Istilah Fisika Kuantum seringkali kita dengar melalui berbagai film. Bagi Grameds yang merupakan penggemar film science-fiction, khususnya MCU atau Marvel Cinematic Universe seperti Ant-Man pada tahun 2015, dan juga Avengers: Endgame pada tahun 2019, seringkali mendengar istilah fisika kuantum. Namun apa sebenarnya yang dimaksud fisika kuantum tersebut?
Sedangkan, fisika kuantum sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Albert Einstein yang membuka pandangan banyak orang terkait alam semesta, seperti halnya bagaimana Isaac Newton yang berhasil mengubah pandangan orang-orang terkait hukum alam semesta pada zamannya.
Jika diumpamakan, fisika klasik merupakan sebuah ilmu yang membahas mengenai hukum benda solid yang kita jumpai setiap harinya, namun fisika kuantum sendiri merupakan sebuah ilmu yang membahas benda dengan ukuran yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Simak informasi berikut.
Kata kuantum sendiri diambil dari terjemahan langsung dari bahasa latin, yaitu quantum yang memiliki makna berapa banyak. Hal ini mengacu pada unit diskrit materi serta energi yang diamati dan juga diprediksi dalam fisika kuantum ini.
Oleh sebab itulah, ilmu fisika kuantum merupakan studi yang sulit untuk dipelajari dan tidak dibahas secara detail di mata pelajaran sekolah karena pada umumnya lebih fokus kepada konsep serta perumusan matematis tanpa menggunakan pengamatan yang dilakukan secara langsung, karena hal ini sulit dimengerti oleh kebanyakan orang.
Berdasarkan sudut pandang ilmu fisika kuantum, segala hal yang kita lihat bukanlah seperti yang kita lihat. Misalnya, sebuah benda padat yang pada umumnya kita lihat dan rasakan memiliki bentuk padat serta keras, sebenarnya merupakan kumpulan dari berbagai molekul penyusun.
Sebelum Albert Einstein, seorang fisikawan Jerman telah memberikan kontribusinya terlebih dahulu dalam perkembangan fisika kuantum melalui makalah ilmiahnya dengan topik radiasi benda hitam yang pada tahun 1900 di publikasi.
Teori fisika kuantum sendiri muncul karena adanya berbagai fenomena yang tidak sesuai dengan gagasan yang ada pada fisika klasik. Melalui hal tersebut, para ahli fisika kuantum mendapat kesimpulan terkait teori ini, sebagai berikut.
Penerapan ilmu fisika kuantum di Indonesia sendiri masih jarang dilakukan karena ilmu ini berfokus pada sebuah konsep. Oleh sebab itu, hingga saat ini masih belum ada jurusan fisika kuantum secara khusus di Indonesia.
Namun, di berbagai negara maju sendiri bidang fisika kuantum ini sangat diminati karena pada negara tersebut, mereka telah mengembangkan sebuah teknologi yang menggunakan berbagai konsep fisika kuantum di dalamnya.
Salah satu teknologinya adalah komputer kuantum yang menggunakan prinsip fisika kuantum dalam perhitungan prosesornya serta reaktor fusi guna menciptakan benting kecil buatan yang digunakan sebagai sumber energi.
Selain komputer kuantum, terdapat pula hasil observasi lubang hitam atau black hole yang dilakukan pertama kalinya dan pada saat itu viral. Lubang hitam atau black hole sendiri merupakan sebuah singularitas yang tidak dapat dijelaskan melalui fisika klasik. Dengan adanya bantuan fisika kuantum, fenomena yang terjadi tersebut dapat lebih dijelaskan.
Fakta terkait fisika kuantum yang pertama adalah dunia fisika kuantum tidaklah mulus. Melalui perumpamaan, misalnya jika Grameds sedang pergi ke sebuah toko sepatu untuk memilih sepasang sepatu dengan ukuran yang tepat.
Kuanta sendiri merupakan konstanta Planck yang berasal dari Max Planck dan merupakan bapak dari ilmu fisika kuantum. Pada tahun 1900, Max Planck berusaha memecahkan misteri terkait radiasi benda hitam dengan menggunakan objek langit Matahari, berdasarkan penelitian tersebut Max Planck berhasil menghasilkan Hukum Planck.
Fakta terkait fisika kuantum kedua adalah gelombang dan partikel merupakan suatu hal lumrah di dalam dunia fisika kuantum. Dimana, pada tahun 1906, seorang fisikawan Inggris bernama Sir J. J. Thomson berhasil memenangkan penghargaan Nobelnya berkat penemuannya atas elektron sebagai partikel.
Fakta terkait fisika kuantum ketiga adalah sebuah objek di dua tempat pada waktu bersamaan bukanlah hal mustahil. Dimana selain menjadi landasan dari fisika kuantum, dualitas antara gelombang dan partikel juga merupakan sebuah konsep superposisi.
Dimana hal ini terjadi ketika sebuah objek kuantum ada di dalam beberapa status di waktu yang bersamaan. Misalnya, sebuah elektron dapat berada di beberapa lokasi dalam waktu yang bersamaan. Berdasarkan hal tersebut, maka ilmu fisika yang satu ini membicarakan hal terkait probabilitas.
Hal inilah yang ingin dibuktikan oleh Erwin Schrodinger yang merupakan seorang fisikawan Austria-Irlandia pada tahun 1935 yang dikenal juga sebagai Kucing Schrodinger. Dengan melakukan perbincangan dengan Albert Einstein, Erwin Schrodinger melakukan eksperimen imajiner ini dengan memberikan satu paradoks soal superposisi dari fisika kuantum.
Fakta terkait fisika kuantum keempat adalah multiverse menjadi mungkin di dalam ilmu fisika kuantum. Pernyataan in sendiri muncul berdasarkan gagasan bahwa sebuah observasi dapat menghancurkan fungsi gelombang serta memaksa pilihan kuantum yang juga dikenal sebagai interpretasi Copenhagen oleh Niels Bohr dan Werner Heisenberg terhadap ilmu fisika kuantum.
Namun, dalam teori partikel kuantum sejauh ini, hanya terdapat satu realitas yang amat rumit serta terdiri dari begitu banyak lapisan kusut. Saat realitasnya diperkecil, berbagai lapisan tersebut terurai menjadi multiverse. Proses ini juga disebut sebagai decoherence oleh para fisikawan.
Fakta terkait fisika kuantum kelima adalah ilmu fisika yang satu ini membantu dalam memahami bintang. Dimana pada tahun 1913, Niel Bohr yang merupakan fisikawan Denmark dan juga Ernest Rutherford yang merupakan fisikawan Selandia Baru menggambar sebuah model yang menyatakan bahwa elektron yang mengorbit di dalam sebuah atom juga mengalami kuantisasi.
Nah, itulah penjelasan singkat terkait ilmu fisika kuantum yang memiliki cara pandang berbeda dengan ilmu fisika klasik yang kita pelajari di sekolah. Berdasarkan informasi yang kita temukan di atas, kita juga dapat mengetahui berbagai fakta menarik seputar ilmu ini mengenai kebenaran adanya multiverse dan isi dari alam semesta ini.
Bagi Grameds yang ingin mempelajari ilmu ini lebih jauh lagi, dapat membaca buku yang tersedia di Gramedia terkait fisika kuantum. Gramedia sebagai #SahabatTanpaBatas akan selalu berusaha menyediakan segala kebutuhan kamu! Semoga bermanfaat!
Namun fisika kuantum belum selesai. Tafsir Kopenhagen yang sekarang berlaku, dengan dualitas dan ketidakpastian, bukan kata pamungkas. Sejumlah ahli fisika lain mengusulkan: Bagaimana jika yang nyata itu bukan hanya satu kemungkinan, melainkan semuanya? Bagaimana jika segala kemungkinan bisa terjadi, di dunia-dunia yang tak terhitung banyaknya, dan terbentuk tiap kali terjadi peristiwa kuantum? Itulah yang dinyatakan Teori Banyak-Dunia, suatu tafsir alternatif yang berupaya mengembalikan kepastian dan kesederhanaan di fisika kuantum.
Ahli fisika teori Sean Carroll menjelaskan fisika kuantum tanpa membuatnya misterius dan sulit diterima akal dalam buku ini. Dia juga menunjukkan bagaimana paradigma yang beda dalam fisika kuantum berpengaruh ke cara kita berpikir mengenai alam semesta dan kepastian.
Pemanfaatan teori mekanika kuantum telah menghasilkan pemahaman mikroskopik yang mendasar mengenai gejala alam dan sifat material. Hasil tersebut juga memacu kemajuan teknologi secara luas, yang mempengaruhi kualitas dan corak hidup manusia secara langsung maupun tidak langsung. Contoh dampak praktis paling luas dari manfaat aplikasi pengetahuan ini adalah meningkatkan kemampuan komunikasi dan proses pengolahan informasi yang didukung oleh teknologi mikroelektronik dan teknologi laser. Selain itu, pengembangan ilmu bahan pada umumnya, ilmu biologi molekuler, bioteknologi, serta ilmu kedokteran dan teknologi instrumentasi telah pula mengambil manfaat mendasar dari aplikasi teori kuantum ini. Oleh karena itu, buku ini sangat berguna bagi para mahasiswa maupun mereka yang berkecimpung di bidang sains dan teknologi.
Artikel ini ingin mendeskripsikan tentang pengaruh dan tantangan bernyanyi secara pragmatis, khususnya menyangkut teknis pengekspresian. Hal ini merupakan hasil riset terhadap sejumlah penyanyi dengan menggunakan pendekatan fisika kuantum maupun psikolopgi musik. Dengan metode deskripsi kualitatif ditemukan, bahwa bernyanyi, baik secara pragmatis, maupun estetis memilik dampak dalam proses pengekspresian.
Fisika kuantum adalah ilmu tentang perilaku/karakteristik/sifat materi dan energi pada molekul, atom, sub-atomik bahkan yang lebih kecil lagi dari sub atomik. Artikel ini bertujuan menemukan kebermaknaan fisika kuantum yang dapat menjadi salah satu solusi dalam membangun karakter peserta didik. Metode yang digunakan adalah studi literatur yang berpedoman pada Al-Quran. Hasil kajian mendapatkan Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari proses multidimensional yang di mana setiap proses pendidikan dalam hal ini, pembelajaran akan lebih baik tetap mengandung unsur-unsur multidimensional. Unsur multidimensional yang ditekankan dalam artikel ini adalah Religion, Moral, Attitude and Character (RMAC). Membangun aspek-aspek multidimensional tersebut dapat dilakukan dengan menyisipkan pemaknaan konsep fisika kuantum di setiap proses pembelajaran sebagai contoh untuk menumbuhkan Religion, Moral, Attitude and Character (RMAC).
Mekanika kuantum adalah cabang ilmu fisika yang bisa memprediksi dengan sangat akurat fenomena yang melibatkan benda-benda berukuran sangat kecil, misalnya perilaku atom dan unsur pembentuknya. Kecenderungan perilaku benda-benda sangat kecil ini seringkali sulit dicerna oleh logika manusia dan kontradiktif dengan prinsip yang sudah ada. Maka dari itu kemudian mekanika kuantum disebut ilmu yang penuh misteri dan ketidakpastian.
dd2b598166