|
|
|
Film-film Jerman di Festival Film Uni Eropa / Deutsche Filme beim EU Filmfestival
Please visit
our website
http://www.uni-eropa.org/film/
Caspian Bride (8‘35‘)
2005, Veit Helmer
Junger Landstreicher verliebt sich in Modepuppe, verliert die Puppe im kaspischen Öl und gewinnt, was er wirklich suchte.
Seorang tukang cat jatuh cinta pada maniken, ketika boneka tersebut tercebur ke ladang minyak dan lenyap, dia justru mendapatkan kekasih yang sesungguhnya.
GoetheHaus: 27.10.07, 17.00
CCF Jakarta: 30.10.07, 19.30
Erasmus Huis: 31.10.07, 19.30
Istituto Italiano di Cultura: 1.11.07, 19.30
GoetheHaus: 30.10.07, 19.30 dihadiri sutradaranya / in Anwesenheit von Ayse Polat
21.00: Diskusi dengan Ayse Polat / Diskussion mit Ayse Polat / Discussion with Ayse Polat
Erasmus Huis: 27.10.07, 15.00
EN GARDE
2003, 94’, berwarna/Fb/colour
Sutr/Regie/Director: Ayse Polat
Silberner Leopard als
bester Film in Locarno 2004
Leoparden für Beste Darstellung für
Maria Kwiatkowsky und Pinar Erincin in Locarno 2004
Otto-Sprenger-Preis für die
Regiearbeit von Ayse Polat
Kritikerpreis 2005 in der
Kategorie Film
Spezialpreis der Jury beim 16.
Ankara International Film Festival 2005
Offizieller Beitrag des Internationalen Wettbewerbs beim
Internationalen Film Festival Locarno 2004
Offizieller Beitrag im Hauptprogramm des Filmfest Hamburg 2004
Eröffnungsfilm beim 15. Kinofest Lünen
Alice ist 16, als sie von ihrer Mutter in ein katholisches Erziehungsheim gesteckt wird. Sie unterscheidet sich sehr von den lauten, aufsässigen Mädchen dort - vor allem durch ihr hypersensibles Hörvermögen, durch das sie ihre Umwelt differenzierter, aber auch bedrohlicher wahrnimmt als die anderen. Das kurdische Mädchen Berivan, die im Heim auf den positiven Bescheid ihres Asylantrages wartet, wirbt um Vertrauen der introvertierten Alice - und die beiden nähern sich an. Doch die Freundschaft droht zu zerbrechen, als Berivan sich in Ilir verliebt. Plötzlich eskaliert die Situation im Heim auf dramatische Art und Weise...
EN GARDE ist die bewegende Geschichte eines Mädchens, das lernt durch eine
Freundschaft seine Angst zu besiegen.
Alice, usia 16 tahun, di titipkan oleh ibunya di asrama Katolik. Dia sangat berbeda dengan gadis-gadis se asramanya, terutama karena dia memiliki telinga yang sangat sensitive sehingga dia melihat dunia dengan cara yang berbeda dari teman-temannya. Di asrama itu tinggal juga seorang gadis Kurdi bernama Berivan, dia sedang menunggu proses ijin tinggal di Jerman. Berivan bisa mengerti dan mendekati Alice yang sangat tertutup itu sehingga keduanya menjadi sahabat. Sayang persahabatan mereka pecah karena Berivan jatuh cinta pada seseorang. Tiba-tiba situasi di asrama memanas dengan cara yang dramatis …
EN GARDE sebuah cerita yang sangat menyentuh mengenai seorang gadis yang kekurangan kasih sayang dan melalui perahabatan dia berhasil mengatasi ketakutannya selama ini.
. Film terbaik di festival
film Locarno 2004
- Pemeran terbaik Maria Kwiatkowsky dan Pinar Erincin di festival
film Locarno 2004
-. Penghargaan Otto-Sprenger-Preis
penyutradaraan, Ayse Polat
-. Kritik film terbaik 2005
-. Penghargaan spesial
para juri pada „Ankara International Film
Festival 2005“
Sixteen-year-old Alice was put into a Catholic educational institute for girls by her mother. She is quite different from the other girls: Because of her extreme sens of hearing she perceives the world around her differently from other people and prefers to stay pretty much by herself. In the home she meets Berivan, a Kurdish girl stranded in the same place hoping for a positive judgment from the German immigration authorities. Gradually, Alice opens up to Berivan and they become friends. But the situation between the two begins to dramatically get out of control after Berivan falls in love with a boy called Illir.
En Garde is a moving story about two girls’ friendship, their hopes and dreams and their favourite game: fencing.
GoetheHaus: 28.10.07, 17.00 & 31.10.07, 19.30
YES I AM!
Germany, 2006, 104’
Sutr./Regie/Director: Sven Halfar
The film shows the lives of three young Germans with African background who are successful musicians. It is about their search for identity and their fight for more tolerance. Through the music, Adé Bantu Odukoya, Mamadee Wappler and D-Flame, transport their feelings, wishes and beliefs, and with that their real lives as Germans with African roots. When Alberto Adriano, a black African, is murdered brutally in Dessau, the paths of the three musicians cross for the first time through “Brothers Keepers” – a project initiated by Adé Bantu, with the attempt to stop racism. More than twenty of the most successful German-African musicians are a part of this band project.
Award: Filmfestival Max Ophüls 2007
Der film begleitet drei junge Deutsche mit afrikanischer Herkunft, die sich als Musiker einen Namen gemacht haben. Er erzählt von ihrer Suche nach Identität und ihrem Engagement für mehr Toleranz. Über die Musik transportieren Adé Bantu Odukoya, Mamadee Wappler und D-Flame Überzeugungen, Gefühle und Wünsche, und damit auch ihre Lebenswirklichkeit als Deutsche mit afrikanischen Wurzeln. Als in Dessau der Schwarze Alberto Adriano von Jugendlichen brutal erschlagen wird, kreuzen sich die Wege der drei Musiker in dem von Adé Bantu initiierten Projekt „Brothers Keepers“, um ein Zeichen gegen Rassismus zu setzen, schlossen sich mehr als zwanzig der erfolgreichsten deutschen Musiker mit afrikanischer Herkunft in diesem Bandprojekt zusammen.
Preis: Filmfestival Max Ophüls 2007
Kamera mengikuti perjalanan 3 pemuda Jerman asli Afrika, yang menjadi terkenal karena musiknya. Diceritakan proses pencarian identitas dan kegiatan mereka untuk toleransi. Melalui musik, ketiga pemuda ini, yaitu Adé Bantu Odukoya, Mamadee Wappler dan D-Flame mengekspresikan keyakinan, perasaan dan keinginan mereka dan sekaligus kenyataan hidup mereka sebagai orang Jerman dengan akar Afrika. D-Flame, Mamadee dan Adé bertemu untuk pertama kalinya, setelah Alberto Adriano dipukuli secara brutal oleh tiga pemuda Jerman di taman Dessau. Peristiwa itu memicu Adé mengadakan proyek „Brothers Keepers“ yang diikuti oleh sekitar 20 pemusik Afrika-Jerman, sebagai satu tanda menentang rasisme.
Penghargaan: Filmfestival Max Ophüls 2007