Teman,
Musibah bisa datang kapan saja pada kita. Tetapi itu bukan sebuah alasan untuk kita tidak hati-hati dan waspada. Seperti yang terjadi pada Dilla, seorang Relawan PMI yang telah mendedikasikan banyak hal dalam hidupnya untuk kepentingan orang banyak.
Semoga kita dapat mengambil hikmah atas semua yang telah terjadi.
Mari kita doakan agar Dilla dapat melewati semua yang telah terjadi dengan ketabahan dan kekuatan iman. Saya percaya akan selalu ada cara buat Dilla berkarya, dan buat kita apabila ingin membantu dia.
Salam,
Nandha
Yth,
Teman-teman
Atas nama keluarga besar PMI Cabang Jakarta Timur mohon doanya, mengingat salah satu anggota Korps Sukarela PMI Cabang Jakarta Timur a.n. Dilla Nuraini (24 tahun) yang pada saat ini sedang menjalani perawatan intensive (masih di ruang Isolasi) pasca menjalankan operasi di RSPAD Gatot Subroto Jakarta.
Teman kita Dila mengalami musibah tragis saat sedang berkemah di Gunung Ceremai-Cirebon beberapa hari lalu. Penganiayaan terjadi terhadap dirinya yang mengakibatkan sekujur tubuh Dilla luka dan memar di seluruh bagian wajah dan muka. Tidak hanya itu saja yang paling menyedihkan adalah Dilla harus kehilangan kedua bola matanya.
Saat ini kasus sedang ditangani oleh pihak yang berwajib.
Untuk itu sesama relawan dan komunitas PMI, tidak ada salahnya kita bersama-sama berempati, berdoa dan memberikan dukungan kepada Dilla dan keluarga, agar segala sesuatunya dapat berjalan lancar dan Dilla dapat pulih, paling tidak kondisi psikisnya kembali pulih.
Dilla adalah anggota KSR PMI Cabang Jakarta Timur yang sangat aktif, memiliki potensi dan SMART. Walaupun bekerja di Rumah Sakit sebagai assisten perawat, tetapi ditengah kesibukannya bekerja, Dilla tidak pernah luput dari partipasipasinya dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang diselenggarakan oleh PMI Cabang Jakarta Timur dan PMI Provinsi DKI Jakarta.
Perlu teman-teman ketahui, Dilla adalah salah satu Ambulans Crew yang cukup diandalkan, sebagai Pelatih Perawatan Keluarga yang komunikatif di tingkat Provinsi DKI Jakarta dan anggota SATGANA aktif di PMI Cabang Jakarta Timur.
Segala bentuk ucapan empati dan dukungan yang teman-teman berikan akan kami sampaikan kepada Dilla, sebagai wujud kepedulian sesama relawan dan komunitas PMI kepada Dila. Mudah - mudahan dengan adanya support dari teman-teman semua, dapat memberikan semangat kepada Dilla. Sampai hari ini banyak anggota KSR PMI Jakarta yang secara bergantian menemani Dilla dan keluarga di RSPAD.
Terima kasih.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berikut kronologi kejadian seperti yang diceritakan Dilla kepada teman-teman dari Markas Pusat PMI
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari ini, kami dari teman2 Markas Pusat PMI menjenguk Dilla. Kondisi ybs secara mental, tabah luar biasa dan masih bisa menceritakan kepada polisi; walaupun terbata – bata (lewat hp), kronologis kejadiannya.
Garis besarnya begini:
Hari Jumat, tgl 7 Desember 2007 lalu, Dilla dkk - sebagian dari karyawan RSPAD berangkat ke Cirebon. Kebetulan, selain sebagai kru Ambulans PMI, Dilla juga bekerja sebagai asisten perawat di RS tersebut. Total rombongan mereka sejumlah 13 orang.
Pada awal pendakian, bergabunglah 1 orang yang mengaku bernama Fahrul Razi alias Ozon. Dia mengaku penduduk sekitar situ dan mengatakan tahu betul jalur pendakian. Akhirnya mereka naik ber 14.
Selama perjalanan, nge-camp, hingga tiba di puncak tak ada masalah. Hari minggu, mereka turun. Saat tiba di sebuah persimpangan sekitar jam 17:00 (gak tau namanya
persimpangan apa), rombongan lain memilih jalur yang kiri. tapi si Ozon itu tiba2 memaksa utk pilih jalur kanan. entah mengapa, si Ozon itu maksa sambil marah2. kebetulan Dilla dan 4 orang lainnya jalan di belakang, sementara yang lainnya sudah turun lebih dulu lewat jalur yang kiri. karena tinggal berlima, akhirnya Dilla, Ozon, dan 3 orang temannya ikut lewat jalur kanan.
Tiba2, si Ozon mengamuk. berempat mereka ditendang2. menurut mereka, tendangan Ozon
sangat kuat. walaupun badannya kecil, tp yang bertiga itu tak bisa melawan. Akhirnya 3 orang itu kabur kocar-kacir. tinggallah Dilla sendirian.
Bisa dibayangkan, yang bertiga laki2 aja takut. Tenaga Dilla pun kalah kuat. dia diseret oleh Ozon. telinganya digigit. Dilla ditendang, dipukul, diinjak, dicekik dsb. dan semua itu dialami Dilla dengan 100% sadar. setiap meronta, pukulan tambah bertubi2, akhirnya Dilla pura2 mati. Karena si Ozon itu selalu berteriak, agar Dilla mati suri.
banyak ocehan Ozon yang Dilla tak mengerti karena Ozon mengucapkannya dlm bhs. Sunda.
Kadang meraung dan teriak2 memanggil “Jaka”, dia hanya paham saat mendengar bahwa Ozon sibuk mencari korek untuk membakar tubuh Dilla, karena tak ada korek, dia lantas ingin membuang Dilla ke jurang. Saat menyeret Dilla, Dilla teriak kesakitan, si Ozon pun sadar kalo Dilla hanya pura-pura mati.
Tiba2 tubuh Dilla ditelungkupkan, dan tangannya ditahan dibelakang, sambil - astagfirullah - kedua matanya dicongkel dengan tangan telanjang dan bola mata Dilla dibuang ke jurang. Dilla pun pingsan seketika. setelah puas melihat Dilla tak bergerak, si Ozon meninggalkan Dilla begitu saja.
Sekitar pukul 11 malam, Dilla ditemukan dalam keadaan mengenaskan oleh penduduk dan tim SAR yang mencarinya. Sontak semua anggota rombongan saat itu diperiksa polisi termasuk Ozon yang langsung ditahan. Walaupun di KUHP tidak ada pasal
kesurupan, tp Ozon jelas jadi pelaku tunggal. Teman2 yang bertiga - yang ninggalin Dilla - juga diperiksa, tp terus dikeluarin dan saat ini masih tetap bekerja di RS. sempat diperiksa jg oleh provoost. Mereka bilang kabur, karena takut lihat orang ngamuk kesurupan.
Sekarang Dilla sudah dirawat di ruang isolasi 2, kamar bedah RSPAD. Minggu ini, polisi (Polres Kuningan) mau membuat BAP kesaksian korban. Entah bagaimana perjalanan kasus Dilla selanjutnya, kita cuma bisa berdoa agar ada keadilan yang sesungguhnya.
Walaupun Ozon melakukan karena kesurupan, tp Dilla tetap sudah kehilangan 2 bola matanya, dan kami sudah 'kehilangan' 1 org kru ambulan terbaik. Semoga saja Dilla masih tetap akan bisa berkarya, apa pun kondisinya..
Fitri Sidika
Markas Pusat PMI