Dunia
tersentak ketika mendengar berita seorang pemuda, yang menyebut dirinya
joker, bersenjatakan senapan serbu AR-15, 20-gauge shotgun Remington,
dan 40 kaliber Glock, dengan brutal menembaki penonton saat menyaksikan
pemutaran film Batman `The Dark Knight Rises' di Colorado, Amerika
Serikat, yang mengakibatkan 12 tewas dan 72 orang luka-luka.
Berita
tentang penembakan ini menjadi headline banyak surat kabar dan media.
Berbagai acara terkait dengan seremonial promo film itu dibatalkan,
bahkan sang bintang Christian
Bale, menyempatkan diri untuk meletakkan sebuket bunga di lokasi
penembakan dan juga mengunjungi langsung para korban yang tengah dirawat
sebagai bentuk simpati. Karena insiden penembakan brutal ini, Presiden
Barack Obama sempat membatalkan acara kampanyenya dan memerintahkan
pengibaran bendera setengah tiang di
seluruh daratan Amerika.
Saya sendiri sangat terkejut dan
berduka atas peristiwa ini. Terbayang betapa sedihnya para keluarga
kehilangan sanak saudara. Terbayang bagaimana seorang ayah dan bunda
membuat rencana jalan-jalan bersama ananda mereka, pergi menonton film,
namun berujung tragedi.
Tetapi, sebuah pikiran kemudian membuat
saya tercenung dan berkaca-kaca. Teringat berita yang saya baca beberapa
hari sebelumnya tentang peristiwa senada, pembantaian yang terjadi di
Myanmar.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin
menyatakan, Muslim Rohingya yang dibunuh di Arakan, Myanmar, sudah
mencapai 6.000 orang dan masih terus terjadi. Satu koma tujuh juta jiwa
Muslim Rohingya selama ini dipersulit hidupnya, dipaksa menanggalkan
keyakinan jika ingin bersekolah dan bekerja, kehilangan kesempatan luas
untuk memperoleh pendidikan atau layanan kesehatan. Rumah mereka
dibakar, warga sipil disiksa dan dibunuh.
Saya menjadi
bertanya-tanya. Mengapa peristiwa pembantaian oleh `Joker' menjadi
berita dunia yang menarik perhatian, sementara pembantaian di Myanmar
tersembunyi dari berita utama, sebagaimana pembantaian di Palestina,
Timur Tengah, Afrika, dan negara lain.
Apakah jika yang membunuh
adalah satu orang seperti ketika seorang mahasiswa kebangsaan Korea
Selatan, Seung-Hui Cho, membantai 30 siswa di ruang kuliah setelah
sebelumnya membunuh dua orang di asrama pada April 2007, lalu bunuh
diri, atau sewaktu seorang Anders Behring Breivik menembaki para remaja
yang tengah mengikuti perkemahan musim panas di pulau wisata Utoeya,
Norwegia, yang menewaskan 69 orang, lebih layak menjadi perhatian
daripada satu pemerintahan atau institusi tentara yang melakukannya
meskipun korban yang ditimbulkan jauh lebih banyak?
Atau, apakah
jika yang tewas mereka yang berada di Amerika atau di Benua Eropa, maka
lalu lebih pantas mendapat tempat di media daripada mereka yang
berada di Asia atau Afrika?
Apakah pembantaian yang muncul
secara random dan sesekali terjadi lebih layak mendapat perhatian
daripada pembantaian yang dilakukan secara sistematis dan berjalan
secara rutin?
Saya sedih, sedih sekali. Karena di manapun tragedi
berlangsung: Amerika, Eropa, di Asia, atau Afrika, dan siapa pun yang
menjadi korbannya: Muslim, Kristen, Buddha, atau Hindu, semua adalah
manusia, yang memiliki kebebasan untuk hidup dan memilih. Tidak ada satu
pun yang berhak mengambil nyawa atas manusia lain tanpa dasar kuat.
Bagi
saya, penghargaan atas kemanusiaan adalah nilai dasar paling universal,
khususnya untuk Rohingya --dengan apa yang terjadi-rasanya tidak pantas
kita, diwakili Pemerintah Indonesia, diam seribu bahasa hanya karena
terikat kesepakatan ASEAN untuk saling menghargai kedaulatan bangsa
dengan tidak mencampuri urusan dalam negeri bangsa lain. Sebegitui
hingga melupakan kemanusiaan?
Dan ini Ramadhan.
Bulan di mana sesama Muslim berlomba meraih pahala di sisi-Nya.
Jutaan
syukur rasanya tak cukup untuk diantarkan kepada Sang Khalik atas
momentum istimewa yang dilalui rata-rata keluarga di Tanah Air dalam
situasi tenang dan damai. Sementara berbagai daerah di Padang, Sumatra
Barat, mengalami musibah banjir bandang dan saudarasaudara di belahan
dunia, seperti Rohingya, menderita.
Di saat kita menjalankan
puasa, sahur, dan berbuka dengan nikmat, mereka berjuang setiap
detiknya, bersimbah keringat bahkan darah demi bertahan hidup.
Butiran
bening yang sejak tadi memberati kelopak, menetes.“Bunda, mengapa
menangis?“ Kedua ananda yang berada di sisi, menatap dengan sorot empati
dan bingung.
Allah Yang Maha. Sungguh, saya berutang besar
kepada anak-anak. Begitu banyak agenda yang harus disampaikan kepada
mereka agar terbangun sejak dini rasa peduli, simpati, dan duka cita
serta keinginan berbagi yang tanpa pilih kasih, untuk
segenap umat manusia.
Rekening Donasi Rohingya
a/n. Aksi Cepat Tanggap
1. BSM # 101 000 5557
2. Permata Syariah #
0971 001 2243. BCA # 676 0300 860
4. Mandiri # 128 000 4723 620
* Penulis Asma Nadia, Pernah dimuat dalam kolom Resonansi HU. Republika, Sabtu, 28 Juli 2012.
www.dakwahkantor.com