Created on Tuesday, 07 May 2013 21:34 Published Date
EDISI KHUSUS: Sekolah Para Juara
Mulanya hanya ingin menjadi sekolah yang bebas dari tawuran, SMA Negeri 8 Jakarta kini menjadi sekolah dengan banyak prestasi. Hasil kolaborasi kurikulum nasional dan internasional.
Jakarta, GATRAnews – Ahmad Yani, yang akrab disapa Pak Acil, menyodori Gatra sebuah buku. Judulnya: Live in Strasbourg, Pengalaman Remaja Indonesia Tinggal di Keluarga Prancis. “Ini karya terbaru murid kami. Dia menulis pengalamannya sewaktu tinggal tiga minggu di Strasbourg,” kata Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan SMA Negeri 8 Jakarta itu. Strasbourg adalah suatu wilayah di Prancis yang letaknya di perbatasan dengan Jerman.
SMA Negeri 8 Jakarta, lanjut Pak Acil, mendukung setiap hal yang dilakukan siswanya, entah itu pencapaian prestasi akademik ataupun non-akademik. Penulis buku itu, Qomaruliati Setiawati, adalah siswa kelas X-D. Buku itu menceritakan pengalaman Qomaruliati atau akrab disapa Ruli ketika mengikuti kegiatan homestay. “Aku ikut program itu dari CISV (Children International Summer Village),” ujar Ruli kepada Gatra.
SMA Negeri 8 Jakarta terletak di Jalan Taman Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Usia sekolah favorit ini telah mencapai 55 tahun. Perjalanan SMA Negeri 8 Jakarta, yang kini bereputasi mumpuni, tidak serta-merta, tapi melalui proses panjang dan kerja keras. Pada 1971 hingga 1984, sekolah ini masih mencari jati diri. Barulah pada 1984 hingga 1989, sekolah ini mencanangkan diri sebagai lembaga pendidikan yang taat aturan, bebas tawuran, dan menjadikan sekolah sebagai pusat sumber belajar. Tahap berikutnya, pihak sekolah memacu prestasi para siswanya di bidang akademik dan non-akademik.
Kesungguhan pihak sekolah membuahkan hasil. Pada 1994, Dinas Pendidikan DKI Jakarta menetapkan SMA Negeri 8 Jakarta sebagai sekolah unggulan dan plus tingkat provinsi. Pada 2004, pihak sekolah memulai rintisan kelas internasional dan menjadi pusat sumber belajar astronomi. Tahun 2006 hingga 2007, sekolah ini ditunjuk Direktorat Pendidikan Menegah Umum sebagai sekolah rintisan bertaraf internasional (RSBI), kelas internasional resmi dan menjadi pusat penggunaan KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan).
Yang membanggakan, sebagian besar lulusan SMA Negeri 8 Jakarta diterima di perguruan tinggi negeri favorit. Misalnya, di Universitas Indonesia sekitar 40%, di Institut Teknologi Bandung sekitar 30%. Sisanya tersebar di Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan perguruan tinggi negeri lainnya. Sementara itu, lulusan yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri ada 6%-8%.
“Paling utama karena ada kepedulian dari alumni yang terus membina adik-adiknya,” kata Pak Acil memaparkan resep kesuksesan SMA Negeri 8 Jakarta. Sejak awal, ungkap Pak Acil, alumni terlibat langsung membantu adik-adik kelasnya. Bahkan ada alumni lulusan ITB yang kini bekerja di perusahaan intenasional masih tetap ikut menjadi tutor bagi adik-adik kelasnya. “Tidak segannya alumni untuk turun langsung membantu para adik kelasnya karena mereka masih merasa menjadi bagian dari keluarga besar SMA Negeri 8 Jakarta,” ujar Pak Acil.
Besarnya peran alumni ini dibenarkan Nahdiana, Kepala SMA 8 Jakarta. Rasa memiliki yang besar terhadap sekolah membuat para alumni rela membaktikan diri dengan membimbing adik-adik kelasnya. “Para alumni membantu memetakan kemampuan adik kelasnya dan membantu menentukan pilihan ketika akan masuk universitas berdasarkan pengalaman mereka. Para alumni ini peduli pada perkembangan adik-adiknya,” tutur Nahdiana, yang sebelumnya menjadi Kepala SMA Negeri 28 Jakarta.
SMA Negeri 8 Jakarta tak menerapkan kurikulum berbeda dari sekolah-sekolah negeri lainnya. Saat ini, kurikulum yang berlaku adalah kurikulum berbasis kompetensi yang tersusun dalam KTSP. Namun pihak sekolah mengolaborasikan kurikulumnya dengan kurikulum internasional Cambridge. “Kami jejerkan dan perbandingkan kurikulum nasional dan kurikulum Cambridge. Kami lakukan adaptasi dan adopsi. Kurikulum adaptasi itu masih kami pergunakan hingga sekarang,” Pak Acil menjelaskan.
Menurut Pak Acil, tak ada perbedaan yang jauh antara kurikulum nasional dan kurikulum Cambridge. Kurikulum Cambridge lebih mengedepankan penalaran dengan analisis. Dalam ilmu-ilmu alam, misalnya, pertanyaan tak hanya berbentuk multiple-choice, melainkan juga terdapat esai yang memacu siswa mengurai proses dari awal hingga akhir dengan mengedepankan analisis.
Selain itu, guru-guru menerapkan ujian dengan standar lebih tinggi daripada seharusnya. Hal ini dilakukan untuk menaikkan kualitas para siswa. Tak hanya standar ujian yang dinaikkan, para guru pun memiliki standar pengajaran yang mengacu pada paikem (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan). Lewat paikem ini, diharapkan proses belajar-mengajar berlangsung kondusif dan kooperatif.
Menyinggung soal biaya pendidikan, Nahdiana mengaku, setelah Mahkamah Kosntitusi membatalkan sistem RSBI, pihak sekolah tak lagi memungut biaya pendidikan apa pun kepada para peserta didik. Sebab biaya pendidikan telah ditanggung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Demikian pula dalam sistem penerimaan murid baru, pihak sekolah tidak memungut biaya apa pun. “Siapa pun bisa masuk SMA 8 Jakarta. Seleksi masuk yang diberikan juga seleksi akademis,” ujar Nahdiana.
Melihat berbagai prestasi yang ditorehkan siswa SMA Negeri 8 Jakarta, Nahdiana mengaku tidak boleh puas. Ia terus menggaungkan budaya prestasi, one student one achievement, baik akademis maupun non-akademis. “Prestasi bukan hanya demi sekolah, tetapi akan menjadi bagian dari sejarah hidup mereka,” katanya.