Silabus
Bahan ini merupakan silabus-silabus paling akhir yang saya gunakan dalam mengasuh mata kuliah ini dengan buku Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan (BPFE, 2005). Silabus ini dapat dijadikan model atau pembanding untuk menyusun silabus sesuai dengan kondisi kelas. Tentu saja silabus harus selalu dimutakhirkan mengikuti perkembangan terbaru dalam literatur teori akuntansi.
Contoh Soal Ujian
Soal ujian adalah soal ujian yang benar-benar telah saya ujikan di kelas saya. Walaupun dimungkinkan, soal dalam bentuk pilihan multipel tidak digunakan karena ujian Teori Akuntansi harus menggali kemampuan penalaran atau argumen. Dengan demikian, soal harus bersifat esei dengan penekanan pada kemampuan menjelaskan dan berargumen. Karena keterbatasan waktu, soal ujian tidak selalu komprehensif mencakupi seluruh topik yang termuat dalam silabus. Soal-soal didasarkan topik yang dibahas dalam buku Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Dalam banyak hal, soal diambil dari pertanyaan diskusi yang mengikuti tiap bab buku tersebut. Soal ini menuntut pemahaman bukan hafalan sehingga peserta boleh membawa satu lembar cotekan bolak-balik (cheating sheet). Mahasiswa atau pemelajar yang belajar dengan wajar dan baik pasti bisa mengerjakan soal ini dengan hasil baik tetapi mereka yang belajar tidak semestinya tidak akan mampu menjawab soal ujian ini dengan baik bahkan cenderung gagal mengerjakan. Silakan mencoba mengerjakan soal ini untuk menguji kemampuan dan pemahaman anda dalam teori akuntansi.
Contoh Kuis
Mahasiswa saya sering mengeluh karena tiada hari tanpa kuis sebagai bagian dari komponen nilai. Kuis dimaksudkan untuk memberi motivasi eksternal agar mahasiswa membaca topik yang akan dibahas dan didiskusi di kelas. Kuis terdiri atas sepuluh sampai duapuluh pertanyaan dengan waktu lima sampai lima belas menit. Dosen menyiapkan dan membagi kertas jawaban kuis berupa separoh vertikal halaman kertas folio bergaris (kertas dubelfolio dibagi empat vertikal). Kemudian pertanyaan kuis ditayangkan satu demi satu untuk dijawab oleh mahasiswa.
Pedoman Mengampu Teori Akuntansi
Kuliah Teori Akuntansi harus dirancang dengan saksama sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam suatu program studi akuntansi. Di Universitas Gadjah Mada, dalam rangka sosialisasi Pembelajaran Berpusat Mahasiswa (Student-Centered Learning), dikenal apa yang disebut Rencana Program Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS). Rencana ini menjadi pegangan pengampu/fasilitator dalam mengorganisasi kelas. Berikut ini adalah RPKPS atau Pedoman Pembelajaran yang saya susun untuk mata kuliah Teori Akuntansi dengan buku Teori Akuntansi (2005) sebagai acuan utamanya.
EBNEWS - Literatur akuntansi masih sering mempersoalkan apakah disiplin akuntansi itu merupakan seni atau ilmu.1 Kesepakatan tidak selalu tercapai karena tidak definitifnya kriteria klasifikasi. Karakterisasi disiplin akuntansi sebagai seni atau ilmu mempunyai konsekuensi pada pemaknaan teori akuntansi (positif versus normatif) dan bahkan sampai pada orientasi penelitian akuntansi (kuantitatif-deskriptif versus kualitatif-interpretif).
Dengan kondisi pendidikan akuntansi dewasa ini, akademisi akuntansi juga menanyakan apakah disiplin akuntansi itu merupakan disiplin akademik.2 Masalah keakademikan muncul karena akuntansi masuk sebagai disiplin (seperangkat pengetahuan) yang diajarkan di perguruan tinggi yang idealnya berorientasi akademik. Sementara itu, seperangkat pengetahuan akuntansi juga diajarkan di lembaga pelatihan profesional dan vokasional yang berorientasi kompetensi profesional dan keterampilan.
Kalau akuntansi dikarakterisasi sebagai seni, maka yang dimaksud adalah bagaimana menerapkan pengetahuan akuntansi dalam praktik (seperti ungkapan "mengajar itu seni"). Seni adalah kemampuan yang memerlukan perasaan, intuisi, pengalaman, bakat, dan pertimbangan yang secara keseluruhan membentuk kearifan. Dalam akuntasi, seni ini dapat berupa keahlian dan pengalaman untuk memilih perlakuan atau kebijakan terbaik dalam rangka mencapai suatu tujuan akuntansi (pada level perusahaan atau negara) dengan mempertimbangkan faktor nilai (moral, ekonomik, dan sosial).
Sebagai seni, akuntansi merupakan bidang pengetahuan keterampilan, keahlian, dan kerajinan yang mengandalkan pengetahuan dan praktik untuk menguasainya. Kebijakan akuntansi dalam bentuk standar akuntansi harus didasarkan atas pertimbangan yang sehat dan bila perlu akademik agar validitas argumen yang melandasi dapat dipertanggungjelaskan secara logis dan akademik. Kalau dipandang demikian, kajian teori akuntansi akan bersifat normatif untuk menjustifikasi perlakuan akuntansi dalam standar. Validitas justifikasi didasarkan pada kelayakan argumen atau penalaran logis.
Ilmu (sains)3 adalah pengetahuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala alam dan sosial seperti apa adanya dengan metoda ilmiah yang bertujuan untuk menguji dan menetapkan kebenaran (validitas ilmiah) penjelasan suatu masalah. Watts dan Zimmerman menyebutkan: "The objective of accounting theory is to explain and predict accounting practice".4 Agar ilmiah (sebagai ilmu), tujuan menjelaskan dan memprediksi praktik atau fenomena akuntansi menuntut metoda yang mengemulasi metoda ilmu alam untuk menghasilkan hipotesis-hipotesis tentang fenomena amatan yang harus diuji secara empiris dan ilmiah. Akuntansi dipandang sebagai ilmu sosial dan fenomena akuntansi yang menjadi pengamatan adalah perilaku orang yang berkepentingan dengan akuntansi khususnya manager dan akuntan.
Kalau akuntansi dikarakterisasi sebagai ilmu, akuntansi akan merupakan bidang pengetahuan yang menjelaskan fenomena akuntansi secara objektif, apa adanya, dan bebas nilai. Validitas penjelasan dan penyimpulan dituntun oleh kaidah atau metoda ilmiah. Cara pandang inilah yang mendasari berkembangnya teori akuntansi positif sebagai tandingan teori akuntansi normatif. Karena berbasis penelitian dengan metoda ilmiah, teori akuntansi positif akhirnya dimaknai sebagai metoda penelitian kuantitatif-positif sebagai paradigma dalam pengembangan ilmu yang ditandingkan dengan paradigma kualitatif-nonpositif (sering disebut pendekatan alternatif dengan berbagai variasinya).
Sterling mengkritik teori akuntansi positif dalam dua hal yaitu fenomena yang dipelajari dan asumsi bebasnilai.5 Sterling berargumen bahwa teori akuntansi positif telah mengalihkan pokok bahasan akuntansi dari pelaporan keuangan ke praktik para akuntan atau orang-orang di balik pelaporan keuangan. Dengan kartografi sebagai analogi, Sterling menegaskan bahwa teori akuntansi positif telah merancukan antara peta dengan teritori yang dipetakan. Alih-alih mempelajari bagaimana memetakan teritori (kondisi keuangan perusahaan), teori akuntansi mengalihkan perhatian ke map dan orang yang memetakan (analogi akuntan dan manager). Dengan kata lain, alih-alih mempelajari bagaimana membuat peta yang andal, teori akuntansi positif lebih tertarik menjawab atau menjelaskan mengapa pembuat peta lebih suka memakai dasi biru daripada merah.
Dengan mengalihkan perhatian terhadap pokok bahasan, Christenson6 menamai teori akuntansi positif sebagai sosiologi akuntan atau manusia yang terlibat dalam akuntansi. Lebih lanjut dia menjelaskan perbedaan antara teori akuntansi normatif dan positif dari aspek pokok bahasan dan masalah fundamental. Masalah normatif menuntut adanya proposal, preskripsi, atau solusi sedangkan masalah positif menuntut adanya proposisi atau hipotesis. Pengalihan pokok bahasan ini menimbulkan penelitian-penelitian yang topiknya aneh-aneh dan menyimpang jauh dari memberi solusi atau acuan untuk memperbaiki disiplin maupun praktik akuntansi.
Karena beberapa masalah yang berkaitan dengan karakterisasi akuntansi sebagai ilmu (teori akuntansi positif) untuk mengembangkan teori (sebagai ilmu murni), beberapa penulis memaknai akuntansi sebagai teknologi.7 Sudibyo berargumen bahwa seni dan ilmu bukan klasifikasi yang kontinum karena keduanya merupakan kelas dalam taksonomi ilmu pengetahuan. Dengan memahami karakteristik akuntansi secara saksama, kelas yang paling pas untuk menyifati akuntansi adalah teknologi (ilmu terapan) dan akuntansi harus dikembangkan sesuai dengan sifatnya sebagai teknologi. Akuntansi merupakan "perekayasaan informasi dan pengendalian keuangan".8
Kalau dipandang sebagai teknologi, akuntansi akan bersifat utilitarian dan dapat memanfaatkan ilmu lainnya untuk perekayasaan dalam rangka mencapai tujuan pelaporan keuangan. Akuntansi, misalnya, dapat memanfaatkan properitas aljabar/matematika, linguistika, psikologi, dan teori komunikasi untuk kepentingan perekayasaan tanpa harus menjadikan akuntansi sebagai cabang atau turunan dari ilmu-ilmu tersebut. Dengan menempatkan akuntansi sebagai teknologi, defi nisi akuntansi yang cukup luas harus dikenalkan kepada para pemula di perguruan tinggi agar tidak timbul kesan keliru bahwa akuntansi hanya membahas masalah pencatatan dengan aturan debitkredit.9
Akuntansi merupakan disiplin yang diajarkan di perguruan tinggi yang menghasilkan sarjana akuntansi dan sekaligus merupakan praktik yang dijalankan oleh akuntan. Akuntansi dan praktik akuntansi (juga sarjana akuntansi dan akuntan) memang merupakan dua pengertian yang sangat lekat dan bahkan sering dirancukan. Dari aspek pendidikan tinggi yang idealnya berorientasi pengembangan ilmu pengetahuan, status akademik akuntansi menjadi problematik dan diujung tanduk karena tanpa sadar orientasi dapat bergeser ke profesional bahkan vokasional.
Dalam artikel terpisah, Demski dan Fellingham menengarai bahwa pendidikan akuntansi di universitas dewasa ini sangat vokasional, bahkan hubungan pendidikan akuntansi dan profesi sangat mendalam dan profesi sangat merasuki pendidikan perguruan tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan penyusunan kurikulum yang tunduk pada profesi. Pengembangan dan pemeliharaan kapital intelektual manusia dipercayakan kepada pendidikan profesional di luar perguruan tinggi (secara seloroh Demski menyebutnya PWC University). Kurikulum terlalu banyak bermuatan pengajaran kompetensi akuntan agar lulusan menjadi cocok dengan kebutuhan kompetensi tenaga kerja. Secara spesifik, Demski menuduh keadaan ini sebagai "... Systematically substituting immediate for long-term fundamentals reduces our place at the university .... It omits a variety of exciting, intellectually challenging opportunities, a virtual feast, and commits us, if you will, to intellectual anorexia".
b1e95dc632