Perbedaan listrik prabayar dan pascabayar utamanya terletak pada metode pembayaran. Sesuai dengan namanya, 'pascabayar' berarti dibayar setelah penggunaan. Sementara 'prabayar', dibayar atau dibeli sebelum digunakan.
Pada layanan listrik pascabayar, pelanggan dipersilakan menggunakan listrik sepuasnya selama satu bulan. Pelanggan kemudian harus membayar total tagihan listrik yang dihitung berdasarkan penggunaan selama sebulan.
Apa daya manusia jika sehari tidak menggunakan listrik? Pasti semua kegiatan akan terhenti dan pekerjaan tidak terselesaikan. Pasalnya memang semua kegiatan manusia saat ini ditunjang oleh listrik. Saat ini, pemerintah sendiri membebaskan masyarakatnya untuk memilih sistem listrik, baik token listrik atau listrik pascabayar.
Sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan diantara keduanya. Hanya yang membedakan adalah cara pembayaran. di mana beli token listrik dulu baru bisa menggunakan fasilitas listriknya, seperti beli token listrik di Traveloka. Sedangkan untuk listrik pascabayar kamu menggunakan fasilitas terlebih dahulu, baru bayar tagihannya di akhir bulan. Namun banyak juga yang mengatakan bahwa token listrik lebih baik dibandingkan dengan listrik pascabayar.
Salah satunya adalah tidak ada denda keterlambatan. Untuk listrik prabayar sendiri memang tidak ada denda, jika token habis maka listrik akan padam. Sedangkan, untuk listrik pascabayar, Anda akan dikenakan denda jika melewati tenggat waktu.
Masalahnya kadang kita lupa untuk membeli token listrik sehingga listrik padam. Untuk listrik pascabayar, pihak PLN akan memutuskan jaringan listrik rumah Anda, jika menunggak pembayaran selama 3 bulan.
Namun begitu, terkadang banyak orang yang mengalami masalah saat pengisian token listrik. Hal tersebut dikarenakan adanya jaringan internet yang down. Oleh karena itu, maka Anda harus menunggu bahkan saat listrik di rumah mati sekalipun.
Belum lagi Pajak Penerangan Jalan yang dibebankan pada keduanya, baik token listrik atau listrik pascabayar. Di mana, pemerintah membebankan 2.3% dari TDL. Jika dirupiahkan akan sekitar 3200. Namun, bagi Anda yang ingin mengetahui perkiraan mana yang lebih hemat, mungkin bisa melihat contoh berikut ini.
Jadi, hemat tidaknya tergantung pemakaian listrik Anda setiap harinya semaksimal mungkin. Apabila untuk listrik pascabayar, Anda tidak bisa mengontrol penggunaan listrik Anda. sedangkan, Anda yang menggunakan listrik prabayar bisa lebih mengontrolnya.
TEMPO.CO, Jakarta - Ada dua tipe sistem pembayaran kelistrikan di Indonesia, yaitu prabayar dan pascabayar. Listrik prabayar menggunakan sistem pembelian token agar dapat menggunakan listrik. Sedangkan pelanggan listrik pascabayar melakukan pembayaran setelah menggunakan listrik. Lalu, lebih hemat mana listrik prabayar atau pascabayar?
Listrik dengan sistem prabayar mulai hadir di Indonesia sejak 2008. Sistem berbasis token ini kemudian dinamai Listrik Pintar. Disebut prabayar lantaran pelanggan harus membeli token layaknya pulsa untuk dapat menggunakan listrik.
Kelebihan sistem prabayar adalah pelanggan dapat mengontrol secara mandiri penggunaan listrik. Namun, listrik dapat otomatis padam jika token habis. Hal ini tentu dapat menyebabkan gangguan, terutama jika pelanggan tengah menggunakan layanan listrik.
Sebelum Listrik Pintar hadir, Perusahaan Listrik Negara atau PLN sepenuhnya menggunakan sistem pascabayar. Pembayaran listrik sistem pascabayar dihitung berdasarkan meteran listrik. Kemudian tagihan rekening listrik dikirimkan setiap bulan sesuai dengan energi listrik yang dipakai.
Rekening listrik juga dapat diperiksa menggunakan aplikasi berbasis mobile. Keunggulan listrik pascabayar adalah listrik selalu tersedia. Bahkan ketika pelanggan terlambat membayar tagihan. Di sisi lain, karena selalu tersedia, pelanggan tidak mengetahui secara pasti berapa tagihan listrik per bulannya.
Mungkin masyarakat percaya bahwa listrik pascabayar lebih murah dibandingkan listrik prabayar. Namun, ternyata perbedaan keduanya hanya terdapat pada sistem pembayaran. Sedangkan untuk tarif, potongan, dan biaya administrasi tetap sama.
Pelanggan listrik prabayar golongan R-1 900 VA tarif listriknya Rp 1.325 per kWh atau kilo Watt Hour. Adapun biaya abodemen atau biaya berlangganan listrik pasca bayar untuk golongan R-1 900 VA tarifnya juga sama Rp 1.325 per kWh.
Membahas soal lebih hemat mana antara listrik prabayar dan pascabayar, sebenarnya tergantung dari penggunaan listrik oleh pelanggan. Sesuai namanya, Listrik Pintar dimaksudkan agar pelanggan PLN dapat secara mandiri mengatur penggunaan listrik. Pelanggan listrik berbasis prabayar dapat memantau penggunaan listrik secara langsung di meteran listrik. Sehingga dapat mengatur penggunaan listrik agar hemat.
Sementara itu, pada listrik pascabayar, pelanggan PLN tidak dapat mengetahui secara langsung penggunaan listrik mereka. Rekening listrik hanya dikirim sekali di akhir bulan. Karena ketersediaan listrik yang tidak terbatas, jika tidak berhati-hati dalam menggunakan listrik, biaya kelistrikan mungkin akan membengkak.
Sebuah penelitian di Universitas Muhamadiyah Surakarta menunjukkan bahwa biaya kelistrikan dengan daya 450 VA pada listrik pascabayar selisih 6,1 persen lebih tinggi dibandingkan sistem listrik prabayar. Sedangkan pada kelistrikan dengan daya 900 VA, biaya listrik pascabayar juga lebih tinggi dibandingkan dengan yang prabayar, yakni 2,7 persen.
Kendati begitu, pengguna listrik pascabayar bukan berarti tidak dapat berhemat listrik. Jika berkenan, pelanggan listrik pascabayar juga dapat menghitung penggunaan listrik dengan mengecek meteran listrik.
Apakah Anda telah masih menggunakan listrik pascabayar? Atau sudah beralih menggunakan listrik prabayar? Keduanya menjadi pilihan bagi setiap rumah untuk memenuhi kebutuhan listrik. Saat ini sudah banyak masyarakat yang beralih dengan menggunakan listrik prabayar dimana sebelumnya mereka menggunakan listrik pascabayar. Di sisi lain, masih banyak pula masyarakat yang tetap bertahan menggunakan listrik pascabayar dengan alasan yang beragam, mulai dari keengganan untuk mengeluarkan biaya penggantian alat, kebingungan sistem prabayar, dan masih banyak lagi.
Pemerintah lewat Perusahaan Listrik Negara (PLN) menggalakkan sistem pembayaran listrik prabayar. Sistem ini dianggap membantu masyarakat menghemat pengeluaran. Sebelum menggunakan sistem prabayar, perumahan di Indonesia menerapkan sistem pascabayar. Di mana penghuni akan menerima tagihan listrik pada akhir bulan, sesuai energi yang dipakai. Dengan sistem prabayar, penghuni rumah bisa mengetahui besarnya pemakaian dan mengatur sendiri kebutuhannya.
Listrik prabayar adalah listrik yang pembayarannya berada di awal, yaitu dengan sistem pulsa. Listrik prabayar juga biasa disebut dengan listrik pintar. Dimana pelanggan dapat mengendalikan pemakaian listrik sendiri. Alat meteran listrik pun tidak lagi berbentuk analog, melainkan digital yang dapat Anda gunakan untuk memasukan kode pengisian listrik. Sistemnya dibuat seperti membeli pulsa prabayar telepon genggam agar dapat memudahkan Anda. Kelebihan lain dari listrik prabayar ini, Anda tidak perlu khawatir akan biaya keterlambatan yang menghantui.
Listrik pascabayar adalah listrik yang pembayaran tagihannya pada akhir bulan sesuai dengan energi yang digunakan. Meteran listrik pascabayar masih menggunakan alat analog yang menunjukkan besarnya daya yang telah digunakan. Pembayaran listrik pascabayar dapat dilakukan melalui bank, loket pembayaran dengan biaya admin yang dibebankan sebagai biaya jasa pembayaran tagihan listrik.
Itulah keunggulan dan kelemahan dari penggunaan listrik prabayar dan pascabayar yang perlu Anda ketahui sebelum memutuskan untuk memilih salah satunya. Selain mempelajari perbedaan listrik prabayar dan pascabayar, Anda juga bisa menjalankan bisnis dari penggunaan listrik lho. Bagaimana caranya? Jadilah agen pembayaran listrik pascabayar maupun berjualan token listrik prabayar. Semua itu dapat Anda wujudkan hanya dengan menggunakan Fastpay. Nikmati 8 layanan bisnis lengkap hanya dalam satu genggaman dengan komisi yang pasti menguntungkan.
Energi listrik telah menjadi kebutuhan bagi manusia. Di Indonesia listrik di kelola PT. PLN Persero menggunakan metode pascabayar dan prabayar. Saat ini masyarakat cenderung menggunakan metode prabayar dengan sistem kWh meter digital namun metode ini memiliki kelemahan yaitu pelanggan tidak bisa mengisi dan memantau sisa token listrik dari jarak jauh. Oleh karena itu, dibuatlah prototype monitoring dan pengisian token listrik prabayar menggunakan arduino uno berbasis website untuk memudahkan masyarakat mengetahui sisa token dan melakukan pengisian token dari jarak jauh. Sistem dibangun memerlukan koneksi internet agar dapat berjalan. Perangkat keras mengirimkan data sisa token, pemakaian dalam watt, data status saklar, dan kode alat ke perangkat lunak. User dapat membeli token lisrik kWh dan memasukan kode token ke website. Pengujian keseluruhan sistem mencakup pengujian pengisian kode token kWh dari jarak jauh dan monitoring sisa token kWh dari jarak jauh. Pengujian pengisian kode token kWh dari jarak jauh bertujuan melihat apakah alat dapat menerima data pengisian token dari jarak jauh. Hasil pengujian dilakukan 15 kali percobaan dengan hasil 15 kali berhasil. Pengujian monitoring sisa token kWh dari jarak jauh bertujuan melihat sinkronisasi data sisa token kWh di website dengan di alat. Hasil pengujian dilakukan 15 kali percobaan dengan hasil 15 kali sesuai.
Guna mengetahui hitungan kWh listrik yang dibeli, pelanggan terlebih dulu harus mengetahui patokan tarif listrik per kWh. Misalnya, tarif listrik bagi 13 pelanggan nonsubsidi. Hingga Februari 2022, patokan tarif listrik pelanggan nonsubsidi yaitu:
Semenjak beberapa tahun lalu, ada dua jenis listrik yang ditawarkan kepada konsumen oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pertama ada listrik pascabayar atau listrik meteran yang jadi infrastruktur konvensional. Dan ada listrik prabayar atau yang lebih dikenal dengan istilah token listrik.
dd2b598166