Pada waktu Zengzi akan berpulang, Zengzi memanggil murid-muridnya dan berkata, “Lihatlah tangan dan kakiku. Adakah yang luka?”
“Tidak ada,” jawab para murid.
“Melalui orang tua kita mendapatkan hidup ini, maka kita berhutang budi kepada mereka dan karenanya kita harus merawat baik-baik tubuh ini. Aku gembira dapat melewati perjalanan hidup ini tanpa menderita hukuman yang menjadikan tubuh ini cacat."
Setelah berkata demikian, Zengzi memejamkan mata dan tersenyum lembut, nampak kedamaian dan kepuasan di wajahnya. Baginya badannya ialah seperti cawan suci (tempat sajian sembahyang) yang berisi dirinya, bukan penjara bagi jiwanya.
Sejenak kemudian, Zengzi membuka mata dan berkata, “Tetapi betapa pun pentingnya menjaga dan merawat tubuh, lebih utama lagi menjadi manusia yang bermoral luhur dan jujur-tulus. Laku yang demikian itu juga satu di antara jalan yang terbaik untuk menyatakan hormat kepada orang tua kita.”
Demikianlah, sekali pun sudah menjelang akhir hayatnya, Zengzi masih memikirkan orangtuanya dan mengingatkan para muridnya.
Bagaimana dengan Anda dan saya? (US) 29112021
Sumber: Bab V Buku Pendidikan Agama Konghucu untuk Pendidikan Tinggi, Belmawa Kemendikbud 2016.