sejarah sibolga

310 views
Skip to first unread message

Melgibson Pasaribu

unread,
Oct 13, 2011, 1:41:15 PM10/13/11
to lovers of history
Menurut penulis Sejarah Sibolga, Tengku Luckman Sinar SH—dengan
mengutip hasil catatan riset seorang pembesar Belanda, EB Kielstra -
disebutkan bahwa sekitar tahun 1700 seorang dari Negeri Silindung
bernama Tuanku Dorong Hutagalung mendirikan Kerajaan Negeri Sibogah,
yang berpusat di dekat Aek Doras. Dalam catatan EB Kielstra ditulis
tentang Raja Sibolga: "Disamping Sungai Batang Tapanuli, masuk wilayah
Raja Tapian Nauli berasal dari Toba, terdapat Sungai Batang Sibolga,
di mana berdiamlah Raja Sibolga."

Penetapan tahun 1700 itu diperkuat analisis tingkat keturunan yakni
bahwa Marga Hutagalung yang telah berdiam di Sibolga sudah mencapai
sembilan keturunan. Kalau jarak kelahiran antara seorang ayah dengan
anak pertama adalah 33 tahun -angka ini adalah rata-rata usia nikah
menurut kebiasaan orang Batak—lalu dikalikan jumlah turunan yang sudah
sembilan itu, itu berarti sama dengan 297 tahun. Maka kalau titik
tolak perhitungan adalah tahun 1998, yaitu waktu diselenggarakannya
Seminar Sehari Penetapan Hari Jadi Sibolga pada 12 Oktober 1998, itu
berarti ditemukan angka 1701 tahun.

Tentang nama atau sebutan Sibolga, dicerita-kan bahwa pada awal-nya
Ompu Datu Hurinjom yang membuka perkampungan Simaninggir, mempu-nyai
postur tubuh tinggi besar, di samping memiliki tenaga dalam yang kuat.
Adalah tabu bagi orang Batak menyebut nama seseorang secara langsung
apalagi orang tersebut lebih tua dan dihormati, maka untuk menyebut
nama kampung yang dibuka Ompu Datu Hurinjom dipakai sebutan
"Sibalgai", yang artinya kampung atau huta untuk orang yang tinggi
besar.

Asal kata Sibolga dengan pengertian tersebut lebih dapat diterima
daripada untuk istilah "Bolga-Bolga", yaitu nama sejenis ikan yang
hidup di pantai berawa-rawa; atau istilah "Balga Nai" yang berarti
besar untuk menunjukkan ke arah luasnya lautan. Orang Batak biasanya
menggunakan kata "bidang" untuk menggambarkan sesuatu yang luas, bukan
kata balga yang berarti besar.

Tapi apa pun kisah awal kelahiran nama dan Kerajaan Sibolga, kota di
Teluk Tapian Nauli ini telah menjalankan peran sejarah yang sangat
berarti. Di masa lalu Sibolga berjaya sebagai pelabuhan dan gudang
niaga untuk barang-barang hasil pertanian dan perkebunan seperti
karet, cengkeh, kemenyan dan rotan. Inggris bahkan pernah menjadikan
Sibolga sebagai pelabuhan gudang niaga lada terbesar di Teluk Tapian
Nauli.

Lebih dari itu, berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda
pada 7 Desember 1842 tempat kedudukan Residen Tapanuli dipindahkan
dari Air Bangis ke Sibolga, dan sejak itulah Sibolga resmi menjadi
Ibukota Keresidenan. Meski statusnya sebagai Ibukota Keresidenan
sempat dipindahkan ke Padang Sidempuan antara tahun 1885 - 1906, namun
predikat itu akhirnya kembali lagi ke Sibolga berdasarkan Staadblad
yang dikeluarkan pada 1906 itu.

Dalam perjalanannya, pada 1850, di masa Mohd Syarif menjadi Datuk
Poncan, bersama-sama dengan Residen Kompeni Belanda bernama Conprus,
mereka pindah dari Pulau Poncan ke Pasar Sibolga. Pada tahun ini pula
rawa-rawa besar itu ditimbun untuk menyusunnya menjadi sebuah negeri
pula.

Sibolga jolong basusuk
Banda digali urang rantau
Jangan manyasa munak barisuk
Kami sapeto dagang sansai

Maksudnya yakni bahwa pada mulanya Kota Sibolga ini dibangun dengan
menggali parit-parit dan bendar-bendar untuk mengeringkan rawa-rawa
besar itu, dengan menggerakkan para narapidana (rantai) serta ditambah
dengan tenaga-tenaga rodi, ditim-bunlah sebagian rawa-rawa itu dan
berdirilah negeri baru Pasar Sibolga.

Di masa Sibolga dibangun menjadi kota, istana raja yang berada di tepi
Sungai Ack Doras dan pemukiman di sekelilingnya dipindahkan ke kampung
baru, Sibolga Ilir. Di atas komplek tersebut dibangun pendopo Residen
dan perkantoran Pemerintah Belanda. Walaupun pada tahun 1871 Belanda
menghapuskan sistem pemerintahan raja-raja dan diganti dengan Kepala
Kuria, namun Anak Negeri menganggapnya tetap sebagai Raja dan sebagai
pemangku adat.

Sementara Datuk Poncan di Sibolga diberi jabatan sebagai Datuk Pasar
dan tugasnya memungut pajak anak negeri yang tinggal di Kota Sibolga
terhadap warga Cina perantauan, Di dalam melaksanakan tugasnya, Datuk
Pasar dibantu oleh Panghulu Batak, Pangulu Malayu, Pangulu Pasisir,
Pangulu Nias, Pangulu Mandailing dan Pangulu Derek.

Pada 1916 Datuk Stelsel dihapuskan serta diganti dengan Demang
Stelsel, mengepalai satu-satu distrik menurut pembagian yang diadakan,
dalam mana Pasar Sibolga masuk Distrik Sibolga, sebagaimana beberapa
resort kekuriaan. Untuk memudahkan kontrol berdasarkan Besluit
Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Keresidenan Tapanuli dibagi menjadi
tujuh Afdeling yaitu Afdeling Singkil, Sibolga, Nias, Barus, Natal,
Angkola dan Mandailing. Sedangkan Afdeling Sibolga terdiri dari
beberapa distrik yakni Distrik Sibolga, Distrik Kolang, Tapian Nauli,
Sarudik, Badari, dan Distri Sai Ni Huta.

Pada masa Pemerintahan Militer Jepang, Kota Sibolga dipimpin oleh
seorang Sityotyo (baca: Sicoco) di samping jabatannya selaku Bunshutyo
(baca: Bunsyoco), tapi dalam kenyataanya adalah Gunyo yang memegang
pimpinan kota sebagai kelanjutan dari Kepala Distrik yang masih
dijabat oleh bekas demang, ZA Sutan Kumala Pontas.

Pada masa pendudukan Jepang, Mohammad Sahib gelar Sutan Manukkar
ditunjuk sebagai Kepala Kuria dengan bawahan Mela, Bonan Dolok,
Sibolga Julu, Sibolga Ilir, Huta Tonga-tonga, Huta Barangan dan
Sarudi. Beliau inilah yang menjadi Kepala Kuria yang terakhir di
Sibolga karena setelah zaman kemerdekaan, sekitar tahun 1945 istilah
Kepala Kuria praktis sudah tidak ada lagi.

Mengenai Sejarah Kuno Sibolga

Tidak dapat diketahui secara pasti sejak kapan bumi Teluk Tapian Nauli
mulai dihuni orang. Namun berdasarkan sejumlah catatan sejarah,
diperkirakan sejak tahun 1500 sudah terjadi hubungan dagang antara
para penghuni Teluk Tapian Nauli dengan dunia luar yang paling jauh
yakni negeri orang-orang Gujarat dan pendatang dari negeri asing lain
seperti Mesir, Siam, Tiongkok. Para golongan terkemuka Tapian Nauli
juga sudah dikenal di Mesopotamia, paling tidak melalui sejarah lisan
yang dibawa saudagar Arab.

Tercatat pula bahwa pada tahun 1500 itu pelaut Portugis sudah hilir
mudik di lautan dalam rangka mencari dan mengumpulkan rempah-rempah
untuk dibawa ke Eropa. Uang Portugis yang beredar di kalangan
masyarakat yang berdiam di Teluk Tapian Nauli saat itu merupakan salah
satu bukti. Ketika itu keberadaan Teluk Tapian Nauli sangat penting.
Selain sebagai pangkalan pengambilan garam, dusun ini terkenal juga
sebagai pangkalan persinggahan perahu-perahu mancanegara guna
mengambil air untuk keperluan pelayaran jauh.

Peranan Teluk Tapian Nauli sebagai pangkalan persinggahan dan
pelabuhan dagang semakin dikukuhkan ketika Belanda dan Inggris
memasuki wilayah itu di kemudian hari. Kapal Belanda di bawah pimpinan
Gerard De Roij datang kepantai Barat Sumatera—Teluk Tapian Nauli—pada
1601. Sedangkan Inggris memasuki wilayah ini pada 1755.

Kehadiran dan gerak langkah Belanda dan Inggris di Teluk Tapian Nauli
bisa dilihat dari beberapa kronologi peristiwa berikut ini:

1604 : Perjanjian antara Aceh dengan Belanda, yaitu antara Sultan
Iskandar dengan Oliver.

1632 : Kapal Belanda mulai berhadapan dengan Inggris di Pantai Barat
Sumatera dalam rangka kepentingan dagang.

1667 : Belanda mendirikan benteng (loji) di Padang.

1668 : Belanda mulai dengan politik adu domba, menghasut Tiku dan
Pariaman lepas dari Aceh. Barus pro Pagaruyung diusir dari berbagai
tempat.

1669 : Setelah berkuasa di Sumatera Barat, Belanda mulai mengincar
pesisir Tapanuli dan mendirikan loji di Barus.

1670 : Karena keserakahan Belanda (VOC) dengan praktek dagangnya yang
monopolistis, pemberontakan di Barus terhadap Belanda tidak dapat
dielakkan dan terus meningkat. Raja Barus dibantu oleh adiknya Lela
Wangsa berhasil mengusir Belanda dan menghancurkan loji Belanda.

1678 : Belanda dapat membalas, namun pada ketika itu perang sengit
antara Raja Barus dengan Belanda terus berkobar. Raja Barus melakukan
taktik gerilya. Putera raja di Hulu berhasil membuhuh dokter Belanda
dan seorang serdadu Belanda. Namun Belanda berhasil menangkap Raja
I^ela Wangsa dan membuangnya ke Afrika Selatan.

1733 : Belanda semakin merajalela dengan berhasilnya menangkap Raja
Barus. Seterusnya bukan hanya Barus saja yang diserang, tapi Belanda
juga menyerang Sorkam. Kolang dan Sibolga.

1734 : Oleh karena Belanda telah melakukan penyerangan terhadap Raja-
Raja yang ada di Teluk Tapian Nauli, maka Raja-Raja yang ada di Teluk
Tapian Nauli mengkonsolidasikan diri, maka lahun ini terjadilah
peperangan secara besar-besaran terhadap Belanda. Serangan datang dari
Sibolga, Kolang, Sorkam dan Barus dipelopori anak Yang Dipertuan Agung
Pagaruyung.

1735 : Belanda terkejut dan kewalahan menghadapi peperangan ini.
Belanda melakukan penelitian, dan ternyata diketahui bahwa semangat
patriotisme yang dikobarkan dari Raja Sibolga itulah sumber kekuatan.
Belanda ingin melampiaskan rasa penasarannya kepada Raja Sibolga,
namun tidak berhasil, Antara 1755-1815 pesisir Pantai Barat Sumatera
Utara, Teluk Tapian Nauli, berada di bawah pengaruh Inggris. Pada 1755
Inggris memasuki Tapian Nauli dan membuat benteng di Bukit Pulau
Poncan Ketek (Kecil). Mereka mulai menguasai loji-loji Belanda dan
markas Aceh yang berada di pesisir Barat Tapanuli.

1758 : Pasukan Inggris mulai mengusir loji-loji Belanda dan juga
markas Aceh dari pesisir barat Tapanuli. Silih berganti usir-mengusir
antara Inggris dengan Belanda.

1761 : Perancis meninggalkan Poncan. Kemudian Inggris datang
bekerjasama dengan penduduk Tapian Nauli dan Sibolga.

1770 : Karena suasana perdagangan mulai tenang, maka Inggris
mendatangkan budak dari Afrika dan India untuk mengerjakan urusan
dagang dan perkebunan Inggris. Kuria Tapian Nauli dan Raja Sibolga
merasa keberatan atas tindak tanduk Inggris ini.

1771 : Stains East Indian Company Inggris di Tapanuli dinaikkan
menjadi "Residency Tappanooly".

1775 : Karena dagang Inggris mulai menurun karena tidak mendapat
simpati dari Kuria Tapian Nauli dan Raja Sibolga, maka Belanda
mengambil kesempatan mengadakan perjanjian dagang dengan Kuria Tapian
Nauli dan Raja Sibolga.

1780 : Puncak perselisihan antara Belanda dengan Inggris adalah
persoalan monopoli garam. Kesempatan ini dipergunakan oleh Aceh untuk
menyerang Inggris di Teluk Tapian Nauli. Aceh untuk sementara dapat
menduduki Teluk Tapian Nauli, akan tetapi Inggris meminta bantuan dari
Natal dan Inggris kembali menduduki Tapian Nauli (Poncan Ketek).

1786 : Aceh kembali menyerang Inggris di Tapian Nauli. Serangan ini
tidak berhasil karena Inggris meminta bantuan ke Natal.

1801 : Jhon Prince ditetapkan menjadi Residen Tapanuli berkedudukan di
Poncan Ketek. Sejak saat itu Poncan Ketek mulai ramai didatangi oleh
orang Cina, India, dan lain-lain.

1815 : Residen Jhon Prince mengadakan kontrak perjanjian dengan Raja-
Raja sekitar Teluk Tapian Nauli, termasuk Raja Sibolga. Perjanjian ini
disebut "Perjanjian Poncan" atau "Perjanjian Batigo Badusanak".

1825 : Inggris menyerahkan Poncan kepada Belanda, sebagai realisasi
Traktat London 17-3-1824.

1850 : Belanda mulai menata pemukiman di Sibolga dengan menimbun rawa-
rawa dan membuat parit-parit.

1851 : Pengukuhan Adat Pusaka di Teluk Tapian Nauli dan sekitarnya
oleh Residen Tapanuli Conprus

abdul hakim

unread,
Oct 19, 2011, 5:41:46 AM10/19/11
to lovers of history
lae boleh tau ga dapat sumber darimana??

ada mga bukunya
kalo ada aku minta ya

Arief Ginting

unread,
Oct 20, 2011, 9:12:11 AM10/20/11
to lovers-o...@googlegroups.com

kira2 apa peninggalan penting yang masih ada di sibolga saat ini, sebagai bukti bahwa sibolga adalah pelabuhan yang ramai di kunjungi?

jgn kaitkan dengan pelabuhan barus yah,,
karena bahasan kita sibolga..

elisabe...@yahoo.com

unread,
Feb 14, 2012, 2:29:50 AM2/14/12
to lovers-o...@googlegroups.com
bisa info yang lebih banyak lagi tentang sibolga ????

Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages