama Allah SWT untuk menjadi landasan Aqidah yang menuntun setiap amalan selama hidup.
Walhamdulillahi Rabbil Alamin.
Salam,
MI-114
* * *
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,
Sahabat MI-114, berikut ini adalah bahan bacaan untuk disikapi secara bijak. InsyaAllah ada manfaat.
TASYABBUH
Merayakan Tahun Baru dengan Berfoya-Foya termasuk Tasyabbuh
Tasyabbuh secara etimologis adalah bentuk mashdar dari tasyabbaha yatasyabbahu yang berarti menyerupai orang lain dalam suatu perkara. Sedangkan secara terminologis adalah menyerupai orang-orang kafir dan orang-orang yang menyelisihi Rasulullah dalam hal aqidah, ibadah, perayaan/seremonial, hari-hari besar, kebiasaan, ciri-ciri dan akhlak yang merupakan ciri khas bagi mereka.
Hukum Tasyabbuh dengan Orang-Orang Kafir
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,
"Telah kami sebutkan sekian dalil dari Al-Qur`an, As-Sunnah, Ijma', atsar (amalan/perkataan shahabat dan tabi'in), dan pengalaman, yang semuanya menunjukkan bahwa menyerupai mereka dilarang secara global. Sedangkan menyelisihi tata cara mereka merupakan sesuatu yang disyari'atkan baik yang sifatnya wajib ataupun anjuran sesuai dengan tempatnya masing-masing." (Iqtidhaa Ash-Shiraathil Mustaqiim 1/473).
Sumber:
http://www.pemudasunnah.com/2012/12/hukum-merayakan-pesta-malam-tahun-baru.html#sthash.GCCfWPPr.dpuf
Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan kepadanya (yang artinya): ”Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah ?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi bersabda, “Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”.
[Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim].
Hadits diatas menunjukkan, tidak bolehnya menyembelih untuk Allah di bertepatan dengan tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar mereka, dan juga karena menyerupai mereka atau menjadi wasilah yang mengantarkan kepada syirik. Begitu pula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala’ (loyalitas) kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar mereka.
Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan dan/atau sekolah, memasak makanan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka, dan kini kebanyakan berpesiar, berlibur ke tempat wisata, konser, acara musik, diakhiri mabuk-mabukan atau perzinaan.
Kaum muslimin tidak diperbolehkan beranggapan bahwa hari raya orang kafir seperti tahun baru (masehi), atau milenium baru sebagai waktu penuh berkah(hari baik) yang tepat untuk memulai babak baru di dalam langkah hidup dan bekerja, di antaranya adalah seperti melakukan akad nikah,memulai bisnis, pembukaan proyek-proyek baru dan lain-lain. Keyakinan seperti ini adalah batil dan hari tersebut sama sekali tidak memiliki kelebihan dan ke-istimewaan di atas hari-hari yang lain.
Setiap muslim harus merasa bangga dan mulia dengan hari rayanya sendiri termasuk di dalam hal ini adalah kalender dan penanggalan hijriyah yang telah disepakati oleh para shahabat Radhiallaahu anhu, sebisa mungkin kita pertahan kan penggunaannya, walau mungkin lingkungan belum mendukung. Kaum muslimin sepeninggal shahabat hingga sekarang (sudah 14 abad), selalu menggunakannya dan setiap pergantian tahun baru hijriyah ini, tidak perlu dengan mangadakan perayaan-perayaan tertentu.
Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin, hendaknya ia selalu menasehati dirinya sendiri dan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dari apa-apa yang menyebabkan kemurkaan Allah dan laknatNya. Hendaknya ia mengambil petunjuk hanya dari Allah dan menjadikan Dia sebagai penolong
(Dinukil dari Fatwa Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi tentang Perayaan Milenium Baru tahun 2000).
Sumber:
http://riyadhushsholihin.wordpress.com/tag/tasyabbuh/
(Dinukil dari tulisan Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dalam kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy [Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1]).
* * *
Ketika Mu'awiyah ibn Abi Sufyan menggantikan Khalifah IV, Ali ibn Abi Thalib (W. 620 H), ia menulis surat kepada salah seorang sahabat Nabi, Al-Mughirah ibn Syu'bah menanyakan, "Apakah doa yang dibaca Nabi setiap selesai shalat?" Ia memperoleh jawaban bahwa doa beliau adalah, "Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Wahai Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri, tidak juga ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu (HR Bukhari). Doa ini dipopulerkannya untuk memberi kesan bahwa segala sesuatu telah ditentukan Allah, dan tiada usaha manusia sedikit pun. Kebijakan mempopulerkan doa ini, dinilai oleh banyak pakar sebagai "bertujuan politis," karena dengan doa itu para penguasa Dinasti Umayah melegitimasi kesewenangan pemerintahan mereka, sebagai kehendak Allah. Begitu tulis Abdul Halim Mahmud mantan Imam Terbesar Al-Azhar Mesir dalam Al-Tafkir Al-Falsafi fi Al-Islam (hlm- 203). Tentu saja, pandangan tersebut tidak diterima oleh kebanyakan ulama. Ada yang demikian menggebu menolaknya sehingga secara sadar atau tidak -mengumandangkan pernyataan la qadar (tidak ada takdir). Manusia bebas melakukan apa saja, bukankah Allah telah menganugerahkan kepada manusia kebebasan memilih dan memilah? Mengapa manusia harus dihukum kalau dia tidak memiliki kebebasan itu? Bukankah Allah sendiri menegaskan, "Siapa yang hendak beriman silakan beriman, siapa yang hendak kufur silakan juga kufur" (QS Al-Kahf [18]: 29). Masing-masing bertanggung jawab pada perbuatannya sendiri-sendiri. Namun demikian, pandangan ini juga disanggah. Ini mengurangi kebesaran dan kekuasaan Allah. Bukankah Allah Mahakuasa? Bukankah "Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan" (QS Al-Shaffat [37]: 96). Tidakkah ayat ini berarti bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan? Demikian mereka berargumentasi. Selanjutnya bukankah Al-Quran menegaskan bahwa, "Apa yang kamu kehendaki, (tidak dapatterlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua" (QS Al-Insan [76]: 30). Demikian sedikit dari banyak perdebatan yang tak kunjung habis di antara para teolog. Masing-masing menjadikan Al-Quran sebagai pegangannya, seperti banyak orang yang mencintai si Ayu, tetapi Ayu sendiri tidak mengenal mereka. Kemudian didukung oleh penguasa yang ingin mempertahankan kedudukannya, dan dipersubur oleh keterbelakangan umat dalam berbagai bidang, meluaslah paham takdir dalam arti kedua di atas, atau paling tidak, paham yang mirip dengannya Yang jelas, Nabi dan sahabat-sahabat utama beliau, tidak pernah mempersoalkan takdir sebagaimana dilakukan oleh para teolog itu. Mereka sepenuhnya yakin tentang takdir Allah yang menyentuh semua makhluk termasuk manusia, tetapi sedikit pun keyakinan ini tidak menghalangi mereka menyingsingkan lengan baju, berjuang, dan kalau kalah sedikit pun mereka tidak menimpakan kesalahan kepada Allah.
Sikap Nabi dan para sahabat tersebut lahir, karena mereka tidak memahami ayat-ayat Al-Quran secara parsial: ayat demi ayat, atau sepotong-sepotong terlepas dari konteksnya, tetapi memahaminya secara utuh, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw.
|
|
Takdir dalam Bahasa Al-Quran Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika Anda berkata, "Allah telah menakdirkan demikian," maka itu berarti, "Allah telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya." Dari sekian banyak ayat Al-Quran dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. menuntun dan menunjukkan mereka arah yang seharusnya mereka tuju. Begitu dipahami antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat Al-A'la (Sabihisma), "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)" (QS Al-A'la [87]: 1-3). Karena itu ditegaskannya bahwa: "Dan matahari beredar di tempat peredarannya Demikian itulah takdir yang ditentukan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui" (QS Ya Sin [36]: 38). Demikian pula bulan, seperti firman-Nya sesudah ayat di atas: "Dan telah Kami takdirkan/tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua" (QS Ya Sin [36]: 39) Bahkan segala sesuatu ada takdir atau ketetapan Tuhan atasnya, "Dia (Allah) Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya qadar (ketetapan) dengan sesempurna-sempurnanya" (QS Al-Furqan [25]: 2). "Dan tidak ada sesuatu pun kecuali pada sisi Kamilah khazanah (sumber)nya; dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan ukuran tertentu" (QS Al-Hijr [15]: 21). Makhluk-Nya yang kecil dan remeh pun diberi-Nya takdir. Lanjutan ayat Sabihisma yang dikutip di atas menyebut contoh, yakni rerumputan. "Dia Allah yang menjadikan rumput-rumputan, lalu dijadikannya rumput-rumputan itu kering kehitam-hitaman" (QS Sabihisma [87]: 4-53) Mengapa rerumputan itu tumbuh subur, dan mengapa pula ia layu dan kering. Berapa kadar kesuburan dan kekeringannya, kesemuanya telah ditetapkan oleh Allah Swt., melalui hukum-hukum-Nya yang berlaku pada alam raya ini. Ini berarti jika Anda ingin melihat rumput subur menghijau, maka siramilah ia, dan bila Anda membiarkannya tanpa pemeliharaan, diterpa panas matahari yang terik, maka pasti ia akan mati kering kehitam-hitaman atau ghutsan ahwa seperti bunyi ayat di atas. Demikian takdir Allah menjangkau seluruh makhluk-Nya. Walhasil, "Allah telah menetapkan bagi segala sesuatu kadarnya" (QS Al-Thalaq [65]: 3) Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini, dan sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu, dan itulah yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa takdir, termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam istilah sunnatullah, atau yang sering secara salah kaprah disebut "hukum-hukum alam." Penulis tidak sepenuhnya cenderung mempersamakan sunnatullah dengan takdir. Karena sunnatullah yang digunakan oleh Al-Quran adalah untuk hukum-hukum Tuhan yang pasti berlaku bagi masyarakat, sedang takdir mencakup hukum-hukum kemasyarakatan dan hukum-hukum alam. Dalam Al-Quran "sunnatullah" terulang sebanyak delapan kali, "sunnatina" sekali, "sunnatul awwalin" terulang tiga kali; kesemuanya mengacu kepada hukum-hukum Tuhan yang berlaku pada masyarakat. Baca misalnya QS Al-Ahzab (33): 38, 62 atau Fathir 35, 43, atau Ghafir 40, 85, dan lain-lain. Matahari, bulan, dan seluruh jagat raya telah ditetapkan oleh Allah takdirnya yang tidak bisa mereka tawar, "Datanglah (hai langit dan bumi) menurut perintah-Ku, suka atau tidak suka!" Keduanya berkata, "Kami datang dengar penuh ketaatan." Demikian surat Fushshilat (41) ayat 11 melukiskan "keniscayaan takdir dan ketiadaan pilihan bagi jagat raya." Apakah demikian juga yang berlaku bagi manusia? Tampaknya tidak sepenuhnya sama. |
Manusia mempunyai kemampuan terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini, misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah satu ukuran atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Ia tidak mampu melampauinya, kecuali jika ia menggunakan akalnya untuk menciptakan satu alat, namun akalnya pun, mempunyai ukuran yang tidak mampu dilampaui. Di sisi lain, manusia berada di bawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang kita lakukan pun tidak terlepas dari hukum-hukum yang telah mempunyai kadar dan ukuran tertentu. Hanya saja karena hukum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan memilih -tidak sebagaimana matahari dan bulan misalnya- maka kita dapat memilih yang mana di antara takdir yang ditetapkan Tuhan terhadap alam yang kita pilih. Api ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angin dapat menimbulkan kesejukan atau dingin; itu takdir Tuhan -manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk. Di sinilah pentingnya pengetahuan dan perlunya ilham atau petunjuk Ilahi. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah: "Wahai Allah, jangan engkau biarkan aku sendiri (dengan pertimbangan nafsu akalku saja), walau sekejap." Ketika di Syam (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar ibn Al-Khaththab yang ketika itu bermaksud berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya: "Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?" Umar r.a. menjawab, "Saya lari/menghindar dan takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain." Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh, beliau pindah ke tempat lain. Beberapa orang di sekelilingnya bertanya seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali ibn Thalib, sama intinya dengan jawaban Khalifah Umar r.a. Rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpanya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir. Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia kemampuan memilah dan memilih? Kemampuan ini pun antara lain merupakan ketetapan atau takdir yang dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari takdir, yang baik maupun buruk. Tidak bijaksana jika hanya yang merugikan saja yang disebut takdir, karena yang positif pun takdir. Yang demikian merupakan sikap 'tidak menyucikan Allah, serta bertentangan dengan petunjuk Nabi Saw.,' "... dan kamu harus percaya kepada takdir-Nya yang baik maupun yang buruk." Dengan demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannya sendiri, sambil memohon bantuan Ilahi Apakah Takdir Merupakan Rukun Iman? Perlu digarisbawahi bahwa dari sudut pandang studi Al-Quran, kewajiban mempercayai adanya takdir tidak secara otomatis menyatakannya sebagai satu di antara rukun iman yang enam. Al-Quran tidak menggunakan istilah "rukun" untuk takdir, bahkan tidak juga Nabi Saw. dalam hadis-hadis beliau. Memang, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh banyak pakar hadis, melalui sahabat Nabi Umar ibn Al-Khaththab, dinyatakan bahwa suatu ketika datang seseorang yang berpakaian sangat putih, berambut hitam teratur, tetapi tidak tampak pada penampilannya bahwa ia seorang pendatang, namun, "tidak seorang pun di antara kami mengenalnya." Demikian Umar r.a. Dia bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan, dan saat kiamat serta tanda-tandanya. Nabi menjawab antara lain dengan menyebut enam perkara iman, yakni percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul- rasulNya, hari kemudian, dan "percaya tentang takdir-Nya yang baik dan yang buruk." Setelah sang penanya pergi, Nabi menjelaskan bahwa, "Dia itu Jibril, datang untuk mengajar kamu, agama kamu." Dari hadis ini, banyak ulama merumuskan enam rukun Iman tersebut. Seperti dikemukan di atas, Al-Quran tidak menggunakan kata rukun, bahkan Al-Quran tidak pernah menyebut kata takdir dalam satu rangkaian ayat yang berbicara tentang kelima perkara lain di atas. Perhatikan firman-Nya dalam surat Al-Baqarah (2): 285, "Rasul percaya tentang apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang Mukmin. Semuanya percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian." Dalam QS Al-Nisa' (4): 136 disebutkan: "Wahai orang-orang yang beriman, (tetaplah) percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang disusunkan sebelum (Al-Quran). Barangsiapa yang tidak percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudiam, maka sesungguhnya dia telah sesat sejauh-jauhnya." Bahwa kedua ayat di atas tidak menyebutkan perkara takdir, bukan berarti bahwa takdir tidak wajib dipercayai. Tidak! Yang ingin dikemukakan ialah bahwa Al-Quran tidak menyebutnya sebagai rukun, tidak pula merangkaikannya dengan kelima perkara lain yang disebut dalam hadis Jibril di atas. Karena itu, agaknya dapat dimengerti ketika sementara ulama tidak menjadikan takdir sebagai salah satu rukun iman, bahkan dapat dimengerti jika sementara mereka hanya menyebut tiga hal pokok, yaitu keimanan kepada Allah, malaikat, dan hari kemudian. Bagi penganut pendapat ini, keimanan kepada malaikat mencakup keimanan tentang apa yang mereka sampaikan (wahyu Ilahi), dan kepada siapa disampaikan, yakni para Nabi dan Rasul. Bahkan jika kita memperhatikan beberapa hadis Nabi, seringkali beliau hanya menyebut dua perkara, yaitu percaya kepada Allah dan hari kemudian. "Siapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menghormati tamunya. Siapa yangpercaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menyambung tali kerabatnya. Siapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata benar atau diam." Demikian salah satu sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah. Al-Quran juga tidak jarang hanya menyebut dua di antara hal-hal yang wajib dipercayai. Perhatikan misalnya surat Al-Baqarah (2): 62, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih." Ayat ini tidak berarti bahwa yang dituntut dari semua kelompok yang disebut di atas hanyalah iman kepada Allah dan hari kemudian, tetapi bersama keduanya adalah iman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir. Bahkan ayat tersebut dan semacamnya hanya menyebut dua hal pokok, tetapi tetap menuntut keimanan menyangkut segala sesuatu yang disampaikan oleh Rasulullah Saw., baik dalam enam perkara yang disebut oleh hadis Jibril di atas, maupun perkara lainnya yang tidak disebutkan. Demikianlah pengertian takdir dalam bahasa dan penggunaan Al-Quran. | |
WAWASAN AL-QURAN Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat Dr. M. Quraish Shihab, M.A. Penerbit Mizan Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124 Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038 mailto:mi...@ibm.net |
--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "Majelis Ilmu 114" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke majelis-ilmu-1...@googlegroups.com.
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
Inilah faedah dari Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ad Daa’ wad Dawa’ (Al Jawabul Kafi liman Sa’ala ‘aniddawa’i Asy Syafiy), hal. 65-66, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah
http://rumaysho.com/qolbu/ketahuilah-maksiat-dapat-mengurangi-umur-105
Betulkah maksiat dapat mengurangi umur? Lalu apa hakikat kehidupan yang sebenarnya?
Betapa banyak orang yang bergelimang dalam maksiat. Ingin dagangannya laris, dia rela mengadu pada dukun atau melakukan pesugihan-pesugihan di tempat keramat. Atau ada juga yang menggantung jimat-jimat tertentu yang tidak jelas maksudnya, kadang berupa huruf hijaiyah yang tidak jelas apa maksud tulisan tersebut. Inilah manusia, hanya ingin meraih keuntungan dunia dan rela mengorbankan agamanya dengan berbuat syirik pada Allah. Ada pula yang ingin meraih keuntungan dalam usahanya dengan rela makan dari hasil riba, atau undian berhadiah yang maksudnya adalah judi, atau bentuk maksiat lainnya. Begitu pula tidak bosan-bosannya para pemuda berdua-duan (alias kholwat) yang ingin memadu kasih tanpa ada status nikah sama sekali. Itulah manusia tidak bosan-bosannya berbuat maksiat dan dosa. Padahal dosa dan maksiat memiliki dampak yang sangat besar sekali, di antaranya adalah pada umur. Berikut penjelasan dari Ibnul Qoyyim. Semoga bermanfaat.
Ketahuilah bahwa maksiat dapat mengurangi umur dan pasti dapat pula mengurangi keberkahannya, sebagaimana pula amalan kebaikan dapat menambah umur. Itulah perbuatan dosa dapat mengurangi umur.
Perlu diketahui bahwa para ulama sebenarnya berselisih pendapat dalam masalah ini. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan berkurangnya umur adalah hilangnya keberkahan umur. Ini memang benar dan inilah di antara dampak berbuat maksiat.
Ulama lainnya mengatakan bahwa berkurangnya umur adalah
berkurangnya umur secara hakiki artinya umurnya betul-betul berkurang,
sebagaimana rizki juga bisa berkurang.
Allah Ta’ala telah menjadikan
berkah pada rizki karena berbagai sebab yang bisa menambah rizki tadi.
Begitu pula keberkahan umur datang karena berbagai sebab yang bisa
menambah keberkahan umur.
Para ulama mengatakan bahwa bertambah umur itu pasti terjadi karena sebab, begitu pula berkurangnya umur. Begitu pula rizki, ajal, kebahagiaan, kesengsaraan, sehat, sakit, kaya, miskin, walaupun itu semua terjadi dengan ketetapan Allah, tetapi pasti ketetapan Allah ini juga terjadi dengan adanya sebab.
Hakekat Kehidupan adalah Hidupnya Hati
Para ulama lain mengatakan bahwa dampak maksiat dapat menghilangkan keberkahan umur karena hakekat kehidupan adalah hidupnya hati. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyebut orang kafir dengan sebutan mayit karena memang mereka adalah orang yang mati hatinya. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah (yang artinya), “Mereka (orang kafir) bukanlah orang yang hidup.” (QS. An Nahl: 21)
Jadi ingatlah bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Dan ingatlah bahwa umur manusia adalah lama hidupnya. Namun, umur yang hakiki adalah waktu yang dia digunakan dalam ketaatan kepada Allah.
Waktu yang digunakan dalam ketaatan inilah umur sebenarnya. Oleh karena itu, kebaikan dan ketaatan akan menambah umurnya yang sebenarnya dan selain itu tidaklah menambah umurnya.
Oleh karena itu, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan gemar melakukan maksiat, maka dia berarti telah menyia-nyiakan hakikat umur yang sebenarnya.
Jadi inti permasalahan ini semua: umur seseorang adalah lama kehidupannya. Dan tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali dengan mentaati Allah, nikmat dalam mencintai dan berdzikir pada-Nya, dan selalu mengutamakan untuk mencari ridho-Nya.
* * *
DR. Mohammad Damami, M. Ag
Istilah "sekuler" berasal dari kata Latin,"saeculum" yang berarti "a generation, age", sebuah generasi, zaman (lihat: Webster's New Twentieth Century Dictionary Unabridged, 1979, halaman 1641). Dalam perkembangannya, istilah tersebut mengerucut menjadi sebuah istilah yang muatannya bersangkutan dengan masalah "dunia" atau hal-hal bendawi yang tidak berkaitan dengan masalah spiritualikerohanian atau hal-hal yang sifatnya "suci"(sacred) (lihat: Ibid.). Tegasnya, hal-hal yang hanya bersifat duniawi atau kebendaan, bukan bersifat keagamaan atau kerohanian (lihat: Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005, halaman 1015).
Dengan demikian, yang dimaksud istilah "kehidupan sekuler" di sini adalah kehidupan yang diselimuti serba duniawi, serba kebendaan, serba kebutuhan hidup yang sifatnya hanya fisik. Pada intinya, yang terkandung dalam kehidupan sekuler itu adalah tuntutan hidup yang senantiasa diorientasikan atau dikaitkaitkan secara melekat pada tuntutan yang bersifat ekonomi. Umat Islam Nusantara khususnya, bangsa Indonesia umumnya, dalam kesejarahannya telah mengalami pahitnya kehidupan akibat dari keserakahan yang sifatnya ekonomis ini. Umat Islam Nusantara pemah mengalami zaman kolonialisme dan sekaligus imperialisme sejak kedatangan pelaut Belanda, Cornelis deHoutman di Banten (tahun 1596) sampai diproklamasikan kemerdekaan Negara Republik Indonesia (17 Agustus 1945), yang oleh DR (HC) Ir Sukarno dihitung 350 tahun lamanya. Negeri Nusantara pernah direbut dan diaku wilayah teritorialnya oleh Belanda (karena itu disebut dikolonialisasi) dan sekaligus dikuasai secara penuh pengelolaannya, baik di bidang kekayaan maupun pengaturan masyarakatnya (karena itu disebut imperialisasi).
Kolonialisme dan imperialisme merupakan wujud konkret dari berlebih-lebihannya orientasi hidup kebendaan atau duniawi di atas. Karena itu, sifat keserakahan, kelobaan, dan ketamakan menjadi watak yang cukup membekas dalam masyarakat. Masyarakat yang terjajah akibat kolonialisasi dan imperialisasi menjadi trauma dari satu segi, namun dari segilain justru mendambakan hidup duniawi yang serba melimpah. Sayangnya dambaan hidup semacam itu melahirkan sifat-sifat yang kurang baik, seperti ingin serba cepat untuk meraih sesuatu. Maka muncullah kesukaan hidup menerabas, tidak menurut tahapan-tahapan secara teratur, ingin serba instant (seketika), menyuap, menyogok, korupsi, dan sebagainya. Jadi, terjadi kondisi yang serba paradoks. Di satu sisi trauma terhadap penderitaan tersebab penjajahan, sepertikemiskinan, kesengsaraan, ketertekanan, kehilangan hak, kehilangan kebebasan, dan sebagainya, namun di sisi lain justru timbul kecenderungan untuk haus harta benda, haus kekayaan melimpah, berkebebasan tak terkendali, haus kekuasaan, dan sebagainya. Sifat yang berwajah paradoks (kesebalikan) seperti ini sangat terlihat jelas pada saat ini.
Zaman globalisasi saat ini, yang lagi-lagi latar belakangnya juga bertumpu pada keserakahan ekonomis pada intinya, tampaknya membuat sifat paradoks tersebut makin sulit dieliminasi atau dilenyapkan. Bagaimana Al-Qur'an berbicara tentang sifat paradoks semacam itu? Garapan Al-Qur'an adalah "manusia", bukan makhluk yang lain di planet bumi yang satu-satunya ini. Sebab, apa saja yang menjadi isi planet bumi ini, seluruhnya untuk kepentingan manusia (Al-Baqarah [2j: 29). Benda mati (beku, cair, gas, eter), benda tumbuh (tumbuh-tumbuhan), dan benda hidup (hewan, binatang), seluruhnya untuk kepentingan manusia. Karena itu yang justru penting adalah mengendalikan manusia nya. Sementara itu dalam diri manusia ada faktor "nafs" yang salah satu pengertiannya adalah "dorongan hawa nafsu"(An-Nazi'at[79): 40).
Dorongan hawa nafsu y ang bekerja pada diri manusia tersebut sungguh senantiasa mendorong manusia untuk berbuat buruk (Yusuf [12): 53). Misalnya mengerjakan hal-hal yang bertentangan dengan aturan Allah SwT. Bahkan, sampai ada orang yang justru menyembah atau taat mati-matian terhadap hawa nafsunya, atau dengan kata lain telah mempertuhan terhadap hawa nafsunya. Orang semacam itu, oleh Al-Qur'an disebut orang yang tidak mau menggunakan pendengaran (telinga) untuk mendengar nasihat kebenaran dan tidak mau menggunakan kemampuan akalnya yang menalar dan merenungkan kebenaran, yang karena itu orang tersebut bagaikan bewan ternak, atau malahan lebih sesat daripada itu (Al-Furqan [25]: 43-44).
Secara normatif Al-Qur'an menyatakan, bahwa agar seseorang tidak dikendalikan oleh "nafs"(hawa nafsu) seperti tersebut di atas, maka satu-satunya cara untuk melepaskannya adalah dengan "dzikir" (ingat) kepada Allah SwT. Dan "ghaflah" (lalai, abai, lupa) kepada Allah SwT merupakan kondisi rohani yang kelewatan (Al-Kahfi [18): 28). Orang hatinya tergetar dan senantiasa ingat kepada Allah SwT ialah sebagai tanda dia adalah orang beriman. Tauhid, atau keyakinan penuh terhadap Allah SwT yang Maha Tunggal, akan mampu membuat jarak yang signifikan terhadap keinginan duniawi yang berlebih-lebihan itu. Sebaliknya, siapa orang yang lebih dekat hatinya pada hawa nafsunya (nafs), maka dia akan makin tergulung oleh lumpur keinginan duniawi tersebut.
Orang beriman, bertauhid, dia telah berusaha untuk menarik dirinya "ke atas" agar terkendali dari daya tarik hawa nafsu. Sebaliknya, jika dzikir kepada Tuhan Yang Maha Tunggallemah, maka menguatlah daya tarik (gravitasi) untuk masuk lumpur hawa nafsu. Kehidupan sekuler ini sangat kuat tarikan gravitasi hawa nafsunya. Karena itu penguatan iman, dzikir, lewat ibadah mahdlah, seperti shalat yang berintikan dzikr" menjadi sangat penting di tengah-tengah kehidupan sekuler tersebut (Thaha [20}: 14). Wallaahu a'lam bishshawaab.*
Sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/12-content-192-det-aqidah-islam.html
* * *
IMAN KEPADA ALLAH SWT
(BULETIN MI-114 EDISI 10 INI TELAH DIBAGIKAN DI MASJID AGUNG AL-AZHAR PADA HARI JUM'AT, 9 JANUARI 2015)
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.
(QS. Ali Imran (3) Ayat 2).
Rasulullah SAW bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”. (HR. Bukhari nomor 16).
Percaya terhadap adanya Tuhan.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al Baqarah (2) ayat 21: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. Kemudian diterangkan dalam Qur’an Surah Ali Imran (3) ayat 6: “Dialah (Allah SWT) yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Kita ada karena ada yang menciptakan. Selayaknya pakaian, rumah, makanan, kendaraan, dan segala sesuatu benda di alam semesta ini juga ada, karena ada yang menciptakan. Manusia yang tidak mengakui adanya Tuhan yang Maha Pencipta secara tidak langsung telah mengingkari keberadaan dirinya sendiri dan kafir kepada Allah SWT.
Kisah.
Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa ada seorang kafir yang sangat yakin bahwa tidak ada Tuhan di dunia ini. Semuanya yang ada di dunia ini tercipta dengan sendirinya, tanpa ada Yang Maha Pencipta.
Dengan penuh keangkuhan, dia kemudian mengundang para Ulama ahli Tauhid di zaman-nya untuk berdebat dan membuktikan kepada masyarakat tentang keyakinan siapa yang paling benar.
Menerima undangan tersebut, maka para Ulama ahli Tauhid kemudian bermusyawarah dan memilih salah seorang diantara mereka yang paling bijak untuk menghadapi tantangan dari orang kafir itu.
Setelah melalui perundingan sebelum acara, maka disepakatilah antara orang kafir dan para Ulama tersebut segala hal terkait dengan acara tersebut, mulai dari waktu dan tempat pelaksanaan sampai pada kesepakatan bahwa siapa yang kalah, yang tidak dapat meyakinkan keyakinannya, mesti tunduk dan menerima kebenaran.
Hari yang dinanti pun tiba. Masyarakat, para pendukung orang-orang kafir maupun para Ulama pun hadir di tempat yang disepakati. Namun acara belum dapat dimulai karena Ulama yang akan bertarung dengan orang kafir itu belum kunjung tiba.
Sambil menunggu kedatangan Ulama tersebut, orang kafir kemudian memulai orasinya dengan menghina para Ulama. Ia menyatakan bahwa para Ulama itu sebenarnya takut menghadapinya dan berusaha untuk mengulur-ulur waktu. Dia sangat yakin bahwa keyakinan para Ulama ahli Tauhid itu begitu dangkal dan tidak bisa dipertahankan secara akal sehat.
Beberapa saat kemudian, tampaklah dari kejauhan Ulama yang dimaksud berjalan, datang menuju ke tempat acara. Kedatangan Ulama tersebut disambut dengan salam dari para Ulama ahli Tauhid. Ia kemudian dipersilahkan untuk menyampaikan khutbah.
Sebelum Ulama tersebut memulai khutbahnya, orang kafir dipersilahkan untuk menyampaikan khutbahnya dan segala argumentasi untuk meyakinkan bahwa Tuhan tidak ada, dan bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.
Setelah itu, sampailah giliran sang ulama untuk bicara. Pada kesempatan tersebut Ulama ahli Tauhid yang terpilih itu segera menyampaikan salam dan permohonan maaf kepada semua hadirin, karena ia telah datang terlambat.
Ulama terpilih itu kemudian menjelaskan kejadian yang menyebabkan ia tidak dapat datang tepat waktu. Ia menjelaskan bahwa tempat ia tinggal adalah di daratan seberang yang di pisahkan oleh sungai. Oleh karena itu, ia tidak dapat dengan cepat berjalan ke tempat acara karena harus menunggu perahu atau rakit untuk bisa menyeberangi sungai.
Lama ia menuggu, namun tidak ada perahu atau pun rakit yang datang. Hingga akhirnya ia melihat ada sekumpulan kayu yang berserakan yang terapung dan hanyut mengikuti arus sungai. Ketika kumpulan kayu itu mendekat ke arahnya, tiba-tiba kayu-kayu tersebut bergerak dan bersatu padu hingga terbentuklah sebuah rakit dan berhenti tepat di depannya.
Ia kemudian naik ke rakit tersebut, rakit itu membawanya menyeberangi sungai dan akhirnya sampailah ia ke tempat acara.
Mendengar penjelasan tersebut, orang kafir kemudian berkata dengan keras “sungguh engkau adalah seorang pembohong besar !!! Bagaimana mungkin kumpulan kayu itu dapat bersatu padu dengan sendirinya kalau tidak ada orang atau sesuatu yang menggabungkannya ???” Tidak mungkin sebuah rakit dapat tercipta dengan sendirinya !!!”
Mendengar sanggahan dari orang kafir itu, sang ulama kemudian berkata “ jika engkau tidak yakin bahwa ada sebuah rakit yang dapat tercipta dengan sendirinya, maka bagaimana bisa engkau meyakini bahwa tidak ada Tuhan di dunia ini yang menciptakan engkau, seluruh manusia dan segala sesuatu di alam semesta ini ???”
Orang kafir itu pun terdiam, tidak bisa berkata-kata, dan segala argumentasinya bahwa Tuhan tidak ada, dan bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan dengan sendirinya terbantahkan.
Sungguh seorang pembohong besar adalah orang yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, dan segala sesuatu di dunia ini terjadi dengan sendirinya.
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.
(Qur’an Surah Al Baqarah (2) ayat 116).
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.
(Qur’an Surah Al Maidah (5) ayat 73).
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan.
(Qur’an Surah Al Ankabut (29) ayat 17).
Konsekuensi Iman Kepada Allah SWT.
Orang yang beriman kepada Allah tidak akan berdusta, dan tidak akan larut dalam kebingungan ketika dia menghadapi masalah dalam hidup.
Bagaimana mungkin seorang yang percaya kepada Tuhan, akan larut dalam kebingungan ketika menghadapi masalah dalam hidup, sementara dia tau bahwa ada Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana yang dapat menolongnya dan menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapinya.
Bagaimana mungkin seorang yang percaya terhadap adanya Tuhan akan berdusta, sementara dia tau bahwa dia tidak akan pernah luput dari pengawasan Tuhan.
Telah dijelaskan dalam Al Qur’an Surah Al An’am (6) ayat 3: Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.
Seorang mukmin tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan sesuatu apa pun dan akan menjalani hidupnya dengan perbuatan-perbuatan baik.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, “
(Qur’an Surah An Nisa (4) ayat 36).
Sikap Seorang Mukmin kepada Musyrikin.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al An’am (6) ayat 108: Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.
Islam adalah satu-satunya Agama yang diridhai Allah SWT, tetapi Umat Islam adalah Umat yang santun dan tidak akan menghina Agama lain. Mari kita wujudkan Rahmatan Lil Alamin.
* * *
"Allah berfirman bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, (hanya Allah lah) yang (mampu) menegakkan keadilan (dengan sempurna). Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (adalah mereka yang diberi hidayah untuk bisa menerima kebanaran itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia (Allah SWT), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".
[QS. Ali Imran (3) Ayat 18].
" ... sesungguhnya Allah, Dia lah (Tuhan) yang haq (benar) dan sesungguhnya segala sesuatu yang mereka seru (sebagai Tuhan) selain Allah, itulah yang batil (salah). Dan Sesungguhnya Allah, Dia lah yang Maha Tinggi (kemuliaannya) lagi Maha Besar (kekuasaannya).”.
[QS. Al Hajj (22) Ayat 62].
"Dan apabila hamba-hamba-Ku (makhluk/manusia) bertanya kepadamu tentang Aku (Allah SWT), maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah (berada sangat) dekat (dengan nya jika dia beriman kepada Allah). Aku (Allah SWT) mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon (dengan ikhlas) kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran".
[QS. Al Baqarah (2) Ayat 186]
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.
[QS. Al Fushshilat (41) Ayat 30].
* * *