jak-kultur-lis: Deutsche Dokumentarfilme / Film Dokumenter Jerman Kontemporer

6 views
Skip to first unread message

Tanulihardja, Lanny

unread,
Mar 26, 2007, 10:02:27 PM3/26/07
to jak-kul...@goethe.de

 

COMING VERY SOON - “Achtung: Doc Tales!” @ kineforum

 

Kineforum Dewan Kesenian Jakarta (d/h Artcinema) mengundang Anda pada program film

 

Kineforum Dewan Kesenian Jakarta (d/h Artcinema) invites you to film program

 

 

Achtung: Doc Tales!

Kineforum Taman Ismail Marzuki, 1 – 6 April 2007

 

“Achtung: Doc Tales!”

rangkaian film dokumenter Jerman kontemporer

 

 

Film dokumenter Jerman terus merintis jalan ke layar lebar dan menarik lebih banyak penonton selama sepuluh tahun terakhir. Rangkaian film dokumenter Jerman pemenang penghargaan ini menunjukkan usaha untuk terus memperbarui seni naratif film dan dramaturgi dengan menampilkan para pembuat film paling berpengaruh dalam bidang dokumenter. Andres Veiel, Volker Koepp dan Uli Gaulke mewakili kutub aliran pendekatan sinematik yang berlawanan dalam pembuatan film dokumenter dari tiga generasi. Bakat-bakat muda seperti Bettina Braun dan Sebastian Winkels mendapatkan perhatian karena karakter eksperimental yang sangat hidup dalam karya-karya debut mereka. Malte Ludin membuat kejutan bagi penonton Jerman dengan potret intim tentang sejarah keluarganya yang begitu rumit tanpa khawatir akan gelombang emosi pribadi yang akan dialami mereka.

 

Menengok kembali pada masa lalu Jerman yang berat dengan cara bercerita baru adalah aspek penting dalam karya dokumenter sejak Perang Dunia II. (Kecenderungan untuk ‘menengok kembali’ mungkin sekarang dianggap sebagai karakter klise yang disebut ‘khas Jerman”).

 

Sebagian dari rangkaian ini berhubungan dengan dampak ingatan yang aktual dan menghidupkan kembali sejarah, sementara separuh lagi menampilkan peta kehidupan Jerman saat ini dan kondisi sosialnya, suatu gambaran tentang orang-orang yang mengejar mimpi demi membangun masa depan mereka.

 

“Achtung: Doc Tales!”

a collection of contemporary german documentaries

 

German documentary films continue to emerge onto the big screen and attract wider audiences throughout the last ten years. This collection of award-winning German films focuses on recent attempts to renew the art of film narration and dramaturgy by presenting the most influencial artists in the documentary field. Andres Veiel, Volker Koepp and Uli Gaulke represent almost opposite cinematic approaches in documentary formats of three different generations of filmmakers. Young talents as Bettina Braun and Sebastian Winkels were highly acclaimed for the lively experimential character of their first works. Malte Ludin surprised German audience with a intimate portrait of what is his own complex family heritage without fearing an utmost personal tiderope walk.

 

Reflecting the difficult German past with new ways of storytelling has been an important aspect of documentary work ever since World War II. (The tendency ‘to look back’ might be the worldwide cliché of a character thread often named “typically German”).

 

As much as half of the films in this program are dealing with the actual impact of memories and bring history to live, the other half concentrates on present german lifescapes and social conditions, describing the struggle of dreamchasing characters tending to get a hold of their future.  

 

 

Jadwal pemutaran / Screening schedule:

 

Minggu, 1 April 2007

14.15 7 Brüder

17.30 Was lebst Du?

19.30 Die Spielwütigen

                                  

Senin, 2 April 2007

14.15 2 oder 3 Dinge, die ich von ihm weiß

17.30 Herr Zwilling und Frau Zuckermann

20.00 Heirate mich!

 

Selasa, 3 April 2007

14.15 Die Spielwütigen

17.30 7 Brüder + Q&A with director Sebastian Winkels

20.00 Was lebst Du?

 

 

Rabu, 4 April 2007

14.15 Heirate mich!

17.30 2 oder 3 Dinge, die ich von ihm weiß

19.30 Herr Zwilling und Frau Zuckermann

 

 

Kamis, 5 April 2007

14.15 Was lebst Du?

17.30 Die Spielwütigen

20.00 7 Brüder

 

 

Jumat, 6 April 2007

14.15 Herr Zwilling und Frau Zuckermann

17.30 Heirate mich!

20.30 2 oder 3 Dinge, die ich von ihm weiß

 

 

 

 

Sinopsis Film/Film Synopsis

 

Was Lebst Du? | Whatz up? (2004), 84 menit. Sutradara: Bettina Braun. (DVD, B. Jerman dengan subtitel B. Inggris)

 

Ali, Kais, Ertan dan Alban adalah empat sahabat yang bercita-cita jadi bintang hip hop. Mekipun mewakili latar belakang bangsa yang berbeda, mereka jadi sangat dekat karena kesamaan nasib sebagai keturunan imigran. Mereka muda, sekilas kelihatan macho, kasar dan tak tahu sopan santun. Di antara mereka sendiri berkembang ikatan kebersamaan meskipun pada saat yang sama saling bersaing.

 

Was Lebst Du? | Whatz up? (2004), 84 minutes. Directed by Bettina Braun. (DVD, German with English Subtitle)

 

Ali, Kais, Ertan and Alban are good friends who dream of becoming hip hop stars. Their backgrounds are worlds apart but being immigrants in Germany brings them together. They are young, macho, rough and rude at first glance. They develop strong brotherhood ties while constantly competing with each other.

 

 

Heirate Mich | Marry Me (2003), 105 menit. Sutradara: Jeanette Eggert dan Uli Gaulke. (35 mm, B. Jerman, Spanyol dengan subtitel B. Inggris)

 

Saat liburan di Havana, Erik bertemu dengan perempuan Kuba bernama Gladis. “Ini cinta pada pandangan pertama,” katanya. Setahun kemudian, Gladis dan anak laki-lakinya yang berumur 8 tahun naik pesawat, penuh harapan walau dengan mata berkaca-kaca, meninggalkan pulau itu. Setibanya di Hamburg, mereka memulai kehidupan yang lucu, kadang menyakitkan dan penuh kejutan. Cerita ini adalah tentang kedatangan mereka, kepergian, pertikaian perempuan dan laki-laki, juga tentang tabrakan dua kebudayaan.

 

 

Heirate Mich | Marry Me (2003), 105 minutes. Directed by Jeanette Eggert and Uli Gaulke. (35 mm, German, Spanish with English Subtitle)

 

During his holidays in Havana, Erik meets a Cuban woman named Gladis. "It was love at first sight," he says. A year later, Gladis and her 8-year-old son board a plane, full of hope, but also with tears in their eyes, to leave the island. After their arrival in Hamburg, the three follow a path full of comical, sometimes painful, and surprising events. But the twists and turns of this path tell the story of arrival, departure, the battle of the sexes, and the confrontation of cultures.

 

 

7 Brüder | Seven Brothers (2003), 86 menit. Sutradara: Sebastian Winkels. (35 mm, B. Jerman dengan subtitel B. Inggris)

 

“Kalau kau ingin menemukan kebenaran, tanyakanlah kepada tujuh laki-laki bersaudara.” (Pepatah Cina)

 

Tujuh laki-laki bersaudara (lahir antara 1929 dan 1945) datang ke suatu ruang netral untuk bertutur tentang keluarga mereka yang berasal dari Mülheim. Mereka sama sekali tidak diwawancarai, cuma diundang bercerita. Tujuh jalan kehidupan yang berbeda ditunjukkan oleh generasi yang masa kecilnya berawal atau berakhir pada “Titik Nol” pasca Perang Dunia II pada tahun 1945. Eksperimen dokumenter yang menunjukkan rangkaian mozaik cerita personal yang juga membawa kita mengenal sejarah Jerman.

 

7 Brüder | Seven Brothers (2003), 86 minutes. Directed by Sebastian Winkels. (35 mm, German with English Subtitle)

 

 “If you are looking for the truth, you must ask seven brothers.” (Chinese proverb)

 

 Seven brothers (born between 1929 and 1945) come to a neutral space to individually tell their family’s story from Mülheim. Seven different paths in life attest to a rarely heard generation whose childhood ended or just began with the “Stunde Null“ in 1945. An intimate mosaic between the brothers emerges forming a type of family universe mirroring German history in an unusual way.

 

 

Die Spielwütigen | Crazy For Acting (2004), 108 menit. Sutradara: Andres Veiel. (35 mm, B. Jerman, Inggris, Yunani dengan subtitel B. Inggris)

 

Dokumenter tentang mahasiswa akting. Is memperlihatkan aktor yang sedang berakting – dan yang sedang tidak berakting. Film ini adalah dokumenter yang umumnya kita mengerti sebagai usaha menangkap kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan sendiri pasti harus dibentuk ulang supaya bisa diperlihatkan dalam bentuk film dokumenter, seperti juga karakter manusia harus dibentuk ulang supaya bisa ditampilkan di atas panggung, sebagai aktor.

 

Die Spielwütigen | Crazy For Acting (2004), 108 minutes. Directed by Andres Veiel. (35 mm, German, English, Greek with English Subtitle)

 

A documentary on acting pupils. He  shows the actors acting - and not acting. "Die Spielwütigen" is a documentary that we generally take as an attempt to capture real life. Life, no doubt, has to be formed to be presentable as a documentary, just the way characters have to be formed to be presentable on a stage, as actors.

 

 

2 oder 3 Dinge, die ich von ihm weiß | 2 or 3 Things I Know About Him (2005), 85 menit. Sutradara: Malte Ludin. (35 mm, B. Jerman, Slovakia dengan subtitel B. Inggris)

 

Malte Ludin memeriksa dampak Nazisme di keluarganya. Hanns Ludin, ayah Malte, adalah Duta Besar Jerman pada masa pemerintahan Nazi di Slovakia. Ia adalah penandatangan perintah deportasi yang membuat ribuan warga Yahudi ke kamp Auschwitz. Hanns Ludin dihukum karena kejahatan perang pada tahun 1947. Malte Ludin menunggu sampai ibunya (Erla) meninggal untuk membuat film ini. Ia menampilkan kakak-kakak perempuannya yang punya kenangan manis dan menyatakan bahwa ayah mereka pasti tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Auschwitz.

 

 

2 oder 3 Dinge, die ich von ihm weiß | 2 or 3 Things I Know About Him (2005), 85 minutes. Directed by Malte Ludin. (35 mm, German, Slovak with English Subtitle)

 

Malte Ludin examines the impact of Nazism in his family. Malte’s father, was Third Reich’s ambassador to Slovakia. Hanns Ludin signed the order to deport thousands of Jewish to Auschwitz camp. Hanns Ludin was executed for war crimes in 1947. Malte waited until after the death of his mother, Erla, to make this film. He features his sisters who have fond memories and state that their fathers might have not known the whole truth about what happened in Auschwitz.

 

 

Herr Zwilling und Frau Zuckermann | Mr. Zwilling and Mrs. Zuckermann (1999), 126 menit. Sutradara: Volker Koepp. (35 mm, B. Jerman, Rusia, Ibrani dengan subtitel B. Inggris)

 

Ny. Zuckermann seorang optimis yang puitis, bersahabat dengan Tuan Zwilling, seorang pesimis. Keduanya berasal dari komunitas Yahudi dan menjalani usia tua di Czernowitz, kota kecil yang sepi di Ukraina bagian Barat, tak jauh dari perbatasan Rumania. Mereka berdua adalah saksi bagaimana wilayah ini sering sekali berganti penguasa – dari Austria, Rumania, Rusia dan Jerman. Di kota ini berbagai bangsa hidup bersama, sekaligus juga diadu domba. Kota ini juga adalah salah satu jantung kehidupan budaya komunitas Yahudi, yang dideportasi oleh Rusia, dimusuhi oleh para petani Ukraina dan dimusnahkan oleh Jerman. “Kami makhluk langka,” kata Ny. Zuckermann. Dan dalam film Volker Koepp ini, hidup mereka berjalan terus.

 

 

Herr Zwilling und Frau Zuckermann | Mr. Zwilling and Mrs. Zuckermann (1999), 126 minutes. Directed by Volker Koepp. (35 mm, German, Russian, Hebrew with English subtitle)

 

Mrs. Zuckermann is a poetic optimist and Mr. Zwilling is her pessimist counterpart. Both come from Jewish community and spend their retirement age in Czernowitz, a lonesome town in the Western Ukraine, not far from the Rumanian border. They witness how this border town is passed on from one authority to another – from Austria, Rumania, Russia and to Germany. In Czernowitz people from different nations live together and used against another. This town was once a center of the cultural life of Jewish community, who were deported by the Russians, bereaved by the Ukrainian farmers and murdered by the Germans. “We’re extincts,” Mrs. Zuckermann says. And in Volker Koepp's film they live on.

 

 

Kineforum adalah ruang pemutaran film pertama di Jakarta yang menawarkan berbagai program mulai dari film-film Indonesia klasik sampai karya para pembuat film kontemporer. Di ruang ini kita juga akan menyaksikan film-film karya pembuat film dunia, baik film panjang, maupun film pendek – yang berasal dari arus utama, sampai yang eksperimental. Semua film akan diputar di layar lebar, dengan dukungan tata suara yang sesuai. Ruang pemutaran ini bersifat non profit. Selain pemutaran film, di ruang ini juga akan berlangsung diskusi, juga pertemuan dengan pembuat film. Penonton Kineforum diharapkan memberi sumbangan dana untuk mendukung kegiatan di ruang ini.

 

Kineforum is the first film screening space in Jakarta that offers a variety of program including

Indonesian classics as well as works from contemporary film makers. We will also offer works by world film makers, feature length as well as short films – the mainstream ones as well as the experimentals. Every film will be screened in cinema widescreen format, with appropriate sound equipments. This film screening space is non profit. Discussions and meetings with film makers will also be a feature of this space. Kineforum audience is invited to make financial contribution to support activities in this space.

 

Program ini bisa diselenggarakan karena kerjasama Kineforum Dewan Kesenian Jakarta dengan Goethe-Institut Jakarta.

 

Kineforum Studio 1 Studio 21 TIM, Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330. Tel. 021-3162780 (Anita) email: kinefo...@yahoo.co.id website: http://www.dkj.or.id

 

 

 

www.jakarta.goethe.de/jakarta

 

 

Tanulihardja, Lanny

unread,
Mar 26, 2007, 10:02:27 PM3/26/07
to jak-kul...@goethe.de
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages