Fw: [hanif-net]- Fenomena ISIS Indonesia: Diskusi Online Bersama Noor Huda Ismail

19 views
Skip to first unread message

Abdurrakhman Mukhyiddin

unread,
Aug 12, 2014, 6:38:42 PM8/12/14
to liqo-me...@googlegroups.com
salam temen2 liqo melb,

sekedar memforwarrd thread diskusi online Pak Huda dengan MIIS mengenai ISIS. Silahkan baca dari yang paling bawah. Semoga bermanfaat.

wasalam, 


Assalamualaikum Wr.Wb.

Sejak pertengahan bulan Juli yang lalu, "kampung" Clayton sekitarnya dan MIIS kedatangan para warga barunya. Warga baru ini memiliki banyak keunikan, kapasitas dan gagasan yang membuat mereka "dikirim" untuk melanjutkan studi di Australia. Salah satu warga baru tersebut adalah Noor Huda Ismail, peneliti dan pengamat terorisme di Indonesia. Beliau saat ini sedang melanjutkan studi S3nya di Jurusan Politics and International Relations di Monash University. Profil lengkap beliau bisa dilihat di tautan berikut: http://www.prasastiperdamaian.com/about/staffs/




On Tuesday, 12 August 2014 10:42 AM, "Noorhuda Ismail noorhu...@gmail.com [HANIF-NET]" <HANI...@yahoogroups.com> wrote:


 
Apa betul ISIS indonesia itu ada? Kalau ada, apa ada hubungan struktural dengan ISIS yang di Irak itu?
 
Betul ISIS Indonesia itu ada tapi saya belum tahu persis apakah ISIS bergerak dengan platform ‘organisasi modern’ yang seperti kita fahami: Ada atasan dan penunjukannya bersifat resmi dengan ditandatangai langsung oleh sang khalifah misalnya. Atau hanya bersifat informal yang bergerak berdasarkan kesamaan ideology dan visi.
 
Yang saya tahu persis adalah (karena saya bisa berhubungan dengan mereka lewat Facebook) ada orang2 Indonesia yang sekarang di sana dan bergabung dengan ISIS dan mengajak para umat Islam di Indonesia untuk mendukung dan bergabung dengan ISIS. (Video ajakan ini juga sudah beredar luas)
 
Saya amati beberapa organisasi yang selamat ini diidentikkan dengan kelompok radikal di Indonesia, seperti HTI dan FPI sudah mengeluarkan statemen resmi, menolak cara-cara jihad dengan kekerasan ala ISIS itu. Juga kelompok alumni Afghan, seperti yang disebut Mas Noor.
 
Terus kemudian kelompok mana yang disebut2 sebagai ISIS Indonesia?
 
Jargon: ‘Negara Islam’ atau ‘Khilafah’ atau ‘Amirul Mu’minin’ atau ‘Al Islam An Din Wa Daulah’ (Islam itu agama dan negara) atau slogan2 yang berkonotasi kepada Islam politik akan selalu mendapatkan pasar di masyarakat dunia Islam. Ada semacam perasaan termajinalkan dalam proses modernisasi selama ini, terutama setelah dihapusnya system khilafah oleh Kemal Attaturk pada tahun 1925an.
 
Dalam kontek nasional, penggerak utama gerakan ISIS di Indonesia awalnya memang bersentral pada sosok Aman Abdurrahman yang sekarang di penjara Nusakambangan. Beberapa kali saya mengunjunginya baik ketika di penjara pertama kali di Sukamiskin Bandung atau sekarang ini. (Baca tulisan saya di Kompas ttg sosok ini). Kemudian terjemahan2 dia ini disebarluaskan oleh ustad Fahri, pengelola website Al Mustaqbal dan diikuti dengan deklarasi di kota2 besar seperti di Jakarta, Bekasi, Solo, Malang dll.  
 
Dalam sekala global, beberapa pelajar Indonesia yang berada di Timur Tengah dan Turki terlibat dalam misi kemanusian di Siria. Namun karena melihat kebrutalan rezim Asad, mereka kemudian tergerak untuk bergabung dengan para pemberontak. Namun mereka tidak sadar bahwa ada banyak faksi dalam tubuh pemberontak ini dan salah satunya ISIS. Itulah yang saya temukan ketika dua bulan lalu saya ke perbatasan Turki dibantu dengan temen2 relawan PKPU dan juga organisasi Turki, Bulbul Zada.
 
Nah, orang awam tidak bisa membedakan antara radikalnya FPI dan HTI. FPI itu tradisi ibadahnya sangat NU. Anak Habib Rizieq sekarang berada di pesantren di Yaman yang sangat NU yang 2 tahun lalu saya kunjungi. Habib sangat mendukung adanya NKRI dan Pancasila. Memang dia sangat keras terhadap yang dianggap ‘penyimpangan’ seperti Ahmadiyah, pendirian geraja2 illegal, miras dll. Ironisnya ketika di lapangan beberapa orang FPI menerima jatah preman dari tempat2 hiburan itu. Jadi FPI itu keras dalam sikap dan  ‘lunak’ dalam ideology karena mereka masih ‘merah putih’.
 
Lain dengan HTI. Mereka sangat santun dan canggih dalam argumentasi gerakan politik Islamnya. Namun sangat radikal dari sisi ideologinya karena mereka ingin menghapus negara bangsa, termasuk NKRI dalam wadah khilafah Islamiyah. Di beberapa kampus, justru HTI ini bersitegang dengan temen2 PKS di dalam menggarap kader.
 
Kenapa sedemikian gegap gempita beritanya?
 
Hampir semua media TV itu tunduk pada satu dewa yaitu, ‘rating’ yang dikeluarkan oleh AC Nelson. Dalam logika pasar, ada 2 hal yang menggerakan orang melihat media: greed and fear. Greed diterjemahkan dalam konsumerisme dan fear ya dengan macam2 tehnik salah satunya hal2 seperti ini.
 
Apakah foto Ust Baasyir yang menyebar itu foto asli? Sudah dikonfirm ulang kah ke Ust Baasyir? Mengingat beliau sedang dalam penjara. Kenapa bisa beliau bisa bikin foto seperti itu di penjara dan menyebar di dunia maya?
 
Foto Ust Ba’asyir itu asli dan sudah dikonfirmasikan oleh beliau langsung. Penjara di Indonesia hari ini sangat perlu bantuan dan perhatian kita semua karena 3 faktor utama: overcrowded (LP Cipinang itu didesign untuk 900 tahanan. Hari ini ada 2000an lebih tahanan), understaffs (rata2 yang berhadapan dengan para napi itu hanya lulusan SMA dan tidak ada pelatihan khusus) dan minimnya budget (sudah minim, dipotong pula oleh para pegawai2 yang nakal). Dengan kondisi seperti itu, semua bisa diatur. Tahun 2005, saya pernah ditangkap Densus 88 di Ambon dan masuk penjara selama seminggu.
 
Jadi saya faham gimana pola permainanan penjara. Kewirahusaan Sosial yang saya dirikan tahun 2008, Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP), sejak 3 tahun yang lalu sudah ada MoU dengan Kementrian Kehakiman untuk mendapatkan akses ke seluruh penjara yang ada napi terorisnya di seluruh Indonesia. Kami berharap dapat membantu ‘ikhwan2’ yang akan bebas itu bisa diterima kembali di masyarakat dengan memberikan mereka ‘soft skills’ seperti bikin tempe di dalam penjara, pelatihan masak, bikin kaligrafi dll.
 
Hayo siapa mau terlibat di gerakan saya ini? Keren lho. Temen2 kan kuliah di LN apalagi kalau break liburan mewakafkan waktu ke penjara untuk berbagi.  Sudah ada 3 volunter yang pernah bergabung: 1 chef dari Wienna, Austria, 1 MBA dari UK dan 1 mahasiswa RMIT.  Semangat YPP sangat sederhana: “Bridging Without Prejudice”!
 
Kenapa bisa menyebar foto itu? Pengunjung2 napi sering kali berhasil menyelundupkan HP karena main mata dengan petugas. Jangankan HP, menyelundupkan ‘perempuan’ untuk pemuas para napi2 tajir saja bisa ustad J
 
Banyak yang skeptis dan curiga bahwa isu ISIS di Indonesia adalah bagian agenda setting media untuk mengalihkan isu kekerasan dahsyat lainnya yang tengah berlangsung di tengah konflik Israel-Palestina. Bagaimana pandangan Mas Noor terkait kemungkinan ini?
 
Pertanyaan ini mirip diskusi saya dengan ustad Hidayat Nur Wahid di MPR ketika masih jadi reporter dulu. Beliau sangat tidak percaya adanya organisasi JI dan menuding bahwa terorisme di Indonesia itu hanya konspirasi dan pengalihan isu. Sejak bom Bali pertama, kira2 tema itulah yang sering saya dengar hampir di semua kalangan mulai dari supir taksi sampai dengan para petinggi politik kita.
 
Mereka tidak salah karena mereka mengambil kesimpulan itu berdasarkan ‘frame of reference’ dan ‘field of experience’ yang terpampang mulai dari pola permainan politik global sampai lokal. Dalam kajian International Security, pola ini disebut dengan istilah “ A War by Proxy”. Orang Jawa bilang: “Nabok Nyilih Tangan” atau “Memukul dengan meminjam tangan orang lain” atau “Teori orang main bilyard” dll. (di artikel kompas sudah saya singgung).
 
Pengalihan isu? Bisa jadi. Tapi apakah kita sejak bom Bali 2002 tidak cukup cerdas dan berani melawan permainan itu?
 
Konflik di Israel-Palestina itu tidak hanya konflik agama, namun juga konflik kemanusiaan. Bahkan negara2 ‘kafir’ lah yang sekarang menunjukkan sikap kongkrit perlawan terhadap Israel. Justru para mufti2 di negara ‘Islam’ yang mengkhianati nasib rakyat Palestina. 
 
 
4. Ini pertanyaan sangat dasar. Klasik. Tentang definisi terorisme. Apa Mas Noor bisa tolong eksplor, terutama dalam kaitannya degan state terorisme yang dilakukan negara, seperti Amerika dan Isreal yang juga telah membunuh puluhan atau bahkan ratusan ribu manusia.
 
Jika yang disebut teroris adalah mereka yang menyebar teror, maka apakah Israel dan Amerika kemudian juga bisa disebut teoris.
 
“Ini pertanyaan penting sekali untuk dijawab. Tapi definisi terorisme itu adalah untuk ‘non state actor’. Kalau ‘state actor’ biasanya disebut ‘war criminal’. Korban kekerasan negara itu jauh lebih besar dari kekerasan di luar aktor negara.
 
Israel dan Amerika jelas melalukan teror, tapi itu bukan ranah diskusi kita kali ini. Mungkin di lain waktu, kita bisa bicara tentang ‘state terrorism’ seperti ketika kita dahulu membantai jutaan saudara2 kita yang kita tuduh PKI dan nyaris tidak ada pengadilan bagi para pelakunya sampai hari ini. Atau ketika militer kita menyelesaikan kasus Aceh, Talang Sari dan juga Papua.
 


2014-08-11 20:09 GMT+10:00 Afrianto anto_p...@yahoo.com [HANIF-NET] <HANI...@yahoogroups.com>:
 
Asslkm, 

Selamat datang d mailing list Hanif mad Noor.

Saya menyambut baik IDE diskusi online ini. Walau tentu bisa diperpanjang di darat, diskusi online saya pikir juga bagus untuk dilanjut. Kelebihan diksusi online adalah semua IDE bisa tercatat dengan baik. Sehingga memudahkan bagi Kita untuk mentracknya suatu saat. 

Kepada Mas Noor dan teman-teman lain, saya punya beberapa pertanyaan terkait ISIS indonesia seperti pada subjek diskusi.

1. Apa betul ISIS indonesia itu ada? Kalau ada, apa ada hubungan struktural dengan ISIS yang di Irak itu?

Saya amati beberapa organisasi yang selamat ini diidentikkan dengan kelompok radikal di Indonesia, seperti HTI dan FPI sudah mengeluarkan statemen resmi, menolak cara-cara jihad dengan kekerasan ala ISIS itu. Juga kelompok alumni Afghan, seperti yang disebut Mas Noor.

Terus kemudian kelompok mana yang disebut2 sebagai ISIS Indonesia?

Kenapa sedemikian gegap gempita beritanya?

2. Apakah foto Ust Baasyir yang menyebar itu foto asli? Sudah dikonfirm ulang kah ke Ust Baasyir? Mengingat beliau sedang dalam penjara. Kenapa bisa beliau bisa bikin foto seperti itu di penjara dan menyebar di dunia maya?

3. Banyak yang skeptis dan curiga bahwa isu ISIS di Indonesia adalah bagian agenda setting media untuk mengalihkan isu kekerasan dahsyat lainnya yang tengah berlangsung di tengah konflik Israel-Palestina. Bagaimana pandangan Mas Noor terkait kemungkinan ini?

4. Ini pertanyaan sangat dasar. Klasik. Tentang definisi terorisme. Apa Mas Noor bisa tolong eksplor, terutama dalam kaitannya degan state terorisme yang dilakukan negara, seperti Amerika dan Isreal yang juga telah membunuh puluhan atau bahkan ratusan ribu manusia.

Jika yang disebut teroris adalah mereka yang menyebar teror, maka apakah Israel dan Amerika kemudian juga bisa disebut teoris.

Demikian Mas Noor dan kawan2.

Mari berdiskusi.

Salaam,

Afrianto 



Sent from my iPhone

On 11 Aug 2014, at 6:48 pm, "Noorhuda Ismail noorhu...@gmail.com [HANIF-NET]" <HANI...@yahoogroups.com> wrote:

Dear all.
Terima kasih mas Gatot atas provokasinya.
Pada prinsipnya sy dg senang hati utk diskusi tatap muka. Sy bisa siapkan tempat kantor sy di AIC di gedung H lt 10 Caufield.  Asal kasih tahu saja kapan waktunya.
Tgl 19 ini sy harus bicara untuk event TEDx di Hong Kong. Trus balik ke lndonesia sampai tgl 6 Sept. Jadi bisa sblm sy berangkat atau sesudahnya.
Setiap Senin jam 4 sore nggak bisa karena harus ngajar undergraduate :(
Kalau mau, sebenarnya diskusi ini bisa dilebarkan audience nya tidak hanya MIIS karena ini bukan diskusi "agama Islam" tapi "socio and antrophological" lslam.
Salam.
Huda.
On Aug 11, 2014 6:40 PM, "'AM. Sidqi' ams...@gmail.com [HANIF-NET]" <HANI...@yahoogroups.com> wrote:
 
Usulan yang bagus dari pengurus MIIS. Saya sepakat dengan usulan Mbak Delita bahwa diskusi ini akan sangat menarik jika diadakan di alam nyata. Saya kira Mas Huda pun setuju dan siap untuk menjadi pemantik diskusi di antara kita. Intinya, saya menunggu untuk membedah persoalan yang sejuk2, yakni isis (bahasa Jawa) atau niis (basa Sunda) yang sama2 berarti sejuk :D
 
Sok mangga dilanjut :)


2014-08-11 18:14 GMT+10:00 De Sartika dsart...@yahoo.com [HANIF-NET] <HANI...@yahoogroups.com>:
 
Salaam,

Sebelum dimulai diskusinya, apa ga ada celah untuk mengadakan diskusi di alam nyata? Saya pikir memang cukup banyak yang concern dan tertarik terhadap persoalan ini dan mungkin bersedia meluangkan waktu untuk hadir.

Segitu dulu.

Peminat diskusi dari alam nyata,
Delita

On 11 Aug 2014, at 4:39 pm, "Pengurus MIIS pengur...@yahoo.com.au [HANIF-NET]" <HANI...@yahoogroups.com> wrote:

 
Assalamualaikum Wr.Wb.

Sejak pertengahan bulan Juli yang lalu, "kampung" Clayton sekitarnya dan MIIS kedatangan para warga barunya. Warga baru ini memiliki banyak keunikan, kapasitas dan gagasan yang membuat mereka "dikirim" untuk melanjutkan studi di Australia. Salah satu warga baru tersebut adalah Noor Huda Ismail, peneliti dan pengamat terorisme di Indonesia. Beliau saat ini sedang melanjutkan studi S3nya di Jurusan Politics and International Relations di Monash University. Profil lengkap beliau bisa dilihat di tautan berikut: http://www.prasastiperdamaian.com/about/staffs/

Terkait fenomena ISIS yang sedang menjadi perbincangan hangat di media Indonesia dan asing saat ini, Pengurus MIIS 2014 meminta beliau untuk berkenan secara aktif berdiskusi & bertukar pendapat bersama warga MIIS dan sahabat Hanif dalam forum mailing list HANIF-Net. Format diskusi adalah "Sersan Bastian" (Serius Tapi Santai, Bebas Tapi Sopan). Diskusi Online ini akan dibuka sampai hari Minggu tanggal 24 Agustus 2014, sebelum ditutup dan digantikan dengan tema diskusi berikutnya. 

Sebagai pemantik diskusi berikut beberapa tulisan dan wawancara beliau terkait fenomena ISIS di Indonesia. Selamat berdiskusi!!

Wassalam,

/Pengurus MIIS

Tautan artikel tulisan:

Audio Wawancara bersama SBS :

Artikel lengkap di Kompas (tautan di internet tidak ada).
NIIS Indonesia dan Evolusi Teror Mondial
Noor Huda Ismail  ;   Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian; Sedang Menyelesaikan PhD Politics and International  Relations di Monash University, Australia\
KOMPAS, 07 Agustus 2014     
                                                                                                                                 
MUNCULNYA  fenomena ratusan orang Indonesia yang terlibat aktif dalam dinamika politik Islam dunia, seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS)/Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), yang 28 Juni 2014 lalu mendeklarasikan diri sebagai khilafah Islam, bukanlah peristiwa baru dan tak perlu disikapi dengan ketakutan berlebihan.
 
Sebagai bahan refleksi, buku terbitan 2007 karya Jason Burke, On the Road to Kandahar: Travels through Conflict in the Islamic World, dapat dijadikan rujukan. Berdasarkan wawancara langsung dengan para pelaku konflik di belahan dunia Islam, terutama di wilayah Pakistan, Afganistan, dan Irak, Jason menyimpulkan kuatnya dimensi konflik yang bersifat lokal, seperti pertarungan elite politik lokal, tetapi kemudian menjadi global karena adanya semangat ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Islam dalam dunia Islam.
 
Pertanyaan yang perlu dikaji lebih mendalam: apakah dukungan kepada NIIS ini karena sentimen ummah yang cenderung universal (Oliver Roy, 2004: Globalized Islam: The Search for a New Ummah) atau situasi domestik di Indonesia yang masih kondusif bagi berseminya paham radikal sebagai bentuk kegagalan negara dan masyarakat sipil memberikan wacana alternatif terhadap narasi kekerasan mereka? Atau faktor lokal dan internasional sama-sama dominan?
 
Dalam skala internasional, konflik Suriah yang awalnya bersifat lokal, yaitu demonstrasi untuk menjatuhkan pemerintah Bashar al-Assad, kemudian berevolusi menjadi konflik internasional, melibatkan ribuan kombatan dari puluhan negara, seperti Arab Saudi, Irak, Yaman, Chechnya, Turki, Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Swedia, Jepang, Malaysia, dan Indonesia.
 
Peristiwa ini menjadi semacam déjà vu peristiwa Juli 1979, di Kabul, ketika Presiden AS Jimmy Carter menggunakan CIA untuk melemahkan kekuatan Soviet dengan memobilisasi mujahidin dari seluruh dunia, termasuk tidak kurang 350 orang dari Indonesia, dan Osama bin Laden sendiri untuk menghancurkan komunis Rusia (John Cooley, 2002: Unholy Wars: Afghanistan, America and International Terrorism).
 
Senjata makan tuan
 
Dampak dari kebijakan Carter ini ternyata menjadi senjata makan tuan. Para singa yang dilatih itu telah melawan pawangnya sendiri, terbukti dengan adanya serangan pada WTC, 2001. Amerika kemudian membalas dengan menyerang Afganistan karena pemerintah Taliban waktu itu memberikan perlindungan kepada Osama bin Laden, pemimpin Al Qaeda, yang diduga berada di belakang peristiwa teror itu.
 
Di Indonesia, segelintir jaringan veteran perang Afganistan yang telah mendapatkan pelatihan dari CIA melalui Inter-Service Intelligence (ISI), lembaga telik sandi Pakistan, dan mengamini fatwa Osama tahun 1998. Mereka menyerang kepentingan Amerika di seluruh dunia dan membajak sebagian kecil anggota Jamaah Islamiyah (JI) untuk melakukan kampanye bom secara berkala, mulai dari bom Bali pertama pada 2002 hingga bom Marriott kedua pada 2009.
 
Meski diserang ”singa-singa” didikan mereka sendiri, AS kembali tak belajar dari kesalahan mereka. Negara ini menginvasi Irak pada 2003, kemudian menggulingkan pemerintah Saddam Hussein dan memenjarakan ribuan anggota pasukannya, termasuk anggota staf intelijen Saddam yang bermazhab Sunni, yaitu Abu Bakar al-Baghdadi yang hari ini menjadi khalifah NIIS. Ketika Al-Baghdadi dibebaskan dari penjara pada 2004, ia menyaksikan dunia yang berbeda: Amerika telah menguasai Irak, ia kehilangan pekerjaan sebagai tentara dan menerima kenyataan bahwa Nouri al-Maliki yang bermazhab Syiah jadi Perdana Menteri Irak dan tak mengakomodasi kepentingan kaum Sunni.
 
Dengan latar belakang inilah, tidak mengherankan apabila NIIS hari ini menjadi sebuah gerakan yang sangat anti Syiah. Tentara NIIS melakukan pembunuhan terhadap warga Syiah dengan hanya bertanya siapa nama mereka, di mana mereka tinggal, bagaimana mereka melaksanakan shalat, dan musik apa yang mereka dengarkan. Keempat pertanyaan itu cukup untuk mengidentifikasi seseorang itu bermazhab Syiah atau Sunni.
 
Sementara di Indonesia, salah satu faktor lokal yang menyebabkan orang tertarik bergabung dengan NIIS dan bahkan rela mati untuk pilihannya ini adalah lemahnya sistem penegakan hukum, terutama di penjara. Distribusi secara masif pesan NIIS yang berbahasa Arab yang diterjemahkan oleh Aman Abdurrahman, narapidana tindak pidana terorisme, justru dilakukan dari dalam penjara di Nusakambangan. Terjemahan ini kemudian disebarluaskan melalui internet oleh para pengunjungnya.
 
Rekam jejak Aman—dipenjara dua kali karena kasus bom Cimanggis 2004 dan pelatihan militer di Aceh 2010, menolak bekerja sama dengan pegawai penjara, serta konsisten dengan ideologi takfiri (mengafirkan orang di luar kelompoknya)—ternyata menjadi daya tarik tersendiri di kalangan aktivis Islam yang haus sosok pemimpin.
 
Meski tidak ada bukti bahwa ada perintah resmi dari Aman kepada anggotanya untuk pergi ke Suriah dan bergabung dengan NIIS, tetapi melalui terjemahan, tulisan, dan ceramah-ceramah Aman—yang kemudian didaur ulang oleh para pengikutnya dan juga media, lewat diskusi terbuka, pawai, demonstrasi, dan media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan Youtube—memberikan imajinasi jihad yang melampaui konsep negara-bangsa bagi para pembacanya dan kemudian menggerakkan mereka untuk bertindak.
 
Yang menarik adalah mayoritas alumnus Afganistan di Indonesia ber-tawaquf (berdiam diri) atau sangat berhati-hati dalam memberikan dukungan secara terbuka kepada NIIS karena loyalitas mereka lebih kepada Al Qaeda yang hari ini dipimpin Ayman al-Zawahiri. Pada 2013, Al-Zawahiri mengeluarkan fatwa bahwa NIIS bukanlah bagian dari Al Qaeda karena NIIS telah bertindak sangat brutal sehingga merusak citra Al Qaeda di Suriah. Al Qaeda telah mempunyai pasukan sendiri, Jabhat al-Nusra, yang telah terlebih dahulu datang dan membantu rakyat Suriah.
 
Pecah kongsi antara NIIS dan Jabhat al-Nusra ini terbawa juga sampai ke Indonesia. Bahkan, di beberapa daerah, termasuk di dalam penjara yang menampung narapidana teroris, terjadi permusuhan sengit antara para pendukung NIIS dan Jabhat al-Nusra. Sangatlah tepat kesimpulan Jason Burke dalam bukunya itu bahwa ”gerakan yang menggunakan kekerasan ekstrem akan mengisolasikan diri mereka sendiri dengan masyarakat secara umum sehingga mereka pasti akan gagal”.
***



--
AM. Sidqi



.

__,_._,___


Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages