Penyakit kardiovaskular merupakan merupakan penyakit gangguan pada jantung dan pembuluh darah yang serng terjadi di masyarakat dan merupakan salah satu penyebab utama kematian didunia faktor risiko yanng mempengaruhi timbulnya penyakit kardiovaskular yaitu yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, riwayat keluarga,dan faktor risiko yang tidak dapat di ubah yaitu tingginya tekanan darah, merokok, pola makan, obesitas, inaktivitas/olahraga, dan konsumsi alkohol.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular berbasis masyarakat.Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan rancangan penelitian deskripstip.Teknik pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 75 responden.Data dikumpulkan denga menggunakan kuesioner,dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko penyakit kardiovaskular di desa Banjaran Godang kecamatan Kotarih kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2022 yaitu factor kebiasaan merokok dengan 46 (61,3%) responden, hipertensi dengan 46 (61,3%) responden dan obesitas 45 (60,0%) responden cukup berisiko.
Penyakit kardiovaskular merupakan penyakit dengan morbiditas dan mortalitas tertinggi di dunia. Mortalitas dan morbiditas tersebut mempengaruhi kualitas hidup pasien hariannya dan menjelang kematiannya. Diperlukan perawatan holistik yang berguna untuk meningkatan kualitas hidup pasien dengan penyakit serius atau terminal kardiovaskular dan komplikasinya. Perawatan tersebut adalah perawatan paliatif, dimana perawatan ini multidisiplin dengan dukungan psikososial dan spiritual. Perawatan paliatif ini dibagi menjadi dua yaitu, primer dan sekunder. Perawatan paliatif primer dilakukan oleh ahli jantung, sedangkan perawatan sekunder dilakukan oleh ahli paliatif dengan tim lain. Perawatan ini dapat diterapkan pada pasien dengan penyakit jantung iskemik, penyakit katup jantung berat, gangguan irama, penyakit arteri perifer dan penyakit jantung kongenital dewasa. Penggunaan pereda nyeri dapat digunakan pada penyakit jantung iskemik, juga pengaturan ICD pada aritmia. Pada pasien dengan masalah katup, penyakit arteri perifer, maupun penyakit jantung kongenital, tindakan invasif maupun prosedur operasi perlu didiskusikan bersama dengan preferensi dari pasien. Diharapkan para ahli jantung dapat menggunakan layanan perawatan paliatif kardiovaskular untuk pasien tahap terminal kardiovaskular di kemudian hari.
LATAR BELAKANG
Indonesia akan memasuki periode lansia (aging), dimana 10% penduduk akan berusia 60 tahun ke atas, di tahun 2020. Bertambahnya usia, penyakit tidak menular banyak muncul seperti hipertensi, stroke, dan diabetes melitus (DM). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Gugun, asupan gizi atau mikronutrien antara lain asam folat, vitamin B6, dan B12 berpengaruh terhadap terjadinya resiko penyakit kardiovaskular dikarenakan asupan mikronutrien tersebut dapat menurunkan kadar homosistein yang berperan dalam pembentukan aterotrombosis.
METODE
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan di Kelurahan Jelambar Baru RW 01 pada bulan September hingga Oktober 2018 dengan metode consecutive non random. Jumlah responden sebanyak 92 orang. Pengambilan data menggunakan data primer. Analisis data menggunakan uji Fisher dengan tingkat kemaknaan (p)
HASIL
Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara asupan vitamin B6, B9, dan B12 dengan risiko kardiovaskular pada lansia. Asupan vitamin B6 dengan kategori cukup mempunyai risiko rendah mengalami penyakit kardiovaskular dengan nilai kemaknaan (p=0.000), vitamin B9 asupan kategori kurang memiliki risiko sedang mengalami penyakit kardiovaskular (p=0.001), dan asupan vitamin B12 dengan asupan kategori kurang mempunyai risiko sedang mengalami risiko penyakit kardiovaskular (p=0.017).
KESIMPULAN
Dari hasil analisis data didapatkan hubungan antara asupan gizi vitamin B6, B9, dan B12 dengan risiko kardivaskular pada lansia, dimana asupan cukup vitamin B6, B9, dan B12 mengakibatkan risiko rendah untuk menderita penyakit kardiovaskular sedangkan asupan kurang dari vitamin B6, B9, dan B12 mengakibatkan risiko sedang dan tinggi untuk menderita penyakit kardiovaskular.
Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyebab utama kematian baik di negara maju maupun negara berkembang. Di Indonesia menurut hasil Riskesdas 2013 prevalensi PJK penduduk usia > 15 tahun berdasarkan wawancara yang pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan akan mempunyai gejala subyektif PJK di Indonesia sebesar 1,6 persen. Berdasarkan data dari WHO penyakit jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia dan 60% dari seluruh penyebab kematian penyakit jantung adalah penyakit jantung iskemik. Diperkirakan pada tahun 2030 sebanyak 23,6 juta orang di dunia akan meninggal karena penyakit kardiovaskular. Penyakit jantung koroner terjadi bila pembuluh arteri koroner tersebut tersumbat atau menyempit karena endapan lemak, yang secara bertahap menumpuk di dinding arteri. Proses penumpukan itu disebut artesklerosis dan bisa terjadi di pembuluh darah lainnya tidak hanya di arteri koroner. Faktor penyebab munculnya penyakit jantung adalah kelebihan berat badan atau obesitas, sebagaimana diketahui, bahwa kelebihan berat badan dapat meningkatkan resiko terkena serangan jantung. Orang yang mengalami kegemukan akan diikuti dengan penimbunan lemak dan peningkatan kadar kolesterol darah. Beberapa penyebab penyakit kardiovaskuler antara lain dalah perilaku merokok, ketidaktifan fisik, makanan, kolesterol, diabetes, tekanan darah tinggi dan obesitas. Obesitas dapat diukur dengan indeks massa tubuh (IMT). Tingginya persentase lemak tubuh erat kaitannya dengan kelebihan berat badan dan dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit kardiovaskuler
Latar Belakang : Faktor variasi individu merupakan faktor resiko kardiovaskular yang memiliki pengaruh terhadap kerja dari antiplatelet. Faktor variasi individu tersebut memiliki pengaruh terhadap mekanisme penyebab terjadinya resistensi antiplatelet. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh faktor resiko kardiovaskular pada nilai agregasi platelet pasien PJK. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan Patient Database yang dikumpulkan selama pengambilan sampel untuk mengetahui faktor resiko kardiovaskular yang dimiliki setiap pasien. Penelitian ini dilaksanakan di RS Soedono Madiun pada bulan Januari sampai Maret 2018. Pemeriksaan yang dilakukan Platelet Function Test yang digunakan untuk melihat nilai agregasi platelet pada pasien PJK. Hasil : Dari 30 sampel yang telah dilakukan analisis data diketahui bahwa faktor resiko kardiovaskular yang memiliki hubungan signifikan dengan agregasi platelet pada pasien penyakit jantung koroner (PJK) adalah jenis kelamin dengan nilai p = 0,029 sehingga dapat dikatakan bahwa antara agregasi platelet memiliki hubungan yang signifikan dengan faktor resiko kardiovaskular yaitu jenis kelamin. Kesimpulan : Faktor resiko kardiovaskular tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan nilai agregasi platelet
Individu dengan diabetes melitus tipe 2 memiliki risiko dua hingga tiga kali lipat terjadinya risiko kejadian kardiovaskular, yaitu serangan jantung atau stroke. Organisasi kesehatan dunia dan masyarakat international hipertensi mengembangkan alat untuk memprediksi tingkat risiko kejadian kardiovaskular dalam kurun waktu sepuluh tahun yang akan datang. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkatan risiko kardiovaskular pada penyandang diabetes tipe 2 dalam sepuluh tahun mendatang di Yogyakarta. Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan di Puskesmas Depok, Yogyakarta dengan menggunakan teknik proportional sampling pada tiga Puskesmas Depok. Responden penelitian yaitu pasien terdiagnosis diabetes tipe 2, berusia 40-79 tahun, dan tidak memiliki komplikasi atau penyakit lain. Instrumen yang digunakan yaitu WHO/ISH risk prediction charts wilayah Indonesia (SEAR B) untuk menilai tingkatan risiko kejadian kardiovaskular. Data diklasifikasikan berdasarkan tingkat risiko kejadian kardiovaskuler yang dimiliki. Data dianalisis secara univariat. Hasil: Sejumlah 66 responden terlibat dengan mayoritas responden adalah perempuan, tidak bekerja, menikah dan rerata usia 61,02 8,86. Tingkat risiko kejadian kardiovaskular penyandang diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok, Yogyakarta dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang yaitu risiko rendah 56,1%; risiko sedang 30,3%; risiko tinggi 9,1%; dan risiko sangat tinggi 4,5%. Lebih dari separuh responden memiliki risiko rendah (
Individuals with type 2 diabetes have two to three times risk of cardiovascular event, as heart and stroke attack. World Health Organization and International Society of Hypertension had developed a prediction method of the risk level of cardiovascular event for the following ten years. Objective: This study aimed to identify the risk level of cardiovascular event over the next ten years on people with type 2 diabetes in Yogyakarta. Method: The study used a cross-sectional design in three Public Health Centers Depok, Yogyakarta using proportional sampling technique. The respondents were patients diagnosed with type 2 diabetes, age of 40-79 years, and no comorbidity. The WHO/ISH risk prediction charts for diabetes population in Indonesian (SEAR B) was used to assess the risk level of cardiovascular event. Data was analyzed with univariae analysis. Results: A total of 66 respondents were recruited after reviewing eligibility criteria. The majority of the respondents were women, unemployed, married, and the average age was 61.02 8.86. The risk levels of cardiovascular event among participants in the next ten years were gradually low risk (56.1%); moderate risk (30.3%); high risk (9.1%); and very high risk (4.5%). More than a half of participants had low risk or less than 10% for being cardiovascular event in the following ten years. Furthermore, one third of participants had moderate risk or 10-20% developing cardiac arrest or stroke attack. Conclusion: A half of diabetes participants had non-fatal risk of cardiovascular event.
c80f0f1006