Buku ini akan menyajikan sudut pandang iblis yang menuntut Tuhan atas kutukan yang membuatnya jatuh ke dalam lembah dosa. Sebagai penganut keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa, sudut pandang iblis ini akan membuat bertanya-tanya apakah iblis berada pada sisi yang benar? Betul, sudut pandang iblis menjungkirbalikan pembaca dan mempertanyakan hal yang sama dengan iblis. Buku ini berisikan dialog yang terjadi antara iblis dan Buhairah.
Klimaks dari buku ini adalah penganalogian dari iblis untuk manusia dan membuktikan bahwa sesungguhnya tidak ada yang tahu persis tujuan Tuhan atas takdir di muka bumi, dan tidak pula ada yang bisa menerka keputusan Tuhan dengan logika manusia.
bukan cerita baru apabila iblis diusir dari surga dan mendapatkan izin untuk menggoda manusia hingga hari akhir kelak. meskipun begitu, godaan demi godaan tetap dia layangkan kepada manusia yang berpotensi menjadi pengikutnya di akhir zaman kelak. hal inilah yang melatarbelakangi terjadinya dialog antara iblis dan seorang pendeta dari busrah bernama buhaira.
dalam karya sastra ini, diceritakan sebuah awal ketika sang pendeta didatangi oleh seorang pemuda yang berasal dari komunitas marcionites. diceritakan kemudian, sang pemuda berargumen mengenai tuhan yang tidak lebih dari sesosok monster yang jahat dan tidak sempurna. ketidaksempurnaannya terlihat dari cara tuhan mengatur dunia ini dan mempersiapkan segala skenario atas dunia yang dihuni manusia. kontan pendapat ini langsung disanggah sang pendeta. meskipun begitu, perdebatan panjang ini harus berakhir dengan hinggapnya keragu2an di diri pendeta akan eksistensi tuhan.
tidak sampai di situ. novel ini berlanjut kemudian dengan bertemunya pendeta buhaira dan iblis di sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian, yang hanya diterangi kerlip dan redupnya bintang. di sebuah mata air dan aliran sungai yang rasanya manis, perdebatan panjang antara seorang pendeta dan iblis pun akhirnya terjadi. dengan pandainya, iblis memuja tuhan yang dengan seketika pula iblis mencemooh tuhan. berbagai argumen2 iblis yang menyesatkan mengenai tuhan, dan sanggahan2 kebenaran sederhana dari sang pendeta, menghiasi setiap halaman novel yang tebalnya 324 halaman. tak hanya itu saja. berbagai cerita seru yang diangkat dari kisah2 nabi dan rasul agama samawi, turut hadir sebagai pelengkap dan penjelas akan permasalahan ketuhanan yang sedang diperdebatkan.
adalah daud ibn ibrahim al shawni yang merupakan orang di balik novel yang cukup mengagumkan, menginspirasi, dan syarat makna ini. dialihbahasakan dan diterbitkan di indonesia oleh dastan books, novel ini benar2 mampu menempatkan sosok iblis yang egosentrisme. pandangan2 dari 3 agama samawi, dengan sangat cerdasnya dipadukan dalam buku ini. tak hanya itu saja. berbagai pertanyaan2 teologis yang kerap diragukan orang2 dalam beragama, mampu dijawab melalui gaya penuturan yang unik dan khas serta mengalir.
meskipun begitu, membaca buku ini perlu kewaspadaan yang cukup tinggi. pasalnya, bila tak hati2 membacanya, bukannya mengerti akan makna keesaan tuhan, malah bisa terjebab dalam argumentasi2 iblis yang menyesatkan dan terasa benar di logika.