Kekokohan Agama dgn Menyempurnakan Pondasinya
penulis Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah
Belajar dari Keberhasilan
Mengkaji jejak keberhasilan umat
terdahulu dlm mengangkat dan menyebarkan syiar-syiar Islam adl sesuatu
yg mulia. Karena belajar dari sebuah keberhasilan dan berupaya utk
meneladani juga merupakan keberhasilan.
Para nabi dan rasul telah
berhasil menjalankan amanat dan tugas dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Betapa banyak hati yg tertutup menjadi terbuka dgn hidayah sirna
kekufuran dan keingkaran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala runtuh
kekuasaan ajaran iblis serta hancur hukum-hukum thagut yg sebelum
bercokol.
Masa kegemilangan itupun berlalu kejayaan itu di masa
sekarang bagaikan fatamorgana dlm bayangan terik matahari di padang
sahara yg bila didekati hilang begitu saja. Dimanakah letak rahasia
kejayaan mereka? Dan di manakah letak dan penyebab kegagalan kita?
Kedua pertanyaan ini butuh jawaban.
Ada
dua rahasia dan sebab keberhasilan perjuangan di masa lampau dlm
mengibarkan panji-panji tauhid merombak kebusukan keyakinan jahiliyah
terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala penyelewengan yg sangat parah dan
bercokol kesesatan di benak tiap insani keberhasilan dlm menumbangkan
dan meruntuhkan tahta thagutiyyah Fir’aunisme Majusiyyah Shabi’iyyah dan
dinasti-dinasti jahiliyah. Keberhasilan menghidupkan hati yg sudah mati
mengetuk gendang telinga yg sudah tuli dan membuka mata yg sudah buta
sebelum membuka dan menaklukkan berbagai negeri.
Pertama: Kemurnian perjuangan yg dibangun di atas keikhlasan semata-mata mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah
rahasia pertama dan utama landasan keberhasilan perjuangan mereka.
Landasan yg merupakan sumber kekuatan dan keberanian dlm menghadapi
segala kemungkinan yg akan terjadi. Ia merupakan sumber muncul sikap
tabah dlm menghadapi segala bentuk ujian dan rintangan dlm mengemban
amanat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan keikhlasan semua beban hidup
yg berat akan menjadi ringan yg besar akan menjadi kecil dan yg sulit
akan menjadi mudah. Intisari ikhlas itulah kalimat tauhid “Laa Ilaha
illallah.” Keikhlasan merupakan landasan pengabdian para nabi dan rasul
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm
banyak ayat menjelaskan:
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ
“Sesungguh Kami telah menurunkan Al-Kitab kepadamu dgn benar mk sembahlah Allah dgn mengikhlaskan agama bagi-Nya.”
قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ. وَأُمِرْتُ لأَنْ أَكُوْنَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Katakanlah sesungguh aku diperintahkan utk menyembah Allah dgn mengikhlaskan agama bagi-Nya. Dan aku diperintahkan utk menjadi orang yg pertama kali menyerahkan dirinya.”
قُلِ اللهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِيْنِي
“Katakanlah: Aku menyembah kepada Allah dgn mengikhlaskan bagi agamaku.”
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ
“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah hanya kepada Allah dgn mengikhlaskan bagi Allah agama yg lurus.”
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوْسَى إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا
“Dan ingatlah di dlm kitab tentang nabi Musa sesungguh dia adl seorang yg dipilih dan beliau adl seorang rasul dan nabi.”
Masih
teringat dlm benak kita kekejaman dan keangkuhan Fir’aun sebuah
kekejaman yg tiada tara yaitu dgn membunuh anak laki2 yg menurut dia
akan membahayakan tahta kekufuran yg berada dlm kaki dan taring
keberingasannya. Angkuh sampai menobatkan dan memproklamirkan diri
sebagai tuhan sesembahan semesta alam.
فَحَشَرَ فَنَادَى. فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ اْلأَعْلَى
“Lalu dia mengumpulkan lalu menyeru: Aku adl tuhan kalian yg tinggi.”
Keberingasan
dan keangkuhan tdk memberi manfaat dlm menyebarkan manuver-manuver
kufurnya. Sebagian bala tentara harus jujur mengakui kebenaran kerasulan
Nabi Musa. Sekali lagi kemenangan keberhasilan kejayaan bersama orang
yg ikhlas.
Kedua: Mereka tdk keluar dlm berjuang dari jalur dan garis yg telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sikap
ketundukan dan siap menerima titah adl jalan keberhasilan para nabi dan
rasul serta orang2 yg mengikuti langkah mereka di tiap masa. Mereka
berjalan dlm jalur Ilahi berkata dlm batasan pengajaran-Nya diam dan
bergerak dlm bimbingan-Nya. Mereka tdk mengolah dan merancang bagaimana
cara menyelamatkan umat dari segala bentuk kerusakan dan kebiadaban
hidup serta kekejaman para penentang dan musuh-musuh mereka dgn keluar
dari bimbingan wahyu.
Mereka yakin bahwa kemenangan akan diraih
melalui jalan yg telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
kegagalan krn menyelisihi perintah-Nya. Mereka meyakini bahwa Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan bagi hamba jalan yg akan
mendatangkan kemaslahatan dan telah memperingatkan dari jalan yg akan
memudaratkan.
Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan utk
melakukan sesuatu berarti dlm perintah terdapat maslahat hidup bagi
mereka di dunia dan di akhirat dan bila Allah Subhanahu wa Ta’ala
melarang utk melakukan sesuatu berarti dlm larangan itu kemudaratan
dunia dan akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci kesyirikan krn
kesyirikan tersebut akan mengantarkan kepada malapetaka hidup di dunia
dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan kebid’ahan krn
mengandung kerusakan di dlm mengejar maslahat hidup dunia dan akhirat.
Allah
mengharamkan khamr judi mencuri berzina membunuh tanpa alasan yg benar
memakan harta orang lain dgn cara yg tdk benar berbuat kedzaliman
durhaka kepada kedua orang tua berdusta menipu curang dlm timbangan dan
sebagai krn perbuatan tersebut akan mengantarkan kepada kebinasaan dunia
dan azab di akhirat.
Tugas perombakan yg dilakukan oleh para nabi
dan Rasul serta para pengikut mereka tdk keluar dari koridor wahyu.
Jalan wahyu bukanlah jalan yg penuh taburan bunga dan siraman bau yg
semerbak. Akan tetapi penuh dgn duri dan sengatan yg berbisa.
Ujian
datang silih berganti rintangan datang bertubi-tubi menghunjam qalbu dan
raga orang2 yg melewatinya. Demikian dahsyat hingga menyesakkan dada.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berkisah tentang ucapan mereka dlm situasi yg
genting tersebut dlm sebuah firman-Nya:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيْبٌ
“Apakah kalian mengira akan masuk ke dlm surga sementara belum datang
kepada kalian yg telah menimpa orang2 sebelum kalian ditimpa oleh
berbagai penyakit marabahaya dan kegoncangan sampai-sampai Rasulullah
dan orang2 yg beriman bersama mengatakan: ‘Kapan pertolongan Allah
datang?’ menjawab: ‘Sesungguh pertolongan Allah itu dekat.’”
Al-Imam
Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dlm Tafsir-nya: “Allah
Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa Dia pasti akan menguji
hamba-hamba-Nya dgn berbagai penyakit malapetaka dan segala yg
memberatkan hidup sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala perbuat atas
orang sebelum mereka. Ini merupakan ketetapan sunnah-Nya yg tdk akan
berubah dan terevisi. Barangsiapa menegakkan agama-Nya dan syariat-Nya
Dia pasti akan menguji dan jika dia bersabar atas keputusan Allah
Subhanahu wa Ta’ala tersebut dan tdk peduli dgn kesengsaraan yg terjadi
di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala mk dia adl orang yg jujur dan telah
mendapatkan kebahagiaan yg sempurna serta kepemimpinan yg tinggi.
Barangsiapa
menjadikan fitnah manusia bagaikan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm
bentuk dia terhalangi utk melangsungkan usahanya dan dipalingkan oleh
ujian dari tujuan mk dia adl orang yg berdusta dlm keimanannya. Karena
bukan iman bila hanya perhiasan dan angan-angan belaka atau hanya
sekedar pengakuan sehingga amal yg akan membenarkan atau mendustakannya…
Kemudian krn keras ujian dan sempit dada Rasulullah dan orang2 yg
menyertai dlm keimanan berkata: “Kapan datang pertolongan Allah?” mk di
saat kemudahan datang setelah kesempitan dan ketika kesempitan menjadi
luas Allah berfirman “Ketahuilah sesungguh pertolongan Allah itu
dekat.” Demikianlah tiap orang yg menegakkan kebenaran mesti akan diuji.
Tatkala ujian itu dahsyat dan berbahaya dan dia bersabar dan tabah hati
niscaya ujian itu akan berubah menjadi ni’mat serta kesulitan menjadi
kemudahan. Dan setelah itu datang pertolongan atas musuh-musuh dan
tersembuhkan hati dari segala yg dirasakan.”
Pergolakan demi
pergolakan pun terjadi dan segala kenyataan pahit harus ditelan.
Perjalanan sunnatullah yg demikian tidaklah menjadikan mereka melepaskan
kebenaran menuju sebuah kemenangan kejayaan dan keberhasilan.
Mustahil
akan mendapatkan kejayaan bila dgn cara potong kompas yaitu
meninggalkan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
menguburnya. Keharusan mengikuti tuntunan syariat menuju kemuliaan
kejayaan dan kemenangan telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
dlm banyak firman-Nya di antaranya:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
“Katakanlah: Jika kalian benar-benar cinta kepada Allah mk ikutilah
aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian
dan Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang.”
Al-Hasan Al-Bashri
berkata: “Bentuk cinta mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adl
ittiba’ mereka kepada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
.”
Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim di dlm Tafsir beliau dari Abu
Darda` beliau berkata ‘Ikutilah aku’: “ dlm kebaikan ketaqwaan tawadhu’
dan merendah diri.”
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri tauladan yg
baik bagi orang yg mengharapkan Allah dan hari akhir dan bagi orang yg
banyak mengingat Allah.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yg mengada-ada dlm urusan kami mk dia tertolak.”
Dalam riwayat Al-Imam Muslim beliau bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yg melakukan amalan yg tdk ada perintah dariku amalan tersebut tertolak.”
Memetik Buah Dua Kalimat Syahadat Sebagai Pondasi Islam
Teramat
ironis jika ada orang yg telah mengikrarkan dua kalimat syahadat sebagai
pondasi bangunan agama dan keyakinan namun terus meneus berlumuran dan
berkubang dlm kemaksiatan. Padahal nilai besar dan buah yg agung yg
bakal dipetik dari kalimat ini adl sesuatu yg tdk bisa dimungkiri.
Para
dedengkot kekufuran dan kesyirikan di masa lalu berubah menjadi orang
yg paling baik di dlm agama ini setelah mereka mengikrarkan dua kalimat
syahadat. Mereka telah berhasil memetik nilai-nilai keimanan yg benar
dlm pengikraran mereka. Sehingga keimanan mereka kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi
kuat dan kokoh. Keimanan yg benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
rasul-Nya dan pengamalan yg bersih dari noda-noda yg mengotori kepatuhan
dan ketundukan yg sempurna menjadi amaliyah yg besar dlm kehidupan para
shahabat.
Nilai-nilai keimanan yg akan dipetik melalui dua kalimat syahadat adalah:
1. Membentuk kepribadian yg ikhlas atau bertauhid.
2. Pengabdian yg murni kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Ibadah yg tdk keluar dari garis syariat.
4. Ketundukan kepatuhan dlm mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
5. Kecintaan yg hakiki kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya.
6. Mensyukuri segala yg terkait dgn pengutusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Memetik
nilai-nilai yg mulia dlm kedua kalimat ini sangat ditopang dgn
kebagusan pemahaman dan pengamalan terhadap Islam secara menyeluruh.
Para shahabat terdahulu mereka bisa memetik nilai-nilai mulia dgn begitu
mudah dan tepat dikarenakan kebersihan dan kemurnian ilmu yg mereka
timba dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berarti bila
seseorang ingin memetik nilai-nilai kemuliaan dari dua kalimat ini mk
harus pula menempuh jalan yg telah mereka tempuh dlm memahami dan
mengamalkan Islam secara menyeluruh. Itulah jalan Salafus shalih umat
ini.
Kesempurnaan Islam dgn Menyempurnakan Landasannya
Segenap kaum
muslimin telah memaklumi bahwa sebuah bangunan bila tdk didirikan di
atas pondasi yg kuat akan cepat runtuh dan hancur. Begitu juga bangunan
Islam bila tdk dibangun di atas landasan yg kokoh dan kuat akan cepat
runtuh. Namun keruntuhan yg bersifat duniawi tdk sama dgn keruntuhan yg
bersifat ukhrawi krn keruntuhan yg bersifat duniawi adl sementara
sedangkan keruntuhan yg bersifat ukhrawi adl abadi yg akan berakhir dgn
ancaman dan murka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika keruntuhan
bangunan duniawi saja akan mengakibatkan kerugian yg besar mk keruntuhan
ukhrawi jauh lbh besar lagi kerugiannya.
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ
“Apakah orang2 yg mendirikan bangunan di atas dasar takwa kepada
Allah dan keridhaan-Nya itu yg baik ataukah orang2 yg mendirikan
bangunan di tepi jurang yg runtuh lalu bangunan itu jatuh bersama-sama
dengan ke dlm neraka Jahannam? Dan Allah tdk memberi petunjuk kepada
orang2 yg dzalim.”
Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلىَ خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima landasan bersyahadat Laa ilaha illallah
dan Muhammad adl Rasulullah mendirikan shalat menunaikan zakat haji ke
Baitullah dan puasa pada bulan Ramadhan.”
Ibnu Rajab menjelaskan:
“Yang dimaksud dgn permisalan bahwa Islam dibangun di atas tiang-tiang
ini adl tdk akan kokoh melainkan dengannya. Adapun bagian-bagian Islam
yg lain bagaikan penyempurna suatu bangunan. Jika salah satu dari
penyempurna tersebut kurang niscaya bangunan akan kurang pula namun
bangunan tersebut tetap berdiri dan tdk akan runtuh. Berbeda hal jika
landasan yg lima ini runtuh Islam akan sirna apabila kelima landasan ini
hilang dgn tdk ada keraguan lagi. Demikian juga akan hilang bila hilang
dua kalimat syahadat. Yang dimaksud dgn dua kalimat syahadat adl iman
kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Syarat-syarat Kekokohan Pondasi
Dari sini kita mengetahui bahwa
kesempurnaan agama seseorang dan segala bangunan yg berdiri di atas
sangat tergantung pada kekokohan pondasi bangunan tersebut. Syarat agar
landasan itu kokoh terlalu banyak dan landasan bangunan Islam adl dua
kalimat syahadat dan kekokohan bangunan ada pada kesanggupan utk
menyempurnakan syarat-syaratnya.
Wahb bin Munabbih menggambarkan
sebagaimana dlm riwayat Al-Imam Al-Bukhari: “Setiap kunci memiliki
gigi-gigi dan kunci surga adl Laa Ilaha illallah.”
Beliau juga
berkata: “Gigi-gigi kunci tersebut adl syarat jika engkau membawa kunci
yg memiliki gigi niscaya akan terbuka pintu dan jika tdk memiliki gigi
tdk akan dibuka bagimu.”
Laa Ilaha illallah memiliki syarat-syarat yg
harus dipenuhi bagi tiap pengikrarnya. Semua syarat tersebut tdk
diharuskan utk dihafal akan tetapi cukup utk diamalkan kandungan
walaupun tdk dihafal.
Syarat-syarat terhimpun dlm bait syair dibawah ini:
عِلْمٌ يَقِيْنٌ وَإِخْلاَصٌ وَصِدْقُكَ مَعَ
مَحَبَّةٍ وَانْقِيَادٍ وَالْقَبُوْلِ لَهَا
Ilmu yakin dan ikhlas berikut kejujuranmu bersama.
Cinta ketundukan dan kepasrahan menerimanya.
Syarat pertama: Mengilmui makna kalimat Laa Ilaha illallah
Makna
adl mengilmui dan mewujudkan di dlm amal krn tdk cukup hanya mengilmui
makna lalu tdk mengamalkannya. Bukankah orang kafir Quraisy di masa
silam lbh mengetahui makna dibanding kaum muslimin di masa sekarang?
Namun pengetahuan mereka tentang kalimat yg agung ini tdk menjadikan
mereka beriman disebabkan mereka tdk mau mengamalkan apa yg mereka
ketahui. Hal tersebut nampak ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyeru mereka agar mengucapkan Laa Ilaha illallah sembari mereka
menyangkal.
أَجَعَلَ اْلآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Apakah dia akan menjadikan tuhan-tuhan menjadi satu tuhan? Sesungguh ini perkara yg sangat mengherankan.”
Tentang syarat ini telah disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm firman-Nya:
إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
“Kecuali bagi orang yg mempersaksikan kebenaran dan mereka mengetahuinya.”
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
“Maka ketahuilah bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah.”
Diriwayatkan dari Utsman bin ‘Affan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yg meninggal dan dia mengetahui kalimat La ilaha illallah akan masuk ke dlm surga .”
Syarat kedua: Yakin terhadap makna yg dikandungnya.
Keyakinan yg
akan menghilangkan keraguan pada diri seorang muslim. Arti yg
mengucapkan meyakini kebenaran kandungan dan konsekuensi kalimat
tersebut dgn keyakinan yg pasti dan bukan dgn zhan belaka. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ
“Sesungguh orang2 yg beriman itu adl orang2 yg beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya kemudian mereka tdk ragu-ragu pada dan mereka berjihad di
jalan Allah dgn harta dan jiwa-jiwa mereka merekalah orang2 yg jujur.”
Di
dlm ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyaratkan kejujuran iman
orang2 yg beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn tdk ada keraguan
padanya. Karena ragu dlm keimanan merupakan sifat orang2 munafiq.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَقِيْتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ
“Barangsiapa yg engkau jumpai di belakang tembok ini yg mempersaksikan bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah dgn penuh keyakinan dlm hati mk berikanlah kabar gembira dgn surga .”
Sٍyarat Ketiga: Ikhlas
Keikhlasan yg akan memadamkan segala
gejolak kesyirikan kemunafikan riya’ dan sum’ah . Karena ikhlas dlm
pandangan agama adl membersihkan amalan dgn niat yg baik dari segala
noda-noda kesyirikan.
فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ
“Maka sembahlah Allah dgn mengikhlaskan agama bagi-Nya.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ
“Orang yg paling berbahagia dgn syafaatku kelak pada hari kiamat adl
orang yg mengucapkan Lailahaillallah dgn penuh keikhlasan dari hati .”
Dari ‘Itban bin Malik ia berkata: Telah bersabda Rasulullah:
إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلىَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ
“Sesungguh Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yg megucapkan Lailahaillallah semata-mata mencari wajah Allah .”
Syarat Keempat: Jujur
Kejujuran yg akan menghilangkan sifat dusta.
Arti orang yg mengucapkan kalimat Laa Ilaha illallah harus dibenarkan
oleh hati krn jika dia mengucapkan dgn lisan lalu hati tdk membenarkan
apa yg diucapkan mk dia adl orang munafiq dan pendusta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ألم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُوْلُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ
“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan
mengucapkan kami beriman lalu tdk diuji. Dan sungguh Kami telah menguji
orangorang sebelum mereka agar Allah benarbenar mengetahui siapa di
antara mereka yg jujur dan siapa yg berdusta.”
Diriwayatkan dari Anas ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلىَ النَّارِ
“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah dan Muhammad adl rasul Allah dgn penuh kejujuran dlm hati melainkan Allah akan mengharamkan neraka atas .”
Syarat Kelima: Cinta
Arti cinta terhadap kalimat yg besar ini dgn
segala konsekuensi dan mencintai pula orang yg mengamalkan makna beserta
syarat-syarat juga membenci para penentangnya.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِيْنَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا للهِ
“Dan di antara manusia ada orang yg menjadikan selain Allah sebagai
tandingan-tandingan mereka cinta kepada sebagaimana cinta kepada Allah
sedangkan orang2 yg beriman sangat cinta kepada Allah.”
Orang yg
bertauhid akan mencintai Allah dgn kecintaan yg murni. Sebalik orang yg
menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintai Allah Subhanahu wa
Ta’ala namun bersamaan dgn itu juga mencintai selain Allah Subhanahu wa
Ta’ala sebagaimana cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tentu
hal ini akan menafikan ketauhidannya.
Syarat Keenam: Ketundukan
Ketundukan dan pasrah diri dlm
melaksanakan segala konsekuensi kalimat tersebut dgn cara menolak semua
jenis kesyirikan yg akan membatalkan ketauhidan.
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى
“Dan barangsiapa yg memasrahkan wajah kepada Allah dan dia dlm berbuat baik mk sugguh dia telah berpegang dgn tali yg kokoh.”
Syarat Ketujuh: Menerima
Arti menerima kalimat tersebut dan
kandungan dgn lisan dan hati beserta segala konsekuensi dgn
menghilangkan sikap penolakan apa yg dituntut oleh kalimat tauhid
tersebut.
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ وَيَقُوْلُوْنَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُوْنٍ
“Sesungguh mereka jika diserukan utk mengucapkan kalimat Laa ilaha
illallah mereka menyombongkan diri. Dan mereka seraya berkata: Bagaimana
kami akan meninggalkan tuhan-tuhan kami krn seorang yg gila.” (lihat
‘Aqidah Tauhid hal. 53-57 karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan Al-Qaulul Mufid
fi Adillati At-Tauhid hal. 28-33 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab Al-Yamani Laa Ilaha illallah Ma’naha wa Makanaha wa Muqtadhaha
hal. 14-15 karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan Tuhfatul Murid Syarh Al-Qaulil
Mufid hal. 2 karya Nu’man Al-Watr)
Pembaca yg budiman demikianlah
gambaran kecil tentang syarat kalimat tauhid yg merupakan intisari
dakwah para nabi dan karena diturunkan kitab-kitab. mk jika kita
menginginkan kekokohan dlm agama sempurnakanlah pondasi bangunan Islam
tersebut. Demikianlah makna ucapan Ibnu Rajab Al-Hambali sebagaimana di
atas.
Wallahu a’lam.
Sumber: www.asysyariah.com
--
Anda menerima email ini karena anda sudah masuk ke dalam Google Groups "kopikentalmanis".
untuk mengirim email ke group ini, kirim email ke "kopiken...@googlegroups.com"
untuk keluar dari group ini, silahkan kirim email ke "kopikentalman...@googlegroups.com"
untuk informasi lebih lengkap masuk ke http://groups.google.com/group/kopikentalmanis?hl=en
ing ngarso metalicco
ing madyo sepulturo
tut wuri obituary ... yeeahhhhhhhhhhhhhhhhhh !!!!! ...