Dynotest, atau dyno testing, adalah proses pengujian kinerja mesin yang penting dalam industri otomotif dan rekayasa mesin. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi apa itu dyno test, bagaimana cara kerjanya, kegunaannya, serta manfaatnya dalam mengoptimalkan kinerja mesin.
Dyno test adalah singkatan dari dynamometer test, yang merupakan proses pengujian yang dilakukan untuk mengukur kinerja mesin, seperti tenaga, torsi, dan efisiensi. Dyno test biasanya dilakukan dengan menggunakan dynamometer, sebuah alat pengukur yang dirancang khusus untuk mengevaluasi kinerja mesin dengan menempatkannya dalam kondisi operasional yang terkendali.
Proses dyno test dimulai dengan memasang mesin yang akan diuji ke dalam dynamometer. Selanjutnya, mesin dijalankan dalam kondisi operasional yang berbeda, seperti kecepatan putaran yang beragam atau beban tertentu yang diaplikasikan pada mesin. Selama pengujian, dynamometer akan merekam berbagai parameter kinerja mesin, termasuk tenaga, torsi, putaran per menit (RPM), konsumsi bahan bakar, dan lain-lain. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk mengevaluasi kinerja mesin dan mengidentifikasi area perbaikan atau optimasi yang mungkin diperlukan.
Dengan demikian, dyno test merupakan alat yang sangat berharga dalam pengembangan dan pengujian mesin, membantu memastikan bahwa produk akhir memenuhi standar kualitas dan performa yang diharapkan. Dengan menggunakan data yang terkumpul dari dyno test, pengembang dapat melakukan penyesuaian dan peningkatan yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi mesin secara keseluruhan.
Perjalanan saya ke Medan dimulai ketika sebuah surat undangan tiba di kota Surabaya, dan tertulis You are invited. Dari sinilah perjalan saya mengarungi langit selama lebih dari 3 jam di mulai. Dari titik kuning diatas I terkahir dari tulisan Invitation, saya harus terbang menuju, titik kuning paling ujung(utara/atas) pada pulau Sumatra. Saya lebih suka transit via Jakarta daripada harus direct langsung ke Medan dari Surabaya.
Damn right, dengan traveling kita bisa menambah wawasan kita mengenai hidup dan dunia ini. Mengunjungi suatu tempat yang baru, sepert Kualanamu Airport yang menurut saya sudah seperti Changi Airport Singapore dan KLIA Malaysia.
Termasuk juga saya mencoba Kereta airport yang menghubungkan Kualanamu Airport dengan kota Medan hdengan waktu tempuh sekitar 30 menit (naik mobil 1 jam lebih). Tiket untuk kereta nyaman ini hanya Rp.80.000. Dengan bonus Anda bisa melihat pegawai wanitanya yang cantik khas kota Medan.
Hidup ini hanya sekali, jadi tak ada salahnya kita mengunjungi tempat baru dan bertemu dengan teman baru atau pun teman yang sudah lama kita tak bertemu. Seperti sore hari itu saya di jemput oleh Litowongso dari team Myb Racing Medan.
Bukannya dipertemukan di bengkelnya yang lama yang memang saya dari dulu ingin liputan di sana, namun saya malah ditakdirkan bertemu dan berkunjung ke bengkelnya yang baru di Jalan Elang No. 7 yang lebih besar dan keren daripada bengkel sebelumnya.
Dari sebuah demo car pertama berupa EG6 dengan D series engine di tahun 2008, hingga menjadi Evo. Dimulai dari Mitsubishi Lancer Evo VIII CT9A berwarna biru ini yang mesin 4G63T nya sudah di tune dengan head yang full Tomei
Dari awalnya hanya berupa sebuah bengkel kecil yang berada di lantai dasar ruko atau rumahnya, kiniditanggal 14 Oktober 2014 menjelma menjadi sebuah bengkel 2 lantai dengan dengan speedshop di atasnya
Karena masih pagi , dan gate open baru jam 10 pagi. Saya putuskan untuk berjalan-jalan melihat bengkel ini lebih dekat. Ketika hendak naik ke lantai 2 Anda akan masuk kesebuah ruang tempat dimana Evo IX CT9A milik Antony berada dan ruang yang berisi memorabilia.
Terakhir kali saya melihat mobil ini berwarna matte green atau hijau dop khas army look pada event drag race tahun lalu di Sentul Circuit, Bogor. Kali ini liverynya berubah menjadi warna two tone merah dan hitam khas livery Advan
Mesin 4G63T dari CT9A ini sudah dibengkakkan horse powernya menjadi 657 whp dengan menggunakan VP Racing Fuel. Ini adalah pemecah rekor dyno test di Medan yaitu sebagai pemegang horsepower tertinggi di event DjarumBlack di Indo
Interiornya juga terlihat simple dan masih menganut daily use dengan seluruh interior masih lengkap, namun hanya seat penumpang dan driver saja yang diganti dengan bucket seat. Beserta Sparca steerimg wheels dan barang favorit saya yaitu, Race dash.
Prestasi dari TGR-068R ini adalah juara ke-5 di kelas modified stock kelas 2.2 sedan 1700 s/d 2500 cc di Medan. Sayangnya sewaktu di bawa ke Sentul. Evo ini mengalami kendala teknis pada enginenya sehingga tak bisamenjalani race dengan mulus.
Jujur saya sudah sering mengunjungi berbagai bengkel di Indonesia, maupun di Singapore dan Malaysia. Namun saya belum pernah melihat sebuah bengkel seperti ini isinya, yaitu barang-barang memorabilia atau bekas pakai dari team balap Super GT. Lebih tepatnya team Nismo Motul Autech GT-R yang berlaga di Super-GT kelas GT-500 oleh Michael Krumm (Germany) dan Satoshi Motoyama (Japan). Mulai dari jumpernya, hingga carbon trunk dan single lug nut rimsnya yang berasal dari GT-R yang berada dalam poster itu.
Belum cukup Sugoi atau gila lagi? Bagaimana dengan head cover yang dicomot dari mobil single seate Honda Mugen F3000 MF308 V8 engine yang diproduksi pada tahun 1986-1989. Dan pernah merajai balap mobil F3000 di Jepang dan Eropa dengan pembalapnya Jean Alesi
Ada juga I love Honda T-shirt yang di tanda-tangani oleh si Dorikin Keiichi Tsuchiya dan juga celana jeans merek Shinchiro Arakawa Jeans yang di desain khusus untuk Honda, tapi sayangnya motor Honda. Keduanya didapatkan sewaktu Honda Festival yang diadakan oleh Spoon Sport.
Namun sayangnya karena penempatan yang salah, topi yang ditandatangani Massa menjadi berjamur. Kesalahannya menurut Antony dia lupa memberikan lubang ventilasi, sehingga membuat udara di dalam kotaknya menjadi lembab.
Setelah sukses menyelenggarakan program biodiesel 20% atau B20, kini pemerintah bisa meningkatkan penggunaan biodiesel menuju biodiesel 50% atau B50. Upaya menuju B50 sepertinya tidak terlalu sulit, hal itu dibuktikan dengan uji coba yang dilakukan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada akhir Januari 2019 lalu.
Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS, Muhammad Ansori Nasution mengatakan, pihaknya telah melakukan ujicoba penggunaan B50 dan B20 pada dua mobil bermesin diesel pada akhir bulan lalu. Kedua mobil ini memulai perjalanan dari Kota Medan, Sumatera Utara ke Jakarta.
Peneliti Rekayasa Teknologi dan Pengelolaan LIngkungan PPKS ini melanjutkan, penggunaan B50 dan B20 dalam uji coba tersebut menunjukkan kalau bahan bakar dan emisi gas buang keduanya berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, 4% lebih rendah daripada mobil yang menggunakan B20.
Road Test B50 menggunakan dua kendaraan uji merek Toyota Innova diesel keluaran tahun 2018. Mobil kontrol menggunakan bahan bakar diesel komersial yang diperoleh dari SPBU Pertamina, odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 3.855 km.
Sementara itu, mobil uji menggunakan bahan bakar dengan komposisi bauran biodiesel sejumlah 50% (B50), odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 74 km. Sebelum road test dimulai, kedua mobil diperlakukan sama.
Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan bahwa salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel.
Selain itu, PPKS juga melakukan pengujian terhadap bahan bakar biodiesel CPO (crude palm oil) B50 terhadap kendaraan bergerak (mobil) di dataran tinggi dengan ketinggian berkisar 1.500 meter di atas permukaan laut (m dpl).
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Mukti Sardjono menambahkan bahwa pihaknya mengapreasiasi ujicoba yang dilakukan PPKS ini.
Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor.
Menurut doktor dari Tsukuba University Japan ini, penggunaan B50 dan B20 menghasilkan data konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang yang berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, 4 persen lebih rendah dibanding pada mobil yangmenggunakan B20.
Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel.
Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhirini, sudah saatnya apabila Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalamnegeri maupun untuk ekspor.
Ansori menjelaskan Road Test B50 menggunakan dua kendaraan uji merek Toyota Innova diesel keluaran tahun 2018. Mobil kontrol menggunakan bahan bakar diesel komersil yang diperoleh dari SPBU Pertamina, odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 3.855 km.
Sementara itu, mobil uji menggunakan bahan bakar dengan komposisibauran biodiesel sejumlah 50% (B50), odometer sebelum pengujianmenunjukkan angka 74 km. Sebelum road test dimulai, kedua mobil diperlakukan sama.
Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakanB20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuhperjalanan sejauh 10,86 km, mobil uji hanya 10,61 km.
MEDAN--Having achieved impressive result in a road test, Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI) continues to develop fuel with 50 percent biodiesel content (B50) to be used in transportation sector.
Hasril said, one other thing that made him joyful is the support from the Chairman of the Supervisory Board of the Indonesian Oil Palm Plantation Fund Management Agency (BPDPKS) Rusman Heriawan who visited IOPRI, Sunday (10/2/2019).
As reported by Kontan, Head of IOPRI Biodiesel B50 Road Test Team Muhammad Ansori Nasution said that engines posed no problems during the test. The two cars that used B50 and B20 showed contrasting emission. However, the dyno test had showed that power of the car used B50 was 4% lower than car used B20. To avoid bias because of driving style, both drivers exchanged car every 500 km.
3a8082e126