Pupil Isokor Dan Anisokor Adalah

0 views
Skip to first unread message

Nhyiraba Valentin

unread,
Aug 20, 2024, 3:26:55 AM8/20/24
to maisnowettor

Anisokor berarti Anda memiliki ukuran pupil yang tidak sama. Satu pupil mungkin lebih besar daripada normal atau satu pupil mungkin lebih kecil daripada normal, sehingga menyebabkan ukuran pupil tidak sama. Kedua pupil ini mungkin atau mungkin tidak dapat merespons secara normal terhadap cahaya.

Pupil Isokor Dan Anisokor Adalah


Download File https://vlyyg.com/2A3fRH



Dalam sebagian besar kasus, anisokor bersifat jinak dan tidak perlu dikhawatirkan. Tetapi pupil tiba-tiba berukuran tidak sama, jenis anisokor jarang terjadi ini bisa jadi menandakan gejala kondisi medis yang serius.

Dalam anisokor sederhana, perbedaan ukuran pupil biasanya mencapai 1 milimeter (mm) atau lebih pendek, dan kedua pupil bereaksi norma terhadap cahaya. Keberadaan anisokor sederhana tampaknya tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, atau warna mata.

Iritis adalah suatu bentuk uveitis (penyakit inflamasi pada mata). Iritis akut ditandai oleh mata kemerahan dan rasa nyeri, fotopobia, inflamasi sel-sel dalam ruang anterior mata, dan menciutnya pupil pada mata yang bermasalah (sehingga menyebabkan anisokor).

Ada berbagai macam penyebab iritis, antara lain infeksi mata, penyakit inflamasi mata yang mendasari, dan trauma. Ahli perawatan mata profesional Anda dapat membantu mengobati gejala iritis selagi penyebab yang mendasari kondisi tersebut dapat ditentukan dan dikendalikan.

Sindrom Horner juga dapat dibedakan dari anisokor sederhana dengan melihat seberapa cepat pupil mengalami dilatasi dalam pencahayaan redup. Pupil normal (termasuk pupil normal yang berukuran sedikit tidak sama) akan mengalami dilatasi dalam waktu lima detik saat memasuki ruang dengan pencahayaan redup. Pupil yang terkena sindrom Horner biasanya membutuhkan waktu 10 hingga 20 detik untuk mengalami dilatasi dalam pencahayaan redup atau ruang yang gelap.

Pupil tonik Adie adalah dilatasi pupil yang disebabkan oleh kerusakan serat saraf yang mengendalikan otot dalam mata yang menciutkan pupil. Pupil yang bermasalah juga kurang bereaksi terhadap cahaya. Pupil tonik Adie dialami terutama oleh perempuan yang berusia antara 20 hingga 40 tahun, dan dalam 80% kasus hanya satu mata yang bermasalah. Dalam sebagian besar kasus, penyebab pupil tonik Adie tidak diketahui.

Penyebab palsi saraf ketiga antara lain tekanan pada saraf akibat aneurisme, tumor, atau perdarahan otak. Penyebab palsi saraf okulomotor pada anak-anak di antaranya adalah migrain dan infeksi berat, seperti meningitis.

Anisokor mekanis adalah ukuran pupil yang tidak sama yang disebabkan oleh kerusakan iris atau struktur yang mendukungnya. Penyebab jenis anisokor ini adalah trauma pada mata, komplikasi bedah mata (termasuk bedah katarak), glaukoma penutupan sudut, dan kondisi inflamasi seperti iritis atau uveitis.

Obat tetes mata glaukoma tertentu juga dapat menyebabkan anisokor, khususnya jika digunakan untuk mengobati glaukoma hanya pada satu mata. Contoh yang berhasil diidentifikasi di antaranya pilokarpin, yang dapat menyebabkan pupil mengecil pada mata yang diobati, serta brimodinine dan apraklonidine, yang dapat menyebabkan pupil membesar pada mata yang diobati.

Jika anisokor tergolong ringan dan pupil Anda bereaksi secara normal terhadap tes yang dilakukan ahli perawatan mata profesional Anda, maka mungkin tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tetapi Anda harus terlebih dahulu menjalani pemeriksaan pupil yang berukuran tidak sama sebelum Anda menganggap tidak ada masalah.

Jika Anda menderita anisokor dan satu pupil lebih besar dibanding yang lainnya, tanyakan kepada ahli perawatan mata profesional Anda tentang lensa fotokromik. Lensa kacamata ini akan berubah gelap secara otomatis jika terkena sinar matahari sehingga mengurangi kepekaan terhadap cahaya (fotopobia) yang mungkin Anda alami.

Teknik pemeriksaan pupil secara keseluruhan dimulai dari persiapan pasien dan peralatannya. Pasien dengan keluhan photophobia perlu diedukasi terlebih dahulu mengenai pemeriksaan pupil, karena dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.[1,6]

Persiapan pasien pada pemeriksaan pupil pertama-tama adalah melakukan anamnesa mengenai keluhan yang dialami, riwayat penggunaan obat-obatan (terutama yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan pupil), dan memberikan informasi mengenai prosedur pemeriksaan. Selain itu, efek samping seperti rasa tidak nyaman pada keluhan photophobia juga harus diinformasikan sebagai bagian dari informed consent.[4]

Bila ada, pemeriksaan pupil dapat pula dilakukan dengan slit lamp. Ruangan dipersiapkan dengan pencahayaan netral yang mudah dikontrol. Oftalmoskop digunakan untuk melihat red reflex, yaitu warna jingga-kemerahan yang muncul pada pemeriksaan fundus.[17-19]

Selain itu, mungkin dapat diperlukan neutral density filter dengan log unit 0.3, 0.6, dan 0,9 untuk menilai relative afferent pupillary defect (RAPD) secara kualitatif. Neutral density filter mengurangi intensitas stimulus gelombang cahaya. Inti pemeriksaan ini adalah mengukur sampai angka log unit ke berapa manifestasi RAPD menghilang atau pupil Marcus-Gunn menghilang.[20]

Pada pemeriksaan mata, termasuk pemeriksaan pupil, idealnya pasien diposisikan duduk dengan mata pasien sejajar dengan mata pemeriksa. Akan tetapi, pada keadaan tertentu, misalnya pada saat pasien tidak sadar, pemeriksaan mata dapat dilakukan dengan memposisikan pasien supine.[4,21]

Prosedur pemeriksaan pupil meliputi beberapa tahap. Pupil diperiksa dengan menggunakan cahaya terang untuk melihat respon miosis/konstriksi oleh saraf parasimpatis, kemudian dengan cahaya dan redup untuk melihat respon midriasis/dilatasi oleh saraf simpatis. Pemeriksaan pupil meliputi inspeksi, pemeriksaan refleks cahaya, dan respon jarak dekat (near response).[1,4]

Inspeksi pupil pertama-tama dilakukan saat istirahat dengan pencahayaan yang medium. Inspeksi dilakukan untuk melihat warna, ukuran, lokasi, bentuk, dan kesimetrisan. Normalnya, pupil terletak di tengah iris dengan ukuran saat istirahat berkisar antara 2-4 mm, bentuk bulat, isokor, dan reguler, serta memberikan refleks terhadap cahaya. Bentuk pupil ireguler dapat menandakan penyakit yang serius pada mata, seperti uveitis anterior.[1,18]

Warna pupil normal adalah hitam, tetapi ada kalanya pupil berwarna putih atau leukokoria. Hal ini mengindikasikan adanya kelainan pada mata segmen posterior. Pada anak, hal ini dapat mengindikasikan adanya tumor ganas (misalnya retinoblastoma), ataupun hiperplasia vitreus primer, retinopathy of prematurity, dan katarak.[7,22]

Adanya tanda middilatasi, penurunan refleks cahaya pupil, disertai nyeri kepala atau nyeri orbita, mual dan muntah, injeksi siliar maupun konjungtiva, dapat dicurigai pasien mengalami glaukoma akut sudut tertutup. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan tekanan bola mata. Keadaan ini memerlukan terapi secepatnya karena vision threatening dan dapat berakibat kebutaan.[5]

Pemeriksaan refleks cahaya (swinging light test) bertujuan untuk memeriksa kecepatan dan kesimetrisan kedua pupil terhadap respon cahaya. Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang sensitif untuk memeriksa jaras visual anterior.

Kontrol bukaan pupil diatur oleh otot sfingter pupillae dan dilator pupillae. Sfingter pupillae merupakan otot sirkuler yang dipersarafi serat parasimpatis untuk konstriksi/miosis pupil. Sedangkan dilator pupillae yang radial berperan untuk dilatasi/midriasis pupil dan dipersarafi serat simpatis.[23,24]

Respon cahaya pada pupil melibatkan jaras aferen (saraf optik atau saraf kranial II) dan eferen (saraf okulomotor atau saraf kranial III dan simpatis). Impuls aferen dari nervus optikus melewati nukleus pretectal di batang otak, kemudian ke Edinger-Westphal nucleus (EWN). Di sini impuls aferen bersinaps dan bertemu dengan impuls eferen, kemudian impuls eferen akan bersinaps di ganglion siliaris ke muskulus siliaris.[1,8,23]

Saraf parasimpatis berasal dari saraf kranial III yang sinaps pada ganglion siliaris sebelum mencapai otot sfingter pupillae. Sedangkan persarafan simpatis berasal dari hipotalamus ke batang otak, kemudian ke kanalis servikalis dan keluar pada level T1. Kemudian dari sini akan naik kembali ke ganglion servikalis superior (stellate), lalu ke orbit lewat arteri karotis interna dan cabangnya kemudian ke otot dilator pupillae di iris.[1,8]

Pemeriksaan ini dikatakan normal apabila kedua pupil konstriksi sebagai respon sorotan cahaya pada pupil. Bila terdapat lesi asimetri atau unilateral pada jaras visual anterior, maka pupil akan dilatasi saat disoroti sinar. Hal ini disebut relative afferent pupillary defect (RAPD), terjadi karena adanya defek pada jaras aferen, baik retina, saraf optik, maupun jaras visual, seperti pada ablatio retina dan endoftalmitis.[4,8,9]

Anisokoria bukan tanda RAPD, tetapi RAPD tetap dapat dicek pada pupil anisokor dengan melihat refleks cahaya tidak langsung pada mata yang normal. Misalnya, mata kanan normal dan mata kiri dilatasi (anisokor), lalu lakukan swing light test dari kanan ke kiri, apabila pupil kanan (yang normal) dilatasi, maka terdapat RAPD. Pemeriksaan ini dikenal dengan reverse testing RAPD.[28]

Pemeriksaan pupil yang menunjukkan midriasis total pada kedua mata (respon cahaya negatif) menjadi salah satu kriteria brain death. Selain itu, pada pasien dengan herniasi batang otak yang menekan saraf kranial III, dapat ditemukan adanya anisokoria saat dilakukan pemeriksaan pupil dengan disoroti cahaya.[3,10]

Light-near dissociation (LND) adalah keadaan dimana terjadi gangguan respon pupil terhadap cahaya, namun near response tidak terganggu. Hal ini terjadi karena jaras aferen tidak dibutuhkan untuk mengaktivasi near response.

Jaras aferen adalah jaras yang diperlukan agar pupil dapat memberikan respon terhadap cahaya. Maka dari itu, bila terdapat defek jaras aferen, seperti pada nervus optikus, pupil tidak akan bereaksi terhadap cahaya tetapi tetap memberikan refleks akomodasi.[4,25]

Pemeriksaan pupil pada neonatus, bayi, dan anak-anak dilakukan pada saat pasien datang dan pada saat pasien berusia lebih muda. Bila ada, dapat diminta foto pasien saat masih kecil. Hal ini untuk mengetahui adanya kelainan pupil yang sudah lama, tetapi baru diperhatikan pasien atau orang tua pasien.[4]

b37509886e
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages